Bahaya Kemunafikan berjubah Agama

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (7)
Tema: Bahaya Kemunafikan berjubah Agama
Nats: Roma 2:17-29

Satu hal yang patut kita pegang baik-baik, pada waktu Paulus dalam Roma 1-3 bicara mengenai “orang Yahudi” dan “orang Yunani,” Paulus bukan berbicara soal etnis atau ras tertentu. Di sini yang Paulus kategorikan sebagai orang Yunani [gentiles] adalah mewakili orang atau bangsa-bangsa yang tidak memiliki hukum Taurat sedangkan orang Yahudi mewakili kelompok orang-orang yang memiliki hukum Taurat. Atau yang lebih sederhana, Paulus di sini membuat kategori kepada dua kelompok manusia, yang pertama, adalah mereka yang tidak beragama, yang tidak mendapatkan wahyu Tuhan atau yang mengatakan mereka tidak percaya kepada Tuhan. Inilah yang Paulus sebut sebagai orang Yunani atau gentiles atau kafir ini. Sedangkan kelompok yang kedua adalah mereka yang beragama dan yang mengaku percaya kepada Tuhan. Saya rasa pengertian ini adalah hal yang penting sekali kita pegang, sehingga kita tidak terjatuh kepada konsep “anti-semitik” kebencian kepada orang Yahudi. Yang dimaksud dengan anti-semitik adalah sikap kebencian dan prejudice terhadap orang Yahudi, yang diekspresikan baik kepada orang Yahudi secara individual maupun kepada seluruh komunitas orang Yahudi secara umum, dari aspek sosial, ekonomi, agama dan politik. Di dalam sejarah gereja kita tahu bagaimana konsep anti-semitik ini diangkat di tengah-tengah Kekristenan sehingga orang Kristen membenci orang Yahudi. Dan yang menyedihkan, dalam Perang Dunia ke 2 pada waktu Hitler berkuasa, dia menciptakan kebencian terhadap orang Yahudi begitu besar sehingga akhirnya gereja tertipu dengan konsep bahwa orang Yahudi adalah orang yang telah membunuh Yesus akhirnya gereja tutup mata terhadap segala pembantaian kepada orang-orang Yahudi atas nama kekerasan dan kekejaman dengan prejudice ini. Inilah sisi gelap dalam kehidupan sikap gereja yang anti-semitik.

Yang kedua, dengan Paulus menyebut “orang Yahudi” di sini sebagai kelompok yang beragama, maka istilah ini mewakili semua orang secara menyeluruh, bukan saja orang yang menganut Yudaisme tetapi juga orang-orang yang mengaku beragama lain, termasuk itu agama Kristen, Islam, Budha, atau Hindu, dsb. Ketika kita bertemu dengan orang dari agama lain yang pada waktu kita bertanya mungkin dia mengatakan dia seorang yang beragama, lalu kita berpikir ’oh, kalau dia sudah punya agama, meskipun agamanya berbeda dengan kita, lalu kita tidak berani mengabarkan Injil Yesus kepada dia dan berpikir bahwa kita tidak boleh membuat orang itu pindah agama karena itu adalah hal yang salah. Kita patut mengoreksi pikiran atau pendapat yang keliru seperti ini. Karena sekali pun orang itu mengaku dia adalah orang yang beragama, bahkan termasuk kepada orang yang mengaku beragama Kristen, jikalau dia tidak mengerti sungguh-sungguh iman di dalam Tuhan Yesus Kristus, dia perlu kita bawa kepada Yesus. Bukan karena seseorang mengaku dia beragama Kristen maka dia adalah seorang pengikut Kristus yang sejati. Ada banyak orang yang lahir dan dibesarkan dengan tradisi Kristen belum tentu adalah seorang pengikut Kristus yang sejati. Maka pada waktu Paulus mengatakan di sini, “Jika kamu menyebut dirimu sebagai orang Yahudi, orang yang menerima hukum Tuhan, yang di dalam doamu setiap pagi engkau mengatakan engkau adalah penuntun orang buta, engkau adalah orang yang membawa terang, engkau adalah orang yang memiliki segala bijaksana dan kebenaran, engkau yang mengerti membedakan apa yang benar dari apa yang tidak benar, apa yang bermoral dari apa yang amoral, sebab engkau memiliki hukum Taurat, beragama…” (Roma 2:17-20), hingga sampai kepada bagian selanjutnya kemudian Paulus mengatakan, “Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan daripada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa” (Roma 3:9). Maka baik dia orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, mereka sama-sama memerlukan Yesus Kristus. Tidak ada di dalam diri orang itu, baik dia mengaku beragama maupun yang tidak beragama, yang sanggup membuat mereka mendapatkan kebenaran di hadapan Allah, selain satu-satunya jalan keluar adalah mereka memerlukan Yesus menjadi Tuhan dan juruselamat bagi mereka. Paulus dengan panjang lebar berbicara di pasal 1 dan 2 untuk memberitahukan kepada kita tentang dua kelompok masyarakat manusia seperti ini, baik mereka yang mengaku percaya Tuhan maupun yang tidak percaya Tuhan, yang beragama maupun yang tidak beragama, dua-duanya akan jatuh ke dalam hukuman Allah oleh sebab mereka tidak akan mungkin dan tidak akan sanggup bisa melakukan apa yang menjadi tuntutan Allah, kecuali mereka datang kepada Tuhan Yesus Kristus dan mengakuinya sebagai Tuhan dan juruselamat mereka.

