Always Caring Community

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Always Caring Community
Nats: Matius 9:36, Kisah Rasul 2:46, 1 Korintus 14:24-25

Minggu lalu kita merenungkan 6x frasa yang Paulus pakai di dalam beberapa suratnya, “I do not wish you to be ignorant.” Frasa ini muncul 1x dalam surat 1 Tesalonika, 2x dalam surat Roma, dan 3x dalam surat Korintus. Aku tidak mau engkau masa bodoh, kata Paulus. Sikap masa bodoh dinyatakan dengan menutup telinga tidak mau mendengar teguran; mendapat informasi yang keliru dan perspektif yang salah mengenai aku. Ini kalimat yang penting sekali menjadi prinsip bagaimana kita sebagai anak-anak Tuhan memiliki kepekaan dan sikap yang benar ketika kita mendengar satu “defamation” atau fitnahan yang tidak benar menjelek-jelekkan seseorang terutama kepada seorang hamba Tuhan, kita tidak boleh berdiam diri, apalagi menyebarkan dan makin menambah kejelekan pribadi orang itu tanpa kita menyelidiki kebenarannya.

Paulus dua kali mengatakan frasa ini kepada jemaat Roma (Roma 1:13, Roma 11:25). Kenapa? Karena ada dua isu yang Paulus hendak angkat. Isu yang pertama Paulus belum pernah ke Roma dan dia berjanji untuk datang mengunjungi mereka. Dalam Roma 1:13, Paulus berkata, “I do not wish you to be ignorant,” kemudian dia lanjutkan, “Aku telah sering berniat untuk datang kepadamu tetapi hingga kini selalu aku terhalang.” Ia mengatakan, telah berkali-kali dia berencana ke sana tetapi sampai saat itu selalu terhalang. Janji Paulus tidak pernah terjadi. Kalimat serupa Paulus juga katakan kepada jemaat Korintus, “Aku pernah merencanakan untuk mengunjungi kamu dahulu supaya kamu boleh menerima kasih karunia untuk kedua kalinya. Kemudian aku mau meneruskan perjalananku ke Makedonia lalu dari Makedonia kembali lagi kepada kamu supaya kamu menolong aku dalam perjalananku ke Yudea” (2 Korintus 1:15-16). Rencana ini Paulus paparkan dalam suratnya yang ke dua, karena Paulus kemudian mendengar rencananya yang belum kesampaian itu membuat jemaat Korintus bereaksi negatif. Reaksi yang negatif muncul dari jemaat Korintus ketika rencana Paulus untuk datang kepada mereka ternyata tidak terjadi, mereka kemudian menuduh Paulus “plin-plan,“ tidak bisa dipegang perkataannya, kalau berkata “ya,” pasti “tidak.” Paulus kemudian meng-counter tuduhan itu tidak benar adanya (2 Korintus 1:17-18). Apa yang terjadi, bagaimana perspektif mengenai diri Paulus dan perkataan Paulus kelihatannya telah sampai ke telinga jemaat Roma. Dengan menggunakan frasa negatif ‘I do not wish you to be ignorant,’ kita bisa menafsir berarti kabar-kabar yang telah sampai ke Roma adalah perspektif yang salah mengenai dia. Kita mengerti komunikasi pada waktu itu tidak mudah. Sekarang kita bisa dengan cepat mengklarifikasi jika rencana kita ada halangan, dsb. Tetapi di balik itu sebetulnya soal sikap hati. Orang mau diberi informasi yang banyak sekali pun kalau memang hatinya sudah salah menangkap diberi penjelasan bagaimana pun tidak mau terima.

