10. A “Naughty Corner” for Your Soul

Eksposisi Surat 1 Yohanes (10)
Tema: A “Naughty Corner” for Your Soul
Nats: 1 Yohanes 3:11-18
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Dalam surat 1 Yohanes ini rasul Yohanes mengingatkan ada 4 hal yang sanggup bisa merusak dan menghancurkan relasi kita, baik relasi dengan Tuhan maupun relasi dengan saudara seiman kita. Yang pertama, keengganan kita untuk mengakui dosa-dosa kita; merasa diri cukup baik, membentuk kesombongan agama dengan membangun self-righteous di hadapan Allah (1 Yohanes 1:8). Yang kedua bicara soal problema emosional dalam diri kita, kemarahan, kebencian dan kepahitan, jika hal ini tidak dibereskan akan “spiralling” menjadi sangat destruktif (1 Yohanes 2:9). Yang ketiga soal craving, keinginan yang sangat kuat dan tidak pernah terpuaskan dalam 3 hal Yohanes sebutkan: cinta hal-hal yang duniawi, menginginkan segala hal yang dilihat oleh matamu, dan craving for pride, craving for success, craving untuk mendapatkan segala sesuatu dalam dunia ini (1 Yohanes 2:15-16). Yang keempat, sebagai anak Tuhan kita diingatkan ada satu roh, roh yang memang bertujuan menghancurkan relasi dan itu adalah roh jahat (1 Yohanes 2:19). Kita jangan naif berpikir dia tidak hadir di dalam ruangan ini. Jangankan saya, waktu Tuhan Yesus berkhotbah di sinagoge Setan juga ada di situ, teriak-teriak dia di belakang, maka Yesus menengking roh jahat itu (Markus 1:23-26). Meskipun mata fisik kita tidak bisa melihat roh tetapi kita tahu ada eksisitensi evil spirit itu. Maka Yohanes bicara mengenai roh antikritus, bukan hanya bicara soal pengajarannya yang menyesatkan, tetapi juga usahanya yang senantiasa merusak dan menghancurkan relasi kita dengan Allah dan sesama orang percaya. Paulus dalam Efesus 6:12 juga mengingatkan, kita berperang bukan melawan darah dan daging tetapi melawan penguasa kerajaan angkasa, roh-roh jahat di udara yang tidak kelihatan itu. Itu adalah peperangan rohani kita dengan spirit daripada antikristus ini. Spirit antikristus itu adalah “the spirit of desolation,” kontras dengan Holy Spirit as “the Spirit of consolation.” Yohanes menyatakan Roh Kudus adalah Roh Penghibur, parakletos, menyatakan sikap consolation ini. Roh Kudus bekerja memberikan penghiburan, Roh Kudus bekerja memberikan kesembuhan, Roh Kudus bekerja mengangkat hidup kita melampaui kesulitan kita. Roh Kudus bekerja membuat tangan kita yang tadinya membekap diri menjadi tangan yang terbuka untuk merangkul orang yang mengalami kesulitan. Roh Kudus bekerja akan memperbaiki hubungan. Roh Kudus bekerja akan membawa orang yang sudah retak hubungannya bisa kembali di dalam hubungan yang indah. Itulah the Spirit of consolation. Tetapi spirit of desolation adalah spirit yang destruktif, spirit yang menarik diri, membuat orang terasing. Sehingga pada waktu dia tersendiri dia merasa dunia sudah tidak lagi mencintai dia, orang-orang tidak menerima dia, merasa diri sebagai orang yang paling malang, itulah proses menuju kepada depresi. The spirit of consolation membawa Petrus kembali kepada Kristus, the spirit of desolation menekan terus Yudas Iskariot akhirnya menggantung diri dan bunuh diri.