Hari ini secara khusus kita melihat Roma 2:17-29 dengan panjang lebar Paulus bicara mengenai siapa orang Yahudi ini, bicara mengenai mereka yang bangga dan sombong dengan keagamaan mereka. Pada waktu kita membaca bagian ini, kita mungkin gampang sekali menganggap bagian ini tidak relevan dengan kita karena tidak berbicara mengenai diri kita; tidak berbicara mengenai orang Kristen; tidak berbicara mengenai dirimu yang mengaku sebagai orang yang sejak lahir sudah menjadi orang Kristen, dari generasi kakek buyut sudah Kristen, dan dibesarkan dengan tradisi Kristen. Bagian ini juga bicara kepada kita, menjadi teguran dan warning bagi kita. Kenapa? Karena sekali lagi, Paulus bukan hanya bicara tentang ras bangsa orang Yahudi, tetapi bicara mengenai orang yang mengaku beragama. Maka mari kita baca bagian ini dengan mengganti kata “mereka” dengan “kita”: Tetapi, jika kita menyebut diri kita orang Kristen dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah, dan tahu akan kehendakNya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat dapat tahu  mana yang baik dan mana yang tidak, dan yakin, bahwa kita adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan, pendidik orang bodoh dan pengajar orang yang belum dewasa, karena dalam hukum Taurat kita memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran. Jadi bagaimanakah kita yang mengajar orang lain, tidakkah kita mengajar diri kita sendiri? Kita yang berkata “jangan berzinah,” mengapa kita sendiri berzinah? Kita yang jijik akan segala berhala, mengapa kita sendiri merampok rumah berhala? Kita bermegah atas hukum Taurat, mengapa kita sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu? Sebab ada tertulis: “Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain.” Maka firman Tuhan ini akan menjadi firman Tuhan yang penting dan relevan bagi kita. Kita mengaku sebagai orang Kristen, yang mengerti apa yang namanya kehendak Allah, yang memiliki hukum Tuhan, kita yang mengatakan diri kita sebagai penuntun orang buta kepada terang, kita mengerti apa yang benar dari apa yang salah, kita memiliki segala kepandaian dan kebenaran. Dan kita katakan kita bisa mengajar orang lain untuk percaya kepada Tuhan, tetapi mengapa kita tidak bisa mengajar diri kita sendiri? Pada waktu kita membaca seperti ini maka firman Tuhan menjadi satu warning yang sangat serius dan relevan bagi setiap kita akan apa yang kita sebut sebagai “the danger of hypocrisy in the name of religion.” Itulah bahaya daripada kemunafikan atas nama agama. Fokus warning daripada bagian firman Tuhan ini ditekankan dengan jelas sekali oleh rasul Paulus dalam Roma 2:23-24, bicara mengenai kemuliaan Allah dan penghinaan kepada Allah. “Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu? Sebab ada tertulis: “Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain.” Ini adalah titik daripada apa yang menjadi fokus yang Paulus angkat di dalam hidup orang Yahudi yang mengaku sebagai orang yang memiliki hukum Tuhan tetapi mereka tidak melakukannya.

