Keselamatan tersedia bagi Segala Bangsa

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (14)
Tema: Keselamatan tersedia bagi Segala Bangsa
Nats: Roma 5:12-21

Roma 5:12-21 ini adalah satu bagian yang sangat penting sekali karena di sini Paulus membawa kita kepada satu penjelasan yang indah bahwa keselamatan Yesus Kristus bukan bersifat kesukuan, keselamatan Yesus Kristus bukan hanya bagi orang Yahudi belaka meskipun Yesus lahir sebagai orang Yahudi. Pada waktu di bagian sebelumnya Paulus bicara mengenai keselamatan Kristus berkaitan dengan Abraham dibenarkan Allah karena imannya dan Daud juga dibenarkan karena imannya, bagi orang bukan Yahudi yang mendengar hal itu mereka mungkin berpikir Yesus hanyalah Juruselamat bagi orang Yahudi saja, tidak ada urusan dan kaitannya dengan mereka. Tetapi ketika Paulus membandingkan Yesus dengan Adam sebagai representatif dan leluhur umat manusia, maka hal keselamatan berkaitan bukan kepada satu bangsa tetapi kepada seluruh umat manusia. Maka di bagian ini kita menemukan betapa indah dan agungnya Tuhan kita Yesus Kristus, betapa mulia dan tingginya keunggulan Yesus Kristus. Yesus unggul bukan saja karena Ia lebih besar daripada Abraham, yang diakui sebagai nenek moyang daripada bangsa Yahudi. Yesus unggul bukan saja karena Ia lebih besar daripada Daud, raja yang paling dihargai oleh bangsa Yahudi. Di bagian ini firman Tuhan membukakan kepada kita Yesus jauh lebih unggul dan lebih besar daripada Adam, leluhur manusia segala bangsa.

Hanya Alkitab satu-satunya kitab yang memberitahukan kepada kita asal mula dan awal dari keberadaan manusia di atas muka bumi ini. Alkitab mencatat peristiwa menara Babel yang menyebabkan berpencarnya suku-suku bangsa manusia tersebar di atas muka bumi ini (Kejadian 11). Alkitab mencatat jauh ke sana. Bukan itu saja, Alkitab membawa kita menelusuri bahwa semua umat manusia di atas muka bumi ini mempunyai leluhur nenek moyang yang sama yaitu Adam dan Hawa. Di situlah kita menemukan betapa luar biasa Alkitab kita. Kalau Alkitab tidak pernah ada, manusia tidak pernah tahu asal usul dari mana asal mulanya.

Maka di bagian ini Paulus menjelaskan keunggulan dari Tuhan kita Yesus Kristus dengan membandingkan Yesus dengan Adam yang pertama. Perbandingan ini sangat penting untuk menyatakan bahwa keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus menebus manusia dari dosa dengan kematianNya di atas kayu salib bukan sekedar penggenapan tata cara ibadah atau sistem pengorbanan orang Yahudi melalui pengorbanan kambing domba untuk menjadi lambang penebusan, yang mungkin bagi bangsa dan suku lain tidak relevan. Yesus bukan menjadi Mesias hanya untuk orang Yahudi saja. Yesus adalah Juruselamat dan Penebus yang bersifat universal bagi semua bangsa. Inilah tujuan penulisan Roma 5:12-21 ini.

Setiap kebudayaan dan agama dan kultur bangsa dan suku bangsa apapun mengakui ada satu problem yang sama yang harus dihadapi oleh semua manusia. Apapun sukunya, apapun latar belakangnya, semua manusia menghadapi problem yang sama, meskipun mungkin kita mempunyai interpretasi yang berbeda kenapa problem itu ada. Problem apakah yang dihadapi oleh semua manusia di atas muka bumi ini? Problema kematian, itulah problem semua umat manusia. Kebudayaan, agama dan kultur dari bangsa-bangsa lain dan suku-suku lain masing-masing mungkin mempunyai pengertian dan interpretasi yang berbeda-beda kenapa kematian itu ada, dan semua tidak suka dan tidak mau akan hal itu. Tetapi tidak ada jawaban dari kebudayaan, agama dan kultur manapun yang bisa memberikan jalan keluar bagaimana menyelesaikan problema kematian ini.

