Never Walk Alone

Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Never Walk Alone
Nats: Mazmur 126:1-6

Pada waktu kita bangun pagi-pagi, menikmati cuaca yang indah, menghirup udara yang segar, semua itu mungkin kita lakukan rutin tanpa pernah kita sadari bahwa segala sesuatu itu begitu luar biasa dan adalah satu pengaturan yang luar biasa amazing adanya. Adanya oksigen dan air merupakan hal yang ajaib luar biasa. Belum lagi, engkau dan saya bisa menikmati makan minum yang begitu beragam. Bermacam macam sayuran, daging dan bumbu yang bisa kita nikmati, tumbuh-tumbuhan yang begitu beragam tidak habis-habisnya ditemukan manfaatnya bagi kita. Semua itu kalau bukan karena ada Tuhan, Pencipta yang maha bijaksana yang membuatnya, bagaimana pun mau dijelaskan oleh orang yang tidak percaya Tuhan, tetap tidak ada jawabannya. Mau dijelaskan bahwa alam ini ada secara kebetulan melalui evolusi tidak sanggup menjawab bagaimana mungkin bisa ada dunia yang seperti ini. Evolusi tidak sanggup menjawab bagaimana mungkin bisa ada bermacam-macam binatang yang begitu berbeda, kalau kita pikir itu terjadi dari satu sel yang berkembang secara evolusi, begitu precise bukan saja apa yang terjadi tetapi kaitan satu dengan yang lain yang menciptakan ekosistem yang begitu baik. Kenapa perlu ada rayap dan belatung? Simple sederhana, bukan? Walaupun rayap sangat mengganggu dan merusak rumah kita, tetapi jikalau binatang itu tidak ada, proses pembusukan dan decaying tidak bisa terjadi. Bukan saja keunikan satu persatu mahluk begitu ajaib, tetapi ekosistem yang ada yang begitu luar biasa membuat kita melihat bukan melihat dengan mata yang jasmani ini tetapi kita juga harus bisa melihat apa yang ada di belakang itu, yaitu Tuhan Allah sang pencipta.

Belum lagi bicara soal manusia, Alkitab menyebutkan ketika Adam dan Hawa dicipta, ada perintah Tuhan yang luar biasa: pelihara, kelola dan berusahalah di dalam taman itu. Kalimat itu memberitahukan kepada kita ketika manusia ditaruh di satu tempat, dengan sendirinya bahasa akan muncul, tools akan dibuat, itu adalah bagian yang sangat menakjubkan dari manusia. Sepanjang sejarah manusia kita melihat kebudayaan dan kemajuan itu akan berjalan. Pada waktu Tuhan menyuruh mengusahakan tanah, bagaimana manusia bisa menemukan ada emas di situ, dengan sendirinya tools ada. Itulah kehebatan dan keunggulan manusia. Kita sungguh bersyukur kita sanggup bisa melihat bahwa di balik semua itu ada pengaturan, ada satu planning, ada hal yang indah yang tidak mungkin terjadi begitu saja dan yang mengatur, memelihara dan mengontrol segala sesuatu itu jauh lebih penting, lebih indah dan lebih berkuasa. Dia adalah Allah kita yang berdaulat, yang mengatur dan yang memelihara semua.

Sebagai anak-anak Tuhan, kiranya kekaguman seperti ini memenuhi hati kita sehingga semua itu akan memberikan kekuatan, ketenangan, damai sejahtera dan sukacita dalam hidup kita. Mungkin banyak di antara sdr yang tahun lalu sudah berencana sesuatu tetapi tidak terjadi, kiranya itu tidak mengecewakan hatimu. Tetapi sebaliknya banyak hal yang kita tidak rencanakan malah terjadi dan Tuhan beri, biar hati kita juga penuh dengan syukur di situ. Pada waktu hidup kita berjalan lancar, aman dan rutin, kita kadang-kadang tidak menyadari bahwa Tuhan itu memelihara, mengontrol dan berjalan dalam hidup kita. Yang kita lihat dalam tapak perjalanan hidup kita adalah tapak kita sendiri. Nanti baru sesudah kita berjalan di dalam situasi yang ekstrim, baru kita berteriak kepada Tuhan, “Tuhan, dimana Engkau?” karena kita menengok ke bawah yang kita lihat sepertinya cuma tapak kaki kita sendiri. Maka ada ilustrasi tentang seseorang yang berjalan di tepi pantai, ketika dia melihat ke belakang, dia melihat ada dua pasang tapak kaki membekas di pasir itu. Dia tahu itu adalah tapak kakinya dan tapak kaki Tuhan yang berjalan di sisinya. Namun ada bagian-bagian di dalam hidupnya dia hanya melihat sepasang kaki saja, dan di situ dia berkata memprotes, “Tuhan, mengapa Engkau membiarkan aku berjalan seorang diri justru di saat aku berada dalam situasi yang begitu sulit dan berat?” Dan dengan lembut Tuhan menjawab, “Anakku, Aku tidak pernah meninggalkanmu seorang diri. Yang engkau lihat di situ adalah tapak kakiKu yang sedang menggendongmu melewati situasi yang sulit dan berat itu.”

