1 Cross + 3 Nails = 4Given

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: 1 Cross + 3 Nails = 4Given
Nats: Roma 8:1, 1:18-2:15, Ibrani 12:1-2

Hari ini saya ingin mengajak kita sekalian melihat lebih dalam apa arti penebusan dan pengampunan dalam Kristus itu. Paulus berseru dengan sukacita, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus!” (Roma 8:1). Tidak ada kata yang lebih indah dan tidak ada kelegaan dalam hati dan tidak ada sukacita yang lebih lagi daripada seseorang yang sudah ditekan dan dihimpit oleh rasa bersalah, pada waktu dia datang menghampiri Tuhan dengan rasa malu dan tidak layak, namun bukan wajah yang keras, kemarahan yang membakar, dan kalimat teguran yang tajam serta sindiran yang pedas ditimpakan kepadanya. Pada waktu dia datang dengan merendahkan diri, mengakui kesalahannya dan meminta pengampunan, Allah mengatakan, “Aku mengampuni kesalahanmu. You are forgiven.”

Namun sebelum kita bisa menghargai anugerah penebusan dan pengampunan Allah itu, kita perlu memahami berapa seriusnya dan berapa dalamnya dosa dan kerusakan yang terjadi akibat dosa.

Saya ingin memberi 3 contoh kasus kesalahan dosa yang dilakukan untuk memperlihatkan pemberesan terhadap suatu dosa dan kesalahan tidak bisa terjadi dengan hanya meminta maaf belaka.

Kasus pertama, seseorang melakukan vandalisme dengan mencoret lukisan Monalisa dengan spidol. Setelah itu dia menyesal dan berusaha menghapus coretan itu dan minta maaf kepada pemilik lukisannya. Perlukah dia mengganti lukisan itu? Perlukah dia ditangkap dan dikurung di penjara? Dia tidak bisa menyelesaikannya dengan menghapus begitu saja, seperti kesucian dan kebenaran Allah sudah di-vandalised dan dicoret-coret.

Kasus kedua, seseorang mencuri dompet orang lain, dan setelah pemiliknya melaporkan ke polisi, orang itu mendatanginya dan mengembalikan dompet itu tanpa mengambil uang yang ada di dompet itu sambil meminta maaf dan minta berdamai kepada pemilik dompet itu. Apakah setelah minta maaf dan mengembalikan dompet itu, lalu urusan menjadi selesai? Tidak. Karena dia harus menyelesaikan tuntutan hukum karena dia sudah mencuri.

Kasus ketiga, seseorang menculik wanita yang sedang mengandung 7 bulan, mengeluarkan bayinya dengan paksa, memperkosa bayi itu sampai mati dan memperkosa ibunya berkali-kali. Orang itu kemudian menyesal dan minta maaf kepada wanita tsb.

Apakah kasus-kasus ini bisa dibereskan dan diselesaikan dengan klausal dan cara dari pelaku kesalahan tsb? Tidak bisa, bukan? Tindakan yang mereka lakukan adalah tindakan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan meminta maaf dan kalau pun korban menerima penyesalan dan permohonan maafnya, kasus itu tetap harus diselesaikan dengan hukum dan aturan yang berlaku. Maka dengan cara apa kesalahan mereka bisa ditebus, diselesaikan dan diampuni? Apa ganjaran hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka, yang seturut dengan besar dan beratnya pelanggaran yang telah mereka lakukan? Apa ganjaran yang kita rasa paling adil seadil-adilnya bagi mereka? Bisakah dengan uang milyaran membayar ganti nyawa yang telah dihilangkan dengan paksa? Hukuman matikah? Siapa yang bisa menyelesaikan keadilan itu?

