Kasih dan Kemurahan Allah di dalam Kristus

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (9)
Tema: Kasih dan Kemurahan Allah di dalam Kristus
Nats: Roma 3:21-25

Puji Tuhan! Kita sampai kepada satu bagian yang luar biasa indah, Roma 3:21-25 ini. Paulus memulai perikop ini dengan kalimat “Tetapi sekarang, kebenaran Allah telah dinyatakan…” Kata ‘tetapi’ menyatakan satu gambaran ketika kita berada di dalam jurang yang terjal, tidak ada jalan untuk keluar dari situ, ini pengharapan yang kita dapatkan di dalam Tuhan. Inilah tawaran uluran tangan Tuhan yang begitu indah, namun betapa sulit dan keras hati manusia untuk mau menerimanya. Kehidupan sehari-hari memperlihatkan kepada kita, betapa stubborn keras kepalanya kita. Tidak perlu orang itu berpendidikan tinggi, atau orang itu sudah berusia lanjut, dari kehidupan anak kecil saja kita bisa melihat sifat keras kepala itu, bukan? Waktu kita berada di satu tempat asing dan tersesat tidak bisa menemukan tujuan kita, kenapa kita begitu enggan untuk menghampiri orang dan bertanya kepada dia? Bahkan di saat kita sangat memerlukan pertolongan, begitu banyak orang yang enggan menerima pertolongan yang ditawarkan kepadanya. Itu karena pride, stubborness. Firman Tuhan memperlihatkan betapa manusia sudah begitu jauh dari Tuhan namun tetap saja manusia tidak mau mencari Tuhan. Manusia sudah tersesat namun tetap saja tidak mau mencari jalan keluar. Manusia sudah dalam keadaan sakit namun tetap saja tidak mau menerima satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan dia. Manusia sudah bersalah namun tetap saja tidak mau bertobat.

” Tidak ada orang yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah” (Roma 3:10-11). Itu adalah deklarasi dari Allah kita yang ada di surga melihat kehidupan manusia yang ada di atas muka bumi ini. Namun di dalam kekerasan hati manusia yang tidak mau mencari Allah, yang tidak mau mengaku kita membutuhkan Dia, manusia tidak bisa menyangkal dan tidak bisa menipu Tuhan. Adanya guilty feeling, rasa bersalah dalam hati manusia menjadi bukti yang tidak bisa kita tolak dan abaikan. Seorang teolog bernama Paul Tillich dalam bukunya “The Courage to Be” mengatakan ada tiga ketakutan atau anxiety yang ada di dalam hati setiap orang. Pertama, rasa takut akan nasib dan kematian [fate and death]. Kedua, rasa takut akan kekosongan jiwa dan makna hidup [emptiness and meaningless]. Ketiga, rasa bersalah dan takut akan hukuman [guilt and condemnation].

Yang pertama, rasa takut akan nasib dan kematian adalah satu sifat dasar manusia yang universal, tidak perlu diberitahu tetapi keluar dari hati manusia yang terdalam, tanpa dibatasi oleh kultur, adat istiadat, pendidikan, strata sosial maupun personalitas seseorang. Itu menjadi bukti ada sesuatu yang keliru dan salah di dalam hidup manusia. Kemana saja kita pergi, ke dalam budaya dan kultur apa pun, misteri akan kematian itu memiliki gambaran yang menakutkan. Manusia mencoba berusaha mencari jalan bagaimana bisa mendapatkan jawaban atau paling tidak mendapat ketenangan sesudah kematian ini bagaimana kehidupan selanjutnya. Maka kita bisa melihat di dalam upacara kematian dan penguburan yang dilakukan di dalam budaya apapun kita akan menemukan aspek itu.

Misalnya di dalam kebudayaan Cina, ketika seseorang meninggal dunia, kita bisa melihat keluarga mempersiapkan segala sesuatu yang kira-kira menjadi kebutuhannya di dunia sana yang mirip dengan kehidupan di sini. Maka diadakan pembakaran uang kertas, rumah kertas, bahkan lengkap dengan mobil, televisi, dan berbagai barang lainnya. Demikian juga kita bisa melihat di dalam kebudayaan Mesir kuno, ada proses mumifikasi kepada orang yang meninggal dunia bersama dengan berbagai barang lain di dalam piramidanya. Juga di dalam mitos Yunani kuno, dalam upacara penguburan keluarga akan menaruh satu keping uang di dalam mulut atau dua keping uang di kelopak mata jenazah sebagai uang suap bagi penjaga sungai di akhirat sehingga perjalanannya aman dan lancar sampai di sana. Walaupun ada orang yang berkata, tidak ada hidup sesudah kematian, semua selesai di sini, tetapi the sense of guilt dan ketakutan akan kematian itu adalah sesuatu yang ada di dalam hati manusia.

