The Heart of Worship Renewal

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri Khotbah Theology of Worship (3)
Tema: The Heart of Worship Renewal
Nats: Kisah Rasul 7:54-60; 12:1-11; 13:1-3

Sebagai anak Tuhan, sebagai hamba Tuhan, setiap mengawali tahun yang baru, amat penting bagi setiap kita yang ingin berjalan di dalam kehendakNya memakai waktu bersama Tuhan untuk meminta Tuhan membukakan visiNya bagi kita, apa yang menjadi kehendakNya bagi dan melalui hidup kita bagi kerajaanNya, bagi pelayanan InjilNya, bagi gerejaNya, bagi diri kita secara individu dan bagi keluarga kita masing-masing. Dengan demikian kita akan menjadi anak Tuhan dan hamba Tuhan yang peka dengan visi yang Tuhan bukakan, dengan panggilan yang Ia berikan, dengan pelayanan yang Ia percayakan, dan di situ Tuhan kita boleh permuliakan.

Saya bersyukur kepada Tuhan, bukan saja personal worship yang kami alami di dalam hidup kami sebagai hamba Tuhan, kita juga boleh melihat bagaimana Tuhan “shape” kehidupan keluarga kami, bagaimana kita mengadakan “spiritual talk” yang indah di antara anak-anak yang ada di dalam kehidupan keluarga kami, bagaimana kita bertemu dengan orang dan bagaimana kita belajar untuk melihat setiap pergumulan dan kesulitan yang dialami oleh mereka kembali fokus kepada Tuhan. Pada waktu kita mendiskusikan banyak hal dalam hidup kita, betapa kaya dan betapa banyak subjek yang bisa kita diskusikan tidak ada habis-habisnya. Tetapi diskusi dan interaksi kita tidak boleh hanya sampai di situ, mari kita arahkan dan kita bawa dengan melihat bahwa Tuhan “involve in,” Tuhan care dan Tuhan “in control,” Tuhan campur tangan dalam segala sesuatu yang kita bicarakan. Saya mungkin tidak bisa menyelesaikan persoalan hidupmu, tetapi kita senantiasa membawanya kepada Tuhan dalam doa.

Awal tahun ini di dalam kehidupan pribadi saya, saya juga bertanya dan meminta kepada Tuhan, “Lord, give me Your vision. Berilah visiMu Tuhan, bagi saya.” Namun visi yang kita minta bukanlah melihat secara mistis dan misterius tetapi selalu membawa dalam doa kepada Tuhan apa yang Tuhan inginkan dan mau bagi kita secara pribadi. Saya percaya saya bukan mencari visi yang baru, bukan menuntut sesuatu yang spektakular dari Tuhan, tetapi justru Tuhan membawa saya merenungkan bagian-bagian firman Tuhan dimana Tuhan memperlihatkan visiNya di situ.Maka selama beberapa bulan ini saya menggumulkan visi yang Tuhan berikan di dalam kitab Kisah Para Rasul.Tuhan membukakan bahwa ternyata tidak setiap saat Tuhan menyatakan visi.Ada kalanya saat menghadapi tantangan yang berat, anak-anak Tuhan teraniaya, Tuhan datang secara supranatural membebaskan mereka, dengan melepaskan Petrus dari penjara, misalnya (Kisah Rasul 12:1-11).Tetapi adakalanya Tuhan membiarkan anak-anak Tuhan ditangkap, dipenjara dan mengalami aniaya dan bahkan dibunuh mati seperti Yakobus dan Stefanus (Kisah Rasul 12:1-2, 7:54-60). Adakalanya sudah dihajar dan didera, dilempar ke dalam penjara yang gelap, Paulus dan Silas, di tengah-tengah situasi seperti itu mereka hanya bisa berdoa dan memuji Tuhan dengan nyanyian mereka, lalu Tuhan dengan kuasa dan cara yang ajaib membebaskan mereka dari pasungan dan belenggu dan pintu penjara terbuka bagi mereka (Kisah Rasul 16:23-26). Dari situ memberitahukan kepada kita tidak setiap saat Tuhan menyatakan visiNya dan tidak setiap saat Tuhan mengerjakan hal yang sama.

