Allah yang Adil, Allah yang Panjang Sabar

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma (6)
Tema: Allah yang Adil, Allah yang Panjang Sabar
Nats: Roma 2:1-16

“Sebab Allah tidak memandang bulu” (Roma 2:11).
“Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahanNya, kesabaranNya, kelapangan hatiNya? Tidak tahukah engkau bahwa maksud kemurahan Allah ialah untuk menuntun engkau kepada pertobatan?” (Roma 2:4).

Pada waktu seseorang mendengar hasil diagnosa dokter bahwa dia menderita penyakit yang sangat parah, maka kerapkali orang di dekatnya bilang coba cari second opinion, karena mungkin saja hasil diagnosa itu salah. Adakalanya memang diagnosa itu bisa keliru pada waktu tingkat kemajuan kedokteran di satu daerah tertentu mempunyai limitasi dan keterbatasan sehingga bisa memberikan diagnosa yang tidak akurat dalam hal seperti itu. Tetapi saya percaya tidak ada satu dokter pun yang mempunyai intention dan maksud untuk menakut-nakuti dan memberikan diagnosa yang sengaja dengan keliru, bukan? Memang sesuatu hal yang lumrah kalau hasil diagnosa itu dari negara terbelakang lalu ingin mencari second opinion dari sebuah negara yang lebih maju, sehingga bisa memberikan diagnosa yang lebih akurat. Tetapi di sisi yang lain di dalam hati ada penolakan untuk menerima assessment yang tulus dan jujur seperti itu, sehingga kita bisa menemukan sesuatu hal yang tidak logis terjadi adalah ketika seseorang didiagnosa sakit kanker atau satu penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara kedokteran dan diagnosa itu mungkin diberikan oleh negara yang sangat maju sekali teknologi kedokterannya. Lalu orang itu kemudian dengar sana-sini, lalu ingin mencari second opinion sampai ke tempat-tempat yang sama sekali tidak bisa dipertanggung-jawabkan mencari alternatif diagnosa yang sesuai dengan keinginannya. Sdr mungkin pernah berjumpa dengan orang seperti itu. Setelah mendapat diagnosa di Australia, tidak mau terima dan denial, lalu mencari second opinion ke desa di tempat terpencil. Di balik daripada sikap seperti itu bukan saja karena berpikir mungkin ada kekeliruan di dalam diagnosa tetapi sebenarnya terbersit dalam hati seseorang yaitu orang itu tidak rela menerima assessment yang jujur itu bagi hidup dia. Dalam aspek spiritual, inilah yang sering terjadi. Setiap kita memiliki jiwa pemberontakan seperti itu. Kita tidak mau terima dengan jujur, dengan tulus, dengan hati terbuka pada waktu sesuatu gambaran identitas diri kita itu dibuka apa adanya. Walaupun kita sudah ditebus oleh Yesus Kristus, walaupun kita sudah percaya Tuhan, we are sinners justified by God, sikap pemberontakan dan tendensi itu senantiasa tetap ada di dalam hati setiap kita. Dan kita harus menyadari itu karena itulah sifat daripada dosa. Menjauh, lari, menyerang dan melawan Allah yang suci dan benar, itu adalah esensi daripada dosa yang memberontak kepada Tuhan, sehingga manusia tidak akan pernah mau menerima dengan tulus dan jujur assessment dari Tuhan. Jangankan seorang nabi, jangankan seorang rasul, jangankan seorang yang “baik dan benar” menegur engkau, ketika Tuhan sendiri sekalipun yang memberikan assessment itu, manusia tetap tidak mau menerima, bahkan berdiri memberontak dan mengatakan dalam bahasa anak muda, “Kalo memang gitu, elu mau apa?!” itulah sifat dosa. Esensi pemberontakan yang ada digambarkan oleh sikap Adam dan Hawa pada waktu berdosa, mereka lari bersembunyi (Kejadian 3:8-11). Tetapi tidak ada tempat dimana kita bisa bersembunyi dari hadapan Tuhan, bukan? Itulah sebabnya mereka harus confess dan berkata “Tuhan, mendengar suara langkah kakiMu kami menjadi takut sebab kami telanjang.” Itu adalah sikap manusia yang berdosa, yang lari bersembunyi, sikap menjaga jarak, distant dan menjauh dari Tuhan karena kita tidak mau menerima apa yang dikatakan oleh Tuhan. Pada waktu akhirnya kita bisa menerima dan percaya kepada Tuhan, itu adalah pekerjaan Tuhan yang luar biasa menyadarkan kita bahwa kita adalah orang yang patut menerima penghukuman dari Tuhan dan hanya belas kasihan dari Tuhan yang membuat kita bisa diterima oleh Dia.

