Apa Identitas dan Tujuan Hidupmu?

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat Roma [1]
Tema: Apa Identitas dan Tujuan Hidupmu?
Nats: Roma 1:1-7

“Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah” (Roma 1:1).

Surat Paulus kepada jemaat Roma adalah sebuah surat yang sungguh indah bicara mengenai kasih Allah, karya penebusan Allah dan bicara mengenai bagaimana anak-anak Tuhan menjalani hidup yang memuliakan Allah yang menjadi pusat dan sentral kehidupan kita. Ini adalah surat yang ditulis dengan teliti oleh rasul Paulus menjadi satu “systematic theology” yang indah. Paulus belum pernah pergi ke Roma dan Paulus bukan hamba Tuhan yang memulai gereja Roma. Jemaat ini mungkin dimulai oleh orang-orang Kristen yang merantau dan memperkenalkan Kristus ke berbagai tempat perantauan hingga sampai di Roma. Lalu mulai terbentuklah jemaat dan berkembang dengan sangat baik di kota Roma. Paulus mengirim surat ini untuk memperkenalkan diri dan sekaligus juga menjadi surat pengantar menyatakan kerinduannya untuk mengunjungi mereka sebagai seorang rasul kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi.

Pada waktu kita bertemu dengan seseorang dan memperkenalkan diri kepadanya, apa yang kita akan katakan ketika orang itu bertanya siapakah kita, apa identitas kita? Jelas kita tentu akan menyebutkan nama kita, kita mungkin akan bicara sedikit background status single atau sudah menikah dan berapa anak kita, dan kita mungkin sedikit menjelakan latar belakang edukasi kita dan pekerjaan kita. Dan di dalam hal seperti itu ada orang yang mungkin cukup comfortable dan bangga memperkenalkan diri, jikalau jabatannya adalah seorang CEO dari sebuah perusahaan yang sangat besar dan jabatan yang paling prestigious dan yang menyatakan kesuksesan karirnya. Tetapi mungkin ada orang yang kecil hati dan merasa malu memperkenalkan diri ketika dia tidak lebih daripada seorang ibu rumah tangga, atau mungkin pas waktu itu dia baru saja diberhentikan dari pekerjaan dan belum mendapat pekerjaan baru. Sulit sekali berada dalam posisi seperti itu, bukan? Pertanyaannya, dimanakah kita menaruh keindahan identitas diri kita? Siapa kita?

Hari ini waktu kita membaca Roma 1:1 Paulus memperkenalkan dirinya hanya dengan satu kalimat yang singkat sederhana ini: aku Paulus, budak Kristus Yesus, dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Ada tiga aspek yang dia sebutkan sebagai identitasnya. Pertama, dia berbicara mengenai identitasnya dalam relasi dengan Allah, yaitu dia adalah budak dari Kristus Yesus. Yang kedua, dia bicara mengenai jabatannya, pekerjaannya, dia adalah seorang rasul. Lalu yang ketiga dia bicara mengenai apa yang menjadi tujuan dari hidupnya, the purpose of his life, yaitu untuk memberitakan Injil Allah. Jelas Paulus sebetulnya bisa memberikan lebih banyak detail tentang siapa dia daripada apa yang dia sampaikan ini. Ada banyak hal-hal yang bisa dia sebutkan sebagai kebanggaannya dan prestige hidupnya dulu seperti yang dia katakan kepada jemaat Filipi [lihat: Filipi 3:4-6] dan dia juga bisa memberitahu dia lulusan universitas ternama di Yerusalem di bawah mentoring Gamaliel, dan dia dulu menjabat sebagai salah satu anggota Sanhedrin, “DPR” pada waktu itu (Kisah Rasul 22:3). Dia aalah warganegara Romawi, yang tidak semua orang punya hal itu [lihat: Kisah Rasul 22:25-29]. Tetapi Paulus tidak menyatakan semua identitas ini. Tetapi sebaliknya Paulus hanya mengatakan, I am Paul, the slave of Christ Jesus; seorang hamba, budak, a bond servant of Jesus, yang sudah dibeli dan dibayar lunas oleh majikannya. Itu adalah identitas yang pertama.

