PERCAKAPAN YANG TRANSFORMATIF

Apa yang mewarnai dan mendominasi percakapan kita dengan anak-anak setiap hari?
Umumnya kita membombardir anak dengan nasehat kepada sikap [attitude] dan prilaku [behaviour] anak:
“Jangan suka membantah.”
“Jangan berkelahi dengan adik.”
“Jadilah anak yang penurut.”
Sopan bersikap.
Santun berkata.
Anak baik.
Anak manis.

Percakapan kita lebih banyak berpola satu arah [orang tua -> anak] dengan fokus menjadikan mereka anak yang sopan dan bisa membawa diri di dalam masyarakat. The concern is personal convenience and public appearance. Jarang kita membiasakan percakapan pola dua arah [orang tua -> anak; anak -> orang tua]. Dan seringkali akhirnya orang tua menjadi frustrasi dan bingung, mengapa anak-anak tidak berprilaku seperti seharusnya dan mereka tidak tahu apa penyebabnya.
Yang lebih parah lagi, ada banyak orang tua yang sebetulnya tidak punya “noble goal” sama sekali. Mereka hanya mau mengontrol anak, menjadikan mereka anak sopan, anak santun, anak baik, anak manis, supaya orang lain melihat mereka adalah orang tua yang berhasil mengajar anak. Bukankah label “anak kurang ajar” berarti tanda kegagalan orang tua? Maka mereka melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orang tua mereka waktu mereka masih kecil. Mereka memakai aturan yang sama, didikan yang sama, nasehat, teguran, hukuman, hadiah, yang kurang-lebih sama seperti yang orang tua generasi lalu kepada mereka sebagai cara untuk mengontrol tingkah laku mereka.

Apa yang menjadi formasi di dalam rumah tanggamu? Formasi moralkah? Atau formasi spiritualkah? Apakah sebagai individu dan sebagai orang tua, kita sendiri sudah mengerti dan memahami inti iman kita sebagai orang percaya, bahwa menjadi orang Kristen tidak sama dengan menjadi orang baik? Bahwa menjadi orang Kristen adalah sebagai orang berdosa yang memperoleh belas kasihan Allah, diampuni, diselamatkan, ditebus untuk menjadi anak Allah oleh karena Yesus Kristus?
Kita senang dan bangga ketika kita melihat didikan kita mendatangkan hasilnya: anak yang sopan, rajin ke gereja, membawa Alkitab kemana-mana, menghafat banyak ayat Alkitab, santun kepada orang tua, ikut mission trip, setia memberi persembahan dan perpuluhan dari uangnya sendiri, ikut melayani di gereja, dst. Namun ketika kita memfokuskan formasi moral ketimbang formasi spiritual, kita mungkin bisa mencetak anak yang baik dan sopan selama dia masih di dalam rumah dan pengawasan kita, tetapi apakah dia akan menyatakan hal yang sama ketika kita tidak ada di sekitar dia? Ketika tidak ada yang perlu dia takuti di sekitar dia? Apakah dia bisa mengambil sikap seperti Yusuf di hadapan isteri Potifar yang berkata, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” dan rela membayar konsekuensi dari keputusannya dengan menderita di dalam penjara [lihat Kejadian 39].
Kekristenan bukanlah satu aturan hukum beragama. Kekristenan berinti kepada relasi, relasi kita dengan Allah yang dimungkinkan karena Yesus Kristus telah menjadi jalan pendamaian bagi kita. Jangan sampai kita kehilangan inti relasi ini dan bergeser kepada etika perbuatan. We and our children are at risk of missing it if we get focused on the wrong stuff. We thought we knew all the right stuff and all the right behaviours but do not truly know God. Inilah yang Paulus tegur dengan keras kepada jemaat Galatia [baca Galatia 3:1-5]. Apa sesungguhnya panggilan yang Tuhan Yesus berikan kepada kita sebagai orang tua? Bukan menjadikan anak-anak kita berprilaku Kristen, tetapi mengenal Kristus dan memiliki hubungan yang otentik dengan Dia.

