02. Walk in the Light

Seri Eksposisi Surat 1 Yohanes (02)
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Walk in the Light
Nats: 1 Yohanes 1:1-10

 

Pernahkah setiap kita berpikir dalam-dalam, apa sebenarnya yang menjadi purpose atau tujuan dari hidup kita? Didalam kita menjalani hidup di dalam kerutinan, di dalam kita mengerjakan semua aktifitas sehari-hari, pernahkah kita berhenti sejenak dari semua itu dan mencoba mencari jawab atas pertanyaan ini?

St. Augustine di abad 4AD dalam bukunya yang berjudul Confessions mengeluarkan kalimat yang sangat terkenal ini, “You have made us for Yourself, o Lord, and our hearts are restless until they rest in You.” Engkau telah menciptakan kami bagi diriMu sendiri, ya Allah. Dan jiwa kami tidak akan pernah tenang selama jiwa ini belum kembali kepadaMu. Ini bukan hanya menjadi pergumulan pribadinya tetapi sesungguhnya merupakan purpose tujuan hidup setiap kita sebagai manusia yang dicipta Allah. Sebelum menyatakan kalimat ini, Agustinus menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini sesungguhnya mempunyai “berat”-nya sendiri dan dia akan mencari keseimbangan dan baru akan tenang kalau dia sudah berada pada posisi daripada beratnya. Kita mungkin bisa lebih mengerti kalimat ini dengan ilustrasi seperti ini, bayangkan kita ada di dalam kolam dan ada sebuah bola di tangan kita. Lalu kita coba tekan bola itu untuk masuk ke dalam air, apa yang akan terjadi? Semakin besar tekanan kita kepada bola itu, dia juga akan mendorong balik dan berusaha untuk berada di atas permukaan air. Bola itu tidak akan pernah “rest” sekuat-kuatnya kita berusaha menenggelamkan dia; bola itu baru akan tenang ketika kita biarkan dia mengapung di atas permukaan air, karena memang di situlah tempatnya. Demikian juga halnya dengan api. Api selalu akan naik ke atas. Maka tidak pernah boleh kita menaruh api di bawah meja karena dia akan menjilat dan membakar apa saja yang ada di atasnya. Demikian juga halnya dengan batu, seberapa pun usaha kita untuk membuat dia mengapung di udara, dia akan terus jatuh ke bawah karena memang di situ tempatnya. Dari situ baru kita lebih mengerti ketika selanjutnya dia mengatakan, jiwa kita baru mendapat ketenangan ketika dia berapa pada tempatnya.Pernahkah engkau merasa hatimu begitu gelisah?Pernahkah engkau merasa jiwamu tidak tenang dan terus bergolak?Tuhan menciptakan jiwa kita dengan “berat” dan posisi tersendiri dan jiwa itu baru memiliki ketenangan itu pada waktu dia berada di dalam posisi yang seharusnya. Jiwa itu tidak akan pernah tenang di dalam kelimpahan materi; jiwa itu tidak akan pernah tenang di dalam kemewahan; jiwa itu tidak akan tenang di dalam segala kenikmatan duniawi. Dia baru akan tenang dan rest pada waktu dia berjumpa dengan PenciptaNya dan berada di dalam relasi dengan Allahnya. Dalam 1 Yohanes 1:3 rasul Yohanes mengatakan, “Persekutuan kita adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus.”

