09. Keangkuhan Rohani dan Pembenaran Diri

Eksposisi Surat 1 Yohanes (9)
Tema: Keangkuhan Rohani dan Pembenaran Diri
Nats: 1 Yohanes 3:1-10
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

“Let my heart be broken by the things that break the heart of God,” ini adalah salah satu doa yang begitu indah dipanjatkan seorang hamba Tuhan yang melayani. Tuhan, jadikan hatiku juga hancur terhadap hal-hal yang ada di atas dunia ini yang juga menghancurkan hati Tuhan. Doa itu diucapkan oleh Bob Pierce di tahun 1950 karena melihat begitu banyak anak yatim piatu akibat perang di Korea, hatinya tersentuh. Lalu dari situ mulailah satu pelayanan yang sampai hari ini terus ada, nama pelayanan itu adalah World Vision. Bob Pierce memanjatkan doa itu. Dari satu pelayanan kecil melayani anak-anak yatim yang miskin yang terbengkalai itu, pelayanan World Vision terus berkembang dan menjadi besar. Dia pergi ke beberapa tempat dan beberapa negara, dengan tekun dan dengan giat dan tidak ada habis-habisnya Bob Pierce melakukan pelayanan seperti itu. Tetapi di dalam perjalanan pelayanannya kita menemukan ada hal-hal yang akhirnya menjadi sesuatu yang menyedihkan karena sampai akhir hidupnya dia menghancurkan banyak relationship dengan orang-orang terdekat, terutama keluarga dan rumah tangganya. Bob Pierce bertahun-tahun lamanya putus hubungan tidak bicara dengan isterinya. Dia tidak pernah hadir di dalam hidup anak-anaknya dengan berbagai excuses dan alasan pelayanan bagi Tuhan. Anak perempuannya begitu merindukan cinta ayahnya, akhirnya mati bunuh diri. Karakter dan temperament Bob Pierce yang tidak terkontrol saat marah mengamuk habis-habisan, menghasilkan begitu banyak anger yang erratic di dalam pelayanannya, membuat akhirnya orang-orang yang paling dekat meninggalkannya dengan luka yang dalam.
Dunia ini adalah dunia yang sudah broken, setiap orang yang hidup di dalam dunia ini pernah dan akan mengalami broken relationships. Ada kesedihan, ada pengkhianatan, ada kebencian, ada egoisme dan mementingkan diri, ada kemarahan dan pembalasan dendam. Bukan saja broken relationships terjadi di antara manusia, relationship utama yang telah rusak adalah relationship kita dengan Tuhan. Rusaknya relasi kita dengan Tuhan mengakibatkan rusaknya relasi kita dengan diri kita sendiri; rusaknya relasi kita dengan keluarga kita; rusaknya relasi kita dengan saudara seiman kita di gereja, rusaknya relasi kita dengan orang-orang lain yang bersentuhan dengan hidup kita. Sangat menyedihkan melihat di balik begitu banyak pelayanan yang begitu sukses dan besar, di balik figur hamba-hamba Tuhan yang kelihatannya begitu berkarisma dan jaya, tetapi ternyata memiliki brokenness, air mata dan luka yang dalam di tengah keluarga mereka.
Saya rindu kita semua mengalami satu keindahan dan kesembuhan di dalam relasi kita secara pribadi dengan Tuhan dan dengan orang-orang di dekat kita masing-masing. Saya rindu juga terjadi keindahan dalam relasi kita satu sama lain sebagai pengurus gereja; saya rindu itu juga menjadi keindahan dalam relasi di tengah small group kita, di dalam pelayanan dari berbagai aktifitas kita. Apa artinya, apa gunanya dalam segala keletihan dan kelelahan mengerjakan aktifitas demi aktifitas pelayanan itu akhirnya mendatangkan brokenness di dalam relasi sesama saudara seiman yang sama-sama mengasihi Tuhan? Saya tidak ingin hal itu terjadi di dalam keluargaku, dan saya juga tidak ingin mengatakan berbagai excuses kepada keluarga “demi untuk Tuhan, aku mengabaikan kalian.”
