11. Shame, Guilt and Forgiveness

Eksposisi Surat 1 Yohanes (11)
Tema: Shame, Guilt and Forgiveness
Nats: 1 Yohanes 3:19-24
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Seringkali kita terlalu tergesa-gesa dan terlalu cepat di dalam menjalani hidup ini sehingga kita tidak lagi mempunyai waktu untuk memproses segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita. Kita perlu bertanya kepada diri kita masing-masing, karena di tengah hidup yang terlalu hectic akhirnya kita seringkali tidak menyempatkan diri untuk men-“digest” dan untuk self-reflection di dalam hidup kita bagaimana hubungan kita dengan Tuhan. Hidup kita terlalu cepat sehingga waktu teduh, saat untuk kita berkomunikasi berdoa dengan Tuhan kita lakukan dengan tergesa-gesa dan terburu-buru, bahkan akhirnya banyak di antara kita berdoa tidak lain hanya untuk mengisi “request form” permintaan kita kepada Tuhan. Doa kita melulu hanya berisi permintaan kepada Tuhan, lalu semakin urgent kebutuhan kita, semakin kita “memaksa” Tuhan mendahulukan menjawab doa-doa kita. Dan kalau hidup kita sedang lancar dan kita tidak punya request apa-apa, kita menjadi lupa untuk berdoa dan tidak merasa perlu berdoa. Jadi kita memperlakukan Tuhan seperti itu.
Dalam aspek rohani, banyak orang Kristen di saat menghadapi persoalan terlalu cepat mau menyelesaikan, cepat-cepat mau mencari solusi dan mendapatkan jalan keluarnya. Kita bilang kita percaya Allah kita adalah Allah yang baik, pasti Dia segera berikan jalan keluar untuk segala persoalan kita, dengan terlalu cepat ambil kesimpulan tanpa kita memproses apa yang sedang terjadi di dalam hidup kita dari berbagai perspektif. Dan pada waktu orang menjalani proses itu, kita menuduh orang itu tidak beriman. Contoh, dia mengalami kesulitan lalu kita bilang, doa. Mungkin dia bilang, ‘tetapi saya tidak bisa berdoa, saya masih terus saja kuatir karena persoalan itu banyak dan kompleks.’ Lalu seringkali kita cepat-cepat men-judge dia kurang beriman kepada Tuhan. Pada waktu orang mengalami kedukaan karena kematian orang yang dia kasihi, banyak orang Kristen terlalu cepat memberikan kalimat seperti ini: ‘engkau tidak boleh sedih, engkau harus bersukacita, percaya sama Tuhan. God is good. Tuhan pasti punya maksud yang baik mengambil isterimu, suamimu, atau anakmu. Sudah senang dia di surga sekarang sama Tuhan, tidak usah menangis lagi.’ Dan pada waktu seorang anak Tuhan berada dalam kedukaan, dia mungkin menangis tersedu-sedu dengan waktu yang panjang, lalu kemudian terlalu cepat kita menghakimi orang itu kurang beriman kepada Tuhan. Maka proses bersedih grieving dipandang sebagai kurang beriman. Padahal grieving dan proses berduka itu bukan proses dia tidak beriman dan percaya Tuhan memberikan kekuatan dan penghiburan tetapi itu adalah proses yang perlu dia jalani supaya dia melewati apa artinya berduka, mengapa dia berduka, dan bagaimana Tuhan menyembuhkan duka itu, kalau hal itu dia lihat terjadi pada diri orang lain, dia akan lebih memahami perasaannya. Ingatkan, pada waktu ada kematian terjadi di tengah-tengah orang percaya, bukankah Paulus memberi nasehat dalam 1 Tesalonika 4:13, “Jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan,” artinya firman Tuhan bukan melarang kita berdukacita. Tuhan mengijinkan, Tuhan mengatakan ada kedukaan terjadi di tengah-tengah keterhilangan. Banyak kali orang Kristen kurang sensitif terhadap hal ini sehingga saya pernah menemukan di dalam kebaktian kedukaan tahu-tahu pendeta mengajak kita menyanyikan lagu yang riang dan meminta semua yang sedang menangis untuk berhenti dan menyuruh semua untuk tersenyum gembira karena kalau kita berduka artinya kita kurang beriman kepada Tuhan, percaya bahwa dia sudah di surga. Kadang-kadang kita kurang menyelami dan kita tidak ikut berduka bersama dengan mengeluarkan air mata bagi orang yang mengalaminya. Firman Tuhan tidak melarang kita berdukacita, tetapi firman Tuhan mengatakan jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Artinya di dalam kedukaan kita jangan sampai kehilangan pengharapan. Kedukaan itu adalah satu proses healing, proses emosi yang kita perlu untuk mengangkat apa yang membuat air mata kita mengalir, proses untuk kita membersihkan diri dari kesedihan. Dengan demikian itu adalah proses yang indah. Banyak kali kita tidak menyadari akan hal itu sehingga pada waktu kita sendiri berada dalam gejolak emosi, kita akhirnya lebih sering suppress emosi itu dalam-dalam padahal suatu hari dia akan meledak dengan ledakan yang besar.
