Ketika TUHAN Berlambat untuk Menolong

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Ketika TUHAN Berlambat untuk Menolong
Nats: Kisah Rasul 16:1-12, Yohanes 11, 2 Petrus 3:3-9

Bagaimana kita bersikap dan bagaimana kita berespons pada waktu kita merasa Tuhan terlambat menolong kita? Bagaimana kita bersikap pada waktu kita menerima segala janji-janji Tuhan dan orang mengejek dan mengatakan janji itu tidak pernah kunjung nyata kepada kita? Kita percaya dan beriman kepada Allah yang hidup, yang memberikan janji-janji dan pemeliharaanNya yang nyata. Kita percaya saat dengan segala kerendahan hati mencari wajah Tuhan, menantikan suara Tuhan, maka Tuhan akan datang dan menyatakan firmanNya kepada kita. Kita yang sedang menantikan pertolongan Tuhan, tanganNya akan terulur menolong kita; dalam keadaan terluka kita akan disembuhkanNya; dalam ketakutan menghampiri Allah, Ia akan memeluk kita dengan kemurahan dan kebaikanNya karena kita tidak akan dibuang oleh Tuhan yang telah mengasihi setiap kita. Itu iman percaya kita.

Namun bagaimana kita bersikap ketika apa yang kita percaya, apa yang kita pegang, apa yang kita imani akan pemeliharaan dan anugerah Allah di dalam Kristus bagi kita anak-anakNya tidak menjadi realita? Pada waktu kita memiliki kerinduan untuk mencapai satu goal, tujuan, cita-cita, keinginan, namun di tengah perjalanan bukan situasi, bukan kondisi, bukan ketidak-mampuan kita untuk mencapai goal itu tetapi justru Tuhan yang menjegal dan mencegahnya; kita sanggup, kita bisa, kita punya kesempatan, tetapi kita mungkin bingung dan tidak mengerti mengapa Tuhan menghalangi rencana itu. Jika Allah mencegah, jika Allah berlambat dan tidak memberikan pertolongan pada waktunya, bagaimana kita bersikap?

Menjelang Jumat Agung dan Paskah, kita membaca kisah penderitaan Yesus Kristus di kayu salib, saat Ia menanggung segala sengsara, penderitaan dan dosa kita; saat Ia berseru “Eli, Eli, lama sabakhtani?” yang artinya ”AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” kenapa Allah Bapa tidak menjawab dan mendengar seruanNya? Bahkan kita juga membaca sejak awal dari pelayananNya, ada satu tantangan yang begitu besar pencobaan dari Iblis, “Jika Engkau Anak Allah, ubahlah batu-batu ini menjadi roti.” “Jika Engkau Anak Allah, lompatlah dari bubungan Bait Allah ini, maka Ia akan menyuruh malaikat-malaikatNya untuk menatangMu.” Apa saja yang engkau minta kepadaNya pasti akan diberikanNya, itulah pencobaan Iblis kepada Yesus Kristus. Dalam kondisi lapar dan haus 40 hari 40 malam berpuasa, bukankah Tuhan sanggup dan mampu untuk melakukannya? Tetapi pertanyaannya: apa jadinya jika Yesus melakukan hal itu? Pada saat yang sama Ia sanggup untuk turun dari kayu salib; Ia bisa menolak mati di atas kayu salib dan menjalani penderitaan itu dan bukankah itu juga pencobaan yang diberikan oleh pemimpin-pemimpin agama, “Jikalau Engkau adalah Mesias, Anak Allah, turunlah dari salib. Dengan demikian kami bisa percaya kepadaMu karena itu adalah mujizat Allah yang luar biasa.” Dan saat itu juga mungkin para pemimpin agama ini akan menerimaNya sebagai Mesias yang diutus oleh Allah pada waktu Yesus benar-benar turun dari salib itu. Ia mampu, Ia sanggup. Tetapi pada saat seperti itu kita menyaksikan Allah menunda karya keselamatanNya tiga hari lamanya sebelum membangkitkan Yesus dari kematian itu.