Sudah tentu ketika anak kita masih kecil, kita perlu dan patut mengajarkan prilaku moral yang benar kepada mereka. Kita mengajar mereka mengatakan “terima kasih” saat mendapatkan sesuatu; kita mengajar mereka berkata jujur dan tidak berbohong; kita melarang mereka mengambil milik orang lain; kita melarang mereka memukul atau menyakiti adik dan teman. Mereka perlu tahu ada boundaries, ada aturan, ada batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar dalam berelasi dengan orang lain.
Pada saat kita mengajarkan hal-hal ini, kerapkali kita lebih fokus kepada prilaku moral dan tidak memperhatikan aspek yang ada di dalam hati anak kita. Dan semakin anak bertambah besar, kita tidak memperhatikan bahwa yang mereka perlukan justru adalah koreksi dan bimbingan bagi hati yang tidak beres. Sangat miskinlah percakapan kita jika kepada anak kita yang sudah remaja pemuda, kita masih pada level “jangan ini, jangan itu.” Meskipun yang kita percakapkan mungkin sudah berbeda tema, tetapi cara percakapannya tetap sama [“Say you’re sorry”; “Be nice to your sister”; “Don’t do drugs”; ”Don’t have sex with your girlfriend.”]. Kita menggunakan taktik yang sama pada saat stage pertumbuhan moral mereka seharusnya dibimbing oleh pertumbuhan spiritualnya.
Dalam pertumbuhan spiritual, apa yang ada di hati anak, itulah yang penting, bukan hanya tindakan atau prilakunya. Saat anak kita masih kecil, mereka belajar tunduk kepada otoritas orang tuanya, dan semakin besar, mereka tahu bahwa mereka tunduk kepada otoritas Allah. Pada stage ini [sekitar umur 5 tahun ke atas] kita sudah bisa membimbing mereka mengenal iman di dalam Kristus, menuntun mereka mengenal dan berelasi dengan Allah di dalam doa dan membaca firmanNya, mengarahkan mereka untuk membawa hidup mereka dipimpin oleh Roh Kudus. Itulah transisi yang perlu kita berikan ketimbang mengajar mereka menjadi anak baik. Ketika mereka mengerti identitas mereka sebagai anak Tuhan, maka motivasi hati mereka berubah dan transformasi itu terjadi. Anak yang tumbuh besar di dalam keluarga yang sehat secara spiritual kelak menjadi seorang yang tumbuh mengenal Allah, mengasihi Allah dan sesama, memiliki makna dan tujuan hidup yang jelas dan tidak mengejar hal-hal yang duniawi.

Tedd Tripp dalam bukunya “Shepherding Child’s Heart” memberikan guidance bagaimana percakapan orang tua dengan anak bisa menjadi percakapan dua arah yang bertujuan mentransformasi hati dan bukan hanya memperbaiki prilakunyanya.
Tripp mengatakan sebagai orang tua kita kerapkali mendidik anak dalam tiga elemen ini:
Aturan [rules]
Koreksi [correction]
Hukuman [punishment]
Kita memberi aturan kepada anak. Waktu anak melanggarnya, kita mengoreksi dan memberikan hukuman. Bukan aturan itu tidak penting; aturan yang jelas dan clear sangat penting sehingga anak tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, apa yang akan dia hadapi ketika dia melanggarnya dengan sengaja. Rumah yang tidak memiliki aturan akan menghasilkan keadaan yang kacau-balau [chaos] dan anak bertumbuh menjadi seorang yang tidak takluk kepada otoritas dan aturan yang berlaku dalam masyarakat. Tetapi aturan hanya terjadi di arena tingkah laku, dan aturan tidak bisa menghasilkan transformasi hati. Anak [seperti semua kita] pada dasarnya memiliki hati yang cenderung rebellious ketika ada kesempatan untuk melanggar. Dan kita mengakui anak terus mengulang pelanggaran dan segala koreksi kita seperti burung beo yang mengulang-ulang kalimat yang meaningless di telinga mereka, hukuman yang kita berikan atau reward yang kita berikan makin hari makin tinggi dosisnya.

Alkitab memberikan prinsip ini, “Tegurlah mereka yang hidup tidak tertib. Hiburlah mereka yang tawar hati. Belalah mereka yang lemah. Sabarlah terhadap semua orang” (1 Tesalonika 5:14).
Tegur -> yang tidak tertib
Hibur -> yang tawar hati
Bela -> yang lemah
Sabar -> semua orang
Semua aspek ini menjadi bagian dari interaksi kita kepada anak-anak kita. Kondisi yang berbeda membutuhkan perkataan dalam bentuk yang berbeda.
Tedd Tripp memberikan beberapa prinsip dan aspek yang kita sampaikan dalam interaksi dan percakapan dengan anak yang menghasilkan transformasi hati.

