03. Why Is It Hard to Confess?

Seri Eksposisi Surat 1 Yohanes (03)
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Why Is It Hard to Confess?
Nats: 1 Yohanes 1:6 – 2:6
 

Surat ini dimulai dengan kalimat yang indah ‘what is the true fellowship’ apa itu persekutuan yang sejati, yang otentik? Persekutuan itu adalah persekutuan kita dengan Allah Bapa dan persekutuan kita dengan Yesus Kristus. Yohanes mengatakan di awal suratnya, ‘aku bukan mengetahui tentang Yesus Kristus, aku melihat Dia dengan mataku sendiri, aku mendengar suaraNya, aku menyentuh Dia, aku mengikuti contoh dari hidupNya dan mengalami persekutuan dengan Dia. Dan aku ingin engkau pun memperoleh persekutuan itu sehingga penuhlah sukacita kita’ (1 Yohanes 1:1-4). Persekutuan itu adalah persekutuan yang begitu indah, persekutuan itu membuat kita joyful penuh dengan sukacita.Namun mengapa banyak orang Kristen tidak mengalami pesekutuan yang membuat hidupnya begitu indah dan penuh dengan kelimpahan sukacita?Kenapa kita tidak menikmati indahnya bersekutu dengan Dia?Ada beberapa aspek yang menjadi penghalang persekutuan kita dengan Allah menjadi persekutuan yang tidak otentik. Yohanes berkata, “Jika kita katakan bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup dalam kegelapan…” (1 Yohanes 1:6). Pertama, kita tidak mengalami keindahan dan kelimpahan sukacita relasi dengan Allah karena ada gap antara apa yang kita katakan dengan apa yang kita jalankan. Meskipun kita menyatakan kita sudah ada di dalam terang itu; meskipun kita mengaku beriman kepada Allah di dalam Kristus yang adalah terang itu, namun kita bisa tidak hidup di dalam terang itu dan kita terus hidup di dalam kegelapan.Di mulut kita berkata kita memiliki persekutuan dengan Dia, namun dalam hidup sehari-hari kita tetap hidup seperti orang-orang yang tidak percaya Tuhan. Di mulut kita berkata kita anak-anak Tuhan, namun dalam hidup sehari-hari cara kita berkata, bertindak dan menjalani hidup tidak berbeda dengan sebelum kita menjadi anak-anak Tuhan.

Kedua, ayat ini memperlihatkan fakta orang Kristen bisa melakukan “self-deception” menipu dan membohongi diri sendiri.Kita tidak mengalami keindahan dan kelimpahan sukacita relasi dengan Allah selama relasi itu hanya didasarkan kepada self-centeredness kita yang berusaha menata sisi eksternal tanpa pernah membuka Tuhan membenahi hati kita sedalam-dalamnya. Ketika firman Tuhan menerangi hati kita, kita harus rela mengaku di hadapan Tuhan apa yang selama ini kita sembunyikan dari Tuhan, apa yang selama ini tidak pernah kita buka di hadapan Tuhan, apa yang kita selama ini kita simpan sebagai borok yang membusuk dan virus yang begitu merusak rohani kita, kita minta Tuhan menyembuhkan kita. Biar kita tidak terus menipu diri seolah-olah hidup kita beres, biar kita tidak terus hanya menata apa yang di luar tetapi merelakan Tuhan membersihkan yang di dalam hati kita, menerangi dan membukakan semua dengan terang firmanNya.