Dalam perjalanan misi yang kedua, Paulus memulai perjalanannya dari Antiokhia, gereja yang mengutusnya, degan tujuan pertama adalah mengunjungi gereja-gereja yang sudah terbentuk di dalam perjalanan misinya yang pertama di Siria dan Kilikia. Dalam Kisah Rasul 16:1-3 di Listra Paulus menemukan seorang muda yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan berdedikasi melayani Tuhan, namanya Timotius, yang berayah seorang Yunani dan ibunya seorang Kristen Yahudi. Paulus hendak membawa dia menyertai Paulus di dalam perjalanan misinya kepada orang-orang Yahudi yang tersebar di berbagai tempat, dan untuk itu Paulus ambil keputusan untuk menyunatkan Timotius supaya pelayanannya bisa efektif dan diterima di tengah-tengah orang Yahudi. Dengan kata lain berarti Paulus mempersiapkan Timotius supaya lebih efektif karena fokus dari pelayanan rasul Paulus adalah bagaimana mencari, menjangkau dan mengabarkan Injil kepada orang-orang Yahudi selama dia berkeliling ke daerah Asia Kecil tsb. Itu rencana Paulus, itu keinginan Paulus. Namun Kisah Rasul 16:4-12 kemudian mencatat Roh Allah mencegah mereka melanjutkan perjalanan misinya ke daerah Asia Kecil. Dua kali disebutkan di bagian ini “Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia…” [Kisah Rasul 16:6], “mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia tetapi Roh Yesus tidak mengijinkan mereka…” [Kisah Rasul 16:7]. Ada planning, ada preparation, ada kerinduan, tetapi Roh Allah mencegah pelayanan misi mereka. Sampai dua kali Roh Allah mencegah mereka, tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk melanjutkan perjalanan ke daerah pedalaman Asia. Memang Paulus juga melayani kepada orang-orang non-Yahudi, tetapi di tengah pelayanan seperti itu Tuhan membukakan visi yang indah dan baru baginya melayani satu bangsa yang berbeda, melayani satu kebudayaan yang berbeda, menuju ke wilayah bangsa Romawi. Paulus berusaha terus berjalan, tetapi tidak bisa lebih daripada yang sudah dijalaninya. Dari sana Paulus berencana untuk melanjutkan perjalanan ke daerah pedalaman tetapi Roh Kudus membuat rombongan ini hanya bisa melintasi daerah Frigia dan Galatia. Mereka melanjutkan perjalanan sampai ke Misia, di daerah yang paling ujung dari Asia Kecil dengan tujuan dari situ mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi kembali Roh Yesus tidak mengijinkan mereka melanjutkan perjalanan seperti planning mereka. Kita tidak tahu bagaimana Allah mencegah mereka. Apakah rencana Paulus untuk melakukan perjalanan misi ke pedalaman Asia terhambat karena dia mengalami sakit keras? Apakah Tuhan memberikan satu pergumulan dalam hatinya? Kita tidak tahu. Yang kita tahu karena hambatan-hambatan itu, Paulus sampai di daerah Troas, daerah Asia yang paling ujung berbatasan laut dengan benua Eropa. Di Troas inilah Tuhan memberikan satu visi yang kita kenal dengan nama “visi Makedonia.”

Tuhan mencegah, Tuhan mengganjal apa yang Paulus ingin kerjakan dan lakukan, bukan dengan satu tujuan mempersempit hidup Paulus dan membuat rencananya gagal, tetapi dengan satu tujuan supaya Paulus membuka matanya melihat visi yang lebih luas. Hal ini tidaklah mudah. Sebab pada waktu dia menjalani visi itu maka dia harus bersiap hati masuk ke satu teritori yang baru. Dalam visi itu dia melihat seseorang dari ujung sebelah sana berseru, “Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami!”  berarti ada kerinduan untuk menerima Injil. Namun sampai di Filipi kita bisa melihat selain ada berkat dari buah pelayanannya satu keluarga seorang kaya bernama Lidia penjual kain ungu menjadi percaya Tuhan dan memulai gereja di Filipi, ada kesempatan dan kemungkinan Injil diberitakan melalui resources yang Tuhan sediakan melaluinya dimana banyak orang menjadi percaya, tetapi di sisi lain, di sini Paulus berbenturan dengan kebudayaan yang berbeda, yaitu dengan sihir tenung dan okultisme. Mengabarkan Injil kepada orang Yahudi memerlukan dialog dan diskusi berkaitan dengan hukum Taurat dan membuktikan bahwa Yesus Kristus adalah Mesias Anak Allah. Sekarang dia menghadapi ladang yang berbeda, orang-orangnya berbeda, cara pendekatannya berbeda. Di Filipi ini ada seorang budak perempuan yang mempunyai roh tenung dan karena tenungannya majikan-majikannya memperoleh penghasilan yang sangat besar dan Paulus membebaskan dia dari roh tenung itu. Tetapi karena mereka tidak lagi mendapatkan penghasilan dari perempuan ini, marahlah mereka dan menangkap serta memfitnah Paulus. Paulus dan Silas ditangkap dan didera lalu dilemparkan ke dalam penjara. Tetapi Tuhan bekerja melalui semua itu mengakibatkan seisi rumah dari kepala penjara bertobat dan menjadi orang percaya [Kisah Rasul 16:16-34]. Maka selain banyak orang menjadi percaya, ada penderitaan dan aniaya yang sangat berat menimpa Paulus. Di dalam keadaan seperti itu Paulus tidak pernah diam, dia terus berjalan mencari pimpinan Tuhan, dia belajar takluk. Di situ dia menyatakan sikap hati yang baik.

