Ketika Rencanamu Gagal di tengah jalan

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma [3]
Tema: Ketika Rencanamu Gagal di tengah Jalan
Nats: Roma 1:6-15

Roma 1 adalah satu pendahuluan dari surat Paulus kepada jemaat Roma yang begitu indah, satu bagian yang begitu limpah dan kaya dan menjadi prinsip-prinsip yang begitu penting kita pegang bagi hidup kita sebagai anak-anak Tuhan. Dua seri khotbah dan khotbah hari ini selama 3 minggu saya kaitkan dengan tema besar bicara mengenai rencana kehidupan kita, apa yang kita planning dalam hidup kita dan memahami rencana Allah dalam hidup kita. Kita sudah mengangkat topik bicara mengenai bagaimana kita melihat rencana kita itu di dalam kedaulatan Allah. Hari ini saya ajak sdr melihat bagaimana reaksi hidup kita kepada rencana hidup kita pada waktu semua yang kita sudah pikirkan, semua yang kita sudah atur, semua yang sudah kita rencanakan itu batal, tidak sampai, gagal semua? Mungkin berbagai reaksi muncul berkecamuk di dalam hati kita.

Ada keluarga merencanakan pernikahan anak gadisnya yang bungsu, mereka sudah menyebarkan undangan, menyewa tempat pesta dan mempersiapkan segala sesuatu bagi pernikahan itu. Namun pagi hari, saat anak gadis ini sedang di mobil pengantin dalam perjalanan menuju ke tempat pemberkatan, calon suami tiba-tiba menelpon dan menyatakan batal. Ada orang berencana membeli rumah, bertahun-tahun mengumpulkan uang, rumah yang diidamkan sudah siap semua, tiba-tiba terjadi sesuatu yang tidak terduga, mama membutuhkan biaya yang sangat besar untuk operasi, anak mengalami sakit keras, pekerjaan dan bisnis tiba-tiba gagal dan merugi, semua menjadi sulit luar biasa. Ada orang berkeinginan dan berencana untuk pergi jalan-jalan ke luar negeri, sudah kumpul uang dan beli tiket, lalu tiba-tiba terjadi sakit dan kecelakaan, semua rencana itu akhirnya buyar. Ada hamba Tuhan berkeinginan dan berencana untuk membuka satu pelayanan, tetapi akhirnya tutup dan tidak bisa jalan. Ada gereja membangun satu gedung, rencana buyar semua karena surat ijin tidak keluar-keluar. Itu hal-hal yang bisa terjadi dalam hidup kita sehari-hari dan dalam pelayanan gereja. Pada saat-saat seperti itu, bagaimana reaksi hatimu?

Bagian firman Tuhan Roma 1 mengajak kita melihat bagaimana sepatutnya sebagai anak Tuhan kita bersikap di dalam seituasi itu. Di awal surat ini Paulus menyatakan berkali-kali dia berencana ke Roma untuk mengunjungi jemaat di sana, tetapi selalu rencana itu terhalang (Roma 1:13). Paulus kembali menyatakan hal yang sama di bagian akhir dari surat ini (Roma 15:23-33) dimana kita melihat konteksnya dengan lebih jelas, mengapa Paulus terhalang. Dari situ kita mendapatkan beberapa prinsip teologis bagaimana Paulus melihatnya dengan satu sudut pandang dan perspektif yang sepatutnya dan bagaimana prinsip itu kita terapkan dalam hidup kita.

