Terbebas dari Kuasa Dosa

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (15)
Tema: Terbebas dari Kuasa Dosa
Nats: Roma 6:1-14

Bicara mengenai keselamatan, itu adalah kasih karunia Allah semata-mata. Tidak ada jasa kita, tidak ada kebaikan kita, kita tidak berkontribusi apa-apa untuk mendapatkan keselamatan itu. Only by grace we have received the salvation, kita terima itu dengan cuma-cuma. Itulah kebenaran yang Alkitab berikan kepada kita. Tetapi harus kita akui, natur manusia yang berdosa seringkali tidak menghargai pemberian ini, kita menerimanya sebagai hak kita dan take it for granted dan tidak pernah bersyukur dan kita menganggap itu sebagai sesuatu yang layak dan sepatutnya kita terima. Dan lebih lagi, pada waktu firman Tuhan mengatakan di sini, “Kalau begitu, bolehkah kita bertekun dalam dosa supaya kasih karunia itu makin bertambah-tambah? Sekali-kali tidak!” (Roma 6:1), ini menunjukkan ada sebagian orang yang mengaku diri Kristen, bukan saja tidak menghargai pengampunan dan keselamatan itu pemberian Allah tetapi justru meremehkan dan mempermainkannya dengan orang itu terus hidup di dalam dosa dan immoralitas. Paulus dengan keras dan tegas memperingatkan orang yang seperti ini karena adanya sikap abusive kepada anugerah Allah ini boleh menjadi indikasi orang itu sesungguhnya adalah orang yang tidak mengerti anugerah Allah dan belum mendapatkan anugerah Allah. Sebab orang yang mengerti dengan sungguh-sungguh bahwa anugerah Allah itu diberi dengan harga yang mahal dan tidak layak dia terima, pasti akan membuat hidupnya tidak akan pernah mempermainkan anugerah Allah. Maka Roma 6 perlu sekali firman Tuhan membereskan konsep yang salah ini.

Dalam Roma 1-5  Paulus bicara mengenai justification by faith alone, bicara mengenai pembenaran oleh Yesus Kristus, apa yang Ia sudah kerjakan bagi kita, maka mulai dari pasal 6, 7, 8 dan selanjutnya di pasal 12 sampai akhir, kita akan melihat aspek yang kedua dari pekerjaan Allah di dalam hidup orang percaya yaitu yang kita sebut sebagai sanctification, pengudusan. Setelah kita menerima anugerah keselamatan, sekarang kita menjalani satu hidup Kristen yang baru. Hidup yang seperti apa? Maka kita masuk kepada satu aspek yang penting yang kita sebut sebagai the sanctification of Christian life. Pada waktu kita bicara mengenai pembenaran, maka pembenaran itu adalah once for all, satu kali untuk selamanya. Ini bukan satu proses. Kita sudah dibenarkan, once for all, itu berarti status kita berubah dari seorang yang berdosa menjadi seorang yang dibenarkan Allah. Tetapi pada waktu kita bicara mengenai sanctification pengudusan, maka itu bukan saja once for all, tetapi merupakan satu proses dan bersifat progresif. Sehingga kita disebut sebagai orang kudus, berstatus sebagai orang yang dikuduskan di dalam Kristus, tetapi kita juga menjalani hidup yang kudus adanya. Itulah sebabnya sanctification menjadi sesuatu proses di dalam perjalanan iman Kristen kita.

Maka mulai dari sini Paulus mempersiapkan mindset kita terlebih dahulu. Pertama, kita tahu kita adalah anak-anak Allah, kita menerima kasih Allah yang unconditional, satu kasih yang tidak pernah berubah dan tidak tergantung kondisi kita. Mungkin dalam perjalanan hidup kita, kita bisa jatuh bangun, kita tersandung oleh kehidupan orang Kristen yang lain, kita bergumul dengan kesulitan dan penderitaan yang membuat kita merasa Tuhan tidak sayang kepada kita. Kita mungkin bisa takut, kuatir, gelisah apakah keselamatan kita akan hilang karena iman kita begitu lemah, karena kita tidak melihat apa yang kita percayai. Tetapi kita perlu menaruh keyakinan bahwa Allah memelihara iman kita sampai akhir meskipun di dalam perjalanan iman kita jatuh bangun.