Sebelum dosa masuk ke dalam dunia, manusia pertama yaitu Adam pernah mempunyai persekutuan yang begitu erat dan begitu intim dengan Tuhan Allah di dalam taman Eden. Kita sulit membayangkan dan sulit memahami intimnya persekutuan antara manusia itu dengan Allah, Alkitab menyatakannya seperti ini, “…ketika mereka mendengar bunyi langkah Tuhan Allah yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk” (Kejadian 3:8).Itu adalah satu fellowship yang menggambarkan Tuhan itu seperti sahabat dan teman yang jalan sama-sama.Bagaimana bisa Adam mengenali langkah kaki Tuhan?Karena Adam sangat familiar dengan langkah kaki itu.Namun setelah jatuh ke dalam dosa, Adam mengenali langkah kaki Tuhan Allah dan itu membuatnya takut dan segera bersembunyi.Waktu Tuhan Allah mencari Adam, Adam membelakangiNya dan menyembunyikan wajahnya dari Tuhan.Padahal itu adalah suatu usaha yang sia-sia karena jelas di sekitar mulut Adam masih tersisa bekas-bekas getah dari buah pohon pengetahuan yang dia makan itu “belepotan” di pinggirnya.Adam tidak bisa berdusta dan menyembunyikan perbuatannya karena jelas masih kelihatan bekas-bekasnya.Satu-satunya yang menghalangi persekutuan kita dekat dan intim dengan Tuhan cuma satu yaitu dosa kita.Bukan Tuhan tidak mau bersekutu dengan kita; dosa itu yang menjadi penghalang our fellowship with God.Tidak ada lagi persekutuan yang intim setelah itu. Namun pada waktu Anak Allah Yesus Kristus datang inkarnasi ke dalam dunia, di situ Ia rindu memiliki persekutuan dengan kita dan persekutuan itu tidak dipisahkan dengan jarak, kali ini persekutuan itu datang dalam bentuk darah dan daging sama seperti kita, Ia di dalam kemanusiaan mau bersekutu dengan kita. Itulah arti dari inkarnasi.Senyum Yesus membuat hatimu teduh. Cinta dan perhatianNya membuat orang yang terbuang mengalami apa artinya dikasihi dan diterima apa adanya. Dia tidak segan-segan menyentuh tangan orang kusta yang najis dan menyembuhkannya.Kepada anak muda yang arrogant yang akhirnya menolak Dia, Yesus melihatnya dengan simpati dan belas kasihan.

Firman Tuhan dituliskan bukan untuk orang di luar gereja, firman Tuhan ini dituliskan untuk orang yang di dalam gereja, orang yang mengaku percaya kepada Yesus.Di dalam anugerah keselamatan dan hidup baru di dalam Kristus, relasi kita dengan Allah dijadikan baru.Kita memperoleh persekutuan yang otentik dengan Bapa, kita memperoleh persekutuan yang otentik dengan Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus.Fellowship itu bukan abstrak.Rasul Yohanes mengatakan Dia pernah aku pegang dengan tanganku; suaraNya pernah aku dengar; keberadaanNya pernah aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, fellowship bersama Yesus Kristus yang begitu wonderful.Dan dia rindu setiap kita juga mengalami persekutuan yang seperti itu.Satu sukacita yang penuh, komplit, indah dan dalam adanya (1 Yohanes 1:1-4).

Namun selanjutnya Yohanes memberikan satu warning yang serius.Meskipun kita berada di dalam mangkuk anugerah Tuhan, kita mempunyai jalan masuk menghampiri Tuhan, berdoa dan beribadah kepadaNya, tidak tentu kita bisa mengalami persekutuan yang intim dan otentik dengan Allah. Kita mau bersekutu dengan Allah, Allah itu seperti apa? Allah itu siapa?Maka Yohanes mengeluarkan kalimat ini, “Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan” (1 Yohanes 1:5). Kata yang dipakai dalam bahasa Yunani begitu kontras “double negative” God is light, there is no darkness in Him, none! Bukan saja Allah adalah terang, tetapi sama sekali tidak ada kegelapan padaNya, tidak ada satu titik hitam padaNya. Allah adalah terang, padaNya tidak ada bayang-bayang dan noda setitik pun.PadaNya tidak ada kesalahan, kekotoran, kebengkokan.PadaNya tidak ada tipuan, kebohongan dan penyesatan.Itulah natur Tuhan kita.Persekutuan dengan Allah Bapa dan persekutuan dengan Yesus Kristus adalah suatu persekutuan yang membawa kita hidup di dalam terang, di dalam kebenaran, kasih dan kekudusan. Persekutuan itu akan senantiasa membuka mata kita untuk melihat noda dosa kita dibersihkan olehNya; jalan kita yang serong dan bengkok diluruskan olehNya; dan memampukan kita menjalani hidup taat kepada firmanNya. Persekutuan itu membawa keindahan dan sukacita yang tidak habis-habisnya mengalir dalam hidup kita.