Hari ini firman Tuhan bicara mengenai aspek ketiga yang membuat orang Kristen kehilangan keindahan dan kelimpahan sukacita relasi dengan Allah yaitu keengganan untuk mengaku dosa.Salah satu aspek disiplin rohani yang kerap kita lupakan yaitu memahami makna pengakuan dosa, understanding about confession.Apa sesungguhnya makna pengakuan dosa itu? Pengakuan dosa bukan sekedar suatu tata cara atau aturan agama; pengakuan dosa bukan sekedar satu liturgi dan aktifitas dalam ibadah setiap minggu di gereja. Aspek confession itu penting sebab confession itu senantiasa mengingatkan kita bahwa kita adalah penerima anugerah Allah, kita boleh datang kepada Tuhan sebagai anak-anak Tuhan kita tahu pintu masuk kita adalah confession itu; kita menangisi dosa-dosa kita, kita mengakui segala dosa dan kekotoran hati kita kepadaNya. Kita mengaku kita orang berdosa dan membutuhkan pengampunan Tuhan.Yohanes berkata, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:9).Akan tetapi problemnya adalah mengapa manusia begitu sulit dan begitu enggan mengakui dosa-dosanya? Yohanes berkali-kali mengatakan kalimat ini, “Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa; jika kita berkata bahwa kita tidak ada berbuat dosa…” (1 Yohanes 1:6,8,10) menunjukkan adanya keengganan dan sikap yang tidak genuine untuk mengakui dosa dan meminta ampun kepada Tuhan. Itulah sebabnya ayat ini muncul sekaligus menjadi warning yang mengingatkan kita, jika kita tidak mau mengakui dosa kita, kita adalah pembohong dan pendusta.Confession itu tidak menjadi sesuatu yang menggugah kedalaman hati kita dengan Tuhan lagi.Dan itulah yang menghambat keindahan dan sukacita fellowship kita dengan Tuhan karena fellowship itu tidak lagi otentik. Kita tidak akan pernah bisa meresapi apa artinya pengampunan yang bebas dan belajar untuk memberikan kasih yang tanpa syarat kepada orang lain sebelum kita sendiri meresapi dan dipenuhi dengan God’s unconditional love itu.

Dan di sisi yang lain, pada waktu kita sudah menerima anugerah dan kita berada di dalam anugerah itu, anehnya kita menjadi orang yang jarang meminta pengampunan dan kita menjadi orang yang jarang mengampuni orang. Kita jadikan anugerah itu sebagai aturan; kita jadikan anugerah itu sebagai tuntutan harga yang harus dibayar orang, kita tidak rela memberikan pengampunan kepada orang. Kita mau menerima kasih karunia dari Allah dengan tanpa perlu kita usaha dan bayar, tetapi sesudah kita ada di dalam kasih karunia itu kita menuntut orang yang bersalah kepada kita untuk melakukan segala sesuatu untuk membuat kita berbelas kasihan dan mengampuni dia. Kita datang kepada Tuhan mengaku segala dosa kita tetapi setelah kita ada di dalam anugerahNya kita menjadi “orang Farisi” yang legalistik dan menciptakan aturan sendiri. Kenapa kita tidak mengalami pengampunan Tuhan? Kita datang berbakti tiap minggu, kita menghampiri Tuhan dalam doa pagi, kita melakukan aktifitas-aktifitas rohani persis sama dengan orang Farisi; the more we do, the more they hardened our heart. The more we do, the more we reject God and have a distance with Him. The more we live in God’s grace, the more we live in the love of God, the more we live in the fellowship with God, we become the outsiders. Itulah gambaran yang diwakili oleh “anak sulung yang hilang di rumah bapanya.”Di dalam rumah yang penuh dengan berkat itu dia bersungut-sungut dan kehilangan sukacita ketika bapa menerima anak bungsu kembali (Lukas 15:11-32).

Yesus memberikan kita banyak perumpamaan untuk mengingatkan betapa seringkali kita menjadikan grace of God menjadi hukum Taurat dan legalisme. Dalam Matius 20:1-15 Yesus memberi perumpamaan mengenai orang yang tidak punya pekerjaan, yang dari sejak pagi hanya menantikan belas kasihan untuk bisa bekerja di ladang orang, sehingga bisa mendapat upah 1 dinar untuk mencukupi kebutuhan isteri dan anak-anaknya sehari itu. Tetapi apa yang terjadi? Dia mau hanya dia yang mendapat kasih karunia, dan dia marah ketika orang lain juga mendapatkan hal yang sama padahal dia kerja lebih panjang dari orang itu. Tuan itu berkata, “Aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau.Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?Ambillah bagianmu dan pergilah.Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?Iri hatikah engkau karena aku murah hati?”Anugerah itu adalah sepenuhnya milik dan hak Tuhan, Tuhan mau beri kepadamu, Tuhan mau beri kepadaku, Tuhan mau beri kepada dia, itu haknya Tuhan. It is not about you.

Dalam Matius 18:23-35 Yesus juga memberikan perumpamaan mengenai seorang yang berhutang 10,000 talenta kepada raja. Raja itu jatuh belas kasihan karena orang ini tidak mampu membayar hutangnya. Namun ia sangat marah ketika hamba itu tidak mau mengampuni temannya yang berhutang 100 dinar kepadanya. Kenapa raja itu marah?Karena orang ini hanya mau menerima anugerah tetapi dia tidak mau bermurah hati kepada temannya.