Kedua, frasa itu muncul sekali lagi di dalam Roma 11:25, “I do not wish you to be ignorant,” nampaknya frasa ini adalah untuk men-tackle isu yang tidak langsung kelihatan, bicara mengenai tuduhan terhadap motivasi hati Paulus. Memang Paulus secara spesifik mengatakan mengenai pelayanannya bahwa Tuhan mengutus dia untuk pergi melayani orang non-Yahudi. Saya percaya kalimat ini membuat salah pengertian di antara orang-orang Yahudi yang membuat mereka kemudian menyebarkan gossip dan rumour lalu lantas menjadi tuduhan bahwa hati Paulus tidak care kepada orang Yahudi; bahwa dia tidak care dengan keselamatan orang Yahudi. Itulah sebabnya Paulus harus membongkar isi hatinya karena ini aspek yang tidak kelihatan, “Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani” (Roma 9:1-3).  Paulus mengungkapkan isi hatinya kepada jemaat Roma, seolah dia hendak mengatakan lihatlah isi hatiku, aku sungguh mengasihi dan mempedulikan orang Yahudi sebangsaku. Bahkan aku rela terkutuk dan kehilangan keselamatan bahkan terpisah dari Kristus kalau itu bisa menggantikan keselamatan mereka. Itu adalah satu pernyataan isi hatinya yang luar biasa sekali. Tidak bisa kita bayangkan kalau itu benar-benar terjadi, Paulus rela menerima hukuman dan terpisah dari Tuhan selama-lamanya. Tetapi itulah hati Paulus. Di situ kita bisa menyaksikan hal yang sangat menarik luar biasa. Passion, hati yang tergerak, outpouring yang begitu terbuka dari diri Paulus. Hal ini begitu menggugah hati saya. Bagaimana seorang yang melayani Tuhan bukan saja melakukan dengan setia tugas-tugas yang dipercayakan Tuhan kepadanya, tetapi membawa seluruh hati kepada apa yang dia lakukan di dalam ministry itu. Inilah yang juga menjadi isi hati Yesus yang dalam Matius 9:36, “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” Hati Yesus meluap-luap dengan berbagai emosi, rasa kasih sekaligus juga kasihan kepada orang-orang ini, yang bergolak dari dalam diriNya.

Kita mengikut Tuhan dan melayani Tuhan perlu aspek ini: satu jiwa yang murni, yang indah, yang ekspresif, yang penuh dengan passion bagi Tuhan. Ada empat hal yang saya rindu ada di dalam kehidupan kultur dan pelayanan kita di gereja ini. God-centred worship, satu ibadah yang berpusat kepada Allah; Christ-centred preaching, khotbah yang berpusat kepada firman Kristus; Disciple-making ministry, pelayanan yang membentuk murid-murid Kristus; dan Always-caring community. Hari ini saya mengajak kita melihat aspek ke empat ini berkaitan dengan passion dan compassion dari Yesus Kristus yang senantiasa perlu ada dalam kultur ministry kita. Kata “always-caring” adalah satu hal yang sangat penting sekali. Care bukan hanya dalam pengertian kita melihat pelayanan diakonia kepada orang yang miskin, orang yang tua atau orang yang kekurangan secara finansial. Kata always-caring berarti kita mau hati kita dengan otentik senantiasa memiliki compassion di dalam segala aspek. Mari kita coba memikirkan itu bukan hanya sebagai satu slogan tetapi menjadi satu identitas di dalam hidup dan pelayanan kita. Saya ingin bagaimana secara praktis kita bisa mengimplementasikannya dalam kehidupan kita berkomunitas, di antara jemaat satu dengan yang lain dan kepada orang-orang yang baru yang datang di tengah-tengah kita. Are we a welcoming community? Are we a caring community? Apakah gereja kita sungguh-sungguh menjadi sebuah komunitas yang menyambut dan mengasihi serta memperhatikan satu sama lain?

