Kebenaran Iman melampaui Tradisi Agama

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (11)
Tema: Kebenaran Iman melampaui Tradisi Agama
Nats: Roma 4:1-25, Yohanes 8:37-59

Dalam Roma 4 ini Paulus masuk kepada topik bagaimana iman kepada Yesus Kristus mulai dikaitkan dengan bapa leluhur orang Yahudi yaitu Abraham. Namun sebelum Paulus, sesungguhnya Yesus sendiri lebih dulu sudah membongkar aspek ini, dan dalam Yohanes 8:37-59 kita melihat Yesus berbenturan dengan satu resistansi penolakan yang luar biasa. Orang-orang Yahudi dan pemimpin agama dengan sombong mengatakan, “kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bapa kami adalah Abraham” (Yohanes 8:33, 39). Tetapi Yesus menjawab mereka, “Jika sekiranya kamu adalah anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham.” Mereka tidak senang dengan kalimat Yesus ini dan menyatakan kalimat sindiran kepada Yesus, “kami tidak dilahirkan dari zinah…” (Yohanes 8:41b), untuk mengejek Yesus bahwa Ia sudah ada dalam kandungan ibunya sebelum orang tuanya menikah. Kalimat penghinaan yang kedua adalah “Bukankah benar kalau kami katakan bahwa Engkau orang Samaria dan kerasukan setan?” (Yohanes 8:48). Jelas mereka tahu Yesus adalah orang Yahudi tetapi dengan sengaja mereka merendahkan Yesus kepada level masyarakat yang dianggap sangat rendah. Maka kita melihat resistansi penolakan mereka sudah menuju kepada penghinaan terhadap pribadi Yesus. Yesus menjawab mereka, “Aku tidak kerasukan setan, tetapi Aku menghormati BapaKu dan kamu tidak menghormati Aku” (Yohanes 8:49), dan kemudian Yesus mengatakan, “Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hariKu dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita” (Yohanes 8:56). Jikalau engkau mengaku Abraham adalah bapamu, engkau pasti akan percaya dan menerima Aku karena Abraham percaya dan menerima Aku. Dan kalimat terakhir yang Yesus katakan kepada mereka, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yohanes 8:58) menghasilkan reaksi yang sangat dahsyat membangkitkan amarah mereka sehingga mereka berteriak mengambil batu hendak merajam Yesus. Mereka marah karena kalimat Yesus menyentuh satu aspek yang mereka rasa telah merendahkan Abraham bapa leluhur mereka.

Luar biasa reaksi yang orang-orang ini nyatakan. Walaupun yang berbicara itu adalah Anak Allah sendiri yang turun dari surga, yang menyatakan kebenaran Allah seperti itu, batu pun akan diambil dan dilemparkan kepada Dia. Kenapa mereka bereaksi seperti itu? Karena selama ini apa yang mereka terima sebagai tradisi turun-temurun sudah begitu kuat melekat dan begitu kerasnya, mereka tidak mau Yesus membongkarnya untuk melihat kebenaran itu dengan lebih benar. Menurut tradisi orang Yahudi, Abraham adalah contoh utama seseorang yang dibenarkan karena kesalehan dan perbuatan-perbuatannya. Kisah tentang Abraham yang dicatat mulai dari Kejadian 12 dan seterusnya memperlihatkan kehidupan Abraham sebagai bapa leluhur orang Yahudi apa adanya. Namun tradisi tentang siapa dia terus disampaikan turun-temurun, dan dari Abraham sampai kepada jaman Yesus ada jenjang waktu 4000 tahun lamanya. Di dalam perjalanan seperti itu sudah bercampur-baur fakta tentang siapa Abraham yang ditulis di Alkitab dengan mitos-mitos yang beredar berdasarkan tulisan-tulisan tradisi para rabi Yahudi. Maka terbentuklah persepsi dan pemahaman orang Yahudi tentang Abraham yang bukan saja sudah jauh berbeda tetapi bahkan bertolak belakang dengan fakta-fakta yang dicatat Alkitab. Dan repotnya, justru apa yang diajarkan turun-temurun justru makin kuat sehingga merombak gambaran figur yang sudah terpateri selama 4000 tahun betapa tidak gampang dan tidak mudah adanya.

