Komplain

Q: Setiap kali anak saya menginginkan sesuatu dan tidak mendapatkannya, ia akan mengeluh, komplain, dan menyusahkan orang-orang di sekitarnya. Bagaimana cara menghadapinya?

A: Mungkin banyak diantara para orangtua yang familiar dengan anak-anak yang suka mengeluh. Bagaimana kita mengatasi anak yang suka mengeluh adalah bagian penting dalam parenting karena itu akan menolong anak dalam menghadapi masalah dengan perspektif Tuhan.

Problem adalah sebuah kesempatan yang baik untuk mengajar anak dalam menghadapi tantangan hidup. Ada 2 macam orang di dunia ini: solvers and whiners. Whiners selalu komplain terhadap hal-hal yang terjadi dalam hidupnya, merasa sebagai korban, dan menganggap bahwa orang lain lah penyebab terjadinya masalah yang dia hadapi. Sedangkan solvers akan mencari solusi, menyadari bahwa dirinya dapat memberi dampak bagi orang lain, dan merasa penuh daya untuk mengatasi masalahnya.

Untuk mengubah anak kita dari seorang whiner menjadi seorang solver dimulai dari cara menyampaikan masalah, Kalimat pertama dalam penyampaian itu penting. Saat Johnny berteriak, “Aku ga tau dimana sepatuku!” Itu adalah kalimat yang berfokus pada masalah. Lebih baik jika Johnny berkata “Pa, boleh tolong bantu cari dimana sepatuku?”

Mengeluh seringkali merupakan tanda mental korban (victim mentality). Anak yang merasa dirinya adalah korban akan seringkali marah dan emosional karna merasa orang lain yang menjadi penyebab masalahnya. Mereka merasa bahwa mereka tidak bisa merubah situasi, oleh sebab itu mereka memilih untuk mengeluh. Dalam pikiran mereka, “jika aku mengeluh, orang lain akan mengubah situasi yang tidak menyenangkan itu, dan setelah itu aku akan merasa lebih baik.”

Kita sebagai orangtua perlu berhati-hati untuk tidak terlalu cepat membantu masalah anak kita. Namun, yang perlu kita lakukan adalah dorong mereka untuk berinisiatif menyelesaikannya. Solusinya mungkin bisa saja melibatkan kita, tetapi anak kita harus berperan dalam mencari solusinya. Beberapa orangtua mempunyai toleransi yang rendah terhadap frustrasi, sehingga ketika mereka melihat anaknya dalam tekanan, mereka akan dengan segera membantu anaknya. Perlu kita ingat bahwa frustrasi adalah guru yang baik dan frustrasi akan mendorong motivasi internal untuk mencari solusi. Jika kita selalu membantu anak kita dalam menyelesaikan masalah, mereka akan cenderung bergantung kepada orangtua dalam mencari solusi karna itu adalah cara yang paling mudah. Namun saat kita membiarkan anak untuk berusaha menyelesaikan masalah mereka sendiri, anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam mengatasi tantangan kehidupan.

Filipi 2:14 “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut..” (msg)

Source: The Christian Parenting Handbook by Dr. Scott Turansky & Joanne Miller