A Praying Community

Pengkhotbah: Ev. Kezia Susanto STh.
Tema: A Praying Community
Nats: Kolose 1:9-12, Wahyu 3:1-6

Kolose 1:9-12 merupakan satu bagian dari doa rasul paulus yang begitu indah membawa kita untuk mengerti apa artinya berdoa, apa yang perlu dan harus kita doakan dan bagaimana hidup kita menjadi satu komunitas gereja Tuhan yang berdoa.

“Sebab itu sejak waktu kami mendengar tentang imanmu, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapanNya serta berkenan kepadaNya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaanNya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.”

Doa menjadi salah satu sarana anugerah Allah yang sangat penting dan sangat perlu bagi pertumbuhan rohani setiap anak-anak Tuhan. Tidak ada orang Kristen yang meragukan hal ini. Contoh yang sangat indah di dalam Alkitab kita mencatat kehidupan satu komunitas Gereja Mula-mula, yang bertekun di dalam pengajaran rasul-rasul, dan dalam persekutuan, memecahkan roti [ibadah] dan berdoa (Kisah Rasul 2:41-42). Inilah model dari sebuah gereja yang berdoa. Mereka berkumpul bersama tiap-tiap hari, membaca firman Tuhan, menekuni pengajaran para rasul, beribadah dan berdoa bersama. Dan Tuhan berkarya dengan luar biasa di tengah-tengah mereka. Rev. Charles Spurgeon menyatakan satu komentar yang sangat indah mengenainya, “Prayer meetings were the arteries of the Early Church, through them life-sustaining power was derived.” Kita menyaksikan di dalam Gereja Mula-mula ini doa menjadi satu kekuatan kuasa yang dengan berlimpah ada di tengah-tengah mereka, yang memimpin mereka kepada satu hidup yang dinamis, menjadi satu life-sustaining power yang sangat dahsyat adanya. Pada waktu kita melihat Tuhan bekerja dan berkarya dalam komunitas umat Tuhan, betapa besar dan dahsyat Ia menyatakan kemuliaanNya dan tidak ada satupun yang bisa menahankannya. Alkitab mengatakan sebesar apapun tekanan dari pihak oposisi orang-orang Yahudi yang berusaha menangkap dan menganiaya anak-anak Tuhan, semua itu tidak menjadikan mereka takut dan gentar. Alkitab mencatat, ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani (Kisah Rasul 4:31). Itu semua terjadi karena ada lutut-lutut yang berdoa; itu semua terjadi karena ada mulut-mulut yang berseru dan berdoa; itu semua terjadi karena ada persekutuan di antara anak-anak Tuhan satu dengan yang lain yang bersehati membawa pekerjaan Tuhan dan keinginan Tuhan di dalam doa-doa mereka. Sejarah memperlihatkan pada waktu era abad 18, “The Evangelical Revival” kebangunan rohani yang sangat besar terjadi di Inggris oleh karena pelayanan firman yang penuh kuasa dari George Whitefield dan John Wesley, dan oleh lagu-lagu yang luar biasa ditulis oleh Charles Wesley, John Newton dan yang lain-lain membuat Inggris bergoncang dengan sangat dahsyat. Ibadah-ibadah kebangunan diadakan di tempat-tempat terbuka, limpah ruah oleh orang yang begitu haus mendengarkan firman Allah. Kita menyaksikan pada waktu Injil Tuhan dikabarkan, gereja Tuhan dibangunkan dari ketidurannya. Puluhan bahkan ratusan ribu orang menghadiri kkr dan bertobat dan mengalami pemulihan dari Allah. Rev. Phillip Jensen memberi catatan: yet it is not so often remembered that the incredible outpouring of God’s grace at this time was also accompanied by a profound commitment to prayer on the part of ordinary Christian. Di balik dari fenomena yang kelihatan begitu menakjubkan, di situ ada orang-orang yang berlutut berdoa, meminta Tuhan berkarya dan memberikan kebangunan rohani yang sejati di tengah mereka. Satu kerinduan yang begitu indah memperlihatkan kebergantungan mereka bukan kepada kehebatan orasi dari para pengkhotbah itu, tetapi oleh kuasa Roh Kudus yang berkarya dengan dahsyat, menginsafkan orang dari dosa-dosa mereka dan berbalik kepada Allah di dalam anugerah pengampunanNya oleh Yesus Kristus. Pekerjaan Tuhan memang begitu nyata terjadi karena Tuhan memakai hamba-hambaNya berkhotbah dengan berani dan penuh kuasa. Tetapi bukan kehebatan para pengkhotbah dan keberanian mereka menegur orang-orang itu akan dosa-dosanya; Allah memberkati pengabaran Injil dan kebangunan itu karena ada orang-orang yang bersehati berseru yang meminta supaya Roh Kudus mencurahkan kuasaNya kepada hamba-hambaNya dan membuka hati-hati yang keras untuk percaya dan menerima Tuhan Yesus. Kita sungguh bersyukur, di situ kita menyaksikan Tuhan mendengar seru doa dari anak-anakNya yang mengerti dan mengutamakan keinginan Tuhan dan pekerjaan Tuhan.