Lalu pertanyaan kedua yang kemudian membawa saya merenungkan visi dari Tuhan dan melihat bagaimana Tuhan bekerja, adalah: mengapa Tuhan memberi visi? Bukankah para rasul dan murid-murid Tuhan sudah jelas dan sudah tahu apa tugas dan panggilan dan bagaimana gereja bertumbuh dan melayani? Ada dua hal yang mengejutkan saya, kenapa Tuhan akhirnya harus kembali memberi visi dan memanggil orang itu untuk menjalankan visi Tuhan.Pertama, Tuhan memberi visi supaya mata orang itu terbuka melihat karena orang itu tidak mau melihat; orang itu enggan bahkan menolak untuk melihat.Kedua, Tuhan memberi visi bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin tahu apa yang Tuhan ingin perbuat melalui mereka, di situ Tuhan datang dengan passionate menyatakan visiNya. Dan kadang-kadang yang Tuhan nyatakan itu sesuatu yang di luar dari perkiraan orang-orang yang berdoa itu.

Salah satu contohnya adalah peristiwa di Kisah Rasul 13:1-3 gereja di Antiokhia dipimpin olehBarnabas, bersama beberapa hamba Tuhan yang lain dan juga Paulus yang belum lama bertobat ada di sana. Mereka berdoa dan berpuasa dan mereka minta visi dan Tuhan berkata dengan jelas, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu…” Barnabas yang menggerakkan jemaat untuk berdoa, justru Tuhan suruh Barnabas yang pergi.

Pada waktu Paulus dan teman-temannya bergiat melayani di seluruh area Asia Kecil, mereka terus berjalan dan mereka mau menyelesaikan sampai seluruh daerah itu, mereka bingung dan tidak mengerti karena setiap kali mereka jalan, Roh Kudus mencegah langkah mereka. Sampai pada malam hari Tuhan memberikan visi untuk berjalan ke barat.Paulus melihat yang namanya “visi Makedonia” ada orang melambai-lambai dari seberang yang berkata, “Kemarilah, tolonglah kami!” (Kisah Rasul 16:6-10).

Hari ini saya mengajak kita melihat ada 4 visi muncul dan saling berkaitan satu dengan yang lain.

Visi yang pertama adalah berkaitan dengan Stefanus yang mati dirajam batu di Bait Allah.Visi ini penting karena visi ini adalah visi terobosan yang membongkar sulitnya jemaat keluar dari lingkaran Bait Allah.Dan itulah hal yang membuat Stefanus akhirnya dirajam batu karena Kisah Rasul 6:7 mencatat “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.” Para imam yang terus rutin mengerjakan pelayanan ibadah di Bait Allah sekarang menjadi orang Kristen dan hari itu  mereka menanggalkan jubah keimamannya, berarti di Bait Allah tidak ada lagi orang-orang yang bertugas mengerjakan pelayanan korban, dsb di Bait Allah dan itu menggelisahkan Imam Besar, para mahkamahagama, tua-tua dan ahli Taurat. Dengan berani Stefanus mengingatkan jemaat Tuhan, ibadah kita bukan di Bait Allah.Yesus adalah Bait Allah.Stefanus dengan tegas mengatakan, “Yang Maha Tinggi tidak diam di dalam apa yang dibuat oleh tangan manusia,” (Kisah Rasul 7:48).Tuhan tidak mau dikungkung dalam satu bangunan yang namanya Bait Allah.Ini bahaya sekali. Maka Stefanus dibunuh (Kisah Rasul 7:54-8:1a).