Banyak kali kita melihat dosa dengan persepsi yang dangkal dan meremehkan kerusakan total yang terjadi akibat dosa, sehingga kita tidak memahami dengan dalam bahwa tidak ada cara lain, tidak ada jalan lain, tidak ada usaha lain yang bisa dilakukan untuk membereskan dosa itu selain Yesus Kristus datang ke dunia, mencurahkan darahNya yang suci, mati disalib untuk membereskan persoalan dosa ini. Dalam Roma pasal 1-3 Paulus dengan jelas memperlihatkan dosa dan pelanggaran itu adalah urusan vertikal manusia dengan Allah Penciptanya. Roma 1:18 berkata, “The wrath of God is revealed from heaven against all ungodliness and unrighteousness of men.” Sebab murka Allah nyata dari surga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia. Pada waktu kita bertemu dengan kata “murka” Allah, kita senantiasa harus ingat bahwa murka Allah tidak boleh disamakan dengan murka atau kemarahan yang destruktif dan uncontrollable yang seringkali kita lakukan ketika kita amat sangat marah, kesal dan penuh dengan kebencian. Murka manusia adalah reaksi emosi karena kita terganggu. Tetapi murka Allah itu terjadi karena sesuatu yang melawan natur kesucian dan kekudusanNya, yang tidak bisa melihat dosa setitikpun di hadapanNya. Saya mencoba mengilustrasikan itu seperti kabel listrik arus positif yang saat bersentuhan dengan kabel yang arus negatif pasti menghasilkan reaksi percikan api karena konslet. Kita tidak bisa mengatakan tidak boleh terjadi reaksi seperti itu karena memang itu adalah naturnya. God’s holiness and God’s righteousness tidak bisa tidak pada waktu setitik saja kekotoran dosa dan ketidak-benaran ada di hadapanNya, itu akan menghasilkan reaksi murka Allah.

Dosa bukan sekedar mengganggu dan melanggar hak orang lain; dosa tidak boleh dilihat hanya dalam relasi yang horizontal antara sesama manusia. Suka tidak suka, mengakui atau tidak, kita harus bertanggung jawab kepada orang lain dan bertanggung jawab kepada Tuhan. Dosa terutama harus dilihat dalam relasi vertikal, pelanggaran itu manusia lakukan kepada Allah. Dosa adalah vandalisme terhadap kesucian dan kekudusan Allah. Paulus memperlihatkan inilah dua inti dasar dari dosa manusia yaitu kefasikan [ungodliness] dan kelaliman [unrighteousness].

Yang pertama, kefasikan atau ungodliness itu dilakukan orang “supressed” kebenaran itu, orang itu menekan, orang itu tidak mau tahu, itu tindakan yang pertama, to ignore the existence of God. Orang itu mengatakan, “Hidup saya urusan saya sendiri, saya tidak mau peduli dengan Tuhan dan Tuhan juga tidak usah ikut campur dengan hidup saya…” Dia tidak peduli akan Allah, bahkan menghina keberadaanNya.

Yang kedua, orang itu mengganti Allah yang mulia dengan gambaran mengenai allah yang berbeda, berarti menurunkan standar derajat kemuliaan Allah dengan memberhalakan hal-hal yang lebih rendah.

Di sini Paulus mengatakan mereka tidak bisa mempunyai alasan untuk mengatakan bahwa mereka tidak mengenal Tuhan. Tuhan layak marah sebab Tuhan sudah memperlihatkan kemungkinan manusia menyadari ada Tuhan tetapi manusia tidak mau mengakuiNya. Kedua, ketidak-inginan manusia mengakui adanya Tuhan bukan sebab pengenalan akan Tuhan tidak ada tetapi karena manusia menindas kebenaran dan menolak keberadaan Tuhan. Roma 1:19 mengatakan, “Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.”

