When Spiritual Growth goes Wrong

Pengkhotbah: Pdt. Yakub Tri Handoko Ph.D.
Tema: When Spiritual Growth goes Wrong
Nats: Kolose 2:16-19

Kita semua tahu bahwa bertumbuh secara rohani adalah sesuatu yang penting dan harus kita lakukan. Kita semua juga tahu bahwa untuk bertumbuh dengan baik maka kita perlu disiplin rohani. Tanpa usaha yang besar untuk bertumbuh maka kita akan sulit untuk bertumbuh. Memang benar Tuhan yang memberikan pertumbuhan kepada kita, tetapi jangan lupa Tuhan yang memberikan pertumbuhan itu adalah Tuhan yang juga menentukan bahwa engkau dan saya harus bertumbuh melalui sebuah disiplin rohani. Perlu disiplin rohani supaya kita bisa mencapai tujuan yang Allah inginkan, karena pengetahuan saja tidak cukup, tekad yang besar saja tidak cukup.

Namun ada satu aspek lain yang perlu kita waspadai bicara mengenai disiplin rohani yaitu kita salah memahami disiplin rohani. Disiplin rohani seharusnya menjadi sarana supaya kita bisa menjadi rohani, bukan indikator sebuah kerohanian. Tetapi yang seringkali terjadi adalah kita menjadikan disiplin rohani sebagai indikator kerohanian; sesuatu yang seharusnya instrumental sekarang sudah menjadi tujuan, sesuatu yang seharusnya menjadi sarana sekarang telah menjadi tujuan. Maka tidak heran orang-orang yang banyak berdoa merasa diri rohani. Saya sadar bahwa untuk menjadi rohani, saya perlu banyak berdoa. Tetapi saya tidak setuju kalau ada orang yang banyak berdoa lalu mengklaim dirinya rohani, karena saya sudah berkali-kali melihat ada orang yang banyak berdoa tetapi hidupnya tidak rohani. Banyaknya doa tidak boleh menjadi sebuah indikator kerohanian.

Kolose 2:16-19 berkata, “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghakimi kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, darimana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya.”

Kalau kita bicara tentang Reformasi maka kita perlu tahu bukan cuma sejarah gereja tetapi juga sejarah spiritualitas. Dulu orang-orang Kristen di abad pertama adalah orang-orang yang sangat militant, karena untuk menjadi orang Kristen mereka harus siap mempertaruhkan nyawa mereka, harus siap dengan penganiayaan, harus siap dengan cibiran, fitnahan orang, dsb. Karena orang Kristen menjadi minoritas di dalam minoritas, sehingga diperlukan kesungguhan, tidak bisa mengambil keputusan main-main. Tetapi semuanya berubah sejak abad 4 AD setelah kaisar Konstantin menerima agama Kristen sebagai salah satu agama resmi bahkan menjadi agama mayoritas di dalam kekaisaran Romawi dan di dalam kekaisaran Byzantium, pada saat itulah banyak orang menjadi Kristen tetapi hanya secara nominal. Ada banyak motivasi keliru yang mereka lakukan, ada banyak kekafiran yang masuk ke dalam gereja, ada banyak sekularisasi yang masuk di tengah-tengah orang Kristen. Lalu di pihak lain orang Kristen yang masih sungguh-sungguh kepada Tuhan berusaha untuk “tetap rohani” lalu mereka memikirkan caranya tetap rohani itu bagaimana? Salah satu yang mereka lakukan adalah mereka mengadopsi gaya hidup Asketiksisme yaitu mereka berusaha untuk menyiksa diri; orang-orang kaya menjual seluruh harta dan membagi-bagikannya kepada orang miskin lalu pergi ke padang gurun untuk bertapa dan tinggal di gua-gua. Ada banyak orang yang terkenal misalnya yang bernama Anthony the Great, seorang pemuda yang kaya raya, yang pandai luar biasa, yang begitu cinta Tuhan. Dia jual seluruh hartanya dan tinggal seorang diri di gua. Ada seorang bernama Simon yang menguburkan tubuhnya di padang gurun, hanya kepalanya yang ada di permukaan tanah. Setiap hari dia melakukan hal itu, dalam 3 bulan saja pengikutnya sudah ratusan orang. Mereka menamakan itu rohani. Mereka makan seadanya, tidak pernah berbekal makanan, apa saja yang ada di sekeliling gua itu yang mereka makan. Orang mulai memikirkan ini adalah rohani, itu adalah rohani, tetapi apakah benar demikian?

