We love God because He first loved Us

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri Eksposisi Surat 1 Yohanes (13)
Tema: We love God because He first loved Us
Nats: 1 Yohanes 4:7-21

Alkitab membukakan sedikit latar belakang siapa rasul Yohanes pada masa mudanya. Bersama saudaranya Yakobus, Yesus menyebut mereka “Boanerges” yang artinya “anak-anak guruh” (Markus 3:17) mungkin karena suara mereka yang keras menggelegar. Yohanes adalah seorang yang “hot temper” seorang pemarah, seorang yang kasar, seorang yang tidak sabar. Dalam Lukas 9:49-55 Alkitab mencatat, Yohanes mencegah dan memberhentikan seseorang yang dia sebut “bukan pengikut kita” melakukan pengusiran setan dengan menyebut nama Yesus. Di situ Yesus terang-terangan menegur sikap kesombongan dan arogansi Yohanes. Pada waktu Yesus dan murid-murid melewati satu desa di Samaria, orang-orang di situ menolak mereka, Yohanes mungkin mengira penolakan itu telah melukai hati Yesus, dan itu membuat dia sangat marah dan bersama Yakobus dia mendatangi Yesus dan berkata, “Tuhan, apakah Engkau mau supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Yesus berpaling dan menegur mereka tidak boleh seperti itu. Yohanes juga seorang yang sangat ambisius, seorang yang mau menjadi nomor satu, seorang yang mau menjadi yang paling penting dan paling terutama, ingin dikenal, ingin dilihat, ingin sukses. Pada waktu murid-murid bertengkar tentang siapakah yang terbesar di antara mereka, Yohanes maju selangkah lagi, dia meminta ibunya untuk meminta special privilege supaya kedua anaknya menduduki posisi paling utama pada waktu Yesus datang sebagai raja kelak (Matius 20:20-21). Itulah karakter Yohanes yang panasan, pemarah, compulsive, highly opinionated, defensive, proud, self-centred, egosentrik, mendahulukan kepentingan diri sendiri, hatinya tidak suka kalau ada orang lain yang lebih daripada dia dan sangat membenci orang yang tidak suka kepadanya.

Tetapi seorang yang tadinya seperti itu kini mengalami perubahan yang sangat bertolak-belakang. Di masa tuanya Yohanes dikenal sebagai “rasul kasih” karena di dalam surat-suratnya dia terus berulang-ulang mengatakan tentang “kasih.” Terutama dalam surat 1 Yohanes pasal 4 ini kita menemukan begitu banyak kalimat-kalimat yang indah dan penting darinya bicara mengenai apa itu kasih yang sesungguhnya. Apa buktinya kasih Allah? Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita yaitu bahwa Allah telah mengutus AnakNya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup olehNya” (1 Yohanes 4:9). Bukti kasihNya adalah Allah memberikan AnakNya bagi kita. “Inilah kasih itu: bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1 Yohanes 4:10). Allah adalah kasih, marilah kita saling mengasihi, kasih itu berasal dari Allah, dst. Inilah kata-kata yang begitu emosional muncul meluap keluar sebab karena kasih Allah sudah merubah seseorang yang tadinya tidak bisa mengasihi orang memberikan contoh dan teladan yang indah bagi kita apa artinya mengasihi itu.

Rasul Yohanes menulis surat 1 Yohanes untuk menggugah jemaat Tuhan supaya jangan sampai persekutuan kita dengan Allah dan persekutuan kita dengan saudara seiman kita menjadi tidak sempurna oleh karena sikap hati kita yang kerdil dan dangkal untuk bisa mengasihi. “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu supaya sukacita kami menjadi sempurna” (1 Yohanes 1:3-4). Inilah tujuan dari rasul Yohanes menulis surat ini. Yohanes memakai kata “sempurna” atau mature, satu kata yang begitu indah menunjukkan level kematangan rohani seorang anak Tuhan. Kalau memakai kata “sempurna” seolah ada indikasi orang itu sudah perfect tidak ada cacat celanya. Dengan kata “mature” bukan berarti orang itu sudah tidak pernah lagi melakukan kesalahan, tetapi menunjukkan satu relasi yang timbal-balik penuh dengan tanggung jawab, walaupun mungkin ada hal-hal yang tidak menyenangkan tetapi kita belajar untuk bagaimana bersikap dewasa dan persekutuan itu berdasarkan relationship yang indah antara Bapa dengan Anak.

