Healthy Thinking v. Toxic Thinking

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Healthy Thinking v. Toxic Thinking
Nats: Filipi 4:6-9

Sebagian besar di antara kita tidak sering hidup dalam perubahan. Ada orang yang bertahun-tahun bahkan puluhan tahun mungkin tidak pernah pindah dari pekerjaannya, tidak pindah dari rumah yang ditinggalinya, dan menjalani kerutinan yang sama dari hari ke hari. Tetapi di tengah menjalani hidup yang seolah setiap hari rutin dan stabil, sdr dan saya harus akui sebetulnya yang paling gampang berubah, bahkan bisa berbalik 180 derajat dan bisa “up and down” itu adalah diri kita, emosi hati kita. Benar, bukan? Pagi hari mungkin hati kita senang, siang kita bisa marah, sore kita sedih, malam kita frustrasi. Emosi kita seperti empat musim berganti dalam sehari. Kita akui kita kadang-kadang tidak bisa mengatur atau mencegah situasi yang terjadi di dalam hidup kita. Kita tidak bisa mengatur bagaimana sikap orang, respons, atau pengalaman yang akan engkau alami hari ini. Kita tidak sanggup bisa mengontrol akan hal itu. Tetapi saya percaya Tuhan memanggil kita untuk bagaimana bisa mengontrol kita bereaksi atasnya. Di dalam dunia informasi yang terlalu cepat, kita harus akui seringkali kita menelan bulat-bulat segala informasi yang datang tanpa kita sempat untuk mensortir apakah informasi itu benar atau hanya berita hoax, bukan? Dan itu seringkali cepat juga mempengaruhi dan merubah hati kita. Kita kehilangan momen kontemplatif, kita kehilangan momen untuk pay attention terlebih dahulu. Diam dan silent, itu menjadi hal yang asing bagi kita. Padahal pada waktu membaca mazmur, kita melihat di tengah kegoncangan hidup, di tengah situasi kesulitan hati dari pemazmur, kalimat firman Tuhan senantiasa mengingatkan kita, “Be still and know that I am God” (Mazmur 46:11).

Filipi 4:6-7 Paulus memberikan kita suatu kontras yang luar biasa, “Janganlah kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Dan kemudian diteruskan dengan kalimat di ayat 8-9 “…semua yang benar, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semua itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” What is true, what is honourable, what is right, what is pure, what is lovely, what is admirable, hal-hal yang seperti itu taruhlah di dalam pikiranmu, penuhlah di dalam hatimu, sehingga damai sejahtera Allah memerintah dalam hatimu dan pikiranmu. Kita lihat kaitannya antara anxiety kekuatiran itu dengan bagaimana thinking proses di dalam pikiranmu.