Seiring perkembangan jaman berikutnya kerohanian bukan ditafsirkan seperti itu. Karena kemudian biara-biara menghasilkan rohaniwan-rohaniwan, orang-orang yang melayani Tuhan sepenuh waktu. Dan pada saat mereka melayani Tuhan sepenuh waktu, maka mereka mulai menafsirkan kerohanian dengan cara yang berbeda, kerohanian itu bukan lagi tinggal di gua-gua, kerohanian itu adalah hal ritual. Liturgi, sakramen, itulah hal-hal yang rohani. Tetapi benarkah itu adalah hal-hal yang rohani? Di dalam Yesaya 1:10-20 orang-orang Israel pada jaman Yesaya masih melakukan banyak ibadah ritual, merayakan hari-hari raya, dsb tetapi Tuhan muak dengan semua yang mereka lakukan. Jadi sebetulnya apakah yang disebut dengan spiritualitas? Dalam Kolose 2 ini Paulus juga sedang membahas tentang bentuk disiplin rohani yang dia anggap tidak rohani sama sekali. Padahal kalau kita melihat sekilas mungkin kita akan terpukau dan mengatakan mereka ini adalah orang-orang yang rohani, orang-orang yang rela menyiksa diri, orang yang rela “merendahkan diri” dan orang ini berkanjang kepada penglihatan dan penyembahan kepada malaikat. Jadi 24 jam dia hidupi lebih banyak di dunia roh daripada di dunia nyata. Kalau sdr berjumpa dengan orang seperti itu mungkin kakinya tidak menyentuh lantai, pembicaraannya adalah pembicaraan dengan jargon-jargon Roh Kudus, dsb.

Para penafsir Alkitab berdebat, kira-kira ajaran sesat apa yang sedang mengancam jemaat Kolose. Ada yang mengatakan itu adalah sejenis aliran Gnostiksisme, yaitu sejenis filsafat Yunani yang bercorak dualistik yang menganggap bahwa ada dua allah sebetulnya, allah yang baik dan allah yang tidak baik. Allah yang tidak baik ini “lesser god” daripada yang pertama [yang baik]. Lalu semua yang berbau jasmani, semua yang material, itu dianggap kurang baik. Yang dicari adalah yang non-material, makanya orang-orang ini dikatakan berkanjang dengan malaikat; sukanya masih kepada hal-hal yang tidak kelihatan. Ada yang menduga ini adalah sejenis aliran lainnya. Tetapi menurut saya yang paling masuk akal ini adalah sejenis aliran sesat dari agama Yahudi yang berkaitan dengan Yudaisme. Mungkin ini adalah sejenis aliran mistiksisme di dalam agama Yahudi. Mengapa saya mengatakan ini sejenis aliran sesat sempalan agama Yahudi? Karena di sini kita menemukan Paulus bicara tentang hari Sabat, hari-hari raya dan bulan-bulan baru, tidak boleh makan ini, tidak boleh menyentuh itu, kelihatan sangat Yahudi sekali, tetapi juga ada penyembahan kepada malaikat. Berarti mungkin ini sejenis mistiksisme yang berkembang di dalam Yudaisme. Dan kalau sdr belajar tentang Yudaisme kuno yaitu yang disebut aliran Second Temple Judaism, yang kira-kira sudah berkembang pada waktu Yesus ada, maka sdr akan menemukan berbagai aliran mistis di dalam agama Yahudi. Mungkin ini adalah salah satunya. Jadi orang-orang berusaha untuk mencari kepenuhan secara rohani itu seperti apa, “the fullness” dari sisi spiritual itu seperti apa. Dan itulah yang dibahas oleh Paulus di pasal 2:9-10 “Sebab di dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah Kepala semua pemerintah dan penguasa.” Tampaknya para pengajar sesat ini berusaha untuk mengajarkan begini: kamu beragama saja tidak cukup, kamu harus mencapai fullness di dalam keilahian. Dan bagaimana kita bisa mencapai kepenuhan yang penuh di dalam Allah itu, maka mereka mulai mengajarkan berbagai macam peraturan-peraturan. Tidak boleh jamah ini, tidak boleh makan ini, tidak boleh sentuh itu, harus berkanjang dengan malaikat-malaikat, dst, dst. Ada begitu banyak regulasi yang mereka buat untuk menolong orang lain mencapai kepenuhan dan inilah yang disebut Legalisme. Inilah sesuatu sistem yang sangat mematikan bagi kerohanian. Ketika disiplin rohani menjadi sebuah aturan legalisme, itulah yang akan membunuh kerohanian kita. Itulah yang dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka mencoba untuk bermain di wilayah regulasi, tidak boleh ini, harus melakukan itu, padahal kita semua tahu Christianity is not about rules, is not about obeying rules, but is about surrendering yourself to Christ Jesus our Saviour. Bukan masalah what we do, tetapi masalah what Christ has done for us.

