The Delight of Sabbath

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: The Delight of Sabbath
Nats: 1 Timotius 4:3-5

Hari ini dalam perayaan Mother’s day, saya ingin mengkaitkannya dengan membawa kita memahami makna Sabat. Kenapa? Karena harus kita akui, tidak ada orang yang bangun lebih pagi daripada para isteri dan para ibu di rumah kita dan tidak ada orang yang tidur lebih malam daripada mereka. Dari sejak pagi sampai malam hari, tidak ada waktu dimana isteri dan ibu bisa beristirahat dan berhenti dari kesibukannya, dan isteri kita kadang-kadang mungkin berdoa kepada Tuhan kalau boleh Tuhan memberi lebih daripada 24 jam sehari karena pekerjaannya terlalu banyak hal dan rasanya tidak pernah selesai-selesai. Walaupun dia sudah bekerja 7 hari seminggu dengan tidak berhenti, tetap rumahnya messy dan berantakan bukan karena isteri tidak rapikan tetapi karena diberantaki dan dikotori suami dan anak-anaknya. Kiranya hari ini menjadi satu hari “the delight of Sabbath” bagi para isteri dan ibu, menikmati kasih sayang, syukur dan pujian kita kepada mereka. Kita menghargai dan mengucap syukur akan kasih dan kesetiaan mereka. Dan kiranya firman Tuhan ini juga boleh menjadi kekuatan dan rasa teduh bagi mereka bahwa mereka juga membutuhkan sabat di hadapan Tuhan.

Namun sebelum kita memikirkan lebih dalam akan makna keindahan Sabat, kita melihat satu bagian Alkitab dari 1 Timotius 4:3-5 yang sangat penting, satu panggilan etika moral dari rasul Paulus bicara mengenai dua aspek kebutuhan hidup manusia di dunia ini, dua kebutuhan manusia yang paling mendasar, yaitu kebutuhan akan makanan dan kebutuhan akan seks. Tidak ada orang yang tidak membutuhkan dua hal ini karena kita manusia dicipta oleh Tuhan bersalut darah dan daging; kita bukan seperti malaikat yang hanya terdiri dari roh saja. Dan bukankah dua kebutuhan ini bisa membuat dunia ini pusing tujuh keliling? Bukankah segala kejahatan terjadi bersumber dari dua kebutuhan ini yang manusia tidak pernah mengerti untuk dipuaskan? Sex trafficking, prostitusi, pornografi, semua itu berkaitan dengan bagaimana manusia salah mengerti dan abusive akan kebutuhan seks. Manusia merampas dan menjarah harta orang lain, manusia tidak pernah puas dengan kekayaannya, dengan apa yang sudah dia miliki, tanahnya, ladangnya, perusahaannya. Dan meski pun sudah punya banyak, orang selalu iri melihat milik orang lain dan berusaha mendapatkannya dengan berbagai cara. Sampai kapan kebutuhan akan materi, makan minum itu bisa dipuaskan?

