Kaya di dalam Pujian dan Firman

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Seri Khotbah Theology of Worship (2)
Tema: Kaya di dalam Pujian dan Firman
Nats: Kolose 3:16, Roma 12:1

Apakah anda ingin menjadi orang yang kaya? Banyak orang Kristen enggan menjawab akan hal ini, karena mungkin merasa kalau dia menjawab ya, akan dianggap orang “matre” dan duniawi. Saya percaya semua kita mau menjadi orang yang kaya. Tetapi kaya dalam hal apa? Tidak salah kita mau menjadi orang kaya, jika kita mengerti dengan benar konsep tentang kekayaan yang benar menurut Alkitab.

Ada 4 prinsip mengenai kekayaan di dalam Alkitab.

Pertama, kaya di hadapan Allah.

Tuhan Yesus berkata, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?” (Markus 8:36). Dan kepada orang kaya yang bodoh, firman Tuhan mengingatkan, “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (Lukas 12:20-21). Ini kunci yang pertama. Kita mau menjadi orang yang kaya di hadapan Allah.

Kedua, kaya dalam kebajikan.

Paulus berkata, “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tidak tentu seperti kekayaan, melainkan kepada Allah yang dalam kekayaannya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi” (1 Timotius 6:17-18). Ini adalah kunci yang kedua.

Ketiga, hidup memperkaya orang lain.

Paulus berkata, “Sekalipun aku miskin, namun aku memperkaya banyak orang” (2 Korintus 6:10). Ada orang mengatakan kemiskinan itu musibah, tetapi sikap mentalitas miskin itu adalah attitude. Sikap mentalitas miskin selalu merasa dirinya yang perlu ditolong, dirinya perlu dibantu, dirinya perlu mendapat sesuatu. Paulus meskipun tidak kaya dalam harta dan tidak mempunyai banyak uang, ia menjadikan hidupnya memberkati orang lain. Itulah orang yang kaya secara mentalitas.

Keempat, kaya di dalam perkataan Kristus.

Paulus berkata, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu…” (Kolose 3:16). Let the word of Christ dwell richly in you. Orang itu kaya dengan firman yang memenuhi hatinya, melimpah di dalam kata-katanya, memiliki kehidupan yang dewasa di dalam rohani, penuh dengan bijaksana firman yang menuntun hidupnya. Di dalam membangun keluarga, di dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya, di dalam mengatur rumah tangganya, di dalam berusaha dan bekerja, pada waktu menghadapi kesulitan dia tidak lepas dari janji firman Tuhan yang menjadi prinsip hidupnya. Di situlah hidup orang itu kaya berlimpah dengan firman Allah, sehingga dia layak disebut orang yang kaya di hadapan Allah.

Fokus kita pada hari ini adalah Kolose 3:16, disini firman Tuhan berkata bagaimana kayanya ibadah kita tidak terlepas dari firman perkataan Kristus penuh di dalam hati setiap kita. Sehingga seperti yang Paulus katakan kepada jemaat di Korintus, ketika orang yang tidak percaya datang ke tengah-tengah perkumpulan ibadahmu, mereka bisa percaya kepada Allah dan mengaku “Sungguh, Allah ada di tengah-tengahmu” (1 Korintus 14:25). Kita bertemu, kita berkumpul meskipun kita tidak melihat Allah secara mata fisik ini, kita tahu Ia ada di tengah-tengah kita. Kita berinteraksi satu dengan yang lain dan kita mendengarkan firman Tuhan, sharing dan saling mendoakan satu dengan yang lain. Di situlah kita menjadikan ibadah itu menjadi ibadah yang memuliakan Allah, “God-glorifying worship.” Dalam Kolose 3:16 ini elemen yang penting di dalam kita berinteraksi satu dengan yang lain yaitu ada “teaching” yaitu memberikan pengajaran Tuhan dan ada “admonishing” dimana orang saling menegur dan mengingatkan dengan nasehat dan teguran untuk hidup berjalan di dalamnya. Tetapi bukan itu saja, Paulus mengatakan marilah kita menyanyi memuji Tuhan dari hati kita yang bersyukur kepada Tuhan. Kalimat Paulus ini memperlihatkan nyanyian membuat perkataan Kristus berdiam dengan kaya di tengah-tengah orang percaya.

