Emosi Kristen yang Dewasa

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Emosi Kristen yang Dewasa
Nats: Roma 12:14-15

Lukas 17:11-19 mencatat satu peristiwa ketika Tuhan Y.esus dalam perjalanan menyusuri perbatasan Galilea dan Samaria, ada sepuluh orang kusta berseru dan meminta kesembuhan dariNya. Jatuhlah belas kasihan Yesus kepada mereka dan Ia kemudian menyembuhkan sepuluh orang kusta itu. Namun apa yang terjadi setelah anugerah Tuhan datang kepada mereka? Ternyata dari sepuluh orang itu hanya satu orang saja yang kembali kepada Tuhan untuk berterimakasih kepadaNya. Lukas mencatat kalimat Yesus, “Bukankah sepuluh orang itu semuanya telah sembuh? Dimanakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang ini?” (Lukas 17:17-18). Dari kalimat ini kita menemukan kekecewaan hati Tuhan Yesus ketika hanya satu orang saja yang berespons dengan tepat datang bersungkur untuk berterimakasih kepadaNya karena orang itu tahu anugerah itu harus direspons dengan syukur; anugerah itu tidak boleh diresponi dengan take it for granted, seolah itu memang hak kita menerimanya. Dari peristiwa ini kita mau belajar hal pentingnya meletakkan secara tepat bagaimana kita berespons dengan anugerah Tuhan.

Betapa indahnya jika setiap orang Kristen, setiap anak-anak Tuhan memiliki kepekaan untuk secara benar berespons terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Betapa indahnya komunitas anak-anak Tuhan yang berkumpul di dalam relasi yang saling menghargai, saling bersyukur dan saling membangun, memakai kata-kata yang penuh berkat bagi orang lain. Betapa indahnya jika setiap orang memiliki reaksi emosi yang tepat adanya. Itulah satu komunitas gereja yang kita rindukan boleh terjadi di tengah kita. Komunitas gereja kita tidaklah sempurna. Kita penuh dengan kelemahan, kekurangan, keterbatasan. Kita terima fakta itu. Tetapi kita tidak boleh berhenti untuk berjuang mengejar kesempurnaan, setiap kita harus berjuang membangun sebuah komunitas orang percaya yang sehat dan saling memberkati. Kita memang tidak mungkin menjadi gereja yang sempurna dan di dunia ini tidak ada gereja yang sempurna. Namun kita harus merindukan komunitas kita menjadi satu komunitas gereja yang sehat.

Rasul Paulus berkata, “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu. Berkatilah dan jangan mengutuk. Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis” (Roma 12:14-15). Bagian firman Tuhan ini indah luar biasa mengajak kita bicara soal appropriate reaksi dari emosi kita yang tepat. Bersukacita dengan mereka yang bersukacita; menangis dengan mereka yang sedang dalam dukacita. Firman Tuhan memberikan perintah itu sebagai suatu standar perilaku yang sepatutnya dinyatakan oleh anak-anak Tuhan. Penempatan reaksi emosi yang tepat adalah tanda kedewasaan rohani yang sehat. Kita menyadari dan mengakui reaksi emosi kita seringkali inappropriate, tidak tepat, bahkan cenderung menyatakan satu reaksi yang memperlihatkan kedangkalan hati dan ketidak-matangan rohani kita. Sudah tentu kita tidak boleh membandingkan dan mengukur diri dengan orang di luar, yang mungkin tidak mengenal Tuhan. Reaksinya adalah kalau orang lain sedang bersukacita karena mendapat hal-hal yang baik atau mengalami kemujuran, kebanyakan reaksinya adalah iri dan tidak suka kepada kesukaan orang itu. Dan pada waktu melihat kemalangan terjadi kepada orang, yang keluar adalah kata-kata yang menyakitkan, menghakimi dan mempersalahkan orang itu atas kemalangan yang menimpanya. Iri waktu melihat orang dapat kangtao, tertawa waktu melihat orang kena bencana. Reaksi manusia sering seperti itu, bukan?