Alkitab memberitahukan kepada kita seluruh umat manusia menghadapi problema kematian karena seluruh umat manusia mempunyai leluhur yang sama yaitu Adam, yang menerima warisan ini sebagai akibat dari dosa. Adam yang pertama membawa problem manusia yang paling besar itu yang tidak bisa manusia selesaikan dengan cara dan usaha apapun juga. Sampai hari ini, di tengah kemajuan teknologi dan kedokteran secanggih apapun, tidak bisa mencegah dan menghilangkan kematian dari atas muka bumi ini.

Puji Tuhan! Paulus mengatakan, Yesus Kristus sebagai Adam yang kedua telah menyelesaikan problema kematian itu. Sengat kematian itu telah dikalahkan oleh Yesus oleh kebangkitanNya dari kematian. Maut tidak berkuasa lagi, kematian tidak berkuasa lagi. Semua orang yang percaya dan beriman kepada Yesus akan menerima penebusan dari dosa-dosa kita, dan Yesus menyelamatkan kita dari kematian. Itulah kuasa universal dari penebusan Yesus Kristus bagi seluruh umat manusia

Pada mulanya waktu Allah menciptakan alam semesta dan menciptakan Adam, tidak ada dosa di dalam dunia. Adam hidup di dalam kebenaran, kebaikan, dan kesucian tanpa dosa sehingga Adam memiliki ability untuk taat sepenuhnya kepada perintah Allah. Tetapi Adam sebagai representasi manusia kemudian melanggar perintah Allah dan akibatnya dosa dan kematian menjadi bagian dari dunia ini. Maka setiap manusia yang lahir setelah Adam menerima kutuk dosa dan kematian sebagai bagian dalam hidupnya yang tidak bisa lepas. Kita sekarang hidup di bawah kutuk dosa dan kematian, sehingga kita tidak lagi hidup seperti Adam sebelum jatuh dalam dosa, di dalam kebenaran, kebaikan dan kesucian yang sejati itu. Kita sekarang hidup di bawa kutuk dosa dan kematian, betapa sulit untuk hidup menaati perintah dan larangan Allah itu. Hanya pada waktu kita beriman dan percaya kepada Kristus, kita bisa menang terhadap pencobaan dan hidup di dalam ketaatan kepada Allah. Kuasa Roh yang Kudus itu senantiasa memimpin kita untuk hidup taat kepada firmanNya dan berjalan di dalam kebenaranNya. Memahami itulah kita baru bisa mengerti betapa unggulnya karya penebusan Yesus Kristus dengan ketaatan yang sempurna hidup di dalam dunia yang berdosa.

Yang kedua, dosa masuk melalui satu orang dan akibat daripada dosa terjadi kematian dan semua umat manusia telah berbuat dosa. Roma 5:13 mengatakan “Sebab sebelum hukum Taurat ada, dosa telah ada di dalam dunia ini tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.” Ini tidak berarti bahwa dosa itu tidak dianggap sebagai dosa. Dosa adalah dosa; dosa adalah pelanggaran atas hukum Tuhan, tetapi problemnya hukum Taurat baru diberikan jauh sesudah Adam yaitu pada jaman Musa. Itu adalah jaman yang jauh ke belakang sesudah Adam. Maka sebelum peraturan hukum itu ada, apakah manusia berdosa atau tidak, apakah manusia melanggar atau tidak? Ya. Paulus mengatakan di sini walaupun hukum Taurat belum ada, manusia tetap berdosa dan bersalah. Problemnya sederhana sekali, sebab akibat dosa itu sudah ada. Tidak ada manusia yang sebelum Musa yang tidak mengalami kematian. Semua manusia di atas muka bumi akan mengakhiri hidup dengan kematian.

Saya mencoba menjelaskan Roma 5:13 seperti ini, misalkan sdr naik sepeda di satu lapangan yang bagus sekali, rumputnya indah. Waktu sdr mengendarai sepeda itu terus sampai di ujung baru membaca plang “dilarang bersepeda di lapangan ini.” Sdr terkejut karena baru tahu sejak tadi sudah melanggar peraturan ini dengan bersepeda di atas rumputnya. Pertanyaannya: sdr melanggar peraturan ini atau tidak? Meskipun belum tahu ada larangan, sdr sudah melanggar, bukan? Kira-kira analoginya seperti itu. Hukum Taurat baru diberikan belakangan, tetapi tidak berarti manusia yang hidup sebelum hukum Taurat diberi tidak melanggar perintah Tuhan, bukan? Jadi adanya hukum Taurat justru untuk mengkonfirmasi bahwa manusia sudah melanggarnya, walaupun manusia belum mendapatkan hukum itu sebelumnya.

