The Heart that Ministers

Pengkhotbah: Ev. Kezia Susanto STh.
Tema: The Heart that Ministers
Nats: Yohanes 4:27-42

Kisah Yesus berjumpa dengan perempuan Samaria ini dicatat oleh rasul Yohanes kira-kira 60 tahun kemudian, saat dia mengenang dan mengingat kembali satu demi satu peristiwa selama dia mendampingi Yesus melayani dari satu tempat ke tempat lain. Yohanes ingat ada satu peristiwa yang luar biasa telah terjadi di sebuah desa kecil bernama Sikhar di Samaria, di tengah perjalanan mereka dari Yudea menuju Galilea. Dan kita sungguh bersyukur Yohanes mencatat peristiwa ini dengan cukup mendetail meskipun siapa nama perempuan ini tidak dicatat, meskipun siapa sesungguhnya perempuan ini kita tidak pernah tahu, tetapi apa yang terjadi di dalam hidupnya bukan saja merubah hidup perempuan ini, tetapi juga merubah hidup orang-orang yang ada di sekitarnya, membuat berita Injil sampai kepada orang-orang yang tinggal bersama-sama dia.

Kita menyaksikan perjumpaan-perjumpaan Yesus dengan orang-orang yang dicatat di Alkitab membuat kita  takjub luar biasa karena orang-orang yang berjumpa dengan Yesus tidak akan lagi pernah menjadi orang yang sama seperti sebelumnya. Orang yang dahulu memiliki latar belakang yang kotor, gelap dan penuh dengan dosa, secara moral begitu buruk dan tidak dipandang dengan sebelah mata oleh masyarakat, menjadi seorang yang Tuhan pakai membawa orang-orang lain untuk datang kepada Tuhan. Kita kagum menyaksikan bagaimana anak-anak Tuhan satu demi satu boleh berjumpa dengan Tuhan dan mengalami hidup yang di-transformasi dan diubahkan, mengalami satu hidup yang bersaksi, hidup yang menjadi berkat bagi orang lain.

Pada waktu kita melihat catatan Yohanes, di tengah siang hari yang panas terik, perempuan itu langsung meninggalkan tempayannya dan kembali ke desanya (Yohanes 4:28), kita takjub akan kekuatan fisik yang dia miliki. Perjalanan dari desa Sikhar menuju ke sumur Yakub kira-kira berjarak 1.2 kilometer, menanjak ke atas bukit. Itu bukan satu perjalanan yang pendek dan gampang. Kekuatan dan energy yang seperti apa yang wanita ini miliki pada saat itu, sehingga dia punya kekuatan untuk menjumpai satu demi satu orang yang dia kenal di desa itu, mengatakan perjumpaannya dengan Yesus dan mengajak mereka untuk ikut bersama dia menjumpai Yesus. Inilah satu hal yang luar biasa. Bukankah ini yang seringkali yang menjadikan kita enggan untuk bersaksi tentang Tuhan Yesus kepada orang yang kita kenal, kita pikir mana mungkin mereka mau mendengar dari saya? Akhirnya ini membuat kita tidak berani dan tidak punya confident untuk berbicara tentang Tuhan dalam percakapan kita dengan orang. Kita enggan dan kita mungkin sering berkata kepada diri sendiri, bagaimana orang bisa percaya kepada apa yang aku katakan sedangkan hidupku sendiri masih belum sempurna, banyak hal yang mereka lihat dari hidupku tidak sepadan dengan ekspektasi mereka, dsb. Sehingga kita katakan kepada diri kita, nantilah kalau aku sudah menjadi orang yang lebih baik, baru saya mau bersaksi bagi Tuhan. Pada waktu kita melihat bahwa pengampunan dan keselamatan yang dia peroleh dari Tuhan begitu berharga, dia yang tidak layak tetapi bisa memperoleh anugerah itu dengan cuma-cuma menjadi sesuatu yang begitu dia hargai, maka dia tidak lagi memikirkan aspek-aspek seperti itu, dan dengan semangat mengajak satu demi satu orang yang ada di desanya datang kepada Yesus. Kepada orang yang tidak percaya, yang skeptik dan ragu, dia akan mendesak dan mengatakan, “Ayo ikut! Ayo!” akhirnya membuat mereka pergi bersama dia menjumpai Yesus.