John Chrysostom, bapa gereja di abad 4AD mengatakan dari dua hal ini lebih mudah kita menitikkan air mata dengan orang yang kesusahan, namun tidak gampang senang orang sukses. Kalau kita bisa sedih dengan orang yang sedih dan bersukacita melihat hidup orang lebih sukses dan lebih lancar daripada kita, itu merupakan keagungan karakter dan juga keindahan kasih kita ingin orang itu sungguh-sungguh sukses, berhasil dan flourish dalam hidupnya. Paulus minta sikap kita kepada orang seperti itu. Kita ikut senang dengan orang yang sedang senang; dengan yang sedang bersusah kita ikut sedih keluarkan air mata. Belajar membantu orang yang berada di dalam kesulitan walaupun diri kita sendiri juga punya kesulitan masing-masing. Sayangnya, kita seringkali terlalu cepat memberikan penilaian yang keliru dan judgmental terhadap orang yang sedang ditimpa kesulitan ketimbang menangis dan berduka bersama mereka. Kita seringkali lebih mudah iri kepada kesuksesan orang; kita tidak suka melihat keberuntungan yang dialami orang; atau mungkin kita tidak iri dan tidak kesal, tetapi kita tidak ikut bersukacita dan hanya pasif menanggapi sukacita orang itu dengan mengatakan, ‘good on you!’ satu sikap yang seolah-olah netral, kita tidak menyatakan iri, kita tidak menyatakan kecewa atau tidak terlalu senang dengan sukacita orang itu. Tapi anak Tuhan tidak boleh bersikap seperti itu. Maka pada waktu firman Tuhan ini memerintahkan kita untuk bersukacita dengan orang yang bersukacita, menangis dengan orang yang menangis, itu adalah satu penempatan reaksi emosi yang tepat yang memperlihatkan keindahan kedewasaan rohani terjadi di dalam hidup kita.

Tetapi ingatkan, ayat 14 dan 15 ini menjadi satu paket, satu perintah yang tidak boleh dilepaskan satu dengan yang lain. “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu. Berkatilah dan jangan mengutuk. Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis” (Roma 12:14-15). Pada ayat 14 muncul dua kata: aniaya dan kutuk. Kutuk boleh kita katakan adalah verbal abuse; aniaya adalah physical abuse. Sanggupkah kutuk yang keluar dari mulut orang yang penuh dengan kebencian, sanggupkah aniaya yang terus diberikan orang secara fisik melukai kita dibalas dengan kata-kata berkat dari mulut kita? Sanggupkah luka, kesulitan dan kehilangan itu justru membuat jiwa kita makin besar dan agung? Waktu membaca ayat-ayat itu kita mungkin tidak berpikir lebih dalam apa maknanya setelah kita bawa itu di dalam realita hidup kita sehari-hari. Tetapi luar biasa firman Tuhan, sebelum kita bisa menjadi sumber berkat yang menikmati kesukacitaan orang lain dan meletakkan kaki kita kepada sepatu orang yang sedang mengalami dukacita dan kesulitan itu, terlebih dulu kita perlu mengalami kesembuhan dari luka hati dan kehilangan kita oleh kasih karunia dan berkat Tuhan mendatangkan transformasi dan keindahan bagi kita.

Setiap orang yang datang di dalam sebuah komunitas, pada waktu kita berkumpul sama-sama, kita memiliki problema dan kesulitan kita masing-masing. Kita memiliki baggage masing-masing yang di dalamnya ada luka hati dan kesedihan. Kita masing-masing membawa akumulasi dari hurts and losses yang tersimpan menjadi borok dan luka yang dalam. Kalau kita belum bisa membereskan itu menjadi satu keindahan dalam hidup kita masing-masing, kita tidak mungkin bisa menyatakan reaksi yang tepat kepada orang lain. Maka mari kita coba tenang teduh sebentar, masing-masing merenungkan berapa banyak hurts dan losses yang telah terakumulasi di dalam sepanjang hidup kita. Ini semua bisa terjadi di dalam hidup kita dan menimbulkan kekuatiran dan stress yang besar. Dan gampang sekali hal-hal seperti itu menjadi hal yang menyedot menghabiskan semua energi kita, membuat kita depresi dan kehilangan sukacita, dan kehilangan keinginan untuk keluar dari situasi kita. Mari kita bawa semua itu di hadapan Tuhan dan kiranya Ia boleh menyembuhkan kita dan menolong kita membereskannya sehingga tidak menjadi toxin satu sama lain karena kita masing-masing punya hurts and losses itu.