Paulus berencana tetapi terus terhalang. Terjemahan Indonesia masih lebih netral di dalam menerjemahkan kata ini, tetapi kalau kita melihat dalam terjemahan lain, ini bukan sekedar halangan tetapi jelas ada ancaman, ada hambatan, dimana Paulus dicegah oleh sekelompok orang untuk tidak pergi ke Roma. “Itulah sebabnya aku selalu terhalang untuk mengunjungi kamu. Tetapi sekarang karena aku tidak lagi mempunyai tempat kerja di daerah ini dan karena aku sudah beberapa tahun ingin mengunjungi kamu, aku harap dalam perjalananku ke Spanyol aku dapat singgah ke tempatmu dan bertemu denganmu sehingga kamu bisa mengantarkan aku ke sana setelah aku seketika menikmati pertemuan dengan kamu. Tetapi sekarang aku dalam perjalanan ke Yerusalem untuk mengantarkan bantuan kepada orang-orang kudus sebab Makedonia dan Akhaya telah mengambil keputusan untuk menyumbangkan sesuatu kepada orang-orang miskin di antara orang-orang kudus di Yerusalem…” (Roma 15:22-26). Di sini Paulus menyebut dua daerah: Akhaya dan Makedonia. Akhaya mengacu kepada jemaat Korintus, sedangkan Makedonia mengacu kepada jemaat Filipi. “Aku akan datang kepadamu sesudah aku melintasi Makedonia, sebab aku akan melintasi Makedonia. Dan di Korintus mungkin aku akan tinggal beberapa lamanya dengan kamu atau mungkin aku akan tinggal selama musim dingin, sehingga kamu dapat menolong aku untuk melanjutkan perjalananku” (1 Korintus 16:5-6). Dari sini kita mendapat gambaran yang lebih jelas, yaitu Paulus pergi mengunjungi gereja-gereja di Makedonia, lalu dia lanjutkan ke gereja-gereja di Korintus untuk mengumpulkan bantuan uang bagi jemaat di Yerusalem. Kita tahu waktu itu pelayanan betapa tidak mudah, uang tidak banyak, sehingga sekali jalan Paulus ingin sekaligus ke beberapa tempat. Maka sesudah dari Yerusalem, Paulus akan melanjutkan ke Roma dan tidak saja sampai di Roma, Paulus berencana untuk melanjutkan perjalanannya ke Spanyol. Paulus berencana datang ke Roma dengan membeli tiket sendiri, sebagai orang yang bebas, namun kita tahu belakangan rencana dan kehendak Tuhan baginya, dia bisa tetap pergi ke Roma, tidak usah beli tiket sendiri, tetapi sebagai tawanan. Paulus tetap sampai ke tujuan, dan juga akhirnya dia sampai dengan dikawal tentara sehingga tidak perlu digebuki di tengah jalan (Kisah Rasul 28:11-16, 30-31). Kita tentu mau rencana itu terjadi sesuai dengan keinginan kita, tetapi terkadang ada hal-hal yang tidak terduga bisa terjadi. Kepada jemaat di Roma, Paulus bilang aku berencana, tetapi kehendak Allah yang terjadi, doakanlah semoga satu waktu aku bisa mengunjungi kamu sehingga kita bisa saling bertukar buah-buah rohani. Jemaat Roma mengerti dan mendoakan. Tetapi waktu sampaikan hal yang sama kepada jemaat Korintus, reaksinya sangat berbeda dan bertolak belakang. Bagaimana reaksi jemaat Korintus? Dalam 2 Korintus 1:16-18 Paulus menulis, “Kemudian aku mau meneruskan perjalananku ke Makedonia, lalu dari Makedonia kembali lagi kepada kamu, supaya kamu menolong aku dalam perjalanku ke Yudea. Jadi adakah aku bertindak serampangan dalam merencanakan hal ini? Atau adakah aku membuat rencanaku itu menurut keinginanku sendiri sehingga padaku serentak terdapat “ya” dan “tidak”? Demi Allah yang setia, janji kami kepada kamu bukanlah serentak “ya” dan “tidak.” Di sini Paulus tidak memberikan banyak informasi kenapa dia terhalang untuk datang, dan terlalu banyak halangan itu, dan Paulus tidak mau menyebutkan halangan-halangan itu. Kalau kita membaca Kisah Rasul, kita akan menemukan betapa luar biasa halangan-halangan yang datang ke dalam hidup dan pelayanan Paulus waktu itu. Kisah Rasul menyebutkan Paulus dicegah oleh Roh Kudus kalau Paulus pergi ke Yerusalem, kesusahan besar akan menimpanya. Tetapi Paulus tetap ambil keputusan untuk pergi ke Yerusalem karena itu adalah janjinya dari awal untuk membawa uang yang sudah dikumpulkan dari pelayanan Injil dari orang-orang non Yahudi untuk kemudian dibawa kepada the mother church di Yerusalem karena itu adalah jemaat yang lebih miskin dan kurang. Tetapi dalam perjalanan menuju ke situ, bencana besar akan menimpanya, tetapi Paulus tidak memberitahukan hal itu kepada jemaat. Jelas waktu itu sarana komunikasi sangat terbatas untuk menjelaskan situasi yang sedang dia hadapi dan kondisi hidupnya yang berubah seperti ini tidaklah mudah adanya. Tetapi bagi saya minimnya informasi tidak perlu membuatmu salah tangkap dan curiga, kalau engkau trust dan percaya kepada orang itu, bukan? Sebaliknya, diberi informasi yang banyak sekali pun, kalau hati kita tidak melihat dengan perspektif yang benar, maka semua menjadi salah sangka dan bahkan informasi itu bisa diputar-balik menjadi amunisi untuk menyerang orang itu. Paulus bilang kepada jemaat Korintus, reaksi mereka adalah menuduh Paulus kalau bilang “ya” artinya “tidak,” dan “tidak” artinya “ya.” Terjadi penyerangan dan character assassination kepada Paulus. Mereka menganggap Paulus orang yang tidak bisa dipercaya, plin-plan, suka mengumbar janji kosong, dsb. Padahal semua hambatan itu di luar kontrol Paulus, karena dia terhalang. Akhirnya dia perlu tulis surat Korintus yang panjang lebar sangat personal.
Reaksi hati seperti itu akan terjadi pada waktu hati kita egois dan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Kita hanya mau semua yang baik terjadi dalam hidup kita dan kita tidak bisa terima jikalau ada “hiccups” di dalam perjalanan hidup kita. Kita langsung akan bisa menyalahkan anak kita, menyalahkan isteri kita, menyalahkan papa mama kita, kita bisa langsung menyalahkan situasi kita. Bahkan bukan itu saja, kita bisa menyalahkan Tuhan. Itulah reaksi jemaat Korintus.

