Mendidik Anak Menangani Uang Dan Harta

RELASI “BENCI TAPI RINDU”

Berbicara soal uang dan harta, sebagai orang Kristen dan keluarga Kristen sehari-hari kita bergumul tidak habis-habis bagaimana menempatkan uang dan harta pada posisi yang tepat. Tidak sedikit orang Kristen yang menaruh uang dan harta pada posisi “prime spot” hidupnya di tengah mereka tahu bahwa seharusnya dan sepatutnya itu adalah tempat bagi Tuhan Yesus. Kita menghadapi tantangan yang amat tidak mudah untuk hidup taat bagi Kristus di tengah kultur yang sangat menggoda untuk kita meraih dan menikmati lebih dan lebih dari apa yang uang bisa berikan. Uang membuat kita mau memiliki rumah yang lebih megah, mobil yang lebih mewah, hidup yang berlimpah dengan segala materi yang mewakili prestige dan status. Ekspektasi kita satu sama lain mungkin berbeda-beda, tetapi ekspektasi itu terus bertambah di tengah tekanan pressure sekitar kita.

Inilah relasi orang Kristen dengan uang, “benci tapi rindu.” Kita benci uang karena kita tahu betapa mudahnya uang membuat kita bersandar kepadanya ketimbang kepada Tuhan; kita benci uang karena kita melihat betapa besar kekuatannya untuk memecah-belah saudara dan keluarga dan sahabat di dalam keserakahan. Tetapi kita rindu uang karena semakin banyak uang yang kita miliki, semakin nyaman hidup kita. Semakin banyak uang yang kita miliki, semakin banyak yang bisa kita raih: respek dan kekaguman orang, belum lagi akses untuk berbagai-bagai hal lainnya. Semua ini menyetir dan menjadikan hidup kita terus mengejar uang, bekerja keras siang dan malam untuk memperoleh uang. Hidup menjadi hectic, waktu habis untuk mencari dan menghabiskan uang. Tidak sedikit orang tua yang di tengah kesibukannya tidak lagi mampu mencari waktu dan memberi perhatian bagi anak-anaknya.

Di tengah semua ini, mari kita berhenti sejenak dan melihat dimana kita masing-masing berada. Apakah sepadan segala kelelahan kita mencari uang dengan imbalan yang kita dapatkan? Apakah sudah waktunya kita menata ulang hidup kita, dimana Tuhan Yesus bagi keluarga kita, bagaimana kebenaran firman Tuhan memimpin keluarga kita?

Kita ingin anak kita menjadi bagaimana kelak mereka di hadapan Allah? Apa tujuan Allah mempercayakan mereka di tangan kita? Jika kita mengerti anak-anak kita diciptakan dalam gambar Allah, ditebus dan diselamatkan oleh Yesus Kristus untuk mencintai dan melayani Dia selama-lamanya, bukankah sebagai orang tua dan sebagai keluarga Kristen sepatutnya kita menanamkan hal ini menjadi prinsip hidup mereka? Bagaimana hal ini kita berikan di dalam percakapan kita dengan mereka, di dalam doa bersama mereka, di dalam interaksi kita di saat bermain dan bercanda, di saat membaca dan merenungkan firman Tuhan bersama, bahkan di saat kita membelanjakan uang kita, di saat kita membawa persembahan kepada Tuhan, memberi sedekah dan menolong orang yang berkekurangan, adakah Kristus menjadi pusat hidup keluarga kita?

Alkitab menunjukkan kita bukan saja jalan ke surga tetapi juga tujuan hidup kita di bumi ini, suatu hidup yang penuh makna, tujuan dan nilai, suatu hidup yang berbuah bagi Tuhan, termasuk di situ bagaimana kita menangani dan menempatkan materi menggenapkan tujuan itu. Ketika kita rindu menjadi murid Kristus yang sejati, mari kita juga membawa anak-anak dan keluarga kita menangani dan menempatkan uang dan materi pada tempat yang sepatutnya yaitu di bawah kontrol dan guidance firman Tuhan.

ANAK DAN MATERI

Segala prinsip hidup yang anak kita belajar sesungguhnya bukanlah di bangku sekolah tetapi di rumah kita sendiri. Rumah adalah tempat dimana karakter dibangun, kebiasaan dibentuk dan tujuan hidup diarahkan.

“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu” (Ulangan 6:6-9).

Firman Tuhan ini sangat jelas memberi guidance bagaimana prinsip hidup sebuah keluarga yang berpusat kepada Tuhan. Secara formal maupun secara informal, dalam segala waktu dan kesempatan kita senantiasa membawa anak kita mengenal Allah, menaati firmanNya dan membicarakan prinsip kebenaran yang biblikal di tengah konteks hidup sehari-hari.

