Pentingnya Emotional Attachment Orang Tua Dan Anak

Question and Answer (Q and A)

By: Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha 

(Pasangan Pendeta & konselor, dan pengarang buku Mendisiplinkan Anak dengan Cerita: Membangun Emotional Attachment Dengan Anak)

Question: Peter (13 tahun) terkesan pendiam. Sehari-hari pulang sekolah Peter membantu ibunya menjaga adiknya yang lebih muda delapan tahun. Karena masih kecil, adik Peter sedikit manja dan mau menang sendiri. Peter tidak punya teman kecuali di sekolah dan di kelas remaja gereja. Dia mengaku “tidak apa-apa” jika adiknya memukulnya atau memaksanya melakukan permainan yang dia tidak suka. “Saya harus mengalah karena adik masih kecil,” katanya. Peter juga mengatakan tidak ingin main dengan teman. Dia hanya ingin menyenangkan orangtuanya, menjaga adiknya, dan membuat orang di sekelilingnya bersukacita. Ayah Peter berangkat kerja pagi dan pulang malam dan menurut pengakuan Peter, “kalau sudah malam Papa lebih sering main dengan adik.” Peter mengaku tidak pernah dipeluk atau dipuji orangtuanya. Menurutnya, dia bukan anak yang berprestasi, jadi tidak perlu dipuji, tidak ada yang dibanggakan dari dirinya. Dia anak yang biasa-biasa saja. Apakah Peter tergolong remaja dengan kehidupan emosi yang sehat?

Answer: Dari tiga kali saya bercakap-cakap dengan Peter, saya menemukan Peter adalah anak yang dibiarkan “tumbuh dengan sendirinya” oleh orangtuanya. Ada beberapa hal yang membuat itu terjadi, antara lain karena semasa Peter kecil, ayah dan ibunya bekerja di luar rumah. Peter tinggal dengan pembantu yang tidak mengerti bagaimana memperlakukan anak usia batita. Secara fisik Peter sehat, tetapi secara kepribadian ia kehilangan masa inisiatif dan punya kecenderungan harga diri rendah. Karena jarang diajak ngobrol, Peter hampir tidak memiliki kedekatan emosi dengan orangtuanya.

RANGSANGAN EMOSI

Emotional attachment adalah ikatan emosi yang kuat antara anak dengan orang tuanya yang digambarkan seperti sapaan hangat bayi/anak yang disambut dengan aktif oleh orangtuanya. Keinginan anak-anak untuk tetap dekat dengan orangtuanya,  menyambut dengan gembira ketika orangtuanya datang atau ketakutan anak-anak jika ditinggalkan oleh orangtuanya, juga menggambarkan kedekatan emosi.

Anak-anak memerlukan respons untuk membangun emosi dan kecerdasannya. Karena itu, pada masa enam tahun pertama orangtua sewajarnya memberikan waktu untuk memenuhi kebutuhan ini. Kami pernah gagal dengan Moze, anak kami. Baru-baru ini kami menemukan bahwa Moze sangat suka mengarang novel dalam bahasa Inggris. Tulisannya bagus. Saya dorong ia selesaikan agar bisa diterbitkan dalam bentuk softcopy di blog yang akan kami buat untuknya. Moze mengatakan kepada saya, “Selama ini aku sudah banyak sekali membuat karangan. Tapi waktu aku tunjukkan ke mama, mama diam saja, tidak menyambut karyaku. Jadi aku nggak teruskan.”

Saya terkejut dan menyesal. Saya minta maaf pada Moze. Untuk menebus kesalahan, tiap kali ia menunjukkan tulisan atau apa pun karyanya, saya berusaha memberi perhatian penuh. Saya perhatikan isinya, lihat bagian-bagian yang bagus dan mengomentari itu. Saya juga menemukan istilah atau informasi lain yang perlu dicari-tahu kebenarannya. Rupanya antusiasme saya menular padanya. Sejak sebulan ini Moze terus menyediakan waktu menulis di laptop-nya.