Alkitab memperlihatkan apa yang menjadi intention Tuhan menciptakan manusia pada awalnya dengan mencukupkan dua kebutuhan ini. Dalam Kejadian 1 dan 2 kita melihat Tuhan Allah menciptakan alam semesta dan Allah menciptakan segala sesuatu, makan minum yang Ia sediakan di alam ini dan setelah semuanya lengkap Tuhan Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan, dan memberkati persatuan antara laki-laki dan perempuan dan Ia melihat apa yang telah diciptakanNya itu sungguh amat baik adanya. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai dua gender seks yang berbeda, mempunyai intention dan tujuan yang penting yaitu melalui procreation memiliki anak, manusia memenuhi bumi ini dan untuk mengelolanya. Dan Allah memberkati union antara laki-laki dan perempuan melalui hubungan seksual di dalam pernikahan, menjadikan relationship antara pria dan wanita di dalam pernikahan itu amat baik adanya.
Setelah Kejadian 1 dan 2 Allah menciptakan segala sesuatu, Alkitab mencatat tentang Sabat ini, yaitu Allah beristirahat dari segala yang dikerjakanNya (Kejadian 2:1-3). Allah berhenti dari segala yang dilakukanNya, Ia berhenti bukan sekedar stop tidak melakukan apa-apa, tetapi Ia berhenti untuk bersuka dan menikmati akan ciptaanNya. Dan karena ritme itu, Allah juga menjadikan satu pattern bagi ritme hidup engkau dan saya di dalam pola satu minggu tujuh hari hidup kita, maka enam hari kita bekerja dan satu hari menjadi hari kita berhenti dan beristirahat dari segala yang kita kerjakan. Itu terjadi bukan karena kita yang mengatur dan membuatnya tetapi menjadi refleksi daripada apa yang menjadi ritme dari Tuhan. Tetapi keindahan daripada ritme itu akhirnya kacau dan hancur oleh karena dosa dan kejatuhan. Akibat dosa, dunia menjadi terkutuk, dengan susah payah manusia mencari rejekinya seumur hidupnya. Semak duri dan rumput duri akan tumbuh mempersulit hidup kita dan dengan susah payah kita mencari makan bagi kebutuhan kita (Kejadian 3:17-19). Ritme itu akan menjadi indah kalau dunia ini tanpa dosa, kita menanam, kita menikmati hasil kerja kita. Kita tanam benih tomat, yang kita dapatkan buah tomat; kita tanam benih gandum, yang kita dapatkan biji gandum; kita pungut dan nikmati hasil dari ladang kita sendiri tanpa ada orang yang merebutnya. Tetapi akibat dosa dunia menjadi terkutuk, tanah akan menghasilkan duri dan onak, dan dengan susah payah kita bekerja. Maka tidak akan ada habis-habisnya anxiety, kekuatiran dan kecemasan memenuhi hati kita. Kita merasa peluh yang kita cucurkan dalam bekerja tidak menghasilkan hasil yang maksimal sesuai keinginan kita. Maka kita bekerja dan terus mencucurkan keringat, tanpa henti, terus non-stop, tujuh hari dikali 24 jam dikali 365 hari, terus menerus menjadi satu pola di dalam hidup kita.

Allah menyelesaikan pekerjaan yang dibuatNya dan Allah berhenti pada hari yang ke tujuh, Allah memberkati hari ke tujuh itu dan menguduskannya. Dan Allah memerintahkan umatNya melakukan hal yang sama. Jangan kita lupa, perintah untuk memelihara Sabat juga adalah salah satu perintah yang dicatat di dalam 10 Hukum [the Ten Commandments]. Allah menaruh perintah ini di situ, berarti bobot dari perintah “kuduskanlah hari Sabat” tidaklah berbeda dengan bobot daripada perintah-perintah yang lain perintah dan larangan Tuhan yang lain, jangan membunuh, jangan berjinah, jangan mencuri, jangan berdusta, jangan ingin memiliki milik orang lain, hormati ayahmu dan ibumu, jangan menyembah berhala, jangan menyebut nama Tuhan dengan sia-sia, sembahlah Allah. Dan sebetulnya bukan saja satu hari kita khususkan dengan tidak bekerja dalam seminggu, Allah juga memerintahkan kita setiap tahun ke tujuh, kita juga harus berhenti dari segala yang kita kerjakan, kita memberi istirahat kepada alam untuk recover. Itu adalah tahun Sabat [lihat Imamat 25]. Tujuan Allah dalam hal ini adalah untuk melatih kita beriman bersandar kepada pemeliharaan Tuhan sepenuhnya. Dan ada satu sabat lagi yaitu setelah 7 kali tahun Sabat maka Allah memerintahkan umatNya untuk melakukan satu tahun Yobel di tahun ke 50, dimana segala budak dibebaskan, segala hutang dihapuskan dan itulah tahun dimana orang menerima kembali tanah pusakanya untuk menjadi kesempatan kedua bagi mereka memulai hidupnya. Itu adalah sistem dan cara Tuhan menyatakan cintaNya, anugerahNya, keadilan dan kemurahanNya kepada umatNya.