Di dalam beberapa khotbah eksposisi surat 1 Yohanes ini saya membahas beberapa aspek negatif yang bisa merusak satu relationship atau satu fellowship di antara sesama orang percaya Tuhan dan di antara kita dengan Allah. Setidaknya ada 4 hal yang disebutkan oleh rasul Yohanes yang sanggup bisa menghancurkan dan merusak dan yang sanggup bisa menghambat persekutuan itu menjadi tidak indah. Penghambat yang pertama, keengganan untuk mengakui dosa “the reluctance to confess our sins” (1 Yohanes 1:8). Ini adalah satu penghambat dan penghancur dari sebuah fellowship. “Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” Keengganan itu adalah satu pride tersendiri pada waktu kita merasa diri benar dan tidak bersalah, kita tidak mau mengakui dosa, kesalahan dan kelemahan kita di hadapan Allah dan orang yang kita mengalami konflik dengan dia dan justru mempersalahkah pihak lain. Penghambat yang kedua, Yohanes memperingatkan, “Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu kemana ia pergi karena kegelapan itu telah membutakan matanya” (1 Yohanes 2:11). Kalimat “ia tidak tahu kemana ia pergi” memiliki pengertian waktu dia berjalan di dalam kegelapan itu betapa luar biasa “the path of destruction” yang dihasilkannya. Anger dan hatred itu menutupi matanya, dan bayangkan betapa dahsyatnya kemarahan orang itu membuat dia berjalan merusak dan menghancurkan semua yang bisa dilandanya di dalam kemarahannya. Penghambat yang ketiga dari sebuah fellowship adalah (1 Yohanes 2:15-16) “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup bukanlah berasal dari Bapa melainkan dari dunia.” Terjemahan New Living Translation [NLT] memakai kata “craving” yang lebih keras daripada “desire;” craving for the possessions, craving for success, craving for pride. Yohanes mengingatkan keinginan ini bukan berasal dari Allah. Itu semua membuat kita mau menjadi yang nomor satu, kita mau menjadi yang paling utama, kita mau semua itu serving our desire and purpose. Itu akan merusak hidup kita dan merusak relasi kita. Namun penghambat sebuah relasi itu bukan saja kesombongan kita, bukan saja kemarahan kita, bukan saja keinginan duniawi, kalau kita bersalah kepada seseorang lalu kita malu mengakui kesalahan kita dan minta maaf, itu adalah hal yang natural bisa terjadi, tetapi ada yang lebih dalam daripada itu, penghambat yang keempat, adanya spirit of antichrist. Dua kali Yohanes menyebutkan hal ini dalam surat 1 Yohanes ini (1 Yohanes 2:18-19; 1 Yohanes 4:1-6). Setiap kali kita mendengar istilah “antikristus” kita umumnya membayangkan satu sosok orang yang mengajarkan ajaran yang sesat dan kita sedapatnya akan menghindar dari orang itu. Tetapi Setan itu tidak sesederhana itu menipu kita dengan cara yang obvious seperti itu. Dia tidak akan menjadi penampakan yang menakutkan, tetapi Yesus mengingatkan kita untuk berhati-hati karena dia adalah bapa pendusta dari mulanya, dia pembohong dan master of flip. Rasul Paulus juga memperingatkan kita untuk hati-hati karena “Iblis bisa menyamar sebagai malaikat terang” (2 Korintus 11:14). Itu berarti dia punya cara penipuan yang subtle dan kadang-kadang kita tidak menyadarinya. Tetapi ada satu ciri dan spiritnya yang penting kita kenali, yaitu dia memiliki “the spirit of desolation.” Dalam Injil Yohanes, Yohanes menyebut Roh Kudus sebagai parakletos, Roh Penghibur atau “the Spirit of Consolation.” Maka Ignatius Loyola bapa gereja di abad pertengahan memperlihatkan kontras antara Roh Kudus yang adalah the Spirit of Consolation sangat berlawanan dengan roh antikristus yaitu the spirit of desolation, spirit daripada evil  yang always selalu membawa orang itu menjauh dari persekutuan orang percaya. Kita bisa melihat orang-orang yang kerasukan setan selalu punya kecenderungan menyendiri, menjauh dari komunitas, sendiri di pojok yang gelap, selalu mau pergi ke pekuburan. Ini adalah roh yang men-depressed orang, yang memberi kecenderungan orang itu menjadi hopeless dan ingin membunuh diri, merasa dunia ini jahat kepada dia dan tidak ada yang mengasihi dia, maka dia lari dan pergi menyendiri. “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk kepada kita niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita” (1 Yohanes 2:19). That is the spirit of desolation, yang kontras dengan the Holy Spirit yang menjadi the Spirit of consolation. Maka pada waktu rasul Yohanes membahas bagian ini, kita bisa mengaitkannya dengan konsep yang diberikan oleh Ignatius Loyola berkaitan dengan fellowship persekutuan dengan Allah, yang sanggup membuat orang hilang dan menjauhkan diri dari fellowship itu. Jadi itu menyangkut sebagai bagaimana bekerjanya secara jahat kuasa kegelapan itu yang juga bisa hadir di tengah-tengah hidup persekutuan kita satu dengan yang lain. Maka kita harus waspada memperhatikan hal itu.

