Jesus the Living Water

Pengkhotbah: Ev. Kezia Susanto STh.
Tema: Jesus the Living Water
Nats: Yohanes 4:1-26

Kisah perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria ini dikatakan oleh seorang komentator sebagai “one of the most glorious cases of spiritual aggression in all Scripture.” Yesus membawa wanita ini melihat kepada kebutuhannya yang paling dalam, yang hanya bisa diisi dan dipenuhi oleh Air Hidup itu. Betapa indah, betapa luar biasa Yesus datang kepadanya, Yesus mau bercakap-cakap dengan dia dan membukakan hal-hal yang begitu dalam, begitu kaya, dan begitu luar biasa kepada wanita ini. Yohanes mencatat perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria ini terjadi dengan konteks latar belakang singkat yang dicatat di pasal 4:1-3, Yesus bersama murid-murid dalam perjalanan dari Yudea menuju Galilea. Umumnya rute yang diambil oleh orang Yahudi dalam perjalanan dari Yudea menuju Galilea adalah alternatif jalan sebelah timur menyeberangi sungai Yordan, rute yang lebih panjang daripada jalan lurus sebelah barat yang lebih pendek tetapi melewati daerah Samaria. Yesus memilih rute jalan sebelah barat dengan melintasi daerah Samaria. Yohanes mengatakan, “Ia harus melintasi daerah Samaria” (Yohanes 4:4). Mengapa ada kata “harus” di sini? Mengapa Yesus harus melewati daerah Samaria? Kata “harus” dimengerti oleh para teolog sebagai “divine necessity” the sovereign and providential plan of God, yang berkaitan dengan karya keselamatan dan penebusan Kristus. Ia adalah Anak Allah yang maha kuasa, yang bisa melakukan apa saja yang Ia mau tanpa ada yang mengharuskanNya. Dia Ia pada diriNya sendiri tidak perlu menaklukkan diri kepada apapun juga sehingga Yesus tidak harus melakukan hal ini. Namun betapa indah, Tuhan Yesus yang punya kuasa dan kebebasan itu mau menaklukkan diriNya kepada “keharusan ilahi” berada dalam satu keadaan dimana Allah Anak taat kepada kehendak Allah Bapa [band. Filipi 2:5-11]. Di dalam “keharusan ilahi” itulah Yesus berjumpa dengan perempuan Samaria ini.

Yesus dalam keadaan sangat letih oleh karena perjalanan, di tengah terik matahari yang menyengat, Ia duduk di tepi sumur Yaku] dan tidak pergi bersama murid-murid untuk membeli roti ke desa terdekat. Kita tidak mengerti mengapa di tengah terik matahari itu, perempuan ini berjalan mengambil air di sumur ini. Dia harus berjalan lebih dari 1.2 kilometer dari desanya, mendaki ke atas bukit dimana sumur ini berada. Alkitab tidak memberikan penjelasan tentang hal ini, kita tidak tahu apa sebabnya. Wanita ini membawa tempayannya lalu hendak mengambil air dari sumur itu, sementara Yesus duduk di tepi sumur itu. Sungguh dia terkejut karena tiba-tiba Yesus berkata kepadanya, “Berilah aku minum.” Maka jawabnya, “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” Yohanes memberikan catatan kecil “sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria” (Yohanes 4:9). Kata “tidak bergaul” masih sangat terlalu halus karena sebenarnya lebih cocok dikatakan “sebab orang Yahudi sangat membenci orang Samaria.” Latar belakang hubungan yang dingin dan kebencian orang Yahudi terhadap orang Samaria sudah terjadi beberapa ratus tahun lamanya, ketika kerajaan Asyur menaklukkan kerajaan Israel di tahun 722BC, raja Asyur membuat percampuran antara orang-orang Israel dengan orang-orang Kanaan sehingga mereka tidak lagi memiliki darah murni orang Yahudi. Adat istiadat, kultur dan agama mereka menjadi sinkretisme percampuran dengan agama kafir [lihat 2 Raja 17:24-34].

