Langkah Pengampunan Allah

Pengkhotbah: Rev. Gerald Bray
Tema: Langkah Pengampunan Allah
Nats: Mazmur 51

Mazmur 51 adalah sebuah mazmur yang ditulis oleh raja yang agung bernama Daud. Mazmur ini dia tulis pada waktu dia berada di dalam krisis hidup yang paling dalam. Alkitab menyatakan satu hal yang sangat penting sekali untuk kita sadari, bahwa tidak ada satu manusia pun yang sungguh-sungguh sempurna di dunia ini. Ketika kita membaca dan mempelajari begitu banyak pahlawan iman yang tercatat di dalam sejarah Israel, Alkitab memperlihatkan walaupun mereka orang yang agung dan besar, mereka bukan orang yang sempurna. Salah satunya adalah raja Daud. Allah berjanji kepada Daud bahwa dia akan memiliki keturunan yang akan menjadi seorang raja yang akan memerintah untuk selama-lamanya (2 Samuel 7:16, 1 Raja 2:33, 1 Raja 9:5). Dan Yesus Kristus, kita ketahui adalah penggenapan janji keturunan Daud itu (Lukas 1:32). Maka inilah satu berkat dan satu kehormatan yang Allah berikan kepada Daud. Tetapi pada waktu kita membaca sejarah hidup Daud, kita akan melihat gambaran yang lain. Daud seorang yang agung, tetapi dia bukan seorang yang sempurna. Ada waktu di dalam hidupnya dimana Daud melakukan sesuatu yang sangat buruk. Dan hal yang mungkin kita katakan paling buruk yang pernah dilakukannya dalam hidupnya membuat dia menulis Mazmur 51 ini [lihat 2 Samuel 11]. Suatu hari dia melihat isteri dari salah seorang jenderal di dalam barisan tentaranya dan dia jatuh cinta kepada wanita ini dan menginginkan wanita ini menjadi isterinya. Sebetulnya Daud tidak membutuhkan isteri karena pada waktu itu dia sudah memiliki lebih dari 5 isteri (2 Samuel 3:2-5). Namun setelah melihat wanita ini, Daud memutuskan wanita ini harus menjadi miliknya. Tetapi bagaimana cara Daud memperoleh wanita itu? Satu-satunya cara adalah dengan membunuh suaminya. Namun suaminya justru adalah seorang jenderal yang sangat setia sekali kepada dia, maka tentu saja Daud tidak dapat terang-terangan membunuh dia. Apa yang dia lakukan? Yang dia lakukan adalah dia mengatur supaya jenderal itu ditempatkan di barisan terdepan dalam peperangan sehingga dengan gampang dan mudah diserang dan dibunuh oleh musuh. Itulah yang kemudian terjadi. Ketika mayat jenderal itu dibawa kembali ke Yerusalem, Daud pura-pura menyatakan kesedihannya di hadapan rakyat, namun tidak berapa lama kemudian dia segera mengambil wanita itu menjadi isterinya. Di depan mata rakyat, hal yang dilakukan Daud ini seolah menunjukkan ini adalah hal yang seharusnya dan sepatutnya. Orang akan melihat kebaikan dia memelihara hidup seorang janda yang dibawa masuk ke dalam rumahnya, karena sangat sulit menjalani hidup tanpa suami pada masa itu. Dan tentu saja tidak berapa lama kemudian, wanita ini mengandung seorang bayi laki-laki dan melahirkan. Pada waktu itu kemudian datanglah seorang nabi Tuhan kepada raja Daud, dan nabi itu berkata kepada dia, “Allah mengetahui segala yang telah engkau perbuat. Engkau hanya berpura-pura di depan umum bahwa engkau telah melakukan hal yang baik. Tetapi Allah mengetahui apa yang telah engkau reka-rekakan dengan membunuh suami dari perempuan ini sehingga wanita ini bisa menjadi isterimu. Karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, Allah menghukum engkau dan bayi itu meninggal.” Tidak lama setelah lahir, bayi ini jatuh sakit dan kemudian meninggal. Daud sangat bersusah hati karena anaknya meninggal dunia. Demikianlah kebenaran itu terbuka dan terkuak [lihat 2 Samuel 12]. Di situlah moment Daud menyadari bahwa dia telah berdosa di hadapan Allah. Di dalam kesadaran itulah kemudian Daud menulis Mazmur 51 ini.