Pada waktu Roh Allah bekerja pada diri seseorang, kita akan menyaksikan luar biasa Tuhan berkarya di tengah orang itu. Jangan pernah mengatakan aku terlalu banyak kelemahan, aku masih belum sempurna, jangan berkata aku masih banyak urusan, terlalu banyak persoalan, sehingga itu membuat kita terhalang untuk melihat bagaimana Roh Allah itu bisa berkarya dan bekerja di dalam kelemahan kita, ketidak-sempurnaan kita. Kadangkala kita ditelan oleh situasi yang menjadikan kita tidak menjadi seorang anak Tuhan yang mengalami Tuhan dengan indah di dalam hidup kita, sehingga kita tidak punya “story,” kita tidak punya cerita, kita tidak punya sesuatu untuk kita sampaikan kepada orang-orang di sekitar kita. Kita mungkin mengatakan, kalau saja saya mempunyai kedudukan yang tinggi di perusahaanku, kalau saja saya seorang CEO, seorang direktur, seorang manager, saya tentu bisa dipakai Tuhan dengan luar biasa. Kalau saja saya seorang yang kaya-raya, yang memiliki banyak pegawai dan pekerja, mungkin saya bisa dipakai untuk membawa mereka mengenal Tuhan. Tetapi siapa saya? Saya hanya orang kecil dan sederhana, saya hanya seorang ibu rumah tangga, saya insignifikan, tidak mungkin Tuhan bisa memakai saya. Pada waktu kita mengatakan excuses seperti itu, kita sedang mengecilkan Tuhan kita, kita sedang membuat Dia tidak lagi menjadi Tuhan yang memberikan kepada kita kekuatan, kuasa dan keberanian untuk bersaksi bagiNya. Jangan pernah mengecilkan diri kita, karena bagi Tuhan Yesus engkau dan saya begitu berharga adanya. Jangan lupa, Dia telah mati untuk kita. Pada waktu kita melihat betapa berharganya darah dan penebusan yang Yesus berikan bagi kita, kiranya itu boleh membakar hati kita sekali lagi, memberikan dorongan bagi kita dan menggairahkan kita untuk membawa kabar baik itu kepada siapa yang bisa kita jumpai di dalam hidup kita, sehingga mereka boleh mengenal siapa Tuhan Yesus yang kita kenal dan kita sembah itu dan mereka boleh mengalami keselamatan di dalam Dia sama seperti kita.

Murid-murid Tuhan Yesus melihat dari jauh, Yesus sedang bercakap-cakap dengan perempuan ini, tetapi mereka tidak mengatakan apa-apa (Yohanes 4:27). Meskipun seperti yang dikatakan oleh Yohanes, hati mereka bertanya-tanya, kenapa Yesus bercakap-cakap dengan dia, dsb. Apa yang Engkau kehendaki, apa yang Engkau percakapkan dengan dia? tetapi pertanyaan-pertanyaan ini tidak keluar dari mulut mereka. Mereka berkata, “Rabbi, Guru, ini roti, makanlah.” Dan Yesus mengatakan satu kalimat, “PadaKu ada makanan yang tidak kalian ketahui.” Kalimat itu mengundang rasa ingin tahu murid-murid, apakah selama mereka pergi ke desa membeli roti, ada orang lain yang datang memberikan sesuatu untuk dimakan oleh Guru? Yesus lalu mengatakan, “MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya.” (Yohanes 4:31-34). Yesus menyelesaikan pekerjaanNya yang diberikan Bapa bagiNya itu di atas kayu salib, di tengah-tengah penderitaanNya Yesus berseru, “Sudah selesai!” dan Ia menghembuskan nafasNya.

