Facing a Task Unfinished

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Facing a Task Unfinished
Nats: Matius 28:16-20

Dalam hut 18 gereja kita saya mengambil tema “Facing a Task Unfinished” sebagai satu kerinduan kalimat ini bisa menjadi satu encouragement mendorong kita semua. Jika kita melihat apa yang sudah Yesus Kristus katakan di atas kayu salib “Sudah selesai!” menunjukkan karya keselamatan melalui kematian dan kebangkitanNya adalah “task” dari Bapa yang sudah Ia selesaikan dengan tuntas. Tidak ada yang perlu ditambah lagi karena Ia menggenapkan dengan sempurna seluruh tuntutan keadilan Allah dan membayar lunas hutang dosa kita melalui penebusanNya. Maka pertanyaan bagi kita adalah “task” siapa yang belum selesai dan kepada siapa panggilan untuk menyelesaikannya?

Kalimat “facing a task unfinished” adalah syair lagu yang ditulis tahun 1931 oleh Rev. Frank Houghton, seorang hamba Tuhan dan misionari yang melayani sebagai direktur China Inland Mission yang sekarang kita kenal dengan sebutan OMF. Pada tahun 1927 misionari asing ditarik keluar dari Cina karena besarnya penganiayaan yang terjadi di sana kepada gereja dan orang Kristen. Begitu banyak yang mati terbunuh dan menurut catatan ada 750,000 orang Cina Kristen yang masih hidup dan tertinggal tanpa ada gembala. Melihat situasi ini OMF mengambil keputusan untuk kembali ke Cina mengirim 200 orang yang bersedia menjadi misionari melayani di sana. Maka Rev. Frank Houghton mengarang lagu ini sebagai panggilan bagi 200 orang itu dan menjadi dorongan bagi gereja-gereja di Inggris untuk berbagian mendukung dana yang mereka butuhkan. Di tengah situasi yang begitu menakutkan, ketidak-stabilan politik dan penganiayaan yang begitu dahsyat yang sedang terjadi dan kesiapan hati untuk menghadapi kemungkinan mati di dalam pelayanan sungguh menjadi suatu keputusan yang tidak mudah, tetapi puji Tuhan dalam 2 tahun mereka memanggil dan Tuhan menyediakan tepat seperti yang mereka doakan. Keith dan Kristyn Getty tahun 2016 menulis ulang lagu ini bagi peringatan 150 tahun pelayanan OMF. Lagu ini begitu menyentuh hati saya, karena diekspresikan dengan kata-kata yang begitu menegur namun sekaligus menjadi satu dorongan yang luar biasa.

Matius 28:18-20 dalam bahasa Indonesia disebut sebagai “Amanat Agung” the Great Commission. Apa itu misi daripada gereja? Saya percaya semua orang Kristen, para teolog, para ahli dan penafsir Alkitab, semua yang melayani Tuhan sangat mengenal ke empat ayat ini dan sepakat inilah ayat-ayat yang menjadi dasar dan fondasi yang penting apa artinya kita menjadi gereja. Dalam konteks ini kita bukan bicara gereja secara institusi, tetapi gereja secara universal. Kita dipanggil keluar sebagai umat yang telah ditebus oleh Yesus Kristus supaya kita boleh diutus kembali ke dalam dunia ini memberitakan Injil Yesus Kristus dengan kuasa dari Roh Kudus supaya orang-orang itu menjadi murid Kristus. Dan mereka yang telah menjadi murid Kristus itu menjadi perkumpulan murid-murid yang saling membangun di dalam ketaatan sampai Yesus Kristus datang kembali. Pada waktu itu kelak Ia akan dimuliakan oleh semua lidah dan segala lutut bertelut menyembahNya. Itulah definisi gereja, itulah misi gereja. Misi itu dimulai oleh Allah, dikerjakan oleh Yesus Kristus selesai ketika Yesus mengatakan di atas kayu salib, “Sudah selesai!” it is finished. Kita bukan menambah, kita bukan mengganti, kita bukan menggenapkan karena Yesus sudah menyelesaikan misi dari Bapa kepada sang Anak. Misi yang telah selesai itu terus-menerus disebarkan oleh gerejaNya, oleh engkau dan saya. Misi Allah akan terus berjalan sampai Yesus Kristus datang kembali.