Untuk membereskan semua kemelut di dalam relasi, untuk meluruskan semua hubungan yang rusak dan pahit, untuk mendapatkan harmoni di dalam hubungan kita dengan Allah dan dengan orang-orang yang ada di dalam hidup kita, tidak ada cara lain, tidak ada antidote yang bisa menawarkan racun kebencian dan kemarahan itu, tidak ada vaksin lain yang bisa menyembuhkan kepahitan dan luka, selain kecuali yang satu ini: kasih Allah di dalam Kristus. “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawaNya untuk kita untuk kita…” (1 Yohanes 3:16). Kita perlu kasih Kristus itu memenuhi hati kita, saturate pikiran kita, overflow membersihkan segala kekotoran dan residu dosa kita. Bukan lagi soal berapa banyak doktrin tentang kasih yang engkau tahu, bukan soal berapa kurang kita mengerti dan belum jalankan, tetapi bagaimana kasih Allah menyentuh hati kita sedalam-dalamnya. Kasih Allah dinyatakan dengan darah Kristus yang suci itu dicurahkan untuk mengampuni dosa kita dan membersihkan aliran darah kasih kita, di situlah Allah menyucikan dan menyembuhkan relasi kita.
Maka di pasal 3 ini ada 2 hal muncul jikalau orang enggan untuk confess dan terus-menerus tidak mau mengaku dosanya, terjadi hal yang berbahaya yaitu orang itu “keep on sinning” atau “continuously sinning.” Ini adalah satu warning yang serius dan menakutkan, yang jangan sampai terjadi pada dirimu. Seorang anak Tuhan yang sejati kalau ada Roh Tuhan di dalam dirinya, Roh itu pasti akan menggedor hatimu. Tetapi jikalau tidak, maka 1 Yohanes 3:8 memberitahu kita karena kita tidak tahu bagaimana Roh Allah bekerja, tetapi kalau orang itu terus berbuat dosa dan tidak pernah mau mengaku, terus-menerus hidup di dalam life-style yang amoral, maka firman Tuhan mengatakan orang itu berasal dari Iblis dan memang bukan milik Tuhan. Selanjutnya dalam 1 Yohanes 3:15 “Setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.” Kita melihat intensitas kalimat ini lebih dalam, nada bicara Yohanes berubah. Jika kemarahan dan kepahitan ketika kita merasa telah diperlakukan tidak adil, kita merasa orang itu telah menekan kita, kita merasa diri adalah korban lalu itu menyebabkan kita merusak dan menciptakan kebencian kepada orang itu, beware! Sebab seringkali pada waktu kita mengalami situasi dan kondisi yang kita dalam posisi korban, kita dalam posisi tidak ada salah, kita selalu akan menuding orang yang telah berbuat salah kepada kita atau yang telah melukai hati kita, semua beban kesalahan itu 100% ditanggung oleh dia maka dia harus menerima segala pembalasan. Saya berhak untuk marah, saya berhak untuk benci kepada orang seperti itu. Benci itu adalah suatu suasana hati yang intense yang ingin membuat orang itu pergi menjauh dari hidup kita. Lama-lama ketika kita memiliki kekuatan dan kesempatan untuk membalas dendam, kita sanggup melakukan sesuatu untuk mencelalakan dan merusak hidup orang itu. Di sini Yohanes bukan hanya memakai kata “hatred” tetapi ada intention of murder, terjemahan Indonesia memakai kata “pembunuh manusia,” terjemahan New Living Translation (NLT) “murderer at heart.” Ada bedanya membunuh dalam hati karena kebencian dengan aktualisasi membunuh secara fisik. Bagaimana kebencian itu disetarakan dengan pembunuhan? Yesus memberi jawabnya dalam Matius 5:21-22. Dengan kata “murderer at heart” memberitahukan kepada kita, kita tidak perlu sampai melakukan action tindakan nyata membunuh seseorang, karena firman Tuhan menyatakan kebencian dan kemarahan yang dalam sudah setara dengan pembunuhan itu sendiri. Kalau kebencian dan kemarahan itu tidak pernah kita bereskan dan kita tidak pernah mau memakai waktu kontemplatif mengoreksi dan mengintrospeksi diri, kita tidak pernah membereskan interior hati kita di hadapan Tuhan karena kita selalu melihat apa yang orang itu lakukan. Firman Tuhan ini memanggil kita untuk introspeksi diri.