Sama halnya pada waktu Martin Luther memakukan 95 tesis dimana salah satunya adalah mengkritik konsep Paus sebagai pemegang kunci keselamatan orang, satu konsep yang dalam sejarah perjalanan gereja sudah lebih daripada 500 tahun turun-temurun mereka terima, dan pada waktu Luther berkata keselamatan itu terjadi karena anugerah Kristus dan kita terima dengan cuma-cuma, itu mendatangkan reaksi kemarahan yang sangat besar sekali dari gereja pada waktu itu sampai mereka mengejar dan hendak membunuh dia.

Salah satu contoh dari Misnah mengenai Abraham disebutkan demikian, “…and we find that Abraham our father had performed the whole law before it was given, for it is written” [Kiddushin 4,14]. Kalimat yang Allah firmankan kepada Ishak dalam Kejadian 26:5 “…karena Abraham telah mendengarkan firmanKu dan memelihara kewajibannya kepadaKu, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukumKu,” ditafsir oleh rabi ini bahwa Abraham sudah melakukan dengan sempurna seluruh hukum Taurat, bahkan jauh sebelum hukum Taurat itu diberikan melalui Musa. Dalam buku the Book of Jubilees, “For Abraham was perfect in all his deeds and well pleasing in his righteousness all the days of his life.” Dalam the book of Menasseh bahkan dikatakan, Abraham, Ishak dan Yakub tidak perlu lagi meminta pengampunan dari Allah karena sepanjang hidupnya tidak pernah berbuat salah. Orang-orang Yahudi menerima bulat-bulat gambaran tentang Abraham seperti itu. Sehingga kalau sdr mengatakan Abraham kurang beriman, Abraham hidupnya tidak sempurna, Abraham berbohong, Abraham melakukan ini dan itu secara negatif, mereka akan marah besar mendengar bapa leluhur mereka dikecam seperti itu. Beberapa contoh ini memperlihatkan kepada kita bahwa di dalam perjalanan sejarah, mitos tentang Abraham sudah jauh berbeda dengan apa yang Alkitab katakan tentang dia, sehingga bagi orang Yahudi, Abraham nenek moyang dan bapa leluhur mereka adalah seorang yang menjalankan satu hidup yang sempurna dan segala perbuatannya dan kesalehannya membuat dia dibenarkan oleh Allah.

Maka pada waktu Paulus berkata dalam Roma 4:1-3 “Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan dan Tuhan memperhitungkan itu kepadanya sebagai kebenaran,” Paulus perlu menerobos itu bukan karena apa yang dia mau menyatakan apa yang menjadi pendapatnya, tetapi Paulus membawa mereka membaca kembali apa yang telah dikatakan oleh Alkitab “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran,” yang dia kutip dari Kejadian 15:6. Paulus membawa mereka kembali kepada firman, bukan membabi-buta ngotot mempertahankan tradisi yang sudah bertolak-belakang dengan kebenaran firman Tuhan. Firman Tuhan sendiri berkata, Abraham dibenarkan Allah karena imannya kepada Tuhan dan bukan karena perbuatannya. Ini adalah satu konsep yang sangat penting karena Paulus mengatakan kita diselamatkan oleh karena apa yang telah Tuhan Yesus kerjakan di atas kayu salib.