Ada saatnya Tuhan mencegah kita, mungkin membuat kita sedikit marah sebab apa yang kita rencanakan dan kita mau tidak tercapai. Tetapi Tuhan mau beri sesuatu yang lebih indah, lebih besar, lebih mulia daripada yang engkau rencanakan. Dan Dia hanya minta engkau melihat hal yang baru, visi yang mungkin tidak pernah engkau pikirkan, kebiasaan yang tidak pernah engkau inginkan. Kadang-kadang Tuhan perlu mencegah langkah kita bukan untuk membuat apa yang kita cita-citakan dan inginkan tidak tercapai, tetapi Tuhan ingin memberikan dan membuka pandangan dan visi yang lebih luas. Dan kadang-kadang di dalam perjalanan kita mau taat kepada Tuhan, kita harus menghadapi situasi yang tidak mudah dan membuat hidup kita menjadi lebih sulit. Tetapi di situ Tuhan akan membentuk dan menggembleng hidup rohani kita lebih matang dan lebih dewasa.

Bagian kedua yang akan kita lihat adalah kisah yang dicatat dalam Yohanes 11 yang memperlihatkan kepada kita Alkitab jelas berkata Yesus sengaja berlambat datang, di dalam peristiwa Lazarus dibangkitkan dari kuburnya. Yohanes 11 dimulai dengan catatan yang menyedihkan, Lazarus, saudara dari Marta dan Maria sedang sakit keras. Marta dan Maria mengirim kabar kepada Tuhan Yesus untuk meminta pertolongan dan kesembuhan dariNya, tetapi reaksi Tuhan Yesus sangat mengherankan. Yohanes 11:6 mengatakan, “Namun setelah didengar Yesus bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat dimana Dia berada.”  Dan ketika pada akhirnya Yesus tiba di rumah Lazarus di Betania, didapatiNya Lazarus sudah empat hari berbaring di dalam kubur (Yohanes 11:17). Ketika Marta dan Maria mendengar kabar bahwa Yesus datang, dari kacamata Marta dan Maria, kedatangan Yesus “is too late.” Yohanes 11:20-21 memperlihatkan dua reaksi berbeda muncul dari dua saudari ini ketika mendengar kabar Yesus datang. Marta segera lari mencari Yesus dan menyatakan protesnya, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Tetapi Maria menyatakan protesnya dengan tinggal di rumah dan menolak menjumpai Yesus. Ini dua reaksi yang sering muncul dari orang yang kecewa, bukan? Ada orang yang menyatakan kemarahan dan kekecewaannya kepada Tuhan dengan terbuka; ada orang yang akhirnya undur dan tidak ke gereja dan tidak lagi berdoa, merasa tidak ada gunanya mencari Tuhan. Tuhan datang sekarang pun tidak akan mendatangkan perasaan eagerness lagi pada diri Maria. Kenapa Yesus sengaja berlambat? Marta dan Maria kecewa sebab Tuhan terlambat sehingga mereka tidak melihat kesempatan melihat kesembuhan dari Tuhan. Tetapi keterlambatan Tuhan, kesengajaan Tuhan bukan bertujuan membuat mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Justru Yesus berlambat datang akhirnya mereka melihat karya dan kuasa Yesus yang lebih besar lagi dengan membangkitkan Lazarus dari kematian. Bukan sesuatu yang alamiah bisa terjadi tetapi sesuatu yang mustahil terjadi. Kesengajaan dari Tuhan Yesus membuat mereka justru melihat dan mendapatkan sesuatu yang lebih ajaib, lebih besar, lebih mustahil, daripada apa yang mereka harapkan.