Yohanes memakai contoh ilustrasi pembunuhan yang pertama yang dicatat oleh Alkitab, Kain membunuh Habel. Apa alasan Kain membunuh Habel? Habel tidak berbuat yang tidak baik kepada Kain. Ironis, Kain membunuh Habel di dalam konteks sedang beribadah kepada Tuhan. Kain membunuh Habel karena Habel showed what is right. Dan itu yang menjadi satu pemicu. Berarti di situ engkau benci bukan soal orang itu melakukan sesuatu kepadamu tetapi engkau benci dia karena itu soal persoalan yang tidak beres di dalam hatimu. Maka Tuhan datang kepada Kain dengan satu warning “Kain, mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Hati-hati, dosa sudah mengintip di depan pintu, ia sangat menggoda engkau tetapi engkau harus menang atasnya” (Kejadian 4:6-7). Jangan biarkan kemarahan itu “incubation” seperti ayam mengerami telurnya karena dia akan membuka pintu untuk membuahkan kejahatan yang besar, pembunuhan. Setiap anak Tuhan dipanggil untuk menyatakan kebenaran di tengah dunia yang penuh dengan ketidak-benaran, dan panggilan itu bukan tanpa konsekuensi. “Janganlah kamu heran apabila dunia membenci kamu” (1 Yohanes 3:13). Stop being surprised. Dunia membenci anak-anak Tuhan dengan alasan yang sama Kain membenci Habel. Naiflah kalau kita berharap dunia akan “nice” kepada kita, karena naturnya ketika kita memilih untuk hidup lurus dan benar sebagai buah ketaatan kita kepada Allah, kita bersiap hati menghadapi reaksi yang hostile dari dunia ini.

Kenapa terjadi berbagai kesedihan, kepahitan, kebencian dan kemarahan yang akhirnya menciptakan hal-hal yang begitu destruktif dalam satu relasi? Blaise Pascal berkata, “All men’s miseries derive from not being able to sit in a quiet room alone.” Semua kesusahan terjadi dalam hidup kita itu berangkat karena kita tidak mampu untuk duduk tenang untuk mengintrospeksi diri. Kita selalu cepat melihat ke luar diri, melihat apa yang menjadi reaksi orang, apa yang dipikirkan orang, kenapa orang itu bersikap seperti itu, kenapa orang itu atau situasi itu seperti ini, dsb. Blaise Pascal mengingatkan terlalu banyak persoalan tidak habis-habis dalam hidup kita karena kita tidak punya kemampuan untuk ambil waktu duduk sendiri, introspeksi ke dalam diri. Itu adalah bicara mengenai relasi kita dengan Tuhan. Bagian firman Tuhan ini luar biasa mengupas sampai ke dalam hati kita yang tersembunyi. Jika engkau terus menyimpan kebencian kepada orang, orang lain tidak bisa melihat, tetapi itu menjadi pembunuhan di dalam hatimu. Kita sudah hidup di dalam dunia yang terlalu cepat bergerak, kita kehilangan hati dan hidup kontemplatif ini. Berdiam, bukan mengeluh apa yang terjadi di luar diri, bukan marah terhadap apa yang orang lain kerjakan kepada kita, tetapi bertanya what’s wrong with me? Bagaimana seharusnya saya bersikap? Dan sesudah itu sanggupkah engkau berdoa bagi orang yang melukaimu? Introspeksi ke dalam hati kita itu penting karena di situlah kita tidak akan pernah terus keluarkan pikiran curiga kepada pikiran orang lain, yang terus mau tahu bagaimana sikap orang itu, kenapa orang itu berbuat demikian kepadamu, dsb. Tetapi di situ kita bicara kepada hati kita. Ada bermacam-macam cara untuk mendisplin anak, salah satunya dengan “naughty corner.” Anak itu disuruh berdiri di pojok yang namanya “naughty corner” itu. Apa tujuan dari naughty corner? Itu salah satu cara yang baik, sebelum kita beri anak kita konsekuensi terhadap perbuatannya yang salah, paling baik dia “calm down” introspeksi diri di situ memikirkan kenapa dia melakukan hal yang tidak baik, apa yang tidak beres dengan hatinya. Baru setelah itu kita memberi disiplin dan memperbaiki kelakuannya. Kalau kita bisa menyuruh anak kita disiplin dengan cara itu, kenapa kita sendiri tidak punya naughty corner?