Bagaimana bisa menyembuhkan sebuah relasi yang sudah rusak? Bagaimana bisa menjadi penawar daripada satu relasi yang sudah terkena racun kebencian? Bagaimana kita bisa mengalahkan semua kejahatan dan menggantikannya dengan kebaikan? Tidak ada jawaban lain selain daripada kasih sebagai elemen yang menyembuhkan, memulihkan dan menghasilkan rekonsiliasi yang indah dari sebuah relasi yang sudah rusak dan itulah sebabnya mengapa berulang-ulang kali kita harus dibawa memahami dan mengerti apa artinya kasih itu. Kita pada naturnya adalah orang yang tidak bisa mengasihi. Kita pada naturnya adalah orang yang hanya mementingkan diri, penuh dengan jealousy, envy dan kebencian. Kita itu egois dan hanya mau mengasihi diri sendiri. Maka Yesus mengatakan jikalau engkau hanya mengasihi orang yang mengasihi kamu, apa bedanya dengan orang yang tidak percaya Tuhan? Karena orang-orang itu pun berbuat hal yang sama (Lukas 6:32-35). Kasih yang dituntut Tuhan bukanlah hanya kasih yang tidak merugikan dia, tetapi kasih yang lebih daripada itu. Mengasihi orang yang kita rasa tidak layak untuk dikasihi, mengasihi orang yang tidak kita suka, di sinilah kita memahami kasih yang dituntut Tuhan. Betapa tidak mudah untuk menjalankan tuntutan ini. Kita tidak berada di dalam sebuah medan yang netral dan condusive untuk mengasihi. Kita berada di dalam sebuah tanah yang tidak baik, setiap hari di atas tanah itu ditaburi oleh benih racun kebencian, di atas tanah itu ditabur benih-benih yang tidak baik. Di atas tanah itu kita juga menaburkan ketidak-baikan kita. Kita tidak bisa mengasihi orang. Dengan demikian kita harus terlebih dahulu membuang bongkah-bongkah tanah yang keras, menggemburkannya dan baru kemudian bisa menanam hal yang baik. Itulah sebabnya rasul Yohanes menulis berulang-ulang kalimat-kalimat yang sungguh indah dan dalam tentang apa itu kasih. Kasih itu datang darimana? Kasih itu dimulai dari “atas,” dan itu yang bisa merubah hidup kita baru kita bisa mengasihi dengan benar. Tidak ada kemungkinan kekuatan diri kita yang membuat kita sanggup bisa mencintai dan mengasihi orang, terutama mereka yang telah melukai hati kita sebelum kasih itu berangkat lahir dari Allah yang merubah hidup kita.