Mari kita melihat beberapa hal yang luar biasa indah dari bagian ini.

Pertama, bagaimana murid-murid bereaksi waktu melihat Yesus, ada yang menyembah, ada yang ragu-ragu, di antara percaya dan tidak percaya, di dalam keadaan yang memang tidak gampang dan tidak mudah memahami Yesus sudah bangkit dan hidup kembali. Tetapi di dalam bagian ini, Amanat Agung ini diberikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-muridNya dengan kalimat-kalimat encouragement yang luar biasa, satu dorongan yang luar biasa karena diawali dengan kalimat “kepadaKu telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi,” dan ditutup dengan kalimat “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada kesudahannya.” Bayangkan konteks situasinya, cuma 11 orang yang ada di situ, orang-orang yang kecil sederhana, orang-orang biasa yang tidak berpendidikan, yang tidak punya posisi apa-apa dalam masyarakat, tidak ada uang, tidak ada dana, lalu dipanggil untuk melayani dunia. Satu panggilan yang besar luar biasa, mereka tidak punya bayangan dan pikiran bagaimana dan dengan cara apa menggenapkan panggilan itu, tetapi di hadapan mereka adalah Yesus Kristus yang sudah bangkit dan Dia adalah Tuhan, Dia yang memiliki dunia ini. Maka encouragement ini penting dan mengingatkan kita selalu bahwa Tuhan atur, Tuhan control, kita tidak perlu kuatir dan takut. Kepada murid-murid yang hanya 11 orang, Yesus perlu memberikan kalimat dorongan encouragement ini.

Lalu sesudah itu keluarlah kalimat Yesus yang begitu penting menjadi panggilan dan misiNya bagi setiap orang yang sudah Ia tebus menjadi umatNya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Perhatikan 4 kata perintah di sini: pergi, jadikan, baptis, ajar. Dari 4 kata itu boleh kita katakan kita seringkali fokus kepada kata “pergi.” Dalam buku berjudul “What is the mission of the Church?” Kevin DeYoung mengatakan kita seringkali berfokus kepada kata ini sehingga ini menjadi “the utmost goal” bagi gereja. Sehingga banyak orang Kristen berpikir setiap kali mendengar kata “mission” langsung dikaitkan dengan “doing mission,” “mission trip,” “mission fields,” “mission work.” Misi berarti pergi ke satu tempat, terutama ke pedalaman untuk melakukan aktifitas misi. Tidak heran inilah yang seringkali menjadi ukuran apakah sebuah gereja melakukan misi atau tidak. Akhirnya konsep “pergi” ini menjadi “the utmost calling” dalam melayani Tuhan sehingga panggilan menjadi misionari menjadi satu panggilan yang elite, panggilan yang paling mulia. Saya menyadari menjadi seorang misionari itu bukan hal yang gampang dan mudah dan saya menghormati orang-orang yang bersedia pergi meninggalkan segala sesuatu dan melayani sebagai misionari ke tempat-tempat yang terpencil untuk mengabarkan Injil Kristus. Namun kita perlu dibawa kembali kepada satu balance, melihat di dalam satu keseimbangan, rela dikoreksi dan di-restore dari kekeliruan konsep ini. Banyak orang Kristen yang merasa guilty karena tidak banyak yang dia lakukan bagi pelayanan dan bagi pelayanan misi khususnya dan merasa waktunya banyak tersita bagi diri sendiri. Banyak hamba Tuhan yang merasa gerejanya kurang di dalam melakukan semua hal dan memberikan teguran demi teguran ‘kita harus melakukan ini, kita harus melakukan itu,’ padahal kita perlu memikirkan ulang, benarkah kita harus melakukan semua hal? Kevin DeYoung mengingatkan terkadang di dalam semangat dan jiwa missional itu kita meletakkan kata “harus” [ought] ketimbang kata “bisa” [can]. Gereja harus melakukan sesuatu bagi human trafficking; gereja harus melakukan sesuatu bagi korban AIDS; gereja harus melakukan sesuatu bagi dunia pendidikan. Dan ketika gereja tidak menangani problem-problem ini, kita menuduh gereja sudah tidak taat kepada panggilannya dan tidak care kepada dunia ini. Lebih baik kita melihat aspek-aspek pelayanan ini sebagai hal-hal yang penting tetapi bukan satu-satunya yang paling utama.

