Berlimpahkah Kasih Allah di Hatimu?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (13)
Tema: Berlimpahkah Kasih Allah di Hatimu?
Nats: Roma 5:5-11

Roma 5 adalah satu pasal yang begitu indah dan menjadi satu transisi penting dari bagian sebelumnya dimana Paulus bicara akan kondisi keberdosaan kita, bagaimana kita diselamatkan karena iman kepada Kristus, apa yang Ia sudah lakukan menebus kita. Dalam Roma 5 ini Paulus mengatakan pengharapan kita kepada Allah tidak pernah akan mengecewakan kita, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Di sini Paulus tidak bicara soal pemahaman dan pengertian tentang apa itu kasih Allah, tetapi ini bicara soal bagaimana kita mengalaminya di dalam hati kita. Banyak kali orang melihat dan menilai hidup ini secara logika belaka. Ketika kita hanya melihat segala sesuatu dari perspektif ini, sehingga pada waktu kita berada di dalam situasi yang kita rasa tidak ada jalan keluar maka yang keluar dari mulut kita adalah kata “mustahil.” Atau pada waktu kita sudah mengenal seseorang dengan latar belakangnya yang kelam, kita mungkin akan berkata, “Mustahil orang seperti ini bisa berubah jadi baik.” Itulah yang terjadi ketika kita hanya melihat dan menilai segala sesuatu dengan perspektif seperti ini. Tetapi pada waktu Roh Allah bekerja merubah orang seperti Paulus, bagaimana mungkin dari seorang yang tadinya begitu jahat, seorang ekstremist yang mau mengejar, menganiaya dan membunuh orang-orang Kristen, seorang yang begitu benci kepada Yesus, kemudian berubah menjadi seorang yang begitu giat mengabarkan Injil, yang rela disiksa bahkan mati bagi Kristus, itu adalah hal yang mustahil bagi kacamata manusia. Itu hanya bisa terjadi ketika Roh Allah dicurahkan di dalam hatinya.

Roma 5:5 menjadi fokus kita pada hari ini, bagaimana engkau dan saya bisa mengalami curahan kasih Allah dalam hati kita. Adakah kesulitan, tantangan, kerutinan hidup menyebabkan kasih Allah itu tidak berlimpah di dalam hatimu? Maukah engkau mengalami kasih Allah yang indah itu? Paulus mengatakan ini adalah sesuatu hal yang supranatural, sesuatu yang Roh Kudus kerjakan di dalam hidup seseorang. Bagaimana kasih Allah itu dicurahkan di dalam hati seseorang? Bagaimana kita bisa mengalami hal itu? Itu bukan dengan cara kita bersemedi, bukan dengan pergi ke gunung, menikmati alam, bukan dengan kontemplasi mengingat kasih Tuhan, karena ini bukan bicara aspek perasaan tetapi didasarkan kepada satu pengertian yang penting kenapa kasih Allah itu dicurahkan di dalam hati seseorang. Kita akan menghargai kasih Allah yang dicurahkan di dalam hati dan di dalam hidup kita melalui pengorbanan Kristus pada waktu kita mengerti dengan sungguh-sungguh dalam dua aspek yang penting. Aspek yang pertama, ketika kita tahu pemberian itu sesuatu yang “costly.” Setiap kali mendapat sesuatu barang kita akan menghargai pemberian itu kalau kita mengerti barang yang diberikan kepada kita itu costly, bukan hanya karena barang itu mahal harganya, tetapi karena orang yang memberi barang itu harus berkorban demi memberikannya bagi kita. Aspek yang kedua, kita akan menghargai pemberian itu kalau kita sadar sebetulnya tidak layak menerima pemberian itu. Paulus menjelaskannya dengan memberikan 3 tangga yang makin turun degradasi untuk memberitahukan betapa tidak layaknya kita menerima kasih Allah itu. Tiga frasa itu adalah “ketika kita masih lemah, Kristus mati bagi kita” (Roma 5:6), “ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8), dan “ketika kita masih seteru Allah” (Roma 5:10).