Pada waktu kita menyaksikan hal seperti ini maka kita belajar akan aspek yang luar biasa pada waktu Tuhan berkarya. Tuhan kadang-kadang berlambat dan sengaja untuk tidak melakukan sesuatu seturut dengan apa yang menjadi kerinduan kita, doa kita dan pengharapan kita. Mengambil keputusan ikut Tuhan, berjalan mengikut Tuhan, di tengah-tengah mungkin orang itu tidak mengerti iman kepercayaan kita, kadang-kadang itu merupakan ujian dan test yang begitu dalam, begitu berat dan tidak gampang untuk menghadapinya. Ada orang bercerita kepada saya pada waktu dia menerima dan percaya Tuhan, tidak berapa lama kemudian dia terkena penyakit kanker yang ganas. Maka keluarga-keluarga yang belum mengenal Tuhan kemudian mengkaitkan penyakit itu sebagai kutukan karena dia meninggalkan kepercayaan yang lama dan percaya kepada Tuhan Yesus. Lalu pada saat yang sama keluar kalimat selanjutnya, “Kalau memang Yesus itu adalah Tuhan yang benar dan hidup, buktikan dengan menyembuhkanmu dari sakit ini.” Hal-hal seperti ini terjadi di dalam hidup kita dan mungkin kita merasa bingung dan confused; kita berdoa dengan sungguh-sungguh berseru kepadaNya memohon pertolongan dan kesembuhan, dan pada saat itu kita menantikan Dia bertindak dan berkarya, namun penantian kita tidak kunjung tiba, seolah-olah Tuhan tidak memberikan pertolonganNya.

Puji Tuhan! Engkau mungkin menantikan kesembuhan tetapi engkau melihat kebangkitan. Engkau mungkin menantikan kesembuhan dan kesembuhan itu tidak datang, tetapi engkau menyaksikan keselamatan dari anggota keluargamu yang paling keras hati melawan Tuhan ketika dia mungkin menyaksikan engkau bergumul menjalani kanker yang engkau minta Tuhan sembuhkan namun Tuhan tidak sembuhkan. Engkau menantikan Tuhan melepaskan engkau dari kebangkrutan tetapi kebangkrutan itu tetap terjadi. Engkau menyaksikan Allah seolah sengaja tidak memberikan pertolongan secara finansial itu, namun anakmu yang terhilang kembali dan boleh menyaksikan ketegaran dari ayahnya dan dia melihat iman itu. Engkau mungkin tidak menyaksikan pertolongan Tuhan menyelamatkan anggota keluargamu yang lain tetapi Tuhan memberikan keselamatan bagi seluruh desamu oleh karena apa yang terjadi di dalam hidupmu. Hal-hal seperti ini membuat kita tidak pernah kecewa, takut dan kuatir bersandar kepada Tuhan.

Yang terakhir, kenapa Tuhan sengaja berlambat, dalam 2 Petrus 3:4-9 Petrus memperlihatkan orang-orang yang tidak percaya mengejek dan berkata, “Dimanakah janji tentang kedatanganNya itu, sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula…” Anak-anak Tuhan yang berada di perantauan diaspora, orang-orang yang mengalami tekanan dan penganiayaan di berbagai tempat menerima surat pastoral Petrus yang memberikan penghiburan kepada mereka. Mereka adalah jemaat yang mengalami penganiayaan, tekanan, dan berbagai kesulitan. Dan di tengah-tengah situasi seperti itu ada kesulitan dan penderitaan yang mereka alami secara eksternal, tetapi ada juga cemoohan dan ejekan yang menjadi pisau sayatan bagaikan sembilu bagi jiwa mereka. Orang itu mungkin tidak memukuli mereka secara fisik mendatangkan sakit yang berat kepada anak Tuhan tetapi mulut yang mencemooh juga sama menyakitkan secara emosi bagi iman anak Tuhan. Maka di sini Petrus memberikan penghiburan kepada mereka yang dalam konteks seperti ini, kepada orang-orang Kristen yang menantikan kedatangan Tuhan, yang menjalani hidupnya dengan tekun dan sabar menghadapi ejekan orang, ‘It still the same, buat apa percaya Tuhan? Kalau engkau mengatakan satu kali tidak percaya maka Tuhan menghakimi, lihat sampai sekarang itu tidak terjadi, bukan? Apa yang Tuhan janjikan kepadamu, Tuhan akan memberikan segala sesuatu yang baik bagimu, engkau tidak dapatkan itu, bukan?’ Ejekan-ejekan seperti itu datang kepada anak-anak Tuhan seperti ini membuat mereka berpikir bahwa mungkin Tuhan memang lalai dan lupa menepati janjiNya?