Kalau orang mulai terlibat dengan legalistik, sdr bisa lihat pikiran mereka akan terjebak pada dua kesalahan. Kesalahan pertama adalah melampaui Alkitab [beyond the Scripture], karena mereka merasa perintah di dalam Alkitab itu tidak cukup, masih kurang banyak, maka ditambah dengan begitu banyak aturan-aturan lagi. Misalnya kalau Alkitab mengatakan, pujilah Tuhan dengan sukacita. Lalu orang itu berusaha untuk menerjemahkan sukacita itu artinya apa, bentuknya apa, lalu dibuat regulasinya: semua orang kalau bersukacita ekspresinya harus seperti bagaimana, itu adalah konsep-konsep tambahan yang tidak ada di dalam Alkitab. Yang kedua, kalau orang sudah terjebak legalistik, yang terjadi adalah tidak “Kristusentrik,” tidak akan berpusat kepada Kristus. Pada akhirnya aturan itu lebih penting daripada Kristus; pada akhirnya kemauan orang yang lebih penting daripada kuasa Roh Kudus yang bekerja di dalam hidup kita. Pada akhirnya ketaatan kepada aturan diidentikkan dengan kerohanian, dan ketika itu terjadi maka orang tidak lagi mengandalkan Kristus. Dan untuk itulah Paulus menulis surat Kolose, dan hari ini saya ingin kita fokus kepada 3 hal yang penting dari Kolose 2:16-19. Kalau kita mau menjalani disiplin rohani maka kita harus memperhatikan 3 hal ini.

Yang pertama adalah hal-hal yang substantial.

Kolose 2:16-17 mengatakan, “Karena itu jangan biarkan orang menghakimi mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru atau hari Sabat. Semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang sedang wujudnya ialah Kristus.” Pada waktu itu ada beberapa orang yang berusaha untuk membuat peraturan-peraturan baru, harus memelihara hari ini, hari itu, dsb.

Kolose 2:17 mengatakan “sedang wujudnya adalah Kristus…” di dalam English Standard Version [ESV] dikatakan, “These are a shadow of the things to come, but the substance belongs to Christ.”  Ini bicara mengenai substance, sesuatu yang benar-benar substansial. Kalau di dalam menjalani disiplin rohani kita hanya terpaku kepada aturan-aturan, maka kita akan kehilangan substansi dari semua aturan itu.

