08. Antichrist as the Spirit of Desolation

Eksposisi Surat 1 Yohanes (8)
Nats: 1 Yohanes 2:18-19, 4:1-6
Tema: Antichrist as the Spirit of Desolation
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.

Rasul Yohanes menulis surat 1 Yohanes dengan satu kerinduan bagi setiap jemaat yang menerima suratnya agar mereka memiliki suatu relasi dan hubungan yang dewasa dan otentik satu dengan yang lain. Fellowship yang seperti itu menjadi cermin yang nyata bahwa mereka memiliki fellowship yang otentik dengan Bapa di surga dan dengan Yesus Kristus. Fellowship itu bukan fellowship yang sementara karena fellowship itu tidak berhenti sampai di sini, kelak kita satu dengan yang lain akan bertemu kembali dengan Bapa kita di dalam kekekalan. Dan di situ kita juga akan bertemu dengan orang-orang yang ada di sekitar kita pada hari ini dengan keindahan yang sudah disempurnakan oleh Tuhan. Di dunia ini fellowship kita satu dengan yang lain adalah fellowship yang sementara, yang berada di dalam limitasi tempat dan waktu. Kita bisa berpindah tempat, kita bisa menjadi tua sampai akhirnya kita meninggal dunia dan berpisah dengan orang-orang di sekitar kita. Di dunia ini fellowship kita satu dengan yang lain adalah fellowship yang terbentuk di dalam kelemahan kita, kita bisa terbentur, kita bisa terluka satu dengan yang lain, kita bisa tidak saling membangun dan menguatkan satu sama lain. Tetapi semua itu jangan membuat kita akhirnya menarik diri dari fellowship itu. Mari kita lihat satu kali kelak pada waktu kita bertemu Tuhan kita akan menikmati fellowship yang sempurna itu.
Dalam surat ini ada empat hal yang menjadi penghalang bagi fellowship yang mature dan otentik. Penghalang yang pertama, keengganan kita untuk mengakui dosa-dosa kita. Itu adalah penghalang dan penghambat yang terbesar di dalam fellowship kita dengan Tuhan dan dengan sesama. Maka Yohanes mengatakan “Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita” (1 Yohanes 1:8). Yohanes memberi warning karena di situ ada keengganan dari kelompok orang yang tidak menyatakan confession atas dosa-dosanya, yang merasa diri benar dan membangun self-righteous dan self-pride di hadapan Tuhan.
Penghalang yang kedua adalah kebencian dan hatred kepada saudara seiman kita. Yohanes berkata, “Barangsiapa berkata bahwa ia berada di dalam terang tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan” (1 Yohanes 2:9). Penghalang terjadi kalau kita mengatakan bahwa kita mengasihi Allah tetapi kita membenci saudara kita. Di sini Yohanes bukan mengatakan ketika kita mengasihi Allah tetapi kita tidak melayani, atau kita bilang mengasihi Allah tetapi kita tidak berbuat baik. Yohanes memakai kata yang kontras “terang, gelap; kasih, benci” karena hal ini bicara mengenai sesuatu yang ada di dalam hati kita yang menjadi obstacle dari a true fellowship.
Penghalang yang ketiga, craving atau keinginan hati yang tidak pernah terpuaskan. Rasul Yohanes mengingatkan kita, jangan craving terhadap 3 hal ini: craving akan dunia, craving apa yang dilihat oleh matamu, dan craving akan keangkuhan pride of life, haus akan kesuksesan, haus akan pujian, dst (1 Yohanes 2:15). Ke 3 hal ini bisa menjadi keinginan yang tidak habis-habisnya dan akan menjadi penghalang yang besar bagi a true fellowship kita dengan Tuhan.
Penghalang keempat hari ini secara khusus akan kita bahas dari 1 Yohanes 2:18-19 dan pasal 4:1-6, bagian ini bicara mengenai antikristus, the spirit of antichrist, yang adalah roh pemecah-belah dan roh yang mencerai-beraikan fellowship orang percaya.