Dalam surat ini rasul Yohanes merindukan setiap anak-anak Tuhan mempunyai fellowship yang mature dan otentik dengan Allah Bapa dan dengan Allah Anak. Fellowship itu adalah suatu fellowship yang membawa keindahan dan sukacita yang luar biasa. Namun Yohanes mengingatkan ada empat obstacles, ada empat penghambat yang bisa menjerumuskan, memisahkan, memecah-belah dan menghancurkan keindahan fellowship itu.
Penghambat yang pertama, keengganan dan kekerasan hati tidak mau mengakui dosa. Penghambat kedua, kebencian dan amarah kepada saudara seiman dan keluarga. Penghambat ketiga, keinginan yang tidak pernah puas mencintai dunia dan kesombongan diri. Dan yang keempat, rasul Yohanes ingatkan ada the spirit of antichrist, spirit yang bersifat “desolation,” yang senantiasa mau menarik kita pergi menjauhi Tuhan, yang membawa kita benci kepada persekutuan dengan Tuhan.
Yohanes di awal suratnya mengingatkan, “Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita maka Ia adalah setia dan adil sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:8-9). Dengan kata “jika” dipakai beberapa kali memberikan satu indikasi Yohanes ingin menegur orang Kristen untuk mewaspadai keengganan confess akan dosa dan kesalahan. Ada dua type orang di dalam keengganan itu. Type yang pertama adalah type yang selalu self-righteous, membenarkan diri. Type yang kedua adalah type orang yang terlalu malu datang ke hadapan Tuhan karena merasa dirinya begitu lemah, selalu kalah menghadapi pencobaan, terus-menerus berbuat salah. Orang ini merasa tidak ada guna untuk confess lagi hal-hal yang sama berulang kali, pasti Tuhan sudah bosan dan tidak lagi mengasihi dan mengampuni. Akhirnya orang itu pelan-pelan menarik diri dan meninggalkan Tuhan karena terlalu malu berdiri di hadapan Tuhan, karena merasa diri terlalu kotor adanya. Firman Tuhan di sini menjadi penghiburan karena kita punya Yesus Kristus pengantara dan pembela kita di hadapan Allab Bapa, yang bukan saja menjadi pendamaian bagi dosa-dosa kita tetapi juga untuk dosa seluruh dunia (1 Yohanes 2:1-2).
Type yang pertama adalah type orang Farisi masuk ke dalam gereja tidak melihat dosa dan kesalahan diri sendiri, tidak dengan kontemplatif melihat hubungannya dengan Tuhan, melihat gereja dan orang-orang yang hadir di dalamnya, melihat seorang pemungut cukai berdoa di situ, doa orang Farisi menjadi lain. “Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan seperti pemungut cukai ini” (Lukas 18:9-12). Apa yang perlu saya akui? Apa yang perlu saya minta ampun kepada Tuhan? Pada waktu kita membaca Galatia 5:19-21 ada beberapa list yang Paulus sebutkan, “Perbuatan daging telah nyata yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir…” melihat list yang di bagian atas ini, mudah kita mungkin membenarkan diri karena kita tidak melakukan semua dosa-dosa seperti itu. Tetapi Paulus melanjutkan, “…perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan seterusnya…” ketika kita sampai kepada list bagian bawah rangkaian dari catatan dosa ini, mari kita teliti sejujurnya apakah ada di antara kita yang masih berani berkata aku tidak perlu mengaku dosa pada waktu kita menghampiri Tuhan? Tidak satu pun di antara kita yang hari ini dengan berani mengatakan tidak ada hal yang perlu saya confess.
“Jika kita katakan bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri…” kata Yohanes. You are a liar, you are self-deception; engkau menipu diri sendiri, engkau tidak mengatakan kebenaran jika engkau berkata tidak ada yang salah dengan kondisi rohaniku. Itu adalah self-evaluation yang tidak jujur.