Kita mau mendisiplin secara rohani dengan benar, maka harus mulai dengan memikirkan hal-hal yang substansial. Kalau kita tidak berusaha untuk menggali lebih dalam, misalnya substansinya apa “jangan makan ini, jangan makan itu,” dalam kitab Imamat 11 yang bicara tentang larangan makan daging binatang yang haram. Ada orang bertanya, kenapa orang Kristen menabrak peraturan yang ada di dalam Alkitab, di Perjanjian Lama kan tidak boleh makan itu, kenapa sekarang kita makan? Apakah ada penjelasan rasionalnya? Ternyata ada. Karena semua larangan di Imamat 11 tentang makanan haram, sebetulnya intinya cuma satu yaitu mengajarkan kesempurnaan. Maksudnya begini: kalau binatang itu memamah biak, kukunya harus belah. Kalau dia adalah pemangsa makanan, kukunya harus tajam. Yang boleh dimakan adalah binatang yang memamah biak dan yang kukunya belah. Kalau salah satu tidak ada, tidak boleh. Binatang air yang boleh kita makan adalah yang bersisik dan bersirip. Kalau tidak punya salah satunya atau tidak punya dua-duanya maka tidak boleh dimakan. Semua ini mengajarkan kita akan kesempurnaan hidup. Tidak ada yang namanya daging halal daging haram, tetapi Tuhan menggunakan itu sebagai alat peraga, jadi kalau kamu mau berkenan di hadapan Tuhan, kamu harus sempurna. Sekarang di dalam Kristus Dia sudah memberikan kesempurnaan melalui kematianNya yang sempurna di atas kayu salib. Karena Ia sudah memberikan kesempurnaan itu kepada kita, maka tidak ada point lagi kita menjaga yang begitu-begitu. Itu hanya bayangan, itu hanya alat peraga.

Jadi jangan terjebak kepada regulasi-regulasi. Misalnya beribadah, pakaian harus sopan, itu benar. Tetapi kita mendefinisikan sopan itu dengan bagaimana? Jangan sampai sdr bilang pakaian yang sopan adalah yang berlengan panjang, lalu melihat orang mengenakan pakaian lengan pendek, lalu sdr anggap itu tidak sopan. Lalu misalnya bicara ibadah itu harus khidmat kepada Tuhan, harus hormat kepada Tuhan. Saya setuju itu. Tetapi jangan kamu yang mendefinisikan hormat itu apa. Biar Alkitab yang mendefinisikan. Kalau Alkitab berhenti di satu point, jangan kamu menambah-nambah lagi. Misalnya khidmat itu berarti musiknya harus syahdu, pelan, tidak boleh terlalu ramai, itu kan definisimu. Bisakah dengan musik yang ramai kita tetap bisa khidmat dan hormat kepada Tuhan? Bisa. Itu cuma masalah kultur. Jadi it’s not a big deal. Jadi jangan suka diurusin, orang sukacita dengan bertepuk tangan diurusin. Sukacita ngga usah tepuk tangan, senyum saja, sukacita itu di hati. Jadi kalau kita berfokus pada hal-hal yang shadow, yang tidak substansial, maka disiplin rohani kita akan menjadi disiplin yang berbahaya bagi kita. Point pertama adalah hal-hal yang substansial.

Yang kedua, yang penting untuk kita perhatikan dalam disiplin rohani supaya tidak salah adalah hal-hal yang rasional. Kolose 2:18 mengatakan, “Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi.” Orang ini sebetulnya kelihatannya rasional, tetapi sebenarnya orang-orang ini adalah orang-orang yang tidak rasional. Kalau dalam terjemahan yang literal, orang ini pura-pura merendahkan diri “delighting in humble-mindedness.” Dengan kata lain sebetulnya terjemahan literal ini melihat ada keterkaitan dengan pikiran muncul dua kali di ayat ini.

