Tradisi Dan Kebiasaan Di Seputar Hari Natal

Question and Answer (Q and A)

Hampir di seluruh tempat di dunia merayakan Natal, baik itu orang Kristen maupun yang bukan Kristen. Natal adalah hari dimana keluarga dan handai taulan berkumpul dan mengingat hal-hal yang baik yang mereka nikmati sepanjang tahun. Anak-anak sangat menyukai Natal karena itulah saatnya mereka saling memberi dan menerima hadiah.

Bagi kita orang Kristen, Natal adalah hari dimana kita mengingat peristiwa yang terjadi 2000 tahun yang lalu Allah mengirim AnakNya, Yesus, ke dalam dunia sebagai hadiah Natal terindah bagi semua orang.

Kata “Natal” berasal dari bahasa Portugis, yang artinya “kelahiran” atau dari ungkapan bahasa Latin “dies natalis” yang artinya “hari lahir.” Dalam bahasa Inggris “Christmas” datang dari frase “the mass of Christ” (Cristes-messe) yaitu ibadah bagi Kristus.

Question: Kenapa Natal dirayakan tanggal 25 Desember?

Answer: Sebetulnya tidak semua negara merayakan Natal pada 25 Desember. Bahkan Kekristenan Mula-mula di wilayah Romawi merayakan Natal pada tanggal yang berbeda-beda. Catatan paling awal orang Kristen merayakan Natal di tanggal 25 Desember di tahun 336 atas perintah Konstantin Agung yang adalah kaisar Romawi Kristen. Beberapa tahun setelah itu seorang Paus (pemimpin gereja) bernama Julius I menunjuk seorang imam bernama Dionysius untuk membuat standar penanggalan universal dan secara resmi menetapkan Natal dirayakan setiap tanggal 25 Desember.

Ada orang yang menolak perayaan Natal dengan beberapa alasan, misalnya:

  1. Alkitab tidak memberikan indikasi Gereja Mula-mula merayakan hari kelahiran Yesus sebagai bagian dari ibadah. Tuhan Yesus secara spesifik memberikan perintah untuk murid-muridNya melakukan Perjamuan Kudus untuk mengingat kematian dan sengsaraNya (Luk.22:19, 1 Kor.11:24-25). Perayaan Paskah dilakukan dalam Gereja Mula-mula sebagai kelanjutan dari tradisi orang Yahudi (keluarnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir) yang memiliki makna yang baru, kematian Anak Domba Allah Yesus Kristus sebagai penebusan atas dosa dan kebangkitanNya menyatakan kemenangan atas kematian.
  1. Perayaan Natal bersumber dari tradisi Romawi kafir yang merayakan Saturnalia (perayaan untuk dewa pertanian Saturnus) yang puncaknya jatuh sekitar tanggal 25 Desember dalam kalender Julian.

Gereja-gereja yang tidak merayakan Natal adalah aliran Gereja Yesus Sejati, Gereja Masehi Advent hari ke Tujuh, Gereja Baptis hari ke Tujuh, Perserikatan Gereja Tuhan, kaum Yahudi Mesianik, Gereja Jemaat Allah Global Indonesia dan Saksi Yehovah.

Question: Darimana asalnya tradisi Pohon Terang?

Answer: Dalam perayaan Natal kita lazim melihat pohon cemara yang dihias dengan lampu kelap-kelip dan berbagai hiasan yang indah. Kebiasaan ini sudah dilakukan selama berabad-abad, bahkan sebelum Kekristenan menjadi agama resmi kerajaan Romawi, orang kafir juga memakai pohon cemara untuk kuil mereka. Orang Kristen memakai pohon cemara dengan pengertian daunnya yang selalu hijau menjadi lambang hidup yang kekal di dalam Tuhan.

Tradisi mengatakan Martin Luther adalah orang pertama yang menghias rumahnya dengan pohon terang. Pada malam sebelum Natal, Luther berjalan di hutan dan melihat bintang-bintang bersinar di antara pohon-pohon cemara begitu indah, mengingatkan dia akan Yesus yang meninggalkan bintang-bintang di surga untuk datang ke dunia pada waktu Natal.

Di kota-kota di Jerman, sekitar awal abad 17 penduduk menghias pohon-pohon cemara dengan makanan-makanan seperti kue jahe dan apel yang dimaniskan dengan gula-gula. Pembuat gelas membuat hiasan-hiasan yang seperti sekarang ini masih kita pakai, dan menggantungkannya di antara ranting-ranting cemara. Di puncak pohon, awalnya mereka menaruh figur bayi Yesus lalu selanjutnya menggantinya dengan figur malaikat pembawa berita Natal, atau bintang Natal yang dilihat oleh Orang Majus.