Seringkali relasi dan fellowship kita satu dengan yang lain, hubungan dengan suami dan isteri, hubungan dengan anak, hubungan dengan teman sahabat, juga seperti itu. Sebagai orang tua kadang-kadang kita menuntut dengan standar dan ekspektasi yang terlalu tinggi tanpa mencintai anak kita apa adanya. Kita menghukum dan mengasihi sebagai reward.Kita menaruh ekspektasi dan tuntutan diri sebagai orang tua sampai anak itu memuaskan dan menyenangkan kita barulah kita umbar kasih kepadanya. Mereka tetap anak kita entahkah mereka mencapai prestasi atau tidak, kita mengasihi mereka dan memberikan kasih sayang dan pelukan penerimaan tanpa menetapkan syarat dan kondisi apa pun. Sayang sekali banyak orang tua baru memberikan pujian dan ekspresi kebanggaan jikalau anak itu melakukan sesuatu atau memenuhi satu requirement tertentu. Tetapi lebih sering tangan kita menolak dia “You are naughty! You are naughty!” ketimbang tangan kita terbuka merangkulnya. Padahal, tangan Allah tidak pernah menolak kita, tangan Allah senantiasa embrace merangkul kita. Kita baru memberikan kasih dan kebaikan kepada orang ketika orang itu memenuhi kualifikasi dan tuntutan kita.Demikian juga dengan anugerah, kita tahu kita mendapatkannya dari Tuhan dengan cuma-cuma.Tetapi setelah kita mendapatkan kasih karunia itu, kita kemudian menjadikan grace itu menjadi “tough.” Kita menuntut orang itu sampai memenuhi kualifikasi standar kita barulah kita rela memberikan grace itu kepadanya. Kita membangun tanggul dari “banjir-“nya grace Allah lalu kita mengeluarkan grace itu sedikit demi sedikit.Itulah yang terjadi dengan hidup kita.

Maka ketika kita mengerti akan God’s unconditional love itu seharusnya kita bisa menyatakan kasih yang penuh kemurahan itu kepada orang lain, tetapi hal itu tidak terjadi. “Oh, Tuhan, pergilah daripadaku orang yang berdosa ini,” demikian kata Petrus waktu bertemu dengan Yesus yang [indah ini] (Lukas 5:8).Tetapi sesudah tiga tahun ikut Tuhan, Petrus bertanya, “Tuhan, berapa kali aku harus mengampuni saudara yang bersalah kepadaku?Tujuh kali?” (Matius 18:21). Kita dengan arrogant bertanya, sampai berapa kali aku harus mengampuni dia?Berapa banyak aku berkorban buat Tuhan?Padahal Tuhan tidak pernah bertanya seperti itu kepada kita, bukan? Petrus lupa, dan kita juga lupa dan tidak pernah menghitung-hitung sudah berapa kali Tuhan mengampuni kita, tetapi kenapa waktu ada orang yang datang minta maaf kepadamu engkau perlu memberi aturan kepadanya sampai berapa kali kita maafkan sesudah itu tidak ada lagi pengampunan baginya, padahal Allah kita tidak pernah hitung-hitungan dalam memberikan pengampunanNya? Berapa kali aku harus memaafkan?Tidakkah dia lihat betapa dalam dia sudah melukai hatiku?Berapa banyak aku harus berkorban?

