Arti dan Makna Injil

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma [2]
Tema: Arti dan Makna Injil
Nats: Roma 1:1-7

“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Roma 1:16).

Pada waktu seseorang, entah itu di kantor, di kampus atau di tempat lain, menyatakan dengan terbuka kepadamu bahwa dia tidak percaya kepada Allah dan tidak beragama, atau mungkin dia tidak secara terbuka atau secara langsung mengatakan dia adalah seorang ateis, tetapi dia memiliki kesulitan untuk bisa percaya kepada Allah, bagaimana kira-kira reaksi kita? Bagaimana pernyataan seperti ini membuka pintu kesempatan bagimu membawa dia kepada pengenalan kepada iman Kristen, kepada Allah yang kita percaya? Pada waktu kita bertemu dengan orang seperti itu, kita mungkin merasa skeptik untuk mengabarkan Injil kepada dia. Kita merasa tidak mungkin Injil bisa merubah hatinya, sehingga akhirnya kita memilih untuk diam saja.

Tidak sedikit di antara orang Kristen mengaku tetap percaya kepada Allah dan tidak meninggalkan iman kepercayaannya, tetapi mungkin secara praktis mereka telah kehilangan kepercayaan dan keyakinan yang kokoh bahwa Injil sanggup bisa menyelamatkan orang dan merubah orang. Tidak sedikit orang Kristen tidak lagi mempunyai kekuatan dan keberanian untuk berkata seperti rasul Paulus, I believe that the Gospel is the power of God for salvation to everyone who believes. Paulus punya alasan kuat untuk berkata seperti itu karena dia mengalami sendiri, sebagai orang yang tadinya paling tidak mungkin bisa percaya Tuhan, seorang yang tadinya sangat giat membenci Tuhan dan menganiaya dan membunuh orang Kristen akhirnya bisa menjadi seorang yang percaya Tuhan. Itulah artinya kuasa Injil.

Di dalam permulaan suratnya [Roma 1:2-4] Paulus menyatakan dengan satu definisi yang sangat baik apa itu Injil. Ada tiga aspek penting dari Injil yang dia sebutkan disini. Apa itu Injil?

Yang pertama, Injil itu adalah penggenapan janji-janji Allah yang Ia telah berikan sejak awal sejarah umat manusia. Injil adalah jawaban yang bukan seketika; bukan tiba-tiba muncul. Paulus berkata, “Injil itu telah dijanjikanNya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabiNya dalam kitab-kitab suci…” (Roma 1:2).

Ada sebagian orang Kristen tidak mau membaca kitab-kitab Perjanjian Lama karena merasa apa yang dituliskan di situ tidak relevan dengan Kekristenan. Mereka cuma mau membaca Perjanjian Baru saja. Kita tidak boleh mempunyai sikap seperti itu, karena seluruh karya keselamatan Allah bukan dimulai dari Perjanjian Baru, tetapi dari sejak jauh sebelumnya, sejak dari awalnya Allah menyatakannya di dalam Perjanjian Lama. Tanpa membaca Perjanjian Lama jelas sekali kita akan mengalami kesulitan untuk memahami apa yang dikatakan di Perjanjian Baru. Misalnya, waktu kita membaca di Perjanjian Baru, Injil Markus 1:1 “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah, seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya…” bagaimana kita merujuknya kalau kita hanya punya kitab Perjanjian Baru dan tidak punya kitab Yesaya yang ada di Perjanjian Lama itu? Perjanjian Baru mengatakan, Yesuslah penggenapan janji keselamatan Allah, Dia harus mati sebagai Domba korban Allah [lihat Ibrani 10:1-18]. Darimana konsep itu? Dari Perjanjian Lama. Konsep Yesus mati menebus dosa kita, konsep apa itu dosa, bagaimana dosa itu muncul, darimana asalnya? Itu semua ada di Perjanjian Lama. Akibat dari pemberontakan Adam kepada Allah menghasilkan kematian secara fisik dan secara rohani, karena manusia terlepas dari hubungan dengan Allah sumber hidup untuk selama-lamanya. Maka tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa terhindar dari kematian. Tetapi Allah akan berjanji akan menjawab dan menyelesaikan akibat dosa yaitu Ia akan memberikan karya keselamatan bagi manusia. Janji itu mulai dari awal Allah berkata kepada setan yang telah memperdaya manusia, “Keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3:15). Lalu janji itu diteruskan kepada satu bangsa yaitu melalui Abraham yang akan menjadikan keturunan Israel sampai kepada datangnya Yesus Kristus. Maka Paulus mengatakan Injil itu adalah penggenapan semua janji-janji Allah yang dikatakan sebelumnya oleh para nabi di dalam Perjanjian Lama. Puji Tuhan! Ayat ini sekaligus memberikan kekuatan kepada kita bahwa isi Alkitab tidak pernah bohong adanya; isi Alkitab itu kekal dan tidak pernah berubah dan janji-janji itu bukan diucapkan secara sembarangan, janji itu digenapi olehNya.

