Resilience

Resilience

  1. the capacity to recover quickly from difficulties; toughness.
  2. the ability of a substance or object to spring back into shape; elasticity.

antonym

rigidity, fragility, vulnerability, weakness

Resilience embraces the ability of a child:

- to deal more effectively with stress and pressure

- to cope with everyday challenges

- to bounce back from disappointments, adversity and trauma

- to develop clear and realistic goals

- to solve problems

- to relate comfortably to others

- to treat oneself and others with respect

Susan [umur 9] berlari pulang dari sekolah sambil bercucuran air mata. “Mama, tadi teman-teman tidak mau duduk makan bersamaku di kantin. Waktu aku mau duduk, mereka mendorong dan mengusirku jauh-jauh.”

Tomi dan Joni [kakak beradik, umur 7 dan 10] selalu bertengkar mulut dan fisik setiap kali ada kesempatan. Berebut mainan, berebut makanan, berebut tempat duduk di mobil, apa saja bisa menjadi alasan untuk bertengkar.

Andi [anak tunggal, umur 12] dengan frustrasi menendang mainan puzzle yang sudah sepanjang siang masih belum berhasil disusunnya.

Sudah 2 bulan, setiap pagi diantar sekolah, Feri [umur 5] menangis dan meraung-raung, sampai di depan pintu kelas masih memegang erat-erat kaki mamanya, sementara teman-temannya yang lain sudah bisa “settle.”

Masih ada seribu satu macam skenario yang terjadi pada diri anak-anak kita yang membuat kita sebagai orang tua kuatir dan bingung bagaimana membimbing anak-anak kita bisa melewati situasi dan persoalan yang datang ke dalam hidup mereka. Kita kuatir karena kita tidak mau kalau sampai dewasa, mereka tidak mampu menghadapi situasi dan persoalan dengan tepat dan benar.

Kita hidup di tengah realita dunia yang keras, diliputi oleh kultur dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Anak-anak kita menghadapi bullying, penolakan, intimidasi dan tekanan yang terjadi setiap waktu di tengah pergaulan mereka. Mereka juga bergumul dengan kegagalan, mereka menghadapi kesulitan memenuhi tuntutan dan ekspektasi orang tua, mereka tidak tahu bagaimana mengekspresikan kekecewaan, kemarahan, frustrasi dan perasaan anxiety dengan benar.

Terlebih lagi, sebagai orang tua kita mau mendidik dan membesarkan anak kita di dalam Tuhan, menjadi anak yang hidup di dalam jalan-jalan dan prinsip kebenaran firman Tuhan. Kita menginginkan anak kita tumbuh besar menjadi seorang yang memiliki identitas diri, memiliki karakter yang kuat, punya inisiatif, tidak mudah putus asa, mau terus mencoba meskipun berkali-kali gagal, memiliki kemampuan bersosialisasi, memperhatikan dan mengasihi orang lain, menjadi seorang yang produktif, bertanggung jawab dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya dan yang terutama mengasihi Tuhan dan orang tuanya. Dengan kata lain, kita ingin anak kita memiliki resiliensi. Tetapi tahukah anda, untuk membesarkan anak yang memiliki resilient spirit, diperlukan orang tua yang memiliki resilient spirit juga!

Untuk membentuk resiliensi pada diri anak, fokuskan setiap interaksi kita dengan mereka sedapatnya dengan tujuan memperkuat kemampuan mereka bersikap dan bertindak dalam menghadapi tantangan dan memiliki keteguhan hati, thoughtfulness, confidence, purpose dan empathy. Membentuk resiliensi dalam diri anak membutuhkan konsistensi dan ketelatenan kita. Setiap saat anak membutuhkan dorongan dan bimbingan dari orang tua, guru, pembimbing rohani, dan orang-orang yang menjadi panutan baginya. Anak membutuhkan patokan yang jelas akan nilai-nilai mana yang benar dan mana yang harus dia pegang di dalam hidupnya. Jangan bersegera memberi jalan keluar di saat anak menghadapi tantangan dan persoalan. Lebih baik latih mereka untuk menganalisa dan mencari alternatif yang tepat untuk menyelesaikannya. Orang tua yang terlalu mengontrol atau yang terlalu efisien justru membuat anak menjadi pasif dan tidak mampu berpikir kritis dan strategis. Orang tua yang terlalu cepat mengkritik dan mempersalahkan juga akan membuat anak menjadi tidak percaya diri dan tidak berani berusaha. Jangan takut kalau anak tidak langsung bisa mengambil jalan keluar yang seperti kita inginkan. Kadang anak perlu belajar dari kegagalan untuk bisa belajar darinya. Kadang jalan keluar yang dia punya berbeda dengan jalan kita, tetapi belum tentu yang dia punya tidak bisa menjadi jalan keluar yang baik. Sesuai dengan usia dan perkembangan mentalnya, sedikit demi sedikit kita mengendurkan peran kita dan memberikan bimbingan seperlunya.