Salah satu penyebab kita merasa kehilangan kedekatan dan kehangatan dengan Tuhan, salah satu sebab yang mungkin menjadikan kita depresi dan tidak memiliki keindahan di dalam joyful sukacita kita bersekutu dengan Tuhan itu bukan karena Tuhan jauh daripada kita, tetapi ada dosa yang menghalangi kita dengan Tuhan. Dan keengganan seperti ini patut harus kita sadari karena itu adalah the nature of sin yang selalu menarik kita menjauh dari persekutuan dengan Tuhan. Jika kita bisa memiliki hubungan yang beres dengan Tuhan karena Yesus telah mati bagi engkau dan saya, itu adalah semata-mata anugerah dari pihak Allah. Tetapi lari mendekat Allah, itu adalah satu pilihan di pihak kita. Kenapa Abraham disebut “sahabat Allah” (Yakobus 2:23)? Karena pada waktu dia melihat Allah dari jauh, Abraham berlari mendapatkan Dia (Kejadian 18:2). Kenapa peristiwa di rumah Marta dan Maria (Lukas 10:38-42) menjadi penting sekali? Yesus ada di tengah-tengah mereka, di antara Marta, Maria, Lazarus dan murid-murid yang lain. Jarak Yesus dengan orang-orang ini sangat dekat. Marta ada di dapur sambil memasak makan malam buat Yesus dan semua tamu, mungkin juga mendengarkan Yesus. Murid-murid ada di ruangan itu makan minum dan bercakap-cakap. Tetapi Alkitab memberitahukan kepada kita, Maria duduk di dekat kaki Yesus. Tidak ada hal yang keliru dan salah di dalam hidup rohani kita, kita tahu Tuhan dekat dengan hidup kita, kita percaya kepada Dia, dsb. Tetapi adakah eagerness dalam hati setiap kita ikut Tuhan Yesus to pursue the closeness with God? Ingat dosa selalu berusaha menarik kita menjauh dari Tuhan dan untuk tidak memiliki kerinduan memiliki kedekatan dengan Tuhan. Dan pada waktu kita mendekat kepadaNya, kita lebih mengenal siapa Dia. Tidak ada yang salah dengan hidup sehari-hari kita berdoa kepada Tuhan, kita baca firman Tuhan, setiap minggu kita berbakti di gereja, kita bersyukur atas segala disiplin rohani yang kita lakukan. Tetapi kerinduan saya, datanglah mendekat dan bergaul karib dengan Tuhan. Buanglah semua hambatan dosa dan rintangan yang bisa membuat kita merasa tidak nyaman mendekat kepada Dia sebab kita tidak mau mengakui segala kelemahan dan kekurangan kita di hadapanNya. Dan saya percaya Tuhan kita tidak pernah mempunyai distant yang berbeda di dalam hidup engkau dan saya sebagai anak-anakNya. Namun apakah engkau mau bergaul erat dengan Dia, close to Him? Itulah yang menjadi vitalisasi di dalam hidup kerohanian kita masing-masing.

Dalam Roma pasal 1-2 Paulus meng-cover dua dimensi daripada kehidupan manusia. Yang pertama Paulus memperlihatkan esensi dosa itu menyentuh hidup dari mereka yang ada di luar hukum Taurat, mereka yang tidak bersentuhan dengan ajaran Yudaisme, mereka yang tidak bersentuhan hidupnya dengan hukum Allah yang diberikan melalui Musa. Itu adalah kelompok orang yang disebut oleh orang Yahudi sebagai orang-orang yang kafir [gentiles]. Paulus memberikan assessment terhadap kondisi keberdosaan orang-orang ini, “…walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya” (Roma 1:32). Meskipun mereka tidak punya hukum Taurat, mereka tahu, mereka mengerti apa yang benar apa yang salah, mereka mengerti setiap perbuatan salah mereka satu hari kelak pasti akan ada konsekuensinya, bahwa mereka patut dihukum mati. Mereka tahu hal itu. Bagi orang Yahudi ini adalah kelompok orang-orang yang memang akan dibinasakan oleh Tuhan.