Di dalam dunia ini ada satu kesadaran yang siapa pun dia, agama apa pun yang dianutnya, atau bahkan orang yang tidak beragama sekali pun, mereka menyadari dan mengetahui ada sesuatu yang sangat tidak beres di dalam kehidupan manusia, yaitu adanya dosa dan kejahatan. Orang berusaha mempelajari apa yang menjadi penyebab dunia ini penuh dengan dosa dan kejahatan begitu besar, apakah orang itu berbuat kejahatan karena kurang pendidikankah, karena ketimpangan sosial, apa pun yang mau kita katakan sebagai penyebab semua itu, semua orang menyadari ada “something very wrong” dalam hidup semua umat manusia. Bagaimana menyelesaikan problema dosa dan kejahatan di dunia ini? Di luar Kekristenan, hanya ada dua jalur saja sebenarnya. Yang satu mengatakan kita tidak akan pernah bisa membereskan dosa dan kejahatan. Kejahatan akan terus ada, dan yang bisa kita lakukan adalah kita berlomba-lomba mengumpulkan dan melakukan hal yang baik sebanyak-banyaknya supaya “timbangan” kita balance antara yang jahat dan yang baik selama hidup kita di dunia ini. Kita tidak bisa mengeliminir kejahatan, yang kita bisa lakukan adalah menggantikannya dan menambahkan hal-hal yang baik dari hidup kita. Atau pada pihak yang lain sama sekali menghindar dari hal ini. Mereka mengatakan dosa dan kejahatan hanyalah ilusi dan jangan kita pikirkan. Dosa dan kejahatan bisa dihapuskan jikalau kita tidak punya desire keinginan untuk memiliki sesuatu, kita mematikan segala sesuatu maka dengan sendirinya kita akan berhenti berbuat jahat. Namun adanya dosa dan kejahatan yang tidak pernah bisa dibereskan dengan memberikan pendidikan dan edukasi kepada orang, dengan mengusahakan tidak adanya ketimpangan sosial di dalam masyarakat, dengan berlomba-lomba berusaha melakukan kebaikan dan hal-hal yang positif sebanyak-banyaknya, atau pun dengan mematikan keinginan, desire dan dengan melarikan diri dari realita, semua itu tetap tidak bisa menghilangkan dosa dan kejahatan tetap ada di dalam dunia ini. Kekristenan telah mendapatkan jawabannya di dalam ayat ini, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman dalam darahNya” (Roma 3:25). Dosa dan kejahatan yang ada di dalam dunia ini bukan saja berkaitan dengan urusan manusia satu dengan yang lain, tetapi antara manusia dengan Allah penciptanya. Dan

Allah menyatakan kasihNya dengan melakukan satu inisiatif yaitu mengutus AnakNya yang menjadi pendamaian bagi kita. Itu sama sekali bukanlah kasih yang sentimental. Ketika Anak Allah, Yesus Kristus, mati mengorbankan diriNya bagi kita, ini memberitahukan kita betapa seriusnya dosa itu. Allah mengutus Yesus Kristus datang ke dunia menjadi pendamaian bagi dosa-dosa kita. Kata “pendamaian” dalam istilah teologi dikenal dengan kata “propitiation” yang merujuk kepada usaha untuk meredakan kemarahan atau murka seseorang. Di dalam kata “propitiation” itu terkandung enam hal: kekudusan Allah, murka Allah, keadilan, kemurahan, kasih dan anugerah. Allah murka karena kita sudah bersalah dan berdosa kepadaNya. Dosa telah melanggar hukum Allah dan hukum Allah menuntut keadilan untuk dijalankan. Semua dosa dan kejahatan yang kita lakukan tidak akan pernah bisa bayar dengan usaha dan jasa kita, bukan dengan perbuatan baik, tetapi hanya bisa dibereskan dengan Allah melakukan sesuatu yang kita tidak akan pernah dapat lakukan sendiri. Murka Allah tidak bisa dibereskan dengan cara apapun juga selain Allah sendiri berinisiatif dengan menjadikan Yesus Kristus, Anak Allah yang tidak berdosa dan bercacat cela menjadi korban pendamaian bagi dosa-dosa kita.

