Sukacita dalam Kesengsaraan

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (12)
Tema: Sukacita dalam Kesengsaraan
Nats: Roma 5:1-5

“Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Roma 5:1-2).

Apa yang memenuhi benak seseorang yang ingin mengetahui ramalan jalan hidupnya, keberuntungan dan keberhasilan yang akan dia nikmati di masa depan, apakah nasibnya akan menjadi baik, tetapi justru yang dia dengar adalah malapetaka dan kesusahan akan menghadang di depan? Saya pernah mendengar satu cuplikan bagaimana seseorang datang ke “orang pintar” untuk membacakan garis hidupnya, lalu orang pintar itu mengatakan sepanjang hidupnya orang ini akan terus menghadapi kesulitan dan malapetaka karena ada “roh kutuk” dari nenek moyang yang membayangi dia sampai beberapa keturunannya. Demikian juga anak dan cucunya akan menanggung kutukan ini. Terbukti usahanya bangkrut, anak-anaknya lahir cacat, dsb. Bayangkan bagaimana perasaan orang ini pulang ke rumahnya, menyadari tidak ada harapan bagi dia untuk lepas dari kutukan itu seumur hidupnya. Betapa sedih dan kasihan orang itu.

Roma 5:1-2 menandakan mulainya satu  perubahan transisi yang luar biasa. Sebelumnya, dalam Roma 1-4 Paulus menggunakan kata ganti orang ketiga jamak “mereka” bicara mengenai kondisi keberdosaan manusia di hadapan Allah. Mereka yang berbuat dosa, mereka yang berbuat salah, mereka yang telah kehilangan kemuliaan, mereka yang tidak mencapai standar kebenaran Allah, dst. Tetapi kemudian di pasal 5 ini kata ganti berubah, bukan lagi “mereka” tetapi “kita.” Paulus memulai pasal 5 dengan satu seruan proklamasi: kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita Yesus Kristus. Puji Tuhan!

Memperbaiki dan merestorasi hubungan yang sudah pernah rusak, betapa tidak gampang dan tidak mudah, bukan? Kepada orang yang terus berbuat salah kepadamu dan tidak pernah mau mengakui kesalahannya, ketemu orang ini bagaimana sikap kita? Kepada orang yang pernah merugikanmu dan yang telah melukai hatimu, bagaimana sikapmu ketika dia ada di depanmu? Sekarang, bagaimana jika yang sebaliknya terjadi, engkau telah berbuat salah dan telah melukai hati orang itu, lalu engkau bertemu muka dengan dia, bagaimana sikapmu? Tentu ada rasa malu, rasa takut, rasa sungkan bercampur aduk, kepingin lari rasanya. Tidak sanggup kita merestorasi hubungan yang sudah pernah rusak seperti itu.

Pada waktu engkau masuk ke dalam ruangan ini sebagai orang berdosa, bagaikan seseorang yang memikul hutang yang begitu besar yang tidak mampu engkau bayar dengan seluruh harta yang engkau punya sekalipun. Di hadapanmu berdiri orang yang menghutangi engkau, dan di hadapan dia engkau hanya bisa menundukkan kepala, tidak sanggup membela diri. Tetapi apa yang terjadi? Orang itu menghampiri engkau dan berkata, “Hari ini aku membebaskan segala hutangmu. Engkau tidak lagi berhutang apa-apa kepadaku.” Dapatkah engkau bayangkan betapa lega dan sukacita engkau pada hari itu? Segala beban terangkat dari pikiranmu. Itulah yang Allah telah lakukan bagimu. Kepada orang yang datang memohon pengampunanNya Allah berkata, “Hari ini Aku mengampuni segala dosa, kesalahan dan pelanggaran yang telah engkau perbuat di dalam hidupmu.” TUHAN adalah penyayang dan pengasih, demikian  mazmur Daud, Ia Allah yang panjang sabar dan berlimpah dengan kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita. Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setiaNya, sejauh timur dari barat demikian dijauhkanNya daripada kita pelanggaran kita (Mazmur 103:8-12). Apa yang menjadi sikap kita? Bagaimana reaksi hati kita setelah mendengar kalimat-kalimat Allah seperti ini? Setiap kali engkau dan saya boleh menghampiri Allah dalam ibadah sebagai orang yang telah dibenarkan di hadapan Tuhan, dosa kita tidak diingatNya lagi, betapa hal itu sepatutnya membawa damai sejahtera dan sukacita memenuhi hati kita. Semua hutang-hutang dosa, pelanggaran dan kesalahan kita tidak Ia perhitungkan lagi. Itulah sebabnya Roma 5:1 berkata, kita yang telah dibenarkan di dalam Yesus Kristus, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah, we have peace with God. Kata “peace” damai sejahtera, restorasi hubungan kita dengan Allah, indah luar biasa. “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya. Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya” (Mazmur 32:1-2, Roma 4:7-8), itulah artinya peace damai sejahtera.