Yang kedua, salah pengertian tentang kata “baptis.” Seringkali keberhasilan atau kegagalan sebuah pelayanan diukur dari berapa banyak orang yang dibaptis, atau mengukur apakah seseorang sungguh-sungguh sudah menjadi murid Yesus kalau dia sudah dibaptis. Maka ketika seorang hamba Tuhan atau misionari pergi ke satu ladang misi, ini menjadi satu ukuran berhasil tidaknya pelayanannya dengan menghitung berapa jumlah orang yang dia baptis. Akhirnya begitu satu orang atau satu suku mau mendengar Injil, lalu cepat-cepat dibaptis tanpa memberikan bimbingan dan pemahaman yang tuntas tentang apa artinya menjadi murid Kristus. Inilah yang terjadi pada gerakan misi di masa lalu sehingga menghasilkan Kristen tradisi yang tidak mengerti iman yang sejati dan cenderung mencampurkannya dengan sinkretisme agama [kepercayaan animisme] yang lama. Dengan penekanan kepada aspek baptis sebagai hal yang kelihatan dan ekstrinsik sebagai bukti iman percaya seseorang akhirnya menjadikan seorang Kristen diukur dari aspek yang kelihatan saja. Akhirnya standar pelayanan diletakkan kepada jumlah dan achievement kepada program dan kegiatan ekstrinsik belaka. Jangan mengukur sukses tidaknya satu pelayanan dengan berapa banyak orang yang sudah engkau baptis di dalam gerejamu dan berapa banyak jumlah jemaatmu, dsb. Kita harus singkirkan kekeliruan konsep seperti itu.

Kembali lagi kepada kalimat Yesus dalam Amanat Agung ini, apa yang menjadi penekanan yang paling utama? Saya percaya penekanannya ada pada kata “jadikan.” Make disciples of Christ, jadikan murid. Lalu tiga hal yang menuju ke sana: kata “pergi,” bicara mengenai aktifitasnya, kata “baptis,” bicara aspek ekstrinsik bukti orang itu percaya, lalu sesudah itu kata “ajar,” ada pembinaannya, ada pembentukannya, how to treasure and keep the teaching of Jesus menjadi tujuannya. Semua itu supaya apa? Supaya menjadikan orang itu murid-murid Kristus yang sejati. Ini aspek yang paling penting.

Saya ingin dan saya rindu agar setiap kita mau sungguh-sungguh menjadi murid-murid Kristus yang otentik, inside out. Kita harus melihat hidup kita itu bagaimana dari dalam ke luar, bukan hanya aspek ekstrinsik saja. Sehingga kita tidak mengukur standar rohani orang itu dari jubah yang dia pakai, dari jabatan pelayanannya, dari aktifitas yang dia lakukan, dsb, dsb. Tetapi memang tidak gampang, karena orang seringkali lebih cepat melihat luarnya lalu ambil kesimpulan apakah orang itu memang milik Kristus dari standar ukuran seperti itu. Itu sebabnya hari ini saya mengajak kita fokus pada waktu memikirkan ulang what is the mission of the church, gereja ini kita mau berkumpul seperti apa, fokusnya adalah to make disciples of Christ. Apa pun program dan aktifitas yang kita lakukan tujuannya untuk menjadikan engkau sungguh-sungguh murid Kristus. Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada pada waktu kita melihat saudara kita bertumbuh menjadi murid Kristus yang semakin baik. Itu yang saya inginkan dan rindukan. Saya tidak menginginkan orang menjadi pengikut saya, saya tidak ingin seperti itu. Saya ingin setiap kali bertemu denganmu saya melihat rupa Kristus semakin nyata di dalam dirimu. Itulah yang menjadi sukacita dan kebahagiaanku. Menjadi serupa dengan Kristus itu adalah yang menjadi fokus utama di dalam menjadikan seorang murid Kristus. Saya merindukan kita satu dengan yang lain bertumbuh makin menyerupai gambar Kristus “Christlikeness” yang disebut oleh Paulus dalam Galatia 4:19.

