12. To Live Out an Authentic Faith

Eksposisi Surat 1 Yohanes (12)
Tema: To Live Out an Authentic Faith
Nats: 1 Yohanes 3:9-24
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 Yohanes 3:18).

Seorang hamba Tuhan di Indonesia menceritakan pengalaman dia memimpin sebuah seminar dan di dalam seminar itu seorang peserta melemparkan satu pertanyaan yang menarik, “Saya mohon tanya, apakah orang Arminian masuk surga?” [Yang dimaksud ‘orang Arminian’ adalah orang-orang Kristen yang mengikut ajaran Arminian, yang mengatakan bahwa keselamatan itu ‘conditional’ sifatnya sehingga kita harus sungguh-sungguh menjaganya sampai akhir dengan kelakuan dan perbuatan baik supaya keselamatan itu tidak hilang.] Mendengar pertanyaan itu, hamba Tuhan ini sambil bercanda mengatakan, “Kamu pasti orang Reformed ya?” lalu dia sambung begini, “Saya percaya Tuhan saya adalah Tuhan yang sangat humoris. Maka nanti di surga, kamu akan ditaruh dalam satu kamar dengan orang Arminian, supaya kamu bisa berdebat dengan dia sampai puas.”
Seringkali pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat kita geleng-geleng kepala, karena ada perbedaan teologi yang membuat sebagian orang Kristen yang memegang teologi tertentu lalu bersikap menghina atau merendahkan orang yang berbeda teologi dengan dia. Orang Arminian karena berpegang pada konsep keselamatan seperti itu akhirnya menjadi orang yang sangat berhati-hati menjalani kehidupan spiritualnya. Tetapi bagi saya sikap seperti itu jauh lebih baik daripada orang yang berpegang kepada “Unconditional election” yaitu bahwa keselamatan diperoleh bukan karena usaha dan jasa manusia tetapi semata-mata pemilihan Allah yang tak bersyarat, lalu karena baginya keselamatan itu tidak akan hilang, dia akhirnya hidup dengan sembarangan dan seenaknya saja. Lebih celaka lagi kalau ternyata nanti di akhir hidupnya orang itu baru tahu bahwa dia tidak mempunyai iman yang sejati di dalam Kristus dan kesombongan arogansinya menjadi sesuatu yang
justru akan sangat menakutkan.
Memang kita percaya bahwa iman kita kepada Yesus Kristus, keselamatan di dalam Yesus Kristus, itu adalah keselamatan yang kita peroleh bukan karena apa yang ada pada diri kita, tetapi semata-mata anugerah dan kemurahan Allah dan kita percaya keselamatan yang kita peroleh itu final adanya, berdasarkan kalimat dari Tuhan Yesus, “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. BapaKu yang memberikan mereka kepadaKu lebih besar daripada siapa pun dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa” (Yohanes 10:28-29). Keselamatan kita berada di dalam tangan Allah kita yang kuat. Tidak ada satu pun orang yang bisa merebut kita dari tangan Allah. Dan Yesus juga mengatakan, “Barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yohanes 5:24). Allah telah memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib (1 Petrus 2:9). Tidak ada satu orang pun, tidak ada kuasa apa pun, baik yang di atas, mau pun yang di bawah, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Roma 8:39).