Maka sebelum melanjutkan ke ayat 17-18, rasul Yohanes menyatakan “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawaNya untuk kita…” Kasih Kristus adalah kasih yang luar biasa, kasih dari seorang sahabat yang memberikan nyawanya bagi sahabatnya (band. Yohanes 15:13-14). Maka setelah mengerti kasih yang luar biasa itu, Yohanes mengatakan, “…jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita” (1 Yohanes 3:16). Kasih itu harus didemonstrasikan dalam hidup kita, tidak bisa hanya diucapkan dan dibicarakan, harus dilakukan secara action. Kasih itu adalah engkau mencontoh kasih Tuhan Yesus yang mengasihi bukan karena orang itu baik kepada kita. Banyak orang Kristen mengira ketika kita dipanggil untuk mengasihi saudara kita, kita merasa itu adalah perintah yang sulit karena pada realitanya kita tidak bisa menyukai semua orang. Saya rasa kita harus mengerti ada beda antara “mengasihi” dan “menyukai.” Kita diperintahkan oleh firman Tuhan untuk mengasihi setiap orang termasuk itu adalah musuh kita. Tetapi firman Tuhan tidak menyuruh kita untuk menyukai semua orang. Kita tidak bisa suka kepada semua orang, sama halnya tidak semua orang juga menyukai kita. Kita mungkin bisa tidak suka seseorang yang kepribadiannya yang reseh dan kepo, karena temperamennya yang pemarah, orangnya suka menghina dan bergosip, penampilannya yang norak, dsb. Setiap kita punya personal preference, kita bisa suka kepada orang yang satu dan tidak suka dengan orang yang lain. Tetapi mengasihi bukan personal preference. Mengasihi adalah soal ketaatan kita kepada perintah Tuhan. Kasih seperti apa? Kasih seperti Kristus yang memberikan hidupNya kepada orang lain. Kasih itu adalah kasih yang aktif engkau mengasihi orang itu bahkan memberikan nyawamu bagi dia. Itulah kasih seorang Kristen sejati. Di situlah kita merepresentasi kasih dan karakter Yesus ini. Saya merindukan hal ini pada diri engkau dan saya juga. Saya merindukan itu menjadi goal kita, kerinduan kita sama-sama.
“Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 Yohanes 3:18). Kasih itu dinyatakan bukan di mulut saja, maka Yohanes memberikan contoh sederhana, jikalau engkau sudah berkecukupan secara materi tetapi melihat saudaramu yang sedang mengalami kekurangan namun engkau tidak melakukan apa-apa kepadanya, kasih kita adalah kasih yang kosong adanya dan barangkali kasih itu tidak ada di dalam hati kita (1 Yohanes 3:17).
Ada satu kisah nyata berangkat dari satu orang survivor dari sebuah kamp konsentrasi di Siberia yang dikenal dengan sebutan gulag yang kemudian akhirnya menjadi Kristen, dia mengisahkan bagaimana brutalnya perlakuan yang dia derita di tempat yang dingin luar biasa, puluhan juta orang Yahudi dibuang dan mati di situ. Salah satu orang Yahudi yang dibuang di situ namanya Boris Kornfeld, seorang dokter. Karena dia seorang dokter maka dia diperbolehkan mengobati dan merawat begitu banyak orang-orang tawanan yang sakit. Di kamp itu Boris berkenalan dengan seorang Kristen yang menceritakan kepadanya tentang Yesus. Setiap malam dia bisa mendengar orang ini berdoa dengan bersuara, bersyukur kepada Tuhan dan selalu mengakhiri doanya dengan Doa Bapa Kami. Di tengah penderitaan kesulitan yang begitu luar biasa berat dan air mata yang mengalir dan kehilangan pengharapan, para tawanan yang sakit mendapatkan penghiburan dari doa-doa yang dipanjatkan oleh orang Kristen ini. Meskipun dia sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa berat, dia bisa menyatakan syukur, memuji Allah dan berdoa sehingga kalimat doanya didengar oleh semua orang di situ dan menjadi kekuatan bagi mereka juga. Dari kesaksian orang Kristen itu dokter ini