Sebaliknya kepada orang-orang Yahudi yang menolak Yesus Kristus sebagai penggenapan janji Allah bahwa Dialah sang Mesias itu dan menolak kitab Perjanjian Baru yang bicara mengenai Yesus Kristus; mereka sampai hari ini hanya memegang 39 kitab Perjanjian Lama sebagai kitab sucinya dan terus menunggu penggenapan janji-janji kapan Mesias itu datang. Mereka percaya Allah yang berjanji itu tidak akan bohong; mereka percaya Allah akan menggenapkan janjiNya. Mesias itu adalah dari keturunan Daud, Mesias itu adalah Raja di atas segala raja, Mesias itu akan mendatangkan keadilan dan kebenaran dan Dia yang akan menyelesaikan dosa dan problema kejahatan di atas muka bumi ini. Tetapi betapa kasihannya sampai hari ini mereka masih menanti-nantikan kapankah janji kedatanganNya itu akan digenapi, sedangkan kita sudah menerimanya di dalam Yesus Kristus, karena Ia adalah penggenapan dari semua janji-janji yang ada di dalam kitab Perjanjian Lama itu.

Yang kedua, Injil itu berkaitan dengan satu Pribadi yang unik, satu Pribadi yang hanya Dia satu-satunya, dilukiskan dan dikatakan oleh firman Tuhan karena satu Pribadi itu adalah keturunan Daud secara manusia, tetapi Dia adalah Anak Allah yang maha kuasa. Paulus berkata, “Injil itu bicara tentang AnakNya yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud…” (Roma 1:3). Injil bukan bicara mengenai engkau akan sembuh; Injil bukan bicara mengenai engkau akan sukses; Injil bukan bicara soal kelancaran hidup; Injil bicara soal satu Pribadi yang namanya Yesus Kristus. Paulus mengatakan Yesus adalah Anak Allah yang secara manusia datang dari keturunan Daud. Kalimat ini penting menunjukkan Yesus adalah keturunan Daud sebagai satu konfirmasi Dia adalah Mesias [the Anointed One], seorang juruselamat dari keturunan Daud yang dijanjikan akan memerintah selama-lamanya.

Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes mencatat kelahiran dan kedatangan Yesus ke dunia dan mengkaitkannya dengan Perjanjian Lama untuk membuktikan bahwa apa yang terjadi sejak dari kelahiran Yesus, bahkan sampai kematian dan kebangkitanNya semuanya menggenapkan apa yang dikatakan di dalam Perjanjian Lama. Ini menjadi satu referensi yang sangat kuat karena bukan hanya satu orang saja yang menubuatkan atau mengatakan sesuatu yang akan terjadi pada diri Kristus begitu detail, dan begitu banyak nubuat yang disebutkan dan dijanjikan itu tergenapi dengan sangat tepat pada diri Kristus.