Pada masa perang kemerdekaan di Amerika, ada seorang hamba Tuhan bernama Peter Miller mempunyai seorang tetangga bernama Michael Widman yang sangat membencinya. Orang itu sangat membenci dia karena dia berpindah denominasi. Setiap kali bertemu muka, dia akan meludahi Pdt. Miller, menyandung kakinya, bahkan pernah meninju mukanya. Belakangan ketahuan bahwa Widman adalah seorang pengkhianat kepada Inggris, yang kemudian tertangkap dan akan dihukum mati. Saat mengetahui hal itu, Pdt. Miller kemudian mendatangi Jendral George Washington untuk memohon pengampunan bagi tetangganya ini. Untuk itu dia harus berjalan kaki sepanjang 90 km. Jendral Washington mendengarkan permintaannya, tetapi menolak untuk memberi pengambunan bagi Widman. Dia mengatakan, “Maafkan, saya tidak bisa memberikan apa yang engkau minta untuk temanmu.” Tetapi Pdt. Miller menjawab, “Dia bukan temanku, dia adalah musuh yang sangat membenciku.” Jendral Washington sangat terkejut mengetahui Pdt. Miller rela melakukan hal itu demi seseorang yang sangat membenci dia sehingga dia mengabulkan permintaannya. Pada waktu pendeta Miller mendapatkan kertas itu, dia segera pulang secepat mungkin supaya sebelum eksekusi dilakukan. Dan benar, sesaat sebelum eksekusi, pendeta Miller berlari mendapatkan algojo sambil membawa kertas pengampunan dari jendral Washington. Pria itu melihat pendeta Miller dengan penuh kebencian mengira bahwa dia datang untuk menyaksikan eksekusi. Tetapi dia sangat terkejut saat mengetahui Pdt. Miller bukan datang untuk menyaksikan eksekusi, dia datang membawa surat pengampunan baginya.

Apa bukti kasih Allah dicurahkan kepada kita? Bagaimana saya bisa mengalami hal ini? Bukti pertama kita tahu kasih Allah betul-betul diberikan kepada kita dan bukan berdasarkan perasaan kita karena ada bukti objektif fakta historisnya yaitu Yesus mati di kayu salib. Dan bukan saja ada bukti objektif itu, kematian Yesus adalah bagi dosa-dosa kita. Di sini historical fact and theological conviction bertemu,. Theological conviction, karena ini tidak bisa dibuktikan oleh bukti sejarah. Yang bisa dibuktikan dengan bukti sejarah adalah Yesus mati. Tetapi bagaimana kematian itu menebus engkau dan saya, itu tidak bisa dibuktikan, bukan? Sebelum Yesus, begitu banyak orang agung sepanjang sejarah juga mati. Abraham mati. Musa mati. Kematian mereka adalah historical facts. Tetapi tidak pernah Alkitab berkata, Abraham died for our sins. Moses died for our sins. Hanya kematian Yesus Kristus, Christ died for our sins. Kenapa hanya kematian Yesus? Jelas Alkitab mengatakan Yesus mati bukan karena dosa-dosaNya karena Ia hidup tanpa dosa dan kudus adanya. Kematian Yesus adalah kematian yang menggantikan dosa engkau dan saya. Itulah sebabnya Paulus mengatakan Yesus Kristus telah mati bagi dosa kita. Kematian itu adalah satu fakta sejarah tidak berulang lagi, satu kali Yesus mati di atas kayu salib waktu itu. Tetapi pengalaman kasih Allah yang dicurahkan itu sepanjang sejarah menjadi pengalaman yang terus terjadi kepada orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus sehingga kita mengalami kasih Allah itu. Kasih Allah dicurahkan tidak bergantung sama sekali oleh jasa kebaikan kita. Tidak ada yang kita buat kepada Tuhan. Kasih Allah begitu costly, AnakNya dikorbankan bagi kita. Dan kita semakin menghargai kasih itu pada waktu kita mengerti kita tidak layak menerimanya. Maka Paulus menyebutkan ketidak-layakan itu dari “ketika kita masih lemah,” lemah berarti kita tidak punya kekuatan dan kemampuan sama sekali untuk menolong diri kita sendiri; lemah menggambarkan kita dalam kondisi sakit dan dalam penderitaan. Tetapi kita bukan saja dalam kondisi pasif tidak bisa berbuat baik, kita juga disebut Paulus sebagai orang-orang yang aktif berbuat dosa, sehingga kita disebut orang berdosa. Tetapi bukan saja kita disebut orang berdosa, terlebih lagi kita juga tidak ada kemungkinan untuk menjadi orang yang percaya Tuhan sebab kita adalah musuh Allah, seteru Allah. Itulah rangkaian degradasi yang digambarkan Paulus mengenai siapa kita. Bukan ketika kita menjaid orang baik, bukan ketika kita mau percaya, bukan karena kita sudah mau datang ke gereja, maka Yesus mati bagi kita. Yesus mati bagi kita ketika kita masih berdosa, waktu kita menjadi musuh Allah. Di situlah kita mengerti kasih Allah itu begitu luar biasa.