Gereja adalah persekutuan anak-anak Tuhan yang disatukan dari bahasa yang berbeda, ras yang berbeda, status sosial yang berbeda, yang pada waktu peristiwa Menara Babel (Kejadian 11) tidak sanggup bisa menjadi ikatan yang mengikat dan membuat terpencarlah umat manusia. Bahasa yang berbeda menjadi pemisah, ras yang berbeda menjadi pemisah. Sangat disayangkan gereja-gereja juga masih tetap berada di dalam perpisahan seperti itu. Gereja menjadi terkelompok, ini gereja orang kaya, ini gereja orang miskin, ini gereja ras tertentu, dsb. Kiranya gereja boleh menjadi refleksi dari a true fellowship di surga ketika seluruh bangsa dan berbagai bahasa dunia yang berbeda, dengan ras yang berbeda datang menyembah dan memuji Tuhan. Ketika Roh Kudus turun di hari Pentakosta, hadir di tengah-tengah orang percaya menjadi Roh yang mempersatukan, Roh itu membuat orang mendengarkan firman Tuhan di dalam bahasa mereka masing-masing, tidak ada lagi penghalang dan pembatas, tidak ada lagi perbedaan ras, tidak ada lagi perbedaan status sosial karena Roh itu menyatukan (Kisah Rasul 2). Maka gereja bukan klub, gereja bukan yayasan sosial, gereja bukan komunitas satu kelompok tertentu, tetapi gereja adalah fellowship karena Roh yang Kudus mengumpulkan kita bersatu bersama-sama dan inilah komunitas spiritual. Sebagai suatu komunitas spiritual, Yohanes mengingatkan dengan sangat serius obstacle yang satu ini kita harus aware, yaitu antikristus, the evil spirit itu. Kita perlu memiliki kepekaan untuk melihat bahwa di balik segala konflik dalam relasi dan perpecahan di antara orang percaya itu bukan saja akibat persoalan kata-kata seseorang yang mengganggu engkau, bukan persoalan salah paham dan friksi karena berbeda pendapat, tetapi kita juga melihat di belakangnya ada evil spirit bekerja. Itu kepekaan yang kadang-kadang kita perlu perhatikan. Paulus mengingatkan bahwa peperangan kita ‘bukan melawan darah dan daging tetapi melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara’ (Efesus 6:12) yang pasti akan menebarkan ketidak-benaran, yang pasti akan mendatangkan berbagai hal yang memecah-belahkan fellowship itu. Gereja adalah komunitas spiritual, kita perlu menyadari setiap saat Iblis bisa menciptakan penghalang bagi fellowship kita dan kita harus selalu belajar peka bahwa di dalam kehidupan bergereja kita juga pasti akan mendapatkan serangan-serangan dari si Jahat itu.
Apa itu antikristus? Siapakah antikristus itu? Dalam bagian ini ada dua ciri yang Yohanes berikan.
Ciri yang pertama, mereka tidak mau mendengar ajaran yang benar.
Ciri dan sifat dari spirit antikristus itu dikatakan dalam 1 Yohanes 4:6 untuk memanggil kita membedakan roh yang berasal dari Allah yaitu Roh Kebenaran dengan roh yang menyesatkan, “Kami berasal dari Allah. Barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami. Barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya roh kebenaran dan roh yang menyesatkan.”