Namun sebelum sampai kepada hal praktis menjadi komunitas yang selalu care, kita perlu bertanya care dalam hal apa? Pertanyaan itu baru kita bisa jawab sesudah kita mengerti apa arti “gereja” dan apa arti “komunitas.” Gereja itu bukan gedungnya, gereja itu bukan strukturnya, gereja adalah orang-orangnya, people, community. Gereja adalah orang-orang yang berkumpul di dalam nama Tuhan Yesus. Yesus sendiri berkata, “sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Matius 18:20). Maka bukan soal berapa banyak orang yang berkumpul, tetapi adalah perkumpulan itu adalah dalam nama Yesus, itu yang menentukan komunitas gereja atau bukan. Jadi berbeda dengan perkumpulan arisan, berbeda dengan perkumpulan sosial apapun, karena dalam gereja Yesus hadir di tengah-tengahnya, itulah yang menjadikan perkumpulan gereja sebagai perkumpulan yang bersifat vertikal. Komunitas orang percaya yang mendengar dan berkata-kata tentang firman, yang berdoa dan “sharing the bread” [istilah “memecahkan roti” ini bukan berkonotasi hanya dalam sakramen perjamuan kudus, tetapi mengacu kepada persekutuan yang saling berbagi, saling menolong dan saling menguatkan. Alkitab mencatat dalam Kisah Rasul apa yang dilakukan oleh gereja mula-mula, “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati sambil memuji Allah” (Kisah Rasul 2:46). Itulah aktifitas-aktifitas yang dilakukan dari orang-orang ini. Maka point pertama, pada waktu kita memahami gereja dengan definisi seperti ini, kita mengerti pentingnya aspek welcoming dan caring kepada orang bukanlah aspek optional. Ini bukan soal spiritual gift atau karunia rohani seseorang; ini bukan karena orang itu punya personality yang ramah dan suka mendekati orang baru; bukan karena orang itu lebih extrovert, lebih terbuka dan lebih banyak bicara daripada yang introvert, bukan karena aspek-aspek itu semua. Dasar teologis dari aspek pelayanan ini adalah karena engkau dan saya sudah terlebih dahulu di-”welcome” oleh Allah sendiri. Karena Allah telah me-“welcome” kita masuk ke dalam rumahNya. Allah telah membuka pintu masuk kepada kita melalui Yesus Kristus yang telah menebus kita. Engkau dan saya sudah terlebih dahulu sudah diterima oleh Tuhan di dalam keberadaan kita apa pun, keselamatan itu adalah panggilan Allah yang telah menyambut engkau dan saya. Itulah sebabnya mengapa gereja harus menjadi sebuah gereja yang welcoming, sebuah gereja yang caring, sebuah gereja yang terbuka menyambut dan menerima orang yang datang ke dalamnya karena kita lebih dulu sudah di-welcome oleh Allah.

Secara praktis, kita bertanya: kalau kita baru pertama kali masuk ke sebuah gereja, apa yang membuat kita berkesan bahwa gereja itu adalah gereja yang welcoming? Kalau komunitas gereja kita tidak besar, begitu ada orang baru datang, langsung “spot on” sehingga disambut dengan ramah. Kita memang bisa merasakan sebuah gereja yang welcome karena jemaatnya ramah menyambutmu. Tetapi ini adalah hal yang subyektif, karena ada orang yang justru merasa tidak nyaman dengan sambutan orang yang terlalu hangat. Apalagi kalau yang menjadi penyambut adalah orang yang sangat “chatty” akhirnya kita merasa dibombardir oleh pertanyaan-pertanyaan dan kalimat-kalimat yang tidak putus. Dan memang gereja cenderung menaruh orang-orang yang “chatty” suka ngomong dan extrovert untuk menjadi penyambut di depan. Padahal bisa jadi orang yang introvert itu justru yang lebih cocok untuk menyambut dan menemani orang baru, dan orang-orang yang chatty itu seringkali malah just outgoing, hai apa kabar, tetapi sampai di situ saja. Orang baru kadang merasa orang itu kurang sungguh-sungguh dan hanya artificial hanya ramah di permukaan saja.

Ada survey menarik mengatakan orang datang ke satu gereja dan merasakan kehangatan itu bukan dari sambutan jemaat terhadap dia pada saat sesudah kebaktian berlangsung, tetapi justru pada waktu ibadah orang baru itu merasakan ekspresi ibadah yang begitu hangat dan intim antara orang-orang yang menyembah dan memuji Tuhan dan dalam doa-doanya, itu menjadi kesan yang dalam gereja ini adalah gereja yang hangat. Ini menarik sekali, karena survey itu memperlihatkan ada kehangatan yang bersifat “corporate” yang terjadi di dalam ibadah, itu yang membuat orang baru itu merasa gereja itu sebagai gereja yang welcoming. Itulah sebabnya bukan karena sambutan yang hangat yang membuat orang itu datang kembali ke gereja, tetapi waktu orang baru datang di tengah-tengahmu, menyaksikan ibadah dan kehangatan komunitas ini, adakah akhirnya akan membuat orang itu sujud menyembah Allah dan mengaku ‘sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu’? [lihat 1 Korintus 14:24-25]. Allah tidak kelihatan, lalu bagaimana mereka bisa mengaku Allah ada di tengah-tengah kita? Karena meskipun orang baru itu mungkin tidak kenal satu orang pun, tetapi waktu jemaat itu beribadah dan menyembah Allah, mereka menyanyi dengan hati yang hangat, sehingga walaupun mereka tidak bisa melihat Allah tetapi karena mereka “warm” sama Tuhan, orang itu mendapat kesan jemaat ini adalah jemaat yang ramah. Itulah yang membuat dia kemudian mengambil keputusan untuk datang lagi dan berbakti bersama-sama dengan jemaat ini, karena melihat kedekatan dan kehangatan kita dengan Allah karena itu adalah warmness yang terlihat di tengah-tengahmu toward God dan kepada orang-orang lain. Camkanlah itu karena itu adalah hasil survey dari orang-orang yang baru datang ke satu gereja dan itu menjadi masukan yang sangat baik sekali. Yang kedua, orang baru itu melihat betapa attentive dan eagerly jemaat itu mendengar dan menyimak khotbah yang disampaikan pendetanya. Mereka bisa melihat itu dari orang-orang yang mencatat khotbah, mungkin memberi respons ‘amen,’ dsb. Tetapi pada waktu dia melihat orang itu tidak perhatian, main hp, mengangguk-angguk karena mengantuk, waktu diajak bernyanyi sebagian besar tidak mau bernyanyi, waktu berdoa tidak ada passionate, dsb, dia bisa ambil kesimpulan yang berbeda. Dia bisa mengambil kesan ini adalah satu komunitas yang otentik merepresentasi sebuah gereja. Hal ini yang bagi saya menjadi satu keindahan yang penting dan perlu kita lihat sama-sama di dalam gereja kita.

