14. The Spiritual Birthmarks of a Believer

Eksposisi Surat 1 Yohanes (14)
Tema: The Spiritual Birthmarks of a Believer
Nats: 1 Yohanes 4:17 – 5:5
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Baru-baru ini ada satu peristiwa yang sangat menyedihkan terjadi di Afganistan dimana tentara-tentara Taliban menyerang satu markas tentara dan membunuh 140 orang lebih tentara Afganistan. Yang ironis adalah penyerangan itu dilakukan oleh tentara Taliban di saat mereka tahu tentara Afganistan betul-betul sedang defenceless, yaitu pada saat mereka sedang bersembayang. Sudah tentu pihak yang menyerang tahu itu adalah jam sembayang tetapi yang membingungkan kita adalah mereka berpikir mereka adalah pihak yang lebih rohani dan memiliki nilai-nilai yang lebih religious sedangkan tentara yang justru sedang sembayang mereka anggap sebagai orang-orang kafir yang imannya tidak murni dan berhak untuk mereka bunuh padahal mereka mempunyai agama yang sama. Padahal bukankah seharusnya kalau memang mereka lebih rohani dan lebih religious, mereka juga memakai waktu untuk sembayang ketimbang justru membunuh sesamanya? Kalau atas nama korupsi, kejahatan kriminal, atau eksploitasi human trafficking manusia melakukan kejahatan, kita mungkin bisa mengerti. Namun peristiwa-peristiwa seperti ini membuat kita melihat betapa buta dan gelapnya hati orang-orang yang seperti ini ketika atas nama agama dan jubah kesalehan mereka tega melakukan kejahatan yang begitu dahsyat dan begitu keji seperti itu. Bukankah di dalam keagamaan dan kesalehannya manusia harus mencari Tuhan dan menjauhi kejahatan, tetapi kenapa justru kejahatan makin berkembang di situ? Ini semua membukakan mata kita bagaimana sejahat-jahatnya manusia mungkin bisa terjadi.
Alkitab begitu jelas memberitahukan kepada kita hidup dalam dunia ini adalah satu kehidupan yang penuh dengan struggle dimana kejahatan dan dosa manusia menghasilkan penderitaan yang begitu dahsyat. Terlebih lagi sebagai orang-orang percaya, kita juga struggle bukan saja dengan aspek eksternal kejahatan di luar, tetapi kita juga struggle karena lawan dari kita itu bisa menyerang dari segala sisi. Alkitab mengatakan ada 3 musuh yang senantiasa berjuang untuk menjatuhkan kita. Yang pertama musuh yang ada di dalam diri yaitu nafsu dan kedagingan; musuh yang kedua adalah dunia yang mempunyai sistem yang memang tidak pernah menyukai kebenaran, yang berusaha ingin melawan apa yang Tuhan sudah tetapkan, dunia yang sudah jatuh di dalam dosa. Tetapi yang ketiga, Alkitab memberitahukan kepada kita, ada yang namanya Setan itu yakni si jahat yang memang the pure evil, yang sejak awalnya mempunyai keinginan menjadi oposisi Allah sepenuhnya, yang ingin menjadi tuhan padahal dia hanyalah ciptaan, malaikat yang akhirnya jatuh. Dia adalah musuh yang sangat berbahaya, yang setiap saat menanti kita lengah dan menyerang untuk menghancurkan iman kita. Menghadapi pergumulan dengan dunia, menghadapi penipuan dosa dan pencobaan oleh nafsu kedagingan dan serangan dari Setan, akhirnya membuat kita jatuh bangun dalam perjalanan kita mengikut Tuhan. Itu membuat kita menjadi kecewa dan kita merasa kita adalah orang yang munafik, kita merasa kita tidak bisa menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari dan itu adalah suatu frustrasi rohani dan membuat kita senantiasa dipenuhi dan ditekan oleh rasa bersalah. Pada satu titik kita mungkin bertanya apakah aku ini sungguh-sungguh seorang Kristen yang sejati? Apakah aku sudah menjadi milik Tuhan?