Mari pada hari ini kita belajar makna Sabat di dalam satu pemahaman yang komprehensif. Sabat bukan sekedar melarang kita tidak boleh melakukan ini atau itu karena itu hanya bicara mengenai hal yang eksternal. Sabat adalah satu hari yang dikuduskan untuk menjadi enjoyment bagi kita menikmati kebaikan Tuhan, bukan satu aturan hukum yang memberatkan hidup kita. Tentu banyak di antara kita yang harus bekerja pada hari Minggu, termasuk saya sendiri sebagai pendeta. Belum lagi para dokter, perawat, mereka yang bekerja di rumah sakit dan ambulance, sebagai pemadam kebakaran dan penjaga keamanan, supir bus, polisi dan tentara, dsb. Kita tidak bisa bilang pada waktu seseorang membutuhkan pelayanan kita, pada saat yang penting dan kritis itu kita menolak melakukannya karena kita menaati aturan Sabat. Engkau dengan sendirinya akan menolong dan bekerja melayani orang yang membutuhkan pelayanan kita, bukan? Dan itu pasti jelas tidak melanggar hukum Sabat, karena Tuhan Yesus sendiri melakukannya. Pada waktu orang Farisi dan ahli Taurat mempersalahkan Yesus menyembuhkan orang yang sakit di hari Sabat, Yesus berkata, “Jika engkau melihat dombamu jatuh ke lubang sumur di hari Sabat, apakah engkau tidak menolongnya? Bukankah manusia jauh lebih berharga daripada domba?” (Matius 12:11-12). Berkali-kali Tuhan Yesus menegur orang Farisi yang memberikan peraturan yang begitu mendetail pada hari Sabat, tidak boleh ini tidak boleh itu, tetapi dia sendiri tidak memegang dan melakukannya (Matius 23).

Makna dari kata Sabat itu adalah makna yang kaya luar biasa. Sedikitnya ada 4 makna yang penting dari kata Sabat ini. Pertama, Sabat adalah berhenti. Kedua, Sabat adalah beristirahat. Ketiga, Sabat adalah hari untuk bersukacita dan menikmati segala yang baik. Keempat, Sabat adalah hari untuk menyembah Allah dan beribadah kepadaNya. Ketika orang Israel berada di Mesir, mereka menjadi budak orang Mesir 400 tahun lamanya, mereka harus bekerja keras tanpa ada hari untuk berhenti dan beristirahat. Ketika Allah membebaskan mereka keluar dari perbudakan Mesir, Allah memberikan hari Sabat ini sebagai satu cara hidup yang sama sekali baru bagi mereka. Tujuan Allah memberi mereka Sabat adalah untuk memulihkan dan merestorasi mereka, hari dimana mereka bersukacita, berhenti dari segala pekerjaan mereka dan menikmati segala yang baik bersama keluarga dan beribadah dengan bebas kepada Tuhan. Inilah makna dan esensi yang indah daripada Sabat itu.

Seringkali harus kita akui kita mengalami keletihan dan kelelahan dalam hidup karena beratnya pekerjaan itu kita jalani. Allah memberi Sabat bagi kita agar setiap kita mengalami pemulihan dan restorasi dalam hidup kita. Pemulihan ini tidak menjanjikan hidupmu lebih lancar, pemulihan ini tidak menjanjikan engkau akan memperoleh berkat lebih banyak, tetapi pemulihan ini membuat kita menaruh perspektif yang benar bagaimana kita berelasi dengan Tuhan sekalipun di dalam dunia yang sudah jatuh di dalam dosa. Bukan saja kita menikmati Sabat sekarang ini, tetapi Alkitab mengatakan umat Tuhan menantikan satu Sabat yang terakhir yaitu pada waktu Yesus Kristus datang kembali membawa umat Tuhan kembali kepada firdaus yang mula-mula bahkan lebih daripada itu, dimana kita menikmati enjoyment yang paling ultimate dan menikmati persekutuan muka dengan muka dengan Tuhan kita. Di sana tidak ada lagi dosa, tidak ada lagi penderitaan dan air mata, yang ada hanyalah sukacita dan pujian yang tidak henti-hentinya, itulah Sabat yang terakhir.

