Kekayaan Hidup Kristen

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Eksposisi Surat 1 Yohanes (15)
Tema: Kekayaan Hidup Kristen
Nats: 1 Yohanes 5:6-21

Hari ini saya akan menyelesaikan seri eksposisi surat 1 Yohanes. Kita tahu kitab ini ditulis oleh seorang hamba Tuhan senior dan tua yang sudah mengalami dengan indah the real fellowship with Jesus. Maka surat ini diawali dengan kalimat, “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman Hidup, itulah yang kami tuliskan kepada kamu” (1 Yohanes 1:1). Yohanes pernah mengalami dengan nyata kehadiran Yesus Kristus, Firman itu dan hidup bersama-sama dengan Dia. Tetapi fellowship itu bukan hanya menjadi milik dia saja, dia mau kita juga mengalami fellowship yang real dengan Allah Bapa dan Allah Anak itu menjadi satu persekutuan yang indah dan intim adanya. Itulah sebabnya surat 1 Yohanes ini ditulis kepada jemaat apa artinya sebuah hidup yang memiliki Kristus. Betapa limpah dan kayanya hidup yang Ia berikan kepada kita.

Pada waktu bicara tentang kekayaan, orang umumnya melihat dan mengukur segala sesuatu dengan ukuran materi. Sehingga pada waktu kita misalnya mengatakan “orang itu kaya,” kita mengukurnya dengan berapa banyak uang dan hartanya, berapa banyak mobilnya, berapa banyak barang berharga yang dia miliki, berapa besar rumahnya, dsb. Bahkan kita bisa melihat di tengah-tengah hidup Kristen kita juga bisa jatuh kepada attitude seperti ini. Maka waktu kita mengirim anak kita sekolah, selalu dengan konsep dia mencapai yang terbaik supaya bisa mendapat pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Jarang orang melihat dan menghargai seseorang itu kaya bukan karena hartanya banyak melainkan dia kaya dengan pengalaman, kaya dengan kemauan, kaya dengan kemurahan hati, kaya dengan komitmen, dsb. Hari ini saya ingin mengajak sdr melihat definisi tentang kekayaan dari aspek seperti ini. Ada semacam orang yang walaupun tidak punya banyak dalam bentuk materi tetapi hatinya begitu limpah dan memperkaya orang lain dengan apa yang dia miliki; sebaliknya ada semacam orang yang punya begitu banyak harta materi tetapi selalu bilang tidak punya apa-apa dan jiwanya begitu miskin dalam memberi.

Dalam 1 Yohanes ini berkali-kali Yohanes menyatakan betapa kaya dan limpahnya hidup orang percaya di dalam Kristus itu dan khususnya di pasal 5 ini Yohanes membukakan kelimpahan kekayaan tsb. “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal. Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya. Dan jikalau kita tahu bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kit minta, maka kita juga tahu bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepadaNya.” Perhatikan dalam ayat-ayat ini Yohanes menekankan kata “engkau telah memiliki,” “engkau telah memperoleh” segala sesuatu di dalam Kristus. Dalam konteksnya firman Tuhan ini diberikan oleh rasul Yohanes di dalam dua hal. Yang pertama, ini menjadi satu warning bagi semacam orang yang pergi ke gereja dan mengaku diri sebagai orang percaya kepada Yesus padahal sebenarnya tidak. Jika kamu memiliki Yesus Kristus, kamu memiliki hidup yang kekal. Sebaliknya jika kamu tidak percaya Yesus, kamu tidak memiliki hidup itu (1 Yohanes 5:12). Di sisi lain, kalimat itu sekaligus juga menjadi penghiburan bagi jemaat yang mungkin ikut Tuhan berjalan bersama Tuhan mengalami berbagai macam tantangan kesulitan, ingin cinta Tuhan, tetapi terus jatuh bangun. Lalu orang ini merasa dia telah kehilangan keselamatan. Maka rasul Yohanes mengatakan memiliki keselamatan, memiliki hidup kekal bukan berkaitan dengan bagaimana kita berusaha, tetapi berkaitan dengan apa yang Yesus sudah kerjakan bagi kita. Itu sebab Yohanes mengatakan kita memiliki keberanian percaya di hadapan tahta Allah karena kita sudah memiliki Kristus dan memiliki hidup kekal itu.