Yesus menyeberangi batasan-batasan penghalang yang terdapat di antara Dia dengan perempuan Samaria ini. Batasan lawan jenis, perbedaan suku, ras, agama, itu semua sebetulnya membuat percakapan ini tidak pernah terjadi. Wanita ini juga sadar sedalam-dalamnya, dia adalah wanita yang tidak pantas bercakap-cakap dengan pria yang tidak dikenalnya.

Ada tiga hal yang Yesus katakan kepada dia.

  1. “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! Niscaya engkau telah meminta kepadaNya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (Yohanes 4:10). Wanita ini menjawab, “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam. Darimanakah Engkau memperoleh air hidup itu?” Sudah menjadi satu keharusan bagi setiap orang yang melakukan perjalanan harus membawa kantung air sebagai bekal yang paling vital bagi dia. Tidak mudah menemukan sumber air di tengah perjalanan di daerah yang kering dan panas. Maka setiap ada kesempatan berhenti pada sumber air, mereka harus mengisi penuh kantung air itu. Karena udara yang begitu panas terik dan akan sangat fatal jika tidak mempunyai persediaan air, mereka sedapat mungkin menyiapkan air yang cukup sehingga tidak menjadi dehidrasi. Maka sangat dimengerti bagi orang di daerah itu, kita bicara “air” kita bicara sumber hidup, karena tanpa air tidak ada seorang pun dapat hidup.

Perempuan ini melihat Yesus tidak punya kantung air dan tali untuk mengambil air dari sumur. Maka perempuan ini seolah mengatakan, “Siapakah Engkau yang menawarkan kepadaku air, bagaimanakah Engkau bisa menolong aku sedangkan Engkau sendiri tidak mempunyai sesuatu untuk menolong diriMu sendiri?” Sikap skeptik seperti ini bisa membuat kita kadang-kadang bisa berkecil hati waktu berkomunikasi dengan orang yang belum percaya, betapa tidak gampang meyakinkan mereka bahwa Kristus adalah Juruselamat yang berkuasa mengampuni dosa. Namun harus kita akui kita pun memiliki basic nature yang sama. Kita pun selalu skeptik dan kerap kali meragukan perkataan Tuhan. Mungkin kita tidak menolak atau membantahnya, tetapi bisa jadi kita tidak benar-benar mengamini dan menerimanya sepenuhnya di dalam hidup kita, menjadi hal yang kita percaya dan imani. Bagi saya wajar kalau wanita ini bersikap skeptik seperti itu karena berangkat dari satu keterbatasan untuk meyakini bahwa Tuhan Yesus sungguh berkuasa dan benar dalam perkataanNya, karena dia tidak pernah mengenal siapa Tuhan Yesus itu, dia tidak pernah mendengar dan menyaksikan mujizat yang diperbuatNya, dia tidak pernah tahu bahwa begitu banyak orang sakit yang disembuhkan olehNya. Wanita ini baru saja berjumpa dengan Yesus di tempat itu.

Tuhan Yesus mengatakan, “Jika engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia…” Ia sedang berbicara tentang satu tema yang menjadi pengharapan yang sangat dinanti-nantikan oleh keturunan Abraham. Karunia Allah itu adalah Mesias yang Allah berikan menjadi pembebas dan pelepas yang akan membawa umat Allah kepada Allah sendiri, yang akan menikmati berkatNya yang berkelimpahan. Janji Tuhan Yesus begitu luar biasa karena Ia menjanjikan sesuatu yang paling dibutuhkan, sesuatu yang paling vital dan paling mendasar oleh seluruh umat manusia karena Dia menjadi sumber bagi hidup kita.