Setiap kali kita berdiri di hadapan Allah, kita perlu dengan jujur mengevaluasi diri. Jikalau tidak, kita akan melihat pola pembenaran diri itu memperlihatkan keangkuhan rohani yang begitu berbahaya. Kenapa? Karena peringatan dan warning Yohanes tidak berhenti sampai di sini; dia membawa kita kepada peringatan yang lebih serius dan lebih fatal karena sikap self-righteous dan tidak mau berhenti dari kehidupan dosanya bisa kita gambarkan sebagai satu perputaran vortex yang membawa kita tenggelam ke bawah. “Setiap orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa lagi…” (1 Yohanes 3:9). No one born of God makes a practice of sinning, and he cannot keep on sinning because he has been born of God, kata Yohanes. Kalau orang itu terus ‘keep on sinning,’ terus berbuat dosa dan tidak pernah punya keinginan untuk meninggalkan dosa itu atau mengaku salah di hadapan Tuhan, itu bisa menjadi indikator yang sangat serius bahwa orang itu bukan anak Allah yang sejati. Dan tidak sampai di situ, Yohanes mengatakan kondisi orang yang seperti itu akan menghasilkan sesuatu yang tidak bisa dihapus dan di-reverse yaitu maut atau kematian pada jiwa orang itu. Betapa menakutkan! Dalam 1 Yohanes 5:16-17 Yohanes berkata, “If anyone sees his brother committing a sin not leading to death, he shall ask and God will give him life…” Kalau ada seseorang melihat saudaranya berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut, berdoalah baginya dan Allah di dalam kemurahanNya akan mengampuninya. Tetapi selanjutnya Yohanes mengatakan ada orang yang melakukan “dosa yang mendatangkan maut” sin that leads to death, Yohanes mengingatkan ada dosa yang mendatangkan kematian, dosa yang tidak bisa diselamatkan, yang untuk itu kita tidak diminta mendoakan orang itu. Maka kita melihat di situ vortex kehancuran itu terjadi.
Hari ini kita bicara khusus bagian ini membahas pasal 3:1-10, Yohanes mengelaborasi aspek yang pertama bicara tentang kenapa kita perlu kepekaan mengakui dosa-dosa kita di hadapan Tuhan dan apa dasarnya pengakuan itu, kenapa pengakuan kita itu mendapatkan jaminan pengampunan dan pemeliharaan yang indah bagi spiritualitas kita.
Beberapa waktu yang lalu saya ada menyebutkan salah satu disiplin rohani yang dilakukan oleh pengikut Kristus di abad pertengahan yaitu “the prayer of Examen,” suatu doa refleksi terhadap hari yang kita jalani bersama Kristus dalam satu periode waktu yang spesifik, biasanya pada pagi hari dan malam hari. Di dalam doa refleksi itu kita melatih kepekaan kesadaran dan pengakuan akan kehadiran Allah di dalam aktifitas hidup sehari-hari. Di situ kita menaikkan doa-doa kontemplatif untuk meneliti diri sambil introspeksi: kenapa saya tadi bereaksi seperti itu, kenapa tadi saya melakukan hal seperti ini, adakah iri hati, kedengkian, amarah, cemburu sebagai dosa-dosa yang aku harus dan patut akui di hadapan Tuhan? Ini adalah satu bagian esensial dari disiplin rohani yang tidak boleh kita abaikan. Di dalam pendidikan sekolah kita mendapatkan berbagai keahlian mempersiapkan kita masuk ke dalam karir dan pekerjaan. Amat disayangkan kita kurang belajar skill untuk mengaplikasi secara praktis dan efektif prinsip-prinsip kebenaran yang kita percayai. Sebagai contoh: bagaimana saya bisa belajar cepat mendengar tapi lambat berbicara dan lambat untuk marah; bagaimana aku bisa marah tanpa berbuat dosa; bagaimana aku menjaga hatiku ketika pencobaan muncul di depanku; bagaimana aku bisa menyatakan kebenaran di dalam kasih; bagaimana aku bisa menjadi seorang juru damai di tengah pertengkaran; bagaimana aku membuang segala kepahitan, kemarahan dan iri hati dari diriku.