Firman Allah adakan kebenaran yang indah, agung, tidak ada kesalahan padanya. Tetapi seringkali kita menyaksikan saat firman disampaikan, ada “tanah yang keras,” hati yang tidak mau berubah dan tanah yang penuh dengan batu-batu kekuatiran akan apa yang akan engkau makan dan minum dan tipuan dari dunia ini membuat benih firman Tuhan tidak pernah tumbuh dengan kuat berakar dan berbuah di dalam hidup orang itu. Inilah problem reaksi penolakan dari orang yang mendengar firman Allah. Pada waktu kita mulai menolak dan terus menolak, di situlah akhirnya kita tidak lagi bisa melihat kebenaran dari firman Allah. Mungkin kita bertemu dengan orang yang sedang mencari kebenaran, lumrah sikap yang muncul pada waktu orang itu mendengar satu kebenaran yang berbeda dengan apa yang selama ini dia pegang dan percayai, pada waktu apa yang dia dengar berbeda dengan tradisi dan kepercayaannya yang dulu, pasti akan terjadi benturan. Jikalau selama ini dia diajarkan untuk menjaga hidup di dalam kesalehan, bersembayang dan berpuasa serta berbuat amal dan sedekah, supaya kelak waktu kita meninggal mudah-mudahan kita akan diterima di sisi Allah, lalu kemudian mendengar suatu penyampaian Injil Allah bahwa kita diselamatkan karena beriman kepada Yesus Kristus semata-mata karena Ia sudah lunas membayar hutang dosa kita kepada Allah, dan bukan karena perbuatan baikmu, maka terjadi benturan dan reaksi resistansi akan hal itu.

Level penolakan dan resistansi itu seperti apa? Yang pertama, ada orang mengalami pembenturan konsep dan reaksi yang muncul adalah resistansi intelektual, “I don’t understand it.” Dia menolaknya karena dia tidak mengerti atau belum mengerti apa itu. Bagi sdr yang baru mendengar firman Allah, bagi sdr yang baru mengenal iman Kristen, mungkin engkau bisa mengalami resistansi seperti ini. Namun resistansi itu bisa dibereskan ketika orang itu diberi pengertian sehingga dia bisa mengerti dan menerima kebenaran itu dengan hati terbuka.

Tetapi level yang membuat orang lebih kuat resistansinya dan tidak mau menerima adalah level yang kedua, yaitu resistansi emosional, “I don’t like it.” Di situ orang ini mengambil sikap penolakan dan resistansi bukan karena dia tidak mengerti, melainkan dia tidak menyukai konsep atau hal yang baru dan berbeda itu. Maka ini tidak bisa dibereskan dengan memberi dia pengertian karena bukan itu yang menjadi penyebabnya. Orang seperti ini perlu pendekatan yang berbeda karena apa yang dia dengar tidak sesuai dengan apa yang dia mau.

Pada level yang ketiga, resistansi menjadi keras luar biasa karena sudah sampai kepada resistansi personal, “I don’t like you.” Akhirnya apa saja yang dikatakan oleh orang itu dia tidak akan mau terima, bukan karena tidak jelas, bukan karena tidak mengerti, tetapi karena memang sudah tidak suka kepada orang itu. Maka pada waktu orang mulai menolak Allah, itu sudah menjadi penolakan secara personal “I don’t like You.” Dan tidak gampang dan tidak mudah merubah apa yang sudah menjadi satu layer yang keras di dalam hidup seseorang.

Maka apa prinsip yang kita juga bisa belajar dari Roma 4 ini? Ketika kita berbenturan dengan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang baru, sesuatu yang perlu membongkar konsep kita yang salah, bagaimana sikap dan reaksi yang sepatutnya sebagai anak-anak Tuhan? Maka di sini kita masuk kepada aspek: Is it good? Is it true? Does it help me to understand God in deeper way? Mari kita belajar memiliki sikap hati seperti ini meskipun mungkin kita tidak terbiasa dengan hal itu. Dan pada waktu kita berbenturan dengan sesuatu yang berbeda, jangan segera memasang perisai penolakan dan sikap keras yang tidak mau berubah. Ini menjadi prinsip yang bisa kita pelajari dari Roma 4.