Banyak kali dalam hidup ini kita terobsesi kepada hal-hal yang trivial, hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan fisik kita menjadi hal-hal yang sangat memenuhi hati dan pikiran kita siang dan malam. Yesus mengingatkan, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4). Begitu banyak manusia di dunia ini, bahkan termasuk juga orang Kristen yang tidak menyadari kebutuhan kita yang paling hakiki justru bukan yang fisik ini. Begitu banyak orang yang bahkan berlebih di dalam harta benda materi, tetapi kekosongan dan kelaparan secara rohani yang tidak pernah bisa terpenuhi dan terpuaskan dengan hal-hal material itu. Yesus mau sekali lagi membawa kita berhenti dari segala hal yang kita jalani setiap hari di dalam hidup kita, yang begitu menguasai pikiran kita dan membuat kita terus kuatir, terus merasa tidak cukup dan terus mau mencari lebih dan lebih lagi daripada apa yang ada sekarang ini. Hari ini Ia bertanya kepadamu, apakah engkau pernah meminta air hidup dariNya? Barangkali selama ini kita tidak pernah meminta hal ini kepadaNya. Barangkali kita belum pernah sampai kepada satu titik dimana kita berkata, “Yesus, hanya Engkau yang dapat memuaskan jiwaku, berilah aku air hidup itu karena aku haus dan dahaga, aku kosong, hati saya kering, saya tidak memiliki satu energi kekuatan untuk menjalani hidupku di luar Engkau.” Saat ini datanglah kepadaNya, karena Ia akan memberikan air hidup itu bagimu.

  1. “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi. Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yohanes 4:14). Pada waktu Yesus mengatakan kalimat ini, di hadapan perempuan ini ada sebuah sumur tua berisi air. Sebagai kontrasnya Yesus menjanjikan air yang mengalir, air yang segar, air yang datang dari sumber air, yang terus baru. Perempuan ini mulai sedikit terbuka karena kata-kata Yesus menembus hatinya yang kosong dan kering itu. Yesus menjanjikan air yang tidak akan membuat dia kosong dan dahaga lagi.

Pada saat yang sama, kalimat Yesus ini memiliki kaitan dan konotasi dengan konsep Allah adalah sumber air yang akan memberikan kepuasan bagi dahaga jiwa umatNya [lihat Yesaya 12:3, Yesaya 44:3, Yesaya 55:1]. Dan itu berarti Yesus menyatakan diriNya adalah setara dengan Allah yang memberikan minum dari sungaiNya [Mazmur 36:9, Yeremia 17:13]. Hanya Allah yang bisa memberikan air yang tidak akan pernah membuat kita haus lagi. Hanya Allah yang bisa memberikan kenikmatan kesegaran bagi orang-orang yang datang kepadaNya. Pada saat Yesus berkata bahwa Ia akan memberikan air yang akan memuaskan dahaga manusia, Ia sedang menyatakan diriNya adalah Mesias yang telah dijanjikan itu [lihat Yesaya 35:7]. Bahkan bukan saja air yang Ia berikan mengisi dan memuaskan jiwa orang itu, bahkan air itu akan menjadi sumber air yang membual-bual, meluap dan memancar dari hidup orang itu. Itulah yang menjadi janji Tuhan bagi setiap orang yang hidupnya dengan indah bertaut dengan Dia.

Kita tidak bisa menjadikan kehidupan agamawi kita, aktifitas ritual kita menjadi sumber kepuasan kita. Semua itu adalah alat belaka yang menolong kita untuk berjumpa dengan Tuhan, tetapi bukan sumber kepuasan itu sendiri. Semua itu kita peroleh sebagai “means of grace” dari Tuhan, seperti corong atau selang air yang baru akan bisa mengalirkan air jika dipasang kepada sumber air itu. Kita perlu senantiasa membawanya kepada Tuhan. Air itu ada di dekat kita, available bagi kita tetapi tidak akan pernah menjadi kepuasan bagi hidup kita selama kita mengabaikannya, selama kita tidak datang membawa kantung-kantung air kita yang kosong untuk dipenuhinya. Bukan itu saja, air itu akan menjadi mata air yang mengalir keluar dari hidup kita, hidup yang telah mengalami keindahan dan kepuasan di dalam Tuhan.

  1. “Percayalah kepadaKu, hai perempuan, bahwa saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:22-24).