Dalam Yohanes 11 ketika Yesus melihat Maria dan keluarganya menangis atas kematian Lazarus, saudaranya, Yesus ikut menangis bersama mereka. Yohanes mencatat, Marta dan Maria mempersalahkan Yesus, “sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (Yohanes 11:21, 32). Yesus dipersalahkan mengapa Dia tidak segera datang lebih cepat untuk menyembuhkan Lazarus. Di dalam keadaan deeply in sorrow and grief, normal keluar kata-kata seperti itu. Kita perlu mengerti, di tengah orang yang kehilangan kita bisa melihat kemarahan, kekecewaan, kesedihan, dsb dan lalu akhirnya mengeluarkan kata-kata yang sanggup bisa mendatangkan luka bagi orang yang ada di sekitarnya. Itu bisa terjadi di dalam satu komunitas, hurt people hurt people. Maka firman Tuhan hari ini memanggil setiap kita, berkatilah orang yang menganiaya kamu, berkatilah orang yang mengutuk engkau. Itu tidak gampang dan tidak mudah sebelum kita sendiri belajar untuk disembuhkan oleh Tuhan, bagaimana kita melihat luka dan kehilangan itu Tuhan menjadi kekuatan dan penolong kita yang nyata. Di situ kita memuliakan Allah. Di balik daripada semua luka dan kehilangan itu kita menyaksikan Tuhan memelihara kita dengan indah dan baik.

Jerry Sittser mengalami kehilangan yang begitu dahsyat dan dia menulis buku kesaksian hidupnya yang luar biasa, judul bukunya adalah “A Grace Disguise: How the Soul grows through Loss” sebuah anugerah yang terselubung: bagaimana jiwa kita bertumbuh melalui kehilangan yang kita alami. Jerry menuliskan pengalaman hidupnya, dalam satu kejap saja dia kehilangan mama dan isteri yang sangat dia kasihi dan ke empat anaknya tewas dalam sebuah kecelakaan karena mobilnya ditabrak oleh sebuah mobil dari arah berlawanan. Kita sulit membayangkan bagaimana Jerry bisa melewati prahara seperti ini. Itu adalah satu catastrophic loss yang begitu dahsyat terjadi padanya. Namun Jerry bisa menulis satu kalimat yang indah di dalam bukunya, keterhilangan seperti ini bisa mentransformasi atau sebaliknya bisa menghancurkan jiwa kita dan peristiwa itu tidak akan membuat kita menjadi orang yang sama seperti sebelumnya. Luka hati, keterhilangan, aniaya dan kutuk itu semua sanggup bisa memakan habis jiwa kita, sehingga tidak lagi menyisakan sesuatu apapun di dalam dirimu. Jiwa kita bisa hancur lebur tergiling habis oleh dukacita dan luka hati oleh karena hinaan dan aniaya dari orang yang membencimu, betapa sulit membuat kita bisa memberkati orang itu. Kepahitan dan kemarahan akan memakan habis dan menghancurkan jiwamu. Atau sebaliknya jiwamu akan menjadi seperti balon, yang semakin ditiup semakin besar. Itulah yang dikatakan Jerry Sittser ini, dia membawa jiwanya kepada Tuhan untuk dibentuk melewat proses ini.