Paulus menegur, itu adalah pikiran yang duniawi. Kenapa Paulus memakai kata ini? Kenapa istilah itu dipakai oleh Paulus untuk orang-orang yang berkanjang kepada penglihatan-penglihatan? Coba kita pikir, penglihatan-penglihatan itu duniawi atau tidak? Beribadah kepada malaikat, duniawi atau tidak? Tetapi justru Paulus mengatakan itu adalah pikiran-pikiran yang duniawi, itu adalah pikiran-pikiran kedagingan. Bukankah seharusnya Paulus mengatakan orang yang berkanjang kepada penglihatan, yang beribadah kepada malaikat, yang merendahkan diri dalam dunia roh adalah orang-orang yang pikirannya rohani? Tetapi Paulus bilang, tidak. Itu pikiran yang duniawi, pikiran yang kedagingan. Apa maksudnya Paulus? Maksud Paulus sederhana sebetulnya, Allah menciptakan pikiran untuk digunakan dengan benar. Jangan sampai orang Kristen itu memandang rendah akal budi. Roma 12:2 mengatakan akan pembaharuan budimu. Berubahlah dengan pembaruan akal budi kita, pikiran kita. Banyak orang Kristen menolak akal budi: jangan gunakan pikiranmu, nanti kamu tidak mengandalkan Roh Kudus. Saya bertumbuh di dalam Kekristenan yang semacam itu. Akhirnya ketika tantangan-tantangan jaman muncul, ketika pertanyaan-pertanyaan itu datang, saya tidak mampu bertahan. Saya akhirnya menjadi ateis. Dari situ saya mulai belajar bahwa Kekristenan yang kuat itu bukan cuma Kekristenan di hati tetapi juga Kekristenan akal budi. Karena Allah menuntut kita untuk mengasihi Dia dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap kekuatan, dan dengan segenap akal budi kita. Jangan sampai kita terjebak kepada salah satu hal, dan itulah yang dimaksud Paulus dalam Kolose 2:18 ini. Orang-orang yang berkanjang kepada penglihatan, menyembah malaikat, dst, adalah orang-orang yang tidak rasional. Itu pikirannya duniawi. Tidak rational dalam arti yang sesungguhnya, sebab semua itu tidak bisa diverifikasi. Apakah kita bisa mem-verefikasi penglihatan seseorang itu benar atau tidak? Tidak bisa. Kalau seorang hamba Tuhan berkata tadi malam saya baru kembali dari surga, Tuhan bilang kepada saya begini begitu, sdr bisa verifikasi tidak? Ini Kekristenan yang berbahaya. Jangan suka percaya kalau ada pendeta mengatakan dia pergi ke neraka lalu laporan neraka itu seperti ini, lalu ramai-ramai orang menangis bertobat, tidak mau ke neraka. Kenapa harus tunggu orang ke neraka baru bertobat? Bukankah Kitab Wahyu sudah membahas tentang neraka? Kalau orang itu bilang dia ke neraka, sdr bisa verifikasi apakah benar demikian? Menurut saya ini ridiculous luar biasa. Hati-hati dengan spiritualitas yang semacam itu. Semua spiritualitas yang tidak bisa diverifikasi oleh rasio kita, tidak boleh langsung percaya. Sebab kalau langsung percaya, celaka kita. Sudah banyak cerita orang mendapat penglihatan tetapi itu bukan dari Tuhan, itu dari setan.

Yang ketiga, kalau kita mau berdisiplin rohani yang tidak membahayakan tetapi membangun kita, ada di ayat 19, “sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya.” Bukan hanya substansial, bukan hanya rational, tetapi juga komunal yang Kristosentris. Di sini kita melihat orang-orang yang berkanjang kepada hal-hal yang semacam itu, kepada legalisme, Paulus mengatakan mereka tidak berpegang teguh kepada Kepala, yaitu kepada Kristus. Mereka tidak memegang Kristus sebagaimana mereka harus pegang. Padahal kalau kita lihat Paulus berkali-kali di surat Kolose mengingatkan bahwa kita sudah mati bersama Kristus, kita sudah dibangkitkan bersama dengan Kristus, sehingga seluruh hidup kita ada di dalam Kristus. Tetapi Paulus mengatakan orang-orang ini tidak berpegang kepada Kepala, berarti tidak Kristosentris, karena Kristus adalah Kepala, dan tidak memperhatikan yang lain. Padahal ada umat Allah yang lain darimana seluruh tubuh yaitu orang-orang percaya, gereja lokal di satu tempat, ditunjang, diikat oleh Kristus dan bertumbuh ke arah Dia.