Pada waktu kita membicarakan mengenai antichrist, umumnya langsung kita bicara mengenai pengajarannya yang keliru dan salah. Tetapi apa sebenarnya arti pengajaran yang keliru dan salah? Di dalam sepanjang sejarah gereja kita menemukan penyimpangan-penyimpangan ajaran dan penyesatan ajaran yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Alkitab. Tetapi lebih dari itu, Yohanes mengangkat satu hal yang lebih dalam lagi yaitu spirit dari antikristus adalah ‘mereka tidak mau mendengarkan kami.’ Dengan kalimat itu tidak berarti rasul Yohanes menganggap dirinya lebih tinggi daripada orang Kristen yang lain, tetapi di situ dia merepresentasikan diri sebagai seorang rasul yang berasal dari Allah, yang memiliki otoritas dari Allah untuk menyampaikan kebenaran Allah. Di dalam kapasitas itu maka orang-orang yang mengenal Allah akan mendengarkan dan menerima apa yang rasul Yohanes ajarkan. Sama seperti Paulus yang mengatakan, “Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia” (1 Korintus 14:37-38). Artinya, apa yang aku katakan ini diberikan dan diwahyukan oleh Yesus Kristus, karena apa yang aku katakan berasal dari otoritas Kristus; jikalau mereka tidak mau mendengarkan aku, jangan dengarkan orang itu. Di sini Paulus tidak menjadikan diri sebagai satu pribadi yang lebih tinggi daripada orang Kristen lain tetapi sebagai seorang yang mempresentasikan dirinya sebagai seorang rasul. Dengan kata lain Paulus mengatakan kalau apa yang diajarkan mereka tidak sesuai dengan apa yang diberikan oleh firman Tuhan, apa yang diajarkan oleh Yesus Kristus, sekalipun orang itu mengaku sebagai nabi atau rasul, jangan dengarkan dia. Berarti kalau kita tarik kepada konteks kita sekarang maka sifat dari antikristus adalah memiliki sifat tidak pernah mau menaklukkan diri di bawah otoritas firman Allah. Sikap itu bisa termasuk juga kepada mereka yang mungkin tetap pegang Alkitab dan tetap bisa mengutip ayat-ayat Alkitab tetapi tidak pernah mau menaati dan menaklukkan diri kepada otoritas Alkitab. Tetapi point yang paling penting bukan saja mengenai apa yang diajarkan tetapi di balik dari semua itu adalah mengajarkan dan menciptakan ketidak-inginan kita menjunjung tinggi menghargai dan menghormati firman Tuhan itu menjadi yang berotoritas di dalam hidup kita. Maka spirit antikristus akan berusaha membuat engkau tidak percaya kepada otoritas firman Tuhan.
Paulus memberi warning ini dalam 1 Timotius 4:1 “Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan, oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.” Keras sekali firman Tuhan memberitahukan kepada kita di balik dari ketidak-taatan kepada otoritas firman Tuhan, mereka ingin menciptakan pengajaran baru yang di balik dari semua itu kita harus tahu itu adalah spiritual warfare atau peperangan rohani. Kita harus senantiasa waspada di dalam pekerjaan dan pelayanan rohani kita mempunyai musuh yang tidak kelihatan yang bisa menyesatkan kita. Maka kita senantiasa harus peka akan hal ini dan senantiasa mempunyai “discernment spirit” seperti itu] membedakannya.
Ciri yang kedua, dalam 1 Yohanes 2:19 “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita…” ayat ini bukan saja bicara mengenai “the church-leavers” yang pergi meninggalkan gereja dan tidak lagi menjadi orang percaya Tuhan tetapi ayat ini bicara mengenai satu ciri sifat dari roh jahat, roh antikristus itu yaitu mereka senantiasa ingin memisahkan diri dari komunitas orang percaya dengan sikap eksklusif. Maka tidak heran kita juga bisa menyaksikan inilah ciri yang umum terjadi pada pengikut ajaran sesat atau sekte, dimana mereka selalu menarik orang keluar dari komunitasnya dan kemudian menjadi satu kumpulan yang sangat eksklusif dan kita pikir seolah-olah kenapa bisa orang itu seperti dicuci otak. Sebetulnya yang dilakukan sekte itu bukan dalam pengajarannya tetapi memang di balik dari fenomena itu adalah the spirit of desolation yang menjadi ciri antichrist.
