Arti Kesabaran Allah atas Dosa

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (10)
Tema: Arti Kesabaran Allah atas Dosa
Nats: Roma 3:21-31

“Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darahNya. Hal ini dibuatNya untuk menunjukkan keadilanNya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaranNya” (Roma 3:25).

Kita sampai kepada bagian dari surat Roma 3:21-31. Pada waktu kita membaca bagian ini saya rindu kita semua mengalami Allah Roh Kudus menggerakkan hati emosi kita dengan sukacita. Melihat ayat demi ayat, satu demi satu, setiap kata yang dituliskan oleh firman Allah ini betapa luar biasa, sehingga kita menghargai dengan indah betapa besar kasih karunia Tuhan itu kepada kita.

Waktu kecil kita semua punya pengalaman mendapat suntikan imunisasi wajib di sekolah. Saya masih ingat, kita harus berbaris menuju kantor sekolah, antre menunggu giliran disuntik oleh mantri. Biasanya guru akan mengatur anak-anak yang kelihatan paling berani, yang badannya paling besar, untuk disuntik lebih dahulu. Tujuannya supaya anak-anak yang lebih kecil dan lebih penakut mungkin akan lebih confident melihat ternyata anak-anak yang besar bisa meng-handle dan suntikan itu tidak terlalu menyakitkan. Tetapi seringkali kita kecele, bukan? Anak yang kita pikir paling berani, yang juga dengan sombong membanggakan keberaniannya maju ke depan lebih dulu, sewaktu jarum suntik menancap di lengannya, justru dia berteriak dan menangis begitu keras, membuat anak-anak lain menjadi sangat ketakutan. Begitu dia masuk ke ruang mantri untuk disuntik, ternyata dan terbukti keberanian dan kesombongannya hanyalah di lapisan kulit saja.

Pride adalah satu sikap yang tidak masuk akal dan sangat tidak logis sebenarnya. Oleh karena pride, seseorang menahan diri untuk tidak mau mencari pertolongan padahal sudah dalam keadaan genting. Oleh karena pride, seseorang menahan diri tidak mau menerima bantuan padahal sudah dalam keadaan tidak ada harapan. Kenapa pria tahu sudah sakit tidak mau ke dokter dan tidak mau berobat? Salah satu alasannya mungkin karena tidak mau menyusahkan keluarga. Dia menahan sakit itu seorang diri karena berpikir kalau berobat akan keluar biaya besar, bagaimana kehidupan isteri dan anak kalau tabungan semua dipakai untuk berobat? Maka dia tidak memberitahu sampai kemudian kita kaget karena sakitnya sudah sampai stadium lanjut. Kadang-kadang dia simpan itu karena sayang keluarga. Tetapi alasan lain pria kadang-kadang tidak mau mengaku dia sakit, tidak mau periksa ke dokter, karena itu adalah sikap pride-nya sebagai seorang pria. Apalagi kalau selama ini badannya selalu sehat, pekerja keras, lalu tiba-tiba didiagnosa sakit berat, dialah orang yang paling menolak menerima realita itu. Secara fisik kita sudah tahu kita sakit, tetapi kadang kita tidak rela untuk mengakui bahwa kita sakit. Betapa sedihnya jika secara spiritual kita sakit di hadapan Tuhan, tetapi oleh karena kesombongan dan pride, kita tidak mau mengaku di hadapanNya.