Kematian adalah hal yang paling menakutkan dan manusia tidak suka membicarakan hal ini, tetapi cepat atau lambat kita semua akan menghadapinya. Dan kadang-kadang di dalam pastoral konseling dan dalam kehidupan bergereja, kita sungkan dan takut untuk mempersiapkan orang pada waktu menghadapi terminal ill menuju kepada kematian, dan kita merasa ini adalah topik yang inappropriate untuk dibicarakan. Tetapi suka tidak suka, kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Saya rindu jemaat ini juga belajar mempersiapkan diri baik-baik.
Pengobatan dan perkembangan dunia medis semakin maju, tetapi pengobatan dan kemajuan medis tidak mempunyai tujuan untuk membuat orang hidup selama-lamanya. Pengobatan dan kemajuan medis hanya memberikan sedikit kemudahan kepada sdr untuk hidup lebih baik, untuk melewati sakit dengan lebih comfortable, tetapi tidak mempunyai tujuan membuat sdr hidup selama-lamanya dalam arti membuat sakit penyakit lenyap dari muka bumi ini. Itu prinsip yang harus kita mengerti dan pegang baik-baik. Sebab banyak kali orang yang salah kaprah, pada waktu kita sakit kemudian kita kepingin cari second opinion dan penyembuhan dengan cara apapun dan dengan mengeluarkan biaya sebesar apapun semata-mata supaya bisa sembuh dan hidup selama-lamanya. Saya rasa kita harus menaruh prinsip pengertian ini, kemajuan medis dan pengobatan bertujuan untuk mengurangi sakit dan penderitaan sakit tetapi tidak mempunyai fungsi membuat orang hidup selama-lamanya. Yang kedua, kemajuan medis itu belum tentu bisa mengobati semua orang dan semua penyakit, sehingga bisa jadi dengan tidak memberikan obat atau menjalankan terapi itu mungkin lebih menyehatkan sdr. Tidak selamanya setelah sdr mengalami sakit itu sdr harus mengambil tindakan pengobatan itu karena tindakan pengobatan itu belum tentu menyembuhkanmu. Ini harus menjadi prinsip yang kita pegang baik-baik.

Saya mempunyai kerinduan membikin satu culture yang baru. Dulu waktu kita menikah tidak ada yang namanya pre-wedding photo, bahkan bayi belum lahir sudah ada fotonya waktu masih di dalam perut ibunya. Saya juga kepingin kalau bisa bikin pre-funeral. Daripada waktu saya sudah meninggal di acara funeral sdr ngomong hal yang baik-baik mengenai saya, saya sudah tidak bisa dengar lagi. Lebih baik sebelumnya, sewaktu saya masih hidup, supaya saya dengar. Kalau sudah meninggal, apa gunanya eulogy itu? Jadi kalau dokter sudah perkirakan enam bulan lagi saya akan meninggal dunia, maka saya akan mempersiapkan pre-funeral service itu, saya duduk hadir di situ lalu mendengar satu-persatu anak-anak saya memberikan eulogy dan saya bisa terharu menikmatinya. Kalaupun ada orang yang mau mengatakan sesuatu kesalahan yang pernah saya perbuat kepada dia, saya masih ada kesempatan minta maaf kepada orang itu. Daripada saya sudah meninggal engkau baru ngomong semuanya, tidak ada gunanya. I think it is good idea. Di situlah membedakan kita sebagai orang yang percaya Tuhan, kita embrace dan menghadapi kematian bukan sebagai akhir dari hidup kita melainkan sebagai pintu kita bertemu Tuhan. Kita tidak lagi takut akan kematian karena kematian sudah diberi perspektif yang lain oleh Adam kedua. Kematian sudah dikalahkan olehNya sehingga kita tidak perlu takut lagi akan kematian itu. Who can save you from death? Siapa yang bisa selamatkan engkau dari kematian? Hanya Yesus Kristus, Tuhan kita.