Saya percaya sdr tidak pernah melakukan hal-hal seperti yang Daud telah lakukan. Namun demikian meskipun kita tidak melakukan hal yang sama, sesungguhnya kita tidak berbeda dengan Daud. Kita juga adalah manusia yang berdosa. Seringkali kita melakukan perbuatan dosa tanpa memikirkannya. Tetapi ada moment dimana Tuhan dengan jelas berbicara kepada kita, menunjukkan kesalahan dan dosa yang ada di dalam hidup kita. Di situlah engkau menyadari engkau tidak boleh terus hidup seperti ini. Di situlah hati nurani kita berkata ‘aku telah melakukan sesuatu yang salah di hadapan Allah.’ Dan di situlah saatnya kita akan menghadapi satu ujian yang sangat besar dari Allah yaitu ke mana kita akan berbalik dan berpaling ketika kesadaran itu menyentuh nurani kita? Apa yang harus kita kerjakan dan lakukan pada waktu kesadaran bahwa kita telah berbuat dosa itu menyentak hati kita? Daud menyadari bahwa Allah telah menghukum dia atas perbuatan dosanya. Tetapi pada saat yang sama Daud juga menyadari bahwa satu-satunya tempat dia berpaling dan satu-satunya yang memberi pengharapan dan pengampunan adalah Allah sendiri. Daud tidak menjauhkan diri dari Allah pada saat dia menyadari akan dosanya. Justru dia berbalik kepada Allah karena dia tahu hanya Allah yang sanggup menolong dia. Mazmur 51 membukakan cetusan hati Daud dan bagaimana Daud kembali kepada Allah. Perjalanan dia kembali kepada Allah itu dapat kita lihat setahap demi setahap di dalam mazmur ini. Pada waktu kita berada di dalam perjalanan keterhilangan kita bisa belajar dari pengalaman hidup Daud ini.

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setiaMu” (Mazmur 51:3).

Langkah pertama yang Daud lakukan adalah dia datang menangis dan berseru kepada Allah, “Ya Allah, kasihanilah aku.” Lord, have mercy on me. “Mercy” atau belas kasihan tidak jauh berbeda dengan pengampunan. Pada waktu Allah menyatakan belas kasihannya kepada Daud tidak berarti Allah mengatakan Daud tidak melakukan dosa. Daud tidak meminta Allah melupakan atau tutup mata terhadap apa yang telah dia perbuat. Daud menyadari penderitaan yang dia alami itu adalah sesuatu yang adil dan sepatutnya dia terima. Tetapi Daud melangkah lebih jauh daripada hal keadilan karena dia tahu Allah bukan hanya Allah yang adil menghukum tetapi Ia juga Allah yang memberikan pengampunan. Maka dia memohon belas kasihan itu kepada Allah. Daud berkata kepada Allah, ‘Aku telah bersalah di hadapanMu. Tidak ada hal yang bisa aku lakukan untuk memperbaikinya. Aku tidak bisa membuat orang yang telah aku bunuh itu hidup kembali. Apa yang dapat aku lakukan untuk mengubah hal ini? Tidak ada hal yang bisa saya lakukan untuk mengubahnya. Yang bisa aku lakukan adalah memohon belas kasihan Tuhan. Mungkin aku akan menderita konsekuensi atas apa yang telah aku lakukan. Kumohon jangan ambil nyawaku karenanya, ya Allah.’ Sebab Daud mengetahui dan ingat Allah pernah berjanji untuk membuat dia menjadi bapa dari sang Juruselamat yang akan datang. Daud tahu dengan sungguh-sungguh bahwa Allah memiliki rencana bagi hidupnya. Daud tahu Allah itu setia akan setiap perkataan firmanNya. Problemnya bukan kepada Allah, problemnya adalah Daud sendiri. Itulah sebabnya Daud menaklukkan diri terhadap didikan dan hajaran Allah. Daud berdoa dan meminta Allah memberinya hati yang baru, roh yang baru (Mazmur 51:12). Ia memohon dan meminta Allah menjadikannya seorang manusia baru yang berbeda daripada yang sekarang ini. Ini adalah satu permohonan yang begitu sulit untuk Daud nyatakan. Kalau kita tidak pernah ada pada point ini di dalam hidup kita, Allah tidak mungkin bisa berkarya di dalam hidupmu. Mengapa Allah tidak berkarya dalam hidupmu? Karena engkau tidak memahami bahwa engkau membutuhkan hal ini: a new heart, a new center and a new spirit. Kita tidak bisa disembuhkan jika kita tidak menyadari kita perlu ditolong.