Mungkin saat ini satu kakimu telah menjauh dari anugerah Allah oleh karena rasa takut dan malu karena terlalu banyak berbuat salah kepada Tuhan. Ketika engkau telah kehilangan peace damai sejahtera datang menghampiri Allah, mari sekali lagi kiranya hati kita dibawa untuk mengerti keselamatan dan pembenaran itu bukan karena jasa perbuatan baik apa yang bisa kita bawa di hadapan Tuhan. Mari kita menghampiri tahta kasih karunia Allah dan menikmati pengampunanNya, karena hari ini Allah melepaskanmu dari segala kutuk dosa, tidak ada lagi kesalahan yang menghantui hidupmu. Kesalahan yang kita lakukan tahun lalu, kegagalan kita di masa lampau, keputusan yang tidak bijaksana yang pernah kita ambil, tindakan gegabah yang telah kita lakukan di hari-hari yang lalu, kita tahu semua itu menghasilkan konsekuensi yang harus kita tanggung akibatnya. Tetapi pada hari ini ketika kita datang mengaku di hadapan Tuhan, kita menjadi orang yang baru dan akan ada damai sejahtera Allah memenuhi hati kita. Puji Tuhan! Di dalam Kristus, kita adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu (2 Korintus 5:17). Hanya manusia yang suka mengingat-ingat kesalahan yang pernah dibuat orang kepadanya. Tetapi hanya Tuhan yang senantiasa mengingatkan kasih karuniaNya hari demi hari. “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Roma 5:1-2).

Aspek kedua di sini, bukan saja kita memperoleh peace damai sejahtera itu, di dalam kasih karunia Allah kita juga boleh berdiri dan bermegah, exaltation in hope for the glory of God. Itu fokus hidup kita sekarang setelah kita menjadi milik Tuhan, kita mengejar satu pengharapan yang indah, hope in the glory of God penuh dengan exaltation. Terjemahan Indonesia memakai kata ‘bermegah’, bagi

saya kata ‘bermegah’  belum cukup untuk menyatakan kita memuji dan memuliakan Allah dengan sukacita kegembiraan. Normalkah? Ya! Haruskah? Sudah tentu! Hati kita penuh dengan sukacita akan terekspresi dengan wajah kita, terekspresi dengan tangan kita, terekspresi dengan pujian syukur keluar dari mulut bibir kita, terekspresi keluar dari hidup kita.