Point yang kedua, pada waktu kita outpouring hati kita kepada orang lain, kita melayani orang lain dengan melakukannya dengan hati yang caring, tentu ada vulnerability pada waktu kita membuka diri, bukan? Dan sudah pasti kita tidak bisa caring kepada orang lain dengan step seperti itu, selalu pasti ada step-stepnya. Kita tidak mungkin membuka hati kita kepada orang lain kalau kita tidak trust kepada orang itu. Dan kita tidak langsung karena itu bisa soal ada level yang pertama sekali yang paling basic adalah komunikasi. Ketemu orang baru, biasanya kita langsung bertanya siapa namamu, padahal lebih baik kita memulai perkenalan itu dengan menyebutkan lebih dahulu nama kita sendiri. Dan perlu kita sadari kita bisa membuat orang itu risih jika kita belum kenal dia dengan baik tetapi kita sudah masuk kepada pertanyaan-pertanyaan yang terlalu personal. Misalnya, kepada perempuan jangan pernah bertanya, berapa umurmu. Kalau orang itu masih muda, mungkin kita bisa bertanya, di sini sekolah atau bekerja? Baru setelah orang itu melihat kita menyambut dia dengan genuine, maka level komunikasi itu makin berlanjut.

Aspek negatif yang pertama sebelum sdr approach orang baru adalah jangan bersikap ignorant dan jangan buru-buru mengambil kesimpulan apa pun terhadap orang itu. Assume nothing. Tidak boleh mengeluarkan negative thought terlebih dahulu dalam komunikasi. Kita terlalu gampang judge the book by its cover, bukan?  Begitu melihat penampilan orang itu, cara berpakaian atau cara bicaranya, di dalam kita berjumpa dengan orang dan berkomunikasi, kita tidak boleh berasumsi dan menilai orang itu sebelum benar-benar kenal dengan dia. Itu sebabnya Tuhan itu maha bijaksana, menciptakan bagi kita dua telinga dan satu mulut. Coba bayangkan kalau terjadi yang sebaliknya, muka kita seperti apa. Artinya, setiap kali berkomunikasi, cepat mendengar tetapi lambat berkata (Yakobus 1:19). Always listen atau mendengar lebih banyak dengan tanpa mendominasi percakapan. Itu yang membuat orang merasa di-welcome karena kita membawa percakapan dengan indah. Kita memakai kata-kata dengan bijaksana, kita tidak mengeluarkan gossip, kita tidak boleh “kepo” ingin mengetahui apa yang menjadi masalah orang. Karena kita berpikir kalau kita care, kita mesti tahu semua hal. Itu salah! Care tidak boleh invade personal space orang dan tidak boleh invade kepada personal responsibilities orang itu. Care tidak berarti kita mengambil alih persoalan orang itu. Seringkali ini yang salah di dalam pelayanan gereja. Kita mengatakan gereja itu tidak care karena tidak menolong menyelesaikan persoalan orang. Dan banyak orang ingin tanggung jawab dan kesulitannya diambil alih oleh gereja. Itu tidak benar. Care adalah kita menolong orang itu sehingga dia bisa menolong dirinya untuk bertanggung jawab bagi hidupnya. Karena itulah prinsip Tuhan kita Yesus Kristus. Maka ini prinsip yang penting sekali sehingga kita tahu ada batasan atau boundaries dalam kita berkomunitas. Pada waktu kita care kepada orang, kita memberi perhatian kepada dia, tetapi bukan untuk kita mengambil alih persoalan dia. Di situ kita menginginkan melalui pertolongan kita orang itu menjadi dewasa dan mature di dalam Tuhan dengan firman Tuhan, dengan nasehat, dengan bimbingan, kita mendorong dan memperlengkapi orang itu. Apa itu definisi mature? Alkitab mengatakan orang itu mature ketika dia memiliki discernment, mampu membedakan yang benar dari yang salah, yang baik dari yang jahat (Ibrani 5:14). Bisa hidup menjadi dewasa, bertumbuh dengan sehat, bisa memberikan sesuatu bagi orang lain sehingga bertumbuhlah kehidupan gereja itu dengan baik. Itulah bagian dari pemahaman kita mengenai gereja yang caring dan welcoming. Penting sekali kita berangkat seperti itu, kita mengerti, kita mendengar orang itu, lalu kita membawa orang itu di dalam doa kita. Bagi saya itu adalah hal yang sangat indah dan penting luar biasa.