Dalam Roma 3:27 Paulus bertanya, “Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman!” Apa dasarnya manusia masih mau coba-coba bermegah di hadapan Tuhan? Luar biasa firman Tuhan menegur kesalahan dan dosa kita. Ia bukan bertujuan untuk mempermalukan dan mempersalahkan kita tetapi ia menyentuh problem yang paling dasar dari hidup manusia yang berdosa dan problem itu adalah pride kesombongan. Maka Paulus membongkar aspek ini. Ketika dia sudah bicara semuanya mengenai karya keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus yang kita terima dengan cuma-cuma, ada satu ganjalan yang harus dibereskan sebelum seseorang bisa datang kepada Tuhan dengan rendah hati menerima keselamatan dari Tuhan itu. Apa dasarnya engkau bermegah? Apa dasarnya engkau menyombongkan diri? On what ground is your boastful? Dengan jasa kebaikan, amal, ibadah dan kesalehan? Dengan darma, perbuatan baik yang bisa dilihat orang? Itukah dasarmu untuk bermegah pada waktu engkau berdiri di hadapan Allah yang maha adil dan maha suci itu? Semua itu adalah hal yang tidak mungkin bisa mencapai standar Allah. Kesombongan adalah problem terbesar dari manusia yang berdosa. Maka inilah point yang pertama, betapa kita perlu merendahkan diri di hadapan Allah, mengaku tidak ada satu hal yang bisa kita sombongkan di hadapanNya. Kita miskin, papa, tidak ada kebaikan dan jasa yang bisa kita bawa di hadapanNya. Baru di situ kita bisa membuka tangan kita lebar-lebar menerima anugerah pengampunan Allah.

Kenapa kita tidak boleh boasting? Sebab pada waktu kita berdiri di hadapan salib Tuhan Yesus, melihat Dia terpaku di sana, itu menjadi “mirror” yang pada waktu kita melihatnya kita mengaku seharusnya akulah yang dipaku di situ oleh karena dosa-dosaku. Dan itu yang seharusnya membuat kita rendah hati dan merendahkan diri di hadapan Tuhan dan berkata, “Lord, I need Your grace.”

Kenapa kita tidak boleh sombong? Karena Allah sendirilah yang menggenapi bagi kita semua keselamatan itu tanpa secuil pun pertolongan kita, tanpa sedikit apa pun pamrih dari segala yang kita kerjakan untuk mendapatkan keselamatan itu.

Puji Tuhan! Setiap kali saya membaca bagian ini hati saya di-stirrup, hati saya diaduk, emosi kita bergolak setiap kali kita membaca firman Tuhan atau menyanyikan karya yang telah Yesus lakukan bagi keselamatan kita. Karya terbesar pengorbanan Kristus menyelamatkan kita. Kalimat-kalimat itu stirrup our emotion. Pada waktu kita baca, kebenaran Allah telah dinyatakan kepada kita, keselamatan itu kita peroleh dengan iman di dalam Yesus Kristus, sebab Kristus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian bagi kita di dalam darahNya, tidak ada satu orang pun yang tidak akan digetarkan oleh firman Allah yang begitu dalam ini. Membuat kita kagum, membuat kita bersyukur, membuat air mata kita mengalir, mata kita berlinang karena menghargai kasih dan anugerah Tuhan, sekaligus kita menyadari keberadaan diri di hadapan Tuhan. Siapa saya? Who am I? Sebab Dia sendiri tahu apa kita. Dia ingat bahwa kita ini debu. Hari-hari kita seperti rumput, seperti bunga di padang ketika angin bertiup, kita langsung habis lenyap (Mazmur 103:14-16). Biar kita selalu ingat kita ini hanya debu adanya. Kebenaran itu kita dapat bukan karena jasa perbuatan kita, kebenaran itu hanya kita dapat di dalam iman kepada Yesus Kristus. Kenapa? Karena kita semua telah “fall short” gagal dan tidak mencapai standar kebenaran Allah, standar kemuliaan Allah. Kita hanya menerimanya oleh anugerah. Kita menerimanya oleh kasih karunia Tuhan tanpa perlu membayar apa-apa. Kita terima itu dengan cuma-cuma karena kita menerimanya dengan iman di dalam Yesus Kristus.

Saya bisa saja menjanjikan dengan cuma-cuma, saya bisa saja memberikan dengan cuma-cuma, saya bisa saja menulis cek bermilyar-milyar kepadamu. Sdr bisa saja percaya kepada saya, sdr bisa saja menerima apa yang saya janjikan. tetapi kepercayaanmu kepadaku itu groundless, baseless. Kenapa? Karena saya yang berjanji ini cuma bisa memberikan janji kosong karena saya sendiri tidak mempunyai uang itu. Jadi yang paling penting adalah SIAPA yang memberi janji itu kepadamu. Saya bisa saja berjanji memberimu 10 milyar, saya bisa saja menulis cek sejumlah 10 milyar untukmu. Sdr percaya, sdr bawa pulang cek itu, tidak ada gunanya sebab yang memberi cek itu kepadamu sendiri tidak memiliki uang itu.