Tetapi sayangnya hari ini, setelah 2 abad kemudian gereja-gereja Barat mengalami kemunduran yang sangat besar. Begitu banyak gedung-gedung gereja mereka yang megah itu dijual dan tidak lagi menjadi tempat ibadah. Ada yang akhirnya menjadi restoran, ada yang akhirnya menjadi tempat ibadah agama lain, dan ada begitu banyak gereja yang sudah kosong dan terbengkalai tidak ada yang memakainya. Kenapa fenomena ini terjadi? Kita berdiskusi, kita menganalisa, kita mempelajari dan mengevaluasi apa yang menyebabkan gereja barat mengalami decline seperti itu. Mungkin karena mereka lambat melakukan regenerasi, mungkin karena mereka tidak sigap menanggapi perkembangan dan kebutuhan jaman, mungkin mereka terlalu kaku dan tidak melihat bahwa perlu terjadi pembaharuan-pembaharuan dalam program dan ibadah dsb. Tetapi satu hal yang kita harus sadar, sekarang ini kita menganalisa mereka, tetapi mungkin sepuluh dua puluh tahun lagi giliran orang menganalisa kita, ketika gereja ini menjadi gereja yang kosong dan akhirnya harus dijual karena tidak ada lagi yang datang berbakti di sini. Kita menganalisa kenapa bisa terjadi kemunduran gereja-gereja barat, sehingga mereka harus menutup dan menjualnya, tetapi jangan sampai suatu hari giliran kita yang dianalisa dan dipelajari karena tidak ada lagi jiwa yang datang kepada Tuhan melalui gereja ini kita bawa kepada Tuhan Yesus.

Wahyu 3:1-6, adalah satu evaluasi dari Tuhan Yesus kepada Jemaat Sardis. Jemaat di Sardis adalah jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus, satu jemaat yang olehnya Yesus mati di kayu salib menebus dan menyelamatkan umatNya. Jemaat adalah milik Tuhan, dan Tuhan berhak untuk menegur; Tuhan Yesus berhak menilai, Ia berhak untuk mengingatkan apa yang menjadi keinginanNya sebagai Tuhan dan Pemilik bagi jemaat ini. “Aku tahu segala pekerjaanmu; engkau dikatakan hidup padahal engkau mati! (ayat 1). Kalimat ini keras, tetapi inilah fakta yang terjadi di dalam gereja Sardis. Dari luar fenomenanya gereja ini hidup dan dinamis, banyak aktifitas dan programnya, besar budget tahunannya, bahkan mungkin banyak pelayanan misinya. Tetapi di mata Tuhan Yesus, gereja ini mati, tidak ada kehidupan di dalamnya.  Banyaknya program, aktifitas, kegiatan dan segala sesuatu tidak menentukan Tuhan ada di situ. Apa yang kita belajar dari jemaat ini? Pada waktu kita hanya “doing church,” ketika kita hanya mengerjakan aktifitas dan program gereja, tanpa memiliki hidup spiritual yang sejati, we are “dying” actually, as simple as that. Itu sebab mari dengan rendah hati kita membawa kembali hati kita kepada Tuhan; bertobat dan berkata kepadaNya, Tuhan kami tidak mau teguran kepada Sardis juga terjadi kepada kami. Kami tidak mau doing church. We are Your Church, kami adalah umatMu yang telah Engkau tebus dengan darahMu yang mahal dan berharga. Kami mau menjadi umat Tuhan yang sungguh mengalami Tuhan nyata dalam hidup kami. Kami mau menjadi satu komunitas yang berdoa, yang menginginkan mencari apa yang menjadi keinginan dan kehendak Tuhan bagi gereja ini.