Demikian juga pada waktu kita bersalah kepada seseorang kita juga tidak menjalani satu proses memahami orang yang kita lukai hatinya itu perlu waktu untuk lukanya sembuh. Terlalu gampang dan terlalu cepat kita bilang, “Lho, koq masih marah, kan saya sudah bilang sori?!” tanpa kita mengerti proses apa yang terjadi di dalam hatinya. Ini adalah hal yang penting luar biasa. Surat 1 Yohanes bicara mengenai hal yang merusak dan menghancurkan sebuah relationship, dengan Allah, dengan Kristus, dan dengan sesama kita. Kita adalah orang yang lemah, penuh dengan kekurangan dan kesalahan. Tidak ada di antara kita yang tidak melukai hati orang lain, bukan? Baik itu dengan kata-kata, dengan sikap maupun dengan perbuatan kita. Sadar atau tidak, kita semua memiliki kekurangan dan kelemahan itu.
Dalam hal ini 1 Yohanes bicara mengenai respons yang perlu kita waspadai dan ada dua respons di bagian ini yang mungkin kita tidak proses dengan baik. Respons yang pertama, orang itu menjadi tidak sensitif, orang itu arrogant, orang itu tidak mau mengakui kesalahannya, sehingga 1 Yohanes 1:8 mengatakan, “Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” Keengganan dan ketidak-inginan untuk mengaku dosa-dosa itu terjadi karena kita menjadi sombong, merasa diri lebih baik daripada orang lain dan membangun self-righteous dengan aktifitas agamawi kita. Atau kita merasa apa yang kita lakukan itu bukan suatu dosa dan kesalahan adanya. Jika kita terus berada dalam status rohani seperti itu dan tidak aware dengan hal itu, 1 Yohanes 3:6 memberi warning yang lebih serius, “setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Allah.” Orang itu kalau terus-menerus berbuat salah dan hidup di dalam satu “comfortable, distorted illusion” dan tidak mau mengakui itu adalah hal yang salah, maka itu adalah sesuatu yang berbahaya luar biasa. Dan bagi Yohanes itu bisa menjadi satu indikator bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam hidup rohani orang itu. Bahkan Yohanes mengatakan, “Barangsiapa yang tetap berbuat dosa, dia berasal dari Iblis…” (1 Yohanes 3:8). Maka sampai di pasal 5:16 kemudian Yohanes menyebut satu kondisi yang tragis dan mengerikan, sesuatu yang sudah final dan tidak bisa diapa-apakan lagi sehingga kita sebagai orang Kristen pun dia bilang tidak usah berdoa bagi orang itu, yaitu “dosa yang mendatangkan maut,” dosa yang tidak bisa diampuni. Kondisi itu berarah pada satu muara yaitu orang itu pasti adalah orang yang belum lahir baru dan bukan milik Tuhan dan itulah kebahayaan yang dikatakan oleh rasul Paulus hati nurani orang itu sudah dicap panas (band. 1 Timotius 4:2). Itu adalah istilah yang dipakai bagi hati nurani orang yang sudah kebal dan tidak mempunyai rasa lagi, dengan memakai gambaran mengenai sapi atau lembu yang dicap oleh besi panas sebagai tanda kepemilikan. Bekas cap panas itu akan membuat bagian dari kulit sapi itu kebal dan kehilangan rasa. Itu adalah respons yang pertama.