Kadang-kadang diperlukan situasi-situasi yang ekstrim sekali barulah banyak orang Kristen menyadari bahwa Allah memelihara dan mengontrol situasi hidup kita. Kenapa perlu situasi yang ekstrim, dalam keadaan yang desperate, tidak ada jalan keluar dan pertolongan siapa pun di situ, baru kita mengenal siapa Tuhan kita lebih real dan lebih dalam lagi. Kita tidak suka hal-hal yang sulit dan berat, tetapi seringkali memang situasi-situasi yang ekstrim seperti itu menggugah kesadaran kita bahwa bukan kita yang paling penting, bukan kita yang menjadi the ultimate dari dunia ini dan tidak sanggup kita dengan planning dan dengan scenario kita mengontrol segala sesuatu. Dalam keadaan sakit yang parah, dalam keadaan semua perencanaanmu gagal total, dalam keadaan kita tidak sanggup lagi bisa mengontrol apa yang terjadi, outcome yang tidak pernah bisa seturut dengan yang sudah kita rencanakan, terjadi situasi yang merubah 180 derajat apa yang sudah kita pikirkan dan rencanakan, Tuhan memakai semua itu menyadarkan kita dan di dalam semua itu kita patut mengucap syukur karena Mazmur 126 membukanya dengan pemazmur menyerukan satu nama dan nama itu adalah nama TUHAN Allah. Saya rindu mengawali tahun yang baru kita membuka lembaran baru kita dengan melakukan hal yang sama. Tidak ada salahnya membuat New Year’s resolution, tidak ada salahnya mengatur program dan rencana bagi hidup kita, bagi keluarga dan bagi perusahaan kita dan dengan bijaksana planning ke depan. Tetapi mari kita membuka lembaran tahun yang baru ini dengan menyerukan nama TUHAN dan bukan hanya di mulut bibir saja, tetapi dengan satu pengakuan dan kesadaran bahwa God is in control, God is sovereign, and God will take care of our journey of life. Apakah perbedaan yang dihasilkan bagi hidupmu jika engkau percaya bahwa Allah sepenuhnya memelihara engkau? Adakah perbedaan yang diciptakan kepada sikap hidup kita ketika kita percaya Allah itu berdaulat di dalam hidup kita? Adakah kita memperlakukan Allah kita sebagai “God of the gap,” Allah yang baru kita cari di saat emergency, yang seperti ban serep kita baru cari ketika situasi kita kritis, genting dan cara-cara lain sudah tidak bisa menolong? Allah baru kita pakai seperti tools ajaib yang menyelesaikan semua persoalan kita. Di dalam perjalanan hidup yang lancar, yang rutin dan yang kita bisa take control seringkali kita taruh Tuhan di belakang, tunggu sampai kita mentok, baru cari Tuhan.

“Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi” (Mazmur 126:1). Waktu Tuhan me-restore keadaan orang-orang Israel yang kembali dari pembuangan pulang ke Yerusalem, ini konteksnya. Bagi orang-orang Israel yang selama 70 tahun dicabut dari negerinya, berada sebagai orang-orang buangan di negeri asing bagaikan mimpi dan mustahil rasanya menurut pemikiran dan perhitungan manusia untuk pulang kembali ke tanah perjanjian. Sehingga Mazmur 126:1 mengatakan pada waktu mereka kembali dari pembuangan, pada waktu Tuhan memulihkan keadaan mereka, itu seperti mimpi rasanya. Mazmur 126:1-3 adalah suatu proklamasi sehingga orang lain yang dari bangsa-bangsa lain yang tidak percaya menyaksikan hal itu melihat betapa luar biasa Tuhan dan sampai mengeluarkan kalimat kekaguman, “TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!” (Mazmur 126:2b). Mereka menyaksikan itu semua bisa terjadi karena Allah bekerja dan campur tangan. Itu hal yang ajaib luar biasa, sampai orang pun bisa melihat tidak mungkin hal seperti itu terjadi jikalau bukan Tuhan yang berkarya bagi mereka.

Melalui Mazmur 126 ini ada beberapa yang boleh kita ambil menjadi prinsip hidup memasuki tahun yang baru ini.
Yang pertama, di dalam situasi yang di luar kontrol, di tengah peristiwa yang ekstrim terjadi di dalam hidup kita, hal-hal yang terjadi di luar rencana kita, kiranya melalui itu kita belajar apa yang namanya kerendahan hati. Semua itu jangan membuat kita kecewa dan marah kepada Tuhan tetapi membawa kita menjadi rendah hati dalam hidup kita. Peristiwa pembuangan [Exile] adalah peristiwa yang sungguh memalukan bagi bangsa Israel. Kalau kita baca dari mazmur-mazmur pada waktu mereka ada di pembuangan, itu semuanya adalah mazmur-mazmur ratapan yang sangat menyedihkan sekali karena mereka merasa telah dipermalukan dan direndahkan oleh bangsa-bangsa asing yang tidak percaya Tuhan. Itu adalah shameful experience di dalam hidup dari orang-orang Israel yang akhirnya membentuk mereka menjadi rendah hati di hadapan Tuhan.

Kita tidak perlu belajar rendah hati karena kita dipaksa oleh situasi yang ekstrim. Tetapi kadang-kadang kita belajar apa yang namanya ‘to be humbled’ di tengah situasi yang ekstrim. Kita tidak bisa merencanakan hidup kita di depan dengan hikmat dan kekuatan diri sendiri, kita tidak bisa mengatur outcome dari apa yang terjadi. Kita berada dalam kondisi yang sungguh-sungguh tidak berdaya sama sekali, di situ Tuhan membentuk kita menjadi rendah hati dan takluk sepenuhnya kepadaNya. Kerendahan hati bukanlah sifat natural dari hidup manusia yang berdosa. Kerendahan hati merupakan karakter rohani yang patut kita pupuk dalam hidup ini. Di situ kita surrender karena saya tahu Tuhan yang atur, Tuhan yang kontrol, Tuhan pelihara hidupku, aku menaklukkan diri kepadaNya.

Andrew Murray, seorang teolog Kristen, berkata, “Humility is the root of all virtue and grace.” Kerendahan hati adalah akar dari semua bijaksana dan keindahan. Yang kedua, ia katakan, “Humility is the health and the strength of our spiritual life.” Kerendahan hati adalah kesehatan dan kekuatan dari hidup rohani kita. Pada waktu hidup rohani kita sudah kena “flu” dan banyak kali kita “masuk angin” kita sakit dan menjadi begitu lemah, mudah kecewa dan gampang marah, kalimat Andrew Murray mengingatkan kita mungkin “spiritual immune system” sedang diserang karena kita menyimpan selfishness dan pride dalam hidup kita. Humility adalah immune system yang penting sekali. Kalau kerendahan hati itu memenuhi kita, dia akan menyehatkan dan menguatkan rohani kita.

