Menjadi Penyembah Allah yang Sejati

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Menjadi Penyembah Allah yang Sejati
Nats: Kolose 3:16, Yohanes 4:23

“Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu” (Kolose 3:16).

“Let the word of Christ dwell in you richly, teaching and admonishing one another in all wisdom, singing psalms and hymns and spiritual songs, with thankfulness in your hearts to God” (Colossians 3:16, ESV)

“Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah yang benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian” (Yohanes 4:23).

Kiranya dua ayat yang kita baca dan renungkan hari ini boleh menjadi dasar yang penting kita memahami bagaimana meletakkan perspektif teologi yang benar mengenai satu ibadah yang membawa transformasi bagi hidup kita sebagai individu dan sebagai gereja. Yesus Kristus, Tuhan kita menyatakan, saat itu sudah datang sekarang, dimana semua penyembah-penyembah Allah yang sejati melakukannya di dalam roh dan kebenaran. Bukan itu saja, Yesus mengatakan, “…for the Father is seeking such people to worship Him.” Allah menghendaki, Allah “eager,” Allah “seeking”, Allah mencari penyembah-penyembah yang seperti itu.

Apa itu ibadah? Dalam arti luas, jelas ibadah adalah apa saja yang kita kerjakan dan lakukan sehari-hari dimana Allah menjadi yang terutama dan fokus kita. Tetapi pada waktu kita datang berbakti di gereja, ada banyak elemen-elemen yang kita kerjakan. Ketika kita datang ke rumah Tuhan, kita mempunyai pengertian seperti apa? Segala tradisi, liturgi, bentuk luar tatanan ibadah gerejawi, instrument musiknya, jam kebaktiannya, bentuk interior dan eksterior bangunannya, itu semua adalah hal-hal sekunder, hanya menjadi “tools” dan sarana belaka. Di sepanjang jaman aspek-aspek itu mempunyai limitasi memori dan imajinasi yang berbeda. Orang Kristen di abad 12 misalnya, akan mempunyai style dan model ibadah yang sangat berbeda dengan kita yang hidup di abad 21 ini. Tetapi yang menjadi prinsip penting kita pegang adalah pada waktu umat Tuhan beribadah, itu dimunculkan oleh Paulus dalam Kolose 3:16. Pertama, ibadah itu memiliki fungsi “teaching,” mengajar dan “admonishing” menegur; dan elemen kedua adalah “singing” and “thanksgiving.” Paulus mengatakan biar perkataan Kristus itu dengan limpah dan kaya berdiam di dalam hatimu, melalui firman yang engkau dengar, melalui teguran dan koreksi yang membawamu kepada kebenaran dan kesucian, melalui nyanyian lagu-lagu yang sarat dengan keindahan kebenaran Kristus. Maka dalam ibadah ada content, ada purpose, ada sarana yang semuanya membawa perkataan Kristus berdiam dengan segala kelimpahan kekayaannya di antara anak-anak Tuhan. Di dalam lagu-lagu pujian, di dalam doa, di dalam bacaan responsorial, di dalam khotbah, di dalam persembahan offering, seluruh ibadah itu berlimpah dengan perkataan Kristus. Di dalam percakapan, di dalam diskusi, di dalam setiap interaksi yang terjadi di antara anak-anak Tuhan, biar content itu yakni the word of Christ kaya melimpah dinyatakan.

Pertama, ibadah adalah sikap dan tindakan kita mengakui kebesaran Tuhan Allah Perjanjian, the Covenant God, Allah itu yang kita sembah dalam ibadah kita. Kita mengucap syukur kepada Allah karena Ia memberikan diriNya boleh kita kenal, melalui Alkitab yang diberikan kepada kita Allah ingin kita mengenal Dia dengan benar dan mengerti siapa Dia. Walaupun Ia adalah Allah yang incomprehensible, kita manusia yang terbatas tidak mungkin bisa mengenal Dia dengan sepenuhnya, tetapi Ia adalah Allah yang knowable sehingga pada waktu kita berbakti kepadaNya sesuai dengan bagaimana Ia menyatakan diriNya kepada kita, kita yakin dan percaya bahwa kita menyembah Allah yang benar itu. Itulah dasar teologi kita.