Beberapa contoh misalnya Yesaya 11:1-5 menubuatkan, “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah…” Out of the stump of David’s family will grow a shoot; Yes, a new Branch bearing fruit from the old root. Yesaya menyatakan nubuat ini 700 tahun sebelum Yesus datang di dunia. Sejarah mencatat banyak keturunan Isai dan keturunan Daud muncul, tetapi keturunan Isai dan keturunan Daud yang manakah yang menggenapkan ayat ini? Yesaya mengatakan, Roh TUHAN akan ada padanya, dan sepanjang hidupnya dijalaninya dengan sempurna tanpa cacat cela. Hanya Yesus Kristus yang menggenapi akan hal ini. Dan kemudian Injil Matius dan Injil Lukas mencatat dan memberikan kepada kita silsilah Yesus. Kenapa itu penting dan perlu? Supaya kita tahu bahwa Yesus betul adalah keturunan Daud menggenapkan nubuat janji Allah. Contoh lain bahwa Yesus lahir dari keturunan Daud misalnya Yeremia 23:5 “Sesungguhnya waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas Adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri.” Yeremia menubuatkan hal ini kira-kira 500 tahun sebelum Yesus Kristus lahir. Itu adalah firman Allah yang luar biasa tergenapi. Itulah sebabnya kenapa Paulus berkata Injil itu bukan bikinan manusia, bukan hasil rekayasa manusia, Injil itu bukan jawaban yang tiba-tiba mendadak dibuat. Injil itu adalah penggenapan dari janji-janji Allah yang dikatakan oleh nabi-nabinya di dalam sepanjang sejarah.

Dalam Roma 1:3-4 Paulus menyatakan Yesus Kristus sebagai satu Pribadi yang unik luar biasa; satu Pribadi yang memiliki dua natur dalam hidupNya. Yesus Kristus adalah manusia sepenuhnya, 100% dan Yesus Kristus adalah Allah sepenuhnya, 100%. Kenapa Yesus harus 100% manusia? Karena supaya Dia boleh menjadi pengganti [substitusi] bagi setiap kita. Sebagai manusia 100% kematianNya menjadi pembayaran bagi upah dosa yaitu maut atau kematian. Tetapi kematian Kristus bukanlah kematian yang biasa seperti kematian manusia yang lain, karena Ia adalah Allah 100% maka Ia memiliki hidup yang tidak ada batasnya dan Ia sanggup bisa menjadi tebusan bagi siapa saja di dalam sepanjang sejarah. Itulah arti dari kematian Kristus yang 100% manusia dan 100% Allah sejati itu.

Ada orang yang tidak percaya Yesus adalah Allah memberi ceramah mengatakan orang Kristen menjadikan Yesus sebagai Allah, padahal Dia cuma manusia biasa. Orang yang berkata seperti itu tidak memahami apa yang Alkitab ajarkan karena Alkitab jelas mengatakan Yesus bukan manusia yang dijadikan Allah, tetapi Ia adalah Allah yang menjadi manusia. Gereja dan orang Kristen jelas tidak mau menjadikan Yesus manusia menjadi Allah sebab itu bertentangan dengan apa yang kita percayai. Lalu bagaimana manusia biasa menjadi Allah? Itu mustahil terjadi. Lalu mungkin mereka bertanya sebaliknya bagaimana bisa Yesus Anak Allah berinkarnasi menjadi manusia, ini sesuatu hal mujizat yang di luar pemahaman akal manusia. Jawabannya sederhana, kalau manusia menjadi Allah, itu tidak mungkin. Tetapi kalau Allah menjadi manusia, itu justru hal yang mungkin terjadi. Allah yang kita sembah adalah Allah yang maha kuasa, maka bukanlah hal yang mustahil Allah bisa menjadi manusia.

Yang ketiga, Injil ini berkuasa karena Injil ini bicara tentang Yesus Kristus telah bangkit dari kematian. Paulus berkata, “Menurut Roh Kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita” (Roma 1:4).