Yang kedua, adanya rasa takut terhadap kekosongan jiwa dan makna hidup. Hanya manusia satu-satunya mahluk yang memiliki sense akan adanya kekekalan dan satu kesadaran bahwa hidup ini tidak boleh lewat dan berlalu begitu saja dan ada keinginan bahwa selama hidup di dunia ini kita melakukan sesuatu yang akan diingat orang walaupun kita sudah meninggalkan dunia ini. Maka kita akan sangat terganggu kalau kita tidak dianggap eksis. Yang paling kita tidak senang dan tidak suka adalah pada waktu kita ada di satu perkumpulan dan orang tidak menganggap kita ada di situ. Kenapa ada orang-orang yang ingin membuat patung diri, karena dia tidak ingin kalau dia meninggal, orang tidak ingat dia pernah ada. Ada pepatah mengatakan, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama baik. Manusia sadar ada sesuatu yang dia mau tinggalkan di dunia ini. Ada satu sense kesadaran diri kita tidak mau tidak dianggap. Itulah benih dan percikan kekekalan di dalam hati manusia yang tidak ada di dalam diri mahluk binatang yang lain.

Yang ketiga, ada rasa bersalah dan takut akan hukuman. Kita bisa menyaksikan banyak kebudayaan mempunyai pemikiran kalau ada bencana datang melanda daerahnya, itu pasti terjadi karena dewa sedang murka dan menjatuhkan hukuman sehingga penduduk setempat akan mengadakan upacara dan memberi sesajen kepada dewa tsb. Kenapa ada pemikiran seperti itu? Demikian bahkan bagi orang yang sudah Kristen sekalipun, seringkali rasa bersalah dan melihat sesuatu hal yang tidak baik terjadi kepada seseorang, langsung mengkaitkannya sebagai hukuman atau karma atas dosa dan kesalahannya di masa lampau seperti yang ditanyakan oleh murid-murid Yesus melihat seorang yang buta sejak lahirnya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yohanes 9:2). Atau juga ada kegagalan atau hambatan di dalam perencanaan membuat kita langsung berpikir, jangan-jangan ini adalah hukuman atas satu kesalahan yang kita perbuat sebelumnya. Demikian kita bisa menemukan konsep reinkarnasi juga mempunyai aspek seperti ini, misalnya kalau kehidupan orang itu lahir di dalam kemiskinan dan kemelaratan, mengalami berbagai penyakit dan penderitaan, lalu hal-hal itu ditafsirkan sebagai akibat dari kehidupan sebelumnya dia adalah orang yang jahat sehingga akhirnya di dalam kehidupan sekarang dia harus mengalami hal-hal seperti ini.

Paulus mengatakan baik itu orang yang beragama seperti orang Yahudi, maupun orang kafir yang tidak beragama, semua telah takluk di bawah hukum dosa dan satu pun tidak ada yang bisa dibenarkan karena mereka melakukan kebenaran di dalam hidup mereka. Bukan Tuhan menghina usaha dan perbuatan baik kita dan membuat manusia putus asa, tetapi untuk membawa kita kepada satu pengharapan dan pengharapan itu kita dapat di dalam Yesus Kristus. Tidak ada gunanya kita pergi ke dokter dan dokter hanya berkata engkau sakit ini, engkau sakit itu, tidak ada yang bisa engkau kerjakan dan lakukan untuk membuatmu sembuh. Pada waktu kita berada di dalam keadaan seperti itu, lalu dokter itu bilang I have a good news for you, ini ada obat satu-satunya yang bisa menyembuhkan engkau. Itulah yang Paulus sampaikan di bagian ini. “Tetapi sekarang, kebenaran Allah telah dinyatakan kepada kita,” kebenaran itu engkau dapat hanya di dalam Yesus Kristus. Bukan di dalam perbuatan baik kita, tetapi kita dapat melalui hanya beriman dan percaya kepada Yesus. Kebenaran itu dinyatakan Allah kepada kita dengan kedatangan Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita. Ini adalah berita sukacita yang begitu indah luar biasa. Allah telah memberikan jalan keluar itu bagi kita.