Yang kedua, berdoa. Pemazmur menaikkan doa, “Pulihkanlah keadaan kami ya TUHAN, seperti memulihkan batang air di tanah Negeb” (Mazmur 126:4). Negeb adalah tempat yang paling kering di daerah Israel. Yang pemazmur minta sesungguhnya adalah hal yang “impossible” dan tidak mungkin terjadi, dan di situlah kita belajar menaikkan doa dengan iman. Pada waktu kita tahu Allah berdaulat, Allah mengatur dan mengontrol hidup kita, mari kita rendah hati, mari kita berespons dengan hidup yang berdoa. Di awal tahun yang baru mulailah dengan doa. Doa tidak boleh ditaruh di belakang dan menjadi the last resources dari hidup rohani kita. Banyak orang bilang tekanan hidup begitu susah dan berat, situasi dan tantangan yang dia alami begitu ekstrim. Saking susah dan sulit hidupnya sampai merasa tidak bisa berdoa. Mari kita balik sikap kita karena justru doa itulah saluran nafas kita sehingga kita tidak tercekik oleh persoalan kita. Doa menjadi nafas yang membuat kita tidak tercekik dan tenggelam di dalam persoalan hidup kita. Kita berseru, kita berdoa Tuhan karena kita tahu yang bisa melakukan hal itu hanya Tuhan. Ia yang mengatur, Ia yang mengontrol, maka kita menaikkan doa kepadaNya sebagai satu permohonan iman kepadaNya.

Yang ketiga, pemazmur berkata, “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maaju dengan menangis sambi menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya” (Mazmur 126:5). Entah berapa kali saya telah mengkhotbahkan ayat ini sepanjang hidup pelayanan saya, tetapi setiap kali membaca dan merenungkannya kembali, selalu muncul kesegaran dan keindahan yang luar biasa. Seorang sahabat memberikan ayat ini dalam satu selipan Alkitab mengantar saya masuk ke seminari dan sampai hari ini ayat ini menjadi kekuatan yang menopang saya. Setiap mengawali tahun yang baru, setiap pergantian tahun, saya membawa ayat ini di dalam doaku, di dalam keadaan berat dan susah seperti apa pun saya dikuatkan oleh ayat ini.

Pemazmur mengatakan, kita harus terus berjalan maju dan menabur benih, dalam keadaan tanah Negeb yang kering dan gersang, yang secara manusia tidak mungkin bisa menumbuhkan tanaman dan menghasilkan berkas dan buahnya. Di tengah keadaan yang berat, seringkali orang berhenti berusaha, seringkali orang tidak mau melangkah. Buat apa berjalan maju? Buat apa menabur benih? Toh tidak akan menghasilkan sesuatu. Tetapi situasi yang sulit, kondisi yang berat, semua itu tidak boleh melumpuhkan kita dan menjadikan kita tidak melakukan apa-apa.
Teman, sahabat, keluarga, siapa pun, di tengah situasi kondisi kita yang berat, kemampuan mereka terbatas, pertolongan mereka terbatas. Hanya Allah yang tidak terbatas yang menjadi tempat perlindungan dan pertolongan kita. Tetapi iman itu bukan iman yang pasif, iman itu bukan iman yang pasrah dan tidak bergerak. Iman itu adalah iman yang dinyatakan dengan courage, keberanian dan ketabahan. Apa itu courage? Courage bukan sikap nekad dan asal tabrak sana-sini. Courage adalah satu keberanian untuk bertindak dalam situasi yang genting dan bahaya sekali pun dan mengambil keputusan yang tepat untuk mengerjakan dan melakukan sesuatu. Ini bukan nasehat dari motivational speaker, tetapi ini adalah prinsip dari firman Tuhan. Kita harus benar-benar peka kenapa kita berani mengerjakan sesuatu karena kita punya satu hal yang membedakan kita dengan orang yang tidak percaya Tuhan, karena kita melihat segala yang kita kerjakan itu di dalam perspektif kekekalan. Itulah arti keberanian orang Kristen. Keberanian kita bisa seperti itu karena apa yang kita kerjakan di atas muka bumi ini bukan semata-mata untuk apa yang terjadi di atas muka bumi ini. Segala yang kita lakukan di atas muka bumi ini harus senantiasa karena kita mengaitkannya dengan kekekalan. Itulah sebabnya Paulus mengatakan “Berdiirilah teguh, jangan goyah dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Korintus 15:58).