Ada beberapa prinsip yang kita perlu pahami berkaitan dengan aspek ini. Nyanyian menjadi satu elemen yang sangat penting dalam hidup orang percaya. Nyanyian bukan option atau pilihan, kata Harold Best, tidak ada orang Kristen yang boleh beralasan tidak suka menyanyi, tidak bisa menyanyi, tidak ada talenta menyanyi. Tuhan memerintahkan setiap umatNya datang kepadaNya dengan nyanyian. Lebih dari 400 ayat di Alkitab mengatakan hal ini. Namun jika kita menyanyi hanya untuk menaati perintah Tuhan tanpa kita mengerti dengan benar apa tujuan kita menyanyi, kita tidak akan termotivasi untuk menyanyi; kita tidak mendapatkan benefit yang Tuhan mau berikan melalui nyanyian itu, dan yang terutama Tuhan tidak dimuliakan dengan nyanyian kita.

  1. Nyanyian mendorong dan mengekspresikan Roh Kudus bekerja di dalam hati kita.

Menyanyi bukan persoalan natural ability, menyanyi bukan karena kita punya bakat dan talenta. Menyanyi dalam ibadah adalah ekspresi roh kita disatukan dan sinkron dengan Roh Kudus. Itulah yang membedakan kita menyanyi lagu-lagu pop di radio; itulah yang membedakan kita menyanyi karaoke, dsb. Pada waktu kita menyanyi lagu bagi Tuhan, di situ bukan saja suaraku yang menyanyi, bukan saja rohku yang menyanyi, tetapi di situ aku menyanyi bersama dengan Roh Allah. Dan pada waktu kita tahu Roh Allah bekerja di dalam diri orang terlihat di dalam kesungguhan dia menyanyi, di situ hati kita disentuh oleh Allah. Di situ bukan soal bagaimana kualitas suaranya tetapi bagaimana Roh Kudus menggerakkan dia menyanyi bagi Allah.

  1. Nyanyian membantu kita mengingat firman Allah.

Pada waktu bangsa Israel berada di dalam malapetaka dan kesulitan maka Tuhan Allah mengatakan biar mereka boleh mengekspresikan itu dengan nyanyian. Maka Musa menjelang akhir hidupnya menuliskan satu nyanyian untuk mengingatkan mereka akan Tuhan Allah. Di situ kita melihat kaitan dari pujian itu menjadi sesuatu yang Tuhan pakai untuk mengerti dan memahami serta mengingat segala hal yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup mereka sehingga membuat hati mereka dikuatkan dan mulut mereka memuji dan memuliakan Tuhan. “Maka apabila banyak kali mereka ditimpa malapetaka serta kesusahan, maka nyanyian ini akan menjadi kesaksian terhadap mereka sebab nyanyian ini akan tetap melekat pada bibir keturunan mereka…” (Ulangan 31:21).

  1. Nyanyian membantu kita mengekspresikan dan menyatukan emosi.

Bagaimana hati kita tidak penuh dengan gejolak emosi pada waktu kita menyanyikan “the song of redemption” nyanyian penebusan dan nyanyian pengharapan yang diberikan Tuhan di dalam hati kita? Tidak mungkin tidak kita akan penuh dengan sukacita, hati kita akan penuh melimpah dengan syukur kepada Tuhan dan kita menyanyi di hadapanNya. Kadang pada waktu kita masuk ke dalam rumah ibadah, hati kita masih dipenuhi oleh kekuatiran, ada problem-problem hidup, sehingga kata-kata kebenaran firman Tuhan lewat lagu-lagu yang kita nyanyikan hanya “numpang lewat” begitu saja dari telinga kita dan keluar tanpa arti dari mulut kita karena kita tidak focus diri sepenuhnya. Emosi kita tidak tergerak sebab kita tidak mengamini, kita tidak bersyukur, kita tidak sungguh-sungguh mengerti dan mau menyatakan dengan conviction semua kata-kata yang kita nyanyikan dari lagu itu merupakan kekayaan kebenaran firman Tuhan yang seharusnya melatih dan mengajarkan kita mengerti siapa Tuhan itu.