Berkatilah orang yang menganiaya kamu, berkatilah, jangan mengutuknya. Bersukacitalah dengan orang yang mengalami keadaan yang penuh dengan sukacita, menangislah dengan orang yang mengalami kedukaan. Kenapa Paulus memberikan perintah-perintah yang begitu indah ini? Engkau dan saya patut membereskan aspek dari luka dan keterhilangan yang terjadi di dalam diri kita.
Elizabeth Kubler-Ross memperlihatkan ada 5 stages proses orang bereaksi melewati sesuatu yang secara dahsyat dan mendadak tidak terduga dalam hidupnya. Stage pertama: denial; stage kedua: anger; stage ketiga: bargaining; stage keempat: depression; stage kelima: acceptance. Itulah yang terjadi kepada orang yang tiba-tiba mengalami sakit keras, atau anaknya meninggal, atau hal-hal yang tidak terduga tiba-tiba terjadi dalam hidupnya. Pertama, denial, orang itu akan sangat kaget dan dengan segera menolak realita itu, lalu kemudian setelah itu dia masuk kepada satu tahap anger, tidak terima, marah dan pahit, kenapa hal yang tidak baik itu terjadi kepadanya. Lalu sesudah itu masuk kepada fase bargaining, tawar-menawar. Kalau dia adalah orang yang percaya Tuhan, dia akan tawar-menawar, kalau Tuhan menyembuhkannya dari sakitnya, dia berjanji memakai hidupnya lebih baik dan melayani Tuhan, dsb. Lalu pada waktu proses itu menjadi panjang, orang itu tenggelam dalam despair, keputus-asaan dan depresi, merasa tidak ada jalan keluar baginya. Lalu sampai kepada tahap yang terakhir yaitu acceptance, menerima hal itu dengan pasrah dan percaya Tuhan yang in control dan itu membuatnya damai. Kiranya memahami fase seperti ini membuat kita bisa ikut bersimpati dan empati dengan orang-orang yang sedang mengalami kedukaan. Kita jangan cepat bereaksi dengan komentar atau sikap menambahkan kesulitan kepada orang itu. Kadang orang yang ada di sekitar menunjukkan sikap yang tidak tepat, menghakimi dan memberikan komentar-komentar negatif yang bukan saja tidak diperlukan tetapi menambah luka dan kesedihan orang itu. Demikian juga orang yang dalam kedukaan bisa saling mempersalahkan dan blaming satu sama lain. Guilty, anger dan berbagai emosi bisa muncul. Pada waktu seseorang dalam proses grieving, itu tidak boleh kita kaitkan bahwa orang itu kurang beriman. Proses grieving itu normal dan harus dijalani setahap demi setahap. Kesedihan dan tangisan yang terjadi karena keterhilangan dan luka itu sesuatu reaksi yang dia perlu jalani. Kita tidak boleh memberhentikan proses itu dengan mengatakan, “Sudah, jangan menangis lagi, percaya kepada Tuhan. Tuhan punya rencana yang indah bagimu.” Atau kepada orang yang dalam keadaan sakit dia mengaduh dan mengeluh, kita jangan cepat-cepat menghakimi orang itu kurang beriman. Jangan bilang untuk dia tidak mengeluh, “kuat ya, di dalam Tuhan, kalau tidak kuat artinya kamu kurang beriman,” itu kalimat ngawur dan dua hal yang tidak ada kaitannya sehingga terjadilah hal yang tidak sehat yaitu kita tidak membiarkan proses berduka terhadap apa yang terhilang itu di dalam hidup kita. Pada waktu proses itu kita abaikan, gampang kemudian kita mempersalahkan orang dan situasi sebagai penyebab kesulitan kita. Gampang kemudian kita mempersalahkan Tuhan dan merasa tidak berhak menerima segala kesulitan itu. Gampang kita menjadi marah dan terluka dan mengatakan tunggu satu kali kelak aku akan membalas dendam kepada orang yang berbuat jahat kepadaku, dsb. Semua itu tidak akan pernah menyembuhkan engkau dan bahkan bisa menghancurkan jiwamu.

