Ketaatan kepada Kristus

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (16)
Tema: Ketaatan kepada Kristus
Nats: Roma 6:15-23

Hari ini saya memulai khotbah ini dengan memberikan satu pertanyaan: apakah mendengarkan dan menerungkan firman Tuhan yang disampaikan setiap minggu adalah hal yang penting bagimu? Ini adalah pertanyaan yang sederhana namun sangat penting bagi kita semua. Jikalau sepanjang minggu di tengah kesibukan mungkin kita tidak memiliki banyak kesempatan untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan dengan rutin, dan pada waktu hari Minggu kita datang berbakti, adakah desire kerinduan untuk mendengarkan firman Tuhan dan menjadikan moment seperti ini adalah hal yang penting bagimu? Bagi saya pribadi, jawabannya adalah: absolutely! Sungguh betapa penting moment dan kesempatan membaca dan merenungkan firman Tuhan senantiasa merefresh pikiran saya, menjadi moment indah dimana Tuhan mengoreksi hidupku secara pribadi. Firman Tuhan adalah firman yang hidup, walaupun berkali-kali membaca ayat-ayat yang sama itu, tidak akan pernah menjadi hal yang membosankan bagi kita. Di situ ada pikiran, emosi, dan kehendak kita yang Tuhan koreksi, yang Tuhan akan kikis, yang Tuhan akan memperbaikinya. Pada waktu membaca firman Tuhan, menerima word of encouragement dan janji yang begitu pasti yang membuat pikiran kita aligned dengan Tuhan.

Namun pertanyaan ini perlu kita tanyakan sebab tidak semua orang pada waktu mendengarkan firman Tuhan memiliki sikap dan respons yang seperti itu. Kalau Yesus sampai memberikan sebuah perumpamaan mengenai tipe tanah di dalam meresponi benih yang ditaburkan, kita bisa mengetahui bahwa hati manusia seringkali meresponi dengan seperti itu adanya [lihat Lukas 8:4-15]. Tidak ada yang salah dengan benih yang ditabur ini, benih ini benih yang baik. Kalau benih ini tidak bisa tumbuh, itu bukan salah benih itu karena benih itu mempunyai potensi kehidupan di dalamnya. Kalau ditaruh di tanah yang benar, diberi air dan pupuk, digarap dengan tepat, benih itu pasti akan tumbuh. Maka Tuhan Yesus memberi perumpamaan ada benih yang jatuh di pinggir jalan yang diinjak orang dan dimakan oleh burung, ada benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, sempat tumbuh tetapi menjadi kering karena tidak mendapat air, ada yang jatuh di tengah semak duri yang kemudian menghimpit tanaman itu hingga mati, dan ada yang jatuh di tanah yang subur sehingga tumbuh dan berbuah. Hati manusia seperti itu. Benih yang jatuh di pinggir jalan, di tanah yang keras, tanah yang sering diinjak orang, benih itu tidak bisa tumbuh di sana. Benih yang jatuh di tanah yang tipis dan berbatu, benih itu tumbuh tetapi karena tipis tanahnya dan bebatuan, Yesus mengatakan orang itu menerima firman dengan sukacita namun karena benih itu tidak berakar dengan kuat maka sebentar saja matahari yang terik datang melambangkan penindasan dan penganiayaann ia akan segera murtad. Benih yang jatuh di tengah semak belukar dan onak duri menggambarkan ada orang yang karena kesukaan dan cintanya kepada kenikmatan dunia dan tipu daya kekayaan membuat firman itu tidak dapat tumbuh dan berbuah. Lalu benih yang terakhir jatuh di tanah yang subur, benih itu bertumbuh dengan indah, kuat dan menghasilkan buah yang banyak di dalam ketekunan.