Hal yang pertama Allah kerjakan dan lakukan kepada Daud adalah menyadarkan dan membukakan fakta bahwa Daud tidak bisa menolong dirinya sendiri. Apa yang telah dia lakukan begitu buruk dan jahat adanya, dan hal itu karena dia adalah seorang yang penuh dengan dosa. Jikalau hati ini tidak pernah mau diubah, selama-lamanya dia tidak akan pernah bisa berubah. Inilah hal pertama yang harus Daud sadari. Ini juga yang harus engkau dan saya sadari.

Pada waktu Yesus mengatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia akan mengutus Roh Kudus kepada mereka, apa yang Yesus katakan Roh Kudus akan lakukan kepada mereka? Yesus mengatakan ketika Roh Kudus itu hadir, Ia akan menginsyafkan mereka akan dosa, akan kebenaran dan akan penghakiman Allah (Yohanes 16:8). Dengan kata lain, hal pertama yang Roh Kudus akan lakukan adalah membukakan satu kebenaran di hadapan kita. Kebenaran apa? Yang pertama: aku adalah seorang berdosa. Yang kedua: Allah adalah benar dan adil adanya. Yang ketiga: Allah yang benar dan adil itu akan menghakimi dosa-dosaku. Kita perlu mengerti akan hal ini. Bahwa di hadapan hadirat Allah aku tidak dapat mengatakan bahwa aku adalah orang benar. Bahwa di hadapan hadirat Allah aku bukan seorang yang tidak bersalah. Ini adalah hal pertama yang harus aku akui di hadapanNya. Hanya dengan menyadari betapa aku adalah seorang yang sangat berdosa, barulah Allah bisa berkarya di dalam hidupku untuk mengampuni dan membersihkan dosa-dosaku. Dosa menyebar kepada seluruh aspek hidup kita; tidak ada bagian dari hidup kita yang tidak tersentuh oleh dosa. Daud mengakui hal ini di dalam Mazmur 51:7 “Sesungguhnya dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” Dalam dosa aku dilahirkan. Dosa menyentuh seluruh bagian hidupku. Aku tidak punya kekuatan menghadapi dan melawannya. Kita tidak bisa membuang bagian dosa itu dan berharap kita bisa lepas daripadanya. Satu-satunya cara kita bisa bebas dari dosa adalah kita mati. Pada waktu kita meninggal, itulah akhir dari hidup kita. Namun kita bersyukur, Allah mengutus PuteraNya untuk mati mengganti engkau dan saya. Saya bisa mati bagi dosa-dosa saya, tetapi saya tetap tidak selamat. Namun karena Yesus mati bagi dosa-dosaku, dan karena Dia sendiri adalah satu Pribadi yang tidak ada dosa, Ia dapat menghapus dosa dan Ia sanggup memberikan hidup yang baru bagiku.

Pada waktu itu Daud tidak mengenal Yesus sejelas seperti sebagaimana kita sekarang mengenalNya. Tetapi Allah menyatakan janji dan nubuat kepada Daud bahwa melalui keturunan Daud, juruselamat Yesus Kristus itu akan datang. Daud diselamatkan karena dia percaya akan janji Allah ini. Ini adalah sebuah langkah iman yang agung sebab Daud percaya kepada perkataan dan janji Allah meskipun dia belum melihatnya. Apa yang Daud percaya bahwa Allah akan lakukan bagi hidupnya?

Pertama, Daud percaya bahwa Allah akan menghapus dan mengampuni dosanya. Allah akan melakukan apa yang Daud tidak bisa lakukan bagi dirinya sendiri. Bukan saja Allah mengampuni dan menghapus dosa Daud, Allah juga memberikan hidup yang baru baginya. Dan bukan saja Allah memberikan hidup yang baru itu, Allah juga memampukan dia bersukacita menikmati hidup yang baru itu. Hal ini seringkali kita abaikan dan lupakan, bukan? Adakah engkau bahagia dan bersyukur untuk hidup baru yang Tuhan sudah berikan bagimu? Aneh sekali karena banyak orang Kristen ternyata tidak bahagia dengan hidup baru yang sudah didapatnya. Mereka masih menginginkan hal-hal yang lain. Mereka membayangkan dan berfantasi jikalau mereka memiliki hal-hal yang lain, mereka akan bahagia. Kadang mereka berkata, jika aku mendapat uang lebih banyak, aku akan bahagia. Jika aku bisa tinggal di negara lain, hidupku akan lebih baik. Jika aku mempunyai isteri atau suami yang lain, hidupku mungkin akan lebih indah. Ini adalah fantasi yang aneh karena kita tidak bisa membuktikan kepada orang itu bahwa dia keliru. Sebab bagaimana saya bisa tahu kamu tidak bahagia jika kamu mendapat uang lebih banyak? Satu-satunya cara yang bisa saya lakukan adalah saya memberimu uang itu dan melihat apa yang terjadi setelah itu. Tetapi ketika saya memberimu uang dan ternyata engkau menyia-nyiakan uang itu untuk hal-hal yang sembarangan, berarti terbukti bahwa apa yang engkau impikan itu justru menghancurkan hidupmu. Tentunya pada waktu itu terjadi, biasanya sudah terlambat disadari. Sayangnya begitu banyak orang Kristen yang berpikir seperti ini. Mereka menginginkan hal-hal yang mereka belum atau tidak punya. Pada waktu mereka sudah mendapatkannya barulah mereka menyadari bahwa semua itu ternyata tidak seperti yang mereka kira.

