Do not be Ignorant

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma [5]
Tema: Do not be Ignorant
Nats: Roma 1:13

“I do not wish you to be ignorant” (Romans 1:13).

Hari ini secara khusus saya mengajak sdr melihat satu frasa kalimat yang sangat penting dari rasul Paulus. Pendek sekali frasanya tetapi sangat menyatakan ungkapan isi hatinya yang terdalam. Dan saya rindu firman Tuhan ini boleh menjadi satu khotbah yang sangat intim antara saya sebagai gembala dengan jemaat ini. Tidak sering dan saya tidak pernah suka menggunakan mimbar untuk dua hal. Pertama, saya tidak memakai mimbar untuk bicara menjelek-jelekkan hamba-hamba Tuhan. Saya hanya bicara mengenai pengajarannya, namun saya tidak pernah menjelekkan hamba Tuhan. Dan saya tidak pernah menjelek-jelekkan hamba-hamba Tuhan di depan sdr supaya sdr pindah dari gereja itu. Dan saya tidak pernah mau mendengar orang menjelekkan hamba Tuhan di gerejanya yang dulu, lalu seolah-olah saya jadi senang. Saya tidak mau dan saya tidak pernah mau dengar yang seperti itu. Dan kedua, di mimbar, saya tidak pernah cerita-cerita hidup saya dengan story-story, mengenai masakan isteriku, mengenai keluargaku, dsb. Itu dua hal yang saya peka luar biasa. Kenapa? Karena setiap kali saya naik mimbar, saya selalu mengeksposisi firman Tuhan. Itu tanggung jawab saya di hadapan Tuhan.

Dalam Roma 1:13 Paulus dengan terbuka mengatakan, “I do not wish you to be ignorant,” aku tidak ingin kalian masa bodoh. Terjemahan dalam bahasa Indonesia lebih secara aspek positif “Aku mau supaya kamu mengetahui” namun terjemahan itu kurang tepat dan terjemahan dalam bahasa Inggris lebih akurat menerjemahkannya secara aspek negatif “I do not wish you to be ignorant.” Kenapa Paulus tidak menyatakan kalimat ini secara positif “Aku mau supaya kamu mengetahui” atau “Aku mau kasih kamu informasi”? Kenapa Paulus memakai bentuk negatif? Itu membuktikan bahwa kalimat Paulus ini menjadi satu teguran serius untuk meng-counter informasi negatif yang sudah sampai terlebih dahulu di Roma mengenai siapa Paulus sebelum Paulus datang. Frasa ini dalam bahasa Yunani ada dua kata “tahu” yang muncul yaitu “thelow” dan kata “agnoein” yang sama akar katanya dengan kata “agnostic” yang menyatakan sikap tidak mau tahu, ignorant. Dengan kalimat “I do not wish you to be ignorant,” dua hal muncul di sini. Pertama, bagaimana pun Paulus ingin menyampaikan satu informasi, kalau itu hanya sampai kepada “deaf ear,” tidak akan didengar. Dan dengan memakai kata “wish” itu berarti dia tidak punya kekuatan untuk membuat orang itu mau mendengar kalau memang dia tidak mau tahu.

Enam kali Paulus mengucapkan frasa yang sama di dalam surat-suratnya yang lain: 3x kepada jemaat Korintus (1 Korintus 10:1, 1 Korintus 12:1 dan 2 Korintus 1:8), 1x kepada jemaat Tesalonika (1 Tesalonika 4:13), dan 2x kepada jemaat Roma (Roma 1:13 dan Roma 11:25). Dalam suratnya kepada jemaat Tesalonika, Paulu menegur mereka dengan keras karena mereka sudah tutup telinga, tidak mau dikoreksi mengenai pengajaran yang salah. Sama seperti kepada jemaat Korintus juga Paulus menegur seperti itu. Yang kedua mereka tidak mau ditegur soal kehidupan moral mereka, sehingga dalam 1 Korintus 10 sangat jelas-jelas mengatakan, do not be ignorant! Jangan main-main sama Tuhan, karena sebagian besar orang Yahudi yang keluar dari Mesir mati tewas di padang gurun dan tidak masuk tanah perjanjian. Kemudian dalam 1 Korintus 12 dan 2 Korintus 1:8 Paulus pakai frasa ini untuk memberitahukan kepada mereka soal apa yang terjadi dengan kehidupan dia terhadap relasi dengan jemaat Korintus.