Tidak ada yang mengatakan doa itu tidak penting. Kenapa? Paling tidak kita membaca Alkitab berkali-kali berkata, “Berdoalah senantiasa, bertekunlah dalam doa dan permohonan, keep on praying” (Efesus 6:17-18, 1 Tesalonika 5:16-18, Roma 12:12, Kolose 4:2). Kita tahu itu. Kalau Tuhan sendiri yang memerintahkan hal itu, berarti jika kita tidak melakukannya kita sudah disobey dan tidak taat kepada Tuhan. Lalu selain itu kita harus mengerti, setiap hari setiap saat hidup kita ini, keberadaan kita ini ditopang oleh doa dari Dua Pribadi yang berdoa syafaat bagi kita, Yesus berdoa bagi kita [lihat Yohanes 17], Roh Kudus berdoa bagi kita dengan doa dan permohonan yang tidak pernah putus (Roma 8:26-27). Sehingga tidak boleh ada seorang pun di antara kita yang berkata engkau tidak dikasihi Tuhan karena setiap saat dan setiap waktu Allah Anak dan Allah Roh Kudus berdoa bagi kita. Bukan saja demikian, ketika kita menyadari bahwa akses untuk datang kepada Bapa di surga  membawa doa-doa kita, itu telah dibuka lebar-lebar oleh karena Yesus telah membuka jalan masuk itu melalui penebusan oleh darahNya sehingga kita bisa menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh (Ibrani 10:19-22). Kita boleh datang kepada “Allah yang bagaikan Api yang tak terhampiri” itu dengan penuh confident dan keberanian memanggil Dia sebagai Bapa kita.

Mungkin ada orang-orang yang mengatakan ada banyak alasan yang membuat dia tidak berdoa. Pertama, karena dia tidak tahu bagaimana berdoa, dan tidak tahu apa yang harus didoakan.

Kedua, ada orang yang mengatakan dia merasa tidak ada keinginan untuk berdoa, don’t feel like praying. Sehingga alasannya, kalau itu cuma basa-basi di mulut saja, buat apa aku berdoa? Bukankah itu berarti aku menjadi seorang yang berpura-pura kalau aku tidak bersungguh-sungguh dalam doaku? Feeling tidak boleh menjadi indikator kedekatan kita dengan Allah, karena feeling sangat subyektif dan fluktuatif. Adakalanya di tengah sakit penyakit, kesulitan finansial, persoalan hidup, kesibukan, dsb membuat kita lalai berdoa. Ada saat kita merasa bosan dan hambar, ada saatnya kita putus asa dan tertekan ada saatnya kita gembira dan puas, ada saatnya kita kuatir dan takut, ada saatnya kita kesal dan marah, dst. Justru di dalam segala situasi dan keadaan, bawa hati kita kepada Tuhan dengan syukur. Pada waktu seorang mengatakan ‘I don’t feel like praying’ di situ malah waktunya kita sangat membutuhkan Tuhan.

Ketiga, ada yang mengatakan kalau Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya, yang sudah memiliki rencana yang sudah Dia tetapkan dari sejak kekekalan, buat apa saya berdoa, karena toh doaku tidak akan mengubah kedaulatanNya. Yakobus berkata, “Doa orang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16). Allah mendengar doa, Allah dalam anugerahNya berespons terhadap doa-doa umatNya dan melibatkan doa mereka di dalam rencanaNya.

Keempat, ada orang meragukan apakah Tuhan “willing” untuk mendengar dan mengabulkan doa-doanya, karena meragukan itu dia memilih tidak berdoa. Bukankah Yakobus mengatakan, “Kamu tidak memperoleh apa-apa karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga tetapi tetapi kamu tidak menerima apa-apa karena kamu salah berdoa. Sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yakobus 4:2b-3). Sudah tentu Tuhan tidak selalu memberi apa yang kita minta, tetapi bisa jadi kita tidak mendapat karena kita tidak memintanya, atau kita salah meminta. Ini adalah dua prinsip, dua batasan yang firman Tuhan berikan di sini.