Namun saya ingin memberi engkau satu cerita dulu. Andaikan, engkau bertetangga dengan seorang kakek tua yang hidup seorang diri. Kakek ini seorang yang baik hati, ramah dan cukup bersahabat dengan engkau. Dia suka bercocok tanam dan di halaman depan rumahnya ada sebatang pohon apel yang dia rawat dengan baik. Satu kali, engkau berpapasan dengan dia di sore hari, saat dia sedang merawat pohon-pohonnya. Setelah saling menyapa, engkau memuji pohon apelnya yang sudah mulai berbuah banyak. Sang kakek lalu mengambil satu tas plastik dan dengan segera memetik beberapa apel dari pohonnya dan berkata, “Ini, buat kamu.” Lalu dengan basa-basi mungkin engkau berkata, “Wah, terima kasih kek, banyak yah buah apelnya tahun ini.” Dan kakek menjawab, “Beberapa hari sebelumnya kakek lihat buah apelnya lebih banyak lagi, tetapi entah kenapa jadi berkurang banyak. Mungkin ada burung-burung yang memakan apel kakek.” Mendengar kalimat itu, tiba-tiba terlintas di benakmu, karena beberapa malam yang lalu engkau memergoki beberapa anak remaja memetik dan mencuri apel si kakek. Sampai di sini, saya bertanya kepadamu, perlukah engkau memberitahu kakek bahwa mungkin sebetulnya bukan burung yang mencuri apelnya melainkan anak-anak remaja itu? Kalau engkau memberitahu kakek seperti itu, apa jadinya? Kalimat yang engkau berikan bisa dengan segera menyebabkan kakek kehilangan sukacita dan keceriaannya, karena besok dia akan bangun dengan perubahan drastis terjadi, hatinya menjadi kuatir, mata menjadi sedikit lebih jelalatan, setiap kali orang lewat, apalagi anak kecil lewat sambil makan apel, dia akan mengira anak itu mencuri apelnya. “Hei, darimana apel itu? Kamu curi apelku yah?” Akhirnya anak itu lari ketakutan, padahal dia makan apel yang dibeli mamanya di pasar. Setiap kali apelnya berkurang, dia akan bersungut-sungut dan selalu berpikir pasti dicuri oleh anak-anak itu. Dengan demikian pikirannya akan dipenuhi oleh hal-hal yang negatif dan curiga, kuatir dan marah sehingga akhirnya merubah hidup dia tidak lagi menjadi seorang yang baik hati, ramah, dan bersahabat seperti sebelumnya. Engkau akan kaget jika suatu malam engkau keluar rumah dan melihat kakek sedang ronda di dekat pohon apelnya smbil membawa senter dan pentungan. Point saya adalah bagaimana setelah engkau menaruh satu pikiran itu ke dalam hatinya, kita bukan bicara soal fakta, tetapi apakah waktu kita menyampaikannya, pikirkanlah dulu apakah itu benar-benar perlu dan menjadi sesuatu yang baik atau malah menghasilkan hal yang buruk? Apa yang terjadi ketika sebuah pikiran seperti itu mempengaruhi hidup orang.

Filipi 4:6 bicara mengenai hal jangan kuatir, ada dalam konteks relasi yang kurang baik dari dua orang yang disebutkan namanya oleh rasul Paulus yaitu Euodia dan Sintikhe [Filipi 4:2]. Dengan menyebutkan nama mereka, berarti ini adalah dua orang wanita yang punya peranan penting dalam jemaat Filipi. Kita tidak tahu persis siapa mereka, tapi kita bisa menduga dari rusaknya hubungan mereka berdua menjadikan komunitas jemaat Filipi terpengaruh. Maka Paulus meng-encourage mereka supaya boleh sama-sama sehati sepikir dalam Tuhan, walaupun ada banyak perbedaan di antara mereka. Di dalam konteks itu kemudian Paulus keluarkan kalimat firman Tuhan kepada jemaat Filipi untuk tidak kuatir dan gelisah hatinya karena kekuatiran itu menjadi berefek ke atas, sehingga Paulus memberi nasehat untuk membawa semua itu di dalam doa dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Talk with God in prayer. Ini adalah pemberesan vertical relationship yang sangat penting dan perlu. Dan nasehat yang kedua adalah bagaimana pemberesan dengan diri sendiri dan dengan orang lain di ayat 8 dan 9 “…semua yang benar, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semua itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Pikirkanlah semua itu, supaya your heart and your mind, hatimu dan pikiranmu mempunyai peace, damai sejahtera di hadapan Tuhan supaya kita boleh menjadi orang yang membawa berkat bagi orang lain. Pada waktu dikatakan janganlah kuatir, berarti jelas kekuatiran itu ada. Kuatir adalah satu reaksi yang keluar dari dirimu atas apa yang terjadi di sekitarmu. Tetapi Paulus ingatkan kepada kita bagaimana hal itu tidak mempengaruhi dan menjadi sesuatu yang merusak hidup kita, bahkan relasi kita dengan Tuhan dan dengan orang-orang lain.

Dalam Markus 7:21-23 Yesus mengatakan, “Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” Ketika pikiran kita penuh dengan toxic thinking, itu akan terekspresi keluar dengan menghasilkan toxic reaction. Ketika pikiran kita penuh dengan faulty thinking, pikiran-pikiran yang keliru dan salah, itu akan menghasilkan faulty perception and faulty reaction dalam hidup kita.