Yang kedua, kita seringkali melihat menjadi murid Kristus menjadi suatu keseragaman tujuan, tetapi kita tidak boleh berhenti sampai di situ karena kalimat Kristus “jadikanlah semua bangsa muridKu.” Menjadikan murid adalah fokus keseragamannya, tetapi fokus keberagamannya adalah “segala bangsa.” Waktu perintah ini diberikan kepada murid-murid, ini baru satu bangsa yaitu bangsa Yahudi. Artinya, this task is unfinished. Dan pada waktu mereka melayani 20-30 tahun belum selesai, kita tidak boleh mengatakan mereka belum menjalankan misi Tuhan. Ini akan menjadi misi bagi semua kita. Tetapi pada waktu kita katakan menjadikan semua bangsa murid Kristus, artinya menjadi orang Kristen karena pada waktu kita pergi ke Afrika kita akan bertemu orang kulit hitam yang menjadi murid Kristus. Mungkin cara hidupnya, ibadahnya, pakaiannya, budayanya berbeda. Demikian juga pada waktu kita ke Cina, kita bertemu dengan orang berkulit kuning yang menjadi murid Kristus. Bahasanya tidak sama dengan kita tetapi mereka sama-sama murid Kristus seperti kita. Dan kalau semua orang Kristen, semua orang di gereja sudah menjadi murid Kristus, engkau dan saya tidak perlu kecewa dan tidak perlu bingung apakah kita sudah menjalankan misi Kristus.

“Jadikanlah semua bangsa murid Kristus,” ini bukan kalimat yang memberatkan. Banyak orang membaca perintah Tuhan Yesus merasa ini adalah misi yang begitu susah dan sulit untuk dijalankan dan belum kita lakukan. Tidak. Ini adalah misi yang sudah dan sedang kita kerjakan dan lakukan saat ini. Waktu perintah ini diberikan kepada murid-murid yang pertama, memang belum terjadi dan belum dilakukan. Tetapi setelah hari Pentakosta kita melihat dengan segera dan dengan luar biasa misi ini tersebar luas di antara berbagai-bagai bangsa dan suku dan bahasa. Misi itu terjadi dan terus berlangsung sampai hari ini dan sampai kedatangan Tuhan Yesus kembali. Puji Tuhan!

Maka saya rindu yang selalu jadi fokus pelayanan kita adalah menjadikan semua orang di tempat ini murid-murid Kristus yang sungguh-sungguh sejati dan yang mengarahkan hati kita melihat perintah ini sebagai perintah yang tidak memberatkan dan menyulitkan hidup kita. Dan jangan lupa ada kalimat Yesus, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada kesudahannya.” Kita merasa tidak mampu, kita merasa tidak bisa, Kristus mampu, mungkin dan sanggup. Yang Dia minta adalah kita melakukannya dengan setia.

Saya tidak ingin dalam pelayanan di tempat ini meninggalkan my legacy, dan tidak boleh seperti itu. Betapa sedih dan prihatin kalau mendengar ada hamba Tuhan yang melayani lama di satu tempat, setelah pelayanannya selesai dia masih memaksakan penerusnya untuk menjalankan apa yang dia inginkan. Kita tidak boleh seperti itu. Yang ada ialah Tuhan mempercayakan pelayanan kepada saya sekarang, setelah masa saya lewat, Tuhan akan melanjutkan dan mempercayakan pelayanan itu kepada hamba Tuhan selanjutnya. Tugas saya sekarang adalah mempersiapkan generasi yang muda untuk bersiap menghadapi tantangan jaman mereka kelak. Tidak benar kalau saya tidak lagi melayani di sini lalu saya masih mau ikut campur atur dan mau seperti yang saya lakukan dulu. Itulah yang namanya meninggalkan legacy bagi pelayanan. Tidak. Pelayananku adalah menghadapi tantangan di jamanku. Saya dipanggil Tuhan untuk menghadapi tantangan dunia jaman ini, bagaimana membawa orang di luar sana sebisa mungkin sebanyak mungkin menjadi murid Kristus. Ini panggilan saya. Sesudah itu selesailah pelayanan saya. But the task still unfunished. Maka saya mempersiapkan anak-anak kita, generasi ke depan to face their own challenges. Dengan demikian Injil akan senantiasa terus dikumandangkan dengan relevan bagi setiap jaman. Saya ingin pikiran-pikiran seperti ini terus saya transfer dan ajak sdr melihat prinsip pelayanan seperti apa.