Maka setelah membawa kita kepada keindahan ini, Paulus kemudian mengungkapkan sukacita keindahan “how much more” Yesus membawa kita kepada hidup yang kekal. “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karuniaNya yang dilimpahkanNya atas semua orang karena Satu Orang yaitu Yesus Kristus” (Roma 5:15). Kemudian, “Sebab jika oleh dosa satu orang maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena Satu Orang itu, yaitu Yesus Kristus” (Roma 5:17). How much more! Inilah ekspresi sukacita Paulus menyadari Adam membawa kita lari jauh daripada Tuhan dan membawa kita kepada kematian, tetapi Yesus Kristus melalui kematianNya dan kebangkitanNya membawa kita kepada hidup yang kekal di hadapan Tuhan. Kristus menjadi Adam yang kedua, menyelesaikan persoalan yang dibawa oleh Adam yang pertama ke dalam kehidupan setiap kita. Akibat dosa semua kita mengalami kematian. Oleh kematian Yesus kita mendapat kehidupan kekal. Kiranya bagian firman Tuhan ini boleh menjadi keindahan kita menghargai betapa ajaib Kristus telah menyelesaikan problema kita dari hukuman dosa dan kematian itu. Kita memiliki hidup yang kekal di dalam Dia.

Yang terakhir, bagian yang mungkin bisa mendatangkan salah pengertian dimana Roma 5:20-21 mengatakan, “Tetapi hukum Taurat ditambahkan supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan dimana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah. Supaya sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus Tuhan kita.” Semakin berlimpahnya dosa, semakin berlimpahnya kasih karunia. Orang salah mengerti, kalau begitu, jika kasih karunia makin berlimpah-limpah karena dosa makin berlimpah-limpah, supaya kita bisa menikmati kasih karunia lebih banyak, mari kita berbuat dosa lebih banyak. Paulus bilang tidak, absolutely not! Itu adalah satu salah paham. Engkau sudah dimerdekakan dari dosa dan kematian, engkau tidak akan lagi mau berbuat dosa karena kita sudah memiliki natur yang baru, sifat yang baru, keinginan yang baru. Tetapi apa artinya bagian ini?

Di dalam Adam pertama, satu pelanggaran itu membuat makin banyak pelanggaran. Dosa mengakibatkan manusia tidak mungkin bisa menumpuk perbuatan baik apapun dan berusaha menutupi dosa dan kesalahannya. Tetapi fakta justru yang kita tumpuk di atas hidup kita bukan perbuatan baik melainkan dosa yang terus-menerus. Sama seperti luka yang sudah membusuk karena gangrain kita mau tutup dengan apapun tidak akan pernah menyembuhkan tetapi malah semakin berbahaya. Mau tutup pakai plester apapun tidak bisa karena sudah membusuk di dalamnya. Tetapi yang ditekankan di sini adalah semakin banyak dosa yang kita lakukan bertumpuk-tumpuk, di dalam Kristus anugerahNya berlimpah-limpah. Intinya adalah dosa yang makin segunung apapun di hadapan Allah melalui kematian Yesus Kristus kelimpahan pengampunan itu lebih berlimpah dan lebih besar daripada dosa dan kesalahan kita. Maka tidak ada dosa yang sebesar apapun yang dilakukan manusia sampai Tuhan Yesus tidak bisa ampuni. Ketika orang itu datang dengan segala penyesalan kepada Tuhan mengakui betapa berdosanya dia, maka Tuhan mengampuni dia.

Pemungut cukai yang datang ke bait Allah sambil memukul diri dan berseru, “Tuhan, ampunilah aku orang yang berdosa ini,” Tuhan mengampuni dia. Bukan itu saja, kalau kita membaca tulisan rasul Paulus kita akan kaget karena di suratnya yang paling terakhir, di masa tuanya, setelah sekian lama ikut Tuhan, dia mengatakan, “Di antara orang berdosa, akulah yang paling berdosa.” Semakin lama ikut Tuhan, semakin dekat dengan Tuhan, semakin dia menyadari bahwa dia bukan seorang yang layak menerima pengampunan dan kasih karunia Tuhan. Inilah paradoks dari kesucian. Tetapi kesalehan yang palsu adalah kesalehan judgmental orang Farisi. Semakin dia merasa beriman, semakin dia merasa suci dan semakin saleh beragama, semakin dia merasa layak dan orang lain makin berdosa. Itulah bedanya.