Siapakah kita? Apa identitas diri kita? Kejadian 1 dan 2 memperlihatkan siapakah kita manusia dan identitas kita. Kita adalah manusia yang dicipta oleh Allah. Alkitab kita memulai dengan kalimat “Pada mulanya…” (Kejadian 1:1). Kita tahu, pasti segala sesuatu yang ada di dunia ini ada awal mulanya. Dan kita percaya seperti kata Alkitab, segala sesuatu ini ada karena pada mulanya Allah menciptakan semua ini. In the beginning God created the heavens and the earth. Para scientist berkata, permulaan segala sesuatu ada yang namanya “Big Bang” yaitu satu ledakan yang sangat dahsyat yang membuat alam semesta ini terjadi, maka kita akan bertanya, siapa yang membuat ledakan big bang itu? Dia yang melakukannya pasti punya power yang jauh lebih besar lagi.

Alkitab berkata, pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Kata “langit” dalam bahasa Indonesia mungkin membuat kita mempunyai konotasi yang lebih sempit, yaitu hanya bicara mengenai angkasa [sky] ini, tetapi dengan terjemahan Inggris membantu kita melihat dalam pengertian yang lebih luas yaitu kata “heavens” bukan hanya bicara tentang langit ini, melainkan dunia non-material, dunia roh-roh, dunia spiritual. Jadi kata “heavens and earth” bicara mengenai material world and non-material world, bicara mengenai hal-hal yang bisa dilihat, dipegang, dikenal dengan panca indera kita, bicara mengenai dunia spiritual. Itu adalah tempat dimana malaikat yang dicipta Allah ada di situ.

Pada waktu kita mendengar kalimat ‘Allah menciptakan langit dan bumi,’ kalimat itu langsung memberitahukan kepada kita implikasinya: karena Allah mencipta, Allah berhak mengatakan alam semesta ini milikNya, kepunyaanNya. Implikasi kedua, karena Allah mencipta aku, maka aku adalah aku milik Tuhan. Ia berhak menyebut aku milikNya. Tetapi lebih daripada itu, sebagai orang Kristen, orang yang sekarang percaya kepada Tuhan, relasi kita dengan Dia bukan saja relasi karena Ia Pencipta kita, tetapi relasi kita dengan Dia adalah pemilik kita yang sudah membeli kita dengan harga yang mahal sehingga kita adalah budakNya. Budak dalam konteks pada waktu itu sedikit lebih berbeda dengan perbudakan yang terjadi di dalam dunia modern. Budak jaman dahulu tidak diperlakukan dengan kejam dan semena-mena. Ada beberapa alasan seseorang menjadi budak, karena kemiskinan atau karena menjadi tawanan perang atau terlahir dari orang tua yang menjadi budak, atau karena berhutang dan tidak sanggup membayar sehingga harus menjual diri, dsb. Orang itu kemudian dibawa ke pasar budak dan dijual-belikan. Ketika seorang kaya membeli budak itu dengan harga yang ditentukan, maka sejak hari itu dia menjadi milik property orang kaya itu dan kemudian bekerja di dalam rumah orang itu. Memang sistem itu tidaklah ideal, tetapi waktu kita mendengar kata budak, jangan berpikir bahwa budak itu diperlakukan dengan semena-mena, karena ada banyak majikan yang baik dan memperlakukan budaknya dengan manusiawi. Ada yang disekolahkan oleh tuannya untuk menjadi dokter, accountant, manager, dsb. Orang itu menjadi budak karena dia tidak mempunyai kebebasan. Dia sudah dibeli menjadi milik dari orang yang membelinya. Pemilik itulah yang mempunyai hak untuk membebaskan kembali, itu namanya melepaskan budak itu menjadi orang bebas.