Pada waktu Tuhan Yesus mengajarkan “Doa Bapa Kami,” Ia bukan mengajarkan suatu tata cara liturgi ibadah. Dalam doa itu kita berkata, “Ampunilah kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Setiap hari kita bangun pagi menaikkan doa permohonan agar Tuhan memberkati kita menjalani hari yang baru. Kita bersihkan hati kita dengan firman Tuhan, kita bersihkan hidup kita dengan pujian dan syukur. Tetapi mulai dari masuk mobil atau bus, sampai tiba di tempat kerja, lalu sepanjang hari kita kerja sampai kembali ke rumah, harus kita akui kita memungut begitu banyak ‘dirt,’ debu dan sampah. Kita tumpuk itu sampai di rumah, sudah berat dengan sampah, kita taruh sampah itu kepada anak dan isteri kita dengan marah-marah.Malam hari kita enggan untuk mengakui dosa-dosa kita kepada Tuhan.Karena kita hidup di dalam dunia yang berdosa, kita pungut sampah itu, sampah relasi yang membuat hati kita pahit, marah, benci, iri, penuh dengan judgmental, terus seperti itu. Maka apa yang terjadi? Hati kita akhirnya “mampet” tersumbat dengan berbagai sampah yang tidak sehat.Hidup rohani kita bukan kurang anugerah Tuhan, hidup rohani kita bukan tidak pernah menikmati siraman kasih Tuhan yang limpah. Perjalanan hidup kita ikut Tuhan tidak pernah menjadi indah sebab kita tidak melakukan tugas kita yang paling penting: membersihkan saluran itu. Itulah yang kita lakukan ketika kita mengakui dengan rendah hati dan penyesalan yang sungguh akan dosa-dosa dan kesalahan kita di hadapan Tuhan. Jika kita mengaku akan dosa-dosa kita, itu akan sungguh membuat relasi kita dengan Allah dan relasi kita dengan orang lain menjadi indah, limpah dan manis adanya. Tidak ada jalan lain. Ibrani 12:1 mengatakan, “Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita…” Di dalam perjalanan hidup kita terlalu banyak sampah, bangkai yang busuk, akar yang pahit, segala macam hal yang tidak menyenangkan terus kita bawa begitu memberatkan hidup kita dan membuat kita kehilangan sukacita dan kelimpahan kasih Tuhan yang indah itu. Selama kita tidak pernah buang, semua itu akan menyesakkan hidup rohani kita. Mari kita angkat dan buang semua itu jauh-jauh.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah Allah yang setia dan adil” (1 Yohanes 1:9).Barangsiapa mengaku dosa-dosanya, Allah itu setia dan adil.Kenapa Yohanes menyebutkan dua sifat Allah ini secara spesifik?Kenapa yang disebutkan bukan sifat Allah yang pemurah atau yang penuh rahmat pengampunan, misalnya? Pertama, sifat kesetiaan Allah di sini menunjukkan Ia adalah Allah yang setia dengan janjiNya, He is a promise keeper. Forgiveness terjadi bukan karena sifat kebaikan Tuhan belaka, tetapi yang paling penting adalah Ia setia kepada apa yang telah dijanjikanNya. Allah berjanji hari ini kita mengaku dosa dan kesalahan kita kepadaNya dan memohon pengampunanNya, hari ini juga Ia mengampuni dan menghapus dosamu; Ia tidak mengingat-ingat kesalahanmu dan tidak menjadikannya sebagai judgement untuk menuduh dan membuatmu terbenam di dalam rasa bersalah setiap kali menghampiriNya. Kenapa kita takut membuka diri kepada orang lain? Karena kita tahu manusia, siapapun dia, secara naturnya adalah “unfaithful” kita cenderung tidak menepati apa yang kita katakan. Maka kita takut jika kita menaruh rahasia kita kepada seseorang meskipun dengan pesan, ‘jangan kasih tahu orang lain ya’ suatu saat dia akan menyebarkan rahasia itu kepada orang lain. Kedua, sifat Allah yang adil menyatakan bahwa “kata terakhir” ada di tangan Allah.Apa pun yang kita alami, ketidak-adilan yang engkau dapatkan dalam hidup, jangan membuat hati kita takut dan kuatir karena the last answer and the right answer di tangan keadilan Allah. Puji Tuhan! Dengan demikian pengakuan dosa kita kepada Tuhan berbeda dengan kita sharing dan mengaku kepada orang lain, karena setelah kita mengakui kelemahan dan kesalahan kita kepada orang lain, bisa jadi setiap kali orang itu melihat kepada kita dengan mata yang judgemental, mata yang seolah-olah jijik, sehingga kita tidak berani mendekat lagi dan mengaku dengan seperti itu.