Rev. Joel Beeke seorang hamba Tuhan Reformed mengatakan ada tanda-tanda dan ciri yang sangat jelas dari sebuah pertumbuhan spiritual yang sehat  dari seorang anak Tuhan yakni adalah keinginan yang sangat kuat, ada “desire and spiritual appetite to want more of God” di dalam berdoa dan membaca firmanNya. Maka ketika seseorang mengaku diri sebagai orang Kristen, namun tidak memiliki keinginan seperti itu, kita perlu concern karena bagi beliau itu adalah satu pertanda kondisi rohani orang itu tidak sehat, bahkan sebagaimana seorang anak kecil menolak untuk makan dan minum, kita perlu mawas diri kenapa hal itu bisa terjadi. Biar setiap kita meneliti dan mengoreksi hati kita di hadapan Tuhan, kalau hari ini engkau tidak lagi memiliki keinginan dan kerinduan yang sangat kuat untuk mengenal dan megalami Tuhan lebih dalam lagi, apa yang menjadi penyebabnya. Mintalah kepada Tuhan untuk sekali lagi memberikan kepadamu satu dorongan dan keinginan untuk berdoa dan mengalami kedekatan dengan Tuhan.

Ada banyak keluarga Kristen yang “mess up” dan berantakan, tidak tahu harus mulai darimana diperbaiki. Kita memakai berbagai cara untuk memperbaiki relasi yang rusak di antara suami isteri, di antara anak dan orang tua, kesulitan dalam pekerjaan dan finansial, dsb. Mari pertama-tama sebelum kita mencari jalan keluar dengan kekuatan diri sendiri, bawa semua itu kepada Tuhan. Sebelum kita menolong saudara seiman kita yang sedang berada di dalam kemelut hidupnya, bawa dia di dalam doamu. Itulah pentingnya sebuah komunitas yang berdoa. Itulah pentingnya kita berkumpul bersama dan berdoa, dimana kita memikirkan dan mendoakan saudara seiman kita yang lemah. Inilah tempat dimana kita belajar melebarkan hati kita untuk memiliki simpati dan empati kepada kesulitan orang lain.

Hari ini saya ingin memberikan beberapa hal secara praktis kita mulai memperbaiki hidup doa kita secara individual, doa bersama pasangan suami dan isteri, doa bersama anak-anak dan keluarga, dsb. Di antara suami dan isteri, bawa hubungan kalian bersama di dalam doa. Dengan anak-anak, buat waktu doa dengan altar keluarga. Bawa anak-anak kita mengenal Tuhan dengan nyata melalui keintiman doa-doa yang kita panjatkan kepadaNya. Berdoa bagi pertumbuhan iman mereka, pergumulan mereka, masa depan mereka. Ajar anak-anak kita berdoa bagi orang lain, bagi teman-teman mereka, bagi guru dan orang yang mereka kenal. Bawa anak-anak kita juga untuk mendoakan gereja dimana mereka berkomunitas. Bawa mereka melihat dan mendoakan pelayanan Tuhan yang begitu luas, mulai dari keluarga kita. Jikalau altar keluarga, mezbah doa kita sudah terbengkalai, perbaiki itu. Jadikan mezbah-mezbah doa keluarga dan individu satu-persatu membawa doa dan permohonan dengan penuh syukur kepada Allah. Maka ketika kita berkumpul sama-sama dalam Rumah Tuhan, menjadi satu kumpulan orang percaya yang sama-sama bersehati dalam doa, bukankah itu menjadi sesuatu yang indah dan luar biasa?

Beberapa konsep tentang doa.