Menjadi seorang hamba Tuhan, menjadi seorang yang melayani di dalam masyarakat, menjadi politisi, menjadi seorang bisnisman, dsb jangan kita hanya berjuang dalam segala sesuatu demi hanya untuk hal itu sendiri. Justru kalau perjuangan itu hanya untuk apa yang ada di dalam dunia ini, kita mungkin hanya “playing safe” tetapi sebenarnya kita lose karena pada waktu kita sampai kepada usia tua nanti akan ditanya apa yang paling kita sesalkan, kita akan menyesal banyak hal yang sebenarnya kita harus berjuang di situ tetapi kita tidak lakukan. Orang yang berjuang bagi kebenaran, orang yang berjuang bagi keadilan, itu adalah nilai-nilai yang tidak pernah habis dan dikikis oleh waktu. Keberanian yang menyertai adalah keberanian yang rela sekalipun mungkin usia mengkikis kekuatan kita, dan sampai pada satu titik waktu kita akan habis dan selesai, keberanian itu tidak boleh hilang. Saya harap itu yang kita pupuk dalam hidup kita dan kita bawa bagi anak-anak dan cucu kita di dalam perjuangan kita di tahun 2017 ini.

Ketekunan dan kesabaran dari orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya. Dengan air mata yang bercucuran sekali pun dan barangkali hanya berjuang seorang diri di tanah yang begitu tandus dan kering, tidak ada hujan dan tidak ada kemungkinan benih itu tumbuh, engkau terus melangkah maju. Engkau dan saya tidak bisa mengontrol kapan hujan akan turun. Engkau dan saya tidak bisa mengontrol kapan tanah itu menjadi gembur dan subur. Engkau dan saya tidak bisa menambahkan nutrient apa-apa untuk membuat kondisi yang sulit dari tanah itu. Engkau dan saya tidak bisa atur karena semua itu adalah aspek-aspek yang di luar kontrol dan kemampuan kita mengusahakannya. Tetapi ketika hujan itu akhirnya turun dan air begitu banyak membasahi dan mengairi tanah itu serta membuatnya menjadi subur dan gembur, semua itu tidak ada gunanya jikalau kita tidak pernah menabur benih di situ. Tanggung jawab kita dan tugas kita adalah menabur benih dan untuk itu kita perlu ketekunan dan kesabaran. Kita perlu belajar tekun dan sabar menanti Tuhan. Kalimat firman Tuhan ini mengingatkan kita, mereka yang berjalan maju dengan tekun dan sabar walaupun dengan air mata kita menabur benih, pada waktunya kita akan menikmati hasil jerih lelah itu dengan sorak-sorai.

Terakhir, memasuki tahun baru ini jangan lupa the sense of excitement ini: Allah telah melakukan perkara yang besar kepada kita, mari kita bersukacita! Mari kita bersorak-sorak menyatakan perbuatan Tuhan yang ajaib di dalam hidup kita, nyatakan itu kepada orang-orang yang melihatnya. Jangan tahankan mulut kita bersyukur dan bersaksi untuk campur tangan Tuhan yang begitu indah dan begitu nyata di dalam hidup kita. Biar orang boleh melihat di dalam ketekunan, kesabaran, keberanian, doa dan persandaran kita semuanya menjadi proses yang indah Tuhan berkarya sehingga orang lain melihat energy itu, passion itu, semangat itu meluap keluar dari hidup kita. Hidup ini tidak diukur oleh apa yang kita punya dan dapat. Hidup kita bukan di definisikan oleh apa yang sudah kita raih. Biar hidup kita dilihat dari energy, kecintaan kita kepada Tuhan dan keinginan kita untuk senantiasa memuliakan Dia di dalam hidup kita.

Bersyukur untuk Allah, Bapa yang baik, pengasih dan penyayang, yang mengontrol segala sesuatu dengan kedaulatan dan bijaksanaNya yang indah bagi hidup setiap kita. Allah tidak pernah bersalah dan keliru di dalam jalan-jalanNya, Ia selalu indah di dalam setiap perjalanan hidup kita. Kiranya firman Tuhan pada hari ini menjadi berkat bagi setiap kita, membekali kita menjalani tahun yang baru. Kiranya Tuhan memberkati setiap kita boleh semakin bersandar dan percaya kepada Allah yang mengatur, memelihara dan berdaulat sepenuhnya atas hidup kita. Kiranya Ia menuntun setiap kita satu persatu dan tidak membiarkan kita berjalan sendiri. Biar nama Tuhan kita puji untuk selama-lamanya!(kz)