Dosa karena Lidah

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (8)
Tema: Dosa karena Lidah
Nats: Roma 3:1-20

Siapakah orang yang paling membutuhkan anugerah Allah? Siapakah orang yang paling membutuhkan keselamatan? Siapakah orang yang paling membutuhkan pengampunan dari Tuhan? Saya percaya waktu menjawab pertanyaan ini, di dalam benak sdr dan saya langsung muncul gambaran orang yang semacam apa, yakni orang-orang yang telah melakukan berbagai-bagai kejahatan, orang-orang yang telah melakukan tindakan asusila di dalam hidup ini, pemerkosa, pembunuh, para koruptor besar, orang-orang itulah yang paling membutuhkan Injil, orang-orang itulah yang paling membutuhkan keselamatan. Dan bayangkan kalau orang-orang seperti itu masuk ke dalam rumah Tuhan, ke dalam tempat yang paling kudus, bagaimana kira-kira kita bersikap kepada orang-orang itu? Apakah dia bisa dari seorang “outsider” menjadi “insider” atau selama-lamanya dia akan menjadi outsider yang tidak bisa masuk ke dalam komunitas gereja dan kita perlakukan sebagai orang luar, walaupun itu tidak kita nyatakan dengan mulut bibir kita, tetapi terlihat oleh gesture kita yang mengatakan ‘you do not belong here and we cannot embrace people like you.’

Roma 3 memperlihatkan kepada kita dunia ini membutuhkan Injil sebab tidak ada cara apapun yang dilakukan oleh manusia yang dapat membuat orang itu sanggup berdiri di hadapan Tuhan menerima berkat dan anugerahNya. Semua orang sudah berdosa dan berada di bawah kuasa dosa, dibelenggu oleh kuasa dosa, tidak sanggup dan tidak mampu menolong diri. Hal ini bukan saja berlaku kepada orang-orang kafir yang tidak mengenal Tuhan Allah, tetapi juga berlaku kepada orang-orang yang mengaku sebagai orang yang saleh dan beragama, “Baik orang Yahudi maupun orang Yunani, mereka semua ada di bawah kuasa dosa” (Roma 3:9). Kalimat ini menjadi teguran yang sangat keras terutama kepada orang-orang Yahudi yang merasa tidak pernah melakukan hal-hal yang amoral dan di dalam hidup beragama merasa diri sebagai orang benar. Mereka merasa diri jauh lebih baik, lebih bermoral dan berbudaya karena mereka memiliki kitab suci yang begitu tebal, padahal setebal apapun peraturan yang mereka punya, kalau itu tidak pernah dilakukan, tidak ada gunanya. Paulus tidak segan-segan membongkar dan menelanjangi kemunafikan yang tersembunyi di balik selubung jubah agama itu. “Engkau bermegah atas hukum Taurat, tetapi mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu?” (Roma 2:23). Yesus juga menegur orang-orang Farisi dengan kata-kata yang sangat keras, “Hai kamu orang munafik…” (Matius 23).

Yesus pernah bercerita, siapakah orang yang akan dibenarkan Allah dalam Lukas 18:9-14. Yang satu adalah seorang outsider, yang tidak berani berjumpa dan datang dekat-dekat karena merasa dia adalah seorang yang paling berada di luar anugerah Allah. Dia adalah si pemungut cukai. Dia berdiri seorang diri, bukan karena dia tidak mau bergabung tetapi karena orang-orang tidak mungkin membuat dia bergabung. He is an outsider. Dia hanya memukul diri dan berkata, “Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa ini.” Yesus berkata, “Orang ini pulang sebagai orang yang dibenarkan di hadapan Allah.” Dia datang sebagai outsider, dia pulang sebagai insider di hadapan Allah. Satu lagi adalah orang Farisi yang Yesus gambarkan begitu arogan, dia juga berdiri seorang diri karena memang dia tidak mau gabung dengan orang-orang lain, untuk menyatakan dia adalah orang yang benar-benar paling suci, paling bersih dan paling dekat dengan Allah. Dan isi doanya memperlihatkan sikap self-righteous, rasa diri paling benar, sekaligus dengan sikap judgmental kepada orang lain. Dia datang sebagai seorang yang merasa insider padahal di hadapan Allah dia adalah seorang outsider. Itulah bedanya ketika orang yang berada di dalam dosanya lalu menyadari betul-betul akan anugerah Allah, kemudian mengaku dia adalah orang yang lemah dan berdosa dan memohon pengampunan Allah, dia akan mendapatkannya. Tetapi orang yang merasa benar, saleh, dan beragama, ketika ditegur bahwa apa yang dia lakukan itu sebenarnya munafik adanya, bukan dia humble tetapi justru lebih keras hatinya.