Kalau hari ini demi kepentingan kesehatanmu, dokter meminta engkau untuk cek darah dan PET scan, x-ray, CT scan dsb untuk mendeteksi adakah sel-sel kanker di tubuhmu, lalu setelah melakukan semua prosedur itu, dokter mengatakan tunggu hasilnya seminggu lagi. Bagaimana perasaan kita sepanjang seminggu itu? Sudah tentu ada kekuatiran, ada kegelisahan, ada ketakutan dan berbagai perasaan galau muncul dalam hati kita, “bagaimana kalau…?” Perasaan dan emosi seperti itu bisa bercampur-aduk sepanjang minggu sebelum kita menerima semua hasil scan tersebut, bukan? Lalu tiba waktunya sdr bertemu dengan dokter itu, sdr duduk di depan dia, lalu engkau melihat dokter membuka amplop hasil scan dengan hati yang berdebar-debar. Lalu dokter memaparkan seluruh hasil scan itu di hadapanmu, membacakan hasil dengan teknikal terminologi yang sdr tidak paham sama sekali. Sdr juga tidak terlalu ingin tahu apa arti kalimat-kalimat dokter itu, karena sdr hanya menunggu satu kalimat, “ada” atau “tidak ada.” Bayangkan, ketika dokter kemudian berkata, “Seluruh hasil scan memperlihatkan sdr “bersih,” clean! bagaimana reaksimu? Apakah sdr akan berkata, “Yakin, dok? Apa betul?” Atau sdr melihat tagihan yang harus engkau bayar dengan kaget dan kesal, “Wah, mahal sekali tarif dokter ini!” Saya memberitahu engkau, semua ini tidak ada artinya, bayar berapapun seharusnya tidak akan mempengaruhi hatimu yang lega dan gembira mendengar kabar bahwa tidak ada sel kanker ganas bersarang di tubuhmu. Kalau mungkin, keluar dari ruang praktek dokter, engkau akan melompat dengan girang, joy and exaltation. Itulah yang Paulus gambarkan dalam Roma 5:2 ini.

Kadang ketika kita datang berbakti, kita sudah kehilangan dimensi sukacita ini. Kita datang dengan setengah hati, kita datang dengan hati seolah kita sedang memberi sesuatu kepada Tuhan, seolah kehadiran dan uang kita men-support Tuhan dalam ibadah, berat hati luar biasa. Kita datang seolah untuk menyatakan kepada Tuhan terima kasih lho, aku datang. Kita merasa ini adalah satu jam yang terlalu berat untuk kita sacrifice berkorban dalam satu minggu. Pada waktu kita diajak berdoa bagi orang lain, kita tidak punya hati dan simpati kepada mereka. Dan pada waktu kebaktian lebih panjang 15 menit saja daripada biasanya, engkau sudah gelisah, marah dan tidak senang. Kita kehilangan sukacita mengingat apa artinya telah dibenarkan Allah. Saya rindu setiap kali engkau membaca kalimat ini, hatimu kembali tersentuh dengan segala keharuan dan rasa syukur, I have peace with God, itu adalah hal yang paling indah.

Yang kedua, setelah menjadi anak Tuhan engkau hidup di dalam periode ini: periode peace dengan Tuhan menuju kepada pengharapan di dalam kemuliaan Allah. Dan kemuliaan itu nyata bukan di dalam jalan kita yang lancar dan bebas dari kesulitan penderitaan. Kemuliaan Allah itu nyata justru ketika kita menjalani penderitaan hidup karena Kristus dengan kemegahan sukacita. Di dalam periode ini Alkitab memberitahukan kita fakta yang tidak bisa kita hindari dalam hidup ini yakni kita masih menghadapi kesulitan dan penderitaan, sekarang atau satu hari kelak. Meskipun sudah menjadi anak Tuhan, kita tidak lepas dari penderitaan dan kesulitan di dalam hidup ini. Salahlah kita berpikir, kalau sudah menjadi anak Tuhan kita tidak akan mengalami semua itu, Tuhan akan berikan kelancaran, kesuksesan, kekayaan dan kesehatan selama-lamanya. Tidak! Itu bukan konsep yang Alkitab berikan karena Tuhan tidak berjanji seperti itu. Tidak semua tahun-tahun hidup kita selalu lancar. Ada waktunya kita mengalami kesulitan dan hambatan, bahkan tahun-tahun yang sangat berat dalam hidup kita. Kadang ada saat dimana kita menghadapi kesulitan yang berat luar biasa, kadang-kadang begitu berat sampai bernapas pun sulit rasanya karena bertubi-tubi datangnya. Tetapi Tuhan tahu kita manusia yang lemah, kecil dan tidak berdaya, sehingga tidak selamanya dan seterusnya kita menghadapi kemarau panjang dalam hidup kita. Tetapi bagaimana engkau dan saya sebagai anak-anak Tuhan berjalan melewati penderitaan dan kesulitan di dalam hidup kita masing-masing sehingga orang luar tahu ada hal yang begitu berbeda di dalam imanmu kepada Kristus, dan mereka tahu pengharapanmu kepada Allah adalah satu pengharapan yang begitu real adanya? Bagaimana kita berespons dan bersikap, biar firman Tuhan hari ini membimbing kita. Paulus berkata, “Kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan” (Roma 5:3). Exalt in tribulation, bermegah dalam kesengsaraan, konsep itu tidak pernah kita temukan di mana pun selain di dalam iman Kristen. Bagaimana kita bisa bermegah di dalam kesengsaraan? Apa yang kita lakukan kalau hal-hal yang berat dan sulit terjadi di dalam hidup kita? Pertama, buang criticism dan judgmental spirit dari hatimu. Jangan biarkan spirit yang negatif bersarang di dalam hatimu. Kedua, buang gerutu dan keluhan dari mulutmu. Jangan mempersalahkan orang lain, jangan mempersalahkan situasi. Ketiga, jangan self-absorbed hanya memikirkan diri sendiri.