Kedua, pada waktu kita bicara mengenai sanctification, kita perlu fokus karena perjalanan pengudusan itu adalah sesuatu yang tidak gampang dan tidak mudah. Itu adalah satu perjalanan peperangan. Maka Paulus memakai analogi “jangan serahkan anggota tubuhmu sebagai senjata kelaliman, serahkanlah dirimu sebagai senjata kebenaran” (Roma 6:13). Perhatikan kata “senjata” atau “weapons” yang dipakai. Dengan kata itu firman Tuhan ingatkan kita to prepare our Christian life into the battlefield. Peperangan itu menjadi proses yang panjang sekali sehingga kita bisa lelah dan lengah, tidak mawas diri.

Ada beberapa hal yang Paulus berikan dalam Roma 6 ini. Pertama, sangat menarik luar biasa, di sini muncul satu konsep natur relasi kita dengan Kristus yang tidak pernah ada di dalam konsep kepercayaan agama lain, yaitu “union with Christ.” Ini adalah konsep yang unik sekali. Ketika sdr percaya kepada seseorang atau kepada sesuatu, di situ seseorang atau sesuatu itu menjadi objek kepercayaanmu, dan apa yang dia katakan dan ajarkan engkau akan mengikutinya. Maka di sini percaya dikaitkan dengan mengikuti konsep pengajarannya. Namun waktu kita mengatakan kita percaya kepada Kristus, bukan saja kita percaya kepada apa yang Yesus kerjakan, bukan saja kita percaya kepada apa yang Yesus ajarkan, bukan saja kita mengikuti dan menaati apa yang Yesus perintahkan, tetapi ada satu aspek yang Alkitab katakan yaitu “union with Christ” itulah konsep kepercayaan kita yang unik luar biasa. Kita bukan saja menerima ajaran Yesus mati menebus dosaku, Yesus bangkit memberikan aku hidup yang baru, bukan saja kita percaya itu menjadi satu statement of faith atau conviction kita, tetapi pada waktu Yesus mati akupun turut mati di situ. Waktu Yesus bangkit, akupun turut bangkit bersama Kristus. “Sebab kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematianNya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitanNya” (Roma 6:5). Dalam Galatia 2:20 Paulus berkata, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Ini adalah satu relasi yang misterius luar biasa. Konsep ini banyak muncul dalam tulisan rasul Paulus dan umumnya para penafsir setuju karena itulah pengalaman pertobatan Paulus. Pada waktu dalam perjalanan menuju Damaskus untuk menangkap dan menganiaya orang-orang Kristen di sana, Yesus menyatakan diri kepada Paulus dengan satu cahaya yang begitu terang dan membutakan, Yesus berkata, “Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Paulus bertanya, “Siapakah Engkau, Tuhan?” dan Yesus menjawab, “Akulah Yesus yang engkau aniaya” (Kisah Rasul 9:1-5). Itu adalah kalimat yang sangat membuka pikiran dan membingungkan Paulus karena jelas yang Paulus lakukan adalah Paulus menganiaya pengikut Yesus, tetapi Yesus tidak bilang, “Saulus, mengapa engkau menganiaya pengikutKu?” Maka di situ Paulus mengerti itulah keunikan relasi Kristus dengan orang percaya. Dalam 1 Korintus 6:15-20, Paulus sangat keras menegur beberapa dari jemaat Korintus yang hidup amoral dengan tidur bersama pelacur. Paulus mengatakan pada waktu engkau melakukan persetubuhan dengan pelacur itu, engkau menyeret Yesus bersama dengan perbuatanmu itu. Paulus mengatakan, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru” (2 Korintus 5:17). “Karena bagiku hidup adalah Kristus” my life is Christ (Filipi 1:21). Kita adalah ciptaan baru, kita telah bersama dengan Kristus. Hidup kita bukan milik kita lagi. Pada waktu kita menjadi orang percaya maka kita menjadi “manusia baru” atau “the new self.” Di situ kita telah mati bagi dosa (Roma 6:2).