Allah menyatakan kita adalah orang berdosa bukan karena Allah kejam dan cruel dan membiarkan kita hidup di tengah keberdosaan kita. Seringkali orang keliru sangka terhadap Allah, apakah Allah adalah Allah yang penuh dengan belas kasihan dan mau mengulurkan tanganNya menolong kita? Jawabannya, ya! Absolutely yes! Allah penuh kasih dan kemurahan bagi kita. Satu bagian firman Tuhan yang sangat indah Yehezkiel 33:11 berkata, “Katakanlah kepada mereka: demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN Allah, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” Apalagi yang kurang dari hati Tuhan? Problemnya bukanlah di dalam kasih Tuhan yang kurang besar, bukan di dalam kesabaran Tuhan yang kurang panjang, juga bukan di dalam jalan keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita. Apa yang masih kurang? KasihNya begitu besar, pengorbananNya luar biasa, AnakNya sendiri yang tunggal satu-satunya itu diutusNya datang ke dunia untuk menjadi korban bagi dosa-dosa kita. Jika engkau bisa masuk meneliti dan membuka hati Allah sedalam-dalamnya, betapa luar biasa pernyataan Allah ini: Aku tidak berkenan orang fasik binasa. Itulah hati Tuhan kita. Tetapi di tengah Ia membukakan hatiNya ini, Ia juga memperlihatkan betapa kerasnya hati manusia yang berdosa itu dengan kalimat, “Mengapa engkau tidak mau diselamatkan?”

Roma 3:21-25 menjadi ayat-ayat kunci yang penting mengenai karya keselamatan dari Tuhan yang akan terus dielaborasi dan dijelaskan oleh Paulus selanjutnya. Itulah artinya keselamatan yang tidak dapat kita beli dan tidak dapat kita tambahkan dengan usaha dan perbuatan kita. It is only by grace, hanya melalui pemberian Allah di dalam Yesus Kristus. Paulus berkata “…yaitu kebenaran Allah karena iman di dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darahNya. Hal ini dibuatNya untuk menunjukkan keadilanNya karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaranNya.”
Beberapa point yang kita dapatkan di sini.

Pertama, kebenaran itu adalah kebenaran Allah, God’s righteousness. Berarti kontrasnya, itu bukan kebenaran saya. Sebab kalau mau berdasarkan perbuatan baik kita, tidak ada satu pun manusia yang mencapai standar kebenaran, kemuliaan dan kesucian Allah. Itu Paulus nyatakan di ayat 23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Semua manusia telah gagal dengan perbuatannya untuk mencapai kebenaran daripada Allah. Sehingga nabi Yesaya mengatakan perbuatan baik dan kesalehan kita itu sebenarnya bagaikan kain yang kotor di hadapan Allah (Yesaya 64:6). Kita tidak bisa mencapai standar Allah. Kita hanya bisa mengatakan kita adalah orang baik berdasarkan standarnya kita, baik yang dilihat oleh orang lain, tetapi pada waktu diperhadapkan dengan standar Allah, kita tahu kita tidak akan mungkin mencapai standar itu. Lalu bagaimana kita mengetahui standar Allah itu? Sangat simple dan sederhana, di dalam khotbah di bukit, Yesus mengatakan, “Jangan melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga” (Matius 6:1), yaitu dalam hal memberi sedekah, dalam hal berdoa dan berpuasa. Yesus juga mengingatkan, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan Surga” (Matius 5:20). Dan Yesus memberikan “test case” dengan berkata, ” Kamu telah mendengar firman: jangan membunuh. Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum. Kamu telah mendengar firman: jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Matius 5:21-22, 27-28, 48). Dengan standar seperti itu, kita semua tidak bisa mencapainya.

Maka God’s righteousness yang menjadi dasar kemurahanNya bagi kita. Allah tidak berkewajiban memberi dan kita tidak punya hak untuk menuntut. Namun ketika kasih dan kemurahan itu Ia tawarkan kepada kita, yang Ia minta menjadi respons kita hanya simple dan sederhana, yaitu kita menerima dan percaya. Engkau hanya bisa berseru kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, tolong saya.” Tetapi permintaan seperti itu pun seringkali sulit keluar dari mulut manusia yang keras, karena itulah sifat dosa. Kita tidak mau mengulurkan tangan menyambut keselamatan dari Tuhan, padahal kita sudah kehabisan nafas dan tenggelam di dalam kubangan lumpur yang membuat kita tidak mungkin bisa keluar dari sana.

Kedua, keselamatan itu perlu bayar atau tidak? Puji Tuhan, tidak perlu bayar! “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Roma 3:24). Bukan saja tidak bisa diganti, tidak bisa ditambah, atau dibayar dengan perbuatan baik, keselamatan itu diberikan kepadamu dengan gratis, cuma-cuma, tidak perlu membayar. Tetapi orang Kristen seringkali keliru dan salah, ketika anugerah Tuhan datang dengan cuma-cuma, selalu dipikir karena diberi gratis pasti itu murahan. Setiap kali kita memberi sabun rinso di Indonesia, kita akan mendapat piring gratis. Maka pada waktu pembantu memecahkan piring, nyonya tidak marah karena piring itu tidak ada harganya. Diberi gratis sebab murah, tidak ada harganya. Berkaitan dengan anugerah Allah, itu adalah konsep yang sangat keliru dan salah! Anugerah yang Allah beri dengan gratis dan cuma-cuma tidak berarti anugerah itu murahan dan tidak ada nilainya. Dalam hidup ini ada orang yang memberi karena dia tahu orang itu tidak akan pernah bisa membayarnya. Itulah nilai anugerah Allah yang diberikan kepada kita. This grace is free but it’s not cheap. Kita diberi dengan gratis karena kita tidak bisa bayar. Seringkali orang tidak grateful akan hal itu dan menganggap itu memang hak kita mendapatnya.