Respons yang kedua adalah sebaliknya, ada orang Kristen yang menjadi terlalu guilty, terlalu malu dengan dosa-dosanya, merasa sudah tidak ada harapan lagi dan Tuhan pasti tidak mau mengampuninya, akhirnya pergi meninggalkan komunitas orang percaya dan tidak mau lagi berbakti ke gereja dan tidak berani menghampiri Tuhan. Kepada mereka Yohanes mengingatkan kita memiliki Yesus Kristus, Pengantara kita di hadapan Allah yang penuh dengan kasih karunia dan pengampunan (1 Yohanes 2:1-2), Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, bahkan bukan hanya untuk dosa kita saja tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.
Pernahkah engkau mempunyai perasaan pada waktu di tengah doa, tiba-tiba ada suara berkata ‘engkau masih saja jatuh di dalam dosa yang sama? Bukankah engkau sudah minta ampun minggu lalu dan sekarang minta ampun lagi berulang-ulang kali? Apakah engkau tidak punya rasa malu dan sungkan bertemu Tuhan? Apa Tuhan kira-kira tidak bosan denganmu?’ lalu rasa guilty dan shame memenuhi hatimu sehingga engkau berhenti berdoa. Puji Tuhan, jikalau hati nurani kita masih menggedor dan bersuara dengan keras di dalam hati kita. Yang sangat menakutkan adalah jika tidak lagi punya rasa guilty dan shame ketika hati nurani kita menegur dan mengingatkan kita akan dosa dan kesalahan kita. Hari ini, 1 Yohanes 3:19-20 bicara mengenai hati nurani atau conscience, dan bicara tentang jaminan reassurance of our conscience before God ini bagi sekelompok orang Kristen respons kedua. “Demikianlah kita ketahui bahwa kita berasal dari kebenaran, demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah. Sebab jika kita di tuduh olehnya, Allah adalah lebih besar daripada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.” Kita perlu jaminan ini, seperti lagu “Blessed Assurance” dari Fanny Crosby, sungguh dan pasti jaminan Hu, Yesus milikku selamanya. Kepada semacam orang Kristen yang self-righteous firman Tuhan memberi warning, jika di dalam kesombongannya akhirnya membuat mereka tidak mau mengaku dosa dan terus berkeras hati dan terus mempersalahkan orang lain, terus mempersalahkan situasi dan tidak pernah memakai waktu untuk berteduh melihat hati lebih dalam dan memberikan hati untuk Tuhan bersihkan dari segala dosa, hati-hati! Namun di pihak lain, kepada orang Kristen yang akhirnya “over sensitive,” yang hatinya terus dipenuhi oleh guilt and shame akhirnya membuat mereka merasa terlalu kotor, terlalu najis, terlalu malu di hadapan Tuhan karena merasa dosa-dosanya terlalu besar adanya, firman Tuhan memberi jaminan dan assurance baginya.
Di satu pihak kita bersyukur ketika budaya malu masih ada di dalam masyarakat karena itu adalah fondasi dan basic dari kultur [masih ada common grace dari Tuhan ketika keadilan dan kebenaran ditegakkan] yang membuat orang tidak semau-maunya merugikan orang lain. Ini salah satu virtue orang Jepang yang bisa kita saksikan meskipun sama-sama menjadi korban gempa dan tsunami beberapa waktu yang lalu, mereka dengan tenang antri mendapatkan sembako dan air bersih tanpa berdesak-desakan dan berebutan, apalagi menjarah milik orang lain. Itu menjadi contoh yang luar biasa. Sama-sama kehilangan, sama-sama perlu makanan, tidak menjadi alasan untuk menjadi liar dan tidak menjadi anarki. Budaya Jepang juga memiliki rasa malu yang sangat besar sehingga mereka rela untuk harakiri bunuh diri daripada menanggung malu. Kita harus punya budaya itu, jangan sampai waktu kita salah lalu kita ke pasar beli kambing hitam, alias mempersalahkan orang lain.