Kembali kepada surat Roma, 2x Paulus mengatakan frasa ini. Yang pertama di bagian depan, yaitu di Roma 1:13 ini dan di bagian belakang di Roma 11:25. Luar biasa sekali, kenapa Paulus menggunakan frasa ini di depan lalu kemudian mengulangnya sekali lagi di belakang? “Jangan menganggap dirimu pandai” terjemahan Indonesia menangkap nada teguran Paulus “you are so ignorant” dalam Roma 11:25. Dua kali frasa ini muncul dalam surat Roma menyangkut dua informasi yang keliru mengenai Paulus yang telah sampai kepada jemaat di Roma walau pun Paulus sendiri belum tiba. Informasi pertama adalah soal pelayanannya, atau secara spesifik soal keuangan yang dalam konteks sesudah surat 1 dan 2 Korintus Paulus tulis bicara mengenai pengumpulan uang dari gereja-gereja di Makedonia dan Akhaya untuk membantu saudara seiman di Yerusalem. Menyedihkan, jemaat Korintus yang di Akhaya menuduh bahwa Paulus mengumpulkan uang itu sebetulnya untuk diri sendiri sehingga mereka tidak mau mengumpulkan uang untuk proyek itu. Lalu yang kedua di Korintus Paulus kemudian juga dituduh bahwa dia bukan hamba Tuhan yang sejati dan meragukan keabsahan kerasulannya. Itulah yang saya percaya kemudian sampai di telinga jemaat Roma, sehingga Paulus perlu bicara mengenai otentisitas panggilan Tuhan bagi dia dalam Roma 1:1 “Aku Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.”

Paulus mengalami “defamation” atau pembusukan terhadap nama baik dan karakter yang luar biasa. Namun Paulus tidak berdiam diri menghadapi tuduhan dan fitnahan itu. Paulus perlu menjelaskan posisinya dan pembelaan dirinya menjadi prinsip firman Tuhan yang penting bagi gereja dan umat Tuhan bagaimana sepatutnya dan seharusnya mereka mendukung pelayan-pelayan Tuhan dan hamba-hamba Tuhan secara finansial. Dalam 1 Korintus 9:4 Paulus berkata, “Tidakkah kami mempunyai hak untuk makan dan minum? Tidakkah kami mempunyai hak untuk membawa seorang isteri Kristen dalam perjalanan kami seperti yang dilakukan rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas? Atau hanya aku dan Barnabas sajakah yang tidak mempunyai hak untuk dibebaskan dari pekerjaan tangan? Siapakah yang pernah turut dalam peperangan atas biayanya sendiri? Siapakah yang menanami kebun anggur dan tidak memakan buahnya? Atau siapakah yang menggembalakan kawanan domba dan yang tidak minum susu domba itu?” Di sini kita menemukan satu prinsip yang penting: kita wajib melayani dengan memberi balasan secara material kepada orang yang telah melayani kepada kita secara spiritual. Dalam 2 Korintus mulai dari pasal 8, 9, 10 dan 11 Paulus panjang lebar mempertahankan dan membela dirinya bahwa tidak ada satu sen pun uang yang dikumpulkan itu untuk dia ambil bagi kepentingan pribadinya. “Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu! Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorang pun, sebab apa yang kurang padaku dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia. Dalam segala hal aku menjaga diriku supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku akan tetap berbuat demikian” (2 Korintus 11:8-9).

Yang kedua, Roma 11 itu bicara mengenai pelayanan kepada orang non-Yahudi. Paulus dituduh sudah tidak lagi mencintai orang sebangsanya yaitu orang Yahudi karena dia tidak melayani orang Yahudi. Maka dalam Roma 9:1-3 Paulus menyatakan isi hatinya, “Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.” Ini adalah kalimat pernyataan yang sangat emosional karena jemaat telah salah mengerti dan menghakimi Paulus. Ketika Paulus tidak melayani orang Yahudi, bukan berarti dia menghina dan tidak peduli kepada orang Yahudi. Paulus jelas mengatakan visi and misi Tuhan memanggil dia adalah untuk melayani dan memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa yang bukan Yahudi tetapi bukan berarti dia tidak lagi mengasihi orang-orang sebangsanya. Paulus bicara mengenai limitasi keterbatasan pelayanan dia; pelayanannya tidak mungkin bisa mengerjakan semuanya. Maka dia mengatakan, berbeda dengan pelayanan Petrus yang dipanggil untuk melayani orang Yahudi, pelayanan Paulus adalah untuk melayani orang bukan Yahudi.