Yang kedua, kasih itu bukan saja objektif, historical fact, tetapi it is personal. Roma 5:5 mengatakan, “Pengharapan itu tidak sia-sia karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Allah Roh Kudus diberikan di dalam hidup engkau dan saya. Dengan adanya kehadiran dari Roh Kudus, kita tahu kasih Allah itu nyata dan real adanya karena kasih Allah tidak bisa di-produce oleh kita.

Dalam bahasa Yunani ada 4 kata yang dipakai untuk menyebutkan “kasih.” Kasih “storge” yaitu empathy bond, satu perasaan kasih kepada anggota keluarga atau orang-orang yang familiar dan dekat. Kasih “philia” friend bond, kasih kepada teman dan sahabat. Kasih “eros” erotic bond, kasih kepada lawan jenis. Kasih “agape” menggambarkan kasih yang unconditional, kasih yang supranatural, kasih Allah sendiri, kasih yang sacrificial diberikan bukan karena ada relasi persaudaraan, bukan karena pertemanan, bukan karena orang itu sudah berbuat baik kepadanya. Ini adalah kasih yang engkau dan saya tidak layak menerimanya, kasih yang diberikan secara cuma-cuma, kasih yang begitu berarti dan berharga. Secara natural kita adalah manusia yang egois luar biasa. Kita baru memberi kalau kita tahu kita bisa mendapat keuntungan dengan pemberian itu. Kita baru memberi kalau kita tahu satu kali kelak orang itu bisa membalas kebaikan kita. Maka kita akan sulit mengerti mengapa Tuhan memberikan kasih itu kepada seseorang yang kita rasa tidak memenuhi kriteria kelayakan untuk menerimanya. Pada waktu melihat seseorang, engkau sudah punya persepsi negatif terhadap dia dengan mengatakan orang seperti itu sudah pasti tidak akan bisa berubah menjadi baik. Tetapi kita melihat ada orang gangster akhirnya percaya dan menerima Tuhan, ada orang dari latar belakang kurang berada, miskin dan sederhana, ada orang yang mungkin dari latar belakang yang tidak pernah mengalami kasih, mungkin dari keluarga broken family, mungkin dia adalah anak yatim piatu, dia adalah orang yang miskin, tetapi kasih Allah datang kepada orang-orang seperti itu. Terlebih lagi kita akan takjub melihat bagaimana hidup mereka mengalami transformasi yang luar biasa ketika Roh Allah ada di dalam hidup mereka.

Injil Lukas mencatat sebuah peristiwa dimana Yesus datang ke rumah Simon seorang Farisi. Entah kenapa pemilik rumah mengundang Yesus datang, dan entah kenapa Yesus mau menerima undangannya, tetapi Lukas mencatat sang pemilik rumah tidak menyambut Yesus dengan ciuman dan juga tidak memberikan air untuk mencuci kaki Yesus sesuai adat istiadat menyambut tamu terhormat. Tetapi ada seorang wanita yang terkenal sebagai wanita berdosa datang menangis di kaki Yesus sehingga air matanya membasahi kaki Yesus, dan kemudian menyeka kaki Yesus dengan rambutnya lalu meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi (Lukas 7:36-50). Melihat perbuatan wanita ini, Simon bertanya-tanya di dalam hatinya kenapa Yesus membiarkan wanita ini melakukan hal seperti itu kepadaNya, apakah Yesus tidak tahu perempuan seperti apa dia? Maka Yesus yang melihat sampai ke dalam hati orang bertanya kepada dia, berkata kepada dia, ada dua orang berhutang kepada seorang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang seorang lagi berhutang lima puluh dinar. Karena belas kasihan, orang itu kemudian menghapus hutang dua orang ini. Kemudian Yesus bertanya kepada Simon, siapa di antara dua orang yang berhutang ini yang lebih berterima kasih? Simon menjawab, orang yang berhutang lebih banyak. Itulah yang terjadi kepada wanita ini yang menyadari betapa besar pengampunan Yesus baginya yang sebetulnya tidak layak mendapatkannya, sehingga dia mengesampingkan bahwa dia seorang perempuan, mengesampingkan bagaimana orang lain melihat dia, mengesampingkan dignitas dan martabatnya sebagai seorang perempuan, karena dia tahu Yesus menerima dia apa adanya maka dia memberikan segala sesuatu yang ada padanya tanpa menganggapnya sebagai satu kerugian atau pengorbanan yang besar.