Pada waktu Tuhan Yesus berkata seperti ini, tidak berarti Tuhan Yesus tidak menghargai kerja usaha yang dilakukan murid-murid berjalan ke desa untuk membeli roti bagi Dia; juga tidak berarti Yesus menolak untuk makan roti yang diberikan kepadaNya; pun juga tidak berarti sebagai seorang yang spiritual kita tidak lagi perlu memenuhi kebutuhan tubuh fisik kita ini. Kita bukan malaikat, kita terdiri dari darah dan daging, kita perlu makan dan minum. Itu sebab kita diajar untuk berdoa kepada Bapa, “Berikanlah kami makanan kami yang secukupnya.” Tetapi di sini Yesus ingin menyatakan satu hal yang lebih penting dan jauh lebih berarti daripada makanan roti yang kita butuhkan bagi tubuh fisik ini, ada kebutuhan rohani yang hanya bisa diisi oleh makanan yang rohani, yang nutrisi dan vitamin dari makanan itu bisa menguatkan rohani kita. Makanan itu adalah melayani Tuhan. Banyak orang Kristen salah mengerti tentang pelayanan, mereka melihat pelayanan itu sebagai satu beban yang membawa kelelahan, sungut-sungut dan tidak ada sukacita di dalamnya. Mereka berkeluh-kesah mengatakan “…dari Senin sampai Sabtu saya bekerja keras mencari nafkah, kenapa di hari Minggu saya masih lagi dibebani dengan pelayanan dan pekerjaan Tuhan, melakukan ini dan itu, memberikan uang yang saya dapat dengan susah payah untuk menunjang pekerjaan Tuhan, dsb.” Ketika kita melihat bahwa melayani Tuhan bukanlah sesuatu yang memberatkan, tetapi itu justru adalah sesuatu yang kita butuhkan sebagai makanan bagi rohani kita, kita akan melihatnya dengan perspektif yang berbeda. Makanan itu kita butuhkan untuk menjadi vitamin, nutrisi, yang menguatkan rohani kita, yang memberikan kesegaran dan kekuatan yang kita butuhkan bagi pertumbuhan rohani kita. Betapa sayang, banyak orang sudah lama menjadi orang Kristen tetapi rohaninya mengalami defisiensi, malnutrisi, rohaninya begitu lemah, begitu gampang terserang penyakit, begitu gampang terinfeksi, begitu gampang terkena bakteri, karena dia tidak mendapatkan makanan yang cukup, melayani Tuhan.

Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning…” (Yohanes 4:35). Yang Yesus maksudkan adalah jiwa-jiwa yang membutuhkan Injil, kabar keselamatan dari Tuhan, orang-orang yang dari segala penjuru desa berdatangan mendaki bukit mendekat kepada Yesus. Mata murid-murid Yesus hanya terpaku kepada roti yang ada di hadapan mereka. Maka ketika mereka melihat dan menyaksikan sekeliling, mereka menjadi bingung menyaksikan apa yang sedang terjadi. Mereka tidak tahu bahwa orang-orang ini datang karena dibawa oleh perempuan yang tadi bercakap-cakap dengan Yesus. Perempuan itu telah berjumpa dengan Tuhan Yesus dan dia membawa orang-orang itu juga untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus. Dengan kalimat itu Yesus menegur murid-murid agar mata mereka tidak tertutup oleh kebutuhan fisik karena mata itu harus memandang dan melihat betapa banyak tuaian yang ada di sekeliling mereka. Yesus dengan sukacita dan gembira melihat orang-orang itu datang. Murid-murid menjadi heran, kenapa? Karena orang-orang yang datang itu adalah orang-orang yang sama yang mereka jumpai beberapa jam yang lalu. Orang-orang itu adalah penjual roti dan teman-temannya yang lain, para penduduk desa yang tadi berinteraksi dengan mereka. Sama-sama bercakap-cakap, tetapi mereka sama sekali hanya melihat orang-orang itu hanya sebagai orang-orang saja tidak melihat bahwa orang-orang itu perlu mendengar tentang Yesus.

