Why Daddies Matter

FATHERHOOD

“It is much easier to become a father than to be one” – Kent Nerburn, Letters to My Son

Menjadi seorang ayah adalah sebuah hak istimewa yang diberikan Allah. Allah bisa memilih siapa saja tetapi di dalam bijaksanaNya yang tak terbatas itu Ia memilihmu untuk melaksanakan tugas itu!

Menjadi ayah adalah inti dari natur maskulinitas. Keinginan yang kuat untuk melindungi dan menjaga bayi dan anak-anakmu dari segala mara bahaya, keberanian untuk berada di depan menjadi tameng, itu adalah natur maskulin, itu ada di dalam diri pria sejati. Ayah yang taat kepada Allah akan menempatkan kebutuhan orang lain di depan kebutuhannya sendiri. Seorang anak laki-laki akan mencontoh natur maskulinitas ini dari ayahnya.

AYAH DAN ANAK LELAKINYA

Seorang ayah memiliki peran yang esensial sebagai seorang pria bagi pertumbuhan anak lelakinya. Bahkan boleh dikatakan bagi anak-anak lelaki, seorang ayah lebih penting daripada seorang ibu! “Mothers make boys, fathers make men.” Di masa bayi, anak lelaki dan anak perempuan sama-sama mempunyai kedekatan emosi yang dalam dengan ibunya. Anak perempuan dalam pembentukan identifikasinya terus dekat dengan ibunya. Namun anak lelaki memiliki “tugas tambahan” di dalam pertumbuhannya yaitu justru untuk “disidentify” [melepaskan identifikasi] dari ibunya dan membentuk identifikasi dengan ayahnya. Pada titik ini [dimulai pada usia 18 bulan] seorang anak lelaki bukan saja mulai mengenali perbedaan, tetapi dia harus memutuskan “aku akan menjadi seperti siapa?” Dalam proses identitas diri ini anak lelaki mengarahkan matanya kepada sosok ayah sebagai model maskulinitasnya. Umumnya sebelum usia 3 tahun anak lelaki sudah memutuskan dia akan bertumbuh menjadi seperti ayahnya. Secara implisit keputusan ini berarti dia tidak akan bertumbuh seperti ibunya. Maka pada titik ini seorang ibu mulai mundur sedikit demi sedikit dan memberi kesempatan kepada ayah untuk lebih banyak terlibat di dalam dunia anak lelakinya. Sementara itu ayah harus memperkuat peranannya dan memperteguh natur kelelakian anak lelakinya dengan membangun relasi yang penuh kasih dan respek di antara mereka. Ketika seorang anak lelaki makin dekat dengan ayahnya, dia makin mengerti betapa menyenangkan maskulinitas itu. Dia akan merasakan adanya “sense of freedom and power” lepas dari ibunya dan masuk ke dalam dunia pria. Bermain gulat, melempar dan menangkap bola dan berbagai aktifitas fisik akan sangat menyenangkan anak-anak lelaki bersama ayahnya. Anak lelaki membutuhkan seorang ayah yang suportif, sensitif dan penuh perhatian. Jangan pelit mengatakan, “I love you,” “I am proud of you, well done, son! Good job!” karena kata-kata seperti itu akan menghasilkan impak yang sangat besar pada diri anak. Apabila ayah melakukan perannya dengan sepenuhnya, kelak anak-anak lelakinya akan tumbuh menjadi pria yang normal, produktif, bahagia dan hidup yang indah.

KETIADAAN ROLE MODEL DAN BIMBINGAN MASKULIN

Hasil penelitian di Amerika melaporkan bahwa hampir semua ayah sangat kurang berinteraksi dengan anak-anaknya. Rata-rata percakapan langsung antara ayah dan anaknya hanya 30 detik per hari. HANYA SETENGAH MENIT SEHARI! Ini adalah hasil penelitian yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan. Ayah sibuk sendiri dengan dunianya, dengan peralatan elektronik di sekitarnya, dan tidak mempunyai intention untuk melakukan percakapan dengan anak-anaknya. Ada yang beralasan dia merasa kagok dan tidak tahu bagaimana memulai percakapan dengan anaknya karena ayahnya sendiri tidak pernah melakukan hal seperti itu pada waktu dia kecil.

Apa yang terjadi ketika seorang ayah absent dari hidup anaknya?

  • kurang ada disiplin dan supervisi
  • tidak tersedia bimbingan apa artinya menjadi seorang pria
  • tidak ada pertolongan bagaimana anak mengatur emosinya
  • tidak ada petunjuk dan direksi
  • tidak terlibat
  • tidak pernah mendisiplin pun juga tidak mendukung
  • penolakan dan kritikan
  • absen secara fisik dan emosi

Maka ketika semua ini terjadi, anak lelaki akan tumbuh menjadi seorang yang:

  • pemarah dan mudah sakit hati (kemarahan terpendam)
  • berperilaku yang ekstrim, jatuh kepada kecanduan atau obsesi terhadap hal tertentu
  • lemah di dalam mengambil keputusan, kurang ada direksi, sense of lostness
  • homoseksualitas terjadi kepada anak-anak lelaki yang sensitif oleh karena luka yang terlalu dalam dengan ayahnya

Sosiolog bernama Peter Karl mengatakan anak-anak lelaki yang 80% hidupnya hanya dikelilingi oleh wanita pada waktu dewasa tidak tahu bagaimana bersikap dan bertindak sebagai pria. Dia akan menjadi helpless dan lebih seperti “big kids.”