Namun selanjutnya muncul peringatan dari rasul Yohanes, “Jika kita katakan bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran” (1 Yohanes 1:6).Mengapa Yohanes mengeluarkan warning seperti ini? Bukankah setelah engkau dan saya percaya Yesus, firman Tuhan berkata engkau dan saya telah berpindah dari maut kepada hidup, engkau telah berpindah dari gelap kepada terang, engkau telah berpindah dari kebinasaan kepada keselamatan, engkau telah berpindah dari hukuman Allah kepada kasih Allah? Tetapi kalimat rasul Yohanes ini mengungkapkan fakta yang berbeda.Ada sesuatu yang salah dan tidak konsisten di sini.Meskipun kita menyatakan kita sudah ada di dalam terang itu; meskipun kita mengaku beriman kepada Allah di dalam Kristus yang adalah terang itu, namun kita bisa tidak hidup di dalam terang itu dan kita terus hidup di dalam kegelapan.Mengapa bisa terjadi seperti ini?Firman Tuhan mengingatkan kita menjadi satu warning serius, tidak semua orang yang mengaku diri orang Kristen dan orang percaya Tuhan dia adalah sungguh-sungguh orang percaya.

Nanti selanjutnya di dalam surat 1 Yohanes ini kita menemukan di tengah-tengah komunitas orang percaya itu ada pengajar-pengajar sesat yang sedang masuk dan merusak gereja Tuhan bagaikan serigala berbulu domba. Dari eksternal mereka tidak berbeda dengan orang Kristen yang lain. Sehari-harinya mereka berkata-kata dalam bahasa rohani, mereka fasih berdoa, mereka pandai mengutip ayat-ayat firman Tuhan, namun Yohanes mengingatkan tanda-tanda eksternal itu jangan sampai menipu kita. Meskipun mereka belong to the community of light, they still live in darkness. Biar pun sehari-harinya memakai bahasa yang rohani, sehari-harinya bisa melakukan aktifitas-aktifitas yang bersifat rohani sekali pun, tetapi hanya menjual dan memperalat nama Tuhan bagi kepentingan dan nafsu diri semata-mata. Itulah serigala-serigala yang berbulu domba, itulah ajaran-ajaran yang diajarkan tetapi tidak pernah merubah hidup orang itu.Namun Yohanes bukan hanya menujukan ayat ini kepada pengajar-pengajar sesat, orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh sekali pun perlu selalu diingatkan, kita juga bisa berada dalam kondisi seperti itu.Di mulut kita berkata kita memiliki persekutuan dengan Dia, namun dalam hidup sehari-hari kita tetap hidup seperti orang-orang yang tidak percaya Tuhan. Di mulut kita berkata kita anak-anak Tuhan, namun dalam hidup sehari-hari cara kita berkata, bertindak dan menjalani hidup tidak berbeda dengan sebelum kita menjadi anak-anak Tuhan.