Senantiasa kita harus sadar dan peka di dalam hidup kita. Sekecil apapun dosa itu menurut kita, pada waktu dosa itu harus dibereskan dengan darah Anak Domba Allah ditumpahkan di atas kayu salib, kita harus tahu dosa kita itu begitu gelap dan serius di hadapan Tuhan. Tidak ada dosa yang kecil dan sepele di hadapan Allah yang kudus. Setiap dosa dibayar dan diganti dengan darah Anak Domba Allah. Dia harus datang dan mati bagi engkau dan saya, menjadi tebusan bagi hidup kita. Betapa serius, betapa besar, betapa dahsyat itu. Tidak ada satu orang pun yang boleh menyepelekan dosa itu. Namun sebaliknya pada waktu engkau terus dituduh, dihakimi, dipersalahkan oleh hati nuranimu, dipersalahkan oleh orang lain dan oleh situasi, dan itu membuatmu merasa tidak ada lagi pengharapan, tidak ada kemungkinan bisa lepas, tidak ada kemungkinan bisa diperbaiki oleh karena kesalahan dan dosa yang begitu besar, hari ini Kristus Tuhan memberi jawaban yang sebaliknya dan menyatakan tidak ada dosa yang sebesar apapun yang tidak bisa diampuni olehNya. Dan Dia memberikan reassurance itu. Biar hatimu tenang, damai dan penuh dengan sukacita. Bukan karena engkau bisa lebih baik tetapi karena Kristus menjadi jaminan yang pasti dan Juruselamat yang indah dan mulia.
Dalam Roma 2:15 Paulus menyebutkan ada tiga fungsi utama dari hati nurani: dia berfungsi sebagai penuduh dan dia berfungsi sebagai pembela. “…dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela…” Sebagai saksi, hati nuranimu menyatakan apa yang telah engkau perbuat di dalam pikiran, perkataan dan perbuatanmu. Sebagai penuduh, dia menuduhkan apa yang telah engkau lakukan, baik atau buruk. Sebagai pembela, suaranya menenangkan engkau. Unik sekali, kita pikir hati nurani itu adalah hopeng kita, yang selalu membela kita, yang selalu mendukung keputusan kita dan selalu setuju apa yang kita mau perbuat. Tidak. Sewaktu-waktu hati nurani juga bisa menjadi penuduh yang torture kita siang dan malam dan membuat kita gelisah dan penuh dengan rasa bersalah. Karena itu hati nurani kita perlu senantiasa dibersihkan dan dimurnikan oleh kebenaran firman Tuhan sehingga bisa berfungsi sebagaimana yang Tuhan kehendaki. Dan sebagai orang Kristen, hati nurani kita sesungguhnya berfungsi dengan standar yang baru, dengan kepekaan akan dosa lebih daripada sebelumnya. Namun hati nurani tidak bisa menjadi standar karena hati nurani itu sendiri tidak selalu objektif karena dia bisa diperalat dan dipakai oleh Setan untuk memutar-balikkan kebenaran sehingga yang baik dipandang buruk dan yang buruk dipandang baik di dalam hatimu. Alkitab mengatakan jikalau hati nurani itu terus menuduhmu dan membuatmu kehilangan damai sejahtera dan dipenuhi oleh perasaan guilt, shame dan hopeless, Yohanes mengatakan “Sebab jika kita dituduh olehnya, Allah lebih besar daripada hati nurani kita dan Allah mengetahui segala sesuatu” (1 Yohanes 3:20). Puji Tuhan! Hati nurani kita patut dan harus terus dibersihkan oleh firman Tuhan. Allah kita lebih besar daripada hati nurani kita dan Allah kita mengetahui segala sesuatu bahkan yang paling tersembunyi di dalam hati motivasi kita. Dan karena Allah lebih besar dan Allah maha tahu, kita melihat terkadang Allah lebih merciful kepada kita daripada kita kepada diri sendiri. Inilah penghiburan bagi kita. “Jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah…” (1 Yohanes 3:21). Biar suara firman Tuhan membersihkan hati nurani kita dan jaminanNya memberikan kekuatan dan penghiburan kepada kita, sehingga kita bisa confident, kita diyakinkan kembali saat kita datang di hadapan Tuhan dan berdiri di depan tahtaNya, God is so merciful dan murah hati adanya. Tawaran pengampunan dan penebusanNya bukanlah tawaran yang palsu yang hanya menenangkan hati nuranimu. Tawaran keselamatan dari Yesus Kristus adalah pembersihan yang total di dalam anugerahNya. Allah berkata, “Sejauh timur dari barat demikian dijauhkanNya daripada kita pelanggaran kita…” (Mazmur 103:12). Di dalam Kristus Allah memberikan pengampunan dan kepastian yang teguh akan keselamatan kita. Sesudah itu relasi kita akan makin dipulihkan olehNya dan kita mengalami jawaban doa dan the faithfulness of God.