Bukan berarti surat Roma lebih penting daripada surat Korintus, dua-duanya adalah firman Tuhan yang berharga. Tetapi sdr bisa lihat, kepada jemaat Roma, Paulus bisa bicara mengenai misi global, Paulus bisa bicara betapa luar biasa kuasa Injil, Paulus bisa bicara mengenai panggilan dan pilihan Allah di dalam keselamatan, Paulus bisa bicara tentang berbagai aspek aplikasi hidup sebagai orang percaya Tuhan, dan masih banyak dan panjang lebar Paulus bicara aspek-aspek lain. Tetapi Paulus tidak bisa bicara semua itu kepada jemaat Korintus seperti kepada jemaat Roma, meskipun kita bersyukur pada waktu gereja mengalami masalah, kita bisa mendapat prinsip dari surat 1 & 2 Korintus, karena di situ banyak sekali Paulus membicarakan aspek-aspek masalah yang dihadapi oleh gereja Korintus.

Di surat Roma Paulus cuma bicara 3 kalimat bicara bagaimana prinsip memberi persembahan. “Aku datang agar di tengah-tengahmu aku menemukan buah, seperti juga di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi yang lain” (Roma 1:13b), lalu “Sebab jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi mereka” (Roma 15:27), yang ketiga, “Saudara-saudaraku, aku sendiri memang yakin tentang kamu, bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan dan dengan segala pengetahuan dan sanggup untuk saling menasehati. Namun karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima Allah sebagai persembahan yang berkenan kepadaNya” (Roma 15:14-16). Tetapi begitu kita membaca surat Korintus, Paulus perlu bicara 4 pasal panjangnya mengenai persembahan dari pasal 8, 9, 10 dan 11. Di pasal 9:1 Paulus mengatakan, apakah masih perlu sekali lagi menjelaskan kepadamu tentang pelayanan persembahan? Seharusnya tidak perlu lagi. Di pasal 10-11 Paulus sampai harus menjelaskan persembahan itu tidak dia ambil buat dirinya sendiri. Berarti ada kemungkinan jemaat ini menyebarkan gossip dan kesan buruk terhadap Paulus soal motivasinya mengumpulkan persembahan itu. Mereka ribut bicara soal-soal yang kecil dibesar-besarkan, mereka bicara soal perjamuan kudus yang akhirnya perlu Paulus tegur dengan keras karena sangat selfish dan duniawi. Mereka judgmental dan saling menghakimi satu sama lain, mereka saling iri melihat orang punya karunia ini dan itu. Sangat menyedihkan mereka tidak melihat bahwa Paulus memang benar-benar terhalang dan tidak bisa menggenapi rencananya mengunjungi mereka, itu adalah kehendak Allah. Paulus tidak dapat mengontrol situasi itu. Paulus mengekspresikan emosinya dengan begitu jelas dalam 2 Korintus 2:4, “Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua.” Kita sulit membayangkan Paulus sampai menangis setengah mati di sini. Bagi jemaat-jemaat yang lain, yang di Makedonia, yang di Roma, Paulus bilang mari kumpulkan persembahan uang bantuan bagi jemaat Yerusalem, langsung mereka support dan jalankan. Tetapi waktu sampaikan hal yang sama kepada jemaat Korintus, reaksinya sangat berbeda dan bertolak belakang.