Dari penguraian Paulus ini kita menemukan sikap dan prilaku orang-orang Yahudi yangturun-temurun sudah menerima hukum Taurat menyebabkan mereka menjadi overconfident, sikap yang sombong karena memiliki hal-hal yang bersifat agamawi di dalam hidup mereka, terlihat dengan jubah yang mereka kenakan, terlihat di dalam praktek kehidupannya bahwa tidak ada aspek dalam hidup mereka yang tidak ada bersentuhan dengan aspek religious. Ini semua membuat orang Yahudi menjadi overconfident, merasa dirinya adalah orang yang spesial di mata Tuhan. Dimana-mana kita bisa menemukan banyak orang yang bisa merasa bangga dan sombong dengan keagamaannya, merasa kesalehan hidupnya yang terlihat di mata orang lain, dan berbagai atribut secara ekstrinsik yang dikenakannya membuat dia mengira Tuhan pun akan hormat dan memperlakukan dia secara spesial karena semua hal itu. Kira-kira itulah yang dilakukan oleh orang Yahudi termasuk dengan sunat. Maka mereka membanggakan diri sebagai orang yang memiliki hukum Taurat, dan seluruh aspek eksternal seperti itu. Namun Paulus mengatakan di sini, tidak ada gunanya engkau hanya mempelajari seluruh hukum Turat tetapi tidak pernah menjalankannya. Dan tidak ada gunanya disunat tetapi tidak menjalankan hukum Taurat (Roma 2:25).

Bukankah Yesus sendiri berulang kali memberikan teguran kepada para pemimpin agama sebagai orang-orang yang munafik yang hanya mengajarkan tetapi tidak melakukan apa yang diajarkannya; yang mengikat beban-beban berat dan meletakkannya di atas bahu orang tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang (Matius 23:3-5). Tuhan Allah memerintahkan orang Yahudi untuk menaruh firman itu di dahi mereka, dililitkan di tangan mereka [lihat Ulangan 6:8, Ulangan 11:18], tetapi perintah itu hanya diterima secara hurufiah oleh orang Yahudi. Maka mereka menulis ayat itu, menggulungnya dan memasukkannya dalam kotak kecil, lalu diikat di dahi dan tangan, padahal maksud Tuhan dengan menaruh di dahi adalah supaya mereka selalu ingat, menaruh di tangan adalah supaya mereka selalu menjalankannya. Demikian juga tidak ada gunanya Alkitab di samping tempat tidur kita kalau isinya tidak ada di dalam hati kita. Tidak ada gunanya pakai kalung salib yang besar di lehermu jikalau hanya ada di situ, tetapi Yesus tidak ada di dalam hatimu. Kita diterima oleh Tuhan dan kita menjadi milikNya oleh karena Kristus sudah menjadi milik kita selama-lamanya.