Alasan lain seperti Bob Kauflin berkata, “Some Christians have been taught to repress their emotions as they sing. They’ve been told to fear feeling anything too strongly, and that maturity means holding back.” Banyak orang Kristen diajar untuk menekan emosinya pada waktu bernyanyi sebab merasa ekspresi emosi itu sikap kekanak-kanakan dan berarti mereka bukan orang yang dewasa rohaninya. Persepsi dan konsep seperti itu seringkali ditanamkan dalam diri banyak orang Kristen. Dan itu adalah persepsi dan konsep yang salah! Karena menyanyi tanpa emosi absolutely is not singing. “Suppressing or ignoring your feelings when you sing contradicts what singing is designed to do. Passionless singing is an oxymoron.” Menyanyi tanpa emosi itu pasti bukan menyanyi.

John Piper berkata, “Singing is the Christian’s way of saying: God is so great that thinking will not suffice, there must be deep feeling; and talking will not suffice, there must be singing.” Karena ada aspek pada waktu dituliskan, dikatakan, dinyatakan dengan ucapan belaka, itu tidak cukup bisa mengungkapkan kedalaman maknanya, sehingga kita menyanyikannya.

Lagu juga mendorong ekspresi fisik kita. Malaikat menyanyi memuji Tuhan, manusia menyanyi memuji Tuhan, dimana bedanya? Malaikat adalah roh yang sejati, sedangkan engkau dan saya adalah manusia yang dicipta oleh Tuhan memiliki roh dan fisik yang kelihatan. Ini harus kita mengerti baik-baik, Tuhan menciptakan kita sebagai manusia seperti ini membuat kita secara totalitas membawa diri kita di dalam ibadah kita di hadapan Tuhan. Maka Paulus dalam Roma 12:1 memberikan konsep teologis yang luar biasa mengerti makna ibadah yang sejati itu seperti apa. “Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu supaya kamu mempersembahkan dirimu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadahmu yang sejati.” Ibadah yang sejati bukan saja membawa hati dan pikiran kita yang tidak kelihatan, tetapi kita dipanggil untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan kudus, totalitas keberadaan kita di hadapan Tuhan. Pada waktu kita menyanyi bukan saja soal hati dan jiwa kita yang menyanyi, itu harus terekspresi keluar dengan suara kita.

Dalam perpisahan Paulus dengan tua-tua di Efesus Lukas mencatat dengan sangat detail apa yang terjadi, “Sesudah mengucapkan kata-kata itu, Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. Lalu menangislah mereka semua dengan tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus mereka berulang-ulang mencium dia” (Kisah Rasul 20:36). Kneel down and pray together, hugged one another. Dalam komentarnya terhadap bagian ini, bapa Reformator John Calvin mengatakan “The inward attitude certainly holds first place in prayer, but outward signs, kneeling, uncovering the head, lifting up the hands, have a twofold use. The first is that we may employ all our members for the glory and worship to God; secondly, that we are, so to speak, jolted out of our laziness by this help. There is also a third use in solemn and public prayer, because in this way the sons of God profess their piety, and they inflame each other with reverence of God. But just as the lifting up of the hands is a symbol of confidence and longing, so in order to show our humility, we fall down on our knees.” It is important to express our worship dengan totalitas ekspresi tubuh. Maka di dalam berdoa, itu bicara soal sikap hati yang terutama tetapi tanda-tanda ekternal yang kelihatan dari sikap berdoa itu yaitu kaki yang berlutut, atau tangan yang terangkat, merupakan ekspresi fisik yang perlu. Ada 3 fungsi yang dinyatakan dari sikap tubuh dalam ibadah, kata John Calvin di sini. Pertama, di sini kita menyatakan sikap penyembahan secara total, bukan hanya di dalam roh dan pikiran tetapi juga dengan tubuh kita memuliakan dan menyembah Allah. Kita beribadah kepada Allah dengan totalitas diri kita. Kedua, kita menyatakan ekspresi dengan fisik, sedikit “humor” Calvin mengatakan, tujuannya “jolt out of our laziness” agar kita bergerak dari kemalasan dan kepasifan kita. Ketiga, waktu kita beribadah dengan sikap sedemikian, dengan mengangkat tangan dan berlutut, kita satu sama lain saling menularkan bara dan getaran api di antara anak-anak Tuhan yang berkumpul beribadah sama-sama.