Di dalam Reformed theology ada yang disebut sebagai “the extra-ordinary minister” dan “the ordinary minister.” Rasul dan nabi adalah yang dimaksud dengan the extra-ordinary ministers, bukan berarti posisi mereka lebih tinggi dan lebih istimewa, tetapi bicara mengenai fungsi dan tanggung jawab mereka sebagai orang-orang yang Tuhan tempatkan dalam dua jabatan pelayanan yang memang Tuhan berikan sebagai orang-orang yang dipanggil Tuhan untuk meletakkan fondasi Gereja. Itu yang disebut dalam Efesus 2:20-21 dimana Gereja adalah “keluarga Allah yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.” Dalam Efesus 4:11-16 Tuhan memberi kepada gerejaNya jabatan dan karunia pelayanan tidak ada orang yang lebih tinggi dan lebih besar dan lebih penting, sebab Kepala Gereja hanya satu yaitu Yesus Kristus, dan Dia memimpin GerejaNya oleh firman Allah, dan firman Allah itu dipercayakan kepada mereka yang mengambil komitmen dan panggilan khusus dari Tuhan untuk melayani menjadi seorang hamba Tuhan. Ketika orang itu menerima panggilan menjadi seorang hamba Tuhan, itu adalah satu panggilan yang kita hormati dan hargai. Sudah pasti bahwa itu bukan panggilan dan profesi untuk memperkaya diri. Kalau pun ada satu dua orang yang mau menjadi hamba Tuhan atau mau duduk dalam pelayanan demi untuk mendapatkan keuntungan finansial, demi untuk mendapatkan kedudukan, demi untuk kekayaan, tetapi itu kita tidak boleh men-generalisasi bahwa itu motivasi dari semua orang yang mau menjadi hamba Tuhan dan melayani Tuhan. Pada waktu seseorang menerima panggilan itu, dia jelas tahu ini adalah sebuah panggilan untuk melayani Tuhan. This is a calling to sacrifice. Ini adalah panggilan untuk berkorban, bukan untuk kedudukan dan uang.

Selama Gereja ada maka Tuhan memberikan karunia-karunia, tetapi dari karunia-karunia rohani hanya ada 5 karunia yang bersifat “both” dimana itu adalah karunia spiritual gift dan sekaligus juga adalah karunia “jabatan.” Tuhan memberikan kepada GerejaNya: rasul, nabi, gembala, pengajar dan penginjil. To teach, to guide, to rule, to equip, to make the Church healthy, unity and mature, full of loving kindness, rapi tersusun to be a wonderful church to serve effectively for this world. Uniknya, Tuhan tidak pakai kata “jendral,” Tuhan tidak pakai kata “kapten,” atau kata yang lain, tetapi Tuhan pakai kata “pastor” to lead by serving. Dan itu adalah pelayan-pelayan yang kita hargai dan hormati di dalam gereja.

Pada waktu gereja bertumbuh dan semakin banyak, kita menyaksikan secara historis terjadi sesuatu ke-tidak-maksimal-an di dalam pelayanan, maka kemudian Tuhan memberikan bijaksana kepada gereja untuk memiliki supporting team dengan karunia-karunia khusus yang menjadi diaken di dalam gereja [lihat Kisah Rasul 6:1-6]. Maka di dalam sejarah gereja, entahkah itu gereja Baptis, gereja Presbyterian, ataukah gereja Congregational, maka gereja itu akan berjalan dengan dua apek ini: pelayanan firman dan doa, dan pelayanan “meja” oleh pastors, elders dan deacons.
Ada perbedaan antara Katolik dan gerakan Reformasi dimana gereja Katolik menempatkan pelayanan sakramen sebagai pelayanan eksklusif dari para clergy, yang hanya boleh dilakukan oleh para imam atau priest. Gerakan Reformasi mengatakan tidak demikian. Kita harus equip semua orang Kristen untuk fluently berkata-kata membawakan firman kepada orang lain. Tidak ada larangan di Alkitab bahwa orang awam tidak boleh berkhotbah dan menyampaikan firman dan bersaksi. Tidak ada di dalam Alkitab mengatakan bahwa orang awam tidak bisa melakukan baptisan kepada orang dan perjamuan kudus. Pada waktu kita membaca surat 1 Petrus 2:5, kita menemukan konsep “keimaman orang kudus” ini menjadi satu ayat yang penting bagi Martin Luther bahwa pelayanan itu bukan hanya eksklusif milik para imam. Maka keimaman orang percaya [the priesthood of all believers] berarti kita semua dipanggil oleh Tuhan directly bisa berdoa kepada Tuhan, directly bisa melayani Tuhan. Tetapi demi untuk kehati-hatian, maka Luther mengatakan yang memberikan perjamuan kudus adalah mereka yang di-ordained menjadi minister. Namun tidak berarti orang yang tidak di-ordained yaitu orang awam tidak bisa.