Maka sampai di sini kita kembali kepada pertanyaan di atas, apa misi gereja? Misi gereja adalah menjalankan misi Kristus, menjadikan semua bangsa murid Kristus, dengan mengajarkan hidup Kristus dan meng-encourage satu sama lain untuk bertumbuh semakin menjadikan gambar Kristus itu nyata di dalam hidup kita. Kita ingin mengutamakan berita Injil kabar baik Yesus telah mengalahkan dosa dan kematian oleh salib dan kebangkitanNya menjadi berita yang terus kita sampaikan. Kita ingin setiap orang Kristen menjadi surat-surat Kristus yang terbuka dan dibaca orang, dan dari situ mereka boleh mengenal siapa Allah yang kita sembah (2 Korintus 3:3). Saya mau itu menjadi hal yang terjadi di tengah kita dan saya rindu percakapan yang full of encouragement boleh terjadi satu sama lain. Di dalam kesempatan ini saya juga rindu setiap jemaat boleh saling mengucapkan terima kasih satu dengan yang lain, menyatakan apresiasi atas pelayanan yang mereka lakukan. Saya rindu hal-hal seperti ini boleh menjadi satu kultur yang indah di dalam komunitas kita, fluent di dalam spiritual talk, selalu melihat apa yang baik, apa yang indah dari seseorang. Maka setiap percakapan kita akan penuh dengan keindahan dan setiap orang terberkati very wonderful. Kiranya setiap kita penuh dengan word of encouragement karena kita tahu kita adalah murid-murid Kristus yang saling melengkapi dan saling melayani. Kita tidak mungkin bisa memiliki satu worship yang indah kalau kita tidak mempunyai orang-orang yang committed setiap minggu berlatih sama-sama dan mempersiapkan music dengan baik. Kita bersyukur untuk guru-guru yang setia mempersiapkan bahan di rumah untuk menyampaikan firman kepada anak-anak kita. Dan semua menjadikan kita melihat pelayanan ini sebagai satu pelayananan the body of Christ karena kita sama-sama bertumbuh semakin hari semakin serupa dengan gambar Kristus. Kita punya gereja sangat terbatas. Kita minim fasilitas, kita self-support mengumpulkan dana bagi kebutuhan kita. Kita tidak banyak punya resources dan orang-orang yang terkemuka. Dan kita tidak mungkin bisa mengerjakan semua. Namun kita tidak boleh merasa guilty dan berkecil hati dan merasa kita hanya mengerjakan hal sedikit dan kecil karena itu adalah hal yang indah bagi kerajaan Allah yang besar. Dan saya percaya Tuhan tidak pernah menganggap itu hal-hal yang kecil dan sepele. Jangan lupa kalimat Tuhan Yesus, “Barangsiapa memberi secangkir air sejuk saja pun, ia tidak akan kehilangan upahnya” (Matius 10:42). Di situ kita tahu Tuhan menghargai semua yang kita kerjakan dan lakukan bagiNya meskipun kecil dan sederhana di mata orang lain. Yang terpenting dan terutama mari kita kerjakan apa yang menjadi tugas tanggung jawab kita dengan setia, dengan sepenuh hati, dengan segenap kemampuan kita.

Bersyukur kepada Tuhan, setiap kita boleh sama-sama melihat panggilan Tuhan dan pelayanan bagi Kristus. Kita mempersiapkan segala sesuatu supaya pelayanan kita menciptakan, menghasilkan, membentuk murid-murid yang semakin serupa dengan Kristus. Kiranya Tuhan memberkati gereja ini dan setiap orang yang ada di dalamnya menjadi satu tubuh yang indah, saling membangun, saling menguatkan, saling menghibur, saling memelihara dan menyatakan kata-kata yang penuh dengan sukacita dan dorongan yang indah. Sama seperti Kristus memberi encouragement kepada 11 murid yang sungguh tidak berdaya itu, kita juga menyaksikan dorongan Kristus ini menjadikan pelayanan bagi kerajaan Allah sampai hari ini tetap dilakukan oleh semua anak-anak Tuhan dengan setia. Dan kita percaya pelayanan itu akan terus berjalan sampai Tuhan Yesus datang kembali.(kz)