Penting bagi kita untuk berhati-hati terhadap segala macam bentuk disiplin rohani yang sifatnya tidak Kristosentris dan komunal. Harus komunal dan Kristosentris. Komunal, itu berarti tidak ada orang Kristen antik, tidak ada orang Kristen aneh. Paulus di dalam surat 1 Korintus berkali-kali menegur jemaat Korintus karena jemaat Korintus itu sombong, merasa diri lebih baik daripada gereja-gereja yang lain, merasa diri sudah rohani luar biasa, dan Paulus sudah berkali-kali menegur begini: karena ini adalah kebiasaanmu yang tidak ada di gereja-gereja yang lain. Paulus tegur mereka. Kalau kamu masih mau membantah aku, lihat gereja-gereja yang lain, tidak ada yang melakukan itu.

Saya sadar kita tidak perlu menjadi sama dengan semua gereja lain karena tidak semua gereja benar. Tetapi point saya di sini adalah orang Kristen yang merasa dirinya eksklusif, pasti dia bukan orang Kristen yang rohani. Kalau memang kita rohani, harus menghindarkan diri dari mentalitas sektarian. Mentalitas sektarian adalah menganggap dirimu paling baik, paling benar, menganggap semua orang lain itu keliru, menganggap dirimu adalah kelompok khusus yang dicintai oleh Tuhan, orang lain tidak. Atau dalam bahasa Inggris itu disebut “Elitism.” Engkau merasa dirimu adalah orang yang elite. Dan ini seringkali memang terjadi begitu. Di jemaat Kolose ada orang-orang yang terjebak kepada ajaran sesat sukanya membentuk kelompok sendiri, merasa mereka yang mendapat pewahyuan dari Tuhan sedangkan yang lain dianggap cuma manusia biasa. Mereka cuma common people, kalau kita ini special people. Kita bisa mendengar Tuhan berbicara. Ingat, segala sesuatu yang bersifat sektarian, segala sesuatu yang bersifat eksklusif, yang aneh, harus ditolak karena kerohanian yang benar adalah kerohanian yang komunal Kristosentris. Kalau ada orang Kristen berkata, “Saya tidak mau ke gereja, banyak pendeta munafik, pengurus gereja hidupnya kotor, suka menipu. Saya tidak perlu orang lain, saya cuma perlu baca Alkitab di rumah, sudah bersama dengan Tuhan,” itu pikiran yang konyol karena Alkitab mengatur mau bertumbuh dengan baik, harus di dalam sebuah komunitas. Harus komunal dan Kristosentris.

Hari ini saya menantang setiap kita untuk lebih menjaga kerohanian kita, untuk memberikan upaya yang lebih berdisiplin secara rohani. Rajinlah dalam beribadah, kalau ada pertemuan Bible Study, kelompok sel, ikutlah. Sharingkan apa yang engkau dapat dari firman Tuhan kepada orang lain, belajar untuk sharing kehidupan dan sharing kebenaran, bukan cuma kehidupan karena kehidupanmu belum tentu benar. Tetapi sharing kehidupan dengan sharing kebenaran. Ketika engkau sharing kebenaran, warnai dengan kehidupanmu juga yang sesuai dengan kebenaran. Belajarlah menempatkan Kristus di atas segala sesuatu. Kiranya Roh Kudus memberi kita semangat yang besar, tekad yang kuat, untuk tambah hari tambah mengasihi Tuhan, bertumbuh ke arah Kristus yang adalah Kepala. Kiranya Tuhan dimuliakan di dalam hidup kita semua.(kz)