Ketika kita melihat seperti mata Tuhan Yesus melihat, maka setiap orang yang kita jumpai setiap hari, mungkin itu adalah supir bus, mungkin itu adalah penjual kopi, mungkin itu adalah penjual koran, atau siapa saja bahkan barangkali dia adalah seorang yang tidak engkau kenal sama sekali yang hari itu duduk di sebelahmu di kereta api. Apakah mata kita sama seperti mata para murid Yesus yang hanya melihat tetapi tidak melakukan apa-apa? Pada waktu murid-murid melihat bahwa orang-orang desa yang mereka tadi jumpai adalah orang-orang yang begitu responsive dengan perkataan dan kesaksian yang sangat sederhana dan terbatas dari perempuan Samaria ini. Mereka mau datang, mereka mau berjumpa, mereka mau mendengar firman dari Yesus. Padahal mereka belum pernah mengalami dan melihat Yesus yang melakukan mujizat; mereka belum pernah mengalami dan melihat Yesus mengusir Setan; mereka belum pernah mengalami dan melihat orang buta Yesus celikkan, orang lumpuh Yesus sembuhkan. Bukan mujizat Yesus yang membuat mereka akhirnya percaya, tetapi perkataan Yesus sendiri yang membuat mereka percaya Yesus adalah Mesias dan Juruselamat dunia (Yohanes 4:41-42).

Setiap kita dipanggil untuk menjadi pemberita, “the messenger of Christ” karena itulah tugas dan panggilan yang diberikan kepada setiap kita. Kita bukan dipanggil untuk menjadi juruselamat, “the saviour of the world,” itu tugas Yesus, bukan tugas kita. Kita jangan terlalu takut dan mengatakan, ‘saya mau mengabarkan Injil, tetapi bagaimana kalau orang itu menolak, menghina, mencemoohkan saya?’ Itu bukan tugas kita, itu adalah pekerjaan Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan, hanya Tuhan yang bisa merubah hati manusia, hanya Tuhan yang bisa membuat telinga yang tertutup bisa terbuka mendengar tawaran Injil, hanya Tuhan yang bisa melembutkan hati yang keras. Tetapi kita dipanggil untuk menjadi saksi, untuk membawa berita, itulah tugas bagi setiap kita.

Dan untuk itu mulut kita harus “fluent,” harus fasih di dalam menyampaikan apa yang kita tahu. Pada waktu Yesus mengatakan “Lihatlah sekelilingmu…” kita dipanggil untuk melihat sekitar kita, orang-orang yang ada di sekitar hidup kita, di situ adalah ladang kita masing-masing, entahkah kita menabur atau menuai, kita menjadi pekerja Tuhan yang setia. Mungkin itu adalah orang Kristen yang sudah lama tidak pernah lagi ke gereja. Mungkin dia adalah orang yang sedang mencari-cari [seekers] yang ingin tahu apa yang kita imani sebagai orang Kristen. Mungkin dia sedang dalam kekosongan dan mencari orang yang bisa memberikan pengharapan di dalam Kristus, atau dia sedang dalam persoalan yang sangat berat dan membutuhkan seseorang mendoakan dia. Satu dua kalimat kita bisa menjadikan hidupnya berubah total. Paling tidak, kita mengatakan sesuatu. Kadangkala kita perlu catat ayat-ayat karena kita mudah sekali lupa. Kadangkala kita perlu menyiapkan catatan kecil, atau traktat di saku kita, yang bisa kita pakai sewaktu-waktu. Selalu punya pikiran seperti itu, setiap orang yang kita jumpai, mungkin dia Tuhan sediakan bagimu. Setiap pagi memulai hari dengan doa, bersyukur untuk satu hari yang baru yang Tuhan berikan, katakan kepada Tuhan agar Ia memberi kita kepekaan untuk berkesempatan berjumpa dengan satu orang dimana kita bisa menyampaikan tentang Tuhan Yesus kepadanya, menyaksikan kasihNya dan kebaikanNya di dalam hidup setiap kita. Kalau itu adalah orang yang terdekat di dalam keluarga kita yang belum percaya Tuhan, yang mungkin hanya melihat kita pergi ke gereja, tetapi kita belum pernah mengajak mereka. Pakai itu untuk menjadi sesuatu yang bisa melihat pengharapan di dalam Tuhan.