Itulah sebabnya firman Tuhan ini memberi batasan terlebih dahulu. Tidak semua orang yang datang ke gereja mengaku sebagai orang Kristen itu betul-betul dia adalah milik Tuhan, orang yang percaya Tuhan dengan sungguh-sungguh. Ada ciri-cirinya, ada tanda-tandanya, ada perubahan yang membuktikan dia adalah orang yang sudah ditebus oleh Tuhan. Maka dalam Roma 6 Paulus meng-counter dua aspek yang muncul di antara orang yang mendengarkan firman Tuhan di dalam gereja, yang salah mengerti akan konsep anugerah dan pengampunan Allah. Paulus mengatakan kita diselamatkan oleh anugerah Tuhan melalui iman kepada Yesus Kristus, bukan dengan perbuatan dan usaha kita, bukan dengan jasa kita. Ini adalah anugerah yang sepatutnya kita hargai dengan sungguh dalam hidup kita. Namun ada orang-orang yang salah mengerti akan anugerah Allah. Orang itu berkata, karena dia menerima anugerah Allah tanpa perlu melakukan apa-apa, maka dia menjalani hidup Kristennya dengan sembarangan. Toh hanya dengan percaya Yesus, bisa masuk surga. Meskipun di mulut mengaku sebagai orang percaya tetapi kelakuannya sama sekali tidak menyatakan hidup sebagai seorang Kristen yang sungguh-sungguh. Alasan orang ini adalah ‘semakin banyak dosa yang aku lakukan, semakin berlimpah anugerah Allah bagiku.’ Where sin increased, grace abounded all the more. Ketika dosa kita makin banyak, di situ Tuhan makin melimpahkan anugerahnya bagiku. Paulus dengan keras menegur mereka, “Are we to continue in sin that grace may abound? Absolutely not!” (Roma 6:1). Orang seperti itu bukanlah pengikut Kristus yang sejati. Orang itu salah mengerti anugerah Allah. Anugerah Allah memang gratis tetapi anugerah Allah bukan barang murahan. Anugerah Allah diberikan secara cuma-cuma karena kita tidak akan pernah sanggup untuk membayarnya. Itulah konsep anugerah yang benar.

“What then? Are we to sin because we are not under law but under grace? Absolutely not!” (Roma 6:15). Jadi bagaimana, apakah kita akan terus berbuat dosa karena toh kita sudah tidak hidup di bawah hukum melainkan kita hidup di dalam kasih karunia, bukan? Paulus menjawab, sekali-kali tidak! Inilah semacam orang kedua pada waktu mendengarkan firman Tuhan selalu berusaha mencari selah untuk membenarkan diri sendiri dan tidak pernah menempatkan firman Tuhan untuk mengoreksi diri, bahkan orang seperti ini bisa sangat pandai mengutip potongan ayat-ayat untuk mendukung dia. Tetapi sejujurnya, bukankah banyak orang Kristen juga sering waktu mendengar firman Tuhan melakukan hal seperti ini meskipun dengan bercanda. Misalnya waktu seseorang mengisap rokok, kemudian ada yang menegur dia, “Orang Kristen koq merokok?” Lalu orang itu menjawab, “Coba baca 10 hukum Taurat, adakah tertulis larangan: Jangan Merokok?”