Saat kita ada kesempatan bicara dengan orang yang tidak percaya apa penyebab segala kejahatan dan penderitaan di atas muka bumi ini, orang itu mungkin menyangkal dosa sebagai sumber penyebabnya. Orang mungkin bisa menyangkal eksistensi dosa, tetapi tidak ada orang yang bisa menyangkal eksistensi kematian. Siapa pun dia, entahkah umurnya sudah tua atau masih muda, entahkah dia kaya atau miskin, tidak ada orang yang bisa menghindar saat kematian datang kepadanya. Tidak ada yang bisa escape, tidak ada yang bisa lepas dari kematian. Kematian bukan sekedar proses natural dimana orang dari muda menjadi tua, lalu kemudian mati begitu saja. Orang mungkin bisa menerima itu sebagai satu proses natural, tetapi hatinya sedalam-dalamnya menyadari bahwa dia tidak ingin ditelan oleh kematian. Kalau kematian itu adalah satu proses natural, kenapa manusia tetap ingin berusaha supaya dia tidak mati? Dari situ kita tahu ada satu hal di dalam hati kita sedalam-dalamnya yang tidak menginginkan kematian itu terjadi kepada kita. Kenapa? Karena kita tahu kematian itu bukan bagian original dari diri kita. Alkitab mengatakan kematian datang karena dosa. “Sebab upah dosa adalah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 6:23). Kematian itu terjadi karena kita telah terputus hubungan dengan Allah sumber hidup yang telah menciptakan kita dan yang memutuskan hubungan itu adalah dosa-dosa kita. Itu sebabnya Yesus datang dan mati di kayu salib untuk menebus kita dari dosa kita, untuk merestorasi hubungan kita dengan Allah pencipta kita. Namun bukan itu saja, kebangkitan Kristus mengalahkan musuh kita yang terbesar yaitu dosa dan kematian sehingga di dalam Kristus kita mendapatkan hidup yang kekal itu. Puji Tuhan! Itu sebabnya Paulus mengatakan kepada jemaat Roma, inilah Injil yang kukabarkan kepadamu.

Saya rindu setiap kita fasih membicarakan mengenai apa itu Injil, sehingga setiap kali ada kesempatan pada waktu orang bertanya kepadamu, engkau bisa memberikan jawab kepadanya. Tidak perlu panjang-panjang dengan mengutip seluruh Injil Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan semua surat-surat Paulus, kalau orang bertanya what is the Gospel, apa yang engkau katakan akan hal itu? Mungkin ada orang mengatakan “the Gospel is about God’s love,” atau ada yang mengatakan, “Injil itu mengenai kasih Allah; Injil itu mengenai keselamatan di dalam Yesus Kristus.” Itu semua tidak salah. Tetapi mungkin hari ini kita perlu memberikan satu rangkaian yang lengkap sehingga kita bisa menjelaskannya dengan lebih baik. Apa itu Injil? Paulus mengatakan Injil itu adalah penggenapan dari janji Allah di dalam sejarah manusia, yang telah dikatakan oleh nabi-nabiNya mengenai Yesus Kristus, Anak Allah, yang secara manusia lahir dari keturunan Daud. Ia adalah Anak Allah, kematian dan kebangkitanNya untuk menyelamatkan manusia. Kalau kita hanya bilang “Yesus menyelamatkan aku,” akan timbul pertanyaan: menyelamatkan dari apa? Kenapa harus diselamatkan? Maka mulailah dengan kalimat “pada mulanya…” Kita perlu memiliki gambaran yang lengkap bagaimana karya keselamatan Allah sehingga kita bisa menjelaskan kepada orang yang bertanya kepadamu. Alkitab memberikan kesaksian Allah menciptakan manusia, kita semua. Ia menciptakan kita amat baik adanya, tetapi sebaliknya manusia memberontak dan tidak taat kepadaNya. Manusia mau menjadi allah bagi dirinya sendiri. Itulah awal dan sumber daripada semua persoalan. Tetapi Allah memberikan jawab dengan mengutus AnakNya Yesus Kristus untuk mati di kayu salib menyelamatkan kita dari dosa dan kematian kekal. Ia telah bangkit dari kematian untuk memberikan pengharapan kepada setiap orang percaya akan hidup kekal yang akan datang.

James Choung dari InterVarsity USA menguraikan Injil dengan penjelasan yang sangat baik dan sangat kreatif berjudul “the big story” tentang awalnya Tuhan menciptakan “design for good” tetapi kemudian dunia “damaged by evil” sehingga kita melihat kejahatan dan penderitaan serta kematian menjadi bagian yang kita hadapi setiap hari. Oleh anugerah dan kasihNya kepada dunia ini Allah mengirim AnakNya, Yesus Kristus untuk mati di kayu salib dan bangkit dari kematian dan dengan kebangkitanNya Ia menyelamatkan kita dari dosa dan “restored for better” dan tidak berhenti sampai di sana, kita menjadi anak-anak Allah, saksi dan messenger bagi Allah untuk membawa orang mengenal dan percaya kepadaNya juga. Itulah intisari berita Injil.