Tetapi sangat prihatin kita melihat sebagian orang Kristen yang memiliki konsep teologi seperti ini di dalam perjalanan hidupnya kita menemukan kemalasan dan hidup rohani yang sembarangan dan sembrono. Kelakuan mereka tidak sebanding dengan apa yang mereka percaya. Karena mereka percaya keselamatan itu tidak bisa hilang akhirnya terlalu bermain-main dengan hidup mereka, tidak peduli bagaimana hidupnya di hadapan Tuhan. Hal seperti ini bahkan tidak jarang terjadi pada diri orang-orang yang terlibat dalam pelayanan, termasuk pendeta-pendeta sekalipun. Ini salah satu alasan mengapa akhirnya John Wesley keluar dari gereja Anglican dan mendirikan gereja Metodis yang sangat menekankan disiplin rohani yang luar biasa karena kehidupan dari para pendeta gereja Anglican sudah sangat duniawi. Mereka sudah mendapatkan gaji dan fasilitas dari negara semua terstruktur dengan baik sehingga kehidupan hamba-hamba Tuhan ini menjadi penuh dengan kemalasan secara rohani. Pendeta-pendeta itu tidak lagi melayani dengan baik, gereja tidak memperhatikan kehidupan rohani, apa yang dikatakan ‘Tuhan berkati keselamatanmu’ selesai, tetapi kehidupan betul-betul tidak seturut dengan apa yang diimani. Siapa yang pergi membesuk orang di penjara? Siapa yang melihat dan memperhatikan orang miskin di tengah strata sosial yang begitu senjang pada abad 18, itulah yang dikerjakan orang Metodis. Gerakan disiplin rohani itu awalnya dilakukan oleh Charles Wesley beserta beberapa temannya yang berkumpul di kampus universitas Oxford sama-sama untuk mengejar kehidupan Kristen yang saleh dan mempelajari Alkitab dalam bahasa Yunani, berdoa dan berpuasa setiap hari Rabu dan Jumat, melakukan perjamuan kudus setiap minggu dan mengunjungi orang sakit dan kriminal dalam penjara. Mereka dari sejak pagi berdoa dan membaca Alkitab dengan sungguh, lalu di tengah hari mereka mengoreksi diri dan bertanya kepada diri apa hal-hal baik yang sudah dilakukan dan adakah mereka sudah melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan di dalam perkataan, perbuatan dan pikiran motivasi hati, lalu mereka minta pengampunan Tuhan. Demikian selanjutnya pada malam hari sebelum tidur, mereka melakukan hal yang sama kembali. Cara hidup seperti ini menggemparkan kehidupan kampus sehingga terjadi vitalitas hidup rohani di antara anak-anak Tuhan yang berkumpul sama-sama. Orang-orang yang sinis menyebut mereka dengan berbagai sebutan, mulai dari “Holy Club,” enthusiasts, religious fanatics, dan “Methodists,” karena metodik cara hidupnya dengan dibagi setiap hari dari jam per jam dengan disiplin rohani yang tinggi luar biasa, nama yang melekat sampai sekarang. John Wesley sendiri sampai akhir hidupnya tetap menjalani disiplin rohani yang ketat, berdoa, berkontemplasi, mengoreksi diri, melayani. Gereja Metodis begitu mengasihi orang miskin sehingga memperbolehkan mereka datang ke gereja dengan baju yang sederhana dan akhirnya menjadi sangat unik, bahkan orang-orang berada dilarang untuk berbakti dengan pakaian yang bagus. John Wesley mengatakan kita harus baik-baik memperhatikan keselamatan kita, karena keselamatan itu bisa hilang. Itu sebab kita harus berjuang, kita harus mati-matian mempertahankan dengan segala ketaatan kita kepada Tuhan.