Paulus bicara mengenai the righteousness keselamatan melalui iman kepada Kristus, yang harus membongkar tradisi orang Yahudi yang sudah turun-temurun sepanjang itu. Roma 4 ini menjadi penting, mengapa Paulus memulai argumentasi dengan Abraham dulu, yang dia tambahkan dengan kalimat ‘bapa leluhur jasmani kita.’ Sesudah Abraham, kemudian Paulus menyebut mengenai raja Daud, raja yang teragung bagi orang Yahudi (Roma 4:6). Daud, satu tokoh yang sangat dibanggakan oleh orang Yahudi sampai sekarang, karena Daudlah yang membuat bangsa Yahudi dikenal dan dihormati oleh bangsa-bangsa lain, karena Daudlah yang membuat bangsa Yahudi menjadi satu kerajaan yang besar bahkan setara dengan kerajaan Mesir dan yang lainnya pada waktu itu. Apa yang Paulus katakan di sini mengenai Daud? “Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya” (Roma 4:6). Daud menyadari dan mengakui betapa berbahagia dan legalah kita karena bukan perbuatan kita yang menjadi standar Allah membenarkan kita. Karena apa? Karena perbuatan apa sih yang bisa kita banggakan di hadapan Allah? Tidak ada. Yang ada, kita berbahagia karena kalau perbuatan kita diperhitungkan Allah, kita tidak punya apa-apa di hadapan Dia selain dosa, pelanggaran dan kesalahan kita, yang jikalau semua itu diperhitungkan Allah, yang kita dapatkan dari Dia bukanlah pembenaran melainkan hukuman dan kebinasaan. Justru karena Allah tidak mau memperhitungkan perbuatan kita, kita berbahagia dan bersukacita, karena yang kita terima adalah pengampunan dan pembenaran di dalam Yesus Kristus, Tuhan kita. Kenapa kita berbahagia? Sebab kalau kita mau hitung-hitungan dengan Allah mengenai apa yang adil karena dengan taat melakukan hukum Taurat, Abraham bapa leluhurmu sendiri dan Daud rajamu yang agung itu, tidak akan ada di dalam dunia ini. Maka Daud juga mengatakan “Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya” (Mazmur 51:18) merupakan kalimat yang penting sekali. Artinya apa? Dari 10 hukum, Daud paling sedikit sudah melanggar 3 hukum, jangan mengingini isteri sesamamu [hukum ke 10], jangan berzinah [hukum ke 7] dan jangan membunuh [hukum ke 6]. Dan masing-masing pelanggaran dari hukuman ini adalah hukuman mati dengan dirajam batu. Berarti sedikitnya Daud selayaknya menerima 3x hukuman mati sebagai pembayaran dari pelanggaran dosanya. Maka mazmur yang dikutip oleh Paulus dalam Roma 4:7-8 adalah mazmur yang ditulis oleh raja Daud dalam Mazmur 32:1-2, betapa bersyukur dan berbahagia mereka yang dosa-dosanya diampuni, yang pelanggarannya Tuhan tutupi, dan yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan. Di dalam keadaan seperti itu, perbuatan baik apa yang bisa Daud banggakan? Korban sembelihan dan korban bakaran ditumpuk sampai ribuan pun tidak akan sanggup menggantikan kesalahan yang sudah dibuatnya. Itulah sebabnya Daud sangat mengerti belas kasihan Allah yang membuat dia tetap hidup, dan dia diampuni dari segala dosanya oleh Allah. Dia hanya bisa terima semua itu dengan tangan terbuka, hanya itu yang bisa dilakukannya, tidak bisa apa-apa lagi. Dia tidak bisa mengganti pengampunan Allah dengan apapun. Maka Paulus mengutip mazmur ini untuk memperlihatkan terjadinya keselamatan dan pertobatan dan pengampunan kepada raja Daud bukan karena dia melakukan hukum Taurat tetapi karena Allah memperhitungkan kepercayaannya kepada Tuhan sebagai pembenaran baginya. Daud tidak melakukan apa-apa dan tidak bisa melakukan apa-apa, dan hukuman yang seharusnya ditimpakan kepada dia akibat perbuatannya tidak dibayarkan kepadanya pada waktu itu tetapi ditunda karena Allah baru membereskan itu pada waktu Yesus mati di kayu salib.

Itulah inti berita dari Roma 4 untuk kemudian Paulus membawa kita kepada pengertian, kalau begitu dengan iman kita bisa mendapatkan pembenaran Allah. Iman yang bagaimana? Iman kepada siapa?