Ada satu cerita lucu, seorang pendeta hendak pergi berkhotbah, dia mencari tempat parkir tapi sudah beberapa kali putar, tidak ada tempat parkir, bagaimana ini? Akhirnya apa boleh buat, dia kemudian memarkir mobilnya di tempat larang untuk parkir. Lalu sebelum meninggalkan mobilnya pendeta itu menulis di secarik kertas, lalu dia taruh di depan kaca mobilnya. Kertas itu bertulis: Officer, saya pendeta, saya mau pergi khotbah, lalu dia kutip potongan Doa Bapa Kami, “Forgive my trespasses.” Saat dia kembali ke mobilnya, tahu-tahu dia mendapat kertas tilang di kaca mobilnya dan ada satu kertas lagi bertulis: pak pendeta, saya juga orang Kristen. Saya tahu Doa Bapa Kami juga mengatakan “Do not lead me into temptation.” Kita juga suka kutip ayat untuk mencari excuses bagi diri kita, untuk mencari pembenaran bagi diri. Kita menggunakan ayat itu bukan untuk mau dibentuk oleh ayat firman Tuhan. Itulah sebabnya bagian firman Tuhan ini menjadi bagian yang indah sekali untuk kita bisa sama-sama mempertanyakan dan mengintrospeksi hati kita, setiap kali kita mendengar dan men-digest firman Tuhan, adakah firman Tuhan itu begitu penting bagi kita? Umumnya banyak hamba Tuhan akan mengalami pergumulan yang sama saat mempersiapkan khotbah, kalau dia berkhotbah di tempat lain mungkin tidak terlalu bermasalah tetapi kalau dia berkhotbah di tempatnya sendiri seringkali selesai khotbah ada jemaatnya yang menghampiri, “Tadi bapak pendeta berkhotbah mengenai saya ya?” Waduh! Saya perlu memberitahu sdr, sejujurnya membuat khotbah itu susah luar biasa, karena kita harus melihat di antara yang hadir ada orang yang baru, ada orang yang sudah lama. Maka di mimbar kita langsung memiliki satu kepekaan bagaimana firman itu juga boleh menjadi berkat bagi semua orang. Di antara yang hadir ada yang sudah tua, ada yang masih muda. Maka kita berpikir bagaimana menyampaikan firman Tuhan yang begitu dalam dengan sederhana tetapi tidak membuat firman Tuhan itu seolah-olah sesuatu yang simple dan dangkal. Itu adalah hal yang tidak gampang dan tidak mudah. Semua yang datang selalu ingin kebutuhannya dipenuhi padahal semua kebutuhannya berbeda-beda. Tetapi setiap kali kita berkhotbah mungkin tidak bisa menjawab itu semua, bukan? Akhirnya sdr berkata, firman Tuhan hari ini tidak relevan buat saya. Atau hari ini sdr berada di dalam situasi tertentu lalu firman Tuhan hari ini rasanya sangat mengena, sdr jadi curiga bagaimana pendeta bisa tahu persoalanku? Jangan-jangan isteriku sharing sama pendeta ini. Kalau kemudian orang itu mengatakan, pak pendeta tadi membicarakan saya ya? Maka pendeta itu harus menjawab, kalau sampai mengena kepada bapak, itu berarti Tuhan bicara sama bapak hari ini. Maka yang paling ideal bagi hamba-hamba Tuhan mempersiapkan khotbah adalah dengan cara eksposisi seperti ini, sehingga tidak memiliki tujuan tertentu. Let the text speaks. Ada orang datang kepada saya bertanya, pak, apakah bapak berkhotbah hari ini menyindir seseorang? Absolutely not. Itu bukan style saya, itu tidak pernah menjadi intention saya mempersiapkan khotbah, karena bagi saya firman Tuhan senantiasa harus datang terlebih dahulu kepada saya. Maka kembali kepada pertanyaan saya di awal khotbah ini: apakah mendengarkan dan men-digest firman Tuhan yang disampaikan setiap minggu adalah hal yang penting bagimu?

Di sini Paulus kemudian memberikan ilustrasi yang sangat baik dan dapat dimengerti dengan jelas oleh orang-orang yang hidup pada konteks jaman itu yaitu bicara mengenai sistem perbudakan “Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati” (Roma 6:16). Kita perlu mengerti dalam konsep legalnya pada waktu seseorang menjadi budak pada waktu itu berarti dia sudah menyerahkan hidupnya di bawah kuasa orang yang membelinya. Orang itu otomatis takluk kepada tuannya, sehingga apa saja yang tuannya perintahkan harus dia lakukan. Dia tidak mempunyai hak untuk menolak dan melawannya sebab dia sudah menjadi budak yang telah dibeli oleh tuannya. Ini adalah sistem mengenai perbudakan yang ada pada waktu itu. Dengan memakai ilustrasi ini lebih mudah dimengerti oleh mereka sehingga mereka mengerti apa artinya “taat” yang tanpa melawan, taat sepenuhnya kepada pemilik hidupnya. Bukankah dulu waktu di dalam dosa engkau itu budak daripada dosa? Apa yang dosa itu lakukan? Dia memimpin engkau kepada kecemaran demi kecemaran yang membawa kepada kedurhakaan (Roma 6:19a). “Tetapi syukur kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran” (Roma 6:17-18). Kalimat ini penting sekali karena kalimat ini memberitahukan kepada kita tidak ada kemungkinan kita bisa lepas dari perbudakan dosa kalau Tuhan tidak terlebih dahulu melepaskan kita dan melalui penebusan Kristus membayarnya. Tetapi di sini kita melihat satu aspek yang lain, pada waktu Paulus pakai ilustrasi perbudakan, “Kamu adalah hamba yang harus kamu taati baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran” (Roma 6:16). Di sini ada aspek obedience life di dalam hidup orang Kristen. Sebelumnya, saya dulu adalah budak dosa, yang membawa saya kepada kematian, tetapi saya sekarang menjadi budak Kristus. Meskipun statusnya tetap jadi budak, menjadi budak Kristus engkau tidak hidup diperbudak oleh Kristus. Ketaatan itu tidak dipaksakan tetapi merupakan satu ketaatan yang indah sebagai orang yang percaya kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Pada waktu kita belajar berjalan dengan taat kepadaNya kita akan membuktikan sungguh benar Allah kita yang hidup akan memelihara kita. Faith and believe akan memimpin hidup kita untuk trust kepadaNya.