Sayangnya di tengah kehidupan yang hectic dan kesibukan yang seolah tidak ada henti, kita kadang-kadang begitu sulit untuk mengambil waktu sejenak untuk melakukan kontemplasi itu. Padahal jujur saja sebenarnya setiap hari kita banyak kesempatan untuk kontemplatif di depan kaca meneliti wajah dan penampilan kita. Sesibuk-sibuknya engkau, tiap pagi selalu sempat bercermin, bukan? Untuk apa bercermin? Karena tidak mau orang lain melihat penampilanmu yang kumal, atau ada kotoran di wajahmu, bukan? Kita pakai waktu kontemplatif tetapi yang kita lihat cuma bagian luarnya. Tetapi mari mulai hari ini kita melakukan kontemplatif melihat sampai ke dalam hatimu dengan cermin firman Tuhan yang menerobos sedalam-dalamnya hati kita. Kita mungkin kuatir melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan muka kita karena kita dilihat orang, tetapi kenapa kita tidak pernah kuatir dan peka untuk melihat hati kita, karena itu yang dilihat Tuhan. Kontemplatif itu bukan menjadi self-condemnation, bukan menghukum diri sendiri, bukan melakukan sikap untuk menganggap diri tidak baik, tetapi itu adalah momen dimana kita senantiasa membereskan dan menata hati kita lagi.
Kedua, kenapa perlu melakukan disiplin rohani seperti itu? Yohanes mengatakan, “Sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak. Akan tetapi kita tahu bahwa apabila Kristus menyatakan dirinya, kita akan menjadi sama seperti Dia…” (1 Yohanes 3:2). Suatu kali kelak nanti pada waktu kita melihat Yesus, kita akan seperti Dia. Sekarang ini tidak ada satupun di antara kita yang bisa perfect sempurna dan sinless di dalam dunia ini. Nanti pada waktu kita berjumpa dengan Tuhan Yesus barulah kita sempurna adanya seperti Dia. Frase nanti ‘kita akan menjadi sama seperti Dia’ ini punya tiga arti: berarti nanti kita akan memiliki tubuh kemuliaan seperti Kristus; yang kedua, nanti kita akan memiliki karakter yang disucikan seperti Dia. Selama di dunia ini kita memiliki mix karakter yang terus-menerus disucikan olehNya tetapi masih ada residue dosa yang patut kita singkirkan; dan yang ketiga, satu kali kelak kita akan memiliki kesukaan dan enjoyment yang kita miliki sepenuhnya seperti Kristus.
Bagaimana semua ini terjadi? Bagaimana Tuhan menyucikan kita? Bagaimana pengampunan pemberesan dan kesembuhan pada waktu kita mengakui dosa-dosa kita mendatangkan keindahan dan pembentukan diri engkau dan saya masing-masing tidak lain dan tidak bukan adalah karya dari Tuhan kita Yesus Kristus. Tetapi seberapa indahnya kita berespons kepada karya Tuhan itu? “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah!” (1 Yohanes 3:1). Bisakah kita kagum, terpesona, amaze, menikmati itu setiap kali dibawa melihat betapa kasih yang dinyatakan oleh Bapa kepada kita sehingga kita boleh disebut anak-anakNya? Yohanes pada waktu menulis bagian ini sudah berumur 80-90an tahun, sudah lama ikut Tuhan, namun dia menyatakan satu ekspresi sukacita yang luar biasa seolah-olah hal itu baru saja dia alami. Ia mencoba menyatakan besarnya kasih Tuhan itu, this is amazing grace! Ini adalah kasih yang memiliki qualitative different, hanya ada satu kasih yang seperti itu, tidak ada kasih yang setara dengannya, tidak ada komparasinya, tidak boleh disamakan karena kasih Allah berbeda sama sekali. Setiap kali engkau melihat dan mengalami, kamu akan menikmati keindahan sukacita itu juga. Kenapa? Sebab engkau dan saya adalah anak-anak kegelapan yang dijadikan anak-anak terang; engkau dan saya yang kumal, kucel, lusuh, gembel, jorok, penuh borok, hancur, tetapi diambil dan dijadikan sebagai anak-anakNya. Engkau dan saya adalah penista Allah tetapi disayangi oleh Dia. Kita adalah anak-anak si Jahat yang memberontak dan membenci Dia tetapi kita disayang olehNya. Itulah kasih Allah, kasih yang sudah memberikan Yesus Kristus mati di kayu salib sehingga engkau dan saya bisa dijadikan seperti Kristus, kasih yang telah mengampuni dosa-dosa kita. This sense of awe jangan pernah hilang dalam dirimu kepada Tuhan. When you fill your heart with the sense of awe to God you will humble yourself. God, it is amazing to know this kind of love, Your love! Dengan hati yang seperti itu kita tidak akan berdiri dengan sombong dan self-righteous di hadapan Tuhan. Kenapa kita tidak bisa mengasihi orang dengan kasih seperti itu? Karena kita mungkin tidak pernah kagum dengan kasih Tuhan kepada kita. Karena kita tidak berani untuk hidup mencintai dan mengasihi pekerjaan Tuhan dengan indah, karena kita punya kekaguman lagi. Ingatkan, kalimat itu keluar dari seorang hamba Tuhan yang sudah berumur 80-90 tahun, yang sudah ikut Tuhan begitu lama, tetap hingga akhir hidupnya dia masih menyatakan kekaguman kesegaran yang seperti itu.