Jemaat Korintus menuduh Paulus orang yang tidak bisa dipercaya omongannya. Itulah sebabnya Paulus tulis suratnya dalam kesedihan, “Hai orang Korintus! Kami telah berbicara terus terang kepada kamu, hati kami terbuka lebar-lebar bagi kamu. Dan bagi kamu ada tempat yang luas dalam hati kami. Tetapi bagi kami hanya tersedia tempat yang sempit di dalam hati kamu. Maka sekarang supaya timbal-balik – aku berkata seperti kepada anak-anakku – bukalah hati kamu selebar-lebarnya!” (2 Korintus 6:11-13). Paulus memanggil mereka membuka mata hati mereka lebar-lebar, melihat dengan berbagai sisi dan perspektif. Dengan melihat seperti itu membuat hati kita lebih sehat dan lebih dewasa.

Sebagai anak-anak Tuhan, janganlah kita mempunyai perspektif yang terlalu kaku dan sempit. Jangan menghabiskan energi untuk mempersoalkan hal-hal yang sepele seperti jemaat Korintus ini, sehingga kita tidak bisa melihat satu perspektif yang lebih indah di dalam semua hanya karena hati yang sempit luar biasa. Paulus mengingatkan itu di sini. Hatiku terbuka lebar dan luas bagimu, tetapi hatimu sempit sehingga kami tidak punya tempat di situ. Sehingga meskipun Paulus memberi informasi yang komplit sekalipun, semua bukan membuat mereka menjadi jelas dan mengerti, tetapi makin menjadi keliru dan salah. Hal itu terjadi karena mereka mempunyai hati yang tidak bijaksana yang tidak berasal dari atas, dari surga. Jemaat itu terus egosentik, hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, sehingga pada waktu Paulus tidak jadi datang mereka marah luar biasa. ‘Kita lagi banyak masalah di sini, Paulus koq malah tidak datang?!’ Maka terpaksa Paulus jelaskan panjang lebar kepada mereka. Pada waktu perspektif kita jelas dan baik, pada waktu kita mengerti pekerjaan Tuhan, semua informasi itu dibuka lebar-lebar tidak akan mendatangkan pembicaraan yang negatif, dan tidak menjadi amunisi untuk mencari-cari kesalahan dan kekurangan. Tetapi sesuatu ditutup-tutupi bagaimana pun kalau memang hati orang itu merasa curiga, maka akan terus dikorek-korek dan menjadi gossip. Jadi belajar melihat dari satu perspektif yang besar dan luas.

Kedua, di tengah hal-hal yang tidak terjadi, kita perlu menyatakan reaksi yang sehat, relasi timbal balik. Relasi yang timbal balik itu indah luar biasa, seperti yang Paulus nyatakan kepada jemaat Roma, “Aku berdoa semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu. Sebab aku ingin memberikan karunia rohani guna menguatkan kamu, yaitu supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku” (Roma 1:10-12). Seolah Paulus mengatakan, aku datang kepadamu membawa “buah tangan” dan nanti kita bertemu, kamu juga memberi saya “buah tangan.” Itulah relasi timbal balik terjadi di antara orang yang dewasa dan sehat. Saya merindukan kita menjadi sebuah gereja yang sehat. Sehat bukan berarti sempurna. Di dunia ini tidak ada gereja yang sempurna dan kita tidak akan mungkin bisa menjadi gereja yang sempurna. Tetapi kita harus memiliki keinginan untuk menjadi gereja yang sehat. Sehat itu penting. Gereja yang sehat akan memiliki relasi yang sehat, seperti yang Paulus katakan, ada relasi timbal balik. Take and give.