Pohon Natal menjadi populer di Inggris sekitar tahun 1840 dimana pangeran Albert, suami ratu Victoria, menghias kastilnya di Windsor dan kebiasaan menghias pohon Natal menjalar ke Amerika di tahun 1850. Pohon Natal itu juga dihias dengan lilin-lilin yang melambangkan bintang dan pada ranting-rantingnya orang menggantungkan hadiah bagi sanak keluarga yang mereka kasihi.

NATIVITY

Dalam perayaan Natal, peristiwa kelahiran Yesus umumnya diceritakan kembali dalam bentuk drama yang disebut “Nativity” (dari bahasa Latin “natal” yang artinya “lahir”). Juga umum rumah dan gereja didekorasi dengan figur-figur seperti palungan dan bayi Yesus, Maria dan Yusuf, kandang dan binatang, gembala, orang Majus dan malaikat.

Tradisi merayakan Natal dengan “Nativity” dilakukan pertama kali oleh St. Francis dari Assisi bersama para imam tahun 1223 yang menceritakan kisah Natal dengan figur yang dibuat dari kayu, mengingatkan penontonnya yang rakyat biasa bahwa Yesus lahir dari keluarga yang sederhana seperti mereka. Drama ini menjadi sangat populer sehingga dua tahun kemudian figur kayu diganti oleh orang sungguhan. Di antara scene yang satu ke scene yang lain, penonton ikut menyanyikan lagu-lagu yang kita kenal sebagian sebagai Christmas carols.

KARTU NATAL

Kartu Natal pertama dibuat pada tahun 1843 atas ide seorang kaya di Inggris yang bernama Sir Henry Cole, pegawai Pemerintah yang menangani kantor pos pada waktu itu. Dia menugaskan seorang artis bernama John Calcott Horsley untuk mendesain kartu bergambar dan bertuliskan “A Merry Christmas and a Happy New Year to You.” Kartu itu dicetak sebanyak 1000 lembar untuk dijual kepada publik dengan harga 1 shilling. Ide menggunakan kartu sangat disukai orang yang karena kesibukannya tidak sempat menulis surat buat teman-temannya di hari Natal karena lebih praktis dan biaya perangkonya lebih murah separuh daripada harga mengirim surat beramplop tertutup.

HADIAH NATAL DAN BOXING DAY

Kebiasaan memberi hadiah Natal kepada anak-anak dan orang-orang miskin sudah dilakukan sejak beberapa ratus tahun yang lalu khususnya di negara Eropa. Salah satu alasannya adalah mengingat orang Majus yang datang memberi hadiah kepada bayi Yesus. Alasan lainnya adalah Natal itu sendiri adalah hadiah terbesar dari Allah dengan memberikan Yesus, AnakNya yang tunggal menjadi Juruselamat bagi manusia.

Hadiah kepada anak-anak biasanya berupa mainan, gula-gula, buah, uang logam dan berbagai hadiah kecil lainnya. Hadiah kepada orang miskin berupa makanan dan kebutuhan dasar seperti mantel, sepatu dan selendang untuk menghangatkan mereka di musim dingin.

Di Spanyol pemberian hadiah Natal dilakukan pada tanggal 6 Januari berbarengan dengan perayaan Epifania hari Orang Majus. Malam sebelumnya, anak-anak mengisi sepatu mereka dengan jerami dan meletakkannya di depan pintu rumah. Mereka berharap orang Majus akan mengambil jerami itu untuk memberi makan unta mereka dan mengisi sepatu anak-anak dengan hadiah dan gula-gula.

Tidak jelas kapan tradisi anak-anak menggantungkan kaus kaki kosong di perapian dan meletakkan segelas susu dan kue kering untuk Sinterklas yang akan minum susu dan makan kue serta mengisi kaus kaki anak-anak itu dengan berbagai hadiah dan gula-gula. Sampai hari ini kebiasaan menggantung kaus kaki kosong di malam Natal masih populer dan lazim dilakukan.

Boxing Day dirayakan pada tanggal 26 Desember di Inggris, Australia, Afrika Selatan dan New Zealand serta beberapa negara di Eropa. Tradisi ini dilakukan sekitar 800 tahun yang lalu dimana orang-orang kaya memasukkan berbagai hadiah di dalam kotak-kotak buat orang-orang miskin dan mengumpulkannya di gereja (dari situlah kata “boxing” berasal). Kotak-kotak itu kemudian dibuka pada tanggal 26 Desember dan isinya dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Para pembantu di rumah-rumah orang kaya berkesempatan merayakan Natal bersama keluarganya di hari Boxing Day ini. (dari berbagai sumber, kz)