Bagaimana menjelaskan kasih itu? Yohanes mengatakan bukan kita yang lebih dulu mengasihi Allah tetapi Allah yang telah lebih dahulu mengasihi kita. Kita mungkin abstrak mendengarkan kalimat ini, sehingga kita perlu merenungkan satu ilustrasi yang terindah dan terbaik bicara mengenai kasih dari Bapa di dalam perumpamaan Yesus mengenai “the Prodigal Son” anak yang hilang (Lukas 15:11-24). Bagian yang paling menyentuh dari kisah anak yang hilang itu adalah pada waktu kita bayangkan sang ayah menanti anaknya yang hilang. Musim demi musim berlalu, dari musim panas ke musim gugur, musim dingin dan musim semi silih berganti datang, sang ayah yang semakin tua dan ringkih dengan tongkatnya, terus melihat ke arah dimana anaknya terakhir berjalan. Sejak anaknya pergi meninggalkan rumah dengan kantung uang yang berat dan langkah yang pongah, sang ayah menanti kapan anaknya kembali. Pada waktu akhirnya sang ayah melihat sosok anaknya yang terseok-seok berjalan, tubuhnya kurus dan pakaiannya compang-camping, dia segera mengenali itu adalah anaknya. Melihat anak itu, tergeraklah hati ayahnya dengan belas kasihan, dan bukan saja demikian, sang ayah segera berlari menghampiri anak itu, memeluknya, menciumnya dan membawanya ke rumahnya. Kita seringkali membacanya tanpa membayangkannya dalam bentuk drama seperti ini, bukan? Ini adalah satu bagian yang di-“translate” oleh Yohanes dengan kalimat ini, “Bukan kita yang telah mengasihi Allah tetapi Allah yang terlebih dahulu mengasihi kita.”

Itu arti dari kasih Allah, karena Ia telah memberi AnakNya mati bagi kita. Kita kita mengerti hal ini, barulah kasih Allah yang merembes masuk ke dalam diri kita yang sanggup bisa merubah ”DNA” natur dan sifat dosa kita. Kita tidak mungkin bisa mengasihi orang lain dan bisa mengasihi seperti Tuhan kalau Tuhan tidak memberi kekuatan dan kemampuan itu dalam diri kita. Perubahan itu hanya bisa terjadi karena kelahiran baru oleh Roh Kudus menghasilkan pertobatan kita kepadaNya. Itulah sebabnya rasul Yohanes berkata engkau bisa mencintai musuhmu, engkau bisa mengasihi orang lain, engkau bisa mengasihi saudaramu oleh karena Roh Allah berdiam di dalam dirimu. Itulah hal yang supranatural yang Allah kerjakan di dalam diri kita.

Banyak hal bisa mengecewakan hati kita, membuat kita merasa “enough is enough.” Kita merasa susah dan berat sekali untuk bisa mengasihi orang itu, yang pernah menjadi teman, famili atau mungkin itu adalah suami atau isteri kita sendiri. Ada isteri yang begitu bergumul untuk bisa mengampuni suaminya yang telah melakukan begitu banyak kesalahan? Saya hanya bisa memberi nasehat ini, jikalau engkau adalah pihak yang lebih matang rohani, maka engkau yang diberi kekuatan ekstra oleh Tuhan untuk belajar memikul beban itu dengan sukacita. Jika saat ini engkau sedang mengalami kesulitan, yang sedang berada di ambang perceraian, engkau yang tidak lagi memiliki kesanggupan untuk mengasihi sanak famili yang telah merugikanmu, engkau yang tidak sanggup untuk mencintai suami atau isterimu, kiranya firman Tuhan sekali lagi menjadi firman yang menyejukkan, memulihkan dan menyembuhkan kita. Jika saat ini gerejamu sedang mengalami perseteruan dan perpecahan yang membawa duka yang mendalam dengan ketidak-rukunan yang terjadi, kiranya kasih Tuhan menghancurkan semua penghalang dan penghambat yang merusak setiap fellowship dari anak-anak Tuhan. Kiranya sekali lagi firman Tuhan boleh menggugah hati kita dan membawa hidup kita untuk menghargai betapa luar biasa kasih Allah itu. Karena hanya kasih dari Allah itulah kasih yang sanggup merubah hati kita; hanya di dalam kasih yang supranatural itulah yang sanggup bisa merubah tendensi alamiah kita yang iri, benci, memberontak dan tidak mengasihi menjadi bisa mengasihi dengan tanpa pamrih. Bersyukur untuk kasih Tuhan yang begitu besar kepada kita, meski pun susah dan sulit bagi kita untuk mengerti dan memahami sepenuhnya kasih itu karena kasih Allah begitu agung dan besar. Orang yang melawan Tuhan, orang yang memberontak kepada Tuhan, Ia cintai dan Ia kasihi dengan ajaib. Orang yang telah merugikan Tuhan, orang yang telah mengambil dengan paksa dan yang telah membuang segala kasih karunia Tuhan yang begitu indah, namun Ia tetap mencintai “anak yang hilang” itu boleh kembali ke pelukanNya. Itulah cinta Tuhan yang ajaib.(kz)