Lalu yang kedua, Paulus berikan visi kepada jemaat Roma bukan saja dia mau datang mengunjungi mereka tetapi dia akan melanjutkan perjalanan ke Spanyol. Meskipun rencana dan keinginan Paulus memang akhirnya tidak sampai tetapi visi ini penting untuk memberitahukan kepada kita melayani itu selalu harus melihat ke depan. Meskipun akhirnya kita tidak menjalankannya sekarang tetapi pasti visi itu akan tergenapi kalau kita taruh visi itu ke depan, bukan taruh ke belakang. Roma 15:26-29 “Sebab Makedonia dan Akhaya telah mengambil keputusan untuk menyumbangkan sesuatu kepada orang-orang miskin di antara orang-orang kudus di Yerusalem. Keputusan itu memang telah mereka ambil, tetapi itu adalah kewajiban mereka. Sebab jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi mereka. Apabila aku sudah menunaikan tugas itu dan sudah menyerahkan hasil usaha bangsa-bangsa lain itu kepada mereka, aku akan berangkat ke Spanyol melalui kota kamu.” Dan di ayat 24 Paulus menyatakan keinginannya “aku harap dalam perjalananku ke Spanyol aku dapat singgah ke tempatmu dan bertemu dengan kamu, sehingga kamu dapat mengantarkan aku ke sana, setelah aku seketika menikmati pertemuan dengan kamu.” Tujuan Paulus menyatakan hal itu adalah sebagai permintaan agar jemaat Roma men-support pelayanan dia ke Spanyol secara finansial. Paulus bicara kepada mereka soal kerinduan, rencana dan visi ini dengan memberikan konsep dan prinsip yang penting: kita yang sudah mendapat berkat Tuhan melalui firman Tuhan, kita memperoleh keselamatan jiwa yang kita tidak akan bisa ganti dan bayar dengan apapun. Tetapi melihat ada jiwa-jiwa lain yang belum dilayani, kita keluar uang sebesar apa pun tidak menjadi pengorbanan yang memberatkan kita karena ada niat hati dan kasih yang tulus. Maka Paulus kenapa perlu mengatakan kalimat ini, “I do not wish you to be ignorant.” Karena ada kemungkinan tuduhan jemaat Korintus telah beredar sampai di tengah jemaat Roma bahwa Paulus kumpul uang untuk diri sendiri, maka Paulus menegaskan sampai di Roma, mau pergi ke Spanyol, biar kamu yang lihat sendiri kesungguhanku, biar kamu lihat sendiri niat dan kasihku yang tulus bagi pekerjaan Tuhan, dan kamu lihat sendiri tujuan daripada pengumpulan uang untuk pelayanan ke Spanyol untuk pelayanan pekerjaan Tuhan dan pelebaran kerajaan Allah adanya. Ini adalah aspek yang penting, kepekaan dan bijaksana yang dibutuhkan oleh hamba-hamba Tuhan yang melayani. Orang-orang yang melayani Tuhan sangat membutuhkan dua aspek: nama yang bersih dan trust dari niat hati yang tulus. Sebagai seorang hamba Tuhan, bagi saya aspek trust [kepercayaan] antara jemaat kepada gembala tidak boleh tidak ada. Trust adalah aspek yang sangat penting. Banyak pekerjaan dan profesi yang membutuhkan aspek trust ini, tetapi bagi pelayanan di dalam kerajaan Allah, bagi seorang hamba Tuhan ini adalah aspek yang paling penting dan paling vital, absolutely necessary, dan essential. Jikalau orang sudah tidak punya trust lagi kepada hamba Tuhan, kepada gembalamu, orang tidak akan kasih uang persembahan di gereja ini. Sdr juga pasti tidak akan memberikan uang mendukung pelayanannya. Trust, itu hal yang luar biasa penting adanya.

