Bagaimana caranya mengusahakan pertumbuhan rohani seorang anak?

Q: Bagaimana caranya mengusahakan pertumbuhan rohani seorang anak?

A: Yang paling pertama adalah kita sendiri sebagai orangtua harus bertumbuh secara rohani sehingga kita dapat meneruskan nilai-nilai yang sudah kita yakini tersebut kepada anak. Ulangan 6:6-9 mengatakan, “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” Perhatikan, bahwa tugas utama orangtua adalah memelihara hubungan dengan Tuhan dan menghargai prinsip-prinsip Firman Tuhan dalam hatinya. Tidak akan membutuhkan waktu yang lama sampai orangtua menyadari bahwa ia membutuhkan pertolongan dalam membesarkan seorang anak. Hanya Tuhan lah yang mampu mengubah hati seorang anak, dan orangtua hanyalah alat yang Tuhan pakai di dalam prosesnya.

Beberapa orangtua berpikiran salah dengan mengandalkan pertumbuhan rohani anak kepada gereja, menganggap bahwa tugas mereka hanyalah mengantarkan anak ke sekolah minggu lalu menyerahkan sisanya kepada gereja. Gereja tentu mempunyai peranan dalam pertumbuhan rohani anak, tetapi tidak dapat menggantikan peran orangtua dalam meneruskan nilai-nilai rohani kepada anak. Bahkan sekalipun kita menyekolahkan anak kita di sekolah Kristen pun, kita sebagai orangtua tetaplah menjadi spiritual trainer yang utama bagi anak.
Keterbukaan kita di rumah akan banyak membantu memberikan pengalaman-pengalaman rohani kepada anak. Ambil waktu untuk berdoa bersama untuk tantangan yang sedang mereka hadapi, dan ucapkanlah syukur atas jawaban dari doa-doa yang dipanjatkan. Kita bisa berkata, “Mama kurang enak badan hari ini. Boleh tolong doakan Mama sebelum Mama berangkat kerja?” atau ”Papa doakan kamu dan ujianmu hari ini.” Beberapa keluarga hanya berdoa bersama saat menjelang makan atau sebelum tidur; tapi kita ingin anak-anak tahu bahwa Tuhan selalu ada kapan saja dan kita bisa datang kapan saja kepadaNya melalui doa.
Kita perlu menjadi kreatif dalam mengajarkan nilai-nilai untuk mendukung pertumbuhan rohani anak. Jika kita punya growth chart di balik pintu untuk mengukur tinggi badan anak, mungkin di sampingnya kita bisa buatkan chart untuk pertumbuhan dan perkembangan rohaninya; seperti kapan ia dibaptis, kapan perjamuan kudus pertamanya, dan saat anak mengambil kesempatan untuk membagikan Injil kepada orang lain, atau saat doanya dijawab oleh Tuhan.

Diskusi secara informal tentang Tuhan dapat membantu anak untuk melihat bagaimana mengaplikasikan iman nya secara nyata. Sediakan waktu juga untuk spiritual training yang sedikit “formal” namun tetap menarik/ fun. Misalnya kepada anak-anak yang masih kecil, kita bisa menceritakan cerita Alkitab di dalam wardrobe sambil menggunakan senter. Sedangkan kepada anak-anak yang sudah lebih besar, kita bisa gunakan science experiment sebagai ilustrasi.
Seorang ayah suatu kali bercerita kepada anak-anaknya, “Kita akan merebus 3 benda – wortel, telur, dan biji kopi. Kita akan melihat bagaimana panas mempengaruhi 3 benda tersebut dan bagaimana aplikasinya dalam hidup kita. Beberapa orang akan seperti wortel – menjadi lembek dibawah tekanan. Ada yang seperti telur – menjadi semakin keras memandang hidup. Namun ada juga yang seperti biji kopi – ketika terkena panas, malah menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitar menjadi lebih baik.” Mereka tertawa bersama membahas siapa saja orang yang mereka kenal yang hidupnya seperti biji kopi.
Beberapa hari setelah itu, anaknya pulang dari sekolah dan berkata pada sang ayah, “Aku seperti biji kopi, Pa.” Kemudian ia bercerita bagaimana anak ini mampu mengatasi masalah di sekolah dengan baik dan mengingat ilustrasi biji kopi yang direbus ayahnya beberapa hari lalu.
Kreatifitas terkadang menjadi suatu tantangan bagi kita. Mungkin kita tidak bisa selalu kreatif dalam menyampaikan nilai-nilai kebenaran. Namun yang paling utama adalah keterbukaan kepada anak-anak. Jika kita bertumbuh secara rohani dan membagikannya kepada mereka, itu akan memberikan dampak dalam hati mereka. Ingatlah bahwa mengajarkan nilai-nilai spiritual merupakan suatu keharusan. Itu bukanlah pilihan, melainkan bagian dari tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada kita sebagai orangtua. (msg)

Diambil dari buku The Christian Parenting Handbook, Turansky & Miller, 2013.