Ketiga, Paulus berkali-kali tekankan: kita membuat rencana, tetapi kiranya kehendak Allah dan panggilan Allah, kedaulatan Allah yang terjadi. Bagian ini begitu menyentuh hati saya karena kita bisa merasakan keintiman relasi Paulus dengan jemaat Roma ini, meskipun mereka belum pernah ketemu secara fisik, tetapi Paulus bisa menyatakan isi hatinya kepada mereka, dan juga membukakan perspektif yang besar bagi jemaat ini bagaimana takluk dan trust kepada rencana, kehendak dan kedaulatan Allah karena nanti dalam surat Roma ini ke bagian belakang, Paulus akan bicara mengenai msteri kedaulatan Allah bekerja bagi keselamatan kita, dan itu aspek yang lebih dahulu terjadi di dalam hidup dia.

Kalau apa yang engkau rencanakan gagal, mungkinkah hatimu tetap bisa tidak mempersalahkan orang lain, tidak mempersalahkan situasi dan tidak mempersalahkan Tuhan? Adakah dalam situasi seperti itu engkau tetap bisa take and give, walaupun kurang engkau tetap berbagi berkat kepada orang lain? Apakah engkau bisa melihat hal itu sebagai panggilan Allah dan kehendak Allah? Dua kali Paulus mengatakan, “engkau telah dipanggil menjadi milik Kristus; engkau telah dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus” (Roma 1:6-7). Paulus kagum bagaimana Tuhan berkarya kepada jemaat Roma ini; bagaimana Injil bisa sampai di situ di dalam jangka waktu yang tidak panjang, betapa luar biasa! Meskipun Paulus belum pergi ke Roma, tetapi Injil sudah tiba di tengah-tengah mereka. Itu karena apa? Karena pekerjaan Allah yang luar biasa. Dan karena Tuhan yang panggil, tidak ada orang yang bisa cegah; kalau Tuhan yang berkehendak, tidak ada orang yang bisa menghalangi. Di situlah hati kita takluk dan bersandar kepadaNya karena panggilan dan pilihan Allah itu sempurna.

Maka, ketika segala sesuatu yang engkau rencanakan tidak terjadi, bagaimana reaksi yang sepatutnya dan seharusnya sebagai anak Tuhan? Pertama, jangan punya hati yang sempit, yang hanya melihat diri, lalu kita menjadi judgmental dan mempersalahkan semua yang lain. You need to trust God dan melihat keindahan daripada bijaksana ilahi datang kepadamu. Engkau perlu menjadi seorang yang sehat secara emosi dan spiritual sehingga engkau dengan dewasa menanggapi segala sesuatu di sekitarmu. Kedua, dalam relasi satu sama lain, belajar untuk take and give, saling timbal balik dalam mengasihi dan berbagi dengan saudaramu di dalam Tuhan. Jadilah seorang Kristen yang peka melihat kebutuhan orang lain dan siap membantu dimana perlu. Sikap saling timbal balik ini harus selalu menjadi bagian di dalam relasi di gereja kita. Yang ketiga, biar hati kita senantiasa berkata, Tuhan, biar kehendakMu yang terjadi. PanggilanMu yang berharga, kedaulatanMu yang maha bijaksana, kiranya itu yang terjadi. Kita hanya bisa tenang, berdiam, teduh, percaya penuh kepada Dia. Itulah reaksi yang tepat dari seorang Kristen yang dewasa.
Tuhan begitu indah dan baik bagi setiap kita yang berharap dan bersandar kepadaNya. Kiranya firman Tuhan ini menjadi kekuatan bagi kita ketika kita juga, seperti Paulus, kita tidak lepas dari berbagai kesulitan dan hambatan di dalam hidup kita. Kita hidup di dunia ini, kita berencana, kita membuat planning, kita membuat pengaturan dengan baik, kita memikirkan matang-matang keputusan-keputusan apa yang akan kita ambil ke depan, dsb. Namun sekalipun banyak hal yang sudah kita atur baik-baik, ada kalanya kita tidak dapat kerjakan dan lakukan karena ada halangan dan hambatan yang di luar daripada kontrol kita. Hanya kepada Allah yang mengatur dan mengontrol segala sesuatu, kepadaNya kita bersandar dan berserah. Itu akan membuat hati kita berlimpah dengan syukur sehingga kita tidak melulu melihat kekurangan dan kesulitan kita dan lupa akan kebaikan dan anugerah Tuhan dan akhirnya kita tidak menjadi berkat bagi orang lain. Kiranya kita senantiasa murah hati dan berbagi berkat-berkat rohani satu sama lain, di antara anak-anak Tuhan yang bertumbuh dengan indah.(kz)