Dalam Roma 1:16 Paulus mengatakan, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya.” I am not ashamed of the Gospel, because it is the power of God to save everyone who believes. Jangan kita lupa, Paulus adalah salah satu orang yang mengalami betapa luar biasa kuasa Allah yang merubah dia dari seorang yang dulunya begitu fanatik dengan agamanya dan aktif membenci Yesus dan melawan Injil, mengejar, menganiaya dan membunuh orang-orang Kristen, tetapi dalam satu ketika Tuhan merubah dia menjadi orang percaya. Paulus senantiasa melihat itu adalah “kasih karunia Allah yang tidak layak ia terima” artinya kalau dari diri Paulus sendiri, tidak mungkin dan mustahil dia bisa menjadi orang Kristen. Di dalam surat Galatia 1:11-24 dan dalam Kisah Rasul 9:1-9, 22:3-16 dan 26:9-18 Paulus bicara panjang lebar tentang peristiwa bagaimana Yesus datang kepadanya dan bagaimana dia akhirnya menjadi orang percaya. Dua kali di surat Galatia disebutkan itulah iman yang dia pernah mencoba untuk membinasakannya. Bukan dari keinginannya, bukan dari kemauannya, bukan oleh sebab jasa dan usahanya yang membuat Allah mengasihani dia dan memberikan keselamatan di dalam Kristus bagi dia. Seringkali kita gelisah, kuatir, takut untuk mengabarkan Injil, karena mungkin kita sudah berdoa cukup lama untuk keluarga kita, berdoa belasan tahun untuk papa mama dan orang-orang yang kita kasihi untuk mengenal dan percaya Tuhan dan kita merasa itu adalah hal yang mustahil untuk membawa mereka percaya Tuhan Yesus. Mungkin ada satu dua kali kita berkesempatan untuk menyatakan siapa Yesus kepadanya tetapi seolah tidak ada respon seperti yang kita harapkan dan kita mulai kehilangan confident dan keyakinan yang kokoh bahwa Injil itu adalah kuasa Allah yang mampu merubah hati orang sekeras apa pun. Kita mungkin berpikir kalau kita membawa dia ikut acara tertentu yang undang pengkhotbah yang hebat dan artis terkenal, atau kita mungkin menawarkan kalau menjadi orang Kristen semua persoalan dan sakit penyakit akan disembuhkan, hidup akan sukses dan lancar, dsb, toh tetap itu tidak merubah hatinya, kita akhirnya menjadi lose the confidence in the Gospel. Jangan sampai kita kehilangan keyakinan itu karena itulah inti dari hidup kita sebagai orang Kristen. Kalau Tuhan bisa merubah hati Paulus dari seorang pembunuh menjadi seorang yang rela mati bagi Injil Kristus, jangan putus harapan. Hidupmu yang telah diubah Kristus juga bisa menjadi the best possible testimony witnessing that the power of the Gospel has changed you. Jadikan hidupmu sebagai bukti bagi orang bahwa Injil itu mempunyai kuasa.

Kiranya hati kita sekali lagi berlimpah dengan kebenaran firman Tuhan, karena Injil yang kita percaya adalah Injil yang penuh dengan kuasa merubah hati dan hidup manusia, dari kebinasaan memperoleh hidup yang kekal, dari kejahatan mengalami pembaruan hidup, dari keputus-asaan memiliki pengharapan yang baru, dari yang dimurkai Allah memperoleh belas kasihan Allah. Karena Anak Allah Yesus Kristus Tuhan telah menjadi penebus yang telah membayar lunas hutang dosa kita dan yang telah mengalahkan kematian dan melepaskan kita daripadanya. Kita mengucap syukur untuk semua itu. Kiranya hidup kita boleh menjadi saksi yang indah bagaimana Tuhan telah merubah kita menjadi anak-anak Tuhan yang hidup dengan indah bagiNya. Kiranya Tuhan memberkati setiap kita membawa Injil ini di dalam hidup setiap kita dengan keberanian, dengan kekuatan dengan confident kepada siapa saja yang kita jumpai dalam hidup kita. Kita tahu hanya Injil yang menjadi jawaban dan pengharapan bagi manusia.(kz)