Seringkali kita melihat hal-hal yang baik, berkat yang menyenangkan, itu menjadi alat untuk menyampaikan kebaikan Tuhan. Tetapi bukankah banyak kali justru kita tersentuh ketika kita melihat ada anak-anak Tuhan di tengah tragedi dan hal-hal yang secara mata manusia adalah hal-hal yang tidak baik, begitu berat dan sulit, justru menyatakan betapa dia mengalami kebaikan Tuhan jauh lebih nyata, jauh lebih indah, ketimbang di saat-saat kelancaran? Di situ dia menyaksikan kuasa Tuhan yang begitu nyata terjadi. Kekuatan yang dari Tuhan, damai sejahtera dan ketenangan, serta sukacita yang memenuhi hatinya karena dari hari ke sehari dia mengalami hadirat Tuhan jauh lebih nyata daripada di hari-hari yang lancar. Bukankah engkau dan saya pernah mengalami justru di saat-saat yang paling sulit di dalam hidup kita, kita mendapatkan kesempatan mengenal Tuhan lebih dalam, kita lebih bersandar kepada Tuhan, kita berdoa dan membawa hidup kita kepada Tuhan, kita lebih peka untuk bersyukur atas hal-hal kecil yang mungkin dalam keadaan biasa kita “take it for granted,” akhirnya menjadi sesuatu yang kita hargai dengan penuh syukur saat kita tahu betapa indah dan berharganya segala sesuatu yang Tuhan berikan di dalam hidup kita. Jangan hanya berpikir kalau aku sehat, aku lancar, aku sukses, aku berlimpah dengan berkat, baru aku bisa dipakai bersaksi bagi Tuhan. Ada saat-saat dimana kita di dalam keadaan pergumulan yang paling berat, di saat kita mungkin menghadapi jalan buntu dari persoalan yang kita hadapi, di saat sakit-penyakit begitu melemahkan fisik kita, di saat persoalan demi persoalan datang bertubi-tubi di dalam hidup kita, mungkin di situ justru Tuhan memakai kita untuk menyatakan kemuliaanNya, menyatakan hadiratNya, keberadaanNya begitu nyata di dalam hidup kita. Biar setiap kita hari berdoa secara khusus di hadapan Tuhan, jangan sampai mata kita tertutup oleh selaput yang membuat kita “short-sighted” dan tidak bisa melihat dengan jelas sekeliling kita; kita tidak bisa melihat dengan jelas karena terlalu banyak hal yang menghalangi mata kita untuk melihat apa yang Tuhan kehendaki.