Dalam buku “The Emotionally Healthy Women,” Geri Scazzero memberi tiga cara berpikir faulty thinking yang seringkali terjadi. Yang pertama, “all-or-nothing” thinking yaitu kita berpikir men-generalisasi semua hal yang terjadi dalam hidup kita terus seperti itu. Kita jatuh kepada pola berpikir hitam-putih, kalau tidak begini, pasti begitu. Dalam Alkitab, ada dua orang yang menyatakan pikiran seperti ini. Pertama, salah satu murid Yesus yang bernama Natanael, waktu pertama kali diajak oleh Filipus untuk menjumpai Yesus, Filipus mengatakan, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Lalu kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yohanes 1:45-46). Artinya reaksi Natanael ini seolah mengatakan: Nazaret? Memangnya ada orang baik datang dari Nazaret? Berarti kalau sudah mendengar sebutan nama “orang Nazaret,” berarti orang itu tidak baik karena semua orang Nazaret tidak baik. Itulah thinking yang over-generalised segala sesuatu. Satu orang lagi ada di dalam Perjanjian Lama, yaitu Yakub. Pernyataan Yakub ini dalam terjemahan bahasa Indonesia mungkin tidak terlalu kelihatan apa maknanya, tetapi kalau kita membacanya dari terjemahan lain membantu kita mengerti lebih baik. Kejadian 42:36 “Dan Yakub, ayah mereka, berkata kepadanya: kamu membuat aku kehilangan anak-anakku: Yusuf tidak ada lagi, dan Simeon tidak ada lagi, sekarang Benyamin pun hendak kamu bawa juga. Aku inilah yang menanggung segala-galanya.” Kalimat Yakub yang terakhir ini dalam terjemahan Inggrisnya: everything is going against me. Yakub menyatakan keluhan dan teriakan frustrasinya, Yusuf yang sangat dia sayangi sudah tidak ada lagi, kemudian Simeon ditangkap di Mesir, dan sekarang mereka akan membawa Benyamin, anak bungsunya sebagai jaminan pengganti Simeon. It’s too much for him! Segala sesuatu berkomplot melawan dan menyusahkannya.

Menarik sekali, Tuhan Yesus sudah angkat hal itu dalam Matius 6:34, “Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Secara logikanya, kalau hari ini engkau kuatir akan sesuatu hal, apakah besok engkau tidak kuatir lagi akan hal yang sama? Lalu sdr baca ayat ini lalu mengatakan kepada diri sendiri, ya sudah, saya tidak mau kuatir lagi, sekarang saya mau tidur. Apakah persoalanmu lalu selesai dengan engkau tidur? Tetap ada, bukan? Lalu apa sebenarnya arti dari kalimat Yesus, ‘hari besok ada kesusahannya sendiri, kesusahan sehari cukup untuk sehari’? Kalimat Tuhan Yesus itu indah, adalah untuk memberitahukan kepada kita supaya kita tidak punya faulty thinking. Pada waktu kita susah dan kuatir hari ini, tidak berarti kemudian kita berhak untuk men-generalisasi the whole days in my life seperti itu. Yesus tidak mengatakan kuatir itu tidak akan muncul dalam hidup kita. Yesus tidak pernah mengatakan bahwa tidak akan ada kesulitan dan persoalan dalam hidup kita. Tetapi yang Yesus inginkan adalah kita jangan kuatir dan berpikir kalau hari ini saya mengalami kesusahan, maka seumur hidupku akan terus susah. Pikiran ini salah, sehingga banyak kali kita jatuh kepada faulty thinking kalau Tuhan memberkati kita, kalau Tuhan sayang kepada kita, kita tidak akan diberi kesulitan dan persoalan. Kalau Tuhan sayang kepada kita, pasti semua jalanku lancar. Tetapi pada waktu ada satu kesusahan dan kesulitan dalam hidup kita lalu kita berpikir seluruh hidup kita akan seperti itu. Yesus ingin kita berhenti berpikir seperti itu. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Hari besok ada kesusahannya sendiri. Kesulitan dan sakitmu Tuhan beri “time-frame” satu hari ini, cukup untuk satu hari ini. Memang betul, tidak berarti tidak continue sakit itu, tetapi Ia ingin kita mempunyai pikiran bahwa tidak selama-lamanya dan seluruh hidup kita berada di dalam kondisi seperti itu. Tetapi sekalipun sepanjang hidup kita kita jalani dalam kesusahan dan kesulitan, yang menjadi persoalan, yang Yesus ingin katakan adalah bagaimana reaksi dan cara kita berpikir. Jadi Yesus tidak mengatakan dan menjanjikan kesusahan kita hari ini berhenti hari ini. Kita jalani itu setahap demi setahap di dalam anugerah dan pemeliharaan Tuhan. Hari ini kita jalani, besok kita jalani. Ada anugerah, ada berkat Tuhan di situ, meskipun ada kesulitan dan kesusahan di situ.