Ignatius Loyola, seorang pastor Katolik abad 16AD mengatakan “the spirit of antichrist is the spirit of desolation” untuk dikontraskan dengan konsep “the Holy Spirit as the Spirit of consolation.” Roh Kudus adalah Roh Penghibur, rasul Yohanes menyebut Roh Kudus adalah parakletos, Roh yang menguatkan, Roh yang memberikan keteduhan. Roh Kudus tidak pernah mendatangkan despair keputus-asaan. Roh Kudus tidak pernah supress orang dan tidak pernah menciptakan keinginan untuk orang itu bunuh diri. Tetapi the spirit of desolation adalah roh yang menimbulkan kekacauan di dalam hati dan emosi orang kepada loneliness, depression. Itulah sebabnya ciri dari orang yang kerasukan Setan selalu mau tinggal seorang diri di kuburan, dan bukan saja orang itu menyendiri di situ tetapi dia penuh dengan violence dan sifat self-destructive. Dalam surat 2 Tesalonika Paulus tidak memakai istilah roh antikristus tetapi Paulus memakai istilah dia adalah “man of desolation,” atau “man of lawlessness” yang dalam terjemahan Alkitab Indonesia menyebutnya “manusia durhaka” (2 Tesalonika 2:8-9). Memakai kata “durhaka” membuat kita mengasosiasikannya bicara tentang pengajaran. Tetapi kata yang dipakai adalah desolation, destructive, penghancuran, yang membikin orang “supressed” dan “depressed.” The spirit of antichrist memiliki sifat seperti itu yaitu sifat menjauhkan diri dan tidak mau memiliki fellowship.
Jonathan Edward seorang hamba Tuhan Puritan mengatakan waktu Roh Kudus bekerja, Dia akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang melawan kesombongan; Dia akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang memberikan damai sejahtera dalam hatimu; Dia akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang menghapuskan nafsumu yang tidak benar; Dia akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang menghilangkan kebencian dan kemarahan; Dia akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang membuat terjadinya kasih dalam di antara komunitas orang percaya; Dia akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang membawa engkau kembali kepada satu persekutuan yang dalam. Pada waktu hal itu terjadi pasti itu pekerjaan dari Roh Kudus. Tetapi pada waktu hatimu membawa engkau menjadi depresi, penuh dengan loneliness, merasa bahwa dunia itu tidak mengasihi kita, gereja tidak mengasihi kita, orang-orang lain tidak mengasihi kita dan menciptakan chaos di dalam hati kita, itulah pekerjaan dari the spirit of desolation. Memahami bagian ini dengan perspektif ini sangat penting sekali karena dengan demikian kita bisa menemukan koneksi antara konsep a true fellowship dengan mengapa rasul Yohanes bicara mengenai antikristus.
Fenomena yang menyedihkan setiap minggu lebih dari 1000 hamba Tuhan meninggalkan pelayanan dari gereja dan berhenti dari pelayanan. Kenapa bisa seperti itu? Kita mungkin pikir pekerjaan menjadi dokter ER atau nurse menjadi pekerjaan yang paling stressful, dan kita mengira pekerjaan sebagai pastor lebih enak karena melayani Tuhan, banyak kesempatan berdoa dan merenungkan firman Tuhan. Tetapi fakta sangat menyedihkan begitu banyak dari mereka meninggalkan pelayanan. Kenapa? Dari situ kita tahu ada banyak environment dari ministry tidak seindah daripada yang mungkin orang pikirkan dan bayangkan. Bukan karena pelayanan itu berat, bukan karena pelayanan itu susah dalam arti menyampaikan firman dan mengajar, tetapi mungkin karena ada sesuatu yang tidak tertata dengan benar, ada sesuatu yang tidak tertata dengan beres di dalam hati mereka yang melayani. Jikalau seorang hamba Tuhan melayani dengan sense of pride dan ingin mendapatkan acceptance; jikalau seorang hamba Tuhan melayani dengan craving untuk kesuksesan, craving untuk sesuatu pencapaian achievement, itu adalah sesuatu yang cepat atau lambat bisa menciptakan burn out dan kekecewaan yang dalam. Kadang-kadang saya harus mengakui seringkali dalam melayani Tuhan saya penuh dengan anxiety di dalamnya. Anxiety yang muncul dengan