Dalam Yohanes 12:23-24 Yesus berkata, “Aku mengatakan kepadamu sesungguhnya jika satu biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah…” di sini Yesus bicara mengenai kematianNya yang akan menghasilkan kehidupan dan keselamatan. Tetapi kalimat ini juga menyatakan satu prinsip penting: tidak akan pernah ada keindahan dan berkat yang baru di depanmu jikalau engkau tidak bersiap menguburkan masa lampau yang pahit. Kalau terus disimpan, dia tetap akan menjadi biji saja. Dia harus dikuburkan, jadikan itu hal yang sudah lewat dan tidak lagi engkau simpan dan pelihara dalam hatimu. Itu sama seperti kita membuang banyak sampah yang tidak perlu dalam rumah yang menjadikan rumahmu membusuk dan berbau. Buang itu. Apa yang sudah lewat, apa yang sudah terjadi, apa yang sudah dikatakan sebelumnya, engkau harus selesaikan dan kubur dalam-dalam.
Maka pertama, kita tidak akan pernah bisa menjadi berkat dan memberkati orang kalau kita menjadikan hurt dan losses itu menggerogoti jiwa kita. Kedua, kita harus kubur apa yang sudah lewat. Kesuksesan masa lampau, kegagalan masa lampau, tidak boleh mendikte hidupmu hari ini, apa yang perlu engkau pikirkan adalah ke depan. Kesuksesanmu di masa lampau tidak boleh menjadi memori yang engkau pikir harus terus terjadi dalam hidupmu, demikian juga dengan kegagalan dan keterhilanganmu. Jangan jadikan itu mengikat engkau. Baru kemudian engkau bisa melahirkan hal-hal yang baru dari apa yang lama itu. Kita belajar dari masa lampau menilai hidup dan menjadikanmu makin bijaksana menghadapi hari ke depan. Pada waktu engkau mengalami kehilangan, engkau bisa mengerti hati orang yang mengalami kehilangan dan berbelas kasihan kepadanya. Pada waktu engkau diberkati Tuhan dengan kesuksesan di masa lampau, engkau akan belajar tekun dan sabar di dalam menghadapi kegagalanmu menanti Tuhan. Itu semua mendatangkan kesembuhan bagi jiwamu. Sehingga sampai kepada ayat 15, engkau bisa bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan menangis dengan orang yang menangis. Di situ menghasilkan empati yang dalam bagi orang lain.

Pada waktu kita menghadiri kebaktian penghiburan, menyaksikan kesedihan dan kedukaan dari kematian orang yang kita kasihi, senantiasa ingat kita datang untuk melayani, untuk berbagi dalam dukacita mereka, kita bukan datang untuk dilayani dan diperhatikan. Itu adalah bagian dari pelayanan kita. Demikian juga kalau engkau menghadiri pesta kegembiraan, tetapi sekalipun seperti itu, engkau juga tidak boleh menuntut orang yang sedang bersukacita itu melayani engkau. Jangan marah dan merasa personal, seolah kamu itu tamu yang tidak penting. Kita datang untuk melayani, bukan untuk dilayani. Itu tanda kematangan rohani dan emosi kita. Pada waktu kita hadir di dalam pesta nikah orang, kita datang di situ untuk melayani dia, ikut bersukacita dengan sukacita dia. We share joy sukacita itu bersama-sama. Pada waktu dia dalam keadaan sedih, kita juga datang take part di dalam kesedihannya. Itu semua terjadi pada waktu kita belajar sanggup juga bisa mengalami apa yang Tuhan kerjakan dan bentuk dalam hidup kita masing-masing melalui kesulitan dan penderitaan dan kita menjadi anak Tuhan yang bertumbuh di dalamnya.

Saya rindu firman Tuhan hari ini menjadi berkat bagi setiap kita supaya kita menjadi satu jemaat yang saling menguatkan dan saling menghibur satu dengan yang lain. Bersyukur kalau hari ini kita bisa sama-sama datang kepada Tuhan, boleh diberkati oleh firmanNya. Kiranya Ia menjadikan firman ini indah bagi setiap kita semua. Kita tahu tidak gampang dan tidak mudah kita mengalami luka oleh karena ada aniaya dan ada kalimat-kalimat kebencian yang jahat dilontarkan orang kepada kita. Yang bukan saja menyatakan ketidak-sukaan tetapi juga menyatakan kutuk dan fitnah kepadamu. Kita berdoa kiranya di dalam setiap luka dan keterhilangan serta kesulitan yang kita alami, kita tidak mempersalahkan Tuhan, kita juga tidak mempersalahkan diri sendiri dan mempersalahkan orang lain. Di situ kita mau belajar dibentuk oleh Tuhan supaya melalui itu kita justru boleh menjadi berkat, mengeluarkan blessing kepada orang lain. Di situ kita boleh bersukacita bahwa kita boleh menjadikan hidup kita benar dan beres di hadapan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain. Pada waktu kita melihat saudara-saudara kita di dalam sakit dan penderitaan, mereka menangis dan berduka, kita juga sanggup bisa menjadikan air matanya menjadi milik kita. Dan pada waktu kita melihat segala kesuksesan, keberuntungan dan sukses orang lain, hati kita melimpah dengan syukur karena kita menyaksikan Tuhan menyatakan kebaikan kepada orang lain.(kz)