John Calvin mengatakan ketika engkau berdoa dan engkau tahu itu doa yang menggerakkan emosi sukacita atau membuat engkau terharu dan membuat air matamu mengalir, memuliakan Allah dengan ekspresi wajah, dengan tangan terangkat, atau dengan lutut yang terlipat. Pada waktu kita berdoa bersama saudara kita yang dalam kesusahan dan penderitaan, kita rangkul dia dan bawa dalam doa kita. Itulah ekspresi ibadah kita. Sayangnya konsep ibadah yang ekspresif dari John Calvin ini tidak dijalankan oleh gereja dan justru ekses yang terjadi setelah Puritanisme misalnya, karena hierarki yang kaku, sikap resmi membuat orang tidak boleh tertawa, bahkan tidak boleh senyum, anak kecil tidak boleh mengeluarkan suara, cara duduk harus dengan postur tersendiri kalau tidak seperti itu berarti kita tidak menghormati Tuhan. Sehingga yang terjadi maka kita berbakti dengan emotionless dan tatapan yang kosong sebagai tanda respek di hadapan Tuhan. Ini adalah konsep yang keliru.

  1. Nyanyian menyatakan keutuhan gereja di tengah keberagaman. Dalam Kolose 3:16 Paulus menyebutkan variasi pujian, “mazmur,” “puji-pujian” dan “nyanyian rohani” bukan bicara mengenai genre atau jenis lagu. Tetapi pada waktu Paulus menyebut 3 sebutan ini, di situ untuk menunjukkan kepada kita betapa kaya variasi pujian orang percaya di dalam ibadah. Ketika Injil sampai kepada orang Yahudi, jelas mereka menyanyi memuji Tuhan dengan memakai kultur dan lagu yang mereka kenal adalah “mazmur-mazmur.” Lalu kemudian ketika Injil tiba kepada orang-orang non-Yahudi, ketika Injil masuk kepada kebudayaan Yunani, bisa jadi di situ banyak orang Kristen yang bukan orang Yahudi atau yang tidak dibesarkan dengan tradisi Yahudi, pasti jelas banyak jemaat yang adalah budak di Roma itu adalah keturunan orang Afrika dan keturunan dari berbagai bangsa yang ada] tentu mereka pada waktu percaya dan menerima Tuhan, mereka bukan orang Yahudi, mereka adalah orang Yunani dan orang non-Yahudi yang kemudian membawa kultur mereka ke dalam komunitas gereja pada waktu itu. Mereka menuliskan nyanyian-nyanyian bagi Tuhan dengan background seperti itu. Maka pada waktu Paulus menyebut 3 sebutan ini, “mazmur,” “puji-pujian” dan “nyanyian rohani” di situ kita melihat variasi lagu itu terjadi. Salahlah kita menafsir secara anakronistik bahwa melalui 3 penyebutan itu lalu kita bilang Paulus menyebutkan hanya ada 3 jenis genre lagu dan hanya genre itu yang boleh dinyanyikan dalam gereja. Lalu dari situ kemudian gereja mengatakan gereja hanya boleh menyanyikan “mazmur” saja, atau “hymn” saja, lalu bagaimana menjelaskan “spiritual song” di situ? Maka intinya yang paling penting adalah di situ Paulus mengatakan ada variasi lagu terjadi ketika gereja Tuhan expanding. Dari orang Yahudi kepada orang Yunani, kepada berbagai bangsa, bahasa dan budaya sampai ke ujung bumi. Kalimat Paulus memberitahukan kepada kita di situlah orang-orang kudus di dalam budaya mereka yang berbeda, pada waktu mereka datang menyanyi memuliakan Tuhan, mereka boleh berbeda bahasa, mereka boleh berbeda budaya, tetapi di dalam ibadah bersama di tengah keberagaman mereka bisa menyatukan satu unity di dalam pujian kepada Allah. Maka di situ orang Kristen dengan latar belakang yang berbeda mereka menyanyi bagi Tuhan.

