Injil Kristus yang Menyelamatkan

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (4)
Tema: Injil Kristus yang Menyelamatkan
Nats: Roma 1:16-25

“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Roma 1:16).

Kalimat Paulus dalam Roma 1:16 ini mencetuskan confident-nya kepada Injil kabar baik, bahwa hanya nama Yesus yang sanggup menyelamatkan manusia. Konfiden dan keyakinan ini merupakan kunci yang sangat penting, setiap anak-anak Tuhan perlu dan harus memiliki keyakinan seperti ini. Dan kepada jemaat di Roma secara khusus, Paulus memulai penguraian dan argumentasinya tentang mengapa manusia memerlukan Injil dengan konfiden dan keyakinan ini: Injil adalah kekuatan Allah yang sanggup menyelamatkan manusia. Mengapa? Di sini ada dua aspek yang perlu kita lihat. Pertama, mari kita lihat konteks kalimat ini disampaikan kepada penerima surat ini di satu kota metropolitan pada era waktu itu, kota yang paling maju, paling besar, paling modern yaitu kota Roma. Roma adalah pusat pemerintahan, semua orang terpandai ada di situ, dan jemaat Allah, gereja ada di situ. Mungkin jemaat ini berpikir bagaimana bisa menjangkau kaum intelektual, bagaimana bisa menjangkau senator-senator yang ada di Roma, bagaimana bisa menjangkau konglomerat, bagaimana bisa menjangkau lulusan-lulusan universitas yang berkarir di Roma? Dan notabene mungkin orang-orang Kristen di Roma adalah orang-orang yang sederhana, yang miskin dan tidak punya apa-apa, yang mungkin saat berbicara dengan orang-orang seperti itu menjadi minder, bukan? Maka kalimat Paulus menjadi kalimat yang memberikan konfiden yang luar biasa. “I am not ashamed of the Gospel, for it is the power of God for salvation to everyone who believes.”

Kita mungkin rindu mengabarkan Injil kepada teman-teman kita yang belum percaya Tuhan. Kita mungkin rindu ingin mengajak mereka mengenal Tuhan. Lalu mungkin kita berpikir bagaimana kita bisa membuat mereka tertarik untuk datang, maka kita mengharapkan mungkin dengan pembicara terkenal, dengan kesaksian-kesaksian mujizat, dengan mengundang pengkhotbah yang bergelar banyak, atau mungkin mengundang tokoh masyarakat, atau artis, dsb, kita kira dengan seperti itu sanggup bisa menarik orang untuk bisa percaya kepada Tuhan. Kadang-kadang kita lebih mengandalkan aspek-aspek seperti itu dan kita takut dan kuatir mungkinkah kita yang orang sederhana ini sanggup dan bisa membawa orang percaya kepada Tuhan?

Paulus berkata, aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, ini bukan kalimat yang klise dan kosong belaka. Mengapa Paulus sendiri konfiden dengan kuasa Injil? Sebab Paulus sendiri mengalami hal ini. Paulus tidak pernah punya keinginan untuk percaya Tuhan Yesus, Paulus adalah seorang penganiaya yang menangkap dan menyiksa anak-anak Tuhan, tetapi Tuhan sanggup bisa merubah hal itu bukan dengan menggunakan orang atau yang lain tetapi hanya dengan Tuhan hadir menampakkan diri di tengah-tengahnya, maka perubahan hidup terjadi. Itulah sebabnya Paulus percaya ketika nama Yesus diberitakan dan dikabarkan, kita jangan kehilangan konfiden itu.

Dan yang kedua, Paulus menyatakan kalimat ini sebab kita akan melihat nanti mulai dari Roma 1:18 hingga Roma pasal 3 Paulus akan membukakan kepada kita bagaimana kita memahami cara berpikir dari orang yang tidak percaya Tuhan. Mungkin orang yang tidak percaya Tuhan tidak memiliki insight untuk memahami bagaimana mereka berpikir, maka kita perlu dengan sabar, dengan rendah hati, dengan bersandar kepada Tuhan, bagaimana kita bisa membawa mereka. Sebab cara dan pola berpikir orang yang tidak percaya Tuhan adalah pola pikir yang sangat sulit dan bertolak belakang untuk bisa mengerti akan cara berpikir Tuhan. Maka melalui bagian ini rasul Paulus membukakan kepada kita supaya kita memahami bagaimana orang yang tidak percaya berpikir, dan melaluinya kita membimbing mereka hanya Yesus yang menjadi jawaban dan hanya Yesus Kristus yang bisa membereskan persoalan itu. Hanya di dalam pribadi Yesus Kristus, Anak Allah itu kita mendapatkan keselamatan. Kenapa? Sebab bukan saja bagaimana keselamatan itu datang kepada manusia berdosa tetapi keselamatan itu berkaitan dengan bagaimana manusia bisa menjawab tuntutan kekudusan dan kebenaran Allah. Ini yang menjadi hal yang penting luar biasa. Paulus berkata di ayat 18 “Sebab murka Allah nyata dari surga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.”