Dan dalam Roma 2:15 Paulus mengatakan Tuhan menciptakan manusia dan menaruh satu elemen di dalam diri manusia, itu yang memang adalah bagian yang ada pada dirimu tetapi bukan milikmu semata, dan engkau tidak bisa menguasainya sepenuhnya. “…suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela…” Kita punya tangan, kita bisa atur tangan itu melakukan apa yang kita inginkan; kita punya segala anggota tubuh yang bisa kita atur dan kontrol. Tetapi ada satu elemen yang ada pada diri kita yang sesunggguhnya tidak bisa kita atur, kontrol dan tekan karena dia tidak menjadi milik kita sepenuhnya. Itu adalah hati nurani kita. Hati nurani memiliki dua fungsi: dia bisa menjadi pembelamu yang membenarkan engkau dan sekaligus dia menjadi penuduh yang menunjukkan kesalahanmu dan melawan engkau. Kita bisa menenangkan dan membungkam hati nurani tetapi satu kali kelak dia akan berdiri di hadapan Tuhan menuduh engkau, karena itulah satu suara, sesuatu dalam diri manusia yang Tuhan beri kepada setiap kita. Itulah yang John Calvin katakan sebagai “sensus divinitatis,” atau the seed of religion, benih agama yang Allah taruh di dalam hati manusia. Suara hati itu menegur dan mendesak kita bahwa ada “Sesuatu” yang patut kita hormati dan takluk kepadaNya, dan ada standar moralitas yang lebih tinggi daripada standar moralitas kita. Maka Paulus memperlihatkan hukum Allah telah tertulis di dalam hati manusia sekalipun mereka belum memiliki hukum yang tertulis yang diberikan oleh Musa kepada mereka. Itu semua manusia tahu tetapi manusia tetap tidak sanggup bisa melakukan itu semua dalam hidup mereka. Itulah artinya manusia berdosa dan bersalah di hadapan Allah. Paulus mengatakan bahwa tidak ada satu pun orang yang benar, orang yang sanggup bisa melakukan hukum Taurat itu, tidak sanggup bisa sampai kepada standar dari moralitas yang Allah berikan itu, maka di hadapan Allah kita semua berdiri sebagai orang yang berdosa dan bersalah. Kita tidak bisa menolak dan menghindar dari tahta pengadilanNya untuk mempertanggung-jawabkan hidup kita di hadapan Allah Pencipta kita. Pertanyaannya: bagaimanakah engkau dan saya bisa memperoleh pengampunan itu? Puji Tuhan! Pengampunan itu kita peroleh di dalam Yesus Kristus. Hari ini kita melihat betapa dalam dan betapa kaya karya pengampunan yang kita terima ketika kita menjadi orang percaya. Dengan memahami aspek-aspek ini saya rindu setiap kita lebih menghargai apa yang telah Yesus Kristus lakukan di atas kayu salib bagi kita.

Pertama, PROPITIATION atau jalan pendamaian.

Roma 3:25 berkata, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian di dalam darahNya…” [Kata yang sama juga muncul dalam 1 Yohanes 2:2]. “Propitiation” adalah satu kata yang penting di dalam Alkitab kita, Yesus Kristus adalah jalan pendamaian bagi dosa-dosa kita. Kematian Yesus Kristus di kayu salib memuaskan tuntutan kesucian dan keadilan Allah. Allah bereaksi karena kesucianNya dan kebenaranNya yang dilanggar, dan tidak ada satu pun yang bisa menggantikannya dengan cara dan standar aturan sendiri membereskannya, kecuali Allah sendiri yang menawarkan pemberesan itu dengan memberikan standar dan aturanNya yaitu hanya Anak Allah Yesus Kristus yang sanggup dan bisa memuaskan murka itu karena Ia adalah memiliki kesucian dan kebenaran yang setara, bukan orang suci atau sekelompok manusia yang manapun yang dikumpulkan sama-sama kesucian dan kebenaranNya. Kesucian dan kebenaran Allah hanya bisa dipuaskan ketika yang memberikan korban dan menebus kita adalah Anak Allah yang memiliki hidup yang tidak terbatas adanya. Itulah sebabnya Kristus harus datang ke dalam dunia, Ia tidak kita kenal hanya sebagai nabi atau pendiri satu agama saja tetapi Ia adalah Anak Allah yang datang ke dunia. Ia adalah 100% Allah dan 100% manusia. Pada waktu Ia menebus kita di kayu salib, Ia menjadi Perantara atau Mediator bagi kita. Allah yang punya kebenaran dan kesucian itu, atas kehendakNya menjadikan Yesus Kristus sebagai jalan pendamaian oleh darahNya sebagai cara yang sah dan satu-satunya yang berkenan kepadaNya.

Kedua, REDEMPTION atau penebusan.