Allah bukan saja berjanji untuk memberi Daud hidup yang baru, dan hidup yang baru itu adalah hidup yang membahagiakan. Itulah ciri dan tanda hidup seorang Kristen sejati. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi kepada hidup saya besok namun saya bahagia dengan hidup saya hari ini. Sudah tentu hidup saya tidaklah sempurna. Ada banyak hal yang tidak bisa saya lakukan namun ada begitu banyak juga berkat yang sudah saya terima dari Tuhan. Dan Allah menginginkan saya memiliki hati yang berbahagia dan bersyukur terhadap apa yang sudah saya terima dariNya. Sebab pada waktu hidup saya mengalami perubahan, saya pun juga akan belajar untuk bersyukur, belajar untuk bahagia terhadap perubahan itu.

Kita menyadari inilah hal yang seringkali terjadi di dalam gereja, ada orang-orang yang mempunyai kebiasaan suka berpindah dari satu gereja ke gereja yang lain. Mengapa orang melakukan hal seperti ini? Mereka beralasan sebab mereka tidak menemukan gereja yang mereka sukai; mereka tidak menemukan gereja yang bisa membuat mereka senang. Sampai akhirnya mereka mengambil kesimpulan semua gereja memang tidak ada yang beres. Padahal yang salah kemungkinan besar adalah diri mereka sendiri. Tetapi orang seperti ini tidak mau mengakuinya. Tetapi faktanya adalah jika engkau tidak bahagia di satu tempat dan engkau pergi ke tempat lain, engkau akan membawa ketidak-bahagiaan itu ke sana. Ketika engkau membawa ketidak-bahagiaanmu ke sana, maka satu hal yang pasti akan terjadi, ketidak-bahagiaanmu akan membuat orang-orang di situ menjadi tidak bahagia. Kenapa? Karena engkau membawa ketidak-bahagiaan itu bersamamu. Demikian hal yang sama juga dengan hidup sehari-hari. Engkau kepingin punya rumah baru karena berpikir rumah baru akan membuat hidupmu lebih baik. Setelah pindah rumah baru baru sadar ada masalah baru yang engkau hadapi di situ. Engkau kepingin mempunyai suami baru , ternyata baru tahu suamimu mengorok waktu tidur. Berarti kemana saja engkau pergi, engkau membawa ketidak-bahagiaanmu ke situ.

Daud menyadari Allah memberikan hidup yang baru sekaligus hidup baru itu adalah hidup yang penuh sukacita dan bahagia. Daud juga selangkah berkata Tuhan bukan saja mengangkat dosa-dosanya tetapi dia juga tidak akan melihatnya lagi. Ini adalah konsep yang penting sekali sebab ada dua kebahayaan yang bisa terjadi dalam hidup kita.

Kebahayaan pertama adalah kadang kita berhadapan dengan suara tuduhan di kepala kita yang mengatakan engkau telah berdosa kepada Allah. Engkau tidak berhak mendapatkan hidup baru. Engkau tidak mungkin berubah karena engkau orang yang seperti itu.’ Tuduhan ini terus-menerus mengiang sepanjang hidupmu. Tuduhan itu membuat kaki kita tidak bisa melangkah menjalani hidup seperti yang Tuhan inginkan terjadi kepadamu. Tuhan berkata, ‘Tidak, Aku sudah ambil dan angkat dosa-dosamu.’ Pada waktu dosa itu sudah Allah ampuni, sekaligus juga Allah tidak mengingat-ingatnya lagi. Kita diberi janji oleh Tuhan menjalani hidup di mana depan tanpa lagi membawa beban di masa lalu.