Sebelum sampai ke sana, kita lebih dulu mulai kepada pertanyaan ini: mengapa manusia memerlukan Injil? Mengapa hanya di dalam nama Yesus kita percaya dan dibenarkan dan diselamatkan? Maka mulai dari Roma 1:18 hingga sampai kepada pasal 3 kita dibawa oleh Paulus untuk melihat bagaimana kondisi dan keadaan manusia yang tanpa Yesus Kristus tidak mungkin bisa membereskan dosa dan relasi dengan Allah.

Kita tidak menawarkan Injil kepada orang supaya Injil itu membereskan hidup kita yang “mess-up.” Seringkali orang menawarkan Injil seperti ini: Jikalau keluargamu berantakan, jika engkau sudah putus pengharapan, jika engkau mengalami kegagalan, datanglah kepada Yesus maka Ia akan membereskan hidupmu. Memang betul kita tidak meragukan Tuhan bisa memberikan jawaban kepada hidup kita yang messy. Tetapi Injil Yesus Kristus bukanlah bertujuan membereskan persoalanmu, the Gospel is not to tackle the messiness of your life. Injil itu kita tawarkan kepada orang bukan supaya hidup orang itu menjadi lebih tenang, lebih lancar, lebih mudah. The Gospel will not make your life easier. Kita percaya dan tidak meragukan bahwa kebenaran dan pimpinan daripada Injil dan kebenaran firman Tuhan menjadikan kita bijaksana agar kita bisa menjalani hidup yang jauh lebih indah dan lebih baik, namun kita tidak menawarkan Injil kepada orang supaya hidupnya diberkati dan penuh dengan kelimpahan dengan tidak kekurangan apa pun. Kita tidak menawarkan Injil yang seperti itu, walaupun kita tahu di dalam Yesus Kristus kita sudah mendapatkan segala berkat yang kita perlukan. Injil bukan menjadi jawaban bagi persoalan-persoalan yang kita alami dalam dunia. Injil menjadi jawaban terhadap satu persoalan penting bagaimana membereskan hubungan kita dengan Tuhan yang di atas. Injil bukan membereskan persoalan hidup kita sehari-hari; Injil membereskan persoalan kita yang paling utama yaitu hubungan kita dengan Allah Pencipta, yang hanya melalui Yesus Kristus itu bisa terjadi. Itulah sebabnya mengapa hanya di dalam nama Yesus, Anak Allah itu, kita memiliki the confident for the salvation. Siapakah yang bisa membereskan hubungan kita dengan Allah Pencipta pada waktu Allah Pencipta itu menyatakan segala kemurkaanNya kepada dosa dan kefasikan kita? No one can solve that problem, but Jesus.

Kalau kita mempunyai persoalan dengan seorang kaya, seberapa pun banyaknya hutang kita kepadanya, ada angkanya, ada desimalnya. Hutang kita tidak pernah menjadi hutang yang “limitless” tidak ada batasnya, bukan? Mungkin hutang itu begitu besar, kita tidak bisa membayarnya, tetapi paling tidak hutang itu masih ada limitnya, dua atau tiga juta dollar, misalnya. Dan ada orang masih bisa membayarkannya bagi kita. Tetapi pada waktu kita berhutang kepada Allah yang adil dan suci itu, hutang itu tidak ada batasnya dan tidak ada seorang pun mampu membayarnya. Hanya Yesus Kristus, Anak Allah sendiri yang mempunyai kuasa dan posibilitas untuk membayar lunas hutang kita kepada Bapa.