Saya sangat senang membuat perbandingan yang unik ini. Dalam 1 Korintus 15:9 Paulus mengatakan, “Karena aku adalah yang paling hina daripada semua rasul.” Di sini dia membandingkan dirinya kepada 12 rasul. Kemudian dalam Efesus 3:8 Paulus mengatakan, “Aku adalah yang paling hina di antara semua orang kudus.” Di sini dia membandingkan dirinya dengan orang-orang Kristen lainnya. Lalu yang terakhir dalam 1 Timotius 1:15 dia mengatakan “Aku adalah yang paling hina di antara semua orang berdosa.” Urutan dia ikut Tuhan, yang paling akhir adalah waktu dia menulis surat 2 Timotiusdia sudah lama menjadi orang Kristen. Tidak berarti semakin lama menjadi orang Kristen dia menjadi orang yang makin banyak melakukan dosa. Yang ada ialah the sense of unworthy di hadapan Tuhan justru makin besar di dalam dirinya. Sebelumnya di tengah perjalanan hidup sebagai seorang Kristen dia mengatakan di antara semua orang kudus dia adalah yang paling berdosa. Tetapi di akhir hidupnya dia mengakui bahkan di antara semua orang yang berdosa, dialah yang paling berdosa dan paling hina. Bukan berarti dia benar-benar melakukan dosa terus menerus, tetapi di sini dia justru menyatakan ketidak-layakannya. Sehingga di bagian Roma 5 ini Paulus mengatakan semakin melimpah-limpah dosa justru kasih karunia Allah itu semakin melimpah di dalam Kristus. Maksudnya adalah kelimpahan anugerah Allah tidak akan bisa dikalahkan oleh banyaknya keberdosaan manusia. God’s promise akan pengampunan itu adalah luar biasa tidak terbatas adanya. Itulah keunggulan Tuhan kita Yesus Kristus. Itulah juga yang menjadi satu jaminan yang pasti bahwa di dalam penebusannya itu aman dan secure. Di dalam penebusanNya anugerah Allah itu penuh dan limpah kepada kita.

Banyak kali kita mungkin kecewa karena kita mau ikut Tuhan dengan baik, tetapi kita gagal di tengah jalan. Setan menyerang kita, keraguan akan pengampunan dan kesabaran Allah menghampiri hati kita. Lalu kita merasa tidak layak dan merasa diri sebagai seorang yang munafik. Akhirnya menyebabkan kita tidak mau berdoa lagi, lalu kita lari dari Tuhan. Justru itulah yang diinginkan si Jahat. Firman Tuhan mengatakan the more you feel unworthy of your sins, the more God’s love, mercy and grace abounds. Semakin orang merasa tidak layak, justru semakin firman Tuhan memanggil kita datang mendekat kepada kasih karuniaNya. Semakin orang itu merasa dirinya begitu kotor, Tuhan bilang datang kepadaNya, Ia akan membersihkan engkau. Kita mungkin resistant karena stain dosa kita sudah tidak bisa dibersihkan, sudah sepuluh tahun ada di situ. Tuhan bilang, tidak ada stain yang bisa menetap selama-lamanya ketika kuasa penebusan Yesus Kristus menyucikannya. Tidak ada tumpukan dosa sebesar apapun yang tidak bisa dibayar lunas oleh kuasa penebusan Tuhan Yesus. Itulah keunggulan Tuhan kita Yesus Kristus. Biar kita bersyukur dan berterima kasih untuk apa yang kita dengar dan terima hari ini sama-sama, membuat kita bersukacita memuji Tuhan dan menyembah Kristus yang telah menjadi Tuhan dan Juruselamat kita. Karena besar kuasaNya, dahsyat kasihNya, dan pemurah Dia di dalam hidup kita. Kiranya hidup kita boleh senantiasa disucikan dan diperbaharui olehNya.(kz)