Kenapa Paulus memanggil kita untuk bermegah dan bersukacita di dalam kesengsaraan kita? “Karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Roma 5:3-4). We know that suffering produces endurance, endurance produces true character, true character produces hope. Setiap penderitaan menghasilkan ketekunan; ketekunan menghasilkan karakter yang sejati; karakter yang sejati menghasilkan pengharapan yang tidak akan mengecewakan. Tuhan memproses hidup kita seperti ini. Tuhan tidak membuat semua masalahmu hilang lenyap seketika. Adakalanya pertolongan Tuhan itu baru engkau alami setelah engkau melewati satu periode waktu yang panjang, namun engkau menjalani dengan sabar dan tekun.

Pertama, kesengsaraan akan menghasilkan ketekunan. Kita melihat contoh yang paling sempurna dari aspek ketekunan perseverance itu di dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus. Penulis Ibrani mengatakan, “Ingatlah selalu akan Dia yang tekun menanggung bantahan yang ehebat itu terhadap diriNya dari pihak-pihak orang-orang berdosa, supaya kamu jangan menjadi lemah dan putus asa” (Ibrani 12:3). Pada waktu engkau mengalami berbagai penderitaan, tantangan dan kesulitan di dalam hidupmu, selalu lihat Yesus Kristus, contoh teladan kita. Seperti rasul Paulus berkata, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian; kami dihempaskan, namun tidak binasa” (2 korintus 4:8-9). Dari situ kita juga akan berkata, “Tuhan, walaupun aku dihempas kesulitan, aku tidak putus asa. Walaupun aku sakit, aku tidak kecewa. Walaupun aku terhimpit, aku tidak habis akal. Semua itu memperlihatkan satu keindahan kekuatan itu bukan datang dari diriku, kekuatan itu datang dari Tuhan.”

Kedua, ketekunan akan menghasilkan tahan uji, satu karakter yang murni, satu karakter yang indah dan agung. Kalau ada penderitaan dan kesulitan datang kepada kita, tujuannya tidak lain supaya membuat “tulang belakang” kita lebih tegak sehingga kita lebih punya dignitas. Mungkin penderitaan dan kesulitan itu datang untuk menjewer telinga kita supaya kita mendengar lebih benar. Mungkin penderitaan dan kesulitan itu datang untuk membuat tangan kita yang lemah menjadi lebih kuat lagi, supaya kita belajar untuk bisa mengerjakan sesuatu lebih rajin dan lebih sungguh. Mungkin penderitaan dan kesulitan itu datang supaya mulut kita menjadi talk about truth di dalam hidup kita. Mungkin penderitaan dan kesulitan itu datang untuk mengikis ego dan membuat kita lebih memperhatikan orang lain.