Kemudian Roma 2 bicara mengenai kelompok orang Yahudi yang berkata bahwa mereka adalah orang yang percaya kepada Tuhan, yang merasa pasti hidupnya akan dibenarkan dan diselamatkan oleh Tuhan. Dalam bagian ini Paulus bicara mengenai sifat dosa yang tidak kelihatan, yang subtle, yang lurking, yang tersembunyi di bawah permukaan, dan itu bisa kelihatan daripada spirit kemunafikan yang judgmental dari hidup orang-orang Yahudi yang menganggap level rohaninya lebih tinggi daripada orang kafir. Maka di sini Paulus memberikan warning ini kepada mereka, “Karena itu hai manusia, siapa pun juga engkau yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain melakukan hal-hal yang sama” (Roma 2:1). Sifat dosa yang kedua yang Paulus angkat adalah jiwa yang berkedok agamawi di balik dari segala aspek eksternal yang kelihatan, dengan gambaran yang Yesus berikan dalam Matius 23:5 “Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang” dst. Demikian besar kesombongan dan arogansi orang Yahudi sehingga mereka setiap kali berdoa bersyukur mengatakan mereka tidak terlahir sebagai orang kafir, dsb. Ini adalah sikap self-righteous dari orang Yahudi yang merasa memiliki agama yang lebih superior daripada orang-orang bukan Yahudi.

Dalam Matius 15:1-20 kita bisa melihat konfrontasi antara Yesus dengan orang-orang Farisi yang judgmental secara eksternal tradisi. Mereka menegur Yesus dengan mengatakan, “Mengapa murid-muridMu melanggar adat-istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.” Yesus menegur balik, “Mengapa kamu justru melanggar perintah Allah demi adat-istiadat nenek moyangmu?” Kalau kita membaca seluruh hukum Taurat kita tidak akan menemukan aturan tentang ‘mencuci tangan sebelum makan’ karena ini adalah tradisi tambahan yang dibuat oleh ahli Taurat. Maka Yesus kemudian langsung menarik esensi merekalah justru yang telah melanggar hukum Taurat karena mereka tidak taat kepada hukum Taurat itu sendiri [hormatilah ayahmu dan ibumu]. Intinya adalah the spirituality of the heart, dari hati keluar segala sesuatu, bukan apa yang dilihat di luar yang menjadi penentu daripada kerohanian seseorang. Maka tidak heran Paulus memakai kalimat, “Sebab Allah tidak memandang bulu” (Roma 2:11). God does not show favouritism. Allah tidak membeda-bedakan entahkah itu orang Yahudi atau orang bukan Yahudi. Allah tidak melihat yang eksternal, apa yang kelihatan di luar, Allah melihat apa yang ada di dalam.

Bagian ini juga sekaligus menjadi membawa hati saya kepada sdr yang mungkin sedang mencari-cari kebenaran, mungkin engkau sedang melihat-lihat Kekristenan, mungkin engkau kecewa melihat hidup orang-orang Kristen sebab banyak orang Kristen yang hidupnya tidak seturut dengan apa yang diajarkan. Seperti Mahatma Gandhi yang berkata “I like your Christ, but I do not like you Christians. Christian had all the right answers and did a poor job of either living them out or promoting them. I would suggest first of all, that all of you Christians, missionaries, and all, begin to live more like Jesus Christ.” Mungkin engkau memiliki persepsi yang sama. Saya tahu ada begitu banyak orang yang hatinya merasa pahit melihat cara permainan licik orang Kristen di dalam usaha berbisnis dan prilaku dari orang-orang yang mengaku sebagai orang Kristen sebab tidak sedikit di balik kedok agama dan kerohaniannya orang memakai cara itu untuk membius dan mengelabui seseorang. Sehingga mungkin bisa keluar istilah “Senin sampai Jumat membohongi orang, Sabtu Minggu membohongi Tuhan.” Sebetulnya tidak ada orang yang bisa mengelabui dan membohongi Tuhan. Kepada orang-orang seperti itu, saya ingin katakan kepadamu hari ini, Allah orang Kristen adalah Allah yang tidak pandang bulu. Allah tidak punya favoritisme. Dan jikalau engkau sudah tersandung melihat contoh yang salah dari orang-orang yang mengaku diri Kristen, biar kiranya Allah orang Kristen menyadarkan dan membukakan mata hatimu, Allahku mengatakan dengan terus-terang kepada orang-orang yang memakai kedok keagamaan kerohanian sebagai orang Kristen tetapi hidupnya tidak pernah mau diubah oleh Tuhan, Ia adalah Allah yang menyatakan bagaimana Ia akan bersikap kepada orang-orang seperti itu. “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya” (Galatia 6:7-8).