Redemption atau penebusan artinya satu tindakan untuk membayar sesuatu harga, dengan cara itu tebusan itu terjadi. Sama seperti kita menggadaikan satu barang di toko gadai, kita harus membayar seberapa harga yang dituntut untuk melunaskannya sebelum kita dapat mengambil barang itu menjadi milik kita kembali. Alkitab mengatakan, “Upah dosa adalah maut” (Roma 6:23). Harga yang dituntut oleh dosa adalah kematian. Bagaimana saya membayar “price” atau harga ini? Satu-satunya cara saya membayarnya adalah saya mati untuk tuntutan dari hukum dosa ini. Puji Tuhan! Yesus Kristus tidak menjadikan kematian itu sebagai satu upah yang kita terima, tetapi Dia ambil itu menjadi penebusanNya supaya engkau dan saya yang percaya tidak binasa selama-lamanya. Itulah artinya “Jesus is our Redeemer.” PenggantianNya boleh dan sanggup bisa menyelesaikan dan membayar lunas hutang dosa kita di hadapan Allah karena Anak Allah Yesus Kristus memiliki hidup yang tidak dapat binasa atau yang tidak terhingga.

Ketiga, JUSTIFICATION atau pembenaran.

Kata “Justification” adalah satu istilah dalam hukum pengadilan yang berarti kita telah dibenarkan dalam darahNya karena semua tuntutan itu sudah Dia bayar lunas dan kita kemudian di-declared sebagai orang berstatus “benar” di hadapan Allah. Yesus Kristus menjadi Pembela kita di hadapan Allah, Hakim yang agung, di depan tahta pengadilanNya karena segala tuntutan kebenaran dan kesucian Allah sudah Dia penuhi oleh kematianNya di kayu salib. Tuntutan itu lunas Ia bayar. Akibatnya apa? Status orang itu tidak lagi menjadi orang berdosa, dia tidak lagi menjadi terdakwa, melainkan orang yang telah dibenarkan dari segi legalitasnya. Maka Justification dalam penebusan Kristus menjadikan status dan posisi kita dinyatakan benar di hadapan Allah.

Keempat, RECONCILIATION atau perdamaian dengan Allah.

Ini adalah satu kata yang begitu indah karena berarti bukan hanya Allah membenarkan kita tetapi Ia juga merestorasi hubungan kita yang tadinya adalah musuh dan seteru Allah, Ia mengadopsi kita menjadi anak-anakNya dan mengijinkan kita memanggil Dia sebagai Bapa kita dan kita boleh memiliki relasi yang benar dan baik denganNya. Kita dipulihkan dan kita boleh mendekat kepadaNya.

Ibrani mengingatkan kita bahwa kita sudah memiliki jalan masuk yang bebas di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kapan saja kita boleh datang kepadaNya oleh sebab kita sudah memiliki akses yang langsung kepada Bapa melalui Yesus Kristus, Imam Besar dan Pengantara kita. Dengan penuh keberanian kita boleh menghampiri tahta kasih karuniaNya dan menerima kekuatan dan pertolongan di dalam Kristus Yesus (Ibrani 4:14-16).

Mungkin banyak di antara kita yang memiliki hubungan yang kurang baik dengan orang lain oleh karena pertengkaran dan konflik yang menyebabkan hubungan itu menjadi putus dan rusak, dan mungkin membuat engkau sulit dan perlu proses yang panjang untuk saling memaafkan dan mengalami rekonsiliasi dengan orang itu. Tetapi penebusan Kristus yang telah membuat kita berdamai dengan Allah juga memanggil kita untuk berdamai dengan sesama. Penebusan Kristus membuat hati kita memiliki kerinduan untuk memperbaiki persekutuan fellowship dan bersama-sama sebagai orang yang sudah berdosa di hadapan Tuhan datang berdamai satu dengan yang lain.

Kelima, EXPIATION atau pembasuhan dari segala noda dosa.

Ibrani 9:14 mengatakan, “Betapa lebihnya darah Kristus yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.” Ini adalah aspek ke lima dari pengampunan yang Yesus Kristus berikan bagi kita, to purify our conscience from fead works to serve the living God.