Allah kita adalah Allah yang seperti apa? Penting sekali kita memahami siapa Allah dan bagaimana Dia berelasi dengan kita. Pertama-tama Allah yang kita sembah adalah Allah Pencipta. Apa artinya Allah Pencipta? Artinya hanya Allah yang tidak dicipta dan hanya Dialah sumber dari segala sesuatu, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, semua itu dicipta olehNya. Sebab kita berasal dari Dia, yang dicipta oleh Dia patut dan harus menyembah kepada Penciptanya [lihat Kisah Rasul 17:24-27]. Alkitab memberitahukan kepada kita bukan manusia saja yang memuliakan Allah, seluruh alam semesta ini, cakrawala, gunung, laut, pohon dan sebagainya juga memuliakan Allah [lihat Mazmur 19:1-4]. Demikian pula seluruh malaikat di surga bersujud menyembah, memuji dan memuliakan Allah dengan sukacita. Itulah relasi yang benar dan sepatutnya, yang appropriate, antara yang dicipta dengan Sang Pencipta. Manusia yang dicipta, baik dia pengemis yang sederhana dan tidak punya apa-apa, sampai dengan raja yang kaya dan berkuasa, di hadapan Allah semua sama-sama menyembah Dia. Dengan demikian, mengetahui Ia adalah Allah Pencipta, berarti Ia tidak bisa disamakan dengan apapun yang diciptakanNya. Ia Allah yang transenden, yang jauh di surga. Ia agung, besar, suci dan mulia; keagunganNya layak kita puji dan sembah. Tetapi Alkitab juga memberikan satu perspektif yang lain, Allah yang transenden yang kita sembah adalah Allah Imanuel, Allah yang tinggal beserta dengan kita. He is God who closely approachable, sangat dekat untuk kita bisa kita hampiri. Itu adalah suatu keindahan dan keunikan Allah. Meskipun Ia api yang suci dan menghanguskan tetapi pada waktu kita mendekatiNya, Dia tidak menghanguskan kita dan memberikan kenyamanan bagi kita. Itulah kasih Allah kita di dalam Kristus yang penuh dengan anugerah. Maka ibadah kita akan balance dengan dua aspek itu. Dengan respek dan hormat kita menghampiri Allah yang transenden, tetapi juga dengan keintiman dan kedekatan kita menghampiri Allah yang immanent.

Maka tidak boleh kita datang ibadah dengan tujuan untuk mendengar “lecture” tentang Tuhan, “learning about God.” Itu salah. Kita datang beribadah bukan untuk mendengar sejarah apa yang Tuhan lakukan di masa lampau. Kita datang beribadah sedang menghampiri “the Presence of God” now. Allah bukan hadir pada waktu Dia membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir saja. Sekarang Allahmu itu presence dan hadir di tengah-tengahmu pada hari ini. That is worship; itulah artinya kita approach Tuhan. Ibadah menuntut your attitude, ibadah adalah your action secara konkrit. Betul, ibadah itu adalah persoalan hati tetapi dimensi hati yang tidak kelihatan itu pasti harus terekspresikan melalui our attitude dan our action. Maka, attitude dan sikap seperti apa yang appropriate, yang sepatutnya dan selayaknya engkau dan saya nyatakan pada waktu kita datang ke hadapanNya?

Saya mengerti, seringkali ada hal-hal sekunder yang bisa menghalangi kita berbakti. Kita bisa mudah terganggu dan di-distracted oleh banyak hal. Mungkin kita terganggu dengan traffic dalam perjalanan menuju ke gereja, kita mungkin terganggu dengan sakit kita sehingga menghalangi konsentrasi kita penuh di dalam ibadah, kita mungkin terganggu dengan suara anak kecil, kita mungkin terganggu dengan lagu yang baru yang kita belum kenal, kita mungkin terganggu dengan sound system yang tidak terlalu clear. Tetapi semua itu tidak menjadi alasan kita tidak memusatkan hati kita sepenuhnya menyelami hadirat Allah ada di tengah-tengah kita. Maka bagaimana sikapku? Saya menyatakan kehadiran saya dengan gesture dan ekspresi yang menghormati Allah di hadapanku, sikap itu yang patut dan layak kita nyatakan kepadaNya. Maka misalnya, pada waktu engkau menyanyikan lagu pujian, pada waktu lagu itu meresap dalam sanubarimu, lalu roh kita mengamini kata-kata syair lagu ini mengekspresikan janji Tuhan kepada kita. Itulah yang Paulus mengatakan dengan nyanyian rohani engkau mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Itulah nyanyian yang digerakkan oleh Roh Kudus di dalam hatimu. Di situ kita katakan Tuhan, Engkau hadir di tengah kami. Pada waktu engkau mendengarkan firman Tuhan disampaikan dan firman itu menyentuh hatimu, ini firman bukan disampaikan dengan hebat, dengan baik, dengan canggih, dengan fasih oleh pendeta yang berdiri di depan sehingga selesai kebaktian orang pulang berkata, “Wah, khobahnya ciamik, pak pendeta!” bukan itu! Yang ada ialah melalui penjelasan dan penyampaian firman ini yang digerakkan dan didorong oleh pekerjaan kuasa Roh Kudus yang memberkati setiap kata-kata yang keluar, kita mengakui Allah sungguh hadir dan berfirman, di situlah kehadiran Allah di tengah-tengahmu.