Maka bagi anak-anak Tuhan yang bergumul seperti ini, Yohanes mengatakan, “Demikianlah kita ketahui bahwa kita berasal dari kebenaran, demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar daripada hati kita serta mengetahui segala sesuatu…” (1 Yohanes 3:19-20). Pada bagian ini kita menemukan semacam orang Kristen yang ada di dalam jemaat yang membutuhkan penghiburan dari firman Tuhan karena dia struggled dengan mau hidup lebih baik, bersaksi bagi Tuhan, mau belajar mematikan kelemahan dan dosa yang Tuhan tidak berkenan. Dan pada waktu kita jatuh Alkitab senantiasa mengingatkan Allah tidak pernah menjadi “bully” yang menertawakan, mengolok-olok dan menghina kita. Yang mem-bully kita adalah si Jahat yang memang sifatnya senantiasa mau menjatuhkan dan menarik orang meninggalkan Tuhan, membuatnya dithimpit oleh rasa bersalah yang begitu besar sehingga tidak mempunyai pengharapan Allah akan mengampuni dan memberinya kesempatan untuk bangkit lagi. Ayat ini mengatakan, “God is greater than your conscience.” Ini adalah satu kalimat penghiburan yang luar biasa indah bagi seseorang yang mungkin merasa sudah begitu jauh dari Tuhan dan hidupnya begitu mengecewakan Tuhan sehingga dia merasa tidak berani lagi meminta pengampunan dari Allah. Seorang yang begitu malu, begitu kecewa dan begitu tidak berlayak, merasa dirinya begitu munafik, sehingga dia tidak berani berdoa kepada Tuhan lagi karena merasa Tuhan tidak mungkin mau dengar dan kemudian akhirnya tidak mau lagi berbakti dan menjauh dari persekutuan dengan Tuhan. Maka pertanyaan yang paling penting yang ada di dalam hati kita, seberapa yakinkah kita akan jaminan keselamatan di dalam Kristus itu? Pergumulan ini muncul di antara penerima surat sehingga muncul pernyataan di sini, “Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman…” (1 Yohanes 4:17). Kita punya keberanian percaya pada waktu kita berdiri di hadapan pengadilan Allah karena Allah jauh lebih besar daripada hati kita yang menuduh kita. Allah menyatakan pengampunanNya karena kita bersandar dan percaya kepada Yesus Kristus yang telah menyelamatkan dan menebus kita dan mengampuni segala dosa kita. Kita diampuni karena Yesus Kristus telah menanggung segala dosa kita. Yohanes memberikan keyakinan itu dengan mengingatkan Allah setia dengan janji-janjiNya. Semua yang Ia telah berikan kepada kita melalui kasihNya adalah milik kita sekarang ini dan akan tetap menjadi milik kita selamanya. Di situlah kita memiliki keyakinan dan keberanian bahwa Ia akan memelihara iman kita sampai kepada kesudahannya dan satu kali kelak kita akan berdiri di hadapanNya sebagai orang-orang yang telah ditebus dan diselamatkan oleh Yesus Kristus, Tuhan, Juruselamat dan Pembela kita yang agung.
Namun di pihak lain kita menemukan sebagian orang Kristen yang arrogant dan over-confident, yang selalu merasa diri benar dan tidak mau mengaku salah di hadapan Tuhan, orang yang mengaku Kristen namun dengan sengaja menjalani hidup dalam dosa dan merasa apapun yang mereka lakukan tidak mempengaruhi keselamatan yang sudah mereka peroleh. Yohanes memberikan warning yang serius bagi orang-orang seperti ini mereka bukanlah orang Kristen sejati. Di dalam jemaat yang kelihatan, kita tidak bisa melihat bagaimana hati orang. Di dalam gereja yang kelihatan orang mungkin bisa mengaku dia adalah orang Kristen tetapi belum tentu bahwa mereka sungguh-sungguh adalah orang yang telah lahir baru dan menerima Kristus. Kita tidak mempunyai tanda eksternal bahwa kita betul-betul sudah percaya Tuhan. Kalau begitu apa yang menjadi tanda atau “spiritual birthmark” dari seorang anak Tuhan yang sejati? Meskipun secara lahiriah tanda-tanda itu tidak kelihatan, tetapi saya percaya hati yang guilty, yang senantiasa ditegur oleh firman Tuhan dan merasa perlu diperbaharui lagi justru menjadi satu tanda yang penting. Orang yang selalu takut keselamatannya bisa hilang sehingga dia sungguh-sungguh menjalani hidupnya di dalam kebenaran dan kekudusan justru membuktikan dia memang sungguh memiliki keselamatan itu. Tetapi orang yang selalu merasa yakin dia sudah memiliki jaminan keselamatan itu dan menjalani hidupnya dengan semaunya, terus berkanjang dalam dosa dan hidup duniawi dan tidak pernah merasa takut kepada Tuhan, menunjukkan dia bukan seorang yang sudah memiliki kelahiran baru dalam Kristus.