Dalam bukunya “Raising Resilient Children,” Robert Brooks dan Sam Goldstein memberikan beberapa panduan bagi orang tua yang ingin membimbing anaknya memiliki resilient spirit itu.

  1. Bersikap empatik.

Empati adalah kapasitas untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan melihat melalui cara pandang mereka. Dengan memahami cara anak berpikir dan bertingkah laku, orang tua tidak segera menghakimi atau mempersalahkan anak, meskipun tidak berarti kita harus selalu setuju dengan perilaku mereka, kita bisa menghargainya. Tidak mudah berempati di saat kita dalam kondisi kesal, marah, rasa terganggu atau kecewa kepada anak karena kita akan cenderung mengatakan atau melakukan hal yang tidak mendukung terjadinya resilient spirit pada diri anak. Maka kita perlu bertanya kepada diri: pada waktu kita mengatakan atau melakukan sesuatu kepada anak, apakah aku melakukannya dengan cara yang membuat mereka responsive mendengarnya?

  1. Membangun komunikasi secara efektif dan mendengar dengan aktif.

Sebuah komunikasi yang efektif meliputi bagaimana mendengar dengan aktif, menyelami dan membaca apa yang ada di dalam pikiran anak dengan tidak menyela di tengah kalimat yang mereka ucapkan, dengan tidak memaksakan perasaan anak, dan menghindari kata-kata yang menyakitkan dan merendahkan mereka. Percakapan yang kondusif dan menyenangkan akan membuat anak suka berkomunikasi dengan orang tuanya dan sekaligus membangun kapasitas anak efektif dalam berkomunikasi dengan orang lain juga.

  1. Merubah “script” pembicaraan yang negatif.

Setiap anak memiliki temperamen yang unik, kalimat yang kita ucapkan dan hal yang kita lakukan pada anak yang satu belum tentu menghasilkan reaksi yang sama positif pada adiknya, bahkan kita akan bingung karena hal itu malah menciptakan konflik dan efek yang negatif kepadanya. Orang tua yang suka mengkritik, mempersalahkan, menyindir dan mengejek anak harus menyadari bahwa kata-kata mereka yang sebenarnya bertujuan untuk memperbaiki sikap dan perilaku anak, justru menghasilkan kesedihan, luka dan sakit hati pada diri anak. Kita perlu belajar merubah “script” perkataan yang negatif dan destruktif dengan kata-kata yang membangun, menghibur dan menenangkan mereka. Jangan menahankan kata-kata yang positif seolah kita takut itu akan memanjakan anak dan membuat mereka besar kepala. Justru dengan kata-kata yang positif anak akan lebih terbuka untuk berkomunikasi mencari jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi, lebih responsible dan accountable.

  1. Memberi kasih yang “sehat.”

Seorang anak yang mengetahui dirinya dikasihi dan dihargai oleh orang tuanya atau pun dari orang-orang dewasa yang dihormatinya [kakek, nenek, guru, pelatih, pembimbing rohani, dsb] akan menjadi seorang yang memiliki resilient spirit. Kelak dewasa dia akan menjadi seorang yang berkarakter indah, memiliki hati yang tabah dan melakukan hal-hal yang postif dalam hidupnya. Sebagai orang tua kita perlu mencari cara dan jalan yang tepat bagaimana menolong anak mengasihi dan menghargai dirinya tanpa memanjakan dan merusak karakternya. Mengasihi anak tidak berarti kita tidak perlu mendisiplin mereka, tetapi di dalam disiplin dan hukuman yang kita berikan berikan pengertian bahwa tujuan kita melakukan itu untuk mendidiknya dan meyakinkan dia kasih dan penerimaan kita kepadanya tidak berubah.

  1. Membimbing anak membuat ekspektasi dan goal yang realistik.

Setiap anak memiliki temperamen yang unik; ada anak yang mudah ada yang sulit, ada yang pemalu dan ada yang lebih penakut. Kita tidak boleh memaksakan anak dengan tuntutan yang sama. Ketika anak dituntut untuk melakukan sesuatu yang mereka tidak mampu lakukan, anak akan merasa mereka tidak kompeten melakukan apa pun.

Kita perlu menerima keunikan anak yang berbeda dan membimbing mereka membuat ekspektasi dan goal yang realistik. Penerimaan dan apresiasi tidak berarti kita membiarkan perilaku yang tidak appropriate dan tidak pantas, tetapi mengoreksi dan membimbing anak dengan cara yang tidak merendahkan dan memahitkan hatinya.