kemudian percaya kepada Tuhan Yesus. Bagaimana kisah orang Kristen ini selanjutnya dia tidak pernah mengetahuinya karena dipindahkan ke camp lain, dia tidak pernah mendengar doa-doa lagi. Di dalam perjalanan imannya dokter ini ingin hidup mengasihi dan melayani Tuhan. Pada suatu hari dia melihat ada pegawai rumah sakit yang mencuri makanan pasien lalu dia melaporkannya, lalu orang itu ditangkap dan dihukum ditaruh di dalam satu ruangan. Tetapi dokter ini sangat bergumul karena dia mau melakukan hal yang baik dan benar tetapi kalau suatu hari tawanan itu keluar, bagaimana? Dia tahu orang itu pasti akan membalas dendam dan mungkin membunuh dia. Dalam beberapa hari kemudian di ruang sakit ada seorang yang sakit kanker usus dan harus dioperasi. Orang itu dalam keadaan pucat dan dalam keadaan takut luar biasa dan sebelum anestesi diberikan kepadanya, dokter Boris berdoa dan menghiburnya dan menceritakan siapa Yesus kepada orang sakit ini. Jangan gelisah, jangan takut, Kristus sudah menanggung dosa kita. Percaya dan bersandar kepadaNya. Engkau akan melewatinya dengan indah dan baik. Dalam keadaan antara sadar dan tidak, orang itu melihat dokter berdoa baginya, selesai operasi orang itu terbangun, dia sehat dan sembuh. Dia terbangun karena keributan yang terjadi dan ingin mencari dokter itu, tetapi ternyata seorang pasien memberitahunya bahwa ada orang yang membunuh dokter dengan memukul kepalanya sampai pecah. Kisah ini tidak pernah keluar kalau tidak pernah diceritakan oleh pasien yang disembuhkan dari kankernya yang karena mendengar doa dan kesaksian dokter akhirnya dia sendiri juga percaya Tuhan Yesus. Kisah itu ditulis dalam buku berjudul “The Gulag Archipelago” oleh Aleksandr Solzhenitsyn tahun 1970 mendapatkan hadiah nobel prize dalam bidang literatur. Dari buku itu terbongkarlah kebusukan dan kebrutalan kamp konsentrasi itu. Aleksandr menjadi seorang Kristen karena kesaksian dari dokter Boris Kornfeld. Di dalam kondisi yang paling sulit sekalipun itulah arti cinta dan kasih dari seorang yang telah lebih dulu mengalami cinta dan kasih dari Tuhan Yesus. Kalau hatinya indah dan sembuh, itulah keindahan dan berkat di dalam kamp konsentrasi yang paling keras sekalipun tidak pernah memahitkan hati dan cinta kasih anak-anak Tuhan itu. Betapa indah kita menyaksikan di dalam kondisi penderitaan yang begitu dahsyat, di tengah sakit yang begitu berat, di dalam keadaan terperangkap oleh kelumpuhan dan tidak berdaya di atas kursi roda berpuluh-puluh tahun hidupnya, itu tidak pernah memahitkan hati mereka dan tidak akan pernah membuat tangan mereka tertahan tak terulur mencintai orang sebab kasih itu adalah kasih yang dari surga adanya. Kenapa Boris Konvelt menjadi orang percaya? Karena dia mendengar doa-doa yang dipanjatkan oleh seorang anak Tuhan yang di dalam penderitaan dan kesakitannya masih ada syukur keluar dari mulutnya, ada cinta kasih dan pengharapan dari hidupnya melihat sama seperti Kristus yang juga pernah menderita dan sakit, itu sebabnya dia percaya dan menerima Tuhan.
Kiranya Tuhan memimpin dan memberkati setiap kita pada hari ini. Kiranya hati kita dipenuhi oleh keindahan kasih Tuhan Yesus. Ia mengasihi kita dan mati di kayu salib bagi kita. Bersyukur untuk firman Tuhan yang mengingatkan sekali lagi, kita sudah mengenal, kita sudah belajar, kita sudah mengetahui perintah yang diberikan kepada kita oleh Tuhan Yesus sendiri untuk mengasihi saudara seiman dan untuk mengasihi sesama manusia. Karena cinta kasih Tuhan telah terlebih dahulu menarik kita, biar kita mengalaminya, merenungkannya, menikmatinya dan menjadi kebenaran yang membebaskan hati kita dan menyembuhkan kita.(kz)