Yang kedua adalah “always take it personally” thinking. Apa pun yang terjadi di dalam hidup kita, seringkali kita lihat mengganggu dan menyerang kita secara personal. Kita tidak boleh berpikir begitu karena banyak aspek dalam hidup kita memiliki kompleksitas dimensi dan kaitan yang terlalu besar, tidak boleh kita terlalu cepat mengkaitkan relasinya directly seperti itu. Orang tidak membalas email kita, atau whatzapp kita, lalu kita bilang orang itu tidak suka kepada kita, atau orang itu ignorant dan tidak bisa dipercaya, atau kita pikir dia benci dan marah kepada kita tanpa alasan jelas. Padahal mungkin orang itu hanya sekedar “overlooking” saja, tapi engkau take it personally, akhirnya hubungan menjadi tidak enak. Jika setiap hal selalu take it personally akhirnya hidupmu akan dipenuhi dengan perasaan kesal, anxiety, rasa di-excluded dari lingkungan, semua itu akhirnya mempengaruhi pola berpikir dan cara kita menyelesaikan persoalan.

Yang ketiga, faulty thinking karena kita berpikir apa yang ada di dalam hidup kita sekarang tidak pernah bisa berubah. Akhirnya kita menjadi hopeless dan merasa tidak ada kemungkinan dan jalan keluar bagi sesuatu yang terjadi dalam hidupmu. Kita kehilangan sukacita, kita tenggelam dalam keputus-asaan, dst.

Itu sebab bagian firman Tuhan ini indah luar biasa, yang pertama Paulus memanggil kita untuk berhenti berpikir seperti itu. Seperti apa? Kita kuatir sebab kita berpikir segala sesuatu itu berkaitan dengan diri kita, kita memberi pressure kepada diri kita, kita merasa harus bertanggung jawab untuk merubah dan memperbaiki segala sesuatu, kita ingin in control di dalam segala hal dan itu menjadikan kita harus tahu segala sesuatu, dan semua itu harus di tangan kita, menjadikan kita terus kuatir dan kuatir. Tidak pernah lepas kita selalu mau membaca situasi, apa yang akan terjadi ke depan, bagaimana mengantisipasi hal-hal yang di dalam persoalan kita. Bukan berarti sebagai anak-anak Tuhan kita tidak boleh berencana. Tetapi apa yang sudah kita atur dan kita rencanakan, pada waktu kita taruh dalam konteks dan situasi, kita tidak punya kekuatan untuk mengetahui bagaimana hasil akhirnya, bukan? Apa yang bisa dipersiapkan, itu tanggung jawab kita. Setelah itu bagaimana hasilnya, bukan dalam kontrol kita lagi. Dan di situ kekuatiran tidak perlu menghantui kita. Kita dipanggil Tuhan untuk memikirkan, merencanakan, mempersiapkan baik-baik apa yang bisa kita lakukan ke depan; ada rencana jangka panjang, ada rencana jangka pendek. Kita mengatur keuangan kita baik-baik, kita memikirkan rencana studi anak kita, kita coba melihat apa yang terbaik bagi keluarga dan pekerjaan kita. Selebihnya kita tidak bisa apa-apa. Itu sebab pada waktu engkau takut dan kuatir, firman Tuhan bilang datanglah berdoa kepada Tuhan. Karena hanya Tuhan yang maha tahu, hanya Tuhan yang atur, hanya Tuhan yang kontrol, dan senantiasa ingat Dia adalah Tuhan, Bapamu. Yesus berkata, “Bapa manakah yang memberi batu kepada anaknya jika ia meminta roti, atau memberi ular jika ia meminta ikan? Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya” (Matius 7:9-10). Berkali-kali Yesus mengatakan, jangan kuatir akan hidupmu, jangan kuatir. Pandanglah burung di langit yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan benih dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal namun Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Dia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? (Matius 6:26-30). Apalagi yang kurang Tuhan beri ilustrasi untuk menenangkan hatimu? Apalagi kekuatan yang perlu Dia perlihatkan untuk menyatakan kepada kita bahwa Tuhan itu bukan Allah yang tidak atur dan kontrol hidupmu. Kenapa kita sering kuatir? Karena kita tidak percaya kepada firmanNya.