Alkitab sangat jelas, kita diselamatkan bukan karena usaha dan perbuatan kita. Kita diselamatkan semata-mata hanya karena kasih karunia Allah. Iman itu adalah pemberian Allah. Efesus 2:8-9 Paulus dengan jelas mengatakan, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri.” Tidak ada setitik pun kebaikan di dalam diri kita yang membuat Allah kemudian memilih kita, tidak ada. It is just by grace we’ve been saved. Allah yang menyelamatkan akan memelihara keselamatan itu sampai akhir, walaupun iman orang itu lemah, mungkin pengertian dan pemahamannya belum komprehensif, mungkin masih sangat baru percaya Tuhan Yesus. Allah menyelamatkan dengan menggerakkan hati orang itu kepada kesadaran akan dosa-dosanya di hadapan Allah yang kudus, dan mengaku serta meminta anugerah pengampunan di dalam Yesus Kristus. Benar, kita diselamatkan oleh karena kita beriman kepada Anak Allah yang telah mati di kayu salib menebus dan mengampuni segala dosa kita, tetapi itu adalah hal yang tidak bisa dilihat dengan mata jasmani. Itu adalah sesuatu hal yang ada dalam wilayah rohani di dalam hati. Tetapi bagaimana engkau buktikan, bagaimana engkau nyatakan bahwa keselamatan itu sungguh benar telah terjadi di dalam hidupmu, bagaimana engkau nyatakan bahwa ada iman di dalam dirimu? Yakobus jelas mengatakan, “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yakobus 2:17). Jika pengetahuan yang benar tidak disertai dengan kelakuan hidup yang benar maka apa yang diterima dan diajarkan dan dipercaya belum tentu merupakan sesuatu yang diamini di dalam hidup orang itu.
Inilah yang terjadi di dalam 1 Yohanes 3 di sini, bagi sekelompok orang yang Yohanes tegur sejak dari pasal 1, yaitu orang-orang ini arrogant dalam kehidupan mereka, yang tidak pernah merasa bahwa hidupnya perlu self-examination, introspeksi diri, melihat diri senantiasa di hadapan Tuhan sebagai orang berdosa yang membutuhkan pengampunan Tuhan. Maka dalam 1 Yohanes 1:8 dan 10 Yohanes mengingatkan, “Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita berkata bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita.” Kalimat-kalimat ini memberikan satu indikasi kepada kita bahwa sekelompok orang ini menjalani satu hidup di dalam keengganan mengaku dosa di hadapan Tuhan sehingga itu menjadi penghalang bagi sebuah relasi yang otentik dengan Tuhan. Bahayanya adalah ketika keengganan untuk mengakui dosa akhirnya berkembang menjadi spiral yang makin lama makin dalam menyeret hidup orang itu jauh dari Tuhan. Maka sampai kepada 1 Yohanes 3:9 Yohanes memberi peringatan yang serius, “Setiap orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa lagi, sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa karena ia lahir dari Allah.” Membaca ayat ini, kita mungkin bertanya-tanya dalam hati, apakah ayat ini telah terjadi pada diri kita? Bukankah dalam hidup sehari-hari kita masih tetap berbuat dosa? Apa maksud dari ayat ini? Dalam terjemahan bahasa Inggris kita akan menemukan pengertian yang berbeda sehingga menghasilkan interpretasi yang berbeda. Terjemahan ESV mengatakan, “No one born of God makes ‘a practice of sinning’ and he cannot ‘keep on sinning’ because he has been born of God.” Dalam terjemahan NIV memakai frase ‘continue to sin, cannot go on sinning.’ Jadi artinya bukan tidak berbuat dosa lagi atau tidak dapat berbuat dosa, tetapi jikalau betul orang itu milik Tuhan, orang yang sungguh-sungguh lahir dari Allah tidak akan terus-menerus berbuat dosa. Tetapi jikalau hal itu terus terjadi, maka bisa menjadi pertanda benih ilahi tidak ada pada diri orang itu. Kadang-kadang kita tidak sanggup mengasihi orang, kadang-kadang kita jatuh bangun hidup berjalan di dalam kekudusan dan kebenaran. Kita berduka, kita mengaku betapa lemah diri kita dan meminta kekuatan Tuhan memelihara kita. Firman Tuhan ini menarik kembali kepada prinsip yang penting: karena kasih Allah itu nyata di dalam diri kita, bukan karena kita yang lebih dahulu mengasihi Dia tetapi karena Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita. Apa buktinya kasih Allah lebih dulu datang kepada kita? Yohanes berkata, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawaNya untuk kita” (1 Yohanes 3:16). “Inilah kasih itu: bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1 Yohanes 4:10). Itulah “the ultimate pattern” yang membuat kita mengasihi Allah, kita menghargai keselamatan yang Ia berikan kepada kita dengan melakukan apa yang indah dan berkenan kepadaNya. Keselamatan itu kita dapat bukan berdasarkan ketaatan kita, bukan karena kesalehan hidupku, tetapi karena aku sangat menghargai keselamatan yang aku peroleh dari darah Yesus Kristus yang begitu mahal dan berharga itu telah menebus hidupku. Masakan aku mau hidup mencemarkan nilai yang berharga dari darah Kristus itu? Selanjutnya, yang kedua, apa buktinya bahwa betul kasih Allah ada di dalam diri kita? Maka secara konkrit dari ayat 11-18 di pasal 3 Yohanes membicarakan buktinya adalah kita mengasihi saudara dan sesama kita. Dan perikop ini disimpulkan oleh Yohanes dengan kalimat yang sangat indah, “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 Yohanes 3:17,18). Konteks dari ayat ini adalah relasi antara jemaat satu dengan yang lain, yang di antara mereka mungkin memiliki keuangan yang sedikit dan dalam kekurangan dan Yohanes melihat orang-orang yang kaya dan berkecukupan tidak tergerak dan tidak berinisiatif bahkan menutup kesempatan untuk melakukan sesuatu bagi orang miskin itu. Yohanes mendorong orang-orang yang memiliki harta materi untuk membantu mereka yang berkekurangan.
Iman kita di dalam Kristus dibuktikan karena iman itu adalah iman yang taat kepada kebenaran Tuhan. Buktinya apa? Apakah engkau mengasihi saudara-saudaramu? Lalu pertanyaan selanjutnya, siapakah saudara-saudaraku itu? Pertanyaan ini sudah pernah ditanyakan oleh seorang ahli Taurat kepada Yesus, “Siapakah sesamaku manusia?” Who is my brother? Who is my neighbour? Untuk menjawab dia, Yesus lalu memberikan perumpamaan mengenai “Orang Samaria yang murah hati” dalam Lukas 10 yang sangat kita kenal itu. Ada seorang di tengah perjalanan ke Yerikho dirampok, dipukuli dan ditinggalkan setengah mati di situ. Kemudian seorang imam melewati jalan itu, tetapi dia menghindar dan tidak menolongnya. Kemudian seorang Lewi juga melewati jalan itu dan tidak melakukan apa-apa. Tetapi lewat seorang Samaria dan melihat orang yang dirampok itu hatinya tergerak oleh belas kasihan sehingga ia menolong dia. Tidak berhenti sampai di sini, Yesus kemudian balik bertanya kepada ahli Taurat yang bertanya tadi, “Menurut pendapatmu, siapakah di antara ke tiga orang ini [imam, orang Lewi, dan orang Samaria] adalah sesama manusia dari orang yang dirampok itu?” Pertanyaan Yesus ini sangat menarik karena di sini Yesus membalikkan definisi dan konsep tentang “siapakah sesamaku” menjadi “adakah aku telah menjadi sesama bagi orang lain.” Artinya, bukan kita tentukan orang yang seperti apa yang saya boleh anggap sebagai saudaraku, sesamaku, lalu baru aku bantu dia. Tetapi Yesus membalikkannya dengan pertanyaan, dapatkah engkau menjadi sesama bagi orang yang seperti ini? Luar biasa Yesus, bukan? Dengan kata lain, engkau tidak berhak mendefinisikan siapa yang engkau anggap sebagai saudaramu yang engkau mau bantu. Tuhan yang mendefinisikan, apakah engkau telah menjadi sesama bagi orang itu atau tidak.