Saya ingin mengutip satu teguran yang dalam dari seorang hamba Tuhan, dosen dari Reformed Theological Seminary di Amerika, John M. Frame, seorang teolog Reformed yang penting luar biasa, yang begitu dihormati dan diakui pemikirannya. Dia mengatakan, yang merusak keutuhan gereja itu adalah “musical snobbery” terlalu banyak orang yang “snobbish” di dalam hidup berbakti kepada Tuhan. Ibadah menjadi dingin karena sebagian orang yang keras kepala dan hanya memikirkan diri sendiri, penuh dengan judgmental spirit sehingga orang-orang yang mencintai “high end” culture menghina mereka yang lebih suka kepada “popular” culture, demikian juga sebaliknya yang satu menertawakan yang lain karena menganggap mereka kaku dan kuno. Itulah hal yang terjadi di dalam hidup kita beragama. Ini bukan soal orang itu kurang pendidikan, tetapi ini adalah masalah hati. Di situ pelayanan gerejawi harus membereskan akan hal ini.

Let the word of Christ dwell in you richly melalui lagu dan pujian kita, melalui teaching and admonishing yang terjadi di antara kita. Saya rindu gereja kita menjadi gereja yang beribadah dan berbakti bersama-sama menjadikan Tuhan yang dimuliakan sebagai pusat ibadah kita. Saya rindu setiap kali kita berkumpul dan berbakti kita menjadikan Kristus pusat dan sentral. Itu adalah satu perubahan kultur yang harus terjadi dalam hidup gerejawi kita. Tetapi transformasi kultur gereja itu akan terjadi haruslah mulai melalui transformasi dari our personal culture masing-masing. Ini harus mulai dari pemimpinnya, harus mulai dari para pengurusnya, harus mulai dari para pelayan rumah Tuhan, harus mulai dari para team leaders, harus mulai dari semua kita yang melayani sehingga barulah kebudayaan satu komunitas terjadi karena kebudayaan pribadi kita mengalami transformasi. Transformasi itu hanya bisa terjadi ketika kita betul-betul memahami Kolose 3:16 ini, let the word of Christ dwell richly in you. Hendaklah perkataan Kristus berdiam dengan limpah dan kaya di dalam diri kita.

Seorang hamba Tuhan Puritan bernama Thomas White mengatakan lebih baik mendengar satu kali khotbah dan merenungkannya terus-menerus, daripada mendengar dua khotbah tetapi tidak pernah merenungkannya sama sekali. Saya percaya hidup kita di jaman kemajuan teknologi sekarang ini yang tidak dibombardir dengan kemudahan akses mendapatkan kutipan firman Tuhan. Sejak pagi sampai malam handphone kita terus menerima kiriman ayat-ayat Alkitab. Di mobil kita bisa akses mendengarkan khotbah-khotbah melalui podcast, ITune, radio, dsb. Tetapi adakah perkataan Kristus itu berdiam di dalam diri kita? Adakah sungguh-sungguh kebenaran itu menyerap dengan dalam?

Kenapa begitu banyak orang Kristen mengalami “malnutrisi” dan “defisiensi” secara spiritual dalam hidupnya mengikut Tuhan? Karena relasi mereka dengan firman Tuhan tidak mengalami apa yang dikatakan sebagai proses “inwardly digest” firman Tuhan itu dengan membacanya, menggalinya, merenungkannya, “mengunyah-“nya sehingga menyerap semua nutrisi dari firman itu. Kenapa firman Tuhan itu tidak tinggal dengan richly dalam diri kita? Karena kita tidak memprosesnya dengan baik. Kita hanya “makan” lalu “menelan-“nya begitu saja. Jadilah apa artinya kita menjadi orang yang belajar menjadi murid Kristus dan itu adalah conviction kita. Apa artinya conviction? Apa artinya perkataan Kristus itu “dwell,” tidak lewat begitu saja? Dwell berarti kata Kristus itu begitu familiar bagi telinga kita, kita fasih menyebutnya, perkataan Kristus itu melekat di benak kita, tidak masuk telinga kiri keluar telinga kanan pergi begitu saja. Atau pakai istilah Joel Beeke, perkataan Kristus itu “soak” menyerap, kecebur, marinated, makin lama makin menyerap sampai ke tulang sumsum. Di situ berarti kita tidak boleh berhenti hanya sampai kepada pendengaran saja, tidak boleh hanya sampai tahu konsepnya, tahu isinya lalu selesai tetapi harus menjadikannya dwell in our lives.(kz)