Roma 6:22 Paulus berkata, “But now that you have been set free from sin and have become slaves of God, the fruit you get leads to sanctification and its end, eternal life.” Di sini kita melihat satu mata rantai yang indah, ketaatan kita kepada Allah membawa kita kepada penyucian, dan memimpin kita kepada hidup yang kekal. Dalam terjemahan Indonesia memakai kata “sebagai kesudahannya,” yang dalam pengertian memimpin kita kepada hidup yang kekal. Kata ini indah sekali, sebab kata inilah yang memberikan jaminan kepada kita, kita trust kepada Allah yang trustworthy.

Kenapa susah sekali orang trust sama Tuhan? Sebab alasannya trust sama Tuhan tidak pasti ke depannya akan bagaimana. Kalau saya percaya Tuhan hari ini, besok makan apa? Kalau saya percaya Tuhan itu baik, kenapa hidupku hari ini tetap sulit? Apa betul kalau aku percaya Tuhan maka Tuhan akan memelihara hidupku ke depannya? Kepada orang seperti itu saya balik bertanya, kalau trust sama Tuhan begitu susah, kenapa banyak orang yang sangat gampang sekali trust sama manusia? Saya sering menemukan orang yang baru saja kenal beberapa waktu, kita sudah menaruh trust kepada dia. Sederhana saja, waktu kita ke dentist, dia suruh kita buka mulut dan dia akan bor gigi kita, kenapa kita trust kepada dia? Kita trust karena dia seorang dentist, kalau yang bor itu tradie tentu kita tidak trust. Sdr masuk ruang operasi, dibius total, lalu dokter buka dan bongkar isi perut kita, kita trust atau tidak? Inilah satu aspek yang unik sekali mengenai trust karena sekalipun kita tidak terlalu kenal orang ini, sekalipun kita baru kenal dia satu dua kali, sekalipun kita tidak tahu outcome dari tindakan operasinya, bisa trust kepada orang itu karena kita percaya dia tidak ada maksud untuk mencelakakan saya. Setelah selesai operasi mungkin dokter bilang hasil operasinya mungkin tidak terlalu baik, sdr tidak marah sama dia, bukan? Sebab hal pertama yang sdr lakukan pada waktu trust kepada dia adalah sdr percaya dokter itu tidak punya intention untuk mencelakakan engkau. Trust adalah dasar yang paling penting dan menjadi fondasi dalam setiap relationship. Dalam pernikahan gambarannya seperti waktu kita berdansa berdua, kaki kita bisa saling terantuk dan terinjak. Mungkin itu karena irama dansa kita yang berbeda, mungkin itu karena style dansa kita berbeda. Di situ kita belajar untuk saling mengerti, saling adjust. Itulah artinya sebuah pernikahan, bukan? Tetapi semahir apapun kita berdansa, sebaik apapun kita berusaha menyamakan langkah kita, jika persoalannya lantai dansa tempat kita berpijak tidak solid dan tidak stabil, tidak ada pernikahan yang bisa langgeng. Dan fondasi itu adalah trust, bukan goodness, bukan charming. Percuma tiap hari pulang kantor membawa bunga, percuma dia kelihatan pekerja keras, rajin dan penyabar, ganteng, dsb itu semua tidak menjamin engkau bisa trust.  Begitu keluar dari rumah, engkau tidak bisa melihat dia pergi ke mana, itu tidak menjadi masalah. Meskipun satu sama lain tidak bisa melihat, selama ada trust di antara mereka, pernikahan itu akan berjalan dengan baik. Kalau tidak ada trust, sewa detektif untuk kuntit suaminya kemana-mana, tetap tidak bisa. Itulah sebabnya kenapa ketika trust itu dilanggar dalam pernikahan, lukanya lebih dalam. Hatimu tidak akan [terlalu] terluka kalau suamimu cara bicaranya kaku, kurang warm, kurang affectionate, cenderung lupa sesuatu yang engkau rasa penting. Tetapi engkau akan sangat terluka pada waktu core dari relasi yaitu trust dicederai. Susahnya ekonomi keluarga, suami pulang hanya membawa sedikit uang, itu tidak apa-apa karena engkau percaya suamimu tidak ada maksud mencelakakan keluarga. Berjalan di jalan yang berbatu-batu, tidak apa. Susah sedikit, tidak apa. Berat, tidak apa. Karena engkau percaya dia tidak akan intention to harm you. Persahabatan juga seperti itu. Menjadi orang Kristen, menjadi sahabat, harus seperti itu. Persahabatan tidak boleh ada maksud untuk mencelakakan orang itu. Itulah motif sebuah relasi yang benar. Sehingga orang bisa menaruh dirinya, persoalannya, pergumulan yang sedang dihadapinya, dia bisa sharing dengan engkau dan tidak pernah keluar berbeda dengan sharing itu. Banyak orang datang kepada saya, begitu dia trust, dia taruh itu menjadi kepercayaan, saya tidak pernah membicarakannya kepada orang lain karena saya tidak mau mencederai trust dia kepadaku.