keinginan untuk melayani sebaik-baiknya tetapi selalu takut dan kuatir tidak mendapatkan acceptance yang baik dari orang. Lebih-lebih lagi jikalau orang itu tidak melihat pekerjaan pelayanan bagi Tuhan sebagai sesuatu keindahan sacrifice bagi kita, anxiety itu akan muncul terus-menerus. Anxiety itu akan membuat kita hamba-hamba Tuhan yang melayani menjadi lonely, menarik diri dan akhirnya menciptakan begitu banyak hal ketidak-nyamanan dan kehilangan peace damai sejahtera dalam hati kita. Tidak habis-habisnya kita terganggu untuk hal-hal yang sebenarnya sepele, kita tuntut orang untuk menghargai kita dan pada waktu kita tidak mendapatkan hal itu hati kita terganggu. Tidak ada lagi peace, tidak ada lagi damai dan fellowship di situ, dan jika kita tidak aware di situlah kita menemukan bagaimana the spirit of desolation itu menguasai hati setiap kita. Kita tidak lagi mempunyai keinginan untuk memperbaiki relasi dengan saudara seiman, dengan suami atau isteri atau anak-anak kita, kita enggan untuk membangun satu relasi yang baik satu dengan yang lain di dalam jemaat, kita enggan untuk reach out kepada teman-teman kita yang dulu yang belum percaya Tuhan, kita menutup diri terhadap bekas rekan bisnis yang mengecewakan kita karena kita tidak melihat semua obstacles ini menjadi penghambat bagi true fellowhips. Kita perlu menata kembali hati kita dengan pekerjaan Roh Kudus yang memberikan sukacita, damai sejahtera, penuh belas kasihan, saling mengasihi dan mengampuni dan pengharapan yang indah dalam hati kita. Saya rindu firman Tuhan ini mengangkat lagi hati kita sama-sama di hadapan Tuhan. Let the Spirit of Jesus Christ brings joy to our heart di dalam satu fellowship yang indah membawa kehadiran Tuhan itu nyata di dalam hati kita masing-masing. Biar hati kita penuh dengan thanksgiving, penuh dengan pujian kepada Tuhan. Berhentilah sejenak dari segala kesibukan dan pelayanan kita untuk merefleksi kembali lagi apa yang Tuhan sudah kerjakan di dalam hidup kita dan kiranya hal itu akan membawa hati kita penuh dengan sukacita kita boleh memuji dan menikmati Tuhan di dalam hidup kita. Kiranya firman Tuhan pada hari ini juga berkarya seperti itu dalam hidup setiap kita masing-masing. Jikalau ada suara yang ingin menarik engkau keluar dari persekutuan dengan Tuhan, suara yang membuat engkau depresi, tidak lagi sanggup berdoa, suara yang membuat engkau menjadi sinis kepada setiap pekerjaan Tuhan, suara yang membuat engkau melihat dengan perspektif yang keliru kepada suami, isteri, gereja, dan kepada orang-orang lain, suara yang menuntutmu selalu mencari kebanggaan, kesuksesan bagi dirimu sendiri, suara yang menekanmu supaya engkau menjadi kecewa, putus asa dan marah, sadari dan ketahuilah, itu semua adalah pekerjaan dari si Jahat yang memang ingin menarik engkau keluar dari fellowship dengan Tuhan. Biar Roh yang Kudus hari ini mengingatkan engkau, engkau adalah milik Tuhan selama-lamanya. Roh itu memberikan penghiburan kepadamu di dalam segala kekuranganmu Tuhan senantiasa mengasihi engkau. Roh yang membawa engkau berada dalam persekutuan yang indah di dalam Tuhan satu dengan yang lain. Biar indahnya dan manisnya Kristus itu memenuhi hati engkau dan saya pada hari ini.
Kiranya Bapa yang baik membawa kita ke dalam persekutuan yang indah dan mendalam bersama Tuhan kita Yesus Kristus. Persekutuan itu adalah persekutuan yang kekal adanya, satu dengan yang lain di dalam Tuhan kita akan memuji dan memuliakan Allah kita, kita mengasihi dan menikmati Tuhan bersama-sama. Kiranya Tuhan memberkati setiap kita dengan indah dan menyembuhkan kehidupan keluarga kita dan persekutuan kita masing-masing di dalam komunitas gereja Tuhan. Kiranya Tuhan memberikan keindahan di dalam hidup kita melihat bagaimana Tuhan itu berkarya begitu indah di dalam hati setiap kita. Biar ada kasih mesra, ada penghiburan roh, sukacita dan damai sejahtera yang mendalam di dalam hati setiap kita karena Roh Penghibur itu berdiam di dalam hati setiap kita.(kz)