Visi yang kedua visi kepada Filipus, seorang yang pergi pelayanan misi ke daerah Samaria yang sangat berhasil, tetapi kemudian Tuhan suruh pergi ke tempat yang sunyi untuk ketemu dengan satu orang sida-sida dari Etiopia (Kisah Rasul 8:4-8, 26-27). Dia dipanggil Tuhan untuk mengabarkan Injil kepada orang asing itu.

Visi yang ketiga adalah merubah seorang yang sangat ekstrim yang bernama Paulus menjadi seorang hamba Tuhan, misionari bagi orang non-Yahudi (Kisah Rasul 9).

Visi yang keempat adalah visi kepada Petrus (Kisah Rasul 10:9-16) untuk melayani seorang non-Yahudi bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang saleh dan percaya kepada Allah [Kisah Rasul 10:1-8].Ini semua adalah rangkaian visi yang penting sekali dan patut kita lihat baik-baik.Karena reaksi dari Petrus jelas “absolutely NO!” waktu Tuhan beri visi dengan suruh dia makan binatang haram itu Petrus bilang, “Tidak, Tuhan, tidak!”Sampai tiga kali Tuhan memperlihatkan visi itu, sampai akhirnya Petrus mengerti.Secara pengetahuan, secara konsep, Petrus tahu itu.Petrus tidak lupa Tuhan Yesus mengutus mereka pergi mengabarkan Injil mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung bumi. Tetapi secara pengalaman meskipun Petrus pernah melihat beberapa kali pelayanan Yesus bersentuhan dengan orang bukan Yahudi,tetapi ketika pengetahuan teologi, pemahaman doktrin yang benar itu di-exposured oleh Tuhan dengan desakan kuat untuk Petrus menjalankannya, yang dia lakukan adalah menolak karena dia tidak bisa dan tidak mau melakukan hal itu. Itulah sebabnya kemudian Tuhan siapkan Paulus di Kisah Rasul 9. Visi Allah terlalu besar, tidak bisa digenggam dan dikotakkan oleh satu orang yang namanya Petrus yang tidak mau melaksanakannya; pekerjaan Allah terlalu besar, jauh lebih daripada “kotak” pelayanan kita, kita harus melihat dan memahami hal itu. Tetapi kalau kita hanya melihat pelayanan kita dan nilai pelayanan kita hanya kepada urusan dan kepentingan sendiri, kita akan memicikkan dan mempersempit prinsip dan pekerjaan Tuhan. Kita memang tidak sanggup bisa mengerjakan banyak hal, tetapi itu tidak boleh membuat vision dan passion kita bagi Tuhan tidak besar dan luas.Memang akhirnya sadar sedikit Petrus karena ter-exposed bagaimana melihat pekerjaan Tuhan itu sebagai orang Yahudi yang berbeda kebudayaannya, tetapi dipanggil Tuhan untuk “embrace” dengan orang-orang non-Yahudi ini. Namun dalam Galatia 2:11-14 Paulus membukakan fakta bagaimana Petrus tetap masih terjatuh dalam “snobbishness” rohani ini. Peristiwa ini terjadi di Antiokhia, dimana Petrus datang berkunjung ke jemaat yang notabene sebagian besar adalah jemaat non-Yahudi.Awalnya dia masih bersama-sama makan sehidangan sama-sama dengan orang-orang non-Yahudi ini yang tentunya makan makanan yang tidak halal menurut tradisi Yahudi. Dan kemudian ketika datang orang-orang Kristen Yahudi ke sana, Petrus mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena kuatir dikritik oleh rekan sebangsanya. Di sini Paulus terang-terangan menegur Petrus dan rekan-rekannya yang dia sebut “munafik.”Sebenarnya soal makanan itu hanya sekedar satu bagian serpihan dari budaya yang inti persoalannya adalah konsep dan attitude mental, spiritual, teologinya yang harus berubah.