Puji Tuhan! Orang berdosa sejahat apa pun, orang yang telah melakukan tindakan yang paling keji dan paling destruktif sekali pun, orang yang di dalam kejahatannya mungkin telah menyiksa dan membunuh begitu banyak orang, seperti penjahat yang disalib di sebelah Tuhan Yesus di atas bukit Golgota, saat dia datang memohon pengampunan dan anugerah dari Kristus, darahNya mengampuni segala dosa orang itu. Penebusan Kristus bukan saja membereskan hutang dosa kita dengan Yesus Kristus mati bagi kita, tetapi juga membersihkan hati kita dari segala noda dosa. Di dalam Kristus kita menerima hidup yang baru, kita adalah ciptaan baru. Memang kita tidak bisa menghapus masa lalu kita begitu saja, kita tidak bisa memungkiri hidup lama kita sebelum mengenal Tuhan, apalagi jikalau akibat dari perbuatan dosa kita menghasilkan efek kerusakan yang permanen kepada orang lain. Kita tidak bisa menghapus tattoo yang merambah tubuh kita; kita tidak bisa menghapus catatan hidup yang mengalami addiction. Tetapi tidak berarti hidup orang yang sudah ditebus Tuhan itu sudah tamat selesai begitu saja. Sekarang dia tidak lagi berjalan di jalan yang sesat dan salah dan setiap tattoo itu senantiasa mengingatkan pengampunan dan pembasuhan Tuhan atas dosa-dosanya. Kita tidak boleh melihat dan menghakimi tattoo itu, tetapi kita menghargai betapa besar karya pengampunan Tuhan baginya. Dia boleh berkata seperti rasul Paulus, “Aku dahulu adalah seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihaniNya …” (1 Timotius 1:13-16).

Kita mungkin lebih mudah memaafkan orang lain tetapi mungkin kita tidak mudah memaafkan diri sendiri dan kita tidak bisa melepaskan diri dari rasa bersalah yang bisa menyengat hati kita sewaktu-waktu sehingga kita tidak bisa menikmati kasih dan pengampunan Tuhan sepenuhnya. Kita mengingat-ingat dosa dan kesalahan kita yang dahulu bukan untuk jatuh kembali kepada kesalahan yang sama tetapi untuk senantiasa mengingat dan menghargai betapa besar anugerah Tuhan di dalam hidup kita. Kristus telah mengorbankan diriNya sebagai korban yang tidak bercacat dan darahNya membersihkan hidup kita. Orang yang sudah ditebus oleh Tuhan, yang telah menerima pengampunanNya, hari ini engkau adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu dan yang baru akan datang. Setelah engkau menjadi ciptaan baru di hadapan Tuhan, jangan lagi menulis sejarah kelahiran barumu penuh dengan guilty feeling, dengan merasa Tuhan belum sepenuhnya mengampunimu; jangan lagi menulis di dalam buku diary kehidupan manusia baru itu dengan senantiasa mengingat hidupmu yang lama dengan penuh penyesalan karena Tuhan sudah membersihkan dengan tuntas segala dosamu.

Kita semua datang membawa banyak sekali beban dan dosa yang begitu merintangi kita dan “baggage” kesalahan dan dosa yang mungkin selama ini senantiasa tidak pernah bisa kita tanggalkan dan lepaskan karena penuh oleh rasa bersalah di dalam hati kita. Hari ini Tuhan memanggil kita untuk melepaskan semua itu sehingga kita bisa berlomba dengan tekun di dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita untuk kita jalani [lihat Ibrani 12:1-2]. Mungkin kita tidak mengalami perasaan itu karena kita tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikan orang lain secara dahsyat, tetapi kalau ada di antaramu yang hari ini begitu ditekan oleh rasa bersalah yang begitu besar atas perbuatanmu di masa lampau yang engkau rasa tidak akan pernah mendapatkan pengampunan dari Tuhan, hari ini jikalau engkau datang kepadaNya dengan terbuka, engkau akan menerima anugerah pengampunan dan pelepasan dari segala rasa bersalah yang selama ini menindihmu. Tidak ada dosa sebesar apapun yang tidak bisa diampuni oleh darah Kristus yang mahal dan berharga itu. Kiranya Ia memulihkan engkau pada hari ini.(kz)