Di dalam bahasa Indonesia ada beberapa permainan kata. Ada kata “kurang paham,” bisa terjadi ketika seseorang mendapatkan informasi yang kurang lengkap sehingga pengertian orang itu masih belum sampai ke sana. Apa sebetulnya yang diperlukan oleh orang yang kurang paham? Orang itu perlu penjelasan; orang itu perlu diberi pengertian; orang itu kita beri penambahan informasi dan kebenaran yang lebih lengkap, sehingga akhirnya orang yang tadinya kurang paham menjadi “lebih paham.”Kategori kedua “salah paham.” Orang yang salah paham terjadi karena mereka mendapat suatu informasi dengan cara yang salah atau orang yang menyampaikan informasi itu memang dengan maksud untuk mengaburkan informasi itu sehingga orang yang menerimanya menjadi salah paham. Atau yang kedua, orang itu mungkin dengan motif yang baik mau menyampaikan informasi tetapi informasi yang disampaikannya tidak benar, sehingga orang yang menerima informasi itu akhirnya menjadi salah paham.Tetapi salah paham tidak apa-apa karena setelah diberi informasi dan penjelasan yang sebenarnya orang itu akhirnya menjadi paham. Yang paling berbahaya dan paling repot adalah kategori yang ketiga yaitu “gagal paham” atau orang yang “ndableg” meskipun  sudah diberi informasi yang benar, sudah diberi penjelasan panjang lebar, tetap saja tidak mau mengerti dan tidak mau berubah. Jadi persoalannya bukan aspek inteligensi kurang, atau pengetahuannya kurang, tetapi ini adalah persoalan sikap hati.Orang itu sudah punya “paham” sendiri, biar diberitahu bagaimana pun tetap tidak mau tahu. Ketemu orang yang seperti  itu, bagaimana? Injil Markus mencatat para pemimpin agama dan ahli Taurat setiap kali bertemu Yesus selalu dengan sikap bersiap mencari-cari kesalahan Yesus. Kepada orang-orang seperti ini Yesus tidak mau berdebat panjang lebar, Ia membalikkan badan dan pergi karena tidak ada guna menghadapi kelompok orang seperti ini yang gagal paham. Setelah berada di atas perahu, Yesus berkata kepada murid-muridNya, berhati-hatilah dengan ragi orang Farisi (Markus 8:11-15).Persoalannya bukan “lack of understanding,” bukan “misunderstanding,” tetapi ini adalah persoalan hati yang keras dan tidak mau mencari kebenaran dan memang tidak pernah mau mengerti kebenaran.Dijelaskan sampai mulut kita berbusa sekali pun, hati mereka memang keras tidak mau berubah.Persoalan hati bukan persoalan intelektual, itu adalah soal hati kita yang tahu dan mau melakukan kebenaran.Maka kepada mereka yang mengaku ada di dalam terang namun mereka hidup di dalam kegelapan, Yohanes memberi peringatan ini, “engkau berdusta dan engkau tidak melakukan kebenaran.”Mereka suka bicara tentang terang itu, mereka tahu banyak tentang terang itu, tetap terjadi gap jurang yang menganga antara “talk and walk.” Terjadi gap antara apa yang mereka katakan dengan apa yang mereka lakukan. Bukan saja tidak konsisten, bahkan yang terjadi adalah hal yang kontradiktif, berseberangan dan tidak sesuai. Ilustrasi yang dipakai oleh Yakobus mengenai orang seperti ini adalah mereka baru saja mengamat-amati mukanya di depan cermin tetapi mereka segera lupa bagaimana rupanya (Yakobus 1:23).

Mengapa ada gap antara apa yang kita katakan dengan apa yang kita jalankan dan lakukan? Filsuf Perancis, ahli Matematika dan scientist serta bapa Modern Western Education bernama Rene Descartes mengeluarkan kalimat terkenal “Cogito ergo sum,” yang artinya “I think, therefore I am,” aku berpikir maka aku ada. Bagi dia hal yang terpenting adalah pikiran, intelektual dan pengetahuan dan kalau sudah mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya, otomatis orang itu akan melakukan apa yang diketahuinya itu. Maka sistem edukasi modern adalah memberikan informasi dan pengetahuan seluas-luasnya supaya murid berhasil.Tetapi kita tahu sekolah dan banyaknya pengetahuan tidak membuat orang menjadi benar, baik dan bijaksana.Kenapa?Karena edukasi modern hanya memberi informasi belaka.Sebenarnya kunci edukasi yang benar adalah bukan “memberi informasi” tetapi “membentuk formasi.”Di situlah bedanya knowledge and wisdom. Tetapi untuk sampai kepada formasi perlu dua hal yang harus ada: the power of good habit, dan the power of good example.  Kita tidak bisa mendidik anak kita menjadi anak yang bijak jika dua hal ini tidak kita berikan kepada mereka.