Tetapi kita menemukan bahwa kedok keagamaan itu bagian yang sangat universal, yang tidak hanya jatuh kepada satu kelompok agama tertentu saja. Di dalam seluruh kehidupan manusia pada waktu bicara mengenai religion dan apa yang mereka percayai, manusia sanggup bisa menggunakan segala kedok seperti itu. The spirituality of heart or it is the spirituality yang hanya permukaan luar saja. Banyak orang Kristen kaget dan terganggu sekali pada waktu melihat orang berambut gondrong masuk ke gereja, ini mengherankan karena mereka tidak pernah terganggu melihat gambar Yesus yang juga berambut gondrong. Kenapa kita terganggu melihat orang yang bertato, atau yang memakai anting-anting dan menilai spiritualitas orang itu sampai dimana? Kita tidak boleh mengukur kedekatan seseorang kepada Tuhan diukur dengan penampilan eksternal dan kefasihan berbicara dan menghafal ayat-ayat Alkitab. Tidak heran kepada orang-orang Yahudi yang mengaku taat, yang hanya memperlihatkan kerohanian yang kelihatan aspek eksternalnya saja, Yesus mengatakan mereka membuat peraturan-peraturan yang mengikat leher orang padahal mereka sendiri tidak melakukannya. Yang berkata-kata indah, yang paling fasih mengutip ayat-ayat Alkitab, tetapi hidupnya tidak pernah diubah oleh kebenaran firman Tuhan, itu adalah kedok kerohanian keagamaan yang hypocrite.

Maka dalam bagian ini firman Tuhan mengangkat dua respons Allah terhadap orang-orang seperti ini. Pertama, Allah adalah Allah yang adil dan tidak memandang bulu. Kalau engkau pernah dikecewakan oleh orang yang mengaku Kristen, hari ini saya mengatakan kepadamu, Allah orang Kristen adalah Allah yang adil. Ia akan membalaskan segala perbuatan orang itu dengan keadilan dan kebenaranNya. Ia tidak mengadili orang-orang hanya dengan berdasarkan KTP-mu Kristen lalu Dia tutup mata. Allah orang Kristen tidak seperti itu. Tidak usah kecewa dan jangan benci kepada Kekristenan, justru percayalah kepada Allah orang Kristen yang maha adil, tulus dan jujur. Maka Paulus mengatakan di sini apakah engkau bisa melarikan diri di hadapan pengadilan Allah? Jangan pikir bahwa engkau adalah anak-anak Abraham maka Allah akan memperlakukan engkau dengan istimewa di situ. Ia adalah Allah yang adil. Ia akan membalas orang seturut dengan perbuatannya. Maka tidak akan ada yang bisa mengelabui dan menyembunyikan dosa dan kejahatannya dari hadapan Allah. Sebagai orang Kristen mari kita belajar jujur dan terbuka kepada Tuhan. Singkirkan sikap dan jiwa kita yang ingin menghakimi orang cepat-cepat sebab kita sendiri tidak luput pada waktu penghakiman itu juga menimpa kepada kita. Penghukuman Allah tidak akan memandang muka orang. Tidak akan melihat bajunya, tidak akan melihat jubahnya. Tidak akan melihat latar belakangnya apa dan Allah tidak akan diskriminatif. Tetapi Allah yang sama juga akan berespons dengan sikap yang kedua, Allah adalah Allah yang panjang sabar. Panjang sabar berarti Ia tidak bersegera menghukum pada waktu seseorang melakukan kesalahan, tetapi Ia memberikan kesempatan orang itu bertobat dan berbalik daripada kesalahannya. Tetapi panjang sabar Allah tidak boleh membuat kita akhirnya menganggap sepi kebaikanNya, ‘Oh, Allah tidak lihat,’ lalu kita bermain-main dengan dosa. Panjang sabar Allah mempunyai tujuan supaya kita mengalami pertobatan. Roma 2:4 “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahanNya, kesabaranNya, kelapangan hatiNya? Tidak tahukah engkau bahwa maksud kemurahan Allah ialah untuk menuntun engkau kepada pertobatan?” Pada waktu engkau bergumul dengan dosa-dosamu, ingat Allah adalah Allah yang panjang sabar, seolah-olah membiarkan kita lancar dan sukses di dalam banyak aspek, jangan kita takabur lalu kemudian kita bermain-main dengan kesabaran Allah. Panjang sabar dan kemurahan Allah hanya untuk satu tujuan yaitu memberimu kesempatan untuk datang kepadaNya, mengakui segala dosa-dosamu dan bertobat meminta pengampunanNya. Ia adalah Allah yang gracious and merciful. Penting sampai di sini sebab nanti sampai ke bagian belakang jangan sampai terjadi di ayat 16 “Hal itu akan nampak pada hari bilamana Allah sesuai dengan Injil yang kuberitakan di dalam Yesus Kristus akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi di dalam hati manusia.”