Maka dalam bagian ini paling sedikit ada tiga aspek yang menjadi ciri daripada kemunafikan di dalam agama yang Paulus angkat sebagai warning atas kebahayaan dari kemunafikan jubah agama [the danger of hypocrisy] mengingatkan kepada kita di dalam kehidupan beragama kita sebagai orang Kristen pun kita bisa jatuh kepada kemunafikan seperti itu. Paulus mengatakan kebahayaan yang pertama, orang yang overconfident kepada hal-hal yang eksternal lahiriah seperti itu akan menjadikan orang itu mempermalukan nama Tuhan di dalam hidupnya. “Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu?” (Roma 2:23). Kata yang dipakai “menghina” adalah “dishonour” dalam bahasa Inggris, satu kata yang keras dan kuat sekali yang diberikan oleh rasul Paulus. Kalimat ini penting dan perlu terus terngiang di dalam hati setiap orang Kristen yang ikut Tuhan, harus senantiasa dikumandangkan di setiap gereja dan setiap kali kita datang berbakti setiap minggu. Paulus mengingatkan apa pun juga yang kita perbuat, perbuatlah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Dalam 1 Korintus 10:31 Paulus mengatakan jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Artinya, apa pun yang kita pikirkan, apa pun yang kita katakan, apa pun yang kita lakukan, kita harus senantiasa memuliakan Allah. Kita tidak boleh berusaha, berbisnis, melakukan segala sesuatu dalam hidup kita dengan motivasi mengambil sebanyak-banyaknya untung buat kita dengan menghalalkan segala cara, meraih segala pujian dan kemuliaan bagi kita dan bukan bagi Tuhan. Pada waktu kita merencanakan sesuatu, sebelum kita mengambil keputusan, sebelum kita kerjakan dan lakukan, kita selalu harus menaruh pertanyaan yang paling penting dan paling utama: apakah itu memuliakan Tuhan? Setiap kali kita mengerjakan dan melakukan sesuatu, kita tidak boleh mengabaikan hal ini. Jangan sampai firman Tuhan ini akan berulang terus di dalam kehidupan kita, kata rasul Paulus, “sebab oleh karena kamu nama Allah dihina dan dihujat oleh orang lain” (Roma 2:24). Kita tidak menginginkan hal itu terjadi.

Yang kedua, ciri dan bahaya dari kemunafikan agama adalah selalu mengeraskan hati di dalam keangkuhan, always resisting to confess sin. John Piper di dalam tafsiran surat Roma mengatakan Paulus perlu bicara mengenai natur dosa perlu sampai 3 pasal mengelaborasi topik ini. Kenapa Paulus perlu melakukan seperti itu? Paulus perlu panjang lebar membahas semua ini karena dosa itu begitu rapi tersembunyi di balik jubah keagamaan, yang perlu dikorek dan diangkat keluar oleh karena sifat dosa adalah sifat yang suka mengeraskan hati untuk mengakui segala dosa-dosa dan kesalahan kita. Hal itu nampak di dalam arogansi diri yang merasa tahu kehendak Allah, tahu mana yang main dan mana yang tidak, dan karena itu lalu menganggap diri sebagai penuntun orang buta dan menjadi terang bagi mereka yang di dalam kegelapan, sebagai pendidik bagi orang bebal, dst (Roma 2:18-20). Mereka menganggap diri paling pandai dan paling benar. Maka Paulus perlu mengeluarkan teguran yang sangat keras untuk membongkar keangkuhan dan self-righteous itu.

Yang ketiga, bahaya dari kemunafikan keagamaan atau kerohanian itu terlihat dari satu sikap yang terus-menerus mengoreksi, menghakimi dan melihat kesalahan orang lain tanpa sendiri melihat dan mengaku kesalahan diri sendiri. Dalam Matius 15 beberapa orang Farisi dan ahli Taurat datang berkonfrontasi kepada Yesus dengan menuduh murid-murid Yesus telah melanggar adat-istiadat orang Yahudi karena mereka tidak mencuci tangan sebelum makan. Yesus balik menegur mereka karena tuduhan mereka begitu absurd. Merekalah justru yang dengan tameng memakai adat-istiadat justru melanggar perintah Allah. Mereka mengajarkan orang untuk memberi persembahan ibadah dan dengan itu boleh menjadi alasan untuk tidak menunjang dan merawat orang tua sendiri. Dengan demikian firman Allah mereka nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang mereka buat (Matius 15:1-20). Maka Paulus bilang di sini, kamu sebagai penuntun orang buta kepada terang, kamu mengerti apa yang benar dari apa yang salah, kamu memiliki segala kepandaian dan kebenaran. Dan engkau katakan engkau bisa mengajar orang lain untuk percaya kepada Tuhan, tetapi mengapa engkau tidak bisa mengajar dirimu sendiri. Bukankah Tuhan Yesus berkata, orang Farisi adalah ‘orang buta yang menuntun orang buta’? (Matius 15:14). Orang buta yang dituntun oleh orang buta itu kira-kira tahukah dia bahwa dia dituntun oleh orang buta? Karena si orang buta yang dituntun sebenarnya mempercayakan dirinya untuk dituntun karena dia mengakui dan menyadari dia buta tidak bisa melihat dan tidak tahu arah. Tetapi orang yang dia percaya untuk menuntun adalah orang yang mengatakan mari saya tuntun engkau tetapi dia sendiri tidak mau mengakui dan mengatakan bahwa dia sendiri juga adalah orang buta, itu adalah satu sikap yang sangat berbahaya sekali. Seharusnya yang mau menuntun itu juga harus bilang, saya juga buta, saya juga perlu dituntun. Betapa bahayanya adalah yang orang buta bilang saya buta, tolong tuntun saya kepada orang yang sudah buta, yang tahu dia sendiri buta, lalu kemudian membanggakan diri dia bisa menuntun yang buta.