Dalam percakapan ini, Yesus lalu berkata kepada perempuan Samaria ini, panggil suamimu untuk berjumpa denganKu. Dia menjawab, aku tidak punya suami. Benar katamu, kata Yesus, engkau pernah punya lima suami dan yang sekarang ini bukan suamimu. Perempuan ini terkejut sekali karena dia baru berjumpa dengan Yesus beberapa menit saja, bagaimana Yesus bisa mengetahui latar belakangnya? Dan Yesus tidak menyatakan kalimat-kalimat yang menghakimi dan menunjuk-nunjuk dosa-dosanya atau nada penghinaan kepada wanita ini. Tetapi itulah kasih dan pengampunan yang kemudian langsung menusuk hati wanita ini, dia sadar bahwa di hadapannya ada seorang yang begitu indah pribadinya. Ia bukan sekedar seorang bijaksana, Ia bukan seorang guru yang punya pengetahuan yang luas dan bijaksana, Ia seorang nabi Allah sendiri. Perempuan ini tiba-tiba sadar Yesus tahu akan dia lebih daripada apa yang kelihatan di permukaan saja. Yesus tahu lebih dalam sampai kepada lubuk hatinya. Dari sini kita melihat betapa luar biasa karya keselamatan bisa terjadi kepada orang-orang yang tidak pernah berjumpa dengan Yesus sebelumnya, pada waktu Ia menyatakan diriNya maka di saat itulah hati orang itu bisa terbuka dan melihat betapa Tuhan Yesus begitu suci dan indah dan betapa tidak layaknya dia berada di hadapanNya.

Maka barulah kita bisa mengerti kenapa kemudian perempuan ini seolah mengalihkan pembicaraan dari bicara tentang air lalu menuju kepada hal-hal ritual agama.  Dia bukan sedang mencari-cari alasan untuk menghindari percakapan tentang urusan rumah tangganya dan hidupnya, tetapi ada satu hal yang tidak terucapkan yang ada di dalam benaknya yang membuat dia berkata “Nenek moyang kami menyembah di gunung ini…” Ada satu kesadaran betapa berdosanya dia, dan dengan pengetahuan dan latar belakang teologis yang begitu terbatas, dia mencoba memikirkan bagaimana membereskan hidupnya yang berdosa datang kepada Allah yang kudus itu. Di dalam ketidak-layakan untuk datang kepada Allah, dia memikirkan untuk memberikan korban persembahan dalam ibadah ke rumah Allah sebagai tanda pengakuan dosa dan pertobatannya. Tetapi kemana dia harus pergi? Tradisi nenek moyangnya mengajar dia untuk pergi menyembah Allah di gunung Gerizim, tetapi dia tahu orang Yahudi menyembah Allah di gunung Zion, di Yerusalem. Di mana dia bisa berjumpa dengan Allah itu? Haruskah dia pergi ke Yerusalem untuk mengaku dosaku dan membawa persembahan kepada Allah? Wanita ini sadar dia perlu Allah. Maka Yesus memberikan satu janji kepada dia, “Percayalah kepadaKu, hai perempuan, bahwa saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:22-24). Itu menjadi suatu proklamasi yang begitu luar biasa. Ia tidak lagi terikat dengan adat-istiadat dan tradisi agamawi, tidak lagi terikat dengan hukum-hukum dan aturan, karena Yesus mengatakan jika engkau ingin mengaku akan segala dosamu, Allah ada di sini, di hadapanmu. Saat ini, sekarang juga. Kalimat Yesus begitu gamblang dan sederhana, “Allah itu Roh. Barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran.” Artinya, ketika roh kita berjumpa dan bertaut dengan Roh Allah, di situlah ibadah yang sejati terjadi. Apa yang kita lakukan di dalam ibadah kita di hari Minggu itu hanya menjadi alat, menjadi cara, mejadi perpanjangan tangan bagi setiap kita untuk bisa berjumpa dengan Allah di dalam roh kita. Ketika kita menyanyi, adakah roh kita yang menyanyikannya? Jika itu tidak keluar dari roh kita, kita belum berjumpa dengan Allah. Jika doa-doa kita tidak kita lakukan dalam roh, itu hanya menjadi kata-kata yang kosong dan tidak sampai kepada Allah. Pada waktu kita mengekspresikan ibadah kita di dalam roh, maka kita akan berjumpa dengan Allah, mengalami Dia, dipenuhi oleh hadiratNya, di situ hati kita berpaut denganNya. Yesus mengatakan beribadah kepada Allah bukan di gunung ini dan bukan di Yerusalem, bukan dalam gedung, bukan di Bait Allah, ibadah itu terjadi tiap saat, tiap waktu ketika sadar Allah itu presence hadir dalam hidup kita. Setiap kali kita bernafas, kita menyembah Dia.  Kita melakukan segala sesuatu, roh kita bertaut denganNya. Sehingga ibadah kita tidak hanya terjadi di hari Minggu, ibadah itu terjadi di saat kita sedang berdagang, ibadah itu terjadi di saat kita sedang bergaul, ibadah itu terjadi pada saat kita sedang berada di ruang kelas, ibadah itu terjadi pada saat kita sedang mengerjakan tugas-tugas kita, saat kita memasak, membersihkan rumah, mengerjakan hal sehari-hari. Ibadah itu terjadi di saat kita sedang mendidik anak-anak kita. Ibadah itu terjadi ketika kita mengambil keputusan-keputusan dan perencanaan masa depan di dalam hidup kita. Roh kita senantiasa bertaut dengan Roh Allah. Di situlah terjadi satu transformasi yang indah, yang nyata, yang boleh dilihat terjadi di dalam hidup setiap kita.