Bagi orang Yahudi, Sabat dianggap sebagai identitas mereka sebagai umat Allah. Bagi kita orang Kristen Sabat mempunyai makna yang penting untuk menjadi kesaksian bagi setiap kita. Dengan Sabat kita memberi kesaksian bagi dunia ini bahwa kita punya Tuhan yang menjadi pusat dan sumber kehidupan kita. Sabat menjadi satu kesaksian bagi orang Kristen bahwa Tuhanlah yang provide segala kebutuhan kita. Sabat menjadi satu kesaksian bagi orang Kristen bahwa Tuhanlah yang memelihara hidup kita pribadi lepas pribadi. Sabat menjadi penting bagi kita sebab kita adalah ciptaan Tuhan, kita terbatas adanya. Kita berhenti karena kita tidak mungkin bisa menjadi tuhan bagi hidup kita. Dan kita bukan saja memahami kita manusia yang terbatas, tetapi keterbatasan itu membuat hati kita menyadari kita bersandar penuh hanya kepada Tuhan di dalam hidup kita. Kita menikmati Sabat dengan beristirahat, tujuannya apa? Untuk memulihkan energi kita dan mengisinya dengan hal-hal yang menyenangkan supaya kita bisa lebih sehat jasmani rohani, lebih baik, lebih produktif, lebih bersuka melayani Allah dalam hidup kita. Dan bukan berhenti sampai di situ, ada dua aspek terakhir dari makna Sabat ini. Delight, bersuka, bersukacita. Ini aspek penting supaya kita tidak jatuh seperti orang Farisi yang menjadikan Sabat itu sangat legalistik sekali, menjadi satu hari yang penuh dengan larangan-larangan dan aturan-aturan yang sangat memberatkan.

Tuhan memanggil orang Israel makan dan minum jangan melupakan orang miskin dan kekurangan. Enjoy blessings Tuhan. Maka di dalam aturan Perjanjian Lama, Sabat senantiasa disertai dengan “open house” orang membuka rumahnya untuk orang luar datang makan dan minum bersama mereka. Bukan saja teman dan keluarga dekat, Tuhan juga menyuruh mereka untuk membuka rumahnya bagi orang miskin, anak yatim dan janda serta kaum Lewi yang tidak memiliki tanah pusaka, oang-orang yang tidak memiliki sesuatu untuk dimakan, Tuhan memerintahkan orang-orang yang kaya dan mampu untuk membuka rumah mereka dan berbagi dengan generous sehingga Sabat menjadi satu kesukaan dan sukacita bagi semua orang. Saya percaya itulah keindahan yang tidak boleh kita abaikan dan kadang-kadang harus kita akui kita hidup sebagai orang Kristen kita mungkin menjadi orang Kristen yang “delight deficiency” kekurangan vitamin “D” vitamin sukacita, joyful. Mungkin kita berpikir panggilan kita sebagai orang Kristen pikul salib, berarti kita menjalani hidup dengan berat dan gloomy dalam hidup kita. Seringkali sebagai orang Kristen, kita merasa guilty kalau ada sesuatu yang Tuhan beri kepada kita lalu kita sisihkan untuk kita nikmati. Tidak ada salahnya kita menikmati berkat-berkat Tuhan dan bersukacita untuk kecukupan yang Ia berikan bagi kita.

Dalam surat 1 Timotius 4:1-4 Paulus memperingatkan Timotius bahwa ada sekelompok legalistik yang sangat berbahaya. Mereka menyesatkan orang dengan standar “super spiritual” yang mereka buat sendiri sehingga dengan melarang orang kawin memandang pernikahan dan hubungan seksual sebagai hal yang buruk dan harus dilarang. Kelompok spiritual ini sangat berbahaya karena mereka masuk ke dalam gereja bukan mengajak orang untuk menjadi salah dan murtad atau menjadi tidak baik, tetapi justru mereka menjadikan orang Kristen menjadi rigid dan kaku dan penuh dengan spirit yang judgmental. Mereka mengukur spiritualitas orang dengan tidak boleh makan ini dan itu, tidak boleh lakukan ini dan itu. Mereka menentukan standar kesucian dengan aturan dan larangan yang tidak diberikan oleh Tuhan sendiri. Paulus mengingatkan itu tidak benar adanya. “Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran. Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.” Ayat 3 bicara mengenai seks, ayat 4 bicara mengenai makan minum. Ayat 5 bicara mengenai dua hal ini dikuduskan. Semua itu dikuduskan oleh firman Allah dan dikuduskan oleh doa. Pada waktu memakai kata “dikuduskan” tentu kita tahu original arti kata ini adalah “dipisahkan, di-separated, dikhususkan.” Itulah arti kata “dikuduskan.” Sehingga pada waktu kita melihat ayat ini maka kita mengerti arti kata sabat itu. Paulus mengatakan semua yang diciptakan Allah itu baik adanya dan tidak ada satupun yang haram. Seksualitas di dalam pernikahan patut di-cherished sebagai suami dan isteri. Bagaimana kita menjadikan apa yang Tuhan beri itu menjadi satu sukacita dan bonding kita yang membuat kita lebih cinta Tuhan di dalam hubungan kita satu sama lain yang indah sebagai suami isteri. Pada waktu kita menikmati makan dan minum, menikmati hal-hal yang baik dan indah, mengagumi dan menghargai keindahan alam yang Tuhan ciptakan sebagai satu delightful yang bukan membuat kita menjauh dari Tuhan tetapi justru makin mendekatkan kita dengan Tuhan dan makin memperdalam apresiasi kita kepada Tuhan. Sabat perlu menjadi suatu waktu supaya kita pay attention menghargai apa yang kita makan betul-betul kita apresiasi betapa luar biasa Tuhan menciptakan semua itu untuk kita nikmati.