Pada waktu Paulus menyebutkan kalimat: Aku Paulus, budak Yesus Kristus, maka dengan kata lain dia ingin berkata, sekarang aku adalah milik Tuhan, bukan saja karena aku dicipta oleh Dia, tetapi karena aku telah dibeli dengan harga yang mahal. Dan bukan hanya Paulus, setiap kita yang percaya kepada Kristus adalah budak-budak Kristus, milik kepunyaan Kristus. Dalam 1 Korintus 6:20 Paulus berkata, “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu.” Kenapa kita disebut budak Kristus? Bukan berarti Kristus memperbudak kita dan memperlakukan kita dengan semena-mena. Sekarang kita menjadi milikNya karena Ia telah membayar kita dengan harga yang mahal yaitu dengan darahNya sendiri. Apa artinya kita sekarang adalah milik Kristus? Artinya, masing-masing kita masuk ke dalam rencana Tuhan dan kita menggenapkan apa yang menjadi rencana Tuhan di dalam hidup kita karena kita adalah milik Tuhan. Seringkali kita mendengar orang berkata “Allah mempunyai rencana yang indah bagi hidupmu,” sebenarnya kalimat ini memiliki implikasi yang bertolak-belakang dengan konsep Alkitab karena tanpa sadar menyebabkan kita berpikir hidup kita yang menjadi sentral dan pusat dari segala-galanya dan bukan Tuhan yang menjadi sentral dan pusat hidup kita. Konep yang benar adalah bukan soal rencana Allah bagi hidupmu, tetapi bagaimana hidupmu bagi rencana Allah. Bukan hidup kita yang menjadi pusat tetapi rencana Allah yang menjadi pusat dalam hidup kita. Masing-masing kita masuk ke dalam rencana Tuhan dan kita menggenapkan apa yang menjadi rencana Tuhan di dalam hidup kita. Itu identitas kita karena kita milik Tuhan, karena kita telah ditebus olehNya.

Yang kedua, Paulus menyebut apa yang dia kerjakan bagi pekerjaan Tuhan dan pengabaran Injil sebagai rasul Allah. Bagi Paulus, dia dipanggil menjadi rasul. Jelas panggilan itu adalah panggilan yang unik bagi dia, jabatan yang hanya berhenti dan selesai pada era itu. Mengapa saya mengatakan demikian? Dalam Efesus 2:20 Paulus memberikan prinsip apa itu gereja, “…yang dibangun di atas dasar para rasul dan nabi dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.” Ayat ini adalah satu ayat yang sangat penting sekali di dalam memahami jabatan rasul sebagai satu jabatan panggilan yang terjadi di dalam satu era, satu masa tertentu, dan jabatan itu tidak lagi menjadi jabatan yang diteruskan ke generasi selanjutnya. Paulus menggambarkan jabatan sebagai rasul dan nabi adalah satu jabatan yang bersifat fondasi dengan ilustrasi gambaran sebuah bangunan. Kita tentu tahu setiap bangunan hanya ada satu batu penjuru, karena batu penjuru itu menjadi tolok ukur alignment bangunan itu lurus atau tidak. Paulus mengatakan Yesus Kristus adalah Batu Penjuru; Dialah yang menjadi tolok ukur, Dialah yang membangun gereja. Lalu sebagaimana pada waktu rumah itu dibangun, ada fondasinya di bawah. Setelah membangun fondasi, barulah kita menyusun batu-batu ke atas. Berarti fondasi itu berada pada era tertentu lalu selesai pada masa tertentu tetapi bangunan gereja yang tidak kelihatan itu, yang terdiri dari berbagai bangsa dan dari segala  suku bangsa, terus dibangun oleh Tuhan menjadi kemuliaan bagi nama Tuhan sampai Ia datang kembali. Itulah artinya gereja dibangun di atas Batu Penjuru yaitu Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat dan ada fondasinya yaitu di atas pengajaran para rasul dan nabi. Fondasi itu adalah Alkitab firman Allah yang kita miliki sampai sekarang melalui tulisan para rasul dan nabi menjadi fondasi bagi gereja. Itulah panggilan Tuhan kepada Paulus sebagai seorang rasul, satu panggilan yang unik, yang hanya menjadi milik dia, identitas dia. Sebagaimana kita masing-masing memiliki panggilan yang unik dan berbeda. Saya dipanggil Tuhan menjadi seorang gembala, sdr dipanggil menjadi seorang guru, sdr dipanggil memiliki profesi dan pekerjaan yang semuanya itu menggenapi panggilan Tuhan bagi setiap kita. Apa saja pekerjaan dan panggilan kita, itulah hal yang indah Tuhan beri kepada kita.

Kita tidak bisa mengerjakan segala sesuatu; kita tidak mungkin menjadi “one-man-show” melakukan segala sesuatu seorang diri. Dan kita dipanggil oleh Tuhan di dalam keunikan kita masing-masing dan di situ kita berperan dan berfungsi menggenapkan rencana dan panggilan Tuhan di dalam hidup kita. Aku dipanggil menjadi seorang ayah bagi anak-anakku, aku dipanggil menjadi seorang pekerja di pabrik, aku dipanggil menjadi seorang dokter, aku dipanggil menjadi seorang polisi, aku dipanggil menjadi seorang ibu rumah tangga; aku dipanggil menjadi seorang yang mendidik, aku dipanggil menjadi seorang yang merawat, dsb. Panggilan kita yang berbeda-beda, tetapi itu tidak menyebabkan kita lebih rendah atau lebih tinggi satu dengan yang lain.