Maka kita sampai kepada 1 Yohanes 5:1-5, di bagian ini firman Tuhan membukakan identitas dari orang-orang Kristen yang otentik, yang sungguh-sungguh adalah orang percaya. Di ayat 1 Yohanes mengatakan, “Setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus lahir dari Allah dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga dia yang lahir daripadaNya.” Sebagai orang percaya, kita hidup dalam dunia ini mengalami dua kelahiran. Kelahiran yang pertama adalah kelahiran natural, kita keluar dari rahim ibu. Kelahiran yang kedua adalah kelahiran yang bersifat rohani, yaiti kelahiran baru oleh Roh Kudus. Bagaimana seseorang bisa mengalami lahir baru? Kenapa bisa dan kapan momentnya? Jelas ayat ini mengatakan ketika kita percaya bahwa Yesus adalah Kristus, itulah moment kelahiran baru itu. Itu bisa terjadi adalah hal yang ajaib luar biasa, tidak akan pernah keluar dari diri seseorang manusia yang berdosa.
Dalam Roma 10:9-10 Paulus berkata, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatimu… karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Artinya tidak mungkin lidah kita mengaku Yesus adalah Tuhan kalau tidak datang dari Roh Allah. Pada waktu kita bisa percaya, itu pekerjaan dari Roh Allah di dalam diri kita sehingga kelahiran baru akan menghasilkan reaksi dari kita untuk percaya dan mengaku dosa-dosa kita. Prosesnya tidak boleh dibalik, bukan kita yang mau percaya baru Tuhan lahir-barukan. Mengapa saya mengatakan demikian? Karena Alkitab jelas mengatakan sebelum terjadi kelahiran baru kita mati di dalam dosa, tidak mungkin bisa bereaksi terhadap hal yang rohani. Hanya ketika Allah menghidupkan kita barulah kita bisa bereaksi. Itulah yang kita sebut dengan kata lahir baru, yaitu satu tindakan ajaib dari Roh Kudus menghidupkan kembali, dari mati menjadi hidup; dari buta menjadi melihat dan percaya.
Yohanes 3 memperlihatkan ada 3 kondisi yang menggambarkan seperti apa kita saat masih belum lahir baru. Pertama, Yohanes 3:3 “Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah.” Lahir baru membuat kita bisa melihat kerajaan Allah. Berarti sebelum kelahiran baru terjadi kita adalah orang-orang yang buta secara rohani, kita tidak bisa melihat hal-hal rohani. Tanpa kelahiran baru seseorang tidak bisa melihat kerajaan Allah karena itulah kondisi manusia berdosa yaitu dia buta secara rohani, dia mati secara rohani.
Kedua, Yohanes 3:5, “Sesungguhnya jikalau seseorang tidak dilahirkan dari air dan roh, dia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah.” Di sini Yesus menyatakan aspek ability, seorang yang belum lahir baru tidak punya kemampuan, tidak punya kekuatan dan tidak sanggup untuk masuk ke dalam kerajaan Allah. Tidak ada dari diri kita yang memampukan kita bisa masuk. Kekayaan kita tidak sanggup membuat kita masuk ke dalam kerajaan Allah; kebaikan kita, yang kita pikir bisa berlayak untuk kita kumpulkan dan perlihatkan di hadapan Allah karena di hadapan Allah itu semua adalah seperti kain kotor yang menjijikkan adanya [lihat Yesaya 64:6]. Apapun dari diri kita tidak sanggup membuat kita masuk ke dalam kerajaan Allah. Itu sebab kita hanya bisa berdiri di depan pintu keselamatan Allah sebagai seseorang yang menyadari diri adalah pengemis yang miskin, kotor, malang, buta dan telanjang di hadapanNya.