Betapa kita bersyukur kepada Tuhan, kita bisa percaya kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus. Jangan kecewa dan jangan sedih pada waktu kita ikut Tuhan kita mengalami betapa susah dan betapa sulit menjadi orang Kristen. Kita mungkin berdoa dan bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa Tuhan tidak menjawab doaku.” Mungkin engkau sedang mengalami persoalan dengan anakmu, mungkin dengan pekerjaanmu, mungkin ketika engkau menjadi orang Kristen, keluargamu mengucilkanmu, dsb. Hal-hal itu menjadi pergumulan yang real bagi banyak anak-anak Tuhan. Tetapi itu tidak boleh mengecilkan iman kita. Setiap kali kita datang kepada Tuhan kita senantiasa bersyukur karena di dalam nama Yesus kita boleh datang menghampiri tahta Allah yang agung, suci dan mulia. Kita tidak akan mungkin bisa memiliki hubungan yang indah denganNya kalau Anak Allah itu tidak mati bagi kita.

Paulus memulai argumentasinya dengan kalimat, “Sebab murka Allah nyata dari surga atas kefasikan dan kelaliman manusia.” Orang modern mungkin alergi dan terganggu sekali dengan kata “murka Allah,” the wrath of God, karena mereka berpikir God is love, God is not supposed to be angry, karena “angry” itu seringkali diasosiasikan dengan satu uncontrollable emotion, yang meledak keluar. Dan orang berpikir Allah kita juga seperti itu. Keliru kita memahami seperti itu karena kita sudah memasukkan konsep kemurkaan manusia ke dalam diri Allah. Pada waktu kita membaca bagian ini, Paulus jelas mengatakan, “Allah menyatakan kesucianNya, kebenaranNya, His truth, His righteousness, His holiness.” Lalu ayat 18 Allah juga menyatakan His wrath, murka dari surga. Maka semua aspek itu menjadi balance. Allah menyatakan murka di dalam kesucianNya, Allah murka di dalam kebenaranNya. Murka Allah bukanlah uncontrollable emotion tetapi reaksi kepada sesuatu yang melawan kebenaran dan kesucianNya. Maka pertanyaannya: siapakah yang sanggup bisa melepaskan kita dari murka Allah itu?

Maka ada tiga hal yang manusia berdosa lakukan. Pertama, manusia mencoba untuk berdalih excuses bahwa mereka tidak kenal siapa Allah. Di sinilah Allah murka kepada kefasikan dan kelaliman manusia. Kefasikan dan kelaliman itu adalah sikap hati manusia yang menolak keberadaan Allah dan menghina keberadaan Allah yang seharusnya menerima segala hormat dan kemuliaan dari mahluk yang diciptakanNya. Kefasikan itu dinyatakan dengan menolak eksistensi Allah di dalam sikap berdalih. Sebenarnya tidak ada satu orang manusia pun di atas muka bumi ini yang bisa berdalih dan bisa beralasan untuk tidak percaya Tuhan dan beralasan bahwa Tuhan tidak pernah menyatakan diriNya dan dia tidak tahu siapa Tuhan itu. Sebab di dalam ciptaanNya ini, jejak-jejak tangan Tuhan dan keindahanNya dan kehadiranNya tidak bisa dipungkiri oleh siapapun. Persoalannya mungkin adalah kita hanya mau melihat Dia sesuai dengan konsep kita dan pada waktu kita tidak melihat hal itu maka kita berpikir Allah itu tidak ada.

Saya memberikan analogi ini. Pada waktu kita berjalan di satu pulau yang tidak berpenghuni, kita berjalan di tepi pantai, lalu di pasir itu kita melihat ada jejak-jejak kaki. Meskipun kita tidak melihat ada orang di situ, kita percaya ada seseorang pemilik jejak kaki itu, bukan? Berdasarkan apa? Berdasarkan jejak kakinya. Yang susah adalah engkau sudah lihat jejak kaki itu, engkau tetap tidak mau mengaku ada orang pemilik jejak kaki itu dan tetap menuntut orang itu ada di depanmu baru engkau mau percaya.