Mungkin orang di luar yang tidak percaya mengatakan enak sekali jadi orang Kristen, hidupnya masih seperti itu, kenapa hanya karena dia menjadi Kristen sudah pasti memiliki hidup kekal dan masuk surga. Mungkin itu menjadi kalimat ejekan orang kepadamu, lalu engkau melihat kepada dirimu dan kalimat itu menegur hatimu, engkau mengaku memang dirimu tidak lebih baik daripada orang lain, meskipun kita berusaha hidup memperkenankan hati Tuhan. Tetapi janji keselamatan dan hidup kekal yang kita miliki bukan karena apa yang kita kerjakan tetapi berdasarkan apa yang sudah Yesus Kristus lakukan dalam karya keselamatanNya bagi kita. Inilah janji firman Tuhan yang kita pegang.

Firman Tuhan berkata bahwa di dalam Kristus kita memiliki segala sesuatu, kita katakan buktinya apa, jaminannya apa? Dalam hidup sehari-hari kita menemukan, kalau ada orang berjanji hanya berdua tanpa ada seorang saksi yang menyaksikan perjanjian itu, lalu kalau salah satu pihak membatalkan janji itu, mau tuntut bagaimana? Maka di dalam transaksi bisnis yang besar selalu dilakukan di hadapan notaris atau dilakukan di depan satu dua saksi karena perlu orang ketiga supaya jelas nanti waktu ada perbedaan, tidak bisa pihak yang satu mengatakan ini, pihak yang satu mengatakan itu di luar daripada apa yang sudah dijanjikan. Maka dalam perjanjian dan kesepakatan sebaiknya ada pihak ketiga yang menyaksikan perjanjian itu. Alkitab memberi prinsip ini sejak jaman Musa [lihat Ulangan 19:15-21] dan demikian juga di dalam Perjanjian Baru, Yesus memberikan prinsip pentingnya kehadiran saksi-saksi untuk mendampingi di dalam menasehati atau mendisiplin jemaat yang sudah jatuh di dalam dosa [lihat Matius 18:15-16], demikian prinsip ini diberikan oleh Paulus kepada Timotius sebagai panduan bagi disiplin gereja [lihat 1 Timotius 5:19]. Maka pada waktu engkau mendengar satu orang membicarakan orang yang lain, jangan langsung terima dan apalagi ikut menyebarkan kepada orang-orang lain, kalau ada dua tiga saksi mengatakan hal yang sama, barulah engkau menerima dan menyelidiki kebenarannya. Ini prinsip Alkitab. Demikian pula di dalam ruang pengadilan, prinsip pentingnya mendengarkan saksi-saksi menjadi bagian yang sangat vital. Dari sini selanjutnya mari kita lihat sama-sama, kalau Allah sendiri memberikan prinsip pentingnya kehadiran saksi itu bagi suatu transaksi atau perjanjian di dalam relasi antara sesama manusia, barulah apa yang diikrarkan dalam perjanjian itu menjadi sesuatu yang sah dan kuat, bisa dibenarkan dan dibuktikan, maka kalau Tuhan Allah sendiri yang berkata dan berjanji, siapa yang menjadi saksiNya? Firman Tuhan berkata, jika engkau memiliki Kristus, engkau memiliki hidup kekal itu. Bagaimana kita bisa memegang janji ini sebagai sesuatu hal yang benar-benar kita yakini sepenuhnya?

“Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air tetapi dengan air dan dengan darah” (1 Yohanes 5:6). Kita menemukan satu hal penjelasan yang luar biasa, the covenant atau janji itu bukan saja dimateraikan dengan air. Kita menyatakan diri sebagai seorang yang percaya kepada Tuhan, lalu kita menerima diri dibaptis dengan air sebagai satu confession kita yang terbuka di hadapan jemaat. Tetapi bukan itu saja, Yesus Kristus memateraikan keselamatan kita bukan saja dengan baptisan air itu, melainkan dengan apa yang telah Ia lakukan di atas kayu salib yaitu dengan materai darahNya sendiri. Hidup kekal yang Kristus berikan bukan melalui baptisan itu melainkan dengan mengalirkan darahNya bagimu. “Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran. Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam surga: Bapa, Firman dan Roh Kudus, dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi]: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu. Inilah cikal-bakal awal suatu pengertian dan pemahaman siapakah Allah Tritunggal yang luar biasa di dalam Alkitab kita. Kita memahami Allah adalah esa, Allah itu satu, Allah yang tunggal, Allah yang monoteistik. Tetapi Allah yang esa dan satu itu menyatakan diriNya dalam tiga pribadi, Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus; tetapi ini bukan tiga Allah. Ini adalah misteri yang luar biasa mengagumkan. Ini hanya bisa kita tahu sebab Allah sendiri yang menyatakan diri kepada kita. Manusia sulit sekali memahaminya, tidak gampang dan tidak mudah. Kadang-kadang kita mungkin bertemu dengan orang yang meminta penjelasan mengenai Allah Tritunggal, bagaimana mungkin 1=3 dan 3=1? Mungkin konsep triteisme dari agama Hindu mereka bisa lebih mengerti, ada tiga dewa yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa, masing-masing dengan fungsinya. Dan kaum muslim pun sulit sekali menerima Allah Tritunggal ini. Bagaimana bisa 1+1+1=1? Itu mungkin seringkali menjadi argumentasi mereka. Saya menjelaskannya dengan cara sederhana: karena Allah kita itu Roh adanya, kita tidak memahaminya seperti sistem penambahan penjumlahan dalam dunia materi jika kita membicarakan tentang Allah yang Roh adanya. Maka pada waktu kita ingin menjelaskan mengenai Allah Tritunggal, kita bisa memakai ilustrasi seperti ini: saya punya 3 apel, satu saya berikan kepada A, satu saya berikan kepada B, tinggal berapa apel saya? Jawabnya, tinggal 1 apel. Tetapi kalau saya mempunyai 3 ide, satu saya berikan kepada A, satu saya berikan kepada B, tinggal berapakah ide saya? Jawabnya bisa 3, bisa 5, karena ide yang saya berikan kepada A dan kepada B tidak akan membuat ide yang ada pada saya menjadi berkurang. Maka jawabnya saya masih punya 3 ide dan ada 5 ide karena setelah saya beri kepada A, ide itu juga ada pada A, dan setelah saya beri kepada B, ide itu juga ada pada B. Allah kita adalah Roh adanya, tidak boleh dimengerti seperti hal materi karena roh adalah non-materi.

“Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam AnakNya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup” (1 Yohanes 5:11-12). Jikalau engkau percaya kepada Yesus Kristus, engkau memiliki Yesus Kristus, Dia yang sudah mati bagimu, Dia telah menanggung dosa-dosa kita. Dan bukan saja Dia menjanjikan kematianNya di atas kayu salib menyucikan segala dosa kita, Dia memulihkan hubungan kita dengan Allah Bapa. Dan bukan itu saja, Ia yang dari surga itu memberikan segala janji dan berkat dari surga bagi engkau dan saya, dan terutama karena Ia hidup selama-lamanya, kita yang menjadi milikNya akan memiliki hidup yang kekal selama-lamanya. Ini janji Tuhan, dan firman Tuhan mengatakan ada tiga saksi yang menyaksikan janji itu. Waktu Tuhan sendiri berjanji, maka ada 3 Pribadi, Bapa, Firman dan Roh yang mengatakan benar demikian, ya dan amin! Itulah sebabnya firman ini menjadi kekuatan bagi kita, kita sudah menjadi milik Kristus dan kita sudah memiliki hidup kekal itu.

Kemudian rasul Yohanes memberikan konsep bicara mengenai doa dalam dua aspek penting. Pada waktu kita mungkin tidak bisa melihat dengan mata jasmani apa yang sudah kita miliki di dalam Kristus karena kita masih berada di dunia ini. Ia menjanjikan hidup yang kekal namun kita tetap menghadapi sakit dan kematian; Ia menjanjikan segala kelimpahan kekayaan surgawi namun kita tetap hidup di dalam kesusahan, kekurangan dan penderitaan. Tetapi waktu kita datang kepadaNya dan membawa doa-doa kita menyatakan kita perlu dan butuh, betapa indah sekali ayat 15 ini mengatakan kita harus memiliki sikap hati kita sudah memperoleh segala sesuatu.