Ketiga, Yohanes 3:6 “Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh.” Artinya kalau kita bisa memahami hal-hal rohani itu karena pekerjaan Roh Kudus. Tanpa kelahiran baru kita hanyalah daging [flesh] yang melawan Tuhan [flesh that only produce flesh].
Itulah sebabnya 1 Yohanes 5:1 menjadi penghiburan dan kekuatan kita mempunyai konfidensi karena Allah telah melahir-barukan kita pada waktu kita percaya kepada Yesus Kristus. Karena itu jalanilah hidup sebagai orang yang betul-betul memiliki “birthmark” dari kelahiran baru itu.
Birthmark yang pertama, orang yang telah lahir baru selalu mengasihi Allah dan selalu mengasihi saudara seiman. Lahir baru akan mendatangkan keinginan yang tidak ada habis-habisnya orang itu mencintai dan mengasihi Tuhan dan mengasihi saudara-saudara dan keluarganya. Kenapa berulang-ulang terus rasul Yohanes mengingatkan kita untuk mengasihi saudara kita, mengasihi satu dengan yang lain? Karena kita sangat terbatas adanya. Seringkali kita lebih mudah menjadi orang Kristen yang hanya mencintai orang Kristen yang kita sukai saja. Karena kita sangat terbatas adanya. Seringkali kita lebih mudah menjadi orang Kristen yang hanya mencintai orang Kristen yang ada di dalam gereja kita saja. Tetapi kita harus mempunyai mata terbuka melihat “brotherhood and sisterhood” in Christ more than your denomination boundary. Kita harus punya jiwa seperti itu. Memang kita manusia terbatas, seperti yang dikatakan oleh rasul Yohanes, kita mengatakan kita mengasihi Tuhan hanya bisa terbukti ketika kita mengasihi yang konkrit, yang kelihatan. Mengerti dan mengetahui kebutuhan orang yang kelihatan jelas yang paling kelihatan adalah mengetahui apa yang ada di dalam gereja kita. It is ok. Justru adalah hal yang keliru dan salah jikalau kita bisa melihat kebutuhan orang di luar tetapi kita tidak melihat kebutuhan orang yang dekat di sebelah kita. Maka kita harus memiliki pergerakan dari dalam ke luar. Tetapi seringkali harus kita akui dengan sedih dan menangis betapa sering gereja mendukung pelayanan misi kalau kita punya “uang sisa” dari kebutuhan internal kita. Pada waktu kita rasa kita tidak punya uang sisa kita tidak memikirkan orang luar. Hal-hal seperti ini adalah keterbatasan kita. Tetapi kita tidak boleh oleh karena keterbatasan itu akhirnya membuat kita tidak memiliki keluasan mata dan hati untuk melihat keluar. Ini adalah aspek yang penting.
Ada satu ilustrasi yang sangat baik dari seorang hamba Tuhan berikan tentang gereja sebagai satu kumpulan orang percaya seperti sebuah orchestra dengan dirigent memainkan satu simfoni. Setiap bagian memiliki peran masing-masing tetapi tidak berjalan sendiri-sendiri karena ada direksinya. Pada waktu berjalan bersama, orchestra itu akan menghasilkan satu simfoni yang sangat harmonis dan indah. Gereja harus seperti itu, pelayanan harus seperti itu. Tetapi sayangnya orang seringkali melihat hidup bergereja itu seperti naik pesawat. Semua jemaat adalah penumpang dan pendeta serta orang-orang yang melayani diperlakukan seperti stewardess yang melayani. Jika pelayanannya memuaskan kita beri tips, jika pelayanannya tidak memuaskan kita lain kali cari pesawat lain. Ini konsep yang salah! Tetapi itulah yang terjadi ketika di dalam bergereja kita memakai konsep jemaat sebagai customer yang dilayani dan harus dipuaskan. Kita tidak boleh seperti itu.
Memang gereja berada di dalam dua hal yang kita harus balance. Karena ketika orang Kristen berkumpul maka gereja menjadi satu institusi dan semacam satu struktur organisasi. Tetapi gereja dipandang oleh Alkitab tidak pernah seperti itu. Alkitab selalu melihat gereja sebagai satu perkumpulan organis, maka ilustrasi yang dipakai bagi hidup gerejawi adalah gereja sebagai tubuh Kristus yang organis, saling melengkapi satu dengan yang lain. Kalau kita memiliki pengertian seperti ini maka kita akan menganggap saudara dan teman kita yang lain sebagai saudara kita seiman dalam Kristus. Itu adalah jiwa kekeluargaan yang harus kita miliki.