Alkitab mengatakan “Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak daripadaNya yaitu kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya dapat nampak kepada pikiran dari karyaNya sejak dunia diciptakan sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Roma 1:19-20). Seluruh alam semesta ini menyatakan keberadaan Allah, manusia tidak bisa berdalih. Perkembangan ilmu pengetahuan astronomi dan science sendiri harus mengakui betapa “fine-tuned” alam semesta ini luar biasa. Sampai saat ini manusia berusaha untuk mencari apakah ada kehidupan di planet lain atau adakah kemungkinan manusia bisa hidup di luar dari muka bumi ini, tetap tidak bisa. Karena klausal ini tidak ada, yaitu kalau kita bisa menemukan kondisi alam semesta yang sanggup bisa menjadi “a life-sustainable environment” seperti bumi kita ini. Mungkin kita bisa tinggal di planet Mars, kemungkinan-kemungkinan ini sedang dicari, tetapi kita tahu ada satu hal yang tidak ada di situ adalah gravitasi dan ini adalah aspek yang sangat vital sekali, karena orang yang terlalu lama tinggal di luar angkasa akan mengalami pengeroposan tulang [bone-density] karena tidak ada gravitasi. Mereka yang melakukan berbagai eksperimen di angkasa luar, mencoba untuk melakukan aktifitas-aktifitas seperti yang dilakukan di bumi ini, misalnya melakukan hubungan seksual sebagai cara prokreasi untuk melanjutkan eksistensi manusia seperti itu. Tetapi intinya adalah sekali lagi, ada konsensus dalam hati di antara para scientist bahwa kehidupan seperti di atas muka bumi inilah yang harus di-replika di sana. Kenapa? Sebab semua alam semesta ini begitu fine-tuned sehingga membuat kehidupan itu bisa ada di atas muka bumi ini. Jarak matahari dengan bumi, kemiringan bumi yang begitu pas membuat siklus alam 4 musim bisa terjadi, expansion rate alam semesta begitu akurat, gravitasi bumi angka constant yang begitu pas, kalau kebesaran kita berjalan seperti melengket di atas tanah, kekecilan kita melayang, itu semua adalah aspek-aspek yang luar biasa. Baik itu scientist Kristen atau pun bukan Kristen, semua menerima fakta itu. Yang masih mereka perdebatkan adalah di balik semua design yang sempurna ini apa ada Allah yang membuatnya. Itu memisahkan manusia mau percaya atau tidak. Tidak ada buku lain di dunia ini selain daripada Alkitab kita, kalimat pertama muncul “In the beginning God created heavens and earth” (Kejadian 1:1). Pada mulanya Allah menciptakan surga dan bumi, yang non-materi dan materi; yang spiritual dan yang material, Allahlah yang menciptakannya. Kita tidak menemukan hal itu di dalam buku-buku kuno atau kitab suci yang lain. Fine-tuned itu menjadi “jejak kaki” Allah. Engkau tidak melihat keberadaanNya, tetapi kalau engkau memaksakan untuk melihat Dia lebih dulu untuk bisa percaya, itu adalah satu denial, karena jejak-jejak Allah ada dimana-mana, tinggal manusia membuka mata melihat baik-baik, menyelami lebih dalam. Mau bicara secara rasional, ada tiga pilihan: pertama, engkau ambil sikap “as it is” atau kedua, it is a chance of long process terjadi seperti ini atau ketiga, it is happened by design oleh satu Oknum yang maha bijaksana luar biasa. Kalau pilihanmu sampai kepada yang ketiga ini, maka Alkitab berkata itulah Allah yang kita percaya dan kita sembah.

Yang kedua, di ayat 23 Paulus berkata, “Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.” Lalu kita lihat ayat 28 “Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui.” Perhatikan dua reaksi ini: yang satu “mengganti,” yang kedua “tidak merasa perlu mengakui.” Dua respons ini mewakili reaksi manusia berdosa untuk tidak mau melakukan apa yang benar. “Mengganti” berarti Allah yang benar itu, Allah yang sejati itu digantikan dengan berhala dan patung-patung ciptaan yang lebih rendah. Manusia di situ mau menyembah Allah tetapi dengan merusakkan dan merubah konsep Allah yang benar dengan allah yang palsu. Itu yang kita sebut sebagai idolatry. Mau percaya akan Allah, mau menyembah Allah, tetapi allah yang di dalam konsepsi dia sendiri. Dan jalur kedua: manusia tidak merasa perlu mengakui, berarti tidak mau percaya adanya Allah, itulah Ateisme. Maka inilah dua arus besar di dalam sejarah manusia: Idolatry dan Ateisme.