  1. Membantu anak menemukan dan mengembangkan kompetensinya.

Tuhan memberikan masing-masing anak keunikan dan kelebihan tertentu yang menjadi areas of strength anak. Ketika anak menemukan kelebihannya, mereka akan lebih bersemangat mengembangkan kelebihan itu dan juga membuat mereka berani mencoba hal-hal positif yang lain. Betapa sayang banyak anak-anak yang sebetulnya memiliki bakat dan kemampuan yang khusus dan unik tetapi akhirnya tidak pernah ada kesempatan mengembangkannya karena tidak memiliki orang tua atau orang dewasa lain di sekitarnya yang menjadi figur yang mendorong dia. Anak yang mendapatkan dorongan dan trust dari orang tuanya menjadi anak yang memiliki konfiden dan rasa percaya diri dan mau mengembangkan potensi yang ada padanya.

  1. Membimbing anak belajar melalui kesalahan dan kegagalannya.

Kesalahan dan kegagalan bukanlah sesuatu yang taboo dan selalu menjadi hal yang negatif. Orang tua perlu menolong anak sejak dini memiliki sikap yang positif dan sikap yang sehat terhadap kesalahan dan kegagalan. Kritikan, hukuman, kata-kata yang kasar di saat anak melakukan kesalahan akan memberi kesan yang kuat kepada anak bahwa kesalahan adalah hal yang sangat buruk dan patut mendapatkan ganjaran dan hukuman.

Kadang kita menjadi kesal dan frustrasi ketika anak berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama, dan akhirnya kita kehilangan kesabaran dan mengambil langkah yang tidak konstruktif. Karena takut berbuat kesalahan dan takut akan kegagalan, akhirnya anak memilih untuk tidak berani mencoba dan berusaha. Kesalahan dan kegagalan bisa menjadi guru yang baik, jika kita membimbing anak untuk belajar darinya dan membimbing mereka bagaimana menghindar dari kesalahan dan tidak mengulang hal yang sama.

  1. Membangun rasa tanggung jawab dan compassion dengan keterlibatan dalam hal-hal sosial.

Satu hal yang unik kalau kita observasi, hampir semua anak pada usia yang sangat dini terlihat suka membantu. Ada perasaan puas dan bangga pada dirinya ketika kita mengucapkan terima kasih atas bantuannya merapikan mainannya, membantu menyiapkan meja makan atau membantu dalam hal-hal lain yang mampu dilakukannya. Dengan memupuk kebiasaan terlibat dan membantu di dalam rumah, anak akan memberanikan diri dan berinisiatif menawarkan bantuannya saat di sekolah, di dalam komunitas gereja dan di dalam kemunitas yang lebih luas ketika anak bertambah dewasa.

Melibatkan anak dalam pelayanan gereja, melakukan cheritable work, menjadi aktifitas-aktifitas yang sangat positif bagi pembentukan resilient spirit anak.

  1. Membimbing anak dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan problemanya.

Sebagai orang tua kita seringkali intuitif dalam sikap dan tindakan kita berusaha melindungi anak dari problem dan kesulitan. Kita terlalu cepat berinisiatif melakukan sesuatu yang kita kira akan menolong anak mengatasi kesulitannya, padahal akhirnya apa yang kita lakukan bisa melumpuhkan inisiatif dan keberanian anak untuk mencoba dan berusaha mengambil keputusan dan menyelesaikannya sendiri. Kita harus menahan diri jika kita ingin menumbuhkan resilient spirit pada diri anak, dan sebaiknya menuntun anak memikirkan jalan keluar apa yang kira-kira menjadi pertimbangannya. Dengan membiasakan anak seperti ini, kita membimbing mereka untuk take in charge terhadap persoalannya dan kita akan melihat buah dari usaha mereka.

  1. Mendisiplin dengan tujuan membentuk disiplin diri dan self-worth.

Disiplin tidak bisa terjadi dalam sehari. Membutuhkan konsistensi, kesabaran dan ketelatenan untuk kita mengingatkan dan memotivasi anak untuk membentuk disiplin sejak dini. Dengan disiplin dari hal-hal yang rutin, yang sederhana, sampai kepada hal-hal yang lebih banyak seiring dengan bertambah usianya, kita membentuk jiwa anak menjadi seorang yang bertanggung jawab dan bisa menahan diri. Pada saat disiplin itu sudah menjadi bagian dari dirinya, kita tidak perlu lagi banyak terlibat dan mengatur karena dia sudah dapat berinisiatif menjadi leader bagi dirinya dan membekalinya dengan kepercayaan diri untuk bisa mengatur hal-hal yang dipercayakan kepadanya.[sumber “Raising Resilient Children,” by Robert Brooks & Sam Goldstein, kz]