Maka pada waktu Alkitab mengatakan engkau menerimanya oleh anugerah, you’ve received by grace secara cuma-cuma di dalam Yesus Kristus, ayat 25-26 memberi kita ground-nya. “Kristus yesus telah dijadikan Allah sebagai jalan pendamaian bagi kita di dalam darahNya. Hal itu dibuatnya untuk menunjukkan keadilanNya karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaranNya.” Karena Yesus yang menjadi jaminan, karena Yesus yang memberi, maka kita tahu pemberianNya bukan sesuatu yang kosong dan bohong adanya.

Kata “jalan pendamaian” dalam terjemahan bahasa Inggris adalah “propitiation” yang merupakan satu kata yang mengacu kepada “mercy seat” dari kata Yunani hilasterion, yaitu tutup dari tabut perjanjian Allah yang di atasnya ada pahatan dua kerubim (lihat Ibrani 9:5). Dalam Perjanjian Lama, setahun sekali pada hari Pendamaian, imam besar masuk ke dalam ruang maha suci di dalam Bait Allah dimana tabut itu berada, kemudian imam besar itu mencipratkan darah anak domba sebanyak 7 kali untuk menjadi tanda itulah hari penebusan dimana semua dosa-dosa umat Allah diampuni oleh darah domba itu. Itulah hari dimana Allah tidak lagi mengingat-ingat dosa-dosa kita (lihat Imamat 16). Inilah aturan yang diberikan Allah di dalam Perjanjian Lama ¬†sebagai simbol satu kali kelak Ia akan menyatakan realitanya di dalam Yesus Kristus. Bukan “mercy seat” tabut itu yang menyelamatkan umat Allah dari hukuman atas dosa-dosa mereka melainkan Yesus Kristus yang menjadi mercy seat itu bagi kita. Bukan darah domba yang dipercikkan yang mengampuni dosa-dosa kita, tetapi darah Kristus yang dicurahkan itulah yang menjadi tebusan bagi dosa-dosa kita. Puji Tuhan! Itulah arti dari kalimat ini, “Yesus Kristus telah dijadikan Allah sebagai jalan pendamaian dalam darahNya.” Inisiatif keselamatan itu bukan dari kita yang menuntut tetapi Allah sendiri yang melakukan; inisiatif keselamatan itu datang dari Tuhan. Ia yang mempersiapkannya, Ia yang memberikannya, Ia yang melakukannya dengan tuntas sehingga keselamatan kita bukan berdasarkan apa yang kita kerjakan dan lakukan tetapi keselamatan itu diberikan Allah bagi kita melalui pengorbanan darah Yesus. Apa yang bisa kita lakukan? Kita hanya bisa datang berdiri di hadapanNya, menerima penebusan kasih karunia Allah yang begitu besar itu dengan iman.

Dalam Ibrani 10:1-18, penulis Ibrani dengan sangat detail memperlihatkan konsep ini. “Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri” (ayat 1). Orang Yahudi dalam Perjanjian Lama setiap tahun melakukan upacara ini terus-menerus, hingga sampai kepada peristiwa Yesus mati di kayu salib sebagai Domba Allah yang menebus dosa kita.

Salib adalah moment dimana Allah menyatakan keadilanNya sebab Ia telah mebiarkan dosa-dosa yang terjadi di masa lalu itu di dalam masa kesabaranNya. Allah sabar tidak langsung menyatakan hukumanNya kepada dosa tidak berarti Allah lalai dan tidak ingat. Orang yang melakukan dosa lalu merasa tidak ketahuan oleh orang, tidak berarti Allah melupakannya. Allah tidak segera menjatuhkan hukuman itu kepada mereka tetapi tidak berarti Allah pasif menutup mata membiarkannya.