Tetapi tidak berhenti sampai di situ, manusia kemudian menekan hati nuraninya yang menggugah dia: ada sesuatu yang di luar daripada diri kita yang harus kita sembah, lalu manusia membuat their own gods; menciptakan allah-allah menurut gambar diri sendiri. Dan sangat menyedihkan, kita baca di ayat 23 ini, firman Tuhan menuliskan derajatnya makin lama makin rendah. Menyembah gambar manusia, kemudan burung [di udara], binatang berkaki empat [di darat], lalu yang terakhir binatang yang paling bawah yaitu binatang melata [di tanah]. Sekaligus ini memberitahukan kepada kita terjadi degradasi dimana manusia rela menggantikan Allah itu sampai kepada aspek yang paling rendah dalam dunia ini. Intinya sederhana, bukan? Dalam Idolatry, manusia mau membuat allah yang seturut dengan kemauannya sendiri. Allah yang kepadanya saya minta, minta, minta, dan dia memberikan segala yang aku mau. Allah yang seperti itu yang orang mau, allah yang selamanya memberikan yang menjadi keinginanku. Allah yang tidak pernah menuntut apa-apa. Allah yang kepadanya kita berbakti dan selalu baik kepada kita. Itu adalah konsep yang manusia buat. Kalau allah itu tidak mau manusia menjadikannya seperti itu, maka manusia akan menjadikan dirinya sebagai allah. Itu adalah sikap manusia yang pertama setelah manusia menolak akan Allah, mengganti kebenaran akan Allah dengan gambar yang fana. Tetapi yang lebih menyedihkan, ayat 24-25 Paulus berkata “karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka, sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan dengan menyembah mahluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin!” Ayat ini memberitahukan kepada kita ketika manusia menolak Allah lalu kemudian menciptakan allah menurut dirinya sendiri, itu bukan sekedar jatuh kepada konsep intelektual, soal pengetahuan, tetapi memperlihatkan terjadi kerusakan kepada kehidupan etika mereka, jatuh kepada moralitasnya.

Roma 1 membukakan kepada kita pola pikir seperti ini. Kepada kondisi dan situasi seperti inilah Paulus membangun argumentasinya sampai kepada pasal 3 kepada satu kesimpulan tidak ada orang yang bisa escape dan luput daripada murka Allah atas segala kefasikan dan kelaliman mereka, dan hanya ada satu penawaran yang bisa menyelesaikan semua itu, yaitu di dalam Injil Yesus Kristus. Dialah Anak Allah yang mati di atas kayu salib menebus segala dosa kita. Dialah Anak Allah yang suci dan mulia, yang menjadi korban yang berkenan dan memuaskan murka Allah. Kita yang seharusnya menanggung murka dan kemarahan itu, tetapi Yesus Kristus datang dan menggantikannya bagi kita. Jikalau hatimu masih ragu dan bertanya-tanya mengenai Injil itu, kiranya hari ini engkau boleh diteguhkan. Kalau engkau sedang mencari Dia, kiranya firman Tuhan hari ini membukakan mata rohanimu, Ia tidak jauh darimu. Jika engkau memanggil Dia dan berkata aku ingin mengenalMu, Tuhan, Ia akan datang kepadamu.

Sungguh hati kita penuh dengan syukur, kita yang tadinya menolak Tuhan, pikiran kita yang tadinya gelap telah mendapatkan terang yang sejati itu, sehingga kita boleh mengenal Dia dan mempunyai keinginan untuk percaya kepadaNya. Hati kita boleh dibukakan oleh kuasa kebenaran Injil sehingga kita boleh menaklukkan diri di hadapan Allah dan menyembah Dia. Kita yang dahulu menyembah kepada uang, kita yang dahulu menyembah kepada kesuksesan diri, sampai akhirnya kita ditaklukkan oleh Injil Yesus Kristus dan mengakui hanya Dia yang patut kita puji selama-lamanya, Amin! Itulah sebabnya hari ini kita percaya Allah sanggup merubah hati yang sekeras apa pun juga. Kita percaya tidak ada jalan lain yang sanggup bisa mendatangkan perdamaian yang sejati terhadap kehidupan kita yang salah, kehidupan kita yang jauh dari Tuhan, kehidupan kita yang tidak percaya Tuhan itu hanya bisa dibawa berdamai di dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus.(kz)