Setiap kita, yang mengikut Tuhan, yang melayani Tuhan, siapa pun dia, satu hari kelak kita semua akan meninggal dunia, dan pada waktu itu kita akan berdiri di hadapanNya. Dan pada waktu kita berdiri di hadapanNya, kita berdiri di hadapan Allah yang adil dan kita juga akan berdiri di hadapan Allah yang merciful itu. Tetapi bagi setiap kita yang terus menyembunyikan sesuatu dan kita pikir kita sanggup mengelabui Tuhan dari hidup kita, Paulus memberikan warning ini jangan sampai kita berdiri di hadapan tahta pengadilan Allah dengan terbuka terlepas semua selubungmu, dan kita kedapatan telanjang. Ketika kita semua berdiri di hadapanNya, kita bersyukur Alkitab memberitahukan kita bahwa kita mempunya Pengantara yang agung, Pembela kita yang sudah mati bagi kita, Ia telah menanggung semua dosa dan cacat cela kita. Ia adalah Yesus Kristus, yang dengan sempurna telah melakukan dengan taat semua perintah hukum Taurat dengan tidak berdosa. Ia layak menjadi Pembela dan Penebus setiap kita yang cacat dan berdosa di hadapan Allah. Namun pada waktu kita pikir di dalam kehidupan rohani kita, kita mengira bisa mengelabui Allah, sampai kita berdiri di hadapan tahta pengadilanNya kita tidak punya siapa-siapa menjadi pembela kita, itu adalah hal yang sangat menakutkan adanya.

Maka puji Tuhan, kita bersyukur kepada Tuhan, pasal 2 ini penting sebab pasal 2 ini adalah bagian yang mengangkat aspek ini bukan berarti dengan berbuat baik kita bisa masuk surga, tetapi Paulus hanya ingin mengatakan di sini, kalau betul-betul engkau percaya dengan berbuat baik dan melakukan hukum Taurat engkau bisa masuk surga, maka silakan lakukan sampai tidak ada satu hal yang terkecil yang tertinggal engkau lakukan dengan sempurna, baru engkau bisa masuk surga. Mungkinkah itu? Nanti sampai pasal 3 kita menemukan jawabannya tidak mungkin. Karena itulah sifat dosa: satu, dia bersifat memberontak melawan Tuhan, sekalipun sudah diberitahu dan diperingatkan, kita masih melawan Tuhan. Kedua, dosa itu lurking mengelabui orang. Maka di bagian ini Paulus mengatakan kita memiliki Allah yang adil dan penuh kemurahan, yang di dalam keadilan dan kemurahanNya Ia berinisiatif memberikan jalan keluar. Adil, Kristus mati bagi dosa-dosa kita. Merciful, melalui kematian Kristus kita yang percaya memperoleh hidup yang kekal.

Bersyukur untuk Allah kita yang besar dan agung dan mulia yang sedang berbicara sebagai Bapa yang penuh kasih yang tidak memandang muka dan menuntun setiap anakNya satu persatu. Kita datang kepadaNya memiliki kerinduan untuk dekat dan intim selalu dengan Tuhan. Jangan sampai ketakutan kita karena dosa dan kesalahan kita membuat kita enggan mendekati Tuhan. Jangan sampai kita menyembunyikan kesalahan dan dosa sehingga kita kehilangan sukacita berdekat dengan Tuhan. Kiranya setiap kita mendapatkan berkat dari firman Tuhan. Ingatkan Bapa yang penuh kasih adalah Bapa yang adil kepada setiap kita, Ia tidak pernah membiarkan setiap kesalahan yang kita simpan itu tidak Ia angkat dan nyatakan karena Ia sayang kepada setiap kita. Kita berdoa bagi orang-orang yang salah mengerti mengenai Kekristenan, yang salah mengerti akan Allah dan Injil Yesus Kristus, kiranya hari ini hati mereka diluruskan dan mereka bisa mengenal Allah yang sejati yang diberitakan oleh firmanNya sehingga mereka boleh mengenal dengan benar.(kz)