Saya bersyukur dan berterima kasih kepada sdr-sdr yang terus mendoakan dan mendukung adik ipar saya yang pada tanggal 1 Januari lalu mengalami kecelakaan lalu lintas yang cukup serius. Puji Tuhan, dari prediksi dokter 0% chance untuk survive setelah 3 jam pertama dibiarkan begitu saja dan tidak ada usaha apa-apa dari pihak rumah sakit, di tengah pendarahan otak yang sangat parah, keluarga sudah dikatakan untuk bersiap hati adik kami meninggal dunia. Kemudian dipindahkan ke rumah sakit lain, dengan harapan ada dokter bedah otak yang available untuk melakukan operasi, dan puji Tuhan hari itu ada seorang neurosurgeon yang sangat baik bersedia melakukannya meskipun melihat hasil CT scan dia mengatakan darah sudah menyebar khususnya di bagian sebelah kiri sehingga kalau pun bisa survive, chance untuk pulih begitu kecil dan separuh tubuh sebelah kanan akan lumpuh total. Setelah melakukan operasi membersihkan pecahan tempurung kepala dan pendarahan di otak selama 8 jam, mujizat pertama terjadi ketika 3 hari kemudian adik kami bisa siuman. Mujizat kedua, respons yang sangat baik terhadap operasi karena tidak ada infeksi dan pendarahan. Mujizat demi mujizat selanjutnya boleh kami saksikan, separuh tubuh yang diprediksi dokter akan lumpuh ternyata tidak terjadi karena semua bagian motorik bisa bergerak dan berespons dengan baik. Dalam waktu 1 bulan lebih 1 minggu mulai dari ICU, pindah ke HCU, sampai ke ruang biasa dan bisa pulang ke rumah, itu semua adalah mujizat yang tidak pernah kami pikirkan bisa terjadi. Dan kita percaya memori dan kesadarannya perlahan demi perlahan akan Tuhan pulihkan pada waktunya.
Namun yang ingin saya angkat melalui peristiwa ini adalah betapa luar biasa Tuhan memperlihatkan kuasaNya dan betapa Tuhan dipermuliakan di situ. Neurosurgeon yang bukan orang Kristen sendiri mengakui ini adalah mujizat yang luar biasa melampaui perhitungan kedokteran “ini kuasa doa yang luar biasa.” Bahkan seluruh rumah sakit tahu, gelombang demi gelombang orang Kristen datang membesuk dan mendoakan, baik di ruang ICU, di HCU, dan di hari-hari selanjutnya. Banyak di antara mereka sama sekali tidak pernah kami kenal. Dari berbagai gereja, dari berbagai persekutuan, tim doa, tim pembesukan entah dari mana, mereka datang berdoa bagi adik kami. Di situlah keindahan yang terjadi dimana orang-orang yang tidak percaya sekalipun bisa recognised bahwa Tuhan ada di tengah-tengah kita dan mereka mengakui “Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!” (Mazmur 126:2). Yang unik, pada waktu pindah ke HCU, ada 2 pasien lain yang sekamar dengan adik kami ternyata sama-sama orang Kristen, maka keluarga berinisiatif untuk kumpul dan beribadah sama-sama setiap sore. Di situlah kita melihat di tengah sakit, tidak ada lagi perbedaan denominasi dan tidak ada lagi perbedaan kalian dari gereja mana, kita semua sama-sama anak Tuhan.
Firman Tuhan memanggil kita mengasihi saudara kita. Pertanyaan yang paling penting bukan siapa yang menjadi saudara kita dan dengan cara apa kita mengasihinya, tetapi yang lebih penting apakah kita sudah menjadi saudara bagi orang lain, karena itu yang membuat hati kita dangkal dan picik. Kalau engkau memiliki sesuatu harta duniawi, kata Yohanes, jangan tutup pintu kepada orang yang di dalam kebutuhan. Buka dan beri. Biar hati kita lapang dengan generosity ketika kita melihat ada orang yang sangat membutuhkan di hadapan mata kita. Demikian juga dengan generous kita mendukung pekerjaan Tuhan, setiap kali ada kesempatan bagi kita. Kasih bukan hanya dengan perkataan saja, tetapi dengan perbuatan yang nyata.(kz)