Saya mendapat banyak berkat dari seorang hamba Tuhan, Rev. William Taylor yang menulis buku “Revolutionary Work” memperlihatkan apa itu kerja dan bagaimana kita melihat kerja kita dari perspektif Tuhan. Setiap kita bekerja, entahkah itu pekerjaan yang menghasilkan uang atau pun pekerjaan yang tidak menghasilkan uang; apakah kita bekerja untuk satu perusahaan ataukah kita berbisnis sendiri; apakah itu pekerjaan yang menghasilkan profit ataukah kita bekerja non-profit; kerja menjadi sesuatu yang Tuhan berikan dalam hidup ini. Tetapi banyak orang Kristen akhirnya melihat kerja itu sebagai “goal” tujuan akhir dari hidupnya; mati-matian bekerja hanya demi pekerjaan itu sendiri; bahkan demi kerja itu orang mengorbankan hal-hal lain yang lebih penting, kesehatannya, keluarganya, hidupnya. Menghabiskan seluruh energy, kekuatan, kesehatan, waktu dan hidupnya terbengkalai hanya demi kerja itu sendiri. Yesus hendak mengingatkan kita, bekerjalah untuk hal-hal yang menghasilkan buah bagi kekekalan. Pekerjaan itu tidak boleh menjadi “the end” atau tujuan akhir dalam hidup kita karena Ia ingin kita melihat pekerjaan itu menjadi sesuatu dimana Tuhan bekerja melaluinya. Pekerjaan itu sendiri adalah anugerah yang Allah berikan bagi hidup setiap kita. Ketika kita bekerja, kita menikmati bagaimana keindahan Tuhan berkarya melalui talenta, skill, karunia dan study kita. Melalui pekerjaan itu mungkin kita menghadapi banyak kesulitan, menghadapi banyak tantangan, menghadapi tekanan, bahkan mungkin ada orang-orang yang menghalangi kita bekerja dengan baik. Tetapi kita bukan saja dipanggil untuk menjadi seorang Kristen yang bekerja, artinya seorang yang memiliki etos kerja yang baik, rajin, jujur, berintegritas, dsb. Kita bukan saja dipanggil untuk menjadi seorang Kristen yang bertanggung jawab untuk pekerjaan yang kita lakukan. Tetapi Tuhan memanggil kita lebih daripada itu, melalui pekerjaan itu adakah kita menjadi saluran berkat Tuhan? Karena di sinilah kita melihat apa yang kita kerjakan itu adalah sesuatu hal yang Tuhan membuat kita bisa berjumpa dan berinteraksi dengan orang di sekitar pekerjaan kita. Kita perlu peka melihat akan hal ini.

Yesus mengatakan, “Lihat sekelilingmu dan pandanglah…” Kadangkala itu mungkin adalah orang yang duduk di meja sebelahmu yang sehari-hari melihat engkau, anak Tuhan bekerja di situ. Mungkin itu adalah customer tokomu. Kepada mereka yang kita jumpai dalam konteks hidup kita masing-masing, bagaimana kita bisa berkesempatan untuk menyatakan Tuhan bagi mereka? Kalau kita melihat Yesus di dalam keadaan kelemahan fisikNya, keletihan dan kehausanNya sebagai manusia, ada banyak alasan bagi Dia untuk tidak memakai kesempatan berkata-kata kepada perempuan Samaria ini. Tadi di awal saya mengatakan, Yohanes tidak mencatat nama perempuan ini, tetapi dia mencatat beberapa data yang signifikan tentang dirinya: gender perempuan, nationality Samaria, agama tidak jelas, secara sosial dia seorang yang amoral. Kenapa catatan ini signifikan? Karena inilah aspek-aspek yang bisa menghalangi kita melihat orang itu “matters to God.” Setiap orang sama berharga di mata Tuhan sehingga Ia mengabaikan kehausan dan keletihanNya untuk melayani dia, menyeberangi penghalang-penghalang yang diciptakan masyarakat. Kadang waktu kita melihat orang, jangan mengatakan orang itu tidak perlu Injil, Yesus mau kita melihat lebih daripada itu, karena kita mungkin harus melewati batasan-batasan yang membuat kita mengatakan tidak mungkin orang seperti itu bisa percaya Tuhan. Itu bisa mungkin, dan mereka perlu mendengarnya. Kiranya kita digugahkan untuk melihat panggilan Tuhan lebih daripada sekedar kita menikmati keselamatan di dalam Dia. Panggilan Tuhan adalah kita bersaksi bagiNya dan kita harus mempersiapkan apa yang perlu kita ktakan kalau kesempatan itu tiba di hadapan kita. Kalau Tuhan bisa pakai perempuan Samaria ini yang begitu terbatas pemahaman teologinya, tidak berarti kita tidak perlu belajar dengan baik, kita harus dilengkapi. Tetapi point saya adalah kalau kita sudah tahu banyak, adakah kita mempunyai hati yang desire to sharing it? Yang kita perlu belajar dari dia adalah hatinya. Itu yang harus ada di dalam diri setiap kita. Tuhan akan memperlengkapi setiap orang yang mau dipakai oleh Tuhan.(kz)