Pertama, the power of good habit.Lebih dari 95% aktifitas yang kita lakukan dalam hidup kita setiap hari sesungguhnya terbentuk dari kebiasaan yang tidak kita sadari sudah menjadi hal yang spontan.Dari bangun tidur sampai kembali ke tempat tidur, hampir semua kita lakukan tanpa berpikir lagi.Kita melakukan semua dengan spontan bukan karena tidak pikir tetapi karena itu sebelumnya terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan kita yang terus-menerus kita lakukan. Firman Tuhan juga seperti itu, jika kita terus-menerus melakukannya maka dia akan menjadi bagian yang kita terbiasa lakukan dalam hidup kita. Dan percayalah itu semua akan menjadi sebuah good habit yang kita bentuk dalam hidup kita ikut Tuhan. Mari setiap kita membentuk kebiasaan yang baik di dalam hidup kita masing-masing.Kebiasaan itu tidak datang satu dua kali tetapi menjadi sesuatu yang kita lakukan dan jalankan di dalam hidup kita setiap hari.Keinginan saja tidaklah cukup.Tetapi membutuhkan konsistensi dan disiplin sehingga menjadi suatu kebiasaan yang baik.Tidak lagi perlu diingatkan, ditegur, ditanya, sudah menjadi hal yang otomatis kita lakukan.

Kedua, the power of good example. Kalau kita bilang kita mau menjadi seorang yang “caring” tetapi tidak pernah menyapa dan memperhatikan orang di sebelah kita sekali pun, hal itu tidak akan pernah terjadi. Kalau kita tidak pernah mempunyai inisiatif mengajak bicara, mengobrol atau menelponnya, sampai kapan pun kita tidak pernah melatih diri bagaimana menjadi seorang yang care kepada orang lain. Bagaimana kita mau anak kita caring terhadap orang lain jikalau dia tidak pernah melihat kita sendiri care dan memperhatikan orang lain. Lalu bagaimana cara caring yang benar sehingga anak kita tahu? Dengan memberinya a good example.Alkitab memanggil kita untuk menjadikan Yesus Kristus sebagai contoh yang harus kita tiru dan teladani. Tidak anda motif yang salah pada diri Yesus, Ia adalah Pribadi yang luar biasa di dalam kasih, kebaikan, ketulusanNya. Setiap kita dipanggil untuk meniru apa yang Ia lakukan. HatiNya yang penuh simpati, yang penuh belas kasihan, yang memperhatikan dan mengasihi, jadikan semua itu contoh teladan hidup kita.

Maka kembali lagi kepada pertanyaan ini, kenapa ada gap dalam hidup orang Kristen antara “talk” and “walk”? Jika terjadi gap antara apa yang kita bicarakan dengan apa yang kita lakukan, itu adalah persoalan hati, bukan persoalan kurang informasi. Knowledge never drives people to do something. Only love can drive people to do something. Surat 1 Yohanes bukan bicara engkau mengetahui kebenaran tetapi bicara engkau mengasihi kebenaran.Rasul Yohanes disebut rasul kasih, tentu “kasih” yang dimaksud bukan kasih yang sentimental tetapi itu adalah kasih yang mendorong kita untuk melakukan firman Tuhan. Kita suka bertanya apa yang harus kita lakukan, apa yang tidak boleh kita lakukan, seolah-olah dengan menaati semua aturan itu otomatis kita menjadi dekat dan memiliki relasi yang otentik dengan Tuhan. Jangan keliru! Peraturan agama tidak pernah membuat orang Farisi menjadi dekat dengan Tuhan; mengetahui hukum-hukum agama dengan mendetail tidak membuat ahli-ahli Taurat mengasihi dan mencintai Tuhan. Tuhan Yesus mengingatkan seluruh hukum Taurat di dalam Perjanjian Lama itu disimpulkan dalam dua kalimat, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kita terus  mau meminta aturan yang detail, tetapi semua itu tidak akan ada artinya jika kita tidak pernah melakukannya. Ini bukan soal mengetahui berapa banyak, tetapi semua itu tidak ada gunanya kalau tidak ada keinginan untuk menjalankan apa yang kita ketahui. Biarlah keinginan kita hanya pada dua hal ini, love your God passionately and truthfully, and you will love your neighbour passionately and truthfully. Mari kita jadikan firman Tuhan itu menyentuh masuk ke dalam relung sanubari kita.Betapa saya rindu dan harap setiap kita memiliki dan mengalami sukacita yang penuh karena mengalami fellowship dengan Bapa dan Anak. Jika kita sudah berada di dalam terang itu, biar kiranya kita hidup di dalam terang yang sesungguhnya.(kz)