Problem yang kedua adalah problem yang ada di luar kita, karena seringkali ada orang-orang di dalam gereja tahu apa yang sudah engkau lakukan, orang-orang seperti ini setiap kali ada kesempatan memakai itu sebagai cara untuk mengingat-ingatkan engkau. Orang-orang ini tidak akan membiarkan engkau melupakan hal itu. Tentu orang-orang ini tidak mau menyadari dan mengakui bahwa mereka juga adalah orang yang berdosa, dan jikalau Allah tidak melakukan hal yang sama, mereka pun tidak akan selamat. Itulah sebabnya kita harus mengingatkan orang-orang seperti ini, bahwa Allah sudah mengampuni dosa orang itu. Dan kita juga harus mengingatkan bahwa mereka juga adalah sama-sama orang yang berdosa yang membutuhkan pengampunan dari Allah. Saya belajar untuk mengampuni orang karena saya menyadari bahwa Allah juga telah mengampuni aku. Jika seseorang tidak sanggup untuk memaafkan orang lain, artinya dia belum mengerti pengampunan Allah. Sebab siapakah saya yang boleh menghakimi orang lain? Tentu tidak berarti saya tutup mata terhadap setiap dosa dan kesalahan yang saya lihat di hadapanku. Saya mengingatkan diriku sendiri bahwa saya pun seorang yang berdosa dan bersalah. Saya juga selalu disadarkan dan diingatkan bahwa saya memerlukan juruselamat. Dengan demikian saya tidak menutup mata terhadap dosa yang diperbuat orang lain sebagaimana saya juga tidak menutup mata terhadap kesalahan diriku sendiri. Inilah yang Tuhan inginkan kita mempunyai pengertian dan pemahaman.

Karena demikianlah yang Daud katakan di dalam mazmur ini, “KepadaMu ya Allah, aku telah berdosa.” Dosaku, kesalahanku adalah kesalahan melawan Tuhan. Dosamu juga adalah dosa melawan Tuhan. Kepada Allah kita harus datang memohon dan mendapatkan pengampunan itu. Pada waktu Allah memberikan pengampunan itu, maka kita telah diampuni. Terkadang kita perlu juga meminta maaf dan pengampunan dari orang. Pada waktu orang tersebut menolak untuk mengampuni kita, maka orang itulah yang bersalah. Dan pada waktu seseorang datang meminta maaf dan pengampunan darimu, engkau wajib memaafkan dia. Hal ini tidak pernah mudah dilakukan karena ada harga mahal yang harus kita bayar untuk itu. Tetapi kita juga harus ingat baik-baik pada waktu Allah mengampuni kita, Ia telah membayar harga yang sangat mahal karena harga pengampunan Allah adalah dibayar dengan AnakNya mati bagi kita. Allah memberikan PuteraNya untuk engkau dan saya karena dengan cara itulah Dia mengampuni dosamu dan dosaku. Pengampunan yang kita tunjukkan kepada orang lain itu adalah pengampunan yang sudah kita terima dan dapatkan dari Tuhan.

Yesus mengatakan ada dua hukum Allah, yaitu hukum yang pertama adalah “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Dan hukum yang kedua adalah “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37-39). Kasih yang kita tunjukkan kepada sesama kita itu adalah kasih yang telah kita terima dari Allah. Kita tidak akan pernah mungkin bisa memberikan sesuatu kepada orang lain jikalau kita sendiri belum memilikinya. Jikalau saya hendak mengasihi sdr, terlebih dulu saya terima kasih Allah kepadaku. Dan kasih yang aku berikan kepadamu itu adalah bagian dari kasih yang telah saya terima dari Allah. Dan inilah makna sejati apa artinya pengampunan itu, yaitu pengampunan yang aku berikan kepada orang yang bersalah kepadaku adalah pengampunan yang telah aku peroleh dari Tuhan atas pelanggaran dan dosa-dosaku kepadaNya.

Yesus menyuruh murid-muridNya untuk berdoa, ampunilah kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Apa arti dari doa ini? Itu berarti pada waktu kita memberikan maaf dan pengampunan kepada orang lain menjadi bukti bahwa kita telah menerima pengampunan dari Allah. Inilah yang menjadi ciri yang membedakan kita sebagai orang percaya dengan mereka yang bukan orang percaya. Tuhan pun bisa memberikan pengampunan itu kepadamu dan engkau akan menjadi seorang pelayan Allah yang agung dan indah bagiNya. Itulah janji Allah bagi engkau dan saya. Tuhan dapat dan Tuhan akan mengubah hidupmu. Allah sanggup bisa membuatmu bercahaya bagaikan bintang di langit, sebab engkau telah menyerahkan hidupmu kepada Allah dan telah menerima pengampunanNya. Mari kita berjalan menghampiri Allah dan berdoa kepadaNya, niscaya Allah akan mengampuni engkau dan memulihkan hidupmu, memberikan engkau hidup yang baru yang telah Ia janjikan.(kz)