Respons yang dibutuhkan anak tidak banyak. Misalnya anak usia 3 tahun bertanya, “Ini apa?” sambil menunjuk suatu benda. Kadang-kadang ia seperti main-main, bertanya terus tidak henti. Dari orangtua atau pengasuhnya yang dibutuhkan sekadar menjawab sesuai dengan pemahamannya, “Ini bunga, warnanya merah. Ini awan, itu ikan mas koki.” Kalau anak melemparkan bola, kita menangkap dan melempar balik. Itu juga respons. Anak-anak yang lebih besar bisa diajak ngobrol atau cerita. Ini juga cara membangun kedekatan dengan anak.

MANFAATNYA

Apa arti emotional attachment orangtua dan anak? Bagi orangtua, tidaklah sulit menanamkan nilai jika relasinya dengan anak berjalan baik dan harmonis. Kasih sayang dan perhatian orangtua yang ditunjukkan dengan tulus akan membuat anak mengerti isi hati orangtuanya. Mereka tidak mudah tergoda untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kemauan orangtuanya. Mereka tahu papa-mamanya akan sedih dan tidak setuju dengan tindakan tertentu yang sedang mereka ingini.

Untuk anak, kedekatan dengan orangtua memberikan rasa nyaman, dihargai, dikasihi, dan diinginkan. Lebih mudah bagi mereka untuk mengerti apa yang Jika mereka jauh dari papa-mama, anak-anak tahu bahwa mereka dirindukan. Ini juga menolong mereka terhindar dari pergaulan buruk masa remaja.

INTERVENSI

Bagaimana menolong Peter mengatasi masalahnya? Memang tidak mudah, baik bagi Peter maupun orangtuanya, untuk memulai sesuatu yang baru di usianya sekarang. Tapi untungnya orangtua Peter mau mengusahakan hal terbaik bagi putra mereka. Maka saya mengusulkan agar terutama papanya lebih terlibat dalam kehidupan Peter. Anak 13 tahun ini membutuhkan kasih yang dinyatakan dengan kata-kata dan perlakuan.
Pertama, ayahnya perlu meminta maaf, karena selama ini kurang memperhatikan anak sulungnya. Selain itu, ayahnya belajar membagi waktunya dengan adil untuk Peter, adiknya, dan istrinya. Bahkan ayahnya bermaksud sekali seminggu mengajak Peter jalan-jalan, makan berdua atau ngobrol. Berdua saja! Peter perlu dibimbing untuk mengerti hal-hal penting dalam pergaulan, seks. dan pacaran, walaupun sekarang ia tidak mempertanyakannya. Orangtuanya juga  sebaiknya mengajarinya menuliskan perasaannya, juga mendengarkan isi hatinya tanpa menilai.

Awalnya Peter agak meragukan keinginan ayahnya. Ia mengatakan pada saya, “Kita lihat saja nanti,” ketika saya menanyakan alasannya. Tetapi setelah lewat beberapa minggu, saya mendapat kabar dari Peter bahwa ayahnya sungguh-sungguh berusaha untuk itu. “Beberapa kali nggak jadi pergi. Tapi sesekali pergi juga,” kata Peter. Ia senang melihat perubahan ayahnya.

Selain membutuhkan waktu ayahnya, Peter juga suka ayahnya cukup sering  memujinya sekarang. “Bagaimana perasaanmu mendengar pujian Papa?” tanya saya.
Hmtentu saja senang,” jawabnya, “Saya jadi bersemangat mengerjakan apa- apa. Kalau dulu saya mengerjakan PR sebisanya, sekarang saya punya semangat untuk bikin Papa senang.”
Mari membangun kedekatan emosi dengan anak-anak kita. Mumpung mereka masih bersama kita. Ada waktunya mereka pergi menjalani kehidupannya sendiri. Sudah cukupkah bekal yang kita berikan untuk mereka? (msg)