Yang kedua, basic theology yang penting, ibadah itu harus “God-glorifying worship.” Hanya Allah satu-satunya yang berhak menerima pujian. Bukan sang pengkhotbah, bukan pemain musik, bukan siapa-siapa, bukan gereja, bukan orang dan bukan programnya. Ibadah itu fokusnya vertikal kepada Allah. Kita bukan beribadah untuk di-entertain, kita bukan beribadah untuk menyaksikan performance, kita bukan beribadah untuk menambah self-esteem melalui kata-kata motivational yang kita dengar supaya keluar dari tempat ini kita feel good, more confident, dsb. Kita datang beribadah sebab kita sedang memuliakan Allah yang bukan saja telah mencipta kita tetapi Ia juga telah menebus dan merubah engkau dan saya. God-glorifying worship yang vertikal itu yang menjadi fokus ibadah kita. Tidak berarti kita mengorbankan fungsi ibadah memberikan aspek horisontal karena dalam 1 Korintus 14:26, Paulus mengingatkan setiap kali kita berbakti beribadah berkumpul menyembah Tuhan dan mengerjakan seluruh karunia bagi ibadah itu, semuanya kiranya bermanfaat, membangun, nurture membuat orang mengerti dan membuat orang yang baru datang yang mungkin belum percaya Tuhan di situ mereka akhirnya bisa menyembah Allah dan mengakui “sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu!” Itu ada aspek horisontal dalam ibadah, kita tidak mengabaikan itu. Tetapi kita harus senantiasa ingat ibadah kita adalah ibadah kita datang menyembah Allah yang sudah menciptakan dan menebus kita.

Yang ketiga, setiap kali kita beribadah, Allah adalah pusat dan fokus ibadah kita, maka mari kita melakukan semua itu dengan hati yang mencintai Tuhan; mari juga kita memuji Dia dengan segala sukacita, kelimpahan kekayaan dari hati kita.

Ada orang yang tidak suka datang ke gereja karena selalu meletakkan preferensi apa yang kita mau dan kita sukai. Itu adalah sikap yang salah. Umat Tuhan itu penuh dengan pujian. You have to love singing. Memuji Tuhan, menyanyi seringkali dipikir bukan keharusan, tetapi itu harus. Kita tidak bisa bilang aku tidak interes menyanyi, aku hanya mau mendengar khotbah. Atau alasan lain, aku tidak bisa bernyanyi. Alasan yang lain adalah suaraku fals, aku tidak tahu lagunya. Menyanyi menjadi soal training vocal, menyanyi menjadi teknik, menyanyi menjadi preferensi.

Seorang hamba Tuhan bernama Harold Best berkata, “The human voice, given over to Jesus, and found in company with other voices given over similarly, produces a dignified and worthy song from storefront church to cathedral.” The human voice is the most wonderful sound God has given to us. Kita minta alat musik yang paling bagus untuk memuji Tuhan tetapi mulut kita diam, padahal Tuhan sudah memberi alat musik yang terbaik, yaitu suara kita. Our voice is the most beautiful instrument to praise God, tidak ada yang menandinginya. Frekuensi suara kita tidak ada alat musik lain yang sanggup dan bisa menggantikannya. Human voice yang diberi oleh Tuhan adalah karunia alat musik yang terindah. Singing is not an option for the Christians, no one is excused. Vocal skill is not a criterion. It is about your heart. Ibadah ini menjadi ibadah yang menghargai kehadiran Allah, ibadah yang memuliakan Allah. Pada waktu kita mendengar firman yang digerakkan oleh Allah lalu firman yang benar itu menyentuh hati dan emosi yang mendengarnya, sehingga mulut bibir kita mengeluarkan dan mengalirkan kata-kata yang begitu dalam dan indah sebagai respons akan firman Tuhan, itu menjadi suatu ibadah yang menyenangkan hati Tuhan karena itu dikeluarkan dan diekspresikan oleh suara-suara yang sudah diciptakan oleh Tuhan yang begitu luar biasa.