Kita sampai kepada dua hal yang penting Paulus katakan dalam bagian ini, Roma 4:17 “Di hadapan Allah yang kepadaNya Abraham percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firmanNya apa yang tidak ada menjadi ada.” Yang pertama, the Object of faith yang menjadi hal yang penting; bukan kuatnya iman kita, tetapi Siapa yang kepadaNya kita percaya dan bersandar, itulah yang terpenting. Siapa yang diimani oleh Abraham itulah yang menentukan benar tidaknya iman Abraham. Puji Tuhan! Paulus berkata di sini Abraham dibenarkan sebab dia percaya kepada Allah, dan Allah yang dia percaya adalah Allah Pencipta, yang mencipta dari yang tidak ada menjadi ada; Allah yang dia percaya adalah Allah Kebangkitan, yang bisa membuat yang mati menjadi hidup. Itulah juga Allah yang kita sembah.

Yang kedua, kenapa penting sekali mengerti objek iman kita kepada siapa, yaitu kepada Allah yang bisa membuat dari yang tidak ada menjadi ada, diberikan dengan ekstrim ke dalam hidup Abraham. Karena jelas berdasarkan apa yang ada di dalam hidup Abraham, tidak ada alasan untuk berharap sama sekali. “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa seperti yang telah difirmankan: demikianlah banyaknya nanti keturunanmu. Imannya tidak menjadi lemah walaupun ia mengetahui bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira 100 tahun dan bahwa rahim Sara telah tertutup” (Roma 4:18-19). Abraham sudah sangat tua, dan terlebih lagi rahim Sara sudah tertutup. Dari keadaan ini tidak ada dasar untuk beriman dan berharap. Tetapi Allah kita adalah Allah yang bisa mengerjakan dan melakukan dari yang mustahil menjadi nyata, dari yang impossible menjadi possible. Pada waktu kita berjalan dengan iman dengan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan, tidak ada hal tidak bisa terjadi meskipun kita pikir mustahil terjadi. Bukan karena iman kita besar, tetapi karena kita beriman kepada Allah yang besar, Ia yang menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada, Ia yang membuat yang mati menjadi hidup kembali. Itulah Allah yang kita sembah.

Kiranya keindahan firman Tuhan ini membawa satu perspektif dalam hidup kita masing-masing. Sehatkan iman kita di hadapan Tuhan. Bagaimana menyehatkannya? Buang batu-batu dan kerikil yang menghambat benih firman Tuhan tumbuh di dalam hatimu. Buang onak duri yang menghimpit imanmu dan membuat ketakutan serta kekuatiran akan hal-hal yang mustahil dan mengambil alih janji firman Tuhan dari hatimu. Buang semak duri racun yang bisa membuat hatimu keras dan pahit kepada pekerjaan Tuhan. Buang semua itu. Kalau hati kita mulai resistant kepada pekerjaan Tuhan, pulang ambil cangkul, cangkul baik-baik, lembutkan tanah itu. Karena firman Tuhan tidak akan kembali dengan sia-sia. Tanah hidup kita itu sementara, di dalam tenggang waktu yang Tuhan percayakan kepada kita sekarang sehingga sampai nanti kita tua, jangan sampai kita menyesal telah membuang begitu banyak kesempatan yang ada dengan sia-sia. Biar firman Tuhan saturate di dalam hati kita, memenuhi pikiran kita, menjadi embun dan benih yang subur membawa hati kita kembali lagi mempunyai iman yang disehatkan oleh Tuhan. Karena Allah kita tidak pernah berubah dan janjiNya ya dan amin bagi setiap orang yang percaya. JanjiNya tidak pernah Ia lalaikan. Ia akan menggenapi apa yang Ia telah janjikan kepadamu. Kiranya kita boleh dikuatkan dan diteguhkan kembali pada hari ini karena kita percaya firman Allah begitu kuat dan luar biasa menghancurkan setiap tembok-tembok yang resistant menolak firman Tuhan. Bahkan orang-orang yang tidak suka kepada Tuhan sekalipun, pada waktu firman Tuhan menyentuh dan menjamah mereka, Tuhan bisa mendatangkan keselamatan dan perubahan yang luar biasa bagi mereka, terlebih lagi kita yang memang datang dengan hati yang terbuka disentuh oleh firman Tuhan. Dan pada waktu kita beriman kepada Tuhan, kita akan menyaksikan Allah sungguh-sungguh berkarya di dalam hidup kita.(kz)