Tetapi inilah sifat manusia yang berdosa. Karena berbagai kesulitan membuat kita menjadi cacat dan tidak dapat bekerja, akhirnya kita mendapat pertolongan disability assistance dari pemerintah dengan tujuan untuk meringankan beban kebutuhan hidup sehari-hari. We should be grateful for that. Kadang-kadang orang tidak kerja, lalu pemerintah memberi bantuan “on the dole” untuk meringankan beban kita pada saat-saat seperti itu. Tetapi oleh sebagian orang itu dianggap sebagai hak dan membuat dia menjadi ungrateful dan menuntut lebih lagi.
Yesus pernah mengatakan, “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun daripadanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu” (Matius 10:29). Unik sekali bagian yang sama ditulis oleh Lukas seperti ini, “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian, tidak ada satu ekorpun yang dilupakan Allah (Lukas 12:6). Artinya, seekor burung yang gratis pun tetap diperhatikan dan dipelihara Allah. Apalagi hidup kita, pasti akan Allah perhatikan dan pelihara lebih daripada burung pipit itu (Lukas 12:7).
Anugerah keselamatan itu Allah berikan dengan gratis cuma-cuma karena kita tidak bisa membayarnya dengan apa pun juga karena terlalu mahal harganya. Tetapi karena Allah penuh dengan belas kasihan dan anugerah, Dia memberikan keselamatan itu kepada kita dengan cuma-cuma.

Mari kita menghampiri Allah yang penuh kasih dan kemurahan itu dengan hati yang melimpah dengan syukur. Allah menawarkan dan memberikan kasih karunia itu dengan gracious kepada kita dan dengan rendah hati dan dengan iman kita menerima grace itu. Kiranya firman Tuhan ini menjadi berkat dan mengingatkan kita sekali lagi untuk menghargai betapa besar anugerah keselamatan yang kita terima di dalam Yesus Kristus. Bersyukur untuk firman Tuhan yang sekali lagi mengingatkan kita, sebab seringkali kita terima kasih karunia dan berkat Tuhan dengan take it for granted. Kita sering tidak menghargai dan menjadikan setiap pemberian Tuhan itu sebagai sesuatu hal yang mahal dan tidak layak kita terima di dalam hidup kita. Kiranya Tuhan melimpahkan kita dengan hati yang grateful, bersyukur dan berterima kasih atas setiap anugerah dan berkat yang kita dapat dari Tuhan.

Secara khusus mari kita berdoa bagi orang-orang yang baru pertama kali mendengar pemberitaan Injil ini, mendengarkan tawaran anugerah keselamatan di dalam Yesus Kristus, kiranya hati mereka terbuka melihat kebenaran yang sudah Tuhan kerjakan baginya. Kita tidak pernah berhak, tidak layak dan tidak sanggup bisa mendapatkan pembenaran dari Allah kecuali kebenaran itu datang melalui Yesus Kristus yang telah mengerjakan segalanya dengan sempurna dan kita menerimanya dengan iman. Biarlah panggilan Tuhan yang memanggil orang berdosa untuk berbalik kepada Tuhan dan bertobat, akan membawa mereka kepada keselamatan. Kiranya Tuhan melihat hati setiap orang yang mendengarkan berita ini untuk berespons kepada firmanNya, menyatakan persandaran dan penaklukan diri di hadapan Tuhan. Tidak ada lagi kesombongan, tidak ada lagi keangkuhan pada waktu kita berdiri di hadapan Tuhan. Sebab segala hal yang baik yang kita kerjakan adalah hal yang jahat di mata Tuhan. Meskipun dari surga Allah melihat tidak ada kerinduan kita ingin mencari Dia, tetapi Ia yang terlebih dahulu datang mencari kita. Itulah sebabnya selayaknya kita datang di hadapan Tuhan, mengucap syukur untuk setiap anugerah dan kasih karunia yang kita dapatkan dari Tuhan yang sesungguhnya tidak pernah layak kita terima. Itu adalah pemberian dari Tuhan yang begitu berharga dan kita ingin sambut semua itu dengan hati yang bersyukur kepada Tuhan. Setiap kita anak-anak Tuhan yang sudah lama ikut Tuhan, yang menerima berkat-berkat Tuhan hari demi hari, itu semua tidak pernah kita anggap sebagai hal yang datang begitu saja di dalam hidup kita. Kita ingin mengucap syukur untuk semua hal itu kepada Tuhan.(kz)