Waktu engkau menjadi orang Kristen, apa tandanya? Kita mengatakan pada waktu aku menjadi orang Kristen, aku mengaku Yesus adalah Tuhan dan Juruselamatku lalu aku memberikan diriku untuk dibaptis. Di situ baptisan menjadi tanda eksternal saya menjadi pengikut Kristus. Maka di bagian ini Paulus kemudian memberikan makna pengertian baptisan menjadi orang Kristen itu di ayat 3 dan 4 “Atau tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus telah dibaptis dalam kematianNya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, demikianlah juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.”

Ayat ini dipakai oleh sebagian orang Kristen menjadi argumentasi mengenai konsep baptisan. Dalam sejarah gereja akhirnya kita menemukan perdebatan mengenai cara baptisan “selam,” “percik,” dan “curah” menjadi perdebatan yang tidak pernah selesai. Yang mengambil posisi menerima baptisan selam mengatakan karena di dalam prosesnya orang itu ditidurkan dalam air lalu diangkat keluar dari air sebagai lambang kematian dan kebangkitan bersama Kristus. Tetapi bagi saya, ayat ini tidak bicara mengenai cara baptisan tetapi Paulus bicara apa artinya kita menjadi orang Kristen yaitu saya mati bersama Kristus dan saya bangkit bersama Kristus dan mendapat hidup yang baru, natur yang baru. Karena selanjutnya di Roma 6:6-11 Paulus bicara tentang the old-self yaitu natur kita sebelum menjadi anak Tuhan, satu istilah yang mengacu cara berpikir kita, kelakuan kita dan hidup kita. Natur manusia lama senantiasa memberontak dan melawan Tuhan, tidak ada kemungkinan inisiatif sendiri untuk cinta Tuhan dan mau percaya Dia. Namun ketika Roh Allah tinggal di dalam diri kita, Ia mengubah kita memiliki natur yang baru. Itulah sebabnya manusia lama mau menjadi manusia baru perlu satu pekerjaan Allah yang luar biasa, yang namanya “kelahiran baru.” Maka saya bisa percaya Tuhan, saya bisa beriman, saya bisa mengakui dosa-dosa saya di hadapan Tuhan, tidak lain dan tidak bukan itu adalah satu pekerjaan mujizat yang luar biasa ilahi di dalam diri kita yaitu ketika Roh Kudus melahir-barukan kita maka kita menjadi manusia baru. Pikiran kita terbuka, keinginan kita hanya kepada Dia dan mencari kesukaan Tuhan semata-mata.

Yang kedua, Paulus menjelaskan ada perbedaan kematian kita dengan kematian Yesus Kristus. Yesus mati bukan karena Ia berdosa, Yesus yang tidak berdosa tidak berhak mati dan tidak dapat mati. Kita mati karena dosa-dosa kita [we died because of our sins] namun Kristus mati bagi dosa [Christ died for sin]. Alkitab sangat teliti akan hal ini. “Karena kita tahu bahwa Kristus sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi. Maut tidak berkuasa lagi atas Dia, sebab kematianNya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya” (Roma 6:9-10). Kematian Kristus membereskan hutang dosa kita kepada Allah karena kita sudah melanggar kepada Allah.

Yang ketiga dalam bagian ini, karena apa yang sudah Yesus kerjakan, kita mati di dalam kematianNya dan kita bangkit dalam kebangkitanNya, maka kita menjadi manusia yang baru. Ada sesuatu relasi yang baru, bukan saja kepada Allah dan kepada Kristus, tetapi juga ada relasi yang baru kepada diri. Di situ berarti kita tidak lagi memiliki natur manusia lama. Maka meskipun kita tetap orang yang sama, natur kita menjadi natur yang berbeda, sekarang natur kita adalah natur manusia yang baru di dalam Kristus. Lalu kalau begitu dimana letak barunya? Berarti letak barunya adalah di dalam relasi orang itu kepada old self-nya. Relasi itu muncul di ayat 6 “Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan sehingga tubuh dosa kita hilang kuasanya agar kita jangan lagi menghambakan diri kepada dosa.” Ayat 12, “Sebab itu hendaklah dosa jangan lagi berkuasa di dalam tubuhmu yang fana supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.”