Kita bersyukur bukan saja gembala dan hamba Tuhan mendoakan masing-masing jemaatnya, kita juga menyaksikan dalam gereja ini jemaat saling mendoakan satu sama lain. Saya bersyukur ada beberapa dari sdr punya “tabel doa” dimana sdr memasukkan nama orang-orang yang dekat denganmu dan mendoakan dia. Kadang-kadang ada yang memberitahu saya, PaE, hari ini saya membawa namamu dalam doaku. Itu adalah hal yang sangat indah. Itulah sebabnya saya sangat merindukan sdr berdoa untuk orang-orang di sektor bible study-mu satu persatu. Karena dengan mendoakan mereka berarti paling tidak kita pasti akan memikirkan orang itu. Itu adalah bagian daripada caring tanpa perlu mengatakannya kepada dia.

Dua aspek yang selanjutnya, know your church, kenallah gerejamu. Kita tidak akan mungkin bisa menjadi satu komunitas yang care kalau kita sendiri tidak mengetahui apa dan siapa komunitas gereja kita. Mungkin yang paling simple adalah sdr tahu alamat gerejamu ini, bagaimana menuju ke sini, naik bus nomor berapa, apa saja kegiatan dan jadwal ibadahnya. Know your church. You cannot become a welcoming church kepada orang baru jikalau kita sendiri ignorant. Kemudian, love your church. Do you love your church? What do you love about your church? And why do you think other people should love your church too? Ini pertanyaan-pertanyaan yang penting sekali. Ini adalah part dari sebuah gereja yang always-caring community. Ini lebih deeper daripada know your church, karena waktu orang bertanya kepadamu tentang gerejamu, mungkin waktu orang bertanya kepadamu siapa pendetamu, do you know him? Do you love him? Apakah engkau mengenal saya sebagai gembalamu dan mengasihi saya? Hal-hal seperti ini yang menjadikan kita satu komunitas yang caring satu dengan yang lain. Know your church, love your church, love the ministry yang kita lakukan sama-sama. Itu menjadi bagian daripada satu understanding apa artinya kita menjadi a welcoming church. Kita bersyukur kepada Tuhan untuk apa yang kita sudah renungkan hari ini. Kita rindu bagaimana pelayanan kita sungguh-sungguh menjadi satu gereja yang outpouring our heart untuk ministry. Di sinilah kita dipanggil untuk welcoming orang yang belum percaya Tuhan karena mereka potential menjadi saudara-saudari kita di dalam Kristus. Di sinilah kita care satu dengan yang lain, kita memecahkan roti sama-sama, kita mendukung satu dengan yang lain supaya mereka bertumbuh di dalam Tuhan. Dan kiranya orang luar melihat tingkah laku dan hidup kita yang otentik dan penuh dengan kehangatan, kasih mesra dan cinta Tuhan membuat mereka melihat Tuhan sungguh hadir di tengah-tengah kita.(kz)