Confession itu memerlukan sikap hati yang rela melakukan self-examination dengan jujur di bawah terang Tuhan. Selama kita hanya sampai yang bagian eksternal kita bisa mengatakan, “I’m ok. I’m a good person. Saya hormat kepada orang tua, saya tidak membunuh, saya tidak berjinah, saya tidak mencuri, saya tidak berdusta dan menginginkan milik orang lain.” Tetapi waktu x-ray sinar terang Tuhan itu menembus hati kita, kita tahu di situ ada hal-hal tersembunyi yang tidak dilihat orang luar: kepahitan, kebencian, kemarahan, iri hati, dengki, keinginan untuk mencelakakan orang, keinginan untuk melihat orang ditimpa bencana dan kemalangan. Semua itu Tuhan bukakan dan keluarkan satu-persatu dari hati kita.Hidup kita tidak bisa memiliki wonderful fellowship dengan Tuhan kalau kita tidak mempunyai confession dengan sincere di hadapan Tuhan. Setiap hari kita perlu datang kepada Tuhan dan tidak lagi menyimpan hal-hal yang menghalangi dan merintangi kita di hadapanNya, dan fellowship itu akan membebaskan kita. Mazmur 139:23-24 merupakan doa dari raja Daud, “Selidikilah aku ya Allah dan kenallah hatiku. Ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.Lihatlah apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal.” Search me o God, and know my heart. Test me, and know my inner thought. Cahaya Tuhan itu terang luar biasa, lebih daripada x-ray dan terang itu adalah terang yang tidak menghakimi, terang yang membebaskan kita. Itulah sebabnya setelah Dia menerangi kita dengan sinar terangNya, Dia menunjukkan kepada kita ada kanker yang ganas, ada tumor di dalam hatimu, ada kista di dalam dirimu, ada luka di dalam hatimu, ada awan gelap di atas kepalamu yang harus Kubuang dan Kubersihkan. Tidak usah takut karena engkau punya Yesus Kristus, juruselamat dan jalan pendamaian, tabib dan dokter ajaib yang akan menyembuhkan engkau. Kita datang kepada Yesus karena Ia adalah Pengantara yang agung, tempat kita mengaku dan mendapat pengampunan Ia adalah jalan pendamaian yang sanggup mengampuni dosa-dosamu; dan tidak berhenti sampai di situ, firman Tuhan menambahkan “bahkan Ia sanggup mengampuni dosa seluruh dunia ini” (1 Yohanes 2:1-2). Itulah Yesus Kristus, Tuhan kita.

Confession of sin bukan untuk mempermalukan kita dan bukan untuk menghakimi kita.Tetapi confession of sin mengingatkan kita, kita tidak boleh terus menumpuk dosa dan kesalahan itu.Kita ambil moment waktu untuk self-examination, lihat ke dalam hati kita sedalam-dalamnya. Banyak kali kita tidak berani mengaku dan minta ampun kepada Tuhan karena kita tahu hal itu terlalu sulit dan terlalu susah untuk kita lepaskan dari hidup kita. Tetapi mengapa engkau menumpukkan bangkai-bangkai dosa yang begitu busuk di dalam hatimu, mengapa engkau menyimpan akar pahit dalam hidupmu, mengapa engkau terus membiarkan kerasnya batu dari kedegilan hatimu?Hari ini biar firman Tuhan menyembuhkan kita.Kita tidak mempersalahkan Tuhan, kita tidak menghakimi orang, kita tidak mempersalahkan diri. Hari ini kita datang sama-sama dan mengatakan kepada Tuhan akan segala dosa kita dan minta ampun kepada Tuhan. ‘Saya adalah orang yang penuh dengan kemarahan.Hati saya tidak senang dengan kejayaan orang.Saya tidak sanggup mengasihi suami atau isteri saya karena saya terluka.’Mari dengan rendah hati kita datang di hadapan Tuhan mengaku segala dosa dan kesalahan kita yang selama ini tersembunyi dalam hati kita; yang selama ini telah menghilangkan sukacita dan damai sejahtera dari hati kita.Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Kita mungkin sanggup bisa menyembunyikan hal itu dari orang lain tetapi kita tidak mungkin menyembunyikannya dari terang Tuhan yang begitu indah. Jangan biarkan semua itu menjadi kebiasaan yang merusak hidupmu; jangan jadikan akar pahit itu merusak saluran anugerah Tuhan dalam hatimu; jangan jadikan bangkai dosa itu merusak keindahan hidup rumah tanggamu. Kita bersyukur kita memiliki Juruselamat Kristus Tuhan yang berkuasa karena Ia sudah menang atas dosa dan maut. Kiranya Tuhan menyembuhkan dan membersihkan setiap kita.(kz)