DORONGAN
Isilah komunikasi dengan pengharapan dan dorongan sehingga anak melihat percakapan itu sebagai sesuatu yang indah baginya. Waktu seorang anak menyadari dan menyesali kesalahannya, yang dia butuhkan bukan kritikan dan teguran. Dia sedang dalam kesedihan, dia melihat situasinya tidak ada harapan, dia merasa gagal. Maka yang dia butuhkan saat itu adalah kalimat-kalimat encouragement, mengingatkan dia kita adalah orang berdosa yang tidak dapat merubah diri menjadi baik; itulah sebabnya Yesus Kristus datang untuk mengampuni kita dan memimpin kita untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Tolonglah anakmu memahami janji-janji Allah bagi setiap orang yang berseru kepadaNya.

KOREKSI
Ketika anak berbuat salah, dia membutuhkan koreksi dari orang tuanya. Koreksi bukan kritikan atau sindiran. Koreksi memberikan pemahaman kepada anak apa yang salah dan bagaimana memperbaiki kesalahan dan menangani problem yang timbul dari kesalahan itu. Koreksi membimbing anak memahami standar Allah dan mengajar anak untuk berjalan di dalam standar itu. Koreksi membuat anak bijaksana; kritikan membuat anak terluka dan akhirnya tidak menolong dia belajar dari kesalahannya.

TEGURAN
Teguran dibutuhkan ketika anak menunjukkan tanda-tanda pemberontakan, sikap tidak respek dan dengan sengaja menyatakan sikap yang rebellious. Teguran yang serius mendatangkan satu message yang penting bahwa kita tidak menerima sikap dia, kita tidak menyetujui prilaku dia, kita tidak menginginkan dia melakukan hal itu. Berikan teguran yang objektif, teguran yang kita alamatkan kepada sikap dan prilakunya. Ini penting. Kadang kita keburu terluka dengan sikap rebellious anak sehingga kita menegur dengan menghina dia, dengan menuduh dan dengan sikap judgmental, dengan labelling [dasar anak malas; kamu memang bego; anak kurang ajar, dsb] yang tidak akan sampai ke hatinya sebagai teguran yang memperbaiki.

PERINGATAN
Hidup kita tidak lepas dari bahaya. Hidup anak-anak kita juga tidak lepas dari bahaya. Adalah penting untuk memberi peringatan kepada anak, tanpa menakut-nakuti dia tetapi memberikan awareness yang dia butuhkan sehingga dia selalu berjaga-jaga dan menghindar sebelum bahaya itu datang. Anak perlu mendapatkan peringatan sehingga menjadi bijaksana dalam melangkah dan mengambil keputusan ketika dia makin dewasa. Peringatan adalah satu prinsip aplikasi yang penting tentang “menabur dan menuai,” prinsip sebab akibat yang Alkitab berikan kepada setiap orang percaya.

PENGAJARAN
Mengajar adalah proses menyampaikan pengetahuan. Mengajar membuat seseorang mengetahui sesuatu. Adalah baik pengajaran diberikan sebelum hal itu dibutuhkan, namun pengajaran bisa lebih mengena ketika anak menghadapi kegagalan atau kesulitan. Sebagai orang tua yang beriman, ada banyak hal yang bisa engkau ajarkan kepada anakmu tentang siapa diri mereka, tentang orang lain, tentang Allah, tentang Yesus Kristus, tentang dunia dimana kita hidup. Allah memerintahkan orang tua untuk mengajar anak-anaknya. Orang tua adalah guru bagi anak-anak mereka. Jangan abaikan perintah itu dan jangan lempar tanggung jawabmu kepada sekolah atau gereja untuk mengajarkan “sekolah kehidupan” bagi anak-anakmu.

BERDOA BERSAMA ANAK
Doa adalah suatu komunikasi dengan Allah, dan pada saat yang sama doa juga menjadi sarana komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Di dalam kata-kata doa mereka kita bisa menyaksikan pemahaman anak kita tentang siapa Allah bagi hidup mereka. Jendela untuk masuk ke dalam jiwa anak adalah dengan mengerti apa yang mereka doakan dan bagaimana mereka mendoakannya. Doa juga menjadi sarana orang tua memberikan pengajaran dan nasehat sekaligus mengekspresikan iman kita yang intim dan jujur kepada Allah.[sumber: “Becoming a Spiritually healthy Family,” by Michelle Anthony, “Shepherding a Child’s Heart,” by Tedd Tripp, kz]