Dalam Lukas 7:33-34 Yesus menyatakan teguranNya kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat. “Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, engkau bilang dia kerasukan setan. Ketika Anak Manusia datang, Ia makan dan minum dan kamu bilang Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa…” Yesus makan dan minum bersama pemungut cukai dan kelompok orang berdosa, orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang menganggap diri lebih spiritual, yang menganggap hidup kerohanian mereka lebih baik daripada Yesus, menuduh Yesus sebagai pemabuk dan pelahap. Yesus berjalan di dalam kesehari-harian, yang waktunya banyak dihabiskan dengan bercakap-cakap, bersukacita, tertawa, makan dan minum menjadi kesempatan Dia membawa pemungut cukai dan orang-orang berdosa ini memahami siapa Tuhan dan menjadikan orang-orang ini berubah hidupnya dan menjadi percaya kepada Tuhan, mereka tidak melihat aspek itu semua. Mereka hanya melihat Yesus pelahap dan peminum. Yesus makan dan minum untuk memberitahukan kita Ia adalah manusia biasa. Yesus makan dan minum bukan fokus tujuan kepada makan dan minum itu sendiri. Ia makan dan minum sebab Ia enjoy the goodness of God’s creation, dan bukan itu saja, melalui makan dan minum itu Ia engaging dengan orang berdosa, melalui makan dan minum Dia membawa orang itu menghargai anugerah dan keselamatan Tuhan. Di dalam waktu yang singkat, sempit dan di tengah segala ancaman, tekanan, kesusahan kesulitan, di hari-hari terakhirnya justru Yesus memakai waktu menikmati fellowship dengan orang-orang yang dekat dengan makan minum dan bersuka di tengah mereka. Pada minggu terakhir sebelum mati di kayu salib, Yesus masih mengunjungi rumah Lazarus, Marta dan Maria untuk makan bersama mereka. Bahkan pada malam terakhir sebelum ditangkap, Yesus bersama murid-muridNya berkumpul makan bersama dan menyanyikan lagu-lagu pujian di tengah saat yang sebentar lagi tiba memisahkan Dia dari orang-orang yang dikasihiNya. Kita mungkin berpikir kalau Yesus tahu waktunya tinggal sedikit lagi, kenapa Dia tidak pergi ke Bait Allah dan siang malam memakai waktu yang ada untuk berkhotbah mengabarkan Injil keselamatan dan memanggil orang untuk bertobat? Yesus bersuka dan menikmati fellowship bersama orang-orang di dekatNya. Itulah delight dalam hidup kita, itulah panggilan daripada Sabat. Di dalam Sabat kita beribadah bersama dalam praise and worship, kita tidak bisa memisahkan itu. Sehingga pada waktu kita datang berbakti di hari Minggu, sesudah itu kita ada makan dan minum bersama sebagai satu prinsip holistik. Kita tidak boleh mengkontraskan antara “pelayanan Marta” dan “pelayanan Maria.” Kita melihat dua pelayanan ini sebagai pelayanan yang complimentary satu dengan yang lain. Kiranya setiap kita menghargai Sabat dengan datang ke rumah Allah dengan sukacita, enjoy berfellowship, berhenti sebentar dari segala kesibukanmu, jangan takut dan kuatir, percaya Tuhan itu mencukupkan apa yang engkau perlukan dan biar di situ sukacita kita menjadi penuh.(kz)