Kepada orang yang excuse ‘saya tidak terlatih mengerti musik, pak’ saya akan mengatakan kepadamu, menyanyi memuji Tuhan dalam ibadah critical question-nya kata Bob Kauflin bukan apakah aku memiliki suara, “Do I have a voice?” Pertanyaan yang paling penting “Do I have a song?” adakah aku memiliki pujian? Kalimat ini dalam sekali maknanya. Bedanya dimana? Kalau engkau mau memuji Tuhan, kalau engkau mau menyanyi, persoalannya itu bukan apakah engkau punya suara yang indah dan baik dan mampu bernyanyi atau tidak; persoalannya apakah engkau punya “lagu” atau tidak? Maksudnya adalah bukan soal bagaimana saya menyanyi, bagaimana suara apakah saya sudah pernah belajar teknik menyanyi dengan benar, apakah saya mampu membaca notasi musik, bukan itu yang paling penting. Yang paling penting adalah apa sebabnya engkau menyanyi? Apa alasannya engkau menyanyi? Kita semua punya alasan karena masing-masing kita secara personal punya lagu, dan lagu kita adalah “the song of redemption.” Masing-masing kita mempunyai the story of redemption kita masing-masing. Kita yang berdosa diampuniNya; kita yang musuh dan seteru Allah diperdamaikan olehNya; ditebusNya, diselamatkanNya. Dan story itu harus diceritakan, harus dinyanyikan. Itulah artinya kita menyanyi memuji Tuhan dan itulah yang pleasing God. It is not about your voice, it is about your song. Saya menyanyi karena saya sudah ditebus oleh Tuhan, betapa indah dan agungnya kasih Allah itu sehingga tidak habis-habisnya mulutku memuji Dia dan kebesaranNya.

Kedua, tidak ada excuses sebab skill dan experience yang paling dini kita dapatkan pada waktu kita baru lahir dan pada waktu kita masih bayi adalah menyanyi. The first skill kita belajar bukan mendengar khotbah; the first skill kita bukan berlari, bukan membaca, bukan belajar yang lain. The first skill kita adalah menyanyi. Menyanyi itu adalah bagian dari  hakekat kita sebagai manusia.

Ketiga, Alkitab memberitahukan kepada kita Allah Tritunggal kita adalah Allah yang menyanyi. Our God sings. God wants us to sing because He sings, kata Bob Kauflin. Zefanya 3:17 dalam terjemahan ESV memperlihatkan aspek ini, “The LORD your God will exult over you with loud singing.” Allahmu bergirang dan bersorak menyanyi dengan keras. Matius 26:30 mencatat, “Sesudah menyanyikan nyanyian pujian,” Yesus bernyanyi bersama murid-muridNya di malam perjamuan terakhir. Dalam Efesus 5:18-19 Paulus mengaitkan salah satu aspek seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus akan membuat dia bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan dengan segenap hati. Orang itu bernyanyi di dalam Roh yang bernyanyi. Pada waktu Paulus dan Silas berada di penjara dalam keadaan terbelenggu, tubuh penuh dengan luka bekas pukulan, mereka menyanyikan puji-pujian bagi Allah (Kisah Rasul 16:23-26). Nyanyian itu adalah nyanyian ekspresi karena Roh Allah bekerja di dalam kita.

John Piper berkata, “Singing is the Christian’s way of saying God is so great that thinking will not suffice, they must be deep feeling and telling will not suffice that must be singing.” Kita mengatakan, “Tuhan itu baik, Tuhan itu baik kepada saya dalam segala keadaan, Tuhan baik kepada saya seumur hidupku.” Kata-kata itu bisa menjadi sesuatu yang lebih dalam dan lebih kaya ketika kita mengatakannya di dalam lagu pujian, “God is good all the time.” Menyanyi menjadi cara orang Kristen untuk menyatakan kebesaran Allah yang kadang-kadang dengan kata-kata saja tidak cukup untuk menyatakan kedalamannya. Sebab dengan menyanyi kita bukan hanya menggerakkan pikiranmu, dia mendesak hatimu, dia menggerakkan tubuhmu dan membuat engkau desire and willing, itulah artinya kita menyembah Tuhan. Tidak akan pernah kita menyembah Tuhan tidak menggugah emosi kita di hadapan Tuhan. Douglas Moo, seorang teolog Perjanjian Baru mengatakan, “Worship of God should always involve the emotions. How can we praise a holy God who has redeemed us without getting emotional about it? But what should move our emotions is not the sonorious tones of the organ or the insistent beat of the drums, but the mind’s apprehension of truth about God.” Menyelami kebenaran akan Allah, menghayati keselamatan dan penebusanNya, itulah yang akan men-drive pikiran, hati, dan emosi kita menyanyi bagi Tuhan.