Melawati penderitaan itu engkau  diproses Tuhan seperti melewati pembakaran dan pemurnian sampai yang tersisa adalah iman yang otentik, purity in character. Pada waktu seseorang sudah diproses oleh Tuhan, engkau sudah berada di titik yang paling nadir, apa lagi yang engkau masih takutkan? Engkau sudah berada di dalam kebangkrutan yang paling habis-habisan, apa lagi yang engkau masih takutkan? Banyak titik hidup orang Tuhan proses memang sampai yang di titik yang paling dalam. Abraham pernah sampai kepada titik tidak ada kemungkinan bisa punya anak. Yusuf pernah sampai kepada titik masuk ke dalam penjaa Firaun, tidak ada kemungkinan bisa keluar dari situ. Musa pernah sampai kepada titik dari seorang pangeran Mesir menjadi seorang yang tersendiri di padang gurun menggembalakan kambing domba mertuanya. Masih banyak lagi contoh orang-orang yang tidak habis waktu untuk saya sebutkan satu-persatu. Tetapi yang kita tahu orang-orang seperti ini tidak akan pernah lagi takut dan kuatir menghadapi apa-apa, karena mereka sudah masuk ke dalam proses pemurnian Allah yang paling akhir, sehingga keluar dari pembakaran itu mereka sudah murni. Tidak pernah pengujian dari Tuhan bertujuan untuk menghancurkan hidup kita. Setiap ujian dari Tuhan selalu untuk memurnikan hidupmu, sehingga engkau menjadi pure in character.

Terakhir, Roma 5:5 “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Kasih Allah dicurahkan, dituang dengan limpah, ditumpahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus.

Sudahkah engkau mengalami tumpahan kasih Allah dalam hidupmu? Betapa banyak orang Kristen telah kehilangan aspek ini. Kita terlalu gampang berlogika, kita terlalu cepat merasionalisasi, ‘kalau soalnya begini, end upnya begini’ tetapi mungkin kita tidak pernah membuka diri untuk melihat Allah sepenuhnya berkarya dalam hidup kita, sehingga banyak hal kita “missed out” kesempatan hal yang supranatural Allah kerjakan di sana. Roma 5:5 ini bicara sesuatu yang melampaui akal logika rasional kita. Bagaimana di tengah situasi yang engkau hadapi yang seolah tidak memungkinkan engkau mempunyai peace, tetapi itu yang terjadi. Datang darimana peace itu? Datang darimana exaltation, jubilation, praise and joy itu? Seluruh tubuhmu dalam keadaan sakit, bagaimana engkau bisa memperlihatakan damai dan sukacita itu? Orang sering sinis mengatakan itu kan pengalaman subyektif masing-masing, tetapi Alkitab mengatakan ini terjadi karena memang Roh Allah memenuhi hatimu dengan kasihNya yang berlimpah-limpah, dari situ datang damai dan sukacita. Kasih Allah ditumpahkan oleh Roh Kudus di dalam hatimu, dari situ engkau tahu pengharapanmu di dalam Tuhan tidak pernah mengecewakan engkau. Jangan kita menahankan dan tidak membiarkan Roh Allah bekerja sepenuhnya dalam hidup kita. Banyak hal engkau dan saya tidak bisa menjelaskan bagaimana damai dan kekuatan itu ada dalam dirimu, itulah karya dan pekerjaan Roh Allah di dalam hidup kita.

Kiranya firman Tuhan pagi ini boleh memberikan dorongan dan kekuatan bagi setiap kita. Sekalipun saat ini engkau mungkin berada di dalam jurang yang paling dalam di dalam hidupmu dan belum melihat tangan Tuhan terulur kepadamu, sekalipun saat ini engkau mungkin berada di dalam situasi yang berat dan tidak ada jalan keluar, jangan putus asa dan kehilangan pengharapan itu. Kiranya damai sejahtera Allah dan kasih Allah yang dicurahkan oleh Roh Kudus di dalam hatimu membuat engkau menyadari bahwa tidak ada pertimbangan logika, tidak ada pertimbangan rasional, yang bisa menjawab akan semua hal ini. Ketika orang lain melihat pengharapanmu kepada Tuhan, mereka mungkin tidak bisa mengerti akan hal itu tetapi kita mengertinya bahwa kuasa dan pekerjaan Roh Kudus di dalam hidup kita membuat kita tidak pernah kecewa, membuat kita senantiasa tahan dan sabar dan tekun di dalam Tuhan. Kiranya Allah dipermuliakan dalam hidup setiap kita.(kz)