Riset memperlihatkan satu hal yang memprihatinkan di dunia barat bahwa kaum lelaki menghadapi lebih banyak persoalan serius daripada kaum wanita. Anak lelaki yang mengalami kesulitan belajar 2x lebih banyak daripada anak perempuan, 3x lebih banyak yang kecanduan obat; 4x lebih banyak mengalami gangguan emosional. Kaum lelaki lebih besar resiko mengalami penyakit jiwa schizophrenia, autisme, kecanduan seks, minuman keras dan berbagai sikap antisosial dan kriminal. Kaum lelaki 10x lebih banyak yang menjadi pembunuh dan kematian karena kecelakaan mobil 50% lebih besar.

MENGEMBANGKAN PERAN AYAH SECARA INTENSIONAL

Ayah mendisiplin, ayah memberi direksi, ayah mendorong hal-hal yang baik bagi anak-anaknya. Semua itu bisa terjadi secara efektif jika seorang ayah melakukan “intentional fathering” dengan perencanaan yang proaktif. Sayangnya ayah yang tidak tahu harus bagaimana dalam situasi tertentu akhirnya bereaksi impulsive dan lebih menggunakan kemarahan ketimbang ketenangan dan sikap bijaksana.

BONDING, AKRAB DENGAN ANAK

Kenapa begitu penting untuk bonding dengan anak?

Interaksi yang kerap dengan pria dewasa akan membuat anak lelaki mempunyai gambaran bagaimana hidup menjadi seorang pria dewasa. Unik sekali, Allah memberikan satu dorongan kuat dalam hati anak lelaki mengagumi apa saja pada diri ayahnya. Bahkan secara instinktif mereka meniru cara ayahnya berbicara, berjalan, dan berbagai kebiasaan-kebiasaan khas yang dilakukan ayahnya.

Anak lelaki belajar bagaimana ayahnya menjalani hidup sebagai seorang dewasa yang bertanggung jawab dan memberi nilai-nilai moral kepada mereka hidup dalam kerajinan, kejujuran dan bijaksana. Merka melihat ayah bukan saja sebagai sosok yang mencukupi kebutuhan mereka tetapi juga sebagai teladan dan guru. Seorang ayah yang kuat sekaligus tenang, gagah sekaligus lembut, figur “a real gentleman” sedemikian akan tertanam di dalam benak anaknya bagaimana “a healthy manhood” itu, yang akan menghasilkan satu pribadi yang kuat dan stabil. Sebaliknya, anak yang tidak mendapatkan kesempatan seperti itu akan menjadi seorang yang gampang terombang-ambing dan terpengaruh dengan segala pengaruh kultur dan tekanan dari sekitarnya.

MELEWATI MASA-MASA SULIT

Ayah dan anak lelakinya akan lebih erat secara emosional ketika mereka menghadapi masa-masa sulit bersama. Jangan takut mengekspresikan kelemahan dan ketidak-berdayaan, di situ anak tidak melihat ayah sebagai orang yang lemah tetapi sosok yang jujur dan otentik. Mengatakan kita membutuhkan support dan berdoa bersama anak akan menjadi satu pengalaman yang sangat berharga bagi mereka, melihat betapa nyata pengalaman rohani dan hati yang bersandar sang ayah kepada Tuhan bisa menjadi kekuatan bagi mereka di saat mereka juga menghadapi kesulitan dan persoalan kelak.

Kitab Amsal memanggil para ayah menjadi penasehat yang bijaksana bagi anak-anak lelakinya. Selain itu penting juga bagi ayah menyatakan ekspektasi apa yang dia harapkan pada anak , memberi challenge dan menuntut mereka menyelesaikan tugas dengan kesungguhan, kesabaran dan ketelitian. Kelak semakin bertambah usia mereka, beri tantangan yang semakin berat untuk melatih mereka makin kuat dan bertanggung jawab. Biasakan memberi pekerjaan-pekerjaan rumah, merapikan barang-barang, membantu reparasi barang di gudang, menyeterika baju, menyapu dan membuang sampah, bahkan memasak di dapur. Banyak anak lelaki karena tidak dibiasakan terlibat akhirnya menjadi remaja yang malas, pasif  dan tidak punya inisiatif. Dengan melakukan kegiatan-kegiatan seperti itu anak lelaki menjadi terlibat dengan dunia sekitarnya dan akan mengembangkan empati mereka kepada orang-orang lain.

John Maxwell pernah berkata, “Only when we are tested under pressure do we discover the true nature and depth of our character. By never letting our sons suffer through tough times, we rob him of the joy and rewards of developing strong character.” Tahan diri dan jangan cepat-cepat menolong dia di tengah anak menghadapi sesuatu yang kelihatan berat. Lihat sampai dimana batas kekuatannya dan baru mendampinginya sampai dia benar-benar tidak mampu dan mulai mengekspresikan frustrasinya.

BERBICARA TENTANG ALLAH

Alkitab sangat menekankan peran ayah sebagai alat Tuhan untuk membimbing anak-anaknya mengenal Tuhan, menghormati Tuhan dan menempatkan Tuhan sebagai prioritas yang terpenting di dalam keluarga. Seorang ayah adalah imam bagi keluarga, pemimpin rohani dan wakil dari otoritas Tuhan bagi seluruh anggota keluarga yang lain. Sebagai imam, ayah bertanggung jawab membimbing isteri dan anak-anaknya beribadah kepada Tuhan. Seperti kata Yosua, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN” (Yosua 24:15). Ciptakan kesempatan dan waktu bersama anak secara intensional membaca Alkitab dan mempelajarinya bersama. Lakukan dengan teratur sehingga anak terbiasa dengan hal yang rutin. Sampai dewasa kelak dia akan menghargai waktu-waktu yang indah bersekutu bersama ayah dan Tuhannya.(kz)

Sumber: “Bringing Up Boys,” DR. James Dobson; “Better Dads, Stronger Sons,” Rick Johnson