Saya merindukan setiap pagi kita boleh bangun dari tidur, kita menikmati Tuhan, kita membaca firman Tuhan, hidup kita penuh dengan pujian. Karena di situ akan membuat hati pikiran kita menjadikan keinginan kita lebih dalam senantiasa memuliakan, memuji dan menyembah Allah. Saya juga merindukan setiap kali kita datang menghampiri Tuhan, beribadah dalam rumah Tuhan dengan sikap seperti itu. Tuhan menggerakkan kita, Tuhan memanggil kita, “Mari, datang, bersorak dengan sukacita, penuh mulutmu dengan segenap syukur dan pujian!” Dengan kekaguman, respek dan hormat kita datang ke hadiratNya, dengan intim dan erat kita menyanyikan lagu-lagu pujian dengan berbagai ragam lagu-lagu indah yang lahir dari hatimu dan biar setiap kata-kata yang engkau ucapkan di situ membuat hati kita penuh dengan kekayaan firman Tuhan.

Terakhir, penyembahan kepada Tuhan penuh dengan kekayaan kedalaman variasi dan unity di sepanjang sejarah gereja. Di situlah kita bisa menyaksikan betapa terlalu sedikit dimensi dari diri kita di dalam menyembah Tuhan. Umat Tuhan di abad pertengahan memuji Allah dengan “chant” lagu berpola monophonic, tekstur musik sederhana dengan melodi yang dinyanyikan berulang repetitif, fungsinya bersifat meditatif membuat kita mengalami hadirat Tuhan lebih dalam. Tetapi pada waktu kita menyanyikan lagu hymn yang memiliki 3 verse, pola ini bersifat mau mengajarkan umat Tuhan menyingkapkan perjalanan iman kita mengikut Tuhan dengan berbeda-beda situasinya. Pada waktu kita menyanyikan lagu-lagu song of praise yang senantiasa mengulang chorusnya supaya menjadi kalimat-kalimat yang bisa diingat oleh orang-orang yang menyanyikannya. Sehingga pada waktu misalnya kita menyanyikan 10,000 Reasons meskipun tidak bisa menghafal 3 varsesnya, tetapi kita “hooked” dengan refrainnya yang berulang. Masing-masing lagu mempunyai dimensi tersendiri, di situ kita belajar menerimanya. Maka kerinduan saya adalah kita harus ter-exposed dengan luas mempelajari di dalam perjalanan sejarah gereja dari awal sampai sekarang karena Tuhan kita bekerja dengan indah. Itulah artinya pada waktu kita mengucapkan Pengakuan Iman kita berkata, “Aku percaya kepada Persekutuan yang Kudus dan Am.” Apa artinya kalimat itu? Artinya saya bukan hanya bersekutu dengan orang-orang yang ada di dalam gerejaku, saya bukan hanya bersekutu dengan orang-orang Kristen sedenominasi dengan gerejaku, saya bukan hanya bersekutu dengan orang-orang Kristen sesama orang Indonesia saja, atau dengan semua orang Kristen di jaman ini saja. Saya harus memperluas persekutuan itu dengan orang-orang Kristen di jaman yang lampau dan di jaman yang akan datang. Bagaimana saya bisa bersekutu dengan orang-orang yang tidak satu jaman dengan saya? Kita bersekutu dengan mereka dengan 2 hal. Pertama, kita bersekutu di dalam confession pengakuan yang sama, kita percaya kepada Allah Tritunggal, kita percaya Yesus Kristus adalah Tuhan dan juruselamat kita, dsb. Sehingga orang Kristen dari gereja mula-mula, orang Kristen di abad pertengahan, orang Kristen di jaman Reformasi dan orang Kristen di jaman ini sama-sama memegang pengakuan iman yang sama, di situlah kita bersekutu sama-sama. Yang kedua, kita bersekutu dengan mereka melalui lagu-lagu yang kita nyanyikan. Itulah artinya kita percaya di dalam persekutuan yang kudus dan am. Maka saya rindu pemahaman ini membuat ibadah kita menjadi lebih kaya dan lebih dalam lagi.(kz)