Paulus seolah sedikit “keluar dari alur tema” waktu membahas Roma 3:1-8, namun dia merasa perlu menjawab dua fitnahan yang muncul dari pihak orang Yahudi yang menuduh Paulus, yang menyerang pribadi Paulus dan motif pelayanannya. Paulus terus dirongrong oleh orang-orang Yahudi ini dengan menyebarkan isu dan fitnahan yang begitu busuk dan akhirnya menciptakan kemarahan massa ¬†yang begitu dahsyat (Kisah Rasul 21). Lukas mencatat saat Paulus bertemu muka dengan Yakobus dan semua penatua di Yerusalem, mereka mengungkapkan kegelisahan atas isu dan fitnah yang beredar itu dan minta Paulus untuk klarifikasi akan kebenarannya. “Paulus, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka mendengar tentang engkau, bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa sebab engkau mengatakan supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat istiadat kita” (Kisah Rasul 21:20-21). Mereka lalu meminta Paulus untuk “negosiasi” dengan mengikuti upacara pentahiran di Bait Allah dengan tujuan supaya kabar fitnah yang sudah beredar itu dipadamkan. “Maka semua orang akan tahu bahwa segala kabar yang mereka dengar tentang engkau sama sekali tidak benar, melainkan bahwa engkau tetap memelihara hukum Taurat” (Kisah Rasul 21:24). Paulus akhirnya mengalah dan melakukan apa yang mereka minta. Paulus mencukur rambutnya dan mengikuti upacara pentahiran di Bait Allah. Tetapi orang-orang Yahudi radikal yang mengejar Paulus dari daerah Asia tidak mau terima, mereka malah menciptakan isu sara: Paulus membawa masuk orang-orang Yunani ke dalam Bait Allah dan menajiskan tempat suci (Kisah Rasul 21:28). Dalam bahasa sekarang Paulus sudah menista Bait Allah. Maka emosi amarah rakyat terbakar, kerusuhan langsung terjadi. Paulus diseret keluar dan digebukin.

Dari hal yang pertama ini sdr bisa melihat bagaimana efek destruktifnya penggunaan mulut ini.

Kembali ke Roma 3, orang-orang Yahudi ini menantang Paulus, ‘kalau begitu yang kamu bilang, berarti kamu menganggap kita yang berkitab ini sama dengan orang kafir?’ Jadi engkau menganggap keYahudian kami ini tidak ada gunanya? Bukankah Allah memanggil kami menjadi umatNya? Paulus menjawab pertanyaan mereka, “Kalau begitu, apa kelebihan orang Yahudi dan apa gunanya sunat?” Banyak sekali dan di dalam segala hal. Pertama-tama, sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah [ayat 1-2]. Allah memanggil orang Yahudi menjadi umatNya, Allah memberi mereka firmanNya kepada mereka berarti supaya bangsa Yahudi menjadi blessing bagi bangsa-bangsa lain, supaya cahaya firman Tuhan yang turun kepada mereka boleh mereka kabarkan dan sampaikan kepada bangsa-bangsa lain yang masih berjalan di dalam kegelapan. Itulah arti dari panggilan khusus orang Yahudi.

Yang kedua adalah fitnah secara teologis, dengan mengatakan ‘kalau tidak ada untungnya berbuat baik, kalau tidak ada gunanya melakukan kesalehan, lebih baik sekalian berbuat jahat saja. Toh, makin kita berdosa di hadapan Tuhan maka Tuhan mengampuni dan berbelas kasihan kepada kita, makin banyaknya dosa membuat makin murah hatinya Tuhan. Paulus dengan keras mengatakan, “Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman!” (Roma 3:8).