Apa arti dari kesabaran Allah? Ada dua hal yang bisa kita lihat di sini. Hal yang pertama adalah di situlah kita bisa melihat grace Allah yang luar biasa. Kalau kita sudah bikin salah langsung dihajar oleh Tuhan, satu pun di antara kita tidak ada yang bisa tahan berdiri di hadapanNya. ¬†Saya pakai ilustrasi ini, as a matter of second, begitu sdr memegang kabel listrik yang bertegangan sangat tinggi, langsung engkau mati. Apalagi berhadapan dengan Allah yang adalah Terang yang tak terhampiri, ketika kita melakukan kesalahan kepada Dia, as a matter of second, seharusnya matilah kita, tetapi karena Ia adalah Allah yang panjang sabar, Ia tidak seketika melakukan hal itu kepada kita. Ketika kita menyadari panjang sabar Allah, hanya ada cetusan syukur seperti kata pemazmur, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi Allah. Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN!” (Mazmur 32:1-2).

Penulis Ibrani mengatakan, setiap tahun darah kambing domba dicurahkan tidak bisa menghapus dosa kita, tetapi “justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapurkan dosa ” (Ibrani 10:3-4). Tetapi Allah memakai itu sebagai satu simbol yang kemudian Dia jadikan sebagai realita pengampunan bagi kita sambil menanti sungguh-sungguh yang sanggup memuaskan murka Allah dan keadilanNya. Yang menyucikan dosa kita bukanlah darah kambing dan domba itu tetapi darah AnakNya di atas kayu salib. Di dalam masa kesabaranNya Allah tunggu moment itu. Itulah arti dari kalimat ini, Ia tidak menghukum langsung sampai kita melihatnya di atas kayu salib.

Yesus Kristus mati di kayu salib untuk memuaskan murka dan keadilan Allah, kita jangan berpikir Allah itu terlalu emosional. Kita harus membayangkan setiap saat, setiap waktu kita terus melawan Allah, tetapi Allah tidak bersegera bereaksi terhadap kita, tetapi ketika kita menyaksikan tamparan, siksaan dan penghinaan yang Yesus alami di atas kayu salib, di situ kita baru mengerti, itulah semua kita manusia lakukan kepada Dia sepanjang jaman. Dan di situlah moment Yesus menanggung dosa-dosa kita. Mengapa Allah bersabar sampai kepada moment salib Kristus dimana Anak Allah sendiri yang mati bagi kita? Itu bukan karena Allah kita lalai tetapi untuk supaya kita sadar panjang sabarnya Tuhan itu supaya orang bertobat dan berbalik kepadaNya.

Yang kedua, Allah tidak pasif di dalam masa kesabaran itu, tetapi Allah terus memanggil dan mengingatkan umatNya untuk kembali kepadaNya. Bukankah dalam Yehezkiel 33:11 kita diingatkan, firman Tuhan berkata, “Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah! Bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu!” demikian Allah berkata. Itu adalah inisiatif Allah datang.

Tuhan Yesus pernah memberikan kisah mengenai seorang pemilik kebun anggur yang menyewakan kebunnya kepada penggarap-penggarap tanah yang kurang ajar. Mereka tidak mau menyerahkan sebagian dari hasil kebun itu kepadanya. Berkali-kali sang pemilik ladang anggur itu mengirim pekerjanya untuk mengingatkan penyewa tanah, tetapi dengan semena-mena, penyewa tanah memukuli pekerja-pekerja itu dan mengusir mereka kembali dengan tangan hampa. Sehingga akhirnya pemilik kebun mengirim anaknya, barangkali kali ini mereka akan mendengarkan dia. Tetapi justru ketika mereka tahu ini adalah anak dari pemilik ladang sendiri, mereka membunuh dia . Begitu Yesus selesai menyatakan kisah ini, marahlah ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala yang mendengarnya karena mereka tahu merekalah “penggarap-penggarap tanah” yang dimaksud oleh Yesus (Lukas 20:9-19). Allah berkali-kali mengutus nabi-nabiNya, tetapi umatNya bukan menerima teguran dan peringatan Allah, malah mereka memukul, menyiksa dan membunuh nabi-nabi itu. Dan akhirnya ketika Allah mengutus AnakNya sendiri datang ke dunia, mereka pun membunuh Dia. Dalam Matius 23:34-36 Yesus berkata, “Sebab lihatlah Aku mengutus kepada kamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat, separuh di antara mereka akan kau bunuh dan kamu salibkan. Yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadahmu, dan kamu aniaya dari kota ke kota. Supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang-orang yang tak bersalah mulai dari Habel orang benar itu, sampai Zakharia anak Berekhya yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya semua akan ditanggung oleh angkatan ini.”