Yang ketiga, Paulus bilang apa purpose tujuan hidupnya, yaitu to preach the Gospel, memberitakan Injil Yesus Kristus. Ini core yang penting. Sebagai anak-anak Tuhan, tujuan hidup kita bukan untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya bagi diri sendiri. Tujuan hidup kita bukan untuk menjadi kesuksesan dan membangun jati diri tetapi supaya kita boleh memuliakan Tuhan. Itu tujuan hidup kita, ini core hidup kita.

Sebagai orang yang dipanggil menjadi pengabar Injil, menjadi pendeta dan gembala, jangan kita lupa apa yang menjadi core dari hidup kita. Core hidup kita adalah Injil Yesus Kristus; bukan jabatan, bukan jubah, bukan posisi, tetapi apakah Injil yang menjadi pusat hidup dan pemberitaanmu? Kita dipanggil dalam panggilan dan tugas apa pun, ketika hidup itu tidak lagi mempunyai purpose to glorify God, kita tidak memenuhi panggilan dan rencana Tuhan. Kenapa kita melakukan itu semua? Karena sekarang hidupku bukan milik aku lagi; aku adalah milik Yesus Kristus. Bukan hanya karena Dia mencipta aku, tetapi Dia juga telah membayar lunas hidupku dengan darahNya yang mahal dan mulia itu. Itu sebab aku adalah budak Yesus Kristus, the slave of Jesus Christ. Dalam dunia ini saya melakukan tugas sebagai seorang hamba yang dipanggil Tuhan. Untuk apa? Untuk supaya hidupku membawa Injil Yesus Kristus.

Banyak orang yang menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan, ketika lulus dari sekolah teologi punya keinginan menjadi hamba Tuhan di sebuah gereja yang besar, atau mau sukses membuka gereja sendiri, mau membawa pengaruh besar bagi kaum intelektual, dsb. Seringkali tanpa sadar cita-cita, keinginan dan impian banyak hamba Tuhan tidak jauh berbeda dengan orang Kristen lain punya keinginan dan pencapaian terhadap karir dan pekerjaannya. Sebab sederhana saja, pada waktu para pendeta bertemu dan saling memperkenalkan diri, biasanya setelah pertanyaan siapa nama anda, pelayanan di mana, kemudian berapa jemaatnya? Seringkali pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang menjadi pusat dan sentral dari percakapan kita. Sukses atau gagal mendefinisikan identitas kita. Sehingga ketika ukuran itu yang kita pakai, kita tidak merasa telah melakukan sesuatu yang signifikan karena kita menuntut harus punya banyak, harus menghasilkan hal-hal yang besar seperti itu. Paulus mengatakan the core of my life is to glorify God and to bring the Gosple of Christ everywhere I go. Ini yang juga harus menjadi panggilan kita. Walaupun mungkin nantinya yang bisa kita lakukan sangat terbatas sekali, misalnya seorang misionari hanya bisa melayani satu suku yang sangat terpencil sekali, itu panggilan Tuhan bagi kita, it’s okay. Paulus bilang beban yang Tuhan berikan kepadaku adalah untuk melayani orang non-Yahudi, maka dia fokus ke situ. Kita tidak bisa melayani semua hal seorang diri dan bukan berapa banyak atau berapa besar ministry yang kita kerjakan bagi Tuhan, tetapi membawa Injil Tuhan, itu core kita, kabar baik akan keselamatan dan pengharapan di dalam Kristus itu. Hal ini tidak gampang dan tidak mudah, sebab kadang-kadang kita berpikir inti pelayanan sebagai hamba Tuhan kita bisa terjatuh kepada ambisi seperti itu. Dan kita kadang-kadang juga mendefinisikan suksesnya pelayanan kita dan gereja kita juga seperti itu, dengan angka, dengan gedung, dengan banyaknya aktifitas. Mungkin ada pendeta yang terus berdoa minta Tuhan menambahkan jemaatnya, sehingga setiap kali bilang kepada jemaat, ayo isi gereja ini biar penuh. Masih ada kursi-kursi kosong, dsb. Kita terus menekankan akan aspek-aspek seperti itu. Padahal engkau dan saya tahu bahwa hal-hal seperti itu adalah sesuatu yang gampang sekali mengalami perubahan. Kita bisa sukses hari ini, besok belum tentu. Kita bisa kaya hari ini, kita bisa bankrupt dan jatuh miskin minggu depan. Tidak lebih juga di dalam pelayanan kita. Ada masanya di dalam pelayanan seseorang dicari-cari, diundang kesana-kemari, bisa melayani 500 orang bahkan 1000 orang. Bisa jadi sudah melayani 10 tahun, tidak banyak perubahan terjadi. Bisa jadi kita melayani justru tiba-tiba menjadi menciut pelayanan kita. Apakah kita pernah sampai kepada satu titik kita melayani “masa keemasan” lalu itu menjadi satu kenang-kenangan yang kita terus banggakan? Dan pada waktu kita melayani tidak ada banyak orang yang datang, apakah itu membuat kita merasa gagal dan tidak melayani dengan baik? Bukan itu yang mendefinisi pelayanan kita. Saya harap ini menjadi support yang mendorong hidup pelayanan kita, kita dipanggil untuk memberitakan Injil Kristus. Itulah core hidup kita; itulah artinya kita menjadi pelayan Tuhan. Biar firman Tuhan ini boleh menjadi berkat bagi kita masing-masing.