Kiranya 3 hal ini membaharui hati kita mengenal Yesus lebih dalam lagi. Adakah kita pernah berdoa meminta air hidup itu memenuhi dan memuaskan hidup kita? Adakah air hidup itu telah menjadi sumber mata air yang meluap-luap mengalir dari hidup kita? Adakah seluruh hidup kita menjadi ibadah yang berjumpa dengan Allah. Biar setiap doa yang kita panjatkan kepadaNya menjadi doa-doa yang membawa kita berdekat denganNya.

Wanita Samaria ini adalah wanita yang penuh dengan cacat cela, wanita yang tidak bermoral, yang mungkin berada di tempat paling belakang [dari list kita] untuk diInjili dan dilayani. Tetapi Yesus tidak melihat seperti itu. Yesus dengan sengaja melintasi daerah Samaria untuk menjumpai dia. Yesus dengan sengaja duduk di tepi sumur untuk menjumpai dia. Yesus dengan sengaja memulai percakapan dan membawa wanita ini mengenal Dia, Tuhan, Mesias, Juruselamat yang satu-satunya menjanjikan kepadanya untuk memberikan air hidup untuk memuaskan kehausan rohaninya. Anugerah Allah datang melawat dia, dan wanita ini menyambut dan menerimanya dengan sukacita. Tidak ada di antara kita yang berani berkata kita lebih baik dan lebih layak daripada wanita ini. Tidak ada di antara kita yang berani berkata kita berhak mendapatkan kasih karunia Allah itu. Tetapi ketika kesempatan dan tawaran itu juga datang kepada kita, adakah kita menyambut dan menerimanya dengan sukacita?

Pakailah waktu untuk merenungkan, apa yang memenuhi pikiran kita selama ini? Apakah kita hanya terobsesi untuk mengejar hidup yang memuaskan hal-hal yang jasmani? Apakah kita digelisahkan oleh hal-hal yang kita rasa kurang dan belum kita dapatkan, sehingga kita kehilangan sukacita keindahan mengikut Tuhan? Pernahkah kita berkata, Tuhan, aku mau mengalami, mengerti, apa yang menjadi hal-hal yang paling berharga dalam hidupku yaitu Engkau sendiri? Aku mau menkmati Tuhan karena Engkau berjanji memberikan air hidup itu kepadaku, yang akan menjadi sumber mata air yang terus memenuhi hidupku, bahkan meluap dari hidupku. Kiranya Roh Kudus memenuhi hati kita dengan sukacita dan damai sejahtera serta kekuatan yang dari Tuhan untuk menjalani hidup kita. Kiranya setiap kita boleh mengalami pembaharuan di dalam Tuhan, kekuatan untuk berjalan hidup di dalam kebenaran Tuhan. Kiranya hidup kita menjadi hidup yang tidak sia-sia, hidup yang indah dan menjadi berkat [di dalam keluarga, di lingkungan dimana kita berada, bagi tetangga dan orang-orang yang kita jumpai, yang banyak di antara mereka hidup di dalam kekosongan, yang tidak punya pengharapan dan hanya mengejar hal-hal yang tidak pernah memuaskan mereka. Kiranya mata kita terbuka melihat mereka, mendoakan mereka, membawa mereka mengenal Tuhan, karena kita sudah memperoleh air hidup itu di dalam diri kita.(kz)