Mari kita memahami kesabaran Allah itu di dalam perspektif ini. Kesabaran Allah bukan berarti Ia lalai dan alpa. Ia sabar karena Ia ingin manusia bertobat dan berbalik dari dosa-dosanya. Tetapi di pihak lain panjang sabar Allah berarti penumpukan murka Allah itu menjadi sesuatu yang tidak terelakkan. Bukan Allah kita jahat, bukan Allah tidak memberi warning, bukan Allah tidak mencintai mengasihi manusia. Dikatakan di sini, Aku mengutus nabi bagimu, engkau bunuh. Aku mengutus orang bijaksana untuk memberikan kebenaran dan mengajar engkau untuk berbalik, tetapi engkau tidak mau mendengarkan dia. Dari Habel sampai Zakaria, Yesus bicara mengenai semua nabi yang ada di dalam Perjanjian Lama, kebanyakan di antara mereka, kalau kita baca dalam Alkitab, begitu indah dan baik pelayanannya, tetapi dalam realita hidupnya ada yang disiksa, dimasukkan ke dalam sumur, dibunuh dengan kejam, dsb.

Pada waktu kita membaca bagian ini hati kita tergugah. Tidak mungkin kita bisa bermegah dan menyombongkan diri di hadapan Tuhan. Yang Tuhan minta adalah engkau datang kepadaNya hari ini dengan tangan terbuka dan berkata, “Tuhan, aku mau percaya dan beriman kepadaMu.” Saya tahu dan saya mengerti sekarang bahwa kebenaran Allah diberikan dengan cuma-cuma di dalam Yesus Kristus yang telah mati dan menjadi tebusan bagi dosa-dosaku.

Rev. Tim Keller pernah mengatakan, “It’s very common in Christian circles to assume taht the Gospel is something mainly for non-Christians. We often assume that once we were converted, we don’t need to hear or study or understand the Gospel.” TetapiInjil ini bukan hanya perlu didengar dan disambut oleh orang-orang yang belum percaya, yang belum pernah mendengar dan menerima tawaran ini. Injil harus senantiasa menjadi grace yang merubah hati kita yang sudah lama ikut Tuhan untuk senantiasa mengingatkan kita tidak ada satu apapun yang bisa kita taruh di atas fondasi hidup kita melainkan semua itu terjadi oleh karena kemurahan, kebaikan dan kasih karunia Allah semata-mata. Injil itu harus selalu menggugah hati kita sehingga sentralitas kita memahami apa itu pengampunan, apa itu kasih, apa itu anugerah, apa itu tidak menyimpan dendam, apa itu hati yang penuh dengan syukur, itulah Injil. Apa artinya kita datang menyembah Tuhan dengan sikap terus-menerus seperti seorang anak kecil yang memerlukan air susu yang sehat dari Tuhan; menghargai dan mensyukuri kebaikan dan anugerah Tuhan selalu. Berterima kasih karena kita bisa mendengar, bisa menikmati dan mengalami betapa besar kasih Allah melalui Yesus Kristus bagi kita, yang boleh menjadi dasar bagi hidup kita beriman kepadaNya dan mengingatkan kita bahwa kebenaran Allah telah dinyatakan di dalam Yesus Kristus bagi setiap kita yang terima dengan percaya. Tidak ada perbedaan siapa pun dia. Di situlah kita mengucap syukur kepada Allah atas berkatNya kepada setiap kita. Biar Injil kasih karunia itu kita terima dengan tangan terbuka dengan sepenuh hati karena kita telah menerimanya dengan cuma-cuma dari Tuhan, kita pun mau menyampaikan dan memberikannya kepada orang-orang lain.(kz)