Maafkan, ada kesalahan teologis yang sering terjadi ketika seorang datang kepada pendeta mengatakan dia telah jatuh ke dalam dosa mencuri, pendeta mengatakan, “dosa mencuri, dalam nama Yesus, aku usir engkau keluar dari tubuh orang ini,” atau dalam kasus-kasus yang lain dosa malas, dosa ngantuk, dosa judi, dosa jinah, dan dosa-dosa lainnya ditengking keluar dari orang itu. Lalu, bagaimana setelah dosa itu sudah dia usir, ternyata orang itu jatuh lagi kepada dosa yang sama, apakah berarti dosa itu masuk lagi ke dalam dirinya?  Kebahayaan teologisnya adalah berarti kita menganggap bahwa dosa itu seperti sesuatu pribadi yang bisa dikeluarkan atau diusir keluar. Alkitab tidak mengatakan seperti itu. Kita tidak bisa mempersalahkan dosa sebagai sesuatu oknum yang ada di luar diri kita, seperti roh atau kekuatan yang merasuk dan menguasai kita sehingga kita tidak berdaya menolak keinginannya. Itu adalah satu kekeliruan teologis karena Alkitab tidak mengatakan seperti itu.

Sampai di sini, saya perlu menjelaskan lebih lanjut lagi beberapa aspek yang sangat perlu kita mengerti mengenai relasi kita dengan dosa. Pertama, ketika kita menjadi orang Kristen, ketika kita menyadari akan dosa-dosa kita di hadapan Tuhan, menyesali dan mengakuinya serta meminta anugerah pengampunanNya, kita percaya di situ Tuhan sudah mengampuni perbuatan-perbuatan dosa kita ketika masih hidup dalam dosa, Tuhan membereskan perbuatan dosa kita dan tidak lagi mengingat-ingatnya. Ini penting sekali, sebab pada waktu kita katakan, “Tuhan, aku telah berbuat dosa, aku mengaku akan segala dosa-dosaku,” artinya kita mengakui kita telah melakukan dosa, kita mengakui kesalahan yang telah kita perbuat dan kita meminta pengampunan dari Tuhan maka Tuhan mengampuni dosa kita. “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya. Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya” (Roma 4:7-8). Kita berbahagia karena Allah mengampuni tuntas semua dosa kita.

Kedua, meskipun Allah sudah mengampuni semua dosa kita tetapi kita harus mengerti bahwa sifat dosa itu tidak dibuang dari diri kita. Menjadi manusia baru bukan berarti sifat dosa itu diamputasi dan dibuang dari kita. Ini penting sekali kita mengerti. Meskipun sudah menjadi manusia baru, sifat dosa yang sama tetap ada di dalam dirimu. Meskipun sudah menjadi orang Kristen kita menghadapi temptation pencobaan dosa yang sama. Kita tidak immune dan kebal terhadap pencobaan dan di dalam diri kita tetap sifat dosa berusaha menarik kita untuk tergoda dan jatuh dalam perbuatan dosa. Tuhan tidak membuang sifat dosa itu dari diri kita, artinya adalah dosa itu mempunyai sifat mau merusak hidup kita. Dia bisa menjadi kekuatan yang force kita untuk diperbudak lagi olehnya. Paulus ingatkan, “Sebab itu hendaklah dosa jangan lagi berkuasa di dalam tubuhmu yang fana supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya” (Roma 6:12).

Ketiga, ketika kita menjadi Kristen relasi kita dengan dosa menjadi baru sama sekali. Paulus berkata, “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa” (Roma 6:14). Puji Tuhan! Sin is no longer your master. Sin will not rule over you. Sin shall not have dominion over you! Dahulu waktu kita belum menjadi anak Tuhan, dosa adalah tuan yang berkuasa atas kita dan kita adalah budaknya yang taat dan takluk kepadanya. Tetapi ketika kita sudah menjadi anak Tuhan, dosa tidak lagi berkuasa atas kita, dia bukan lagi boss kita, dia bukannya tuan kita. Maka meskipun sifat dosa itu tetap ada di dalam kita tetapi dia tidak lagi berkuasa atas kita. Relasinya berubah. Oleh karena Yesus, kita punya kekuatan untuk menolak perintah dosa. Namun bapa Reformator Martin Luther mengingatkan kita, “For sin will have no dominion over you, unless you want it to.” Dosa tidak lagi punya kuasa untuk mengatur dan memperbudak kita, tetapi jangan sampai kita sendiri yang menyerahkan diri untuk diatur dan diperbudaknya. Sifat dosa itu tidak hilang dari diriku tetapi aku harus berperang melawannya dan tidak membiarkan dia berkuasa kembali di dalam hidupku.