Umat Tuhan sudah ditebus, tetapi sentralitas ibadahnya terus berada di sekitar Bait Allah, kenapa?Karena hanya melayani orang Yahudi maka terus hanya berkutat di situ. Tetapi ketika orang-orang non-Yahudi masuk ke dalam komunitas orang percaya jelas terjadi separasi sehingga akhirnya dalam Kisah Rasul 6 terjadi complain dari orang-orang non-Yahudi ini karena perlakukan gereja kepada mereka dibedakan sebagai  anak Tuhan yang “second class.”

Maka point yang paling penting yang saya ingin angkat hari ini bagi kita semua, pada waktu kita bicara mengenai visi, apa itu visi dan bagaimana kita berjalan di dalam visi itu. Visi berarti kita bukan melihat mistis ke depan; tetapi bagi saya harus ada orang-orang yang mempunyai kepekaan melihat batu-batu yang sudah Tuhan tata di dalam perjalanan yang lalu dan orang itu tahu, menginjak batu ini bisa “kejeblos” [itulah mistakes yang kita buat], lalu ada batu-batu yang kemudian berjalan dan kita tahu kenapa bisa terus [sustained] bisa injak batu itu di jaman saya sekarang, sebab batu yang di jaman dulu itu yang menjadi fondasinya untuk kita pijak menjadi perjalanan ke depan. Visi itu bukan tidak lihat apa-apa lalu mau apa, karena saya percaya Tuhan tidak bekerja seperti itu. Orang yang melihat visi dan menggerakkan perjalanan visi itu senantiasa berjalan mau melakukan yang benar dan mau terus berjalan ke depan, meskipun kita senantiasa bisa menghadapi tantangan kesulitan karena kita tidak melihat bagaimana bisa berjalan ke depan. Kita mungkin baru bisa tahu hal itu pada waktu kita sudah melewatinya. Di dalam perjalanan sejaran gereja ada aspek-aspek yang tidak bisa kita abaikan dan kita lupakan, bagaimana proses dan pekerjaan Tuhan itu menyadarkan anak-anak Tuhan untuk selalu kembali kepada visi Tuhan.

Sepanjang perjalanan sejarah, gereja senantiasa mengalami challenge tidak ada habis-habisnya, challenge itu adalah bagaimana kita melayani jaman. Di tahun 1700-1800-an, Eropa dan mayoritas negara-negara Barat masih memiliki confident yang kuat karena di situ agama masih di-support oleh negara.“Perasaan” confident dalam Christendom era membuat gereja berpikir dialah pusat dan sentral dan semua orang harus datang mendekat kepada mereka.Tetapi kemudian mereka kaget melihat fakta realita bahwa ternyata orang-orang itu meninggalkan gedung gereja dengan kecepatan yang makin cepat.Meskipun belum tentu orang-orang yang meninggalkan gereja ini adalah orang-orang yang tidak suka kepada Kekristenan, tetapi gereja tidak menyadari ada aspek “kompetitif” terhadap corporate worship di hari Minggu yaitu contoh misalnya di sekitar akhir tahun 1800 dan awal 1900 ketika muncul pertunjukan sirkus yang mengadakan show di hari Minggu sehingga menjadi kompetisi bagi gereja. Gereja menjadi kosong dan orang memilih memakai waktu bersama keluarga di hari Minggu menonton sirkus. Maka seorang bernama Billy Sunday, seorang atlit pemain baseball yang terkenal, dan pada puncak karirnya dia bertobat dan menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan], melihat bahwa gereja tidak peka dengan hal ini maka dia mengadakan berbagai seri meeting yang bisa sampai berminggu-minggu lamanya dari kota ke kota dengan mendirikan tenda-tenda. Dengan cara khotbah yang sangat berapi, kreatif dan engaging, dia menjadi seorang pembicara yang sangat berpengaruh membawa orang kembali kepada Kristus. Dicatat lebih dari 100 juta orang mendengar Injil selama pelayanannya.Dia memakai pemain sirkus menjadi daya tarik untuk orang datang ke KKR-nya, dia menggunakan radio, dsb.Sekarang ini kita tahu gereja menghadapi kompetitor yang jauh lebih banyak daripada jaman itu, dalam banyak aspek.