Kiranya Tuhan memberkati engkau pada hari ini, jikalau telah sekian lama menjadi orang Kristen, engkau telah kehilangan kasih yang mula-mula itu; jikalau telah sekian lama menjadi orang Kristen, engkau telah kehilangan sukacita dan keindahan kasih Tuhan dan melulu memenuhi hatimu dengan judgmental spirit dan legalisme yang kaku. Maukah engkau disembuhkan oleh Tuhan? Maukah engkau memberi Tuhan memperbaiki relasimu dengan orang-orang yang ada di sekitarmu? Hari ini Dia mau engkau kontemplatif melihat hatimu sedalam-dalamnya. Jangan pernah lagi mempersalahkan orang lain. Jangan pernah lagi memenuhi hatimu dengan kebencian dan kemarahan kepada orang-orang yang kita pikir sebagai sumber penyebab semua kekacauan di dalam hidupmu, karena semua kekacauan itu datang dari diri kita sendiri. Sudah tiba waktunya bagi setiap kita untuk berhenti sejenak dan melihat kepada cermin firman Tuhan dan mengakui segala kelemahan, dosa, kesombongan, iri hati, kepentingan diri. Minta Tuhan mengampuni dan menyucikan kita.
Kata ‘suci’ sudah berubah arti di dalam hidup kita. Suci berarti sakral, kita tidak berani dekat-dekat. ‘itu barang suci, jangan dipegang!’ pendeta naik mimbar tidak membawa kitab suci tetapi pakai iPad, jemaat sudah melotot. Maka ‘suci’ sudah menjadi sesuatu yang bikin kita tidak mau menyentuhnya. Kata suci malah bikin kita separate. Itu sebab saya senang sekali dengan terjemahan New Living Translation di sini, “And all who have this eager expectation will keep themselves pure, just as Christ is pure” (1 Yohanes 3:3). Itulah arti suci yang benar, karena kesucian itu bukan membuat orang menarik diri dan menjauhkan diri darimu. Kesucianmu itu justru menarik orang mendekat kepadamu. Melihat air yang begiu jernih, kita begitu ingin meminumnya. Hidupmu menjadi indah, attractive bagi orang lain karena begitu indah kasih yang menjadikan engkau dan saya sebagai anak-anak Allah.
Bersyukur untuk firman Tuhan yang memanggil kita untuk pembentukan dan pemberesan bagi hidup setiap kita. Kiranya Tuhan membentuk dan membereskan setiap kita yang ambil bagian melayani Tuhan supaya hidup kita menjadi indah di dalam relasi kita dengan keluarga, dengan saudara seiman, dan menjadi indah di tengah jemaat semua. Kiranya Tuhan membersihkan dan membereskan hati setiap kita dari segala kelemahan, kekuatiran, kebencian, ketakutan, iri hati, kesedihan. Kiranya Tuhan memberkati setiap kita yang berdiri di hadapan Tuhan di dalam persekutuan kita dengan firman Tuhan, karena Kristus Tuhan telah menjadikan kita anak-anak Allah. Kita yang dulu menolak, melawan dan memberontak, kita yang kotor dan tidak layak, dijadikan sebagai anak-anak Allah.(kz)