Keempat, meskipun Tuhan sudah mengampuni dosa kita tidak berarti kita tidak menanggung konsekuensi dari dosa itu. Kita sudah dilepaskan dan dibebaskan dari dosa, bukan berarti kita bisa lepas dan bebas dari konsekuensi akibat perbuatan dosa itu.

Seperti pada waktu kita mengendarai mobil kita melanggar speed camera dan sampai di rumah kita berdoa minta ampun kepada Tuhan, Tuhan mengampuni kita tetapi kita tetap harus membayar denda akibat speeding kita. Fine itu adalah the consequences of sin. Seseorang berhubungan seks sebelum menikah dan kemudian hamil akibatnya, dia meminta ampun kepada Tuhan, Tuhan mengampuninya tetapi dia tetap harus menanggung kehamilan itu, bukan? The consequences of sin is still remain there. Dosa saya telah membunuh orang, meskipun saya telah meminta ampun kepada Tuhan, tetap konsekuensi dosa tidak hilang, ada nyawa orang itu yang tidak bisa kembali lagi dan ada konsekuensi saya harus menanggung hukuman di penjara karena perbuatan dosa itu.

Itulah sebabnya kita harus memahami mengapa sanctification menjadi satu perjalanan pengudusan yang panjang dan tidak mudah. Setiap hari, setiap saat saya harus berjuang untuk say no, pada waktu dia mau berkuasa lagi atas hidup kita. Menyadari bahwa sifat dosa tetap ada di dalam hidupku membuat saya selalu harus waspada terus-menerus terhadap pencobaan dan godaan yang bisa membuatku jatuh lagi. Itulah perjuangan kita untuk hidup suci dan kudus. Always say no to sin. You are no longer my master. Hamba Tuhan Douglas Moo berkata, “”Those natural capacities and abilities that God has given us are weapons that must no longer be put in the service of the master from whom we have been freed.” Paulus berkata, “Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai menjadi senjata kelaliman” (Roma 6:13). Aspek positifnya menjadi panggilan Paulus yang kedua, “Tetapi serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” Ini berarti setiap hari kita harus menyerahkan tubuh kita menjadi senjata kebenaran.

Biar melalui kebenaran firman Tuhan ini kita dipersiapkan dalam proses perjuangan hidup di dalam progressive sanctification yang Allah akan lakukan sepanjang hidup kita mengikut Dia. Kiranya melalui firman Tuhan ini kita boleh mendasari hidup kita sebagai orang percaya, di dalam kita mengikut Tuhan kita senantiasa menghargai anugerah penebusan dan keselamatan Kristus begitu berarti dan berharga bagi setiap kita. Kita diberikan kemampuan dan kekuatan yang baru karena kita adalah manusia yang baru, ciptaan yang baru di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Di situ kita percaya kekuatan tangan Tuhan yang menopang kita, memberi kita keberanian untuk berjalan melangkah lebih indah ikut Tuhan, sebab kita tahu setiap perjalanan yang Tuhan beri kepada kita adalah perjalanan yang indah dan perjalanan yang membawa kita kepada kebenaran dan hidup. Di situ firman Tuhan senantiasa menjadi air yang menyegarkan kita. Di situ kuasa dari Roh Kudus senantiasa memimpin kita, mencegah kita pada waktu kita mau berjalan mengikuti kehendak kita sendiri. Kiranya Roh Kudus membuka jalan dengan indah pada waktu setiap kita berserah dan memenuhi kita dengan kebenaran firman Tuhan yang memimpin setiap kita untuk digembalakan olehNya.(kz)