Birthmark yang kedua muncul di 1 Yohanes 5:2-3, “Inilah tandanya… kita melakukan perintah-perintahNya, kita menuruti perintah-perintahNya. Perintah-perintahNya itu tidak berat.” Birthmark yang sejati dan sungguh-sungguh dari orang yang sudah lahir baru adalah orang itu sungguh mencintai God’s commandment dan bagi dia God’s commandment itu tidaklah sesuatu yang bersifat legalistik karena dia betul-betul tahu itu tidaklah memberatkan. Orang Farisi sangat ketat menjalankan perintah Allah tetapi menjadikannya sebagai kuk yang memberatkan orang lain untuk menjalankannya. Kita mengasihi Allah sehingga kita tidak merasa berat melakukan perintah-perintahNya dan menjalankannya dengan sukacita. Itulah namanya anak Tuhan. Bapa kita memberikan perintah dan kita melakukannya dengan setia. Dan bukan saja demikian, seperti anak kita yang baik kita tidak perlu terus meminta dia melakukan sesuatu, bukan saja dia sudah menjalankannya dengan setia, dia akan melakukan lebih daripada apa yang kita minta. Itulah bedanya ketika satu aturan diberikan kepada anak kita dan anak itu melakukannya dengan terpaksa atau melakukannya dengan sukarela.
Birthmark ketiga, 1 Yohanes 5:4 “sebab semua yang lahir dari Allah mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” Bukan sukses, bukan kuasa, bukan apapun yang sanggup menaklukkan dunia; yang sanggup menaklukkan dunia adalah iman dari anak-anak Tuhan. Ini adalah kontradiksi paradoks yang tidak bisa kita mengerti. Orang yang lahir dari Allah senantiasa hidup oleh imannya. Ibrani 11 mencatat semua sejarah orang-orang yang beriman kepada Allah dan itulah orang-orang yang menggoncang dunia. Meskipun apa yang mereka imani tidak mereka lihat dan dapatkan tetapi mereka tetap berjalan di dalam iman, dengan setia, tahan, sabar, tekun, persistent ikut Tuhan bahkan meskipun diperhadapkan dengan penderitaan, siksaan dan aniaya yang sangat dahsyat luar biasa. Di tengah Ibrani 11 tertulis kalimat, “Sebab itu Allah tidak mau disebut Allah mereka” dan ditutup dengan kalimat “dunia ini tidak layak bagi mereka.” (Ibrani 11:16 dan 38). Orang-orang ini memang tidak layak hidup dalam dunia ini.
Kita percaya dan beriman kepada Allah, sekalipun kita tidak melihat tetapi satu kali kelak apa yang kita tidak kita lihat itu kita percaya pasti akan terjadi karena didasarkan kepada janji Allah yang tidak pernah bersalah dan berdusta. Hari ini kiranya imanmu kembali diteguhkan, kita ikut Tuhan sebagai anak-anak Tuhan yang otentik dan sejati. Karena Tuhanlah Pembela kita dan Kebenaran kita, tidak ada lagi yang bisa kita sandari dan kita perlukan setiap waktu selain Dia. Katakan ini dengan kesungguhan hati kita. Bersyukur kita boleh mendengarkan dan dikuatkan kembali oleh janji yang Allah berikan, di tengah jatuh bangun perjalanan kita, di saat kita merasa tidak mampu berjalan lagi, Allah menyertai dan memberikan kekuatan kepada kita. Janji Tuhan meneguhkan dan menguatkan bahwa kita sungguh-sungguh adalah anak-anak Tuhan yang sejati dan milikMu selama-lamanya. Kiranya Allah memimpin setiap kita supaya kita senantiasa mempunyai kerinduan selalu mencintai Tuhan dan mengasihi firmanNya, berjalan dengan iman dalam hidup kita. Kiranya Ia memberi kita kekuatan untuk berjalan dan bersandar hanya kepadaNya, karena setiap pimpinan dan penggembalaan Tuhan tidak pernah bersalah adanya.(kz)