Sebagai orang yang mengaku diri sebagai orang Kristen, biar kita senantiasa ingat dan mengerti menjadi orang Kristen berarti kita adalah pengikut Kristus. Kita menjadi orang Kristen bukan karena nenek moyang kita orang Kristen. Kita menjadi orang Kristen bukan karena suku, bangsa atau keturunan. Kita menjadi orang Kristen bukan karena kita pernah bersekolah di sekolah Kristen. Kita menjadi orang Kristen karena kita tahu, kita percaya dan kita menjadi pengikut Yesus Kristus. Pada waktu kita menjadi pengikut Kristus, apa sebabnya? Karena kita tahu Ia adalah Tuhan, Ia adalah juruselamat yang telah mati menebus dosa-dosa kita dan tidak ada kebenaran di dalam diri kita sehingga kita berani berdiri dan berkata di hadapan Allah bahwa kita layak menerima keselamatan dariNya, bahwa kita layak menerima anugerah dan berkatNya, tetapi kita mengaku keselamatan itu kita dapat oleh karena Yesus Kristus. Dan pada waktu kita menjadi seorang Kristen yang sejati, maka kita bersyukur kita boleh mengenal kebenaran Tuhan, kita boleh mengerti cahaya kebenaran Tuhan, kita bisa memegang sungguh-sungguh apa yang Ia katakan  dan perintahkan, kita menaati perintahnya dan laranganNya yang tidak boleh kita lakukan. Setiap kali kita keluar, kita senantiasa memegang panji-panji itu “I am a Christian, I am Christ’s follower, I am Christ’s learner, I am Christ’s disciple.” Yesus adalah Tuhanku dan juruselamatku yang aku hormati dan banggakan. Dengan demikian kita senantiasa patut kemudian diingatkan oleh firman Tuhan, jangan biarkan nama Tuhan dihina dan dihujat dan dipermalukan oleh karena kita adalah orang-orang Kristen yang hidup tidak mencerminkan dan tidak seturut dengan apa yang firman Allah perintahkan.

Hari ini kiranya kita memperhatikan kebahayaan daripada kemunafikan di balik jubah rohani, yang overconfident kepada aspek-aspek lahiriah menyebabkan orang itu tidak memikirkan bagaimana memuliakan Allah dalam hidupnya. Kita diingatkan jangan membiarkan hati kita senantiasa keras, tidak mau mengakui bahwa di hadapan Allah kita memerlukan dan membutuhkan anugerah Allah.  Diingatkan untuk selalu belajar tidak menghakimi kesalahan orang lain dan hanya melihat kesalahan orang lain tanpa kita pernah melihat kelemahan dan kesalahan diri kita sendiri. Saya merindukan setiap kita mengalami koreksi dan pembentukan Tuhan dengan indah sekali lagi. Mengaku di hadapan Tuhan kita adalah orang yang berdosa, kita adalah orang yang lemah, kita penuh dengan segala kekurangan, kiranya Tuhan boleh membasuh dan menyucikan dosa-dosa kita dan biar kita hidup selalu memuliakan Tuhan.(kz)