Mari masing-masing kita bertanya kepada diri sendiri siapa kita, bagaimana kita mendefinikan identitas kita, apakah tujuan hidup kita adalah semata-mata menggenapkan rencana Allah? Kita adalah milik Kristus karena kita sudah dibeli dengan lunas oleh kematianNya bagi dosa-dosa kita. Kiranya kita menghargai anugerah ini, yang telah memberi kita kesempatan dipanggil oleh Tuhan melayani dan bekerja sebagai hamba-hamba Tuhan di dalam profesi kita masing-masing. Di semua panggilan itu there is a purpose. Purpose itu mengingatkan kita bukan pusat. Purpose itu adalah rencana Allah sejak kekekalan dan Allah mengijinkan kita berbagian menggenapkan purpose itu. The purpose is God’s purpose yang menjadi sentral hidup kita. Dimana saja kita dipanggil, di situ saya menjadikan hidupku memuliakan Tuhan, to bring the Gospel of Christ. Kiranya Tuhan memimpin hidup kita masing-masing. Biar sekali lagi firman Tuhan mengangkat hati kita, kita berharga bukan karena keberhasilan dan pencapaian kita dinilai oleh orang; kita berharga bukan karena kita sukses dan mencapai sesuatu. Kita berharga sebab kita tahu kita dihargai oleh Kristus Tuhan yang telah menebus kita dengan harga yang mahal yaitu darahNya sendiri menjadi penebus dan juruselamat bagi engkau dan saya.

Doakan supaya pelayanan kita, mimbar kita, gereja kita menjadi tempat kita boleh memberitakan Injil Kristus; komunitas kita menjadi tempat dimana nama Tuhan dimuliakan. Kiranya Tuhan memberkati keluarga kita masing-masing supaya kita boleh menjadi orang tua yang membesarkan anak-anak kita dengan membawa setiap mereka mengenal Kristus Tuhan dan beriman kepadaNya, karena itulah inti dan core dari hidup kita. Bersyukur sekali lagi kepada Tuhan, karena hidup kita didefinisi bukan dengan kesuksesan atau kegagalan kita, tetapi kita boleh mendefinisikan hidup kita seturut dengan apa yang firman Tuhan katakan bagi kita. Kiranya Tuhan menolong kita masing-masing supaya kita tidak menjadi takabur oleh keberhasilan dan kesuksesan, tetapi juga tidak menjadi tawar hati, merasa kecil dan hina karena kegagalan dan kesulitan. Kita dibentuk dan diproses oleh Tuhan, tetapi terlebih lagi hal yang paling indah adalah karena kita dikasih dan dihargai oleh Tuhan dengan keindahan yang luar biasa. Kita menjadi milik Tuhan selama-lamanya karena kita telah dibayar dengan darah Yesus Kristus yang menjadi juruselamat kita. (kz)