Banyak kali orang mendengarkan firman Tuhan, membaca Alkitab, meditasi firman Tuhan hanya sebatas pengetahuan, hanya sebatas rutinitas, aktifitas yang dilakukan tanpa berinteraksi bagaimana pekerjaan Roh Allah di dalam hati dan hidupnya. Sangat sedih dan kecewa sekali jika kita masuk ke dalam satu gereja yang mungkin punya tradisi dan tata ibadah yang baik, bahkan pemiliki pengakuan iman yang sangat baik, tetapi ibadah begitu dingin dan kaku, tidak ada sukacita. Saya rindu setiap kita mengalami hidup Kristen yang indah dimana kasih Allah melimpah ruah tertuang memenuhi hatimu. Jangan sampai kita kehilangan dimensi kelimpahan kasih Allah dan kekayaan firman Allah itu tumpah ruah dalam hidup kita. Kalau kita terus demanding, kita terus menuntut dan meminta, itu tanda dan bukti hati kita kosong dan kering. Pagi hari kita datang ke gereja, kita membawa beban, kesulitan, kesedihan, kemarahan, tanpa ada sukacita dan joyful, peace damai sejahtera dan pujian serta menujukan pengharapan kepada Allah. Itu semua kita dapat dan nikmati, kata rasul Paulus, akibat keselamatan yang telah engkau terima di dalam Yesus Kristus. Ada peace dengan Allah, ada hope dengan Allah, ada kasih Allah yang berlimpah, sehingga di dalam penderitaan pun kita exalt God. “Rejoice in the Lord! Once again I say, rejoice!” kata Paulus.

Terlalu banyak orang Kristen tidak lagi mengerti, tidak lagi menghargai dan memberikan Roh Allah secara leluasa bekerja dan berkarya di dalam kehidupan pribadinya. Terlalu banyak orang Kristen menutup telinga tidak mau mendengar suaraNya. Berapa sering kita ditegur oleh suara Roh Kudus yang bekerja di dalam hati nurani kita, kita memendam dan menutup suaraNya. Berapa sering kita tidak menjadikan Dia menyucikan dan menggairahkan hidup kita sebagai orang Kristen. Ini bukan soal berapa banyak yang kita tahu tentang Tuhan. Ini bukan soal sudah berapa lama kita ikut Tuhan, menjadi orang Kristen. It is something personal. Bagaimana kita bisa mengalami kasih Allah dicurahkan? Alkitab hanya bilang, the love of God poured out in your heart by Holy Spirit. Kasih Allah itu engkau alami tidak diukur dari berapa banyak berkat yang engkau terima, bukan berapa sukses pekerjaan kita, berapa lancar hidup kita. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa diukur seperti itu, karena tiap-tiap orang mengalaminya karena relasi yang secara personal dan individual. Suami bisa mengalami, belum tentu isteri mengalaminya; anak bisa mengalami, belum tentu orang tua mengalaminya. Ketika Roh Allah menjadi rekan dan sahabatmu pribadi, kita tidak bisa ukur batasannya ketika Roh Allah menjadi teman yang baik dalam hidup engkau dan saya.
Orang yang sudah kegencet habis-habisan, waktu engkau membesuk dia, engkau justru menemukan dia masih bisa tersenyum dan memberikan kata-kata yang membawa kekuatan dan penghiburan bagimu. Orang yang dalam sakit keras dan hanya bisa berbaring, engkau justru melihat sukacita dan damai sejahtera terpancar di wajahnya. Waktu engkau bertemu dengan orang-orang seperti itu, engkau bisa merasakan itu semua keluar dari diri orang-orang yang sudah melewati api pembakaran ujian, yang menghasilkan karakter yang begitu indah dan otentik. Pengharapan yang memancar keluar, sukacita yang mengalir, keindahan dari muka orang itu, engkau bisa merasakan ini adalah sesuatu yang beautiful. Itu yang Alkitab katakan kepada kita. Itu hanya dihasilkan oleh personal relationship the Holy Spirit di dalam hidup orang itu.