Engkau selamat bukan karena berbuat baik melakukan hukum Taurat, justru di dalam keberdosaan kita dan tidak layak itu, maka Allah bermurah hati mengampuni kita. Tetapi salahlah kita ketika kita melihat kemurahan dan kebaikan hati Allah malah menjadi alasan kita hidup sembarangan dan berkanjang dalam dosa supaya makin menyatakan kemurahan hati Allah. Justru menjadi orang Kristen, mengerti anugerah Allah, kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik, maka justru kita harus menunjukkan setelah kita mengalami anugerah itu kita harus mempunyai etika yang excellent. Allah memberi anugerah dan di dalam keberdosaan manusia Allah tidak menghukumnya sekarang karena Ia masih berpanjang sabar dan murah hati memberi kesempatan orang itu bertobat. Kalau Allah tidak punya prinsip benar-salah, bagaimana nanti Ia menghakimi? Paulus menegaskan, Allah kita adalah Allah yang adil. Begitu Ia menyatakan keadilanNya, tidak ada manusia yang bisa memfitnah Tuhan karena Allah itu benar dan semua manusia pembohong.

Maka Roma 3:9 menjadi kesimpulannya, “Jadi bagaimana, adakah kita mempunyai kelebihan daripada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh, baik orang Yahudi maupun orang Yunani bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa.” Apa artinya diperbudak oleh dosa? Diperbudak oleh dosa berarti tidak ada kemauan kita, tidak ada kebebasan kita bisa melakukan sesuatu di luar daripada apa yang telah diperintahkan dosa kepada kita. Itulah the bondage of sin, diikat oleh dosa.

Roma 3:10-18 unik sekali, khususnya bagi orang Yahudi yang memiliki kitab suci Perjanjian Lama Paulus membukakan betapa kuatnya the bondage of sin itu mengikat kita, sehingga tidak ada satu orang pun yang bisa benar di hadapan Allah karena memang hati kita penuh dengan dosa dan kefasikan. Paulus tidak menyatakan hal ini berdasarkan argumentasi ciptaan dia sendiri, tetapi Paulus mengambil kutipan-kutipan ayat Perjanjian Lama menjadi bukti bahwa tuduhan kita semua adalah budak dosa bukan datang dari Paulus dan dari orang Kristen manapun, tetapi datang dari kitab suci mereka sendiri. Ini adalah keindahan dari penulisan firman Tuhan yang luar biasa. Kalau argumentasi itu datang dari pendapat Paulus sendiri, orang Yahudi bisa menyangkal dan berkata, apa dasarmu berkata seperti itu? Paulus tidak punya kekuatan mempertahankan pendapatnya karena itu subyektif [saya khotbah, saya ngomong, saya tulis] dan akan dilawan lagi. Maka Paulus mengutip semua ayat-ayat Alkitab dari kitab Mazmur dan kitab Yesaya. Jadi ini bukan kutipan dari satu mazmur tetapi satu rangkaian beberapa ayat yang memperlihatkan tidak ada seorangpun yang mencari Allah, tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang benar di hadapanNya.

Tidak perlu mencatat dan mendaftar seribu satu macam dosa, kekejian dan kejahatan yang besar. Paulus hanya mencatat satu aspek yang sangat penting sekali kita perhatikan baik-baik. Paulus tidak bicara soal dosa imoralitas, Paulus tidak bicara soal pembunuhan, tidak bicara soal korupsi, tidak bicara soal mengambil harta orang lain, Paulus hanya angkat satu aspek saja yaitu dosa mulut. Roma 3:9-20, lima ayat Paulus kutip semua bicara soal mulut. Paulus menggambarkan dosa mulut sangat mengerikan di sini. Karena dari mulut itu bisa keluar kata-kata yang manis tetapi di baliknya ada racun yang berbisa. Di sinilah bahaya dari lidah. Dia bisa mebunuh karakter seseorang, dia bisa membunuh totalitas orang itu dengan perkataannya yang mungkin begitu subtle dan tidak langsung kelihatan.

“Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa, mulut mereka penuh dengan sumpah serapah” [Mazmur 5:10, Mazmur 140:4, Yesaya 59:7-8]. Lidah mempunyai 3 jenis racun yang sangat berbahaya sekali. Yang pertama, seperti racun ular yang tersembunyi di balik kemanisan kata-kata kita. Yang kedua, kata-kata kutukan kebencian yang menyemprot keluar dari mulut kita. Dan yang ketiga, kepahitan dari dalam hati yang keluar dalam bentuk sungut-sungut dan membuat orang yang mendengarnya ter-discouraged. Kalau dosa hanya dimengerti sebagai tindakan membunuh, melukai secara fisik, maka dengan mudah kita bisa berdalih mengatakan kita tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu. Tetapi ketika dosa bicara tentang hal perkataan yang mematikan keluar dari mulut kita, siapa yang bisa berdalih? Tidak ada satu pun di antara kita yang bisa membela diri dan berkata kita tidak pernah jatuh di dalam dosa itu. Secara aktif mulut ini menista dan melukai orang; secara pasif di depan orang bicara manis tetapi di belakangnya menyebarkan gossip yang tidak benar. Itu semua kiranya jangan lagi keluar dari mulut kita. Betapa kontras ketika Tuhan menyatakan firmanNya, itu adalah bicara mengenai kata-kata yang keluar dari mulut Allah, kata-kata yang begitu mulia dan agung, kata-kata yang indah dan memberkati. Kiranya kita bersyukur dan menghargai kesempatan demi kesempatan yang kita dapat untuk mendengar dan menikmati firman Tuhan. Betapa celaka orang yang kalau mendengar teguran firman Tuhan seperti ini lalu mengeraskan hati, tidak mau terima, tidak mau dikoreksi, dan malah memutar-balik firman Tuhan atau menuduh pendeta itu memakai mimbar untuk menyindir, dsb. Tetapi jika firman Tuhan datang kepadamu hari ini, respons yang appropriate adalah menunduk dan tersungkur di hadapan Tuhan, mengakui kelemahan dan dosa kita di hadapanNya, termasuk saya sendiri. Hari ini saya puji Tuhan, saat yang sama hati saya masih menyimpan amarah. Yakobus dengan panjang lebar memberikan peringatan kepada kita akan dosa karena lidah ini.

Yakobus mengatakan lidah adalah seperti api, yang bisa membakar hutan yang besar. Lidah adalah sesuatu yang buas, yang tidak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Sebagai anak-anak Tuhan, kita perlu waspada akan bahaya dosa karena lidah ini, karena Yakobus memperlihatkan realita ini, “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manuisa yang diciptakan menurut rupa Allah. Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal itu tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Adakah pohon ara menghasilkan buah zaitun; adakah pokok anggur menghasilkan buah ara? Adakah mata air asin mengeluarkan air tawar?” (Yakobus 3:9-12). Natur sebagai anak-anak Tuhan seharusnya tidak mungkin dari mulut yang sama keluar berkat dan kutuk. Hari ini kalau engkau memuji Tuhan, pujilah Dia dari hatimu yang sesungguh-sungguhnya. Tetapi pada waktu yang keluar hanya bitterness dan poisonous words, hari ini juga datang kepada Tuhan, aku telah bersalah dan berdosa di hadapanMu, Tuhan.