Kita tidak mungkin bisa “keep in pace with God” karena Tuhan lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Tetapi kadang-kadang kita mungkin lari cepat-cepat mendahului Tuhan, lalu kita juga tidak “keep in pace” dengan Tuhan dan kita protes sebab kita merasa Ia berjalan dengan begitu lambat.

Tuhan kenapa berlambat-lambat? Itulah sebabnya Petrus berkata, “Di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari…” (2 Petrus 3:8). Kita berjalan satu hari selesai, Tuhan berjalan seribu tahun; tetapi seribu tahun kita buat Tuhan menjadi satu hari. Yang kita rasa pelan dan lama, perlu waktu yang panjang untuk mem-build up sesuatu dalam hidup kita, Tuhan bisa merubah itu dalam satu malam. Tuhan tidak pernah terlambat menggenapi janjiNya meskipun Dia mungkin berlambat di dalam memberinya. Artinya pada waktu itu, pada moment itu, itulah waktunya Tuhan. Kenapa Tuhan berlambat untuk datang? Kenapa seolah Dia lalai? Petrus berkata, hal itu terjadi supaya hati kita tidak fokus hanya kepada apa yang kita inginkan saja sehingga kita gagal melihat dengan perspektif Tuhan. Di tengah penderitaan kita yang tidak kunjung selesai, pada waktu kita dihimpit dan dianiaya, kita berlari dan meminta segeralah Tuhan datang, karena kita tahu saat kita bertemu Tuhan, segala masalah, persoalan dan penderitaan akan beres, selesai. Kita tidak mengerti kenapa Tuhan memperpanjang penderitaan kita? Kenapa Tuhan membiarkan kesulitan itu tak henti selesai? Kita bisa ditelan dan overwhelmed dengan semua itu.

Maka Petrus mengingatkan, jangan hanya lihat kesulitanmu, lihat kebutuhan orang lain. Jangan melihat karena engkau mengalami penderitaan waktu Tuhan berlambat, berarti Tuhan tidak mengasihimu lagi. Petrus berkata, “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 Petrus 3:9). Tuhan berlambat supaya orang-orang itu bisa menerima keselamatan.

Ada 4 alasan mengapa Tuhan sengaja berlambat dan tidak segera memberi pertolonganNya. Pertama, tidak lain dan tidak bukan, adalah supaya Tuhan memperluas pandangan kita, visi kita. Kedua, supaya Tuhan menambahkan iman kita lebih taat kepadaNya. Ketiga, untuk memperdalam kesaksian hidup kita real dan nyata di hadapan Tuhan. Karena pada waktu kita berada di dalam hal yang paling berat dan paling mustahil, di situ kita boleh teguh dan bersyukur kepada Tuhan, kesaksian kita adalah kesaksian yang indah di hadapan Tuhan. Dan keempat, menambah rasa belas kasihan compassion kita bagi orang lain.

Pada waktu kita menghampiri hari-hari terakhir kita boleh mengenang penderitaan Tuhan kita Yesus Kristus pada moment-moment seperti ini kita boleh melihat Tuhan dengan indah berkarya dalam hidup kita pribadi lepas pribadi. Bersyukur bagaimana Tuhan bekerja dengan luar biasa indah dan ajaib pada waktu kita menyaksikan salib, di situ orang-orang tidak pernah mengerti bagaimana di dalam kehinaan, penderitaan dan kematianNya Yesus Kristus mendatangkan keselamatan dan kesembuhan bagi kita. Bagaimana di dalam kematianNya Ia justru mematikan kematian dan sengat maut itu. Pada waktu Tuhan bekerja dalam hidup kita Tuhan mungkin juga memberikan kita ketidak-mampuan untuk boleh keluar dari satu persoalan dan kita mengalami kesulitan, kita menangis dan kecewa. Namun pada saat yang sama Tuhan memperkaya kita dengan kesaksian yang indah sehingga pada waktu kita keluar darinya dan menceritakan kepada orang lain, orang hanya bisa berkata “Sungguh Allah ada di tengah-tengahmu.” Itu adalah tangan Allah yang bekerja di dalam hidup kita. Itulah sebabnya kita tidak pernah merasa bahwa Tuhan itu lalai di dalam hidup kita. Kiranya Tuhan memberkati hidup kita masing-masing.(kz)