The love of God itu dinyatakan secara objektif, ada bukti fakta sejarah Yesus telah mati di kayu salib. Itu bukan teori manusia, bukan impian dan angan-angan. Ini fakta sejarah. Yang kedua, it is personal, it is supranatural, ini hubungan kita secara individu dengan Allah. Yang ketiga, unik sekali, it is logical. Dimulai dari ayat 9-10, kasih Allah itu logis, kata Paulus, kalau waktu kita masih menjadi musuh saja Kristus rela mati bagi kita dan kita diperdamaikan dengan Allah, lebih-lebih lagi sekarang kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Artinya, secure sekali hidup kita. Damai sejahtera Allah tinggal di dalam hati engkau dan saya. Tidak perlu lagi kuatir, takut dan gelisah. Terakhir, ayat 11, bukti kasih Allah tumpah ruah di dalam hidup orang Kristen, “Dan bukan hanya itu saja, kita malah bermegah di dalam Allah oleh Yesus Kristus Tuhan kita sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.” Hidup orang Kristen yang penuh dengan pengharapan dan sukacita di dalam Tuhan senantiasa, menjadi bukti kasih Allah telah tercurah di dalam hatinya.

Saya menyadari betapa tidak gampang dan tidak mudah menjadi orang Kristen di tengah masyarakat sekuler seperti yang kita hidupi sekarang, bukan? Kita lebih sering mengeluh apalagi di tengah isu-isu yang muncul dewasa ini. Tetapi Tetapi ketimbang kita melulu bersikap defensive, Rev. John Stott mengatakan kita justru patut bertindak offensive. Sekalipun situasi di luar tidak conducive sama sekali, itu tidak boleh merubah dan mempengaruhi hati kita yang positif dan optimis untuk rejoice. Situasi jaman dulu jauh lebih worse, pada waktu mereka harus beribadah di dalam katakombe, di tempat-tempat tersembunyi, tidak mempengaruhi sukacita mereka. John Stott berkata, sebagai orang Kristen kita harus senantiasa hidup sebagai orang yang paling positif dalam hidup ini. Kita tidak boleh jalan ke sana ke mari dengan muka masam, bibir turun, kaki terseret-seret, dengan mengeluh dan merengek, hanya terus melihat sisi gelap dan negatif terhadap segala sesuatu. Hidup orang Kristen seperti itu sudah pasti tidak impressive orang. Hidup orang Kristen seharusnya exalt in the Lord, rejoice in the Lord. Bahkan dalam penderitaan pun firman Allah memanggil kita untuk rejoice in your tribulation. Itulah ciri dan bukti kasih Allah mengalir di dalam hidup seorang Kristen sejati.

Pagi ini saya memanggil engkau untuk senantiasa memiliki pandangan dan pemikiran yang indah dan positif dan pengharapan kita di dalam Tuhan. Jangan selalu mengkuatirkan the worst yang akan terjadi, selalu tahu pengharapan kita di dalam Tuhan tidak pernah sia-sia. Jangan berjalan terus dengan kaki terseret-seret, muka yang masam, bibir yang turun, setiap kali ketemu orang selalu yang keluar adalah keluhan dan rengekan, serta gerutu yang tidak habis-habisnya. Jangan selalu melihat the dark side and the negative side dari hidupmu. Jika itu yang terjadi, engkau akan kehilangan berkat kasih Allah yang harusnya berlimpah di dalam hatimu. Kiranya setiap kita boleh mengalami sekali lagi dihangatkan oleh kasih Tuhan yang begitu limpah, besar dan dahsyat. Kita bersyukur dan menghargai firman Tuhan yang menyadarkan kita bahwa sesungguhnya kita tidak pernah layak untuk menerima kasih karunia Tuhan. Kita yang lemah, kita yang berdosa, kita yang dulu adalah musuh Allah, kita tidak punya kebaikan apa pun yang bisa kita bawa sebagai ganti dari keselamatan yang kita terima. Tuhan Yesus Kristus lebih dulu telah menunjukkan kasihNya, mati bagi dosa-dosa kita, memperdamaikan kita dengan Allah. Di situlah kami menghargai kasih dan keselamatan itu. Kiranya kasih Allah yang hangat itu tercurah besar dan melimpah di dalam hati setiap kita.(kz)