  1. Doa menjadi satu sarana anugerah dari Tuhan untuk me-maintain bonding kita dengan Tuhan. Doa bukan sekedar satu aktifitas, doa adalah satu relationship; kedekatan kita dengan Tuhan hanya bisa terjadi ketika kita berdoa. Tidak bisa di-replaced dan digantikan dengan apapun juga. Kita tidak bisa mengatakan kita dekat dengan Tuhan karena kita rajin beribadah setiap minggu. Kita tidak bisa mengatakan kita dekat dengan Tuhan karena kita aktif dalam pelayanan, bahkan menjadi pengurus, menjadi anggota tim kerja, menjadi aktifis dan melayani dalam ibadah. Kedekatan kita dengan Allah tidak bisa digantikan dengan semua itu. Kedekatan itu hanya bisa terjadi ketika kita membawa hidup kita di dalam doa.
  2. Doa menjadi pernyataan dependensi kita kepada Allah Bapa, Sumber Hidup kita. Jangan kita hanya memikirkan doa dalam aspek yang sempit yaitu meminta Tuhan memenuhi kebutuhan dan keinginan kita sendiri. Jangan sampai hidup doa kita menjadi satu kerutinan mekanis belaka dan tidak memperkaya hidup kita. Tuhan Yesus mengatakan “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu minta kepadaNya” (Matius 6:8). Tidak berarti kalau Bapa kita sudah tahu apa yang kita perlukan, kalau begitu kita tidak usah berdoa. Justru kita harus berdoa karena kita tahu Ia sangat mengerti apa yang menjadi kebutuhan kita dan Ia adalah Bapa kita yang memberi dengan penuh kemurahan. Dengan doa kita menyatakan kebergantungan kita kepadaNya.
  3. Doa mencegah kita untuk melakukan sesuatu di luar daripada kehendak Allah. Karena setiap doa yang Allah akan dengar dan kabulkan adalah meminta segala sesuatu yang sesuai dengan kehendakNya. Jika yang kita minta dan doakan adalah hal-hal yang di luar kehendak Tuhan, sudah pasti Tuhan tidak akan mendengar dan mengabulkannya. Maka doa juga akan mengoreksi kita untuk senantiasa berada di dalam kehendak Bapa, untuk mengerti lebih dalam siapa diri kita dan siapa Tuhan yang kita sembah.

Kita bisa saja memperlihatkan publik persona dari lapisan eksterior hidup kita, yang ternyata sangat berbeda dengan interiornya. Orang hanya melihat secara yang eksternal di luar. Tetapi yang mengerti dengan sungguh sampai ke dalam hati dan batin kita adalah Allah. Seperti Daud yang berdoa, “Selidikilah aku ya Allah, kenallah hatiku; ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku. Lihatlah apakah jalanku serong dan tuntunlah aku di jalan yang kekal” (Mazmur 139:23-24). Setiap kali kita berdoa, kita bawa hati kita dengan terbuka di hadapan Allah, kita rela membongkar lapisan-lapisan hati kita untuk mengekspose apa yang tersembunyi di dalam relung hati kita yang dalam. Kita merelakan firmanNya menerangi hati kita yang gelap dan mengoreksi motivasi kita. Hidup kita dibersihkan dan ditata kembali. Di situlah kita akan mengalami penyucian sanctification Allah dengan indah dalam hidup kita. Dan di situ kita bisa mengenal Allah kita dengan lebih dalam lagi.

  1. Doa membentuk karakter kita. Dengan doa kita belajar taat kepada kebenaran firman Tuhan. Doa kita menjadi doa yang mengerti kehendakNya yang Ia nyatakan di dalam firmanNya. Maka ketika kita mempunyai tekad dan janji untuk memperbaiki hidup doa kita, mulai dengan membaca dan merenungkan firmanNya, dan baru kita berdoa sesudahnya. Jika tidak, kita hanya membawa doa-doa yang self-centered. Semakin kita mengerti dan mendalami firmanNya, semakin kaya dan semakin indah isi doa kita karena di situ doa kita merefleksikan lebih dalam pengenalan kita akan Allah. Meskipun kadang kala kita tidak mendapatkan apa yang kita doakan, kita percaya Allah mendengar doa-doa kita. Bagaimana hidup doamu hari ini? Mari hari ini setiap kita membawa hidup kita di hadapanNya. Mari kita bawa pelayanan kita dengan doa, dan saksikan Tuhan berkarya lebih indah di situ.(kz)