Satu hal yang menarik untuk kita pelajari di dalam sejarah gereja Katolik pada waktu Pope John XXIII mengadakan konsili Vatican II tahun 1962-1965 dengan memanggil semua pejabat gereja Katolik sedunia untuk datang dan menggodok bagaimana gereja Katolik menanggapi isu-isu yang melanda dunia saat itu. Pope John 23 adalah salah seorang paus yang sangat dihargai umat Katolik karena dia adalah seorang pope yang mempunyai visi lalu kemudian melihat bukan untuk dirinya sendiri dan bukan demi jabatannya dia memperjuangkan hal ini.Dalam usia yang sangat lanjut, dia ingin supaya gereja Katolik memiliki visi melihat bagaimana gereja Katolik berelasi dengan dunia modern; bagaimana gereja Katolik bisa relevan; bagaimana menjadikan gereja yang dipanggil oleh Tuhan bagi dunia ini; kalau tidak, gereja tidak menjadi jawab bagi dunia modern. Dalam keadaan sakit-sakitan dia terus memperjuangkan hal ini meskipun setahun kemudian dia akhirnya meninggal dunia di tengah konsili ini masih berjalan. Dari konsili Vatican II ini ditetapkan beberapa hal pembaharuan terutama di dalam aspek ibadah, di antaranya:

  1. Bahasa Latin tidak lagi dipakai dalam ibadah dan misa dilakukan dengan bahasa setempat.
    Ini adalah terobosan yang sangat luar biasa karena sebelumnya gereja Katolik sangat menekankan tradisi bahasa Latin sebaga bahasa yang harus selalu dipakai dalam ibadah.
  2. Menggunakan instrumen dan alat musik [tidak lagi a capella] dan jemaat sama-sama menyanyi tidak lagi hanya koor paduan suara dari para clergy.
  3. Menggunakan lagu-lagu kontemporer pada jamannya. Dengan demikian gereja Katolik tidak hanya menyanyikan lagu-lagu monophonic seperti Gregorian chant tetapi membuka kesempatan bagi orang-orang Katolik menulis dan mengarang lagu-lagu untuk dipakai dalam ibadah misa mereka.Beberapa lagu yang sangat baik dikarang, salah satunya lagu “Here, I Am” yang ditulis oleh Dan Schutte pada tahun 1981, yang boleh dikatakan begitu popular juga diterima oleh gereja Protestan.