Bagaimana kita bisa menetralkan bitterness, poisonous words and curse dari mulut kita, itu hanya bisa dengan cara replace itu semua dengan firman Allah yang memberkati dan mendorong orang lain. Seringkali saat selesai ibadah, keluar dari tempat ini, engkau sudah lupa apa yang telah engkau dengar hari ini. Kita tidak merenungkan, men-digest dan membicarakan hal itu di luar dari tempat ini. Kita tidak bertanya di dalam hati kita, apa yang Allah secara pribadi sedang katakan kepadaku? Kita tidak share kepada keluargamu, bagaimana firman Tuhan yang kita dengar telah memberkati kita. Kita perlu membiasakan diri untuk selalu memenuhi hati, pikiran dan mulut kita dengan firman Allah, sedikit demi sedikit akan me-replace kepahitan dan kebisaan buruk membicarakan hal yang tidak berguna dan tidak membangun orang. Ini menjadi hal yang indah. Kita lakukankah itu? Apakah engkau membicarakan apa yang engkau dapat bersama isteri dan anak-anakmu di dalam perjalanan pulang dari ibadah? Apakah engkau memikirkan dalam-dalam kebenaran firman itu di dalam hatimu? Apakah engkau mempercakapkannya dengan teman-temanmu di ruang belakang saat minum kopi? Betapa sering kita langsung lupa semua itu dan yang kita bicarakan adalah hal-hal yang tidak sepantasnya keluar dari mulut kita. Kita harus hati-hati memakai mulut kita dan memikirkan firman Tuhan, membaca, merenungkan, mengunyah firman Tuhan baik-baik, menelan dan menyimpannya dalam hati kita, sehingga keluar menjadi keindahan dari mulut kita. Kiranya hari ini firman Tuhan menjadi berkat bagi kita semua.

Mari kita teduhkan hati kita, biar firman Tuhan ini membuat kita tidak mempunyai self-defense lagi, tidak membela diri lagi, tetapi mengamini firman Tuhan dan menjadikannya sebagai firman yang berbicara ke dalam hatimu dan memberimu kekuatan, mengoreksi hati kita dan memimpin kita.

Bersyukur kepada Allah yang sekali lagi menegur dan mengingatkan kita oleh firmanNya. Kita datang dan kita mengaku di hadapanNya akan kelemahan, kesalahan dan dosa kita. Karena dari mulut kita telah keluar kata-kata yang telah melukai hati orang lain, menyatakan kepahitan hati kita, dan menyatakan kutuk dan kemarahan terhadap situasi yang kita rasa tidak layak kita terima, lalu semua itu membuat kita menyatakan kemarahan dan sungut-sungut mempersalahkan Tuhan. Kiranya Tuhan menolong kita memakai mulut kita memuliakan Allah dan membangun orang lain. Biar mulut kita otentik, tidak memakai kata-kata manis yang memiliki bisa beracun yang mematikan orang. Firman Tuhan hari ini memanggil kita semua untuk menyadari, kalau bukan kasih karunia dan pengampunan Allah datang kepada kita, kita tidak lebih baik daripada orang lain. Firman Tuhan membukakan kondisi kita yang terbelenggu dan sadar bahwa tidak ada obat lain dari diri kita yang bisa menyembuhkan, tidak ada pertolongan dari diri kita, tidak ada yang lain selain datang dari anugerah dan pertolongan Allah semata melalui Yesus Kristus. Kiranya hati setiap kita boleh diangkat ke hadapan tahta kasih karunia itu sehingga kita tidak mencari pembelaan diri, tetapi pergi mencari pembenaran di dalam Yesus Kristus yang telah mati bagi dosa-dosa kita dan menggantikan kita. Kiranya firman Tuhan membukakan mata setiap kita, kita yang mau mencari Tuhan dengan sungguh. Kiranya orang-orang yang telah kehilangan pengharapan boleh menemukan pengharapan yang sejati di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Hati manusia yang keras dilembutkan oleh suara kebenaran firman Tuhan yang menembus bagaikan pedang yang tajam ke dalam hati manusia. Pada waktu segala pemberontakan manusia makin besar, biar kasih karunia Tuhan boleh terus dinyatakan sebagai tanda Allah kita yang panjang sabar dan penuh dengan segala kemurahan. Kiranya Tuhan menolong setiap kita yang sudah mendengar firman, kita mengunyahnya dengan indah, kita menelannya dan kita menyatakan keindahan firman itu dari tutur kata dan dari tingkah laku dan perbuatan kita, sehingga dunia tahu bahwa kita adalah anak-anak terang dan milik Tuhan selama-lamanya.(kz)