“Dan apa saja yang kita minta kita akan memperolehnya dariNya karena kita menuruti segala perintahNya dan berbuat apa yang berkenan kepadaNya…” (1 Yohanes 3:22), di sini Yohanes memperlihatkan komunikasi dua arah: kita kepada Tuhan dan Tuhan kepada kita. Yohanes membicarakan apa yang terjadi ketika hubungan kita dengan Allah mengalami restorasi, dan bagian ini bicara tentang dua hal: come closer to God, itu kita lakukan di dalam doa kita kepadaNya; dan obey Him. Itulah arti sebuat relasi yang dipulihkan dengan Allah. Yang pertama, kita punya keberanian untuk menghadapi Allah di dalam doa. Di situlah kita melihat doa itu menjadi satu komunikasi yang penting. Kita bisa berdoa dengan konfiden di hadapan Allah dan kita akan mengalami doa menjadi satu keindahan yang real. Di dalam doa kita menyatakan our faith and our trust in Him, aku percaya dan aku beriman kepada Allah. Apa yang saya katakan, apa yang saya sampaikan kepadaNya Tuhan pasti mendengar. Tuhan lebih besar daripada hati nuranimu, Tuhan lebih mengetahui apa yang di dalam hati hidupmu, bahkan sebelum engkau mengatakannya, Tuhan sudah mengetahuinya. Sehingga tidak perlu sambil berdoa sambil kasih jawabannya sama Tuhan. Kita request maunya kita, Tuhan bilang ada yang Aku mau kepadamu, engkau mungkin tidak mau terima, tetapi percaya itu adalah yang terbaik bagimu. Yang kedua, pada waktu engkau dan saya mendengar firman, di situ kita bukan menyatakan faith and trust, tetapi kita menyatakan ketaatan kita kepada Tuhan. Dan secara spesifik Yohanes menyebutkan dua perintah Tuhan yang kita taati “…supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, AnakNya; dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah Kristus kepada kita” (1 Yohanes 3:23).
Yang terakhir dalam bagian ini, apa jaminannya saya adalah anak Tuhan? Apa buktinya saya adalah milik Tuhan? Maka pada ayat terakhir di bagian ini Yohanes kemudian mengatakan kehadiran Roh Kudus di dalam hidupmu menjadi bukti dan jaminan yang pasti. “Demikianlah kita ketahui bahwa Allah ada di dalam kita yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita” (1 Yohanes 3:24). Jikalau Roh Kudus hadir di dalam hidup engkau dan saya, Roh Kudus pasti akan menghasilkan buah-buah roh yang indah itu di dalam hidup kita. Dalam Roma 8 Paulus mengatakan, “Kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, ‘ya Abba, ya Bapa!’ Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Roma 8:15-16). Apa buktinya kita adalah anak-anak Allah? Buktinya hanya sederhana saja yaitu Roh itu bersaksi dalam hatimu engkau milik Tuhan selama-lamanya. Pada waktu hati nurani kita ditipu oleh suara Setan yang mengatakan kita bukan anak Allah, pasti Roh Kudus akan meyakinkanmu, engkau adalah anak Allah, engkau adalah milik Tuhan selama-lamanya. 1 Yohanes 3:24 “Barangsiapa menuruti segala perintahNya dia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia…” Setiap relasi yang rindu kita bina dengan Tuhan, kalau itu datangnya dari kita, pasti akan gagal di tengah jalan. Tetapi pada waktu kita mengetahui ada RohNya di dalam kita, itulah yang menjadi jaminan yang indah karena Ia akan memampukan, Ia akan memberi kekuatan bagi kita untuk berjalan di dalam kebenaranNya dan menaati perintahNya. Engkau mungkin bilang, “Pak, saya tidak kuat, saya tidak sanggup, saya tidak bisa mengasihi dan mengampuni,” jika itu datangnya dari kekuatan diri kita sendiri memang kita tidak bisa. Tetapi jikalau itu datangnya dari Roh Kudus, engkau bisa melihat ada hal-hal yang amazing terjadi, bukan? Kita bisa melihat terjadinya kasih dan pengampunan, kita bisa melihat terjadinya restorasi dan pemulihan dari sebuah relasi yang secara manusia sulit dan mustahil bisa diperbaiki. Di situlah kekuatan itu datang dari pekerjaan RohNya yang kudus. Kiranya Tuhan memberkati kita dengan firmanNya. Allah diam di dalam hatimu dan kita tahu Dia ada di dalam diri kita dan Roh itu tinggal di dalam diri kita. Dia akan menghasilkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, generosity, goodness, faithfulness, gentleness dan self-control di dalam dirimu.(kz)