Demikian juga di dalam Kekristenan secara luas, musik juga mengalami perkembangan yang luar biasa pesat, khususnya pada era sekitar tahun 1970-1980-an hingga sekarang, begitu banyak komposer dan pencipta lagu yang muda, yang kreatif dan cinta Tuhan menciptakan lagu-lagu yang begitu baik.Banyak aspek yang perlu kita perhatikan termasuk beberapa conference yang sangat baik diadakan untuk kemajuan gereja-gereja untuk meningkatkan pelayanan dan menjadi relevan. Saya akan membukakan beberapa di antaranya. Setiap awal tahun Katoomba Christian Conference [KCC] mengadakan konferensi yang terbuka bagi seluruh gereja dan denominasi di NSW, bahkan dari tempat-tempat lain di Australia untuk mengikutinya.Konferensi seperti ini juga dilakukan sepanjang tahun, seperti misalnya untuk kaum wanita ada Women Conference yang diadakan di Sydney.Dengan mengikuti konferensi seperti ini membukakan mata kita untuk tidak hanya melihat secara sempit kepada pelayanan kita sendiri tetapi melihat dengan luas kegerakan yang terjadi dan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh gereja Tuhan pada jaman ini.Jika tidak, kita tidak bisa berelasi dengan dunia luar, yang menjadi panggilan Tuhan bagi setiap anak-anak Tuhan.Conference seperti ini mungkin tidak bisa bersar luar biasa karena tidak sanggup bisa mengumpulkan banyak dan besar pengaruhnya, tetapi sangat menjadi sumbangsih yang baik bagi gereja-gereja Anglican, Presbyterian, Baptist, Uniting, dsb.Dengan kumpul sama-sama gereja bisa melihat bagaimana melayani jaman ini. Di Amerika, beberapa conference yang sangat baik, di antaranya “Passion Conference” yang tiap tahun bisa mengumpulkan 50,000 anak muda Kristen Injili yang concern bagi Gospel ministry dan menggerakkan mereka menjadi generasi bagi Kristus bagi jaman ini. Calvin Institute of Christian Worship setiap awal tahun mengadakan conference “Calvin Symposium of Worship” selama 3 hari dengan berbagai narasumber dari artis, musikus, pastor, dosen dan mahasiswa teologi, para worship leaders dan worship planners untuk memperlengkapi gereja-gereja Reformed dan Presbyterian di dalam pelayanan ibadah. Melalui conference seperti ini mereka membukakan kreatifitas dan pendalaman makna dari liturgy yang selama ini dijalani tanpa jemaat memahami sebetulnya apa yang mereka lakukan dari minggu ke minggu berbakti di rumah Tuhan. Maka jangan lagi kita memiliki hati yang sempit mengatakan mereka bukan orang Reformed, karena mereka justru mempunyai message yang sangat jelas, “Let us renew our worship.” Renew dalam arti bukan mengganti model ibadah tetapi membawa jemaat memahami bagaimana mempersiapkan ibadah bagi Allah dengan kreatif, menyampaikan firman Allah yang relevan, menghargai Allah yang memberikan begitu banyak karunia, dsb dengan demikian menjadikan ibadah itu memperkaya makna dan membawa fokus ibadah dengan indah dan dengan benar. Kita tidak mau mengulangi sesuatu yang bisa kita lihat dalam sepanjang sejarah bagaimana reaksi kesempitan hati dan ketidak-inginan untuk berubah dari konsep yang lama, yang telah membuat gereja menjadi eksklusif dan tidak melayani ke luar.

Maka melalui pengupasan firman Tuhan hari ini saya mengajak sdr melihat beberapa hal, saya ingin kita memiliki pengenalan seperti ini supaya kita terbuka, kita lebih memahami lebih banyak.Sehingga dengan seperti ini kita mempersiapkan ibadah kita dengan lebih bermakna, bukan hanya keluar begitu saja dari mulut kita, karena sesuatu yang terlalu rutin bisa membuat kita kehilangan hati menyerap makna dari yang kita lakukan.Selalu ingat, esensi ibadah kita tidak pernah berubah, tetapi kita tidak mau terjebak dalam kerutinan dan melupakan maknanya.Setiap kali kita melakukan elemen-elemen ibadah, kita betul-betul mengerti.Maka bisa jadi dengan menggunakan model yang sedikit berbeda membuat kita menjalani ibadah itu lebih meaningful, itu adalah aspek yang di-explored dan di-exposed.Itu yang saya rindukan terjadi di dalam our corporate worship that will be beautiful di hadapan Allah. Namun kita tidak akan mempunyai sebuah corporate worship yang baik jikalau kita tidak memiliki personal worship yang sehat dan baik. Pada waktu kita beribadah, kita memuliakan Allah, kita mendalami dan mengamini firman Kristus, terjadi disciple-making dalam pelayanan kita, dan dengan indah komunitas bertumbuh saling mengasihi dan memperhatikan satu dengan yang lain menuju kepada Kristus. Biar visi Allah ini juga menjadi visi yang membukakan hati dan mata kita.(kz)