Sayangnya banyak keluarga Kristen yang masih cenderung mendidik anak-anak secara impulsive, hanya bereaksi terhadap situasi dan mengoreksi ketika hal yang tidak kita inginkan terjadi, ketimbang memberi fondasi dan mendidik dengan strategic dan intentional approach.

MENDIDIK ANAK MENANGANI UANG

Sebagai orang tua Kristen, kewajiban utama kita bukan sekedar mencukupkan kebutuhan fisik makan minum dan tempat tinggal bagi anak-anak kita. Kewajiban utama kita adalah mempersiapkan mereka satu kali kelak menjadi orang dewasa yang mature, yang melayani, yang bertanggung jawab dan menjadi manusia-manusia yang berguna bagi Allah, bagi gereja dan bagi dunia ini.

Seiring dengan pertumbuhan usia mereka, kita perlu membimbing anak dalam aspek menangani uang dan ajar anak menghubungkan uang dengan kerja. Uang dan harta tidak pernah turun dari langit. Uang diperoleh melalui kerja keras dari sebuah pekerjaan yang baik dan jujur. Salah satu kesalahan yang paling umum kita lakukan sebagai orang tua adalah kita terlalu gampang memberi atau meminjamkan uang kepada anak-anak kita. Ini membuat anak mengira uang itu bisa didapat kapan saja dan mereka bisa otomatis punya akses kepada uang tanpa mereka mengusahakan apa-apa. Tidak jarang misconception ini dibawa sampai usia dewasa.

Ajarlah mereka mencari uang mulai dengan pekerjaan sederhana. Di Australia, terutama di NSW ternyata pemerintah tidak mematok usia minimum anak bekerja menghasilkan uang. Anak usia 10 atau 11 tahun sudah bisa bekerja sebagai walker mendistribusi koran lokal ke rumah-rumah hanya 2 jam seminggu dengan bayaran sekitar $12, misalnya. Dari situ dia bisa punya penghasilan $48 sebulan, yang bisa mulai dia atur bagaimana saving, spending dan sharing dengan bijaksana. Ini sekedar contoh sederhana, tentu skenario masing-masing keluarga bervariasi sesuai konteks kebutuhan keluarga, preferensi, kesempatan kerja dan pertumbuhan anak yang berbeda-beda. Namun ada baiknya kita membukakan kesempatan anak-anak bekerja ketimbang menghabiskan waktu di depan televisi, main games  atau goler-goleran di kamar. Tujuan utama kita di sini adalah membantu mereka sedikit demi sedikit tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada kita, mengajarkan mereka tanggung jawab dan responsibilitas kepada orang lain di luar rumah kita, membangun karakter dengan etos kerja rajin, bertanggung jawab dan memberikan service yang baik. Ketika anak bisa menghasilkan uang dengan keringat sendiri, dia akan menghargai setiap sen uang itu dengan tidak menghambur-hamburkannya bagi sesuatu yang tidak terlalu esensial.

Di pihak lain, kita juga perlu menanamkan prinsip tidak selalu kerja itu diasosiasikan dengan uang. Anak tidak harus diberi uang untuk tugasnya sebagai anggota keluarga yang memang patut merapikan tempat tidurnya, membersihkan kamarnya, membantu mencuci piring dan melap barang di rumah. Namun untuk hal-hal ekstra di luar tanggung jawab mereka, mereka berhak mendapat apresiasi kita dalam bentuk uang.

Prinsip yang penting dalam mendidik anak menangani uang adalah dengan memberi contoh yang baik. Anak sangat natural dan cepat meniru apa saja yang kita lakukan, entah itu hal yang penting atau tidak penting; entah itu sehat atau tidak sehat. Kadang anak tidak mau mendengar nasehat kita, tetapi jarang mereka tidak meniru kita. Termasuk di situ bagaimana konsep kita tentang uang dan harta, bagaimana kita menangani uang kita, menyimpan [saving], membelanjakan [spending] dan berbagi [sharing] dengan orang yang membutuhkan. Semakin kita menunjukkan bijaksana kita sebagai good stewardships dalam tiga aspek ini, semakin anak meniru dan mengadaptasinya secara natural menjadi prinsip mereka juga. Jika mereka melihat orang tua memberi dengan generous, menabung ketimbang berhutang, berbelanja dengan bijaksana, semua itu menjadi contoh yang sangat penting anak belajar menghindar dari financial disasters kelak di usia dewasa.

Banyak orang tua berharap bisa meninggalkan harta warisan yang besar buat anak-anaknya, tetapi sebetulnya warisan yang lebih berharga buat mereka adalah bijaksana menangani uang dan harta dan berbagi dengan orang yang membutuhkan, itulah faithful stewardship yang lebih dari harta warisan uang yang gampang habis dan lenyap di tangan generasi yang tidak siap menanganinya.(kz)

[sumber: Managing God’s Money, Randy Alcorn; How Much is Enough? Arthur Simon]