“The fruit you get leads to sanctification and its end, eternal life.” Paulus memakai kata “lead” berarti itu adalah satu proses berjalan. Ketika seseorang sudah dibenarkan Allah oleh Yesus Kristus, maka dia akan hidup di dalam ketaatan dan ketaatan itu akan memimpin dia kepada pengudusan, dan itu akan memimpin dia kepada hidup yang kekal. Itulah yang kita nyatakan kepada Yesus. Tetapi beda dengan budak dosa. Dosa akan membawa kita kepada kebinasaan. Kalau sudah sampai di sana, tidak ada penyesalan yang bisa kita nyatakan untuk berbalik, karena memang tidak bisa balik lagi. Dan ini tidak pernah dosa bukakan di depanmu. Bayangkan siapa yang mau kalau dosa menawarkan kalau ikut dia, ujungnya adalah maut dan binasa? Beli dosa, ujungnya mati. Siapa mau beli? Kita masuk kepada sesuatu yang kita tidak lihat. Tetapi kalau kemasannya bagus, gampang orang tertipu. Banyak orang melihat tawaran rumah dengan harga murah, publikasinya bagus, tawarannya menggiurkan, tetapi sampai di situ rawa-rawa. Tetapi sudah tidak bisa berbalik. Kita menyesal dan mengatakan, coba kalau saya tahu dari awal. Siapa yang bisa tahu? Itulah sebabnya yang kita katakan kita taat kepada Allah, kenapa saya taat kepada Dia, di situlah pengertian faith itu menjadi penting. Percaya kepada Tuhan, we trust Him, because we know He will lead us into the sanctification, dan Tuhan tidak pernah punya intention to harm you. Motivasi Allah hanyalah memberikan semua yang baik bagimu. Sekalipun mungkin ada hal yang tidak baik terjadi. Ada susah, ada terik matahari, tetapi engkau tahu hati Tuhan tidak punya intention menghancurkan engkau.

Begitu juga kita menjadi orang tua, bukan? Kita beri mereka kesulitan, kita mau mereka berjuang, uang saku tidak banyak, selama anak tahu orang tuanya mengasihi dia dan tidak punya motivasi mencelakakan dia, itulah trust.

Bersyukur kepada Allah untuk kebaikanNya. Biar kita belajar hari ini bahwa Ia adalah Tuhan yang memimpin dan menggembalakan kita. Kita taat ikut Tuhan sebab kita tahu perjalanan iman kita adalah perjalanan iman kepada kesucian hidup. Perjalanan iman kita  adalah perjalanan iman kepada hidup yang kekal, sesuatu yang Tuhan beri kepada kita begitu ajaib dan indah adanya. Kita tidak akan pernah ragu sedetik pun akan kebaikan Tuhan; kita tidak punya kecurigaan setitik pun bahwa Tuhan akan mencelakakan kita. Kiranya kita boleh menjadi anak-anak Tuhan yang hidup di dalam ketaatan, menyatakan iman kita juga di dalam hidup kita kepada orang lain. Kita menjadi suami dan isteri yang baik kepada pasangan  kita, kepada anak-anak kita, kepada orang tua dan keluarga kita. Kiranya Tuhan menolong setiap kita.(kz)