Dalam 2 Korintus 8:16-24 Paulus mengutus Titus bersama dua orang lain yang tidak dia sebutkan namanya untuk menyertai Titus mengambil uang yang sudah dikumpulkan oleh gereja Korintus. Paulus bilang, “Syukur kepada Allah yang oleh karena kamu mengaruniakan kesungguhan yang demikian juga dalam hati Titus untuk membantu kamu. Memang ia menyambut anjuran kami, tetapi dalam kesungguhannya yang besar itu ia dengan sukarela pergi kepada kamu. Bersama-sama dengan dia kami mengutus saudara kita yang terpuji di semua jemaat karena pekerjaannya dalam pemberitaan Injil. Dan bukan itu saja! Ia juga telah ditunjuk oleh jemaat-jemaat untuk menemani kami dalam pelayanan kasih ini yang kami lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan sebagai bukti kerelaan kami. Sebab kami hendak menghindarkan hal ini: bahwa ada orang yang dapat mencela kami dalam hal pelayanan kasih yang kami lakukan dan yang hasilnya sebesar ini. Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan tetapi juga di hadapan manusia. Bersama-sama dengan mereka kami utus seorang lain lagi, yakni saudara kita, yang telah beberapa kali kami uji dan ternyata selalu berusaha untuk membantu. Dan sekarang ia makin berusaha karena besarnya kepercayaannya kepada kamu. Titus adalah temanku yang bekerja bersama-sama dengan aku untuk kamu; saudara-saudara kami yang lain itu adalah utusan jemaat-jemaat dan suatu kemuliaan bagi Kristus.” Paulus perlu mengutus tiga orang untuk mengambil uang yang telah dikumpulkan gereja-gereja Korintus. Kenapa? Karena Paulus ingin mencegah ada orang yang mencela dan memfitnah dia. Seperti yang dia katakan di atas, “Sebab kami hendak menghindarkan hal ini: bahwa ada orang yang dapat mencela kami dalam hal pelayanan kasih yang kami lakukan dan yang hasilnya sebesar ini. Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan tetapi juga di hadapan manusia.” Kalau kita melihat konteksnya setelah teguran Paulus kepada jemaat Korintus dalam 1 Korintus, sadarlah mereka bahwa apa yang telah mereka tuduhkan kepada Paulus itu tidak benar, maka dalam surat 2 Korintus kita melihat telah terjadi pengumpulan uang yang besar dari gereja-gereja Korintus ini karena Akhaya adalah gereja yang kaya dan keuangan besar luar biasa. Maka Paulus perlu mengutus tiga orang untuk mengumpulkan uang itu. Kenapa bukan Paulus sendiri yang mengambil uang itu? Paulus tidak mau, untuk menghindarkan tuduhan dan fitnah, suatu defamation of character yang menuduh dia mengumpulkan uang untuk dirinya sendiri.

Hari ini kita belajar dari kebenaran firman Tuhan untuk kita boleh bertumbuh menjadi pelayan Tuhan yang baik dan jemaat Tuhan yang mengasihi pekerjaan Tuhan. Pada waktu kita melihat setiap hamba Tuhan dan pelayan Tuhan yang lebih gampang dan mudah diserang oleh si Jahat dari luar, mari kita mendoakan kiranya Tuhan memelihara dan memimpin mereka supaya orang-orang yang dipercayakan Tuhan ini tidak jatuh di dalam keuangan, tidak jatuh di dalam tahta dan seksualitas yang bisa merugikan dan mencemarkan nama Tuhan. Kiranya Tuhan boleh memurnikan hati dan pelayanan setiap kita lebih indah dan setiap kita yang memiliki gembala-gembala kiranya kita mencintai dan mengasihi mereka yang melayani di tengah-tengah kita.(kz)