Yang kedua, kita punya tugas dan tanggung jawab: apa yang kita isi dalam pikiran kita. Paulus bilang, pikir, renung, taruh di dalam pikiranmu, karena hanya dengan pola berpikir itulah kita menyingkirkan toxic thinking dari pikiran kita. Buang semua itu. Alkitab mengatakan apa yang baik, benar, suci, adil, manis, dsb pikirkanlah semua itu. Keluar dari mulut kita, keluar dari tingkah laku kita, keluar dalam ucapan kita. Pada waktu kita terus mengeluarkan kalimat yang negatif, yang tidak baik, itu pasti keluar dari hati kita yang belum di-detox, keluar dari negative thinking dalam proses pikiranmu. Mulai hari ini, ubah cara kita berpikir. Perbaharui pikiran kita dengan hal-hal yang baik, benar, yang adil, yang suci, dst. Itu yang kita pikirkan, yang kita keluarkan. Fokus pikiranmu untuk belajar melihat apa yang baik dari orang itu ketimbang keburukannya. Toxic thinking harus di-replace dengan firman Tuhan yang indah, manis dan baik, yang suci dan sedap didengar.

Albert Einstein mengatakan, “Insanity is doing the same thing over and over again and expecting the same result.” Pada waktu anak kita berontak, jika engkau terus menegur dan mengkritik dia dengan kata-kata dan sikap yang sama, dengan kalimat-kalimat yang negatif, sinis dan reaktif kepadanya, apakah dengan teguran yang sama tiap hari seperti itu engkau pikir bisa menghasilkan different result? Jawabannya, tidak. Tetapi pada waktu engkau membawanya dalam doa, ubah cara berpikirmu kepadanya dan kepada situasi itu, bawa itu dengan pikiran yang benar dan baik, saya percaya perubahan bisa terjadi karena perubahan itu mulai dari dirimu. Kita tidak bisa menghasilkan sesuatu yang berbeda dengan melakukan hal yang sama terus-menerus. Situasi bisa cepat sekali berubah, kondisi bisa cepat sekali berubah, maka firman Tuhan memanggil kita hari ini untuk tidak berespons negatif terhadap segala sesuatu. Buang kebiasaan bersungut-sungut dan menggerutu. Jangan terus mencari-cari hal yang negatif dari orang lain, dia salah, dia keliru, dia kurang ini-itu, dia perlu berubah, dia perlu minta maaf, dsb seperti dalam konteks relasi Euodia dan Sintikhe. Tetapi mulai sekarang selalu pikir yang baik, mulia, lovely, indah, terus pikirkan itu. Dan di situ kita baru memiliki hidup yang menjadi berkat bagi banyak orang.

Kiranya Bapa kita di surga meneduhkan hati kita masing-masing, sebab kita penuh dengan tantangan, kesulitan, problema yang kadang-kadang tidak dapat kita hindarkan terjadi dalam hidup kita. Tetapi hari ini kita belajar bagaimana dipimpin oleh Roh Kudus untuk bereaksi dengan benar dan tepat. Kita bawa dalam doa, kita bawa dalam hati kita untuk selalu melihat keindahan dan kebaikan yang ada dan yang akan terjadi dan kita senantiasa memuliakan Tuhan di dalamnya.(kz)