Jadilah seorang Kristen yang selalu tahu di dalam Tuhan kita sudah memiliki segala sesuatu dan hati kita contentment dan puas. Senantiasa ingat kita adalah anak-anak Tuhan yang telah menerima segala kelimpahan dan sukacita itu sehingga kita akan menjadi orang Kristen yang memiliki hati yang berlimpah di hadapan Tuhan. Kita bisa jatuh miskin secara materi, tetapi jiwa yang tidak pernah merasa diri miskin, itu adalah our spiritual attitude di hadapan Tuhan. Dengan kelimpahan spiritual attitude ini salah satu contoh yang sangat konkrit diberikan di bagian firman Tuhan ini selain kita di-encouraged untuk berbagi dengan orang miskin, misalnya, kita dipanggil untuk memiliki hati yang kaya dengan pengampunan dan mendoakan orang lain. Maka di sini Yohanes memanggil kita untuk menjadi pendoa-pendoa syafaat berdoa bagi orang lain dan bukan melulu bagi diri sendiri.

“Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya…” memang tidak terlalu jelas kaitan dari dosanya kepada siapa dan seberapa dalam kesalahan dan dosanya, tetapi orang yang kaya hidup rohaninya adalah orang yang tahu bahwa orang yang bersalah kepadanya tidak pernah membuat dia tidak mendoakan orang itu. Ini adalah satu sikap rohani yang penting dan baik sekali yang perlu kita praktekkan dalam hidup kita. Banyak hal kesulitan kesusahan orang kita lebih gampang dan lebih mudah membicarakannya dan membesar-besarkannya tetapi mungkin sangat tidak mudah untuk mendoakannya. Bring to the Lord. Itu hanya bisa terjadi kalau orang itu memiliki hati yang limpah dan kaya di hadapan Tuhan. Bawalah semua yang ada dalam hatimu kepada Tuhan dalam doamu, mintalah seturut dengan kehendakNya. Orang suka bertanya, lalu apa itu kehendak Tuhan? Saya rasa jangan bertanya seperti itu. Lebih baik kita bertanya apakah kita mempunyai kerinduan menjalankan kehendak Tuhan? Itulah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam “Doa Bapa Kami,” jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga. Itulah kerinduan seorang anak Tuhan yang tahu dan ingin kehendak Tuhan itu nyata di dalam dunia ini seperti di surga. Kita tidak boleh mengatakan dunia ini penuh dengan dosa, aku ingin cepat-cepat ke surga saja. Anak Tuhan yang baik dan cinta Tuhan akan senantiasa ingin meminta kepada Tuhan, let the beauty of heaven itu nyata di dalam dunia ini.

Ada satu hal yang mungkin mengganjal hati kita karena firman Tuhan mengatakan ada satu hal atau satu kondisi yang untuk itu anak Tuhan tidak perlu mendoakannya. “Ada dosa yang mendatangkan maut dan tentang itu tidak kukatakan bahwa ia harus berdoa” (1 Yohanes 5:16b). Apa maksud rasul Yohanes di sini bahwa kita tidak harus berdoa bagi orang yang jatuh ke dalam dosa yang mendatangkan maut? Bukankah bahkan Tuhan menyuruh kita berdoa bagi musuh kita dan orang yang menganiaya kita? Apa itu dosa yang mendatangkan maut? Kita tidak jelas mengerti dosa apa yang dimaksudkan Yohanes ini “semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut” (1 Yohanes 5:17). Namun kelihatannya jemaat yang menerima surat ini mengerti apa yang Yohanes maksud dengan “dosa yang mendatangkan maut” tsb. Ada tafsiran mengatakan ini adalah sejenis dosa membunuh orang, tapi saya rasa tidak, karena banyak pembunuh yang Tuhan ampuni, termasuk rasul Paulus misalnya. Tafsiran lain mengatakan ini adalah dosa murtad, yaitu orang yang sebelumnya mengaku percaya Yesus, yang sungguh-sungguh sudah diselamatkan dan kemudian meninggalkan imannya. Tetapi kita percaya seorang yang sungguh-sungguh percaya Kristus tidak mungkin akan berlaku murtad. Dan kalau ada orang yang kecewa dan meninggalkan gereja justru malah kita harus mendoakan orang itu, bukan? Tafsiran ketiga mengatakan ini adalah dosa menghujat Roh Kudus, yang di bagian lain dikatakan sebagai “dosa yang tidak bisa diampuni” (Matius 12:31). Tafsiran keempat ini adalah dosa yang dilakukan orang yang menganiaya Kekristenan, saya kurang setuju karena dari kalimat Yohanes mengatakan, “Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa…” berarti di sini bicara tentang orang yang sudah berada di dalam lingkungan Kekristenan, bukan tentang orang luar yang menganiaya jemaat. Kelima, ada yang menafsir ini adalah jenis dosa yang dilakukan seseorang Kristen yang akhirnya membuat dia meninggal atau mati secara fisik [di Alkitab kata mati bisa mengacu kepada mati fisik, bisa juga kepada mati secara rohani]. Maka Yohanes bicara mengenai kemungkinan seorang Kristen yang melakukan dosa sedemikian sehingga Tuhan menghukumnya dengan kematian, misalnya dalam kasus Ananias dan Safira dalam Kisah Rasul 5 dan beberapa jemaat di Korintus yang menjadi sakit dan meninggal karena disiplin Tuhan, (1 Korintus 11:28-30). Saya mengambil posisi ini adalah orang-orang yang mengalami “eks-komunikasi” dari gereja sebab memang hidupnya, perlakuannya, persepsinya mengenai Tuhan Yesus sudah sangat menista dan menghina Tuhan. Dan ini dinyatakan dengan kelakuan hidupnya dan ini dinyatakan dengan anger dan hatred, kemarahannya, kebenciannya, sikap hatinya yang tidak percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Berarti ini adalah orang yang sudah dibaptis, sudah ikut pelayanan, sudah ikut perjamuan kudus, tetapi kemudian menjadi satu nuansa kerusakan di dalam kehidupan bergereja melalui sikapnya yang mencintai dosa dan tidak mau bertobat. Lalu kemudian gereja mengatakan kita “cut off” orang seperti itu melalui disiplin gereja. Ini yang dibicarakan Paulus di Korintus dimana Paulus “menyerahkan orang itu kepada Iblis sehingga binasa tubuhnya agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan” [1 Korintus 5:5], tetapi Paulus dalam kasus lain mengatakan “di antaranya Himeneus dan Aleksander yang telah kuserahkan kepada Iblis supaya jera mereka menghujat” [1 Timotius 1:20] menunjukkan dosa mereka begitu besar dan dahsyat sehingga tidak ada pengampunan lagi bagi orang-orang ini. Karena mereka sudah menghina Tuhan dan tidak lagi melihat keselamatan itu sebagai satu-satunya jalan keluar baginya tetapi selalu dia hina.

Terakhir, ayat 21 Yohanes memberi nasehat penutup ini, “Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.” Kenapa? Ini adalah satu warning yang penting sekali. Engkau telah memperoleh segala sesuatu yang paling berharga di dalam Tuhan Yesus Kristus. Engkau sudah memperoleh hidup yang kekal, jangan jual itu. Mungkin dalam perjalanan ikut Tuhan engkau tidak mendapatkan semua yang engkau inginkan, tetapi jangan ganti Tuhan dengan berhala, dengan kesuksesan, uang, keserakahan, apapun. Jikalau engkau sudah memiliki Kristus, Dia yang kaya itu rela menjadi miskin supaya Dia memperkaya hidupmu. Pulanglah hari ini dengan kelimpahan kekayaan, dengan satu sikap yang tidak habis-habisnya bersyukur dan contentment, waktu ditanya apakah engkau punya, jawablah ya, aku sudah punya. Waktu, kesempatan, talenta, karunia, hati yang passionate, bahkan uang dan harta, semua engkau dapat dari Tuhan dan engkau dengan sukacita berikan kembali bagi Tuhan. Jangan selalu datang mau minta dan terus minta sesuatu dari Tuhan dan merasa tidak punya apa-apa. Bahkan waktu orang mengambil, orang merebut milikmu, orang melukai hatimu, apakah engkau doakan orang itu? Ya. Itulah keindahan dari the richness of the Christian life. Itulah kekayaan kita sebagai